Kebersamaan Ngonthel Semanis Gula Batu

Sebuah perubahan biasanya akan membuat risau para pemuja kemapanan. Padahal, wajah lain dari perubahan adalah sebuah peluang yang memaksa kita mempersiapkan nafas baru guna menghadapi tantangan kehidupan mendatang. Zaman yang telah berubah tak cukup disiasati dengan cara yang itu-itu saja. Hikmah untuk tak menyerah menghadapi perubahan itu kami temukan dalam kesempatan rutin Minggu pagi, 20 Maret 2011 lalu, saat komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel ke Sewon, Bantul.

kebersamaan semanis gula batu…

Sebenarnya, beberapa bulan terakhir ini acara ngonthel kami pun tak lagi seperti dulu. Saat ini, waktu dan tempat start serta target tujuan relatif harus lebih fleksibel demi menyiasati gerimis, bahkan hujan yang terus hadir sepanjang tahun. Kadang kami berangkat lebih siang menunggu langit terang, atau lebih pagi sebelum hujan turun lagi. Beberapa teman kadang tidak ikut berangkat dari pos Opoto, tetapi menunggu di sepanjang rute yang akan kami lalui. Sedangkan rutenya sendiri tak jarang kami putuskan sambil berjalan karena harus berkompromi melihat kawasan mana yang sekiranya tidak tertutup mendung tebal. Intinya satu: kami akan terus ngonthel!   

kayu bakar, tungku, dan tempat khusus untuk memanaskan gula

Meskipun Minggu pagi kali ini kembali diwarnai gerimis sehingga kami harus rela menunggunya hingga reda, tetapi setidaknya tak sampai mengubah tujuan yang telah kami rencanakan. Pagi itu, bertujuh kami ngonthel mengunjungi Pak Sukino (50 tahun), pembuat gula batu di kawasan Nggonalan, RT 01, Dukuh Ngasem, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Nama Pak Sukino di kawasan ini dikenal sebagai pembuat gula batu. Mengapa kami penasaran dengan gula batu? Ada beberapa alasan. Dalam setiap kunjungan kami ke warung di kawasan Imogiri, Bantul, dan Prambanan, teh panas yang disajikan kebanyakan menggunakan gula batu. Tentu ada alasan yang mendasari, dari yang sifatnya sepele hingga yang dipandang vital.

gula refinasi, ember cetakan sebelum dan sesudah diisi cairan gula

Begitulah. Ketika sampai di tempat tujuan, bukan hanya Pak Sukino yang terkejut karena sepagi itu kedatangan banyak tamu bersepeda onthel. Kami pun heran atas apa yang kami saksikan. Jika selama ini kami akrab mendengar pepatah “ada gula ada semut”, di sana kami melihat tumpukan gula sebanyak itu tanpa kehadiran seekor semut. Sebagai gantinya, kami banyak menemui tawon gula! Anehnya, para pekerja di sana tak merasa terganggu sedikit pun oleh tawon-tawon yang bahkan sempat menyengat salah seorang di antara kami.

titisan mandor gula…🙂

Beruntunglah, Pak Sukino tidak keberatan mempersilahkan kami melihat-lihat ke dapur pembuatan gula batu. Gula batu memang berbeda dengan gula pasir. Dilihat dari sisi kemudahan penyimpanannya, gula batu lebih praktis. Gula batu juga lebih aman dari semut. Bukankah lebih mudah mengusir semut dari gula batu dibanding dari gula pasir. Rasa gula batu pun lebih nikmat, lebih ‘adem’, dan lebih matching bagi teh tubruk. Apalagi pada teh poci. Tak seperti gula pasir yang langsung larut saat dicampur air teh panas, gula batu akan larut perlahan sehingga kita bisa terus menambah jog air teh panas dari poci ke cangkir kita berkali-kali dan tetap terasa manis.

gula dilepaskan dari cetakan, kegagalan produksi kadang terjadi (tengah)

Dari sisi penampilan, kristal gula batu yang putih-bening berkilat juga dipandang lebih mengundang selera. Konon pula, indeks glikemik gula batu lebih rendah dari gula pasir sehingga lebih aman bagi tubuh, dan lebih meringankan kerja pankreas saat mengubahnya menjadi gula darah dan energi. Gula batu juga paling direkomendasikan untuk diminum bersama ramuan jamu.

indah dan manisnya menarik para tawon; kanan: urutan kualitas gula batu

Dibagian belakang rumah, kami melihat tumpukan kayu bakar. Kayu inilah yang digunakan untuk memanaskan beberapa tungku raksasa hingga 200 derajat guna melarutkan gula refinasi bersama air. Larutan gula itu lalu dituang ke dalam ember-ember cetakan yang telah disiapkan, antara lain dengan diberi benang bersilang-silang yang berfungsi mengikat kristal-kristal gula batu sehingga tidak hancur ketika nantinya diangkat dari cetakan.

gula dipecah, ditimbang, dan dikemas untuk dijual ke pasar

Membekukan larutan gula hingga membentuk kristal gula batu ternyata membutuhkan waktu hingga 6-7 hari. Sisa larutan akan diolah lagi dan dibekukan dengan cara yang sama untuk menghasilkan gula batu dengan kualitas di bawahnya, demikian dilakukan berulang-ulang. Meskipun terlihat sederhana, sebagaimana orang membuat tempe, proses pembuatan gula batu tak hanya memerlukan tingkat konsentrasi tinggi, tetapi juga menuntut ‘kebersihan hati’ saat mengolahnya. Jika syarat itu tak dihiraukan, tak jarang terjadi kegagalan memperoleh hasil yang diharapkan. Adonan jadi tidak rata, hancur, dsb.

mejeng sebelum pamit

Gula batu kualitas terbaik adalah yang berwarna putih dengan kristal yang keras dan berkilat. Di bawahnya barulah yang berwarna kekuningan hingga kecoklatan. Gula batu produksi Pak Sukino selama ini mampu memasok permintaan pasar di kawasan Plered, Kotagede, Bantul, hingga Beringharjo. Pada beberapa tempat ia memasok langsung, sementara tidak sedikit pula para pedagang yang datang mengambil sendiri.

Pak Sukino berpengalaman puluhan tahun mengolah gula batu. Pengalaman mengalami PHK secara sepihak serta pernah juga ditipu orang tak membuatnya putus asa. Kehidupan ekonominya yang sempat kacau justru mengukuhkan niatnya untuk mandiri. Jika saja ia tak pernah mengalami perubahan yang menderanya saat itu, barangkali ia tak pernah benar-benar mengenyam manisnya berbisnis gula batu seperti dirasakannya sekarang ini.

kenikmatan acara ngonthel lahir-batin

Kunjungan kami di tempat Pak Sukino tak sampai berlama-lama, karena selain mencicip manisnya gula batu kami juga ingin segera menikmati gurihnya mangut di warung Bu Is. Setelah berfoto bersama, kami beriringan menuju perempatan Jetis, Bantul. Perjalanan yang jauh telah menjadikan perut kami semakin lapar, sebuah kondisi yang kemudian justru kami syukuri karena telah membuat sarapan kami semakin lezat dan nikmat…

jembatan rasa kita semua

Kenikmatan yang sama masih kami rasakan dalam kebersamaan perjalanan pulang. Kebiasaan ngonthel setiap Minggu pagi ini telah kami lakukan selama empat tahun. Sungguh bukan waktu yang pendek untuk terus menumbuhkan dan menyirami hal-hal ajaib di antara kami. Begitu banyak teman, banyak wawasan, serta hikmah dan pengalaman-pengalaman baru yang begitu manis, semanis gula batu murni yang manisnya terus menyertai sepanjang kehidupan kami….

192 responses to “Kebersamaan Ngonthel Semanis Gula Batu

  1. Totok Adiyarto

    Manisnya masih terasa hingga kini meski sdh 1,5 bln yll. Smg rasa sakit akibat disengat lebah yg dirasakan Mas Aat tdk terasa spe kini jg…he3x.. Nyuwun sewu lho Mas..mboten punopo tho njih, rak kita sesama titisan mandor gula (gelar kehormatan saking Adipati Potorono). Salam katur sederek Opoto sedanten..

