Sega Nggeneng, Sepeda Onthel, dan Anomali Teori

dapur Mbah Martodiryo: kepulan asapnya dirindukan banyak orang

Teori marketing modern selalu mengajarkan kunci sukses bisnis: lokasi, lokasi, lokasi! Tapi para leluhur kita dahulu  pun tak putus mewanti-wanti: jangan pernah melupakan apa yang menjadi asal-muasal kesuksesanmu. Maka, para penganut bisnis modern pun sibuk berburu lokasi strategis, sementara pengusaha tradisional tetap merawat asset lama mereka.

Kami tidak sedang mempertentangkan antara teori bisnis rasional dengan kearifan tradisional, tetapi hanya mau memberikan sebuah pengantar bagi sebuah pengalaman unik ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) sengaja ngonthel ke kawasan Karanggeneng pada Minggu pagi, 29 April 2012 lalu.

“pos Opoto-2” selesai dibenahi

Berangkat tidak terlalu pagi, dari Potorono kami ngonthel pelan saja menyeberang jalan Imogiri Timur, lewat Tamanan, terus ke barat hingga berhenti di pos Opoto-2, tepatnya di rumah Mas Tono di kawasan Pelem Sewu. Di sana kami ngobrol cukup lama sambil menunggu agak siang, saatnya rumah-warung Mangut Mbah Martodiryo buka. Kisah warung Mbah Martodiryo inilah yang menarik.

Dahulu, ketika warung makan belum menjamur seperti sekarang, masih banyak dijumpai penjual nasi keliling. Banyak di antara para penjual makanan ini berasal dari Karanggeneng, sebuah padukuhan di sebelah barat kampus ISI Jogja. Dari Karanggeneng biasanya mereka berpencar menempuh rute masing-masing, misalnya ada yang dari Nggeneng menuju Krapyak—Plengkung Gading—Keraton—Bringharjo. Ada yang lewat Minggiran—Pugeran—Tamansari—Bringharjo, ada juga yang lalu menempuh rute Krapyak—Jogokaryan—Timuran—Jokteng Wetan—Bringharjo, dsb.

menuju Nggeneng

Di sepanjang rute itulah mereka sesekali berhenti untuk melayani pelanggan. Pada dasarnya mereka tidak menolak ketika orang membeli dagangan mereka di sepanjang perjalanan, baik dari rumah menuju pasar maupun sebaliknya, selama dagangan masih ada. Nah, karena sebagian besar pedagang nasi keliling itu berasal dari Karanggeneng, maka orang lalu terbiasa menyebutnya sebagai “sega Nggeneng” (nasi dari dukuh Karanggeneng).

rumah sekaligus warung Mbah Martodiryo

Zaman pun berganti. Setelah tahun 1990-an, jumlah warung makan di sepanjang jalan sudah tak terhitung lagi, penjual nasi keliling di Jogja semakin sulit mendapatkan pembeli. Maka penjual sega Nggeneng pun memilih berjualan di rumah sendiri. Tamatkah kisah bisnis mereka?

Tidak. Zaman memang berganti. Tapi globalisasi yang dipercepat oleh revolusi teknologi komunikasi justru memungkinkan setitik kecil lokasi warung sega Nggeneng yang tersembunyi tetap dapat diakses di peta kuliner Jogja, bahkan Indonesia, atau dari mana pun kita mengaksesnya! Justru kami yang pagi itu ngonthel bersepuluh sempat agak tersesat karena warung Mbah Martodiryo atau biasa dikenal juga sebagai Mbah Marto Gowok di dusun Nengahan, Karanggeneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul ini tidak memasang tanda apa pun di depan rumah sekaligus warungnya. Tapi sebenarnya tidak terlalu sulit menemukannya. Dari kota Jogja, silahkan ke selatan menuju jalan Parangtritis. Selewat kampus ISI dan kantor pos Sewon, berbeloklah ke kanan (barat). Sesampai di dusun Nengahan, tanya saja di mana rumah Mbah Martodiryo pemilik warung sega Nggeneng.

