Onthel Melintas Zaman

Humber BZ Dames: Kilau Sang Primadona

Desember 8, 2009 · & Komentar

Ketika kita memandang pergerakan waktu itu berjalan linear, maka kita akan mengandaikan bagaimana kita berangkat dari awal, menuju ke tengah, lalu sampai pada akhir. Tetapi, di sisi lain, ternyata waktu juga membawa banyak hal berjalan sirkuler membentuk sebuah perputaran terus-menerus.

Humber BZ dames, mantan primadona…

Salah satunya, kita pun melihat desain sebagai bagian dari mode –-termasuk mode pakaian, rumah, dan kendaraan– yang terus berputar. Apa yang dahulu menjadi tren, sebentar kemudian akan usang, tetapi kelak suatu saat akan kembali lagi menjadi tren yang digandrungi. Begitu pula dengan sepeda onthel, meskipun sebagai tren saat ini penyambutnya masih terbatas pada lingkungan tertentu saja. Baca terus →

→ 41 CommentsKategori: galeri
Ditandai: , , , , , , , , , ,

Stadion Pacar: Bagian Kehidupan Masyarakat Bantul

Desember 2, 2009 · & Komentar

Sesuatu yang simpel dan sederhana biasanya cenderung luput dari perhatian, bahkan diabaikan. Gegap gempita zaman telah membuat kita sedemikian sibuk dan melupakan sesuatu yang sederhana. Sangat sederhana sehingga cenderung tidak kita prioritaskan. Padahal, dibalik kesederhanaan itu sering kali kita temukan kearifan yang sangat vital. Rahasia maha dahsyat dari Yang Maha Pencipta.

halaman stadion yang menjadi ruang publik, termasuk publik OPOTO :-)

Berjalan kaki, misalnya, adalah sebuah aktivitas sederhana yang kita lihat sebagai sesuatu yang biasa. Tetapi, banyak pakar sudah meyakini bahwa aktivitas berjalan kaki yang sesimpel itu ternyata mengaktifkan sebuah sistem mekanisme tubuh yang luar biasa rumit. Tak hanya melenturkan otot, merangsang simpul-simpul syaraf di telapak kaki atau membakar kalori, saat kita berjalan kaki dengan gerakan kaki dan tangan yang saling bersilang bergantian itu ternyata secara simultan telah mengaktifkan sisi kiri dan kanan otak kita. Kondisi ini memungkinkan kedua sisi otak kita bersatu untuk mematahkan belenggu pikiran serta membebaskan dari stres atas trauma yang barangkali pernah kita alami. Kita pun terbebas pula dari depresi. Jadi, berjalan kaki ternyata merupakan satu mekanisme penyembuhan diri (self healing) yang sangat efektif.

Baca terus →

→ 37 CommentsKategori: ngonthel
Ditandai: , , , , , , , , , ,

5 Dekade Menjajakan Kesederhanaan

November 23, 2009 · & Komentar

Setelah sejak sore hujan seperti tak sabar lagi menjejakkan kaki-kakinya di kampung kami, semalam curahan airnya benar-benar tak dapat dibendung lagi. Suaranya yang khas terus berderai-derai di atap rumah kami. Bau tanah basah menguapkan kembali aroma masa lalu yang mengendap dalam selimut mimpi indah kami.

Tapi hujan ini sungguh baik hati. Menjelang pagi, demi melihat kami bersiap ngonthel, mereka berlalu entah ke mana. Sejak kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) menyiapkan sepeda hingga mengayuhnya bersama-sama ke arah Imogiri, hujan hanya menyisakan mendung tipis yang terus menaungi kami. Sesekali, gerimis kecil masih turun menyapa. Kami menanggapinya dengan riang, karena perjalanan justru menjadi tak begitu melelahkan.

semangat ngonthel terus dipompakan, melintasi genangan sepanjang jalan

Minggu pagi, 22 November 2009 itu kami berniat melepas kerinduan kami akan jalanan yang teduh berliku di Imogiri. Juga kerinduan pada wedang uwuh yang hangat, demi menghangatkan pagi yang beku oleh hujan semalaman. Air masih tergenang di sepanjang jalan. Ketika genangan air itu membasahi roda, beberapa sepeda kami yang menggunakan rem karet mulai terkendala. Maka, demi keamanan perjalanan, kami menghindari rute Wukirsari yang berbukit, karena rem karet yang basah sebaiknya tidak direkomendasikan melintasi turunan yang curam. Kami lebih memilih jalanan datar, melewati jalan-jalan setapak di perkampungan yang membawa kami ke Jalan Imogiri. Baca terus →

