Margono Sedayu: Menangani Onthel dengan Hati.

Nama Margono dalam jagad perbengkelan sepeda onthel di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang ayahnya yang juga kakak kedua dari Mbah Ngatijo: Pak Sadiyo almarhum.

Sebagai anak Pak Sadiyo, Margono sejak kecil sudah sering ikut ayahnya membawa dagangan sepeda ke pasar Godean. Di usia SD itu, ia sudah mampu mengenali beberapa merek sepeda onthel. Pembawaan ayahnya yang kreatif, tak bisa diam, dan keras hati sedikit banyak mempengaruhi Margono remaja, termasuk dalam memilih sekolah. Setamat SMP, Margono meneruskan ke STM, dan sejak kelas satu ia sudah membantu bekerja di bengkel ayahnya di Sedayu.

Margono-&-ibuSang Penerus bersama ibundanya

Margono ingat bahwa dahulu, ketika masih menjadi karyawan bengkel, ayahnya melihat ada banyak limbah suku cadang seperti fork-fork sepeda yang patah, yang sebenarnya masih bisa difungsikan, tetapi harus dibuang karena bengkel tempatnya bekerja saat itu hanya mampu mereparasi dengan mengganti garpu depan/fork yang baru.

Kenyataan tersebut menginspirasi ayahnya untuk membuka bengkel sendiri. Dengan keterampilan yang dimilikinya, fork-fork yang patah itu dilas, dicat agar bisa difungsikan kembali dengan kekuatan yang tak kalah dari saat barunya. Keterampilan semacam inilah yang membuat Pak Sadiyo dahulu punya banyak pelanggan. Biaya reparasi jadi lebih murah, dan penampilan tetap seperti baru.

Kreativitas ayahnya rupanya juga menurun kepada Margono. Sejak remaja, di bengkel ayahnya ia tak hanya mampu mereparasi sepeda dengan cara mengganti bagian yang rusak dengan suku cadang baru, melainkan juga mengelas dan memodifikasi sepeda sesuai permintaan pemiliknya.

Pada suatu hari, kira-kira setelah empat tahun Margono secara resmi membantu ayahnya di bengkel, ayahnya jatuh sakit sehingga harus dirawat. Padahal bengkel yang menjadi sandaran hidup banyak karyawannya itu tentu harus terus berjalan. Maka, mau tak mau, saat itu Margonolah yang menjalankan manajemen dan administrasi keuangan bengkel. Selama dua bulan Margono bekerja sekaligus belajar memegang kendali usaha bengkel ayahnya hingga ayahnya sembuh.

margono-1pekerja keras yang ramah dan teliti

Setelah ayahnya pulih dari sakit, Margono menghadap ayahnya dan melaporkan semua aliran keuangan selama ayahnya sakit, sekaligus menyerahkan kembali tanggungjawab pengelolaan bengkel kepada ayahnya. Margono sama sekali tidak menyangka bahwa saat itu merupakan saat bersejarah yang menjadi titik balik bagi kehidupannya. Ayahandanya yang telah mendidiknya dengan keras itu justru ingin mempercayakan seterusnya semua tanggung jawab pengelolaan bengkel itu kepadanya.

Ada rasa bangga bahwa diam-diam ayahnya memandangnya telah cukup mampu menjalankan usaha keluarga ini. Namun, ada juga sebentuk perasaan yang membebani hatinya mengingat bahwa ia sebenarnya merasa belum siap menerima tanggung jawab sebesar itu. Tetapi begitulah, siap tak siap Margono sebagai anak tertua harus melanjutkan tongkat estafet, menjaga dan merealisasikan amanat dari ayahnya, menjadi tulang punggung bagi keluarga besarnya.

Mewarisi wasiat ayahnya bahwa bekerja haruslah tekun dan jujur, Margono pun merekrut dan mempertahankan saudara serta orang-orang terdekat yang karakter serta kinerjanya sudah dikenalnya betul. Dengan dukungan sumberdaya yang mampu memahami kehendaknya itulah Margono menjalankan bisnis perbengkelan sepeda onthelnya. Sementara itu, Sang ayah masih sempat mendampinginya selama empat tahun lebih hingga akhir hayatnya.

Sebagaimana sosoknya yang halus, pendiam, tapi ramah, Margono adalah seorang pekerja keras yang teliti dan selalu mengerjakan segala sesuatu secara terprogram. Bahkan, karakter itu pulalah yang kental mewarnai kisah cintanya dengan Dwi Riyanti, gadis belia yang telah mencuri hatinya. Tanpa ada seorang pun yang tahu, Pemuda Margono menjalin cinta dengan gadis tetangga kelahiran Sumatera itu hanya lewat surat. Pada surat kesepuluh, gadis itu pun dipinangnya!