ratusan ekor lele diolah untuk memanjakan lidah pelanggan

Pagi itu, ketika kami datang sekitar pukul 08.30, mangut lele Mbah Martodiryo belum masak. Kami dipersilahkan menunggu sambil menikmati segelas teh hangat. Tak cuma duduk, selama menunggu kami justru sempat berkeliaran di dapur bak kanak-kanak kelaparan menunggu nasi tanak. Di dapur tradisional itu terdapat beberapa tungku yang menyala. Asap pun membubung memenuhi ruangan. Sementara Mbah Martodiryo tampak asyik mengupas bawang dan menyiapkan bumbu, beberapa asistennya sibuk memasak serta memanggang beberapa tusuk ikan lele di atas perapian. Selain hari Minggu, mereka biasanya mulai memasak lebih siang lagi, sekitar pukul 11.00.

Mangut lele Mbah Martodiryo sekilas tampak biasa saja. Hanya saja, cara memasak yang berbeda ternyata menghasilkan sensasi rasa dan aroma yang berbeda pula. Lele yang telah dibersihkan tidak lantas digoreng, tetapi diasapi/dipanggang di atas bara sabut kelapa sehingga meninggalkan aroma sangit yang khas. Bahkan tusuk yang digunakan tidak terbuat dari bambu, tetapi dari pelepah kelapa yang dipotong-potong kecil-panjang dengan salah satu ujung yang meruncing. Tusuk dari pelepah kelapa ini akan berminyak saat dibakar sehingga tidak membuat daging lelenya lengket.

ambil makan sendiri, langsung di dapur rumah Mbah Martodiryo

Setelah masak, semua menu berupa mangut lele, daging ayam, tahu-tempe dan telur ayam, sayur daun pepaya, serta sayur rambak pedas dalam baskom dan panci besar telah ditata di atas amben (balai-balai) di sudut dapur. Agaknya kami adalah rombongan pertama yang dipersilahkan mencicipi menu nasi Nggeneng sepagi itu. Tanpa dikomando, di tengah kepungan kabut asap dapur, para Opoters pun segera mengambil nasi, sayur, serta lauk sesuai selera.

kepedasan, tapi pantang berhenti…

Di luar dugaan, masakan Mbah Martodiryo ini ternyata agak pedas sehingga kami memerlukan keluar dari dapur dan memilih duduk di teras untuk mendapatkan udara di tempat terbuka. Meskipun terasa agak pedas sehingga segera mengalirkan peluh, tetapi pedasnya hanya di mulut, tak sampai di perut.

Bagi kami, keistimewaan masakan Mbah Martodiryo ini terletak pada rasa dan aroma alaminya. Kami serasa menikmati masakan nenek yang sedap, bersahaja, dan ngangeni. Agaknya rasa dan suasana inilah yang diburu orang, termasuk para selebritis yang beberapa fotonya terpampang di ruang tamu.

beberapa foto public figure…

Dunia kadang memang aneh. Ketika sebagian orang masih bermimpi untuk mengejar gaya hidup kota metropolitan yang begitu gemerlap, apa yang kami nikmati sepagi ini: bersepeda onthel dan bergurau lepas sambil menyusuri sawah dan jalanan kampung, menikmati mangut lele dan aneka masakan yang dihidangkan di sebuah dapur kampung berdinding hitam penuh jelaga milik Mbah Martodiryo, agaknya justru merupakan sebuah kemewahan yang mungkin begitu didambakan oleh para pejabat dan pesohor negeri ini.

nampang di kampus ISI

Hingga saatnya kami pulang dalam iring-iringan panjang, terbayang betapa hidup jadi serupa roda sepeda onthel kami. Teori dan asumsi terus diamini, menjadi trend, menciptakan gaya hidup massal, sedemikian massal sehingga pada saatnya lalu dibilang basi, tidak menarik lagi, dan saatnya muncul anomali, melahirkan teori baru lagi, asumsi lagi….!

Lihatlah aktivitas kami saat asyik menikmati sega Nggeneng seperti tadi. Apakah tampak kampungan, bersahaja, keren, eksotis atau apa lagi, semua bergantung sampai di mana perputaran roda kehidupan ini, teori mana yang sedang digandrungi. Ah, apakah kita peduli?