→ 42 CommentsKategori: ngonthel
Ditandai: , , , , , , , , , ,

Bersepeda di Belanda

November 12, 2009 · & Komentar

Setelah tulisan tentang bersepeda di Jerman, tulisan bersepeda di Belanda berikut ini kembali ditulis oleh sahabat/koresponden Opoto (Onthel Potorono): Mas Farid Mustofa. Semoga memperkaya wawasan kita (wongeres).
—–

Tanggal 24 Juli 2009 saya ke Belanda, mengunjungi Eduard, teman kost saya saat ia belajar di Jogja. Ternyata Eduard benar-benar jatuh cinta pada Indonesia. Kecintaan Eduard terhadap Indonesia bukan hanya dibuktikan dengan menikahi wanita Indonesia, melainkan juga dengan ketekunannya mengelola warung makan yang menyediakan 36 menu masakan khas Indonesia. Sebagai buah dari ketekunannya itu, di warung mungil seluas 5m x 3m itu Eduard dan istrinya sanggup menjual 200 porsi sehari, satu porsinya berkisar 10euro (Rp150.000). Sebuah bisnis yang menarik, semenarik nama warungnya: „Toko Iboe Tjilik“.

Bersepeda-di-Belanda-01

bersepeda berdampingan, layaknya di Indonesia

Selagi berada di Belanda inilah saya meniatkan hati untuk mengamati situasi persepedaan di sana. Tetapi, tiga hari di Leiden dan sehari di Amsterdam ternyata tidaklah cukup untuk maksud tersebut. Baca terus →

→ 52 CommentsKategori: berbagi
Ditandai: , , , , , , , ,

Bersepeda di Jerman

Oktober 30, 2009 · & Komentar

Berikut ini adalah gambaran suasana bersepeda di Jerman yang ditulis oleh seorang sahabat dan koresponden Opoto (Onthel Potorono): Mas Farid Mustofa. Sudut pandang dari kaca mata orang Jogja yang mengaku awam tentang sepeda ini justru membuat ceritanya  begitu lucu, hidup, otentik, dan inspiratif. Semoga berkenan mengikuti ceritanya (wongeres).

***

Sebelum berangkat ke Jerman, saya tidak membayangkan akan bersepeda di sana. Apalagi mengendarainya setiap hari. Saya lebih tertarik menggunakan alat transportasi kebanggaan Jerman, yaitu trem yang kenyamanan dan keakuratan jadwalnya terkenal handal.

Setelah hampir 8 bulan tinggal di Jerman, rupanya takdir saya berkata lain. Nyatanya, baru 15 menit lalu saya memasukkan sepeda ke keller (gudang bawah tanah) setelah menempuh 10 km untuk jumatan. Ironisnya, bukan hanya seminggu sekali saya lakukan itu, tapi hampir setiap hari. Itu artinya, saya nyepeda terus!

bersepeda-di-jerman-01

di dalam kota, sepeda masih jadi primadona

Saya tinggal di Leipzig, dua jam dari Berlin. Kota komponis JS Bach, filsuf W. Leibniz, F. Nietzsche, dan penyair Goethe ini kira-kira sebesar Jogja, tapi selengang Klaten karena hanya berpenduduk 500.000 jiwa. Di kota ini berdiri universitas tertua kedua di Jerman (yang Desember nanti merayakan ultahnya ke 600), juga rumah opera Gewandhaus Orchestra yang pernah disinggahi komponis besar seperti Beethoven, Wagner, Bach, dan menjadi barometer musik klasik Eropa hingga sekarang. Baca terus →