  2. sahidnugroho

    Gula batu bagus untuk yang sedang batuk, tidak bikin tenggorokan gatal karena sudah tersaring sempurna…

  3. bagusmajenun

    Masih ada yg bisa dikunjungi mas sekitar sewon, Imogiri dan Pleret. antara lain pembuatan krecek di segoroyoso, batik imogiren, genting keripik Ndemi Imogiri. pasti mampir warung ngeteh gulo batu

    • wongeres OPOTO

      Kapan itu sudah mau ke industri krecek Mas, tapi ada yang khawatir kompolan Brooks-nya katut dibikin krecek! Batik Imogiri dan batik Bantul layak dikunjungi.

  4. maz..maz..onthelpotonoro, aku pengen banget bisa punya dan gabung sebagai pengonthel. namun kendala jarak saya yang berada dibatam, namun tak putus harapan saya ingin punya sepedanya dahulu, mohon informasinya untuk bisa mempunyai sepeda onthel. bagi ada yang bersedia membantu mohon informasinya ke 085668053579 sukma jati.

    • wongeres OPOTO

      Mas Sukma jati (wah, nama yang bagus). Atas nama persaudaraan onthelis, ayo ngonthel di mana saja berada. Berdua saja juga asik kok. Silahkan sepeda apa yang diinginkan. Kontak Opoto ada di halaman info.

      Salam hangat dari Potorono.

  5. Selamat jumpa kembali Dimas Totok Adiyarto, semoga kecanduan ngonthel bareng Sederek-Sederek Opoto biar cepat langsing kembali…he..he..he..

    • Totok Adiyarto

      Kasinggihan Pak Sahid ingkang kinurmatan…resep saking panjenengan utk tidak mkn telur telah sy jalani sejak ketemuan pas acr kongres dan pasar onthel di Vredeburg.. hasilnya luar biasa, turun 5 kg dan terus terkendali. Top Markotop! Injih Pak, ngonthel sdh menjd “candu” yg ngageni dan menyenangkan utk sy, apalagi bersama para sederek Opoto.. Pengin juga kapan2 ngonthel bareng Pak Sahid… Maturnuwun. Nuwun…

      • Alhamdulillah Dimas Totok, sumanggah sanes wekdal kita ngonthel sesarengan. Menawi sampun khasil sae sanget, amargi padharan lema menika sumber penyakit. Cobi dipun tambah ngunjuk peresan 3 jeruk nipis nalika enjing wungu sare kaliyan nalika ndalu badhe sare. Jeruk dipun peres polosan mbothen mawi toya, langsung diunjuk. Mboten wonten efek dateng maag, khasiatipun ngirangi lemak kaliyan detox. Mekaten. Nuwun. SN.

  6. @ wah sebuah “sweet touring” yg sungguh bisa menjadi”sweeteners” dalam kepenatan , saya selalu merasa beruntung krn bs terus mengikuti cerita indah jejak ban sederek Opoters yg selalu memikat, meskipun tentu tak seberuntung sederek Opoters ataupun Mas Totok yg selalu bisa pulang utk menikmati “keajaiban” ngonthel bareng .. dan pose di warung mangut sungguh bertaburan senyum gula batu..
    @mas Aat,jd ingin tau gimana rasanya di entup tawon wedok..bukankah tawon bisa memilih..piiss..hehehe
    @gula batu.. golu watu.. kalau di seputaran Tegal Brebes adalah pasangan wajib bagi para penyeruput teh poci.. tiada teh poci tanpa gula batu, tak akan lahir istilah “nasgitel “tanpa adanya gula batu.. semoga pak Sukino tetap akan selalu eksis..
    salam dari karawang

    • Totok Adiyarto

      wilujeng Pak Rendra….injih Pak, sdh menjadi “kewajiban” yg luar biasa nikmat utk berpartisipasi menikmati “keajaiban” ngonthel bareng..ada yg ” missing” alias belum lengkap rasanya klo tdk melakukan… Semoga bisa bertemu dlm episode rutin ngonthel mingguan Pak.. maturnuwun..

    • @pak Rendra, rasanya dientup keri-keri keju. soale jare yg ngentup itu kalo di dunia kita luna maya lah..

  7. Kalau Sapenan teman-teman saya, Es Teh Gula Batu : Tiwas setor berita akeh, jebule ora metu (alias tidak tayang).

  8. Gi Sepiningati

    @ Ditempatnya Pak Sukino pribahasa “ada gula ada semut” tak berlaku yaa Pak Wongeres, tapi sebaliknya “ada gula mas aat dientup tawon”….hehehee..

    @ kalau saya mengamati obrolan di angkringan Opoto, obrolannya Pak Rendra dapat dipastikan larinya ke dames (wedok)…hihihiiii. Yaa opo ngerti sing ngentup mas Aat kuwi tawon wedok opo lanang. Apa bapak asal Karawang ini punya ngelmu tentang perdamesan kali yaaaa, atau mungkin kebanyakan onthel heren…..Jadi, hehehee

    @ mas Bagusmajenun, kalau saya kebalikanya tuh, Es Teh Gula Batu : Ora iso-iso nyetor berita marake keno kencing batu…..heheheee

  9. Rangga Tohjaya - Defoc

    Mengikuti jejak langkah kerabat OPOTO terasa saya benar benar ikut ngonthel bersama panjenengan dan hati ini ikut menikmati manisnya gula batu buatan Pak Sukino, tetapi ndak ikutan lho kalo Mas Aat disengat lebah njih….kalau mau nyengat mestinya yo Mas Max saja …biar tambah Max…..ha ha ha
    @Mas Totok…benar lho resepnya Denmas Sahid…utk tambah sehat dan tambah stamina : jeruk peres tanpa dicampur air..terus langsung diminum…..bener kita akan tambah semangat dan …nggak ada “efek sampingnya”….tetapi masih ada “efek depannya” lho (????)….sungguh ini pengalaman pribadi saya…..jan bener Mas…..jamu kuat “degan campur gula batu” masih kalah khasiatnya……
    Salam buat sedoyo kerabat OPOTO ….dekat dihati..jauh dionthel…hi hi hi hi

    • wongeres OPOTO

      Pak Dhe Rangga, biar ngonthel bersama Opoto tetep dekat di mata dan dekat di hati, ada caranya. Semoga besok sempat saya e-mail. Nyuwun pangapunten nembe wira-wiri…🙂

    • Totok Adiyarto

      Benar sekali Pak Rangga,resep Pak Sahid sdh sy coba memasuki hari kedua…rasanya nyaman di pencernaan. Weeeh…”efek depan” baru akan sy coba bsk malam…he3x..
      @Pak Sahid: Wanci leres sanget panjenengan, rasanya enak dan tdk begah di perut stl minum peresan 3 jeruk nipis saat bangun pagi dan menjelang tidur malam. Maturnuwun sanget Pak utk resep yg joss ini…

  10. Mas Noer : Tuku Glali Neng Wonokromo, Manuk Emprit Buntute brondol
    “Tiwas bola-bali teka mrono, jebule Pit’e ora didol????

  11. Gi Sepiningati

    Ooohh jebule ngono yo Pak Wongeres, byuh byuh byuh…

    Rujak kweni enake dicampur cendol
    Tiwas ngenteni, lha blaik pite ra didol

    • wongeres OPOTO

      Tuku tela ning ngisor wuni
      butuh dhuwit ngedol mlinjone
      tiwas gela olehe ngenteni
      ora oleh pit nggondhol bojone!

      Hehehe… wajib diconto, jangan ditiru!