***
Di Nggeneng terdapat lebih dari satu warung mangut.  Meskipun mungkin sama enaknya, tetapi sebaiknya pastikan dulu warung yang diinginkan. Misalnya tanyakan kepada orang di sana, apakah ini warung Mbah Marto Gowok. Dengan begitu akan lebih afdol dan tidak membuat penasaran di kemudian hari.

57 responses to “Sega Nggeneng, Sepeda Onthel, dan Anomali Teori

  1. …aduh sampai lupa jalan menuju blog ini…wah kalau sudah mulai mencari alternatip selain SOTO..mesti dicoba nih MANGUT BEONG di Borobudur…kalau kerso rawuh sepeda siap ….bagi yg mau selingkuh mencobain sepeda orang,….bagi yg setia…..silahkan repot bawa sepeda kesayangan…sumonggo…tapi kalau sabtu minggu tidak bisa menemani karena mesti pulang rumah

    • I'wey Onthelist

      Wah cocok tuh, mangut beong “Selera Pedas” Tegal arum Borobudur…..
      recomended deh….. apa lagi kalo masih ada pelayannya yang bohayyyyy….
      wakakakak…..

    • wongeres OPOTO

      Kasinggihan, Pak Pram. sampai “ngimpi-ngimpi” lho… 🙂

  2. muhammad fardiansyah

    Foto terakhir Pak Noer dan Mas Aat naga-naganya mau bikin boys band neeh🙂

    • wongeres OPOTO

      Apa, wong semua sudah pada ketularan gitu kok. Sampai kalau ada kilat, secara refleks langsung pada berpose, jebul disusul suara guntur menggelegar. Akhirnya ya semua lari terbirit-birit…😀

  3. I'wey Onthelist

    Kapan Pak Noer ada Agenda kesana……?heheheh

  4. Rangga Tohjaya

    perjalanan ke sepuluh OPOTERS (sebenarnya sih ke “sebelasan”, yg satu masih ketinggalan di Depok) akhirnya sampai di tempat mbah Martodiryo, yg saya ingat juga pernah kesana diajak oleh pak dhe saya yg tinggal di Dudun Kadisoka pada waktu yg lalu. Wah…memang disini makanannya terasa “sensasi” yg berbeda ya Pak Dhe, Istri saya bilang : Nasinya saja sudah uenak tenan, apalagi ditambah mangut lele dan lauk “ndeso” yg serasa masakan “simbok saya”. Kapan yah kesana lagi. Salah satu “kenikmatan dunia” yg lain bagi saya Pak Dhe , apalagi makannya sehabis kecapekan ngonthel…….I miss you tenan sama makanan ndeso itu Pak Dhe…….apalagi ngeliat Mas Tono…wah benar benar nggak ingat mertua lewat Pak Dhe………salam buat Pak Dhe Wongeres dan semua kerabat OPOTO……….persahabatan yg hakiki, begitu kata teman teman di Defoc……………..Nuwun.

  5. bagus kurniawan

    Mangut Lele Mbah Gowok versi lain mangut lele kuah basah/banyak. Mangut Beyong Borobudur memang sedap, itu yang kami tunggu. Mangut Beyong Srowolan, Mendut atau Mangut Beyong dekat Lapangan Tembak Salaman juga Mak Nyus. Hari Jumat ini saya tlisiban sama Bosch Pramb di Muntilan. Kalah gasik datangnya

  6. Pakdhe Noer…tulisannya gaya bahasanya kok kaya pengamat ekonomi di kolom2 atau rubrik media massa njih…punopo lulusan sarjana ekonomi?

    • wongeres OPOTO

      Mas Furqon, ini karepe ya biar kaya’ “orang-orang banyak” kalau bicara di koran dan televisi itu to Mas. Hehe… Saya kuliah ekonomi kehidupan, jurusan ekonomi lemah saja😀

  7. Rangga Tohjaya

    @Mas Furqon……punopo panjenengan ndak tau to…..Pak Dhe Noer itu gelarnya banyak lho……beliau itu Spd (spesialis pembaca doa), SAg Sarjana Asal gobleg), dan S3 nya S.So (Spesialis Sepeda onthel)…….ha ha ha ha….hwaduh nyuwun sewu yo Pak Dhe mau nyaingi Den Mas Said njih………nggak takut kualat ?????????? Mas Furqon…yg pastinya beliau itu Sastrawan yg masih keturunannya Ronggowarsito….gitu ya Pak Dhe………

