Jogja Kembali Bersepeda II: Pesta Onthelis Nusantara dan Dunia Para Pria

Opoto-di-JKB2-001

Magangan, kompleks keraton Jogja yang dilalui rute JKB II

Setelah sekian lama demam sepeda onthel mewabah di Indonesia, masihkah kini terdengar gaungnya? Beberapa teman mencoba menganalisa: kita lihat dulu motif kecintaannya seperti apa. Ada yang suka mengendarai sebagai sarana transportasi jarak dekat, ada yang suka merawat dan mengendarai sebagai sarana bergaul di tengah komunitas, ada juga yang suka mengoleksi tetapi teramat sayang untuk dikendarai karena dapat menurunkan nilai investasinya, dan masih banyak lagi motif seseorang mencintai sepeda onthel. Baca lebih lanjut

Pendopo nDalem: Angkringan di Istana Pangeran

gerbang pendopo ndalem

Dalam banyak tayangan acara di televisi, para bangsawan dalam tata kemasyarakatan lama sering dilecehkan secara berlebihan sebagai seorang dengan pandangan dan perilaku feodal yang kolot dan tidak lagi sesuai perkembangan zaman. Padahal, bahkan di zaman modern ini, perilaku feodal juga banyak dipraktikkan di kalangan politisi, pejabat, akademisi, budayawan, bahkan rohaniawan, dan sebagainya. Para oknum yang menganggap dirinya ‘lebih tinggi’ dari sesama, bahkan atas dasar ukuran yang direkanya sendiri itu bisa kita temukan di mana saja.

Mestinya kita tak lupa, betapa dalam perjuangan menegakkan revolusi kemerdekaan yang mencita-citakan kedaulatan di tangan rakyat, seorang raja Yogyakarta justru tampil di depan untuk melindungi dan mengasuh bayi bernama “Indonesia”. Beliau adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang dikenal lekat dengan prinsip mulia: tahta untuk rakyat! Baca lebih lanjut

Candi Sojiwan: Perwujudan Cinta yang Mengatasi Perbedaan

Opoto di candi Sojiwan

Cinta berkali-kali terbukti mampu mengatasi perbedaan. Bukan hanya cinta dan perbedaan pada suami-istri, tetapi juga cinta dan penghargaan atas perbedaan latar belakang, selera, serta pemikiran dalam satu komunitas. Lebih luas lagi, cinta pada Sang Pencipta akan mampu memelihara perdamaian semesta.

Minggu pagi 15 Juli 2012, ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel ke utara, perwujudan cinta yang mengatasi perbedaan itu kembali kami temukan di kompleks candi Sojiwan. Ngonthel pada pekan terakhir sebelum Ramadhan menjadikan perjalanan pagi itu terasa sedikit sentimentil. Justru karena kami sengaja meluangkan waktu untuk perjalanan kali ini, maka meskipun hanya berlima, perjalanan kami begitu santai dan tanpa beban. Dengan banyaknya alternatif jalan yang bisa kami lalui, rute perjalanan Potorono-Prambanan yang sudah kami tempuh entah sudah berapa puluh kali itu nyatanya masih mampu memberikan pengalaman perjalanan yang selalu berbeda. Baca lebih lanjut

Sega Nggeneng, Sepeda Onthel, dan Anomali Teori

dapur Mbah Martodiryo: kepulan asapnya dirindukan banyak orang

Teori marketing modern selalu mengajarkan kunci sukses bisnis: lokasi, lokasi, lokasi! Tapi para leluhur kita dahulu  pun tak putus mewanti-wanti: jangan pernah melupakan apa yang menjadi asal-muasal kesuksesanmu. Maka, para penganut bisnis modern pun sibuk berburu lokasi strategis, sementara pengusaha tradisional tetap merawat asset lama mereka.

Kami tidak sedang mempertentangkan antara teori bisnis rasional dengan kearifan tradisional, tetapi hanya mau memberikan sebuah pengantar bagi sebuah pengalaman unik ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) sengaja ngonthel ke kawasan Karanggeneng pada Minggu pagi, 29 April 2012 lalu. Baca lebih lanjut

Parade Onthel Satria: Bersenang-senang a la Bawor

perhelatan onthel sebagai ajang silaturahim

Di Potorono, kami mengenal beberapa istilah untuk aktivitas yang mirip, tetapi sejatinya berbeda orientasi atau takarannya. Misalnya, kami biasa membedakan antara ‘ngepit’ (bersepeda) dengan ‘pit-pitan’ (sepedaan). Yang pertama lebih sebagai proses untuk menuju sesuatu yang akan dilakukan, misalnya bersepeda ke tempat kerja, sementara yang kedua merupakan tujuan itu sendiri: ya bersepeda berkeliling itulah tujuannya. Baca lebih lanjut

Bendungan Grembyangan dan Harmoni Lingkungan

berhenti setiap melihat tempat nan asri…

Minggu pagi yang cerah, saatnya kami berangkat ngonthel penuh gairah. Jika saja tidak melihat fisik kami sebagai manusia dewasa, barangkali agak sulit membedakan antara keceriaan kami saat ngonthel dengan kegembiraan kanak-kanak yang bersepeda menikmati hari libur mereka. Sama-sama spontan, sama-sama riang. Fantasi dan keinginan kami pun barangkali sama banyaknya dengan mereka. Bedanya dari kanak-kanak adalah, kami harus lebih bisa menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kami inginkan dapat kami lakukan atau kami dapatkan. Bukankah orang Jawa mengenal jurus ‘mulur-mungkret’. Kami akan mengulur cita-cita dan keinginan sepanjang memungkinkan, tetapi dengan realistis akan segera menariknya ketika membentur kenyataan yang tidak dapat ditolak. Begitulah yang kami lakukan sampai kami mendapatkan posisi paling ideal. Baca lebih lanjut

Gazelle 60 “Seri-1”: Tetap Bernilai di Usia Tua

berkilau di senjakala…

Apa yang terjadi ketika bintang pujaan yang dahulu begitu populer menjadi tua? Meskipun jawabnya tentu beragam, tetapi mungkin saja semua berangkat dari fakta yang seragam: terjadinya penurunan performa, fungsi, bahkan juga nilai. Benarkah menjadi tua berarti berakhirnya segala-galanya?

Pada beberapa bangsa, sikap terhadap warga senior mungkin juga berbeda-beda. Menjadi tua bisa berarti lamban dan harus menyingkir. Menjadi tua bisa juga berarti kaya akan pengalaman sehingga harus dihormati. Seorang teman yang menyelesaikan studi di Jepang sempat bercerita bahwa jika di Jogja orang menakar usia seseorang biasanya cukup dengan melihat penampilan fisik, di Jepang orang tidak sungkan menanyakan langsung usia yang bersangkutan. Informasi akan usia itu penting dalam adat mereka karena akan menentukan panggilan yang tepat bagi setiap orang, juga menentukan siapa yang akan dilayani lebih dulu. Usia seseorang ikut menentukan posisi sosial mereka. Baca lebih lanjut