  12. Rangga Tohjaya - Defoc

    @ Gi Sepiningati….oh my lonely heart….
    Ra iso dikupas….jenenge ketewel
    Gawe kayu bakar….soko wit kersen
    Paling pas ….yen tuku onthel
    Nunggu sing sabar….nganti sing nduwe wis bosen

    ……Hayooooo sopo sing wis bosen ngrawat sepedane……mesti harganya juga ditanggung murahhhhhhhh

  13. Gi Sepiningati

    @ Pak Dhe Rongga, saya memahami petuah Pak Sahid Nugroho yaitu : Justru onthelis dengan tungganggan onthel tidak jelas mereknya itu adalah onthelis bukan sembarangan. Yakni onthelis yang sudah memahami benar functional value dari sebuah sepeda yakni sepeda yang pas di badan dan di hati, bukan sekedar terbius emotional value dari sebuah merek. Dan onthel yang langka semoga akan banyak yang muncul lagi untuk diselamatkan dan dilestarikan oleh tangan-tangan yang benar.

    • Rangga Tohjaya - Defoc

      Betul..betul..betul…….Pak Gi Sep……contohnya juga ada pada saya sendiri…dari sekian banyak merk sepeda yg saya punya….eh ternyata ada sepeda yg “tak bermerek”…merk yg nggak terkenal (nggak dianggep oleh onthelis yg merk mania) yg sangat..sangat nyaman untuk ditumpaki buat harian………masalahnya : pas dibadan dan pas dihati….dan ada lagi : punya sejarah , bhw sepeda tsb pernah saya pake utk transportasi waktu saya sekolah di SMP tahun 1965……….pokoke ada “rasa”tersendiri dalam menikmati naik sepeda tsb…makaten lho Pak Gi Sepiningati….semoga saja dg mengonthel Pak Gi nggak akan hatinya sepi………ngonthel to be happy……nuwun

  14. Wah…crita yg sangat menarik, ternyata gulo batu jg ada tingkatan kwalitasnya (walaupun dari bahan yg sama) tetapi tetap 1 rasa. Inget petuah pendahulu….apapun kondisi & merek spedamu…sing penting isoh “ngonthel lan guyub”.

  15. Rangga Tohjaya - Defoc

    @ Cak Suga
    isoh ngonthel….berarti masih ada kehidupan…ditambah : guyub…berarti bertambah kebahagiaan…..ini lho Cak Suga tujuan hidup semua yg namanya manusia……hidup bahagia di dunia…dan di akhirat nantinya…………….. sepeda juga bisa dimanfaatkan sebagai “sarana” untuk menuju ke arah “sana”……apalagi ditambah lagi dg “silaturahmi”……yg kata pak ustad silaturahmi juga merupakan ibadah yg sangat dianjurkan…………gitu apa yaaaaa? he he he he……ayo bersepeda…..ayo ngonthel……

    • @ Ki Rangga,
      lha nun injih…leres pangandikan nipun…..menopo malih dipun tambahi mas aat = tasih saget “ngentub”..he..he….
      kembang nongko jejer limo
      nadyan tuwo ning sih roso

  16. @Angkringers….baca reportase gula batu,jadi inget wkt masa kecil dulu,jaman masih “gembheng” (kalau skrg “gembheng-nya” krn pingin sadel Brooks belum kelakon !!)… mbah Kakung (blandhong) saya sering bikin degan bakar yang sebelumnya sudah dicemplungi gula batu,kemudian dibakar beberapa waktu…rasanya manis,gurih,dan katanya berkhasiat utk tubuh,bisa utk jaga stamina,joss utk para lelaki,apalagi sehabis ngonthel (mangga dicoba)..!! khasiat yg bisa langsung saya rasakan,sehabis nangis “ngguguk”,langsung “mak cep”,meneng nangise..!!!
    berkat degan+gula batu juga …
    + Kantor pos mas,ditanduri kimpul..
    + arepa bo**nge tepos,ngarepe dadi mbrenjul..
    salam gula batu….

    • wongeres OPOTO

      Mas Yonthit mengingatkan semasa jadi pandu alias pramuka. Belum ada magic jar, ngliwetnya dulu ya cari kelapa, cemplungin sejumput beras, dibakar. Hasilnya nasi putih hangat yang pulen, gurih, dan semangit. Hehe…

  17. Menyajikan Teh Nasgitel (Panas Legi Kentel) memang akan jauh lebih sempurna bila menggunakan gula batu dan tea set poci. Gula batu memberikan rasa manis yang menenangkan jiwa, sedangkan tea set poci menambahkan aroma tanah liat yang membangkitkan nuansa kearifan lokal. Apalagi diminum dalam jamuan lesehan di pendapa kuno atau kerindangan alam…

  18. Gi Sepiningati

    @ wahjan enak tenan itu nasgitelnya Pak Sahid…..

    @ Mas Yonthit :

    Mbah panjul pergi nonton lenong…
    Lah piye nek si mbrenjul suka main selonong….

    Gara-gara degan + batu kali yaaa mas…hehehehe

  19. Untuk ramuan teh yang populer di tlatah Jateng DIY, sedikit berbagi resep, kombinasi aroma wangi, rasa sepet, dan rasa manis yang ideal kadang-kadang tidak selalu cukup dari satu merek teh. Jurus andalan saya biasanya kombinasi teh catut, teh pendawa dan teh sarahita. Untuk kemudahan alternatif merek, biasanya kombinasi antara label teh berwarna hijau seperti misal Catut, Gopek dan Tongji yang cenderung sepet dan teh dengan label biru yang cenderung manis seperti misal Tang biru, Sosro biru. Ada satu merek teh yang rasanya sudah balanced antara sepet dan manis, karena memang edisi spesial yakni Teh Gopek Coklat. Sayang varian ini tidak beredar di Jogja, saya biasanya kulakan ke Pasar Gedhe Solo. Mekaten…sumanggah dipun cobi.

    • wongeres OPOTO

      Pak Sahid, masa kecil dulu keluarga saya juga minum teh Bandulan, di samping teh Gopek Teh Gopek ini biasanya saya temui di warung Padang. Aromanya khas, tapi kalau ditubruk kemrambyang karena terlalu lembut. Yang manisnya pas mungkin ya teh Desy, teh Mulan…🙂

      • Totok Adiyarto

        Klo teh Desy campur teh Mulan (meminjam ilmu mixing-nya Pak Sahid) pasti hasilnya kemrambyang-lembut-manis-puanaasss….he3x… mekaten tho njih Pak Noer… nyuwun sewu Pak Sahid…

  20. @pak Gi S…. klo suka nylonong,ujas-ujus,slenthik aja..!!

  21. Gi Sepiningati

    @ Pak Wongeres, hehehehe, lho nganti nekat ngono……Opo ra ngene wae :

    Jenang dodol rasa blimbing enak rasane.
    Timbang nggondol mending ngenteni randane.

    @ Mas Yonthit, lho kok dislentik! Jimat je, barang siji dirumat….hehehehe…

  22. di daerah cileungsi banyak teh di warung warung pingir jalan : teh ngopek ? mahal, ada teh 2 bandul ?
    maaf teman-teman semua lama tak muncul internet akhir akhir ini baru lemot jadi tak sabar u nunggunya. salam buat semuanya.

  23. Rangga Tohjaya - Defoc

    Wah …Mas Faj ada di Cileungsi njih…..menopo caket kalian dalemipun Pakde SBY ????

    • wongeres OPOTO

      Kebalik, PakDhe Rangga. Yang benar: rumah Pak SBY-lah yang dekat rumah Mas Faj. 😀

      @Mas Faj, lemot? Ya, latihan sabar. Biar kalau ngerayu pemilik onthel bisa sukses. Hehe…

  24. Setiap daerah memang memliki teh jagoan sendiri-sendiri. Di Jogja teh Catut dan teh Gopek cukup populer. Di Gunung Kidul, teh Pecut sangat dominan. Teh 999 sangat populer di Klaten. Di Solo, banyak orang suka teh Sapu dan teh Slintren. Yang jelas untuk Jateng DIY, orang sangat menggemari teh yang sepet. Rasa sepet menimbulkan sensasi rasa yang unik, sehingga minum teh tidak terasa datar saja seperti halnya minum sirup. Kandungan aroma bunga mlathi sangat digemari karena benar-benar menenangkan jiwa. Pikiran menjadi lebih relaks.