    • wongeres OPOTO

      Pak Dhe Rangga, senang mendengar Pak Dhe sudah pulih. Jangan membocorkan rahasia bahwa kita sama-sama “mantan penulis” ijazah lho. Hehe…

  8. @Pak Dhe Rangga…kirain Spd itu kepanjangan dari ‘sarjana sepeda’…:)
    @Pakdhe noer….punopo burgres pastur ipun saged dipun mahar njih…inbox kemawon mbok menawi saged damel paseduluran : lelancuringbawana@gmail.com🙂

    • wongeres OPOTO

      Mas Furqon, sejujurnya saat ini saya masih menekuni S3 (Soyo Seneng Sepeda!). Hehe… Burgers? Sebelumnya saya beritahu sebuah fenomena: rupanya hobby juga mengenal kasta. Beberapa penghoby sepeda saat ini mulai suka vespa dan motor antik lho. Hahaha… Siapa tahu dengan begitu beberapa sepedanya boleh dilungsur… Lha kalau saya ini ya harap maklum saja, tidak ada niat naik kasta Mas. “Nrimo ing pandum” saja, ngopeni Burgers tua 😀

  9. Semakin tua semakin eksotis hehheee,,,,,! Gus Wong, dames muda juga banyak yang eksotis lho hihihiiiii, spatbord ori, rem tromol pakem, sadel celeng….mana tahan…!

    • wongeres OPOTO

      Kyai Lintang, lha ini kalau dames muda malah pada nyari yang nggak terlalu pakem, je. Katanya enakan agak-agak blong dikit.. Lhadalah!😀

  10. Mangutnya Nggeneng ini buat saya nomer satu. Rasanya yang humble menusuk di kalbu.
    Mangut beong tampaknya menarik. Tapi di luar weekend kapan ya bisa terwujud….

  11. Dipotorono serasa tinggal dengan Agung Sedayu dan Glagah Putih….mangut lele…wedang sere!

  12. Enak tenaaan sego nggeneng sak lawueeee, udah ada yg mulai ganti kasta apa Mas, kalau termasuk Mas Nur, G 1 yg di Potorono tak maharnya aja.

  13. Punten Ma Wong, kulo dereng uning “mangut beyong” meniko kados punopo ?
    Matur nuwun Mas Wong

    • wongeres OPOTO

      Pak Bandi, menawi mboten klentu, beyong itu sejenis ikan gabus…

    • I'wey Onthelist

      Seperti Lele Kali (Kepalanya besar)…. High recommended…

      • Ikan Beyong jenis ikan yg ada di sungai Progo bagian hulu.. Ikan predator ini bentuknya mirip lele.bisa sampai 15 kg beratnya..Tapi sekarang rata2 beratnya sekitar 1 kg,,karena sekarang menjadi umpan SUPERPREDATOR. Disungai progo hulu juga masih ada ikan langka TOMBRO.yg mempunyai banyak cerita mitos tentang kehebatannya..bagi pemancing maupun pencari pesugihan.Ikan2 tersebut agak selamat dari superpredator dari setrum dan racun karena tinggal di arus deras. Ikan arung jeram yang kenyal dan gurih…

      • wongeres OPOTO

        Pak Pram, apakah dagingnya mirip daging ikan males? Bagaimana dengan khasiatnya? Konon, meskipun namanya ikan males, khasiatnya bisa bikin pria jegerrr!?

  14. bagus kurniawan

    Mas Aat, Mas Iwey, Mas Noer kapan expedisi Mangut Beyong khas Progo dan sekitarnya. Mumpung Sasi Ruwah sebelum puasa.

  15. Blog iki jan paling rame…..kayaknya everyday is holiday…candi banyak, budaya kuat sekali…tempat eksotis uaakeeehhh…kuliner first class…..priyayi Potorono pinaringan nugroho gedhe banget……meri aku …uhuk..uhukk….