Margono-&-istri

didampingi istri setia

Kini, didampingi orang-orang tercinta, Margono semakin serius mengelola bengkelnya. Menyesuaikan teknologi yang ada, Margono melakukan beberapa efisiensi, misalnya jika dahulu pengecatan di bengkelnya dilakukan dengan pompa manual, maka sekarang Margono menggunakan kompresor sehingga hasil pengecatan bisa lebih rata dan efisiensi tenaga serta waktu bisa ditingkatkan. Uniknya, kualitas pengecatan di bengkel Margono seringkali menjadi standar. Di pasar Prambanan maupun di Imogiri dan Pandak, Bantul, misalnya, para penjual sepeda dengan bangga mengatakan bahwa sepeda yang dicat ulang oleh Margono Sedayu, semakin lama akan semakin bagus.

karya-margono

Hunter dan Juncker Potorono, hasil restorasi Margono

Pada kenyataannya, para penggemar sepeda onthel dengan cepat akan mengenali cat karya Margono dan Mbah Ngatijo sebagai cat yang berkualitas baik. Oleh karena itu, banyak kolektor sepeda onthel dari berbagai penjuru kota yang meminta jasa mereka untuk merestorasi sepeda koleksinya.

Di bengkelnya yang berada di jalan Wates KM 12, Semampir, Argorejo, Sedayu, Bantul, Margono dengan teliti akan mencatat kondisi setiap sepeda yang diserahkan kepadanya, menandai, menuliskan keinginan pemiliknya, dan merestorasi dengan citarasa yang terasah oleh pergaulannya yang intens dengan berbagai merek sepeda onthel.

Selama ini, untuk mengecat atau merestorasi sebuah sepeda, setidaknya diperlukan waktu 3 minggu hingga satu setengah bulan, bergantung kompleksitas kasusnya. Misalnya kalau harus krom ulang bagian-bagian tertentu, Margono akan meminta jasa vendor terbaik dengan konsekuensi mengantri lama pula.

Dengan aneka paket pengecatan, Margono terus berusaha memberikan yang terbaik. Bahkan, lebih dari semua itu, Margono melakukannya dengan hati, karena itulah modalnya selama ini.

(wongeres)

40 responses to “Margono Sedayu: Menangani Onthel dengan Hati.

  1. Erwin Erlangga :

    sekali- kali Warga OPOTO ngonthel bareng ke workshop / pakar kayak gini lah. Silahturahmi , jadi kalau pas kesana sendiri kita orang sudah dikenal paling tidak sama beliau2 itu.

  2. Lha. Hunter, Juncker, Burgers dames Potorono dll kan memang buah karya Sedayu? Saya pernah lho ngepit dari sana sampe ke rumah. Kemarin Mas Tono juga ke Sedayu dan mau nyoba ngonthel ke Potorono. Brani? Hehe…

  3. satu lagi Tumbuh Generasi penerus di “Kerajaan ONTHEL”

    Suksessssssssss buat kang margono….

  4. juragan ini kok tauuuuu aja para tokoh2 peronthelan ya…..dapet alamat dari mana ya???
    (dari buku yellow pages kali…)

    trus bahasanya juga enak diikuti seperti bahasanya SH.Mintarja….heeeeeee

    • wuih… Om Muscat baru tahu yach…
      Bapak kita yang satu ini khan suka sekali “hunting” berkunjung dari Kota ke kota, juga Dari desa ke desa, pun juga dari dusun ke dusun…. Njajah Desa Milangkori….

    • Agung Sedayu itu nama tokoh yang dielus-elus sama SH Mintardja. Kalo Max Agung itu tokoh yang sekarang lagi ngelus-elus Simplex dames.

    • Kalo soal njajah desa milang sadel itu saya kan cuma katut2. Lha makanya kemarin malem2, hujan, masih nyekukruk di warung bakmi samping kios onthel Wedi, Klaten itu. Idenya siapa, hayo?

  5. Idene sik gak nganggo jaket Pak….. Huaaaa….haaaaa….

    Bos.. spd Gazelle laki 24-an, yang tak coba itu penak tenan lho…. menurut njenengan Performane sepeda itu piye yach????

    • onthelpotorono

      Performance? Yo superkeren! Tinggi, bos gedhe, catnya masih sip, nomor serinya juga favorit. Ya tinggal doanya aja dikencengin…🙂

  6. Informatif, jadi kepikiran ngopeni onthel. Dah ta taruh ditempat yang lebih “tinggi”

  7. ngepit dr sedayu ke potorono?

    mampir dulu ke masjid seberang
    (emang pas waktunya sholat)
    sambil berdoa…………………………………..,,,,, semoga turunan dan tanjakan yang akan ditempuh tidak ada kendala.

  8. dari sedayu ke potorono gak ada tanjakan_e kok dab…. yen dalan munggah pancen “iyo”…

    • onthelpotorono

      Lha, itu mumpung ada saksinya. Dulu dari Sedayu ke Potorono naiknya Burgers dames. Tanjakan? Lewat! Trus, pas ke Wukirsari/Pucung juga ada yang sanggup nanjak tanpa turun dari sepeda. Apa sepedanya? Sssstt… zanganh vilang-vilang yah: Furqerzzz zuga!

  9. nanti kalo saya ngecatin sepeda di mas Margono mau tak coba deh kayak apa capeknya ngonthel dari sana ke Potorono he…3x . waktu ke bengkel pertama kalinya ternyata mas Margono itu masih muda dan berbakat ,Salute…GOOD JOB.

