Parade Onthel Satria: Bersenang-senang a la Bawor

perhelatan onthel sebagai ajang silaturahim

Di Potorono, kami mengenal beberapa istilah untuk aktivitas yang mirip, tetapi sejatinya berbeda orientasi atau takarannya. Misalnya, kami biasa membedakan antara ‘ngepit’ (bersepeda) dengan ‘pit-pitan’ (sepedaan). Yang pertama lebih sebagai proses untuk menuju sesuatu yang akan dilakukan, misalnya bersepeda ke tempat kerja, sementara yang kedua merupakan tujuan itu sendiri: ya bersepeda berkeliling itulah tujuannya. Baca lebih lanjut

Iklan

Bendungan Grembyangan dan Harmoni Lingkungan

berhenti setiap melihat tempat nan asri…

Minggu pagi yang cerah, saatnya kami berangkat ngonthel penuh gairah. Jika saja tidak melihat fisik kami sebagai manusia dewasa, barangkali agak sulit membedakan antara keceriaan kami saat ngonthel dengan kegembiraan kanak-kanak yang bersepeda menikmati hari libur mereka. Sama-sama spontan, sama-sama riang. Fantasi dan keinginan kami pun barangkali sama banyaknya dengan mereka. Bedanya dari kanak-kanak adalah, kami harus lebih bisa menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kami inginkan dapat kami lakukan atau kami dapatkan. Bukankah orang Jawa mengenal jurus ‘mulur-mungkret’. Kami akan mengulur cita-cita dan keinginan sepanjang memungkinkan, tetapi dengan realistis akan segera menariknya ketika membentur kenyataan yang tidak dapat ditolak. Begitulah yang kami lakukan sampai kami mendapatkan posisi paling ideal. Baca lebih lanjut

Gazelle 60 “Seri-1”: Tetap Bernilai di Usia Tua

berkilau di senjakala…

Apa yang terjadi ketika bintang pujaan yang dahulu begitu populer menjadi tua? Meskipun jawabnya tentu beragam, tetapi mungkin saja semua berangkat dari fakta yang seragam: terjadinya penurunan performa, fungsi, bahkan juga nilai. Benarkah menjadi tua berarti berakhirnya segala-galanya?

Pada beberapa bangsa, sikap terhadap warga senior mungkin juga berbeda-beda. Menjadi tua bisa berarti lamban dan harus menyingkir. Menjadi tua bisa juga berarti kaya akan pengalaman sehingga harus dihormati. Seorang teman yang menyelesaikan studi di Jepang sempat bercerita bahwa jika di Jogja orang menakar usia seseorang biasanya cukup dengan melihat penampilan fisik, di Jepang orang tidak sungkan menanyakan langsung usia yang bersangkutan. Informasi akan usia itu penting dalam adat mereka karena akan menentukan panggilan yang tepat bagi setiap orang, juga menentukan siapa yang akan dilayani lebih dulu. Usia seseorang ikut menentukan posisi sosial mereka. Baca lebih lanjut

Fenomena Kalibayem: Ketika Alam Meminta Haknya

Opoto di “telaga tiban” Kalibayem

Di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung. Dahulu, kita begitu mudah memahami dan menyetujui pepatah ini. Saat itu kita memiliki cukup kepekaan untuk menempatkan diri di tengah masyarakat. Disadari atau tidak, di zaman yang semakin mengedepankan hak daripada kewajiban ini, kepekaan mulai luntur. Perlahan kita mulai kurang menghargai keberadaan pihak lain sebagai subjek.

Kita mungkin masih suka berjabatan tangan, tetapi tidak lagi sambil memandang muka. Bahkan, kita jadi sering gegabah melegitimasi pendapat kita sendiri dengan dalih demi kebaikan dan kepentingan orang lain. Padahal, apa yang baik menurut kita belum tentu baik bagi orang lain. Maka hari ini kita menjadi terbiasa menyaksikan maksud-maksud baik saling berlaga di depan kita. Baca lebih lanjut

Serius Bermain di Dusun Pandes

berpose di Pojok Budaya Dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul

Di zaman yang cenderung mengukur segala pencapaian dengan kaca mata fisik seperti saat ini, hidup serasa terus dilecut oleh cambuk kompetisi tanpa henti. Semua memuja kecepatan, walau tanpa kedalaman. Segala sesuatu yang dinilai lamban akan diasumsikan “tidak produktif” dan harus disingkirkan. Prestasi hanya milik orang-orang yang “serius”, bukan untuk mereka yang masih gemar “bermain-main”. Baca lebih lanjut

Puasa, Ngonthel, dan Kegembiraan Hati

ngepos seusai taraweh

Logikanya, ngonthel merupakan aktivitas fisik. Tetapi, faktanya bisa lain jika yang ngonthel adalah para Opoters. Ketika kami ngonthel, sepanjang perjalanan tak jarang dipenuhi kelakar berkepanjangan. Ada yang menyanyi ‘ura-ura’ dengan lagu yang itu-itu saja (Caping Gunung!), ada pula yang rajin memberikan tanda lewat bel sepedanya jika ada pemandangan menarik yang terlalu sayang untuk dilewatkan, dan sebagainya. Ngonthel menjadi sebuah kegiatan rekreatif yang begitu menghibur. Baca lebih lanjut

Onthel Menyatukan Banyak Perbedaan: Ketika Jos Rietveld Ngonthel Bersama Opoto

bersama de oude fiets: impian menjadi kenyataan

Siang begitu cerah saat kami duduk-duduk lesehan di joglo Plaosan, salah satu persinggahan komunitas Opoto (Onthel Potorono). Dinding-dindingnya yang dibiarkan terbuka memberikan keleluasaan untuk memandangi keindahan bangunan Candi Plaosan dalam latar langit nan biru bersih. Angin sepoi asyik bermain di pepucuk tanaman jagung, mengayun-ayun perlahan dalam irama yang santun. Hembusannya yang panjang sesekali terasa hingga di tempat kami duduk, seolah menenangkan kegelisahan yang mendekam di hati kami. Baca lebih lanjut