    • wongeres OPOTO

      Nah, barangsiapa didatangi penjual sepeda dan tertarik membelinya, sebaiknya dinego dulu sampai deal ke harga yang kita inginkan. Setelah itu, baru boleh dihidangkan teh nasgitel beraroma melati yang menenangkan jiwa. Soalnya, kalau dalam situasi negosiasi dia sudah dalam keadaan tenang, negonya akan alot! Hahaha… bercanda…😀

      Mas Bagus mungkin bisa cerita, bagaimana tantangan menjadi driver yang membawa muatan kuncup melati untuk disetor ke pabrik teh. Kalau jalanan macet sehingga jadwal kedatangan mundur, bisa-bisa kuncup melati terlanjur bermekaran sehingga tidak bisa dipakai sebagai campuran teh…

    • wah,wah pak Sahid Jagoan teh nanti kalau ada kesempatan tak gawakke teh cino.

  25. Wah kalau sudah ngobrol soal teh jadi tambah gayeng. Soalnya produk teh Slawi-Tegalan-Pekalongan dg aroma Melati jelas berbeda dengan teh buatan Pagilaran Samigaluh Kulonprogo, Tambi Wonosobo yg tanpa melati atau teh kulonan (Jawa Barat). Di Warung angkringan Kemin di sebelah monumen Pers Solo yg sekarang pindah di selatan Stasiun Purwosari tehnya benar-benar sedap sekali dg komposisi ramuan antara Teh Bandulan, Sepeda Balap dan Sapu. Kalau di Yogya yg suka nyampur angkringan Lek Man Tugu dan Slamet Tegalturi sebelah Jogja Fish Market. Benar-benar nikmat dan suedep.

  26. Wo iya, Nuwun sewu Pak Sahid kesupen, bilih panjenengan ugi wasis babagan nyampur teh. Menawi kulo cekap kopi Tjap Jempol buatan Kutoarjo yg harus beli setiap bulan sekali numpak sepoor prameks.

  27. Matur nuwun Pak Bagus atas info teh jagoan lainnya. Perpaduan antara rasa sepet dan rasa manis dalam dunia teh ibarat kombinasi antara nada treble dan nada bass dalam musik. Untuk kesempurnaan memang perlu teh ketiga yang memiliki rasa di tengah-tengah atau dalam musik tone medium yang biasanya diperuntukkan untuk suara vokal. Sosok teh ketiga ini berciri rasa tanggung, tidak manis dan juga tidak sepet. Kalau di Jogja, saya biasa menggunakan Teh Sarahita. Namun demikian, bagi yang penggemar teh yang tingkat advance, sosok ketiga tidak harus teh, tapi bisa diisi dengan rempah tertentu. Sumanggah dipun cobi…

  28. Oh ya ada yang kelupaan, di daerah Wates juga ada teh uenak cap Walang. Rasanya cukup eksotik dan bisa berfungsi untuk sosok teh ketiga…

    • wongeres OPOTO

      Pak Sahid, sosok ketiganya bukan Teh Desy kan? Hehe… Bagaimana kalau kayu manis? Apakah recommended?

  29. Gi Sepiningati

    Pertanyaanya Pak Wongeres, dan Pak Sahid kenapa yaa saat minum teh kita tidak seperti orang Jepang atau Cina, bahkan Inggris yang ada ritualnya karena bagi ketiga bangsa ini ritual minum teh merupakan perlambang aristokrasi budaya minum teh. Ritual ini juga bertujuan agar saat menyeduh teh harus hati-hati agar cita rasa dan aroma teh maksimal terasa. Cara minum tehnya pun berbeda. Sementera kita kalau bikin teh seperti biasa, rebus air lalu tuang tanpa perasaan ke teko teh jadi, simpel banget gitu lohhh…Jadi budaya minum teh itu sebenarnya bukan budaya kita yaaa kan….?

    • @ Gi Sepiningati,
      Sepertinya budaya minum teh bukan budaya kita kalau kita runut sejarahnya. Awal muasal teh di indo waktu ada kebijakan tanam paksa oleh Gubernur Hindia Belanda (Graaf Johannes van den Bosch) th 1830-1834, itu pun bibit diambil dari Cina & kemudian diganti dari Srilanka. Jadi ya seperti-nya budaya minum teh kemungkinan berasal dari Cina ….(inget film “Red Cliff” dimana penguasa …Perdana Menteri membabi buta memerangi daerah lain hanya karena memburu kecantikan & kepandaian/keahlian/cara penyajian seorang wanita “penyedu teh”

      • wongeres OPOTO

        Kisah asal mula tanaman teh pun ada dalam khasanah cerita rakyat Cina. Alkisah, ada seorang pertapa yang selalu diserang rasa kantuk saat menjalankan laku tapanya. Berbagai cara ia lakukan agar kelopak matanya tidak terpejam. Tetapi, semua cara itu nihil adanya: lewat tengah malam, selalu saja ia tertidur.

        Karena kuatnya motivasi serta ketidakberdayaan menghadapi kantuk, akhirnya pertapa itu nekat memotong kedua kelopak matanya dan membuangnya ke luar jendela kamar tempat ia bersemedi. Barulah ia sukses tanpa tertidur.

        Esok paginya, di bawah jendela tempat ia membuang kelopak mata, tumbuh tanaman dengan dua daun yang mirip kelopak mata. Konon, itulah penampakan tanaman teh pertama kali. Sejak saat itu, teh dipercaya dapat mengusir rasa kantuk. Nah, adik-adik, dongeng tamat sampai di sini! 🙂

  30. Sugeng pepanggihan malih poro sederek “Angkringers” lan salam kagem sedoyo kemawon, Kebetulan saya juga peggemar nge-TEH dan KOPI (terutama kopi Bali cap kupu2 Bola Dunia ,rasanya… pas dan mantab).
    saya juga penikmat Teh jadi Resep serta infonya dari pak Sahid dan mas Bagus jelas akan saya coba, apalagi dengan Gula Batu pasti tambah mak nyuuosss, matursuwun.

  31. @ Gi Sepiningati
    Orang Inggris memang unik, ritual minum teh harus jam 4 tepat he..he..
    Teh Inggris yang paling saya suka Earl Grey. Teh ini berasa agak semriwing dan uenak sekali kalau diminum di daerah dingin. Kalau diminum di daerah tropis, kehebatannya tidak terlalu terasa.

    Teh Jepang juga antik, mereka menggunakan teh hitam kemudian pada saat seduhan pertama dicampur dengan beras ketan yang sudah di-gangsa (goreng tanpa minyak) sebelumnya.

    Di daerah Kaliurang, juga ada resep menambahkan rempah kapulaga pada teh, sehingga rasa teh menjadi lebih kuat dan nikmat dengan aroma rempah yang menggoda.
    Sumanggah dicoba…

  32. @ Kang Wongeres

    Teh dicampur kayu manis adalah karakter teh orang India yang dikenal dengan nama Teh Kahwa. Teh ini rasanya uenak tenan…dan berkhasiat mengaktifkan kelenjar produksi insulin sehingga selain menjadi tonik terbaik setelah ginseng (insulin merubah gula menjadi energi), juga jamu nikmat pencegah diabetes. Teh Kahwa bisa dicoba di Resto Colonials depan APMD Timoho yang spesialis masakan India.

    Teh India yang tidak kalah terkenal dan uenak adalah Teh Masala. Teh ini dicampur susu dan rempah spicy sehingga rasanya mirip-mirip bandrek. Meminum teh ini badan akan terasa hangat dan nyaman.

    Sumanggah dicoba…

  33. Gi Sepiningati

    @ Pak Suga

    Wah pak Suga, ternyata geisha (wanita penghibur jepang) selain harus pandai menyanyi, memainkan alat musik dawai dan genderang, memijat, dan mengurut, ia harus juga mengerti tata cara (ritual) menuang teh untuk kesenangan tamunya……

    Ya benar pak Suga, ada dua kategori tanam paksa menurut Clifrot Geert (sejarawan belanda ), dalam bukunya Involusi Pertanian. Pertama, tanaman tahunan (tebu, tembakau, nila), dan tanaman keras (salah satunya teh). Sistem tanam paksa inilah yang mengakibatkan pertanian -pertanian di Indonesia banyak dikuasai pihak swasta hingga kini…..Pun sistem itu berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya.

    @ Kagem Pakde Rangga dan Pak Rendra

    Sebenarnya di tlatah Banyumasan, salah satunya di kabupaten Purbalingga yaitu di desa Cipawon, Karang Cengis , Karang Gedang, Kutawis (semuanya ada di kecamatan Bukateja), penduduknya menanam kembang menur (melati menur) yang kemudian di kirim ke Tegal, Slawi, Batang, Pekalongan dan daerah lainnya untuk dijadikan bahan campuran teh, sehingga teh jadi lebih wangi dan suedep. Apalagi ditemani tempe mendoan wahhh tambah nikmat terlebih merek tehnya tjap Djumput, mekaten kan Pakde Rangga…

    “mangkane kye wong banyumasan kudu ngerti , aja kur angger nginumi wedang teh thok” , heheheee

    @ Pak Sahid

    Lho gimana dengan teh hijau, kok tak ada informasinya….

  34. wongeres OPOTO

    Konon, teh juga akrab dengan para “pembesar.” Wahai, adakah yang bisa memberikan testimoni?😀

  35. @para Winasis…kalo belum pernah mencoba yg ini,barangkali bisa dicoba…
    disekitaran pasar (sebelum makam) Imogiri ada warung wedangan (teh) yg enak,laris,jadi jujugan…penjualnya simbah putri,ketelah-e ” mbak Wik”…lucunya,kalo tiap kali jualan banyak yg antri (laris),kita harus siap mental..!! masalahnya, beliaunya malah pembawaannya jadi emosi-nan waktu melayani pelanggan,gelas-gelas “dibantingi”..!! bagi yg belum terbiasa,dijamin akan shock..adalagi,sebelum ditawani (harus nunggu ditawani),”ngersakke ngunjuk napa mas?”,jangan sekali-sekali nembung…teman saya dulu pernah di “pendhel”,dan adat saben-e memang kayak gitu…!!
    ato bisa dicoba juga wedang cengkehnya (ada byk disekitaran makam),rasanya eksotik….
    salam…

  36. Saya sudah pernah ngrasakne warung tersebut. Jadi ingat warung soto Mbok Galak utara selokan mataram di karanggayam. he he he. Layak dicoba teman-teman

  37. @ Gus Wong….
    Menyambung crita, sebenarnya waktu si Pertapa membuang 2 kelopak matanya itu (…..katutan “lodok/rembes/kotoran di ujung mata”), sehingga waktu esok paginya ada 1 daun kecil (yg tdk bisa tumbuh besar spt daun lainnya) yg berada di bawah 2 daun yg mirip dgn kelopak mata tersebut yg sekarang disebut “kepel”, nah….dari situ bisa diambil hikmahnya bahwa kepel adlh penanda utk para pemetik teh : kalau petikan hanya pucuk saja plus kepel berarti itu untuk “teh hijau”, sedang jika memetik pucuk, kepel & daun ke 1 atau ke 2 dibawah kepel biasanya untuk “teh hitam”. Nyuwun ngapunten menawi klentu….sumonggo.

  38. @ sugeng penanggihan sederek tehters..gayeng banget dan banyak info teh yg nylekamin baik yg “ori” maupun yg “mixing”, urun info sejak dua puluh tahun silam saya kecanduah teh hitam dan hijau cap petruk keluaran Tambi, saat dibuat seduhan tubruk dengan gula batu ( ampas jangan dibuang) dan sepotong jahe bakar yg dicelupkan setelah dikeprek..dhuh rasa seger,sepet,manis dan anget jahe terasa sangat “jujur” dilidah..nylekamiin sekali..
    sedangkan utk keperluan pendongkrak stamina saat menjelang ngonthel di minggu pagi sy lebih merasa gathuk dengan secangkir kenthal teh tarik keluaran Pakanbaru.. setelah nyruput terasa sekali semburan tenaga yg muncul laksana Ariel red hunter 500 cc nya mas Suga..hehehe.. monggo sugeng mencoba..
    @ mas Gi sepining ati yg ternyata juga menguasai ngelmu teh disamping ngelmu real estate.. memang bener mengenai melati Karang gedang yg jadi campuran teh Poci dll, kebetulan thn 87 sy punya klien pesantren Karang Gedang yg hampir seluruh kebutuhan pengelolaan pesantrennya ditopang dgn bertani melati teh… jd alhamd sedikit banyak sy pernah tahu ,dahulu pernah ada teh produk rumahan cap Bawor ygp pahit dan hitam, bahkan sewktu kecil pernah mencicipi terasa memabukkan..sayang teh tsb hanya beredar di tlatah mbanyumas sampai akhir 70an kemudian bangkrut atau ganti merk.( sayang tdk terlacak lagi)..
    @ mas aat.. sy masih inget reply nggilani mas wong tentang peresan kaos..jaman pramuka dulu ada temen yg semaput ditetesi peresan kaos kakak pembina kok njur siuman yo..hehehe..
    @denmas Sahid.. ternyata teh pecut yg digemari sederek Gunung kidul malah made in Pekalongan..dan di pekalongan tdk laku.. pertanyaanya apakah produsen teh sengaja “mendidik” org2 diwilayah tertentu utk kecanduan teh dengan merk tertentu njih.. apakah ini strategi pasar atau memang tumbuh secara alamiah tanpa didesain oleh para produsen teh?.. bahkan konon hal seperti ini berlaku utk sepeda onthel.ada daerah2 tertentu yg fanatik dengan onthel merk tertentu.. piye to ki..hehehe

  39. @ Rama Rendra
    Itulah rahmat keanekaragaman kebutuhan dan keinginan yang menjadi takdir manusia di bumi ini. Variasi dua hal tersebut kemudian membentuk variasi pilihan merek. Sepeda Inggrisan biasanya populer untuk wilayah dengan medan jalan naik-turun sedangkan sepeda Belanda lebih disukai untuk daaerah bermedan datar. Kondisi topografi negara asal biasanya mendukung terciptanya keunggulan teknologi yang sesuai.
    Teh dan sepeda onthel barangkali mewakili suatu artefak budaya yang bakal langgeng sepanjang masa, karena karakter kesederhanaan dan cukup menghibur. Kalau di Jogja, rata-rata onthelis biasanya juga pencinta teh, sama-sama antik dan asyik.
    Hal yang juga mempengaruhi citarasa teh adalah alat penyajian. Bahan porselen adalah yang terbaik, kedua tembikar/poci, ketiga gelas dan yang paling buruk sekaligus merusak rasa adalah plastik.

  40. Saya kebetulan kenal baik dgn salah satu owner di keluarga besar Teh Bandulan yg juga gila dg sepeda tertutama MTB dan Down Hill.

    Kata Koh Han namanya, memang tehBandulan tdk dikenal di wilayah Pekalongan, Pemalang n Tegal. Tapi lebih terkenal di Jawa Timur wil Mataraman spt Blitar, Pacitan, Madiun, Ngawi, Trenggalek dsk. Itu memang mrp salah satu pembagian wilayah yg tak tertulis sejak dulu yg dilakukan para pemilik/pengusaha.

    Pedagang angkringan dulu awalnya th 90-an banyak yg pakai teh tjap sepeda balap tapi sekarang kebanyakanya nyampur antara teh tang, potji, pendowo lima dan gardu.

    Di Yogya dulu ada pabrik teh merk Teh Mantjing (TM) pabriknya di dekat simpang empat pingit milik keluarga besar Tirtowinoto (Gembiraloka) dan teh botol 999 di Jl KH Ahmad Dahlan. Bahan baku teh diambil dari wilayah Menoreh (Pagilaran) sayangnya sekarang udah tutup dan bangkrut kalah bersaing dengan teh Tang. Tjatoet, Pendowo Lima, Sarawita, Gopek dll.