→ 52 CommentsKategori: berbagi
Ditandai: , , , , , , ,

TPA Piyungan: Memburu Keindahan di Lautan Sampah

Oktober 22, 2009 · & Komentar

Semasa kecil dahulu, di kebun belakang rumah Nenek yang luas selalu ada lubang galian yang disebut blumbang, tempat seisi rumah membuang sampah. Yang disebut sampah ini tak lain adalah guguran dedaunan yang mengotori halaman, daun pisang pembungkus pepesan, daun jati pembungkus tempe, atau daun ploso pembungkus tape yang dibeli Nenek di pasar. Sesekali ada juga kertas merang (jerami) tipis pembungkus roti. Sampah lainnya adalah kulit pisang, kulit nangka, dan sampah-sampah organik lainnya. Setiap kali blumbang sampah ini penuh, Nenek akan meminta seseorang menimbunnya dengan tanah, lalu membuat galian lubang baru di dekatnya. Begitu seterusnya sehingga kebun belakang itu selalu subur berkat kompos alami ini.

Menyusuri-jejak-sampah-01

para pemburu sampah keindahan

Kebiasaan membuat blumbang sampah itu sekarang mungkin sudah tak ada lagi. Saat ini, bangunan rumah rata-rata tak lagi menyisakan halaman dan kebun belakang. Orang pun cukup menaruh tong sampah di depan rumah, lalu dua hari sekali petugas sampah akan mengambil sampah-sampah yang sebagian besar berupa kantong dan kemasan plastik itu untuk dikumpulkan di area penampungan. Dari sana, truk-truk besar akan mengambil dan membawanya ke tempat penampungan akhir.

Baca terus →

→ 77 CommentsKategori: ngonthel
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , ,

Candi Banyunibo dan Candi Barong: Keindahan Belum Berakhir

Oktober 14, 2009 · & Komentar

Awal atau akhir? Mana yang lebih penting untuk menilai reputasi seseorang, bahkan suatu bangsa? Dari lingkungan seperti apa ia berasal, atau dari apa yang akhirnya mampu dilakukannya bagi kemaslahatan umat?

Sebuah temuan menarik barangkali akan sedikit mengejutkan kita, bahkan juga bangsa-bangsa di luar sana, khususnya jika harus menilai reputasi sebuah bangsa bernama Indonesia. Alkisah, seorang profesor asal Brazil bernama Arysio N. dos Santos dalam bukunya yang menggemparkan: “Atlantis -The Lost Continents Finally Found” membuktikan teorinya bahwa benua Atlantis yang dihuni oleh suatu bangsa berperadaban sangat tinggi dengan alamnya yang kaya-raya dan elok-permai laksana surga –sebagaimana disebutkan oleh Plato 2500 tahun lalu– itu lokasinya ternyata adalah di Indonesia!

banyunibo-barong-1

Candi Banyunibo dan Candi Barong, karya leluhur di masa lalu

Diceritakan oleh Plato bahwa Atlantis merupakan negara makmur yang bermandikan matahari sepanjang waktu. Penduduknya menguasai pelayaran dan perdagangan, memahami ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, maju dalam berkesenian (tari, teater, musik) dan olah raga. Dalam kisah yang selama ini lebih dipahami sebagai mitos itu, konon benua yang hilang sejak lebih kurang 11.600 tahun lalu itu disebabkan karena penduduknya menjadi begitu ambisius sehingga membuat “para dewa murka”.

Baca terus →

→ 103 CommentsKategori: ngonthel
Ditandai: , , , , , , , , , , , , ,

Mlinjo Wirokerten: Mencicipi Suguhan Lebaran Langsung dari Pembuatnya

September 30, 2009 · & Komentar

Produktivitas, biasanya cenderung dilihat secara fisik-sesaat saja. Padahal, produktivitas yang berkelanjutan membutuhkan pengelolaan manajemen jangka panjang yang mensyaratkan adanya keseimbangan. Produktivitas bukan hanya menuntut kerja keras, melainkan juga tidur pulas, karena (aktivitas) tidur mampu menyegarkan kondisi fisik maupun mental, agar kita mampu beraktivitas kembali secara optimal. Jantung kehidupan pun tak hanya menuntut kita untuk menghembuskan nafas, melainkan juga menarik nafas.