  10. Mas Wong,
    Agung Sedayu, panembahan Senopati,Raden Ronggo,Kiai Gringsing, Mahisa Bungalan, Witantra,Mahisa Agni,Mahendra,sampe Cin ling pai, ti ki i beng( ilmu serot),Keluarga Kao,Suma,Wan tek Hoat,Gak Bun Beng,Bu kek siansu, jai hwa cat,lam sin,kam hong,, simplex, fongers,gazelle, nyambung bos

  11. onthelpotorono

    Glagah Putih, Bramanti, Pamot. Hehe… Lha Wiro sableng, Suro gendheng, Cityhunter… masih kumanan tempat nggak?

  12. Erwin Erlangga

    Wongeres karo Branjangkawat kuwi podo ngomongin OPOTO ? ra mudeng aku.

  13. mas wongeres lokasi teman-teman potorono di sebelah mana kalau ada kontak personnya, siap tahu pas sowan ke kakek di piyungan bisa main ke teman-teman.

  14. Jalan Wonosari Mas, kira2 Km 8,2. Penjaga gawangnya Mas Tono. Setelah Bimo, jembatan Sekarsuli, Honda, lalu terus, lihat kanan jalan ada akses ke Potorono Asri. Masuk saja, nanti ada warung, nah di seberangnya Mas Tono siap menangkap Anda.

  15. Ha..ha..ha..bubrah iki pranatan…sampe loro wetengku….nyuwun ilmu pelet-e Gus Wong, kulo mboten saget melet, sariawan…Jogja parah..hi..hi..

  16. wah KI Tambak Wedhi kok tarung lawan Pasingsingan apalagi wasitnya kwee ceng lan Gendir Penjalin…….. wuakakakak…. mbubarke pakem tenan….. tp guyonan super menyegarkan… ngantek kepoyuh aku…hahahah

    • onthelpotorono

      Lha, ini malah lebih jadul. Jilid satu! Haha… Gandrik anak putune Ki Ageng Sela.

      Mbang pacar mbang juwawut. Pakeme bubar, wong stress mawut!😀

  17. cing kirit mbang kibur..kucing kecirit, kumbang laki mabur……………….hahaha… bocor alus tenan…

  18. aku sampek mbrebes , ancur negoro iki….ancur tenan lha kepanggih kok nggih, sinden-e keceret.., dalange kelangan kecrek….ontoseno nyembah, wisanggeni aras-arasen malangkrik…bubrah…ha..ha…ha.

  19. Dursosono wegah lambeyan……….. gathutkoco ambles bumi, ontorejo ngambah jumantoro……….. hehehe… ini nek onthel pasti jenis restotasi total….. ah…wah… ternyata onthel telah bermetamorphosis kesegala bentuk nya yg ngedap edapi….kesudut sudut terjauh dari rasa humor sekelompok manusia yg bocor alus……. hehehe.. terus mas. wong…mas branjang….guyonannya menurunkan usia 10 thn lebih muda..saluuuut

  20. trocoh,bocor alus ban-e tubeless Denmas? Menawi mboten tubeless, kocrat-kacret..he..he..tambah kepoyoh mesti kembloh, ganti ban…swallow

  21. Ping-balik: Onthel, Melebarkan Dunia Tegur Sapa. « Onthel Melintas Zaman

  22. salam kenal. Wow kreasi restorasi pit lawas ciamik. Saya tertari juga merestorasi Juncker ku yg sudah tak layak. Mohon advisnya cara bikin baik itu Juncker! Si Juncker ada di Kebumen. Tks.

  23. wah.. ini paling dekat dengan rumah saya.. besok pas pulang saya akan segera membawa sepeda saya ke tempat mas margono…
    matur nuwun sanget atas infonya pak..

    • Mas Eko, sepedanya digowes dulu, pas mau balik Jakarta baru dibawa ke Mas Margono. Salam buat Mas Margono juga ya. 🙂

  24. hmm, tapi kalau dengan kondisi yang sekarang belum bisa untuk yang jauh2, takutnya kalau ada apa2 di jalan repot nuntun pulangnya pak😀
    sekarang biasanya dipakai bapak saya di rumah, buat ‘ngantor’, p-p biasanya cuma sekitar 20 km..

  25. salam bwt haryanto…..si orang aneh. hhhhhhhhh

    sang juragan hewan asli semampir

  26. salam buat mas haryanto…juragan hewan
    hhhhhhhhhhhh
    kpn dolan ngulon nang kulon kali…..tp sek tertib ben ra keno police
    hhhhhhhhhhh

  27. mas nyuwun alamate mas margono niki njih. atau kalo ada tempat pengecatan paling dekat dengan sewon bantul, makasih.

  28. Permisi mas2 semua, mau tanya no telp dan alamat lengkap mas Margono dimana ya, saya ingin kesana mereparasi dan mengecat sepeda onthel saya yg sudah mulai berkarat..

  29. Punten ada yang punya alamat dan atau telfon bengkel untuk nge-cat sepeda ontel dibandung, kalo ada bisa tolong email ke karinaarlistia@yahoo.com , makasih sebelumnya infonya dibutuhkan sekali🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s