    • wongeres OPOTO

      Duh, nyuwun pangapunten, Kyai Ian Anderson sampai batuk-batuk kena asap mangut. Suara flute-nya bisa kebloh…🙂

  16. he he sangat ngangeni jogjanya mas nur, suwun

  17. @haduh wis kentekan mangut nih…lama tdk nge blog jebule lagi pada pesta lele dan beyong…ada Boys Band anyar, ada info kastanisasi hobi, ada pemburu “kilat”, ada tawaran menggiurkan dari mas Pram….sayangnya saya dan pakde Rangga .. hanya bisa menikmati lewat sajian reportase….hiks.. salam kangen buat sederek OPOTO…

    • wongeres OPOTO

      Waah, lha ini ada info dari Nggeneng bahwa kemarin ada rombongan keluarga dari Karawang yang langsung mencoba mangut Nggeneng di dua tempat sekaligus? Hehehe… Semoga keluarga itu tidak kapok kena asap sabut kelapa…

  18. muhammad fardiansyah

    OPOTO diberikan kepandaian untuk terus bersyukur sehingga hal2 sederhana memberikan inspirasi bahwa Allah Maha Kaya

    • wongeres OPOTO

      Mas, kapan itu saya kontak Mas Aan kok kaya’nya malah bingung? Selamat dan sukses menjalani hobby (dan juga profesi, to?) Kereeen…

  19. @ mas Wong,sepulang dr Jogja oleh2e malah lele panggang sak kodi..tanpa bumbu.. bareng dimasak oleh istri ( setelah nyantrik dua jam di mbah Marto… ee ternyata masakan istri saya lebih sedap dan lebih pas di lidah… hehehehe (.. berharap istri ikut baca koment ini… heheh). mtr nuwun info dan panduan jalannya mas..

  20. Gus Wong jan mantep, Ian andersen, ian gilland, ian rush,ian sofyan…konco kabeh… dinner mangut lele karemane Kyai Gringsing dalah kyai Waskita huahahaaa….blog josss

    • wongeres OPOTO

      Kalau sudah nggegem lele, ngangkat satu kaki sambil merem-melek, wah jiaaan… Gobyos-gobyos, Burgers dames lewat bergeming. Hehe…

  21. hanya satu kata ‘ kangen”… untk ngontel bareng….

  22. Hahahaa…..tambah rokok eceran gudang garam sak lencer! Kalau di jawa barat jengkol jadi menu andalan Gus Wong…lali purwoduksino…

  23. Pindah rumah buat marung jadi agak jarang ngonthel bareng Opoto tapi saya senang masih dianggap sebagai Pos Opoto II ini tadi habis ngonthel ke candi yg baru diresmikan pemugaranya oleh menteri Pendidikan ,bagus dan nyaman tempatnya.
    Nitip salam buat semua angkringers Opoto dimana saja

  24. Rangga Tohjaya

    Utk semua sahabat sahabat saya yg kenal saya (maklumlah saya bukan orang terkenal ), saya mohon maaf lahir duluan…eh…maksudnya lahir bathin.atas kesalahan kesalahan saya sampai saat ini……agar saya Insya Alloh akan menjalankan ibadah puasa.dg afdol….dan PD (??????)
    Semoga ibadah puasa kita nanti akan bisa “menolong” kita di “hari kemudiani” nanti……..Nuwun……jangan bosen untuk mengonthel dan…………”dionthel”……

  25. @ mas Rangga lan sederek OPOTO sedoyo ,sugeng shaum ugi.. dalam pada itu sinambi nenggo reportase ” Puasa,ngonthel dan kegembiraan hati jilid 2..” mari kita berdoa semoga tetap diberikan kesehatan olehNya selama menjalankan ibadah puasa dan seterusnya. amiin

  26. I'wey Onthelist

    Planing bulan ini harusnya ada ngonthel malem tarawih keliling…. wakakakak…. cari suasana lain ceritanya…. Salam buat para onthelist “Selamat mejalankan Ibadah Sahum”…

  27. Wah si Boss akademis juga ga cuma puitis. Tapi kronologi ngonthelnya ketara banget, ntar pembaca langsung tahu endingnya leyeh2 di teras rumah P Irwan hehe dibuat mbulet kayak laskar pelangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s