Puasa, nyepi, dan banyak aktivitas lain yang sekilas cenderung lebih mengedepankan aktivitas batin daripada gerakan fisik pun, tidak bisa dikatakan sebagai momentum yang tidak produktif. Ini semacam keputusan mundur tiga langkah untuk melompat sepuluh langkah ke depan. Dengan cara pandang ini, bukankah setiap langkah mundur kita itu pun sangat produktif?

mlinjo-wirokerten-1 keceriaan pascalebaran di gerbang dusun Kepuh Kulon

Puasa yang baru saja kita jalani pun bukanlah semata-mata sebagai sebuah mekanisme untuk merepresi, menekan, atau mengebiri nafsu dan keinginan, melainkan juga sebuah proses yang memberi kesempatan untuk melihat dengan kebeningan dan keheningan mata batin, dari angle atau sudut pandang yang berbeda. Dengan pemahaman baru itu, mungkin saja kita bahkan tak lagi memprioritaskan pencapaian keinginan lama kita, karena bisa jadi kita justru akan meyakini bahwa apa yang telah kita terima selama ini sudah jauh lebih baik dan jauh lebih banyak dari apa yang tadinya dengan begitu ambisius ingin kita dapatkan. Baca terus →

→ 44 CommentsKategori: Uncategorized
Ditandai: , , , , , , , , , , , ,

Jajan Pasar Kauman dan Bakmi Paku: Suatu Sore di Sorga Kecil

September 16, 2009 · & Komentar

Naluri bisnis seringkali melahirkan gagasan kreatif memanfaatkan sebuah momentum untuk mendapatkan keuntungan. Pada titik tertentu, pemanfaatan momentum besar seperti bulan Ramadhan secara berlebihan sering dikritisi sebagai komodifikasi yang dikhawatirkan akan mengganggu kekhusukan beribadah, bahkan akan mengecilkan arti kehadiran bulan suci tersebut. Di saat keimanan batin kita semestinya berkontemplasi, mengapa kalkulator duniawi kita masih juga berderak-derak?

Sebenarnya, di manakah batas ukuran berlebihan dalam konteks tersebut? Minggu, 13 September 2009 lalu ketika Komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel sore hari sambil ngabuburit, kami menyaksikan sebuah fenomena lain yang tergelar di depan kami, tepatnya di sebuah gang di wilayah Kauman, jalan KHA Dahlan, Yogyakarta.

kauman-1

menanti saat berbuka

Setiap Ramadhan tiba, sepanjang sore hingga maghrib menjelang, gang kecil itu disulap menjadi pasar sore yang menyediakan aneka jajan pasar dan berbagai lauk-pauk untuk berbuka puasa.

Baca terus →

→ 23 CommentsKategori: ngonthel
Ditandai: , , , , , , , , , , ,

Fongers dan Baju Petani: Kemarin, Kini, dan Esok Hari

September 9, 2009 · & Komentar

Awal September lalu, sebuah undangan acara unik kami terima dari sahabat-sahabat onthelis Podjok. Kami diminta bergabung di acara “Tour Obat Nyamuk”, sebuah event ngonthel tematik memperingati ulang tahun Fongers, salah satu pabrikan sepeda terkenal di Belanda. Dalam undangan itu disebutkan bahwa peserta tour diharapkan mengenakan kostum jadoel. Beruntunglah, kastup atau baju petani yang sudah menjadi salah satu ciri penampilan komunitas Opoto (Onthel Potorono) –selain kaos– itu saat ini sudah menjadi pakaian jadoel juga. Berarti kami cuma perlu menyiapkan sepeda Fongers kami saja.

Ternyata, teman yang berminat ikut cukup banyak. Oleh karena beberapa teman kami masih memerlukan baju petani, malam itu juga kami ngonthel ke rumah Pak Maryanto, seorang penjahit baju petani langganan kami di Kotagede. Eloknya, meskipun kami datang malam-malam, Pak Maryanto tidak berkeberatan membuka kembali pintu rumahnya yang semula sudah tertutup. Kami pun memilih baju dan celana sesuai ukuran sambil ngobrol berkepanjangan.

pawai-fongers-1

Pak Maryanto, penjahit kastup langganan Opoto

Baca terus →

→ 49 CommentsKategori: ngonthel
Ditandai: , , , , , , , , , , ,