  41. Gi Sepiningati

    Benar sekali Pak Rendra, tlatah banyumasan dan sekitarnya seperti tegal, slawi, brebes, dan bumi ayu banyak ditemui sentra-sentra penghasil teh, termasuk pengrajin teko tanah liat (poci). Sebenarnya merek-merek teh yang beredar di tlatah banyumas banyak ragamnya dan sudah ada yang tak beredar lagi seperti teh Cap Bawor, Tjap Palang, dan yang sedang nunggu hilang adalah Tjap Djumput (banyak disukai orang-orang tua, katanya sih rasa teh Djumput lebih menggigit).

    Soal selera rasa teh tiap orang berbeda. Wilayah sini fanatik dengan teh itu, daerah sana suka teh yang ini. Jadi dugaan saya ini soal strategi pemasaran dan kemampuan daya beli warganya. Alhasil, karena pertama kali orang di wilayah itu kenalnya hanya teh yang itu itu saja maka lama kelamaan jadi terbiasa dan fanatik dengan teh itu. Mungkin ini juga berlaku dengan pit onthel.

    Pak Sahid, memang benar bila sepeda Inggrisan lebih akrab untuk wilayah dengan medan jalan naik-turun sedangkan sepeda Belanda lebih disukai untuk kawasan datar. Kondisi topografi negara asal biasanya mendukung terciptanya keunggulan teknologi yang sesuai ( saya sependapat bila ini diterapkan di negara asal sepeda). Namun apakah hal itu berlaku di negara kita. Di kampung saya masih banyak ditemui pit onthel raleigh (biasanya orang-orang tua sana bilang sepeda Inggrisan/England). Kata orang desa saya, sepeda Inggrisan ini harganya lebih terjangkau, dan lebih enak (enteng) digunakan di jalan-jalan yang datar-datar yang banyak sawah dan tebunya, jarang ditemui tanjakan. Sementara hanya orang-orang tertentu yang punya Gazelle,fongers tipe tertentu semisal BB, CCG, dan Simplex (yang empunya kebanyakan orang kaya yang memang udah kaya dari dulu di kampungnya). Dugaan saya, hal ini juga terjadi di daerah lain, seperti Klaten yang jalannya datar dan banyak sawahnya, mungkin lebih akrab dengan raleigh. Kawasan Bantul mungkin Batavus. Saya juga tanya orang- orang tua di Kampung Rambutan (Jakarta Timur), katanya di kawasan Kampung Rambutan, Lubang Buaya (Halim), dulu banyak bersliweran onthel Simplex, padahal kawasan ini topografi jalannya ada yang datar dan ada yang naik turun.

    Lalu bagaimana di kawasan perkotaan, mungkin dulu onthel yang bersliweran di jalan lebih banyak ragamnya seperti Gazelle, Fongers, Simplex, Raleigh, Humber, dan lainya. Juga tak ketinggalan Phoenix RRT pada dekade 1960-an, hehehee. (mungkin Pakde Rangga bisa menjelaskan berdasar pengalamannya karena tahun 60-an sudah ngonthel, hehehe….)

    Jadi dugaan saya, hal ini lebih terkait dengan strategi pemasaran produsen, selera pembeli, gengsi dan kemampuan daya beli masyarakat saat itu. Salam…..

    • wongeres OPOTO

      Dalam sejarahnya, sepeda Raleigh komplit dengan presnelingnya merupakan salah satu sepeda mahal, populer, dan bergengsi. Oleh karena itu, di tingkat lokal pun banyak dibuat tiruan modelnya. Begitu juga Gazelle. Demikianlah hukumnya. Jika ada produk yang digemari secara luas tetapi mahal, maka akan segera keluar kw1, kw2, dst. Perbandingan harga setiap merek bisa jadi akan terkoreksi ketika statusnya sudah menjadi bekas-pakai, terlebih setelah produk barunya tidak lagi masuk ke pasaran Indonesia. Harga akan lebih bersifat kasuistik, misalnya berkait dengan selera lokal, ketersediaan/populasi barang, dsb.

      Lebih jauh, selain harga, minat terhadap suatu merek di masa lalu sepertinya juga dipengaruhi oleh berbagai aspek menyangkut profesi, topografi, identifikasi diri, termasuk di kelas sosial mana seseorang menempatkan diri, dsb. Saat ini, aspek kelangkaan sepertinya lebih menjadi prioritas, dan hal ini akan terus bergeser. Misalnya setelah Gazelle, Fongers, Simplex, Sunbeam, Burgers semakin sulit dicari, onthelis lalu berbondong-bondong memburu Humber-Raleigh-Rudge sehingga populasi produk Raleigh industry dalam kondisi komplit/ori tsb pun segera menyusut. Oleh kondisi ini, harga Humber-Raleigh-Rudge dewasa ini kembali terkoreksi.

  42. Itulah yang selalu membuat kangen bagi yang masih ” Jawani ” barang sehari – hari bisa menjadikan sesuatu yang menyenangkan. Senang bukan semata terhadap hasil tetapi terhadap proses yg sedang dlakukan. itulah yg sedang saya pelajari dari onthel, setiap saat dapat menikmati apa yang ada disekitarnya. salam kagem rencang-rencang sedoyo.

    • wongeres OPOTO

      Mas Faj, memang ada yang kontras ya. Jaman dahulu, dalam menggapai sesuatu, proses selalu mendapat penekanan. Artinya, merupakan bagian yang inheren dengan hasilnya. Meskipun demikian, cara mencapai tujuan di dalam proses tersebut terasa sangat longgar dan memberi ruang bagi kreativitas setiap pribadi. Maka, guru yang dianggap sukses adalah yang mampu melepaskan muridnya dari bayang-bayang gurunya. Hasilnya adalah pribadi-pribadi yang mandiri, kreatif, dan otentik.

      Nah sekarang, ketika kita jadi lebih berorientasi kepada hasil, kok ‘cara’ mencapainya pun cenderung sudah dibakukan secara ketat dan seragam? Orang bicara mulai main mutlak-mutlakan, seolah tak ada kebenaran lain selain yang diyakininya. Dan hasilnya?

  43. Salahsatu kelebihan naik sepeda onthel adalah kita menjadi berkesempatan mengamati lingkungan sekitar dengan lebih detil. Tampaknya hal ini berdampak juga pada karakter onthelis yang menjadi lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Kang Wongeres dan Opoto sudah membuktikan fenomena tersebut melalui liputan-liputan hal-hal sederhana namun memberi pencerahan mengenai potret riil kehidupan orang Indonesia.

    • wongeres OPOTO

      Meskipun ada beberapa “ekses” yang tidak ditulis dalam liputan, misalnya saat para Opoters jadi lebih detil melihat kecantikan gadis-gadis di sepanjang kampung yang kami lewati. Saat seperti itu akan ditandai dengan suara bel yang saling bersahutan. Nggak tahu kalau ada Pak Sahid, apakah masih pada berani merespon keindahan dengan cara seperti ini 😀

      • ah hahaha!
        betul sekali. yang biasanya paling riuh bel nya adalah pak Tjip. dan itu sudah jadi pattern, kalau ada yg cakep, saya selalu nunggu belnya pak Tjip di belakang.
        memang cewek terlihat cakep itu kalo pas bangun tidur, dasteran, nyaponi latar. sukur2 rodo mbungkuk..

      • wongeres OPOTO

        Lha kalau sudah ‘rodo mbungkuk’ itu biasanya bukannya sudah sepuh Mas…?🙂

      • btul. tur kakung.

  44. bagus kurniawan

    Wah kok sing dinggo gacuk kok Pak Tjip? bukannya Mas Aat? Untungnya kalau pas karyawati pabrik Komitrando di Banguntapan, rombongan Opoto lewatnya terlalu pagi. Jadi tidak ketemu. Kalau pengin lebih detil bisa lihat di sendang Kotagede ngajak Pak Tjip dijawab tidak kesasar. ha ha ha

    • Rangga Tohjaya - Defoc

      wah….Pak Tjip punya bel khusus nih…..bel yg peka dan dan peduli terhadap lingkungan sekitar……untung saja lingkungan sekitarnya bukan di Gembira Loka yg banyak “sesuatu yg indah, tetapi…jorok”…………kapan Pak Tjip lewat depan rumahku yo…..saya juga nunggu belnya Pak Tjip lho………..

  45. Rangga Tohjaya - Defoc

    Sebagian manusia yg mempunyai “sence of art” tinggi spt Denmas Sahid, juga termasuk panjenengan Pakde Wongeres pasti akan sangat menyukai barang barang yg indah…koyodene “onthel” yg kata orang sangat indah dan..cuantik..itu kalau benar benar dicermati …..begitu pula tentang “kecantikan gadis gadis kampung” jan bukankah itu juga indah , prasojo dan cantik? Denmas Sahid juga dalam liputan “sepeda dan seorang gadis” selalu memilih gadis kampung nan cantik (ada fotonya lho..). Yg jadi masalah kita bukan berani dan tidak berani mencermati dg cara spt yg Pakde katakan……yg jadi masalah yo “masih rodo rikuh” gitu lho.
    Suatu saat saya dapat kiriman liputan sekitar “perjalanan onthel”, betapa saya sangat senang dan berbangga hati bisa menikmati “keindahan” tayangan orang bersepeda…..wah jan tenan nggak bisa dibayar dg materi (uang) sebesar apapun….sungguh ini suatu kebahagiaan saat menikmati keindahan …..keindahan onthel dalam kehidupan kami……nuwun

    • wongeres OPOTO

      Semoga berkenan, Pak Dhe Heri. Buat cerita di tengah keluarga…🙂

    • @ Rama Rangga Tohjaya
      Wanita memang makhluk terindah yang pernah diciptakan Tuhan. Saya masih ingin melanjutkan galeri “Woman on Bicycle” pada episode berikutnya. Masih mencari lokasi pemotretan yang berbeda dari episode sebelumnya. Rencananya akan meluncurkan kembali karya kalender meja untuk tahun 2012. Nuwun. SN.

  46. pa kbr pak nur? nmr hpnya njenengan apa ganti? suwun

    • wongeres OPOTO

      Waaa… pucuk dicinta ulam tiba. Kabar baik, Mas Billy. Nomor Hp sih belum ganti, tapi batere hp-nya mulai ngedrop, banyak komplain juga. Hehe… Tolong kirim alamat emailnya lagi ya Mas…😦

  47. humbermania defoc 0905

    @ mas wongeres : tur suwun lip-sus ‘gulo batu’nya,ternyata tidak semudah menikmati diatas cangkir teh nasgithel.Disini agak sedikit susah untuk mendapatkannya.Sehat2 tho mas,salam katur rencang2 opoto

    • wongeres OPOTO

      Mas Hari, alhamdulillah semua sehat. Walah, kan masih wira-wiri ke Jogja juga, kan? mundhut saja sekarung untuk jatah sebulan. Hehe… Kapan Ke Jogja lagi Mas? Mas Anto lagi mudik tuh. Semoga masih ada oleh-oleh dari Jepun🙂

      • humbermania defoc 0905

        alhamdulilah juga mas noor,glukosa agak direm mas,kecepatan 20-30 km saja,tiap sorepun tehnya teh tawar,ya kalau ketemu teh yang ‘mathuk’,semisal 999 atau teh sintren ( p sahid yang priyantun solo pasti hapal teh ini) mau ndak mau ya dicelupkan gula batu,sesekali saja,karena hidup hanya sekali mas.Mahat san,akhir mei ini sepertinya balik ke jepun lagi,pulang ke potorono karena kangen ‘kerokan’,he3

      • wongeres OPOTO

        Wah, kalau begitu bagus juga kembali ke kebiasaan jaman Kyai Gringsing dan Agung Sedayu: minumnya air putih panas dengan gula merah (gula Jawa). Di Imogiri juga banyak gula jahe, yaitu gula kelapa yang sudah dicampur jahe. Indeks glikemik gula merah jauuuh sekali di bawah gula pasir, bahkan masih di bawah gula batu. Aman dan kalau sudah biasa nikmat juga. Silahkan dicoba. Mahat San sampai nggak berani keluar rumah, mungkin karena di tubuhnya tidak tersisa lagi space yang belum dikerokin. Hehe…

  48. @m.Aat…siapa mas yg bangun tidur aja,kelihatan cantik ?? Saya punya resep buat m.Aat…kalau pengin “mbiji” kenya cantik alami/kosmetis,amati dia selagi bangun tidur mas,selagi segala sesuatunya belum “kambon” apa-apa….mangsudnya,kalau bangun tidur aja (belum tersentuh Viva) kok terlihat cantik & wangi,dijamin si dia “sekelas” Brook’s sampeyan…wanita itu,sedikit “memper” dgn sepeda to mas,bisa dibuktikan…hehe,makanya,pas ketika ngikut ngonthel Opoto,rutenya kok ya ora adoh-adoh saka pinggir kali..!!

    • wongeres OPOTO

      Wah, kalau saya simpulkan, Mas Yon ini pengikut aliran negatif alias seneng pait-e. Kalau menilai seseorang, lihat saja bagaimana kondisi terburuk yang mungkin terjadi padanya: marah, nangis, males, sakit, sedih, bangun tidur, dsb. Kalau dalam kondisi ‘negatif’ saja kita masih bisa menerimanya, berarti masih di bawah ambang batas aman.

      Sebaliknya, pengikut aliran positif alias seneng manise hanya mau melihat kalau seseorang itu berdandan, pakai bedak viva no. 5 sing mangar-mangar kae, secantik apa. Kalau potensi kecantikannya dalam situasi ideal sudah membuat dia mabuk, ya sudah, oke saja. Hehe…

      Berbeda dengan saya, kalau soal onthel, Pak Sahid mungkin akan lebih mempertimbangkan penampilan kalau dikembalikan ke kondisi paling ideal, mulai dari cat hingga sparepart dan aksesorisnya. Itu karena beliau selalu bisa nyembadani kebutuhan sepedanya.🙂

      Mas Yon, ayo Minggu pagi ini ngonthel bareng. Ada sesuatu yang mau saya sampaikan. Lagian kasian sepeda Simplexnya kalau nggak pernah dititihi to…

    • berarti, harus nongkrongin di kamarnya ya, buat menilai. okelah kalau begitu..

  49. Berbicara hubungan antara wanita dan sepeda onthel. Barangkali menarik kalau mau membandingkan kecantikan sepeda dames yng populer di Indonesia yani merek-merek Fongers, Gazelle, Simplex, Burgers dan Batavus. Ketika kita menggunakan perspektif karakter istri-istri kinasih Arjuna sebagai role model. Simplex Dames dan Batavus Dames terkesan mirip tokoh Dewi Srikandi yang kuat dan kokoh. Fongers Dames sangat dekat dengan perumpamaan tokoh Dewi Supraba yang jelita dan artistokrat. Sedangkan Gazelle Dames dan Burgers Dames sangat lekat dengan citra Dewi Sembadra yang cantik dan molek. Mekaten…kados pundi?

  50. @ sugeng ndalu prokonco.. saat petang hari masuk kerumah setelah betarung dengan kemacetan Jkt yg melelahkanjtiba2 kepenatan itu sontak hilang krn di meja sy melihat sebuah paket hadiah dari sahabat jauh yg isinya sangat memikat dan indah, komplit plit pelogslendro semuanya indah dan tentu saja akan sangat bermanfaat bagi siapapun yg ingin ‘MENGEXPLORE” Jogja, tdk ada kata lain selain ucapan matur nuwun sebesar besarnya katur sahabat saya tsb..
    @ mas Yonthit.. konon kalau kepengin niteni kecantikan fisik seorg wanita itu hrs disawang saat ybs lagi ” ngeden”, krn ngeden adalah sebuah ekspresi wajah yg betul2 optimal utk memunculkan sisi ketidak indahannya seorng wanita…nah kalau saat ngeden saja msh nampak gandhes luwes maka bisa dibayangkan saat sdh dipoles Viva no.5……( sayang sewaktu ngonthel bareng ke Prambanan sy tdk berani clingak clinguk kepinggiran kali .. alim.com…
    @den Mas Sahid..kalau Arjunanya sendiriapa bs diumpamakan Sepeda Gazelle yg dipasangi bellnya pak Tjip…hehehee..

    • tentang ngeden, wa ini.. soyo angel mbiji. teknisnya gimana ya..
      tentang Arjuna, bell nya Pak Tjip adalah Pasopati

      • wongeres OPOTO

        Kata Mbak Evie Tamala, yang jelas teknisnya nggak seperti beli durian: dicium, dicicip, lalu dibawa…🙂

        Pak Rendra, itu liputan Opoto versi yang lebih kooperatif dengan media. Haha… Boleh saya bagi untuk Pak Sahid ya, sebagai kenang-kenangan.

  51. @ Rama Rendra
    Ketika memilih sosok sepeda bercitra Arjuna, di benak saya hanya ada 2 imajinasi yang cukup kuat yakni Fongers BB dan Gazelle Seri 11. Keduanya berpenampilan kalem namun punya kesaktian mandraguna dan daya pikat luarbiasa sebagaimana seorang Arjuna…

    • wongeres OPOTO

      Wah, kali ini sepertinya ada yang cemburu. Sosok lelananging jagad dalam konsep Jawa ternyata tidak diwakili oleh figur tinggi besar berbahu bidang berjambang lebat bak Werkudoro saja, tetapi bahkan berbadan ramping, berkulit bersih, bersuara lembut dengan tatapan yang selalu menunduk (cuma tangannya yang terampil bekerja!) bak Arjuna.

      Nah, siapa tahu sosok seperti itu oleh para Humbermania dipandang lebih dekat dengan sepeda Inggrisan yang sejak dari tube depan, stang, pipa frame, bentuk spatbor, hingga stoplamp belakang terkesan agak feminin! Hehe…

      Mengikuti analoginya Pak Sahid, saya jadi tertarik mengamati sepeda-sepeda sambil membayangkan sosok wayang yang mewakilinya. Gazelle X-frame no.8 (‘seri-10’) yang ramping dan hitam legam itu laksana Kresna yang halus, tapi tetap tegas berwibawa. Kalau Simplex atau Teha heeren ukuran 55 itu mungkin Setyaki. Hehe…

  52. Mas Aat dan Pak Rendra, soal ngeden jadi ingat waktu kecil saat tinggal di Wonosobo. Setiap pagi harus duduk di pinggir Kolam Ikan untuk ngeden bareng-bareng di bilik Plung Lap. Saat ngeden harus tetap waspada mengengok ke bawah krn gurameh dan tawes siap meloncat ngambil jatah. Kadang sering kena kecupan mulut ikan. Ikannya tidak milih-milih.

    Mas Noer kapan ini ngonthel bareng?

    • wongeres OPOTO

      SENSOR!! Hahaha…
      Konon, hanya dengan melihat perilaku ikan di bawahnya, kita bisa memastikan apakah yang sedang asyik di bilik pinggir empang itu dames atau heeren. Kalau dames, habis plung ikannya langsung bubar. Tapi kalau heeren, ikannya masih pada nunggu karena sepertinya ada yang belum jatuh. 😀 😀

      Mas Bagus, lha monggo ada ide ngonthel ke mana? Ada Mas Yon tuh. Mas Aat nggak ada acara jalan sehat, kan? Mas Tono aja yang kebetulan ada acara.

  53. @m.Noor…hehe,lha njih to mas,bukankah lebih baik cari sisi pait-e dulu,manis belakangan (ibarat kata kalau ngrembuki onthel “rame ning ngarep”,daripada “rame ning mburi”)….yg cantik secara visual,seringkali malah”menipu” to mas???…hehe,jd inget Yati Pesek waktu jadi model video klip (nyuwun sewu b.Yati)…ada seorang gadis sedang berjalan,tampak dari belakang bodinya “plek” Aura Kasih,bikin “kemecer” kaum Heren…lha giliran “front view”,GANDRIKKKKK..!!!
    InsyaAllah m.Noor,saya usahakan utk sowan Minggu pagi,saya tak caos kabar dulu…
    @p.Rend….hehe,lha kalau gitu,harus sering lewat pinggir kali Code,Prawipodirjan,Gondomanan pak….kalau malam hari,”therek-therek” payung berjajar,yg “methungul” cm kepala,dan dipastikan sedang pada”ngeden”!!!!…tapi ya werna-werna,ada yang gutho juga,hehe…
    @p.Sahid….kalau yg ngLesmana,kados pundi p.Sahid..??

  54. Rangga Tohjaya - DeFOC 0919

    @Denmas Sahid…
    Fongers BB identik dg Arjuna…identik dg piyayi yg berpenampilan kalem ,lembah manah dan berwibawa …itu kayaknya = Ki lurah OPOTO apa ya Den ?……cocok dg titihannya ….tetapi masih suka “selingkuh”…usap usap Gazelle nya….
    @Denmas Rendra…
    Menyimak “Jelajah Jogja” edisi April-Mei 2011 menurut saya kok masih ada yg kurang ya?…= tidak ada keterangan mengenai “Gambar sampul” ..di buku ini belum bisa menjawab Who, Where dan Why gambar yg ada di sampul depan…..terus gambar “Peta Jogja” ada tulisan yg sangat kecil dan warnanya kurang kontras shg agak buram kalau dibaca……….nyuwun pangapunten nih Pakde Wongeres atas kritikannya ……..he he he he….tetapi yg ngritik seorang “Librarian” lho yg pernah menyelenggarakan seminar penerbitan buku….tetapi pada dasarnya buku tsb sudah sangat informatif…….bagus…bagus…lanjutken…..sekali lagi nyuwun pangapunten….

    • wongeres OPOTO

      Haha… Opoters apakah ada yang kalem, Pak Dhe? Saya dulu juga melihat Pak Sahid itu sosok pribadi yang kalem, pendiam, dan santun. Tapi kok suka ngagem kostum dengan pin bergambar sangar. Lalu iseng-iseng saya tanyakan kepada Bu Dewi Sahid. Jawaban beliau sambil bercanda pun mengejutkan: “Ya itu sisi gelap, atau malah sisi aslinya Pak Sahid!😀

      Maturnuwun kritiknya. Saya tidak berani membuat ‘cover story’ untuk sosok yang satu ini, je. Nanti harus asok bulubekti seberapa ya? Hehe… Trus, kalau soal peta, benar adanya. Cocok dengan kritikan yang kagungan Ngayogya. Nama-nama jalan terlalu kecil. Mungkin halaman ini pantasnya disponsori oleh produsen kaca pembesar!🙂

  55. @ Rama Rangga Tohjaya
    Kalau dari trawangan ngawur, Ki Ageng Wongeres menika memiliki karakter mirip Adipati Karna yakni kalem, rendah hati dan sedikit misterius namun sakti mandraguna…he..he..he..

    @Rama Wongeres
    Untuk sepeda dengan desain extraordinary seperti Gazelle 9V dan 8X kemudian Simplex SPG dan Zweefiets, barangkali mewakili anak-anak Pandawa yang memiliki kemampuan extraordinary seperti Gatotokaca (G9V), Wisanggeni (G8V), Antasena (SPG) dan Antareja (S Zweefiets). Saya setuju kalau Simplex Cycloide diibaratkan Simplex Cycloide, memang benar-benar macho…

  56. Maaf ada ralat: “saya setuju kalau Simplex Cycloide diibaratkan Setyaki karena memang benar-benar macho…”

  57. @mas Yonthit dan mas aat..kalau mau melihat ngeden secara teknis pada seorang wanita memang sangat sulit, makanya kalau berhasil melihat berarti penilaian tdk akan meleset, profesi ygpaling memberikan peluang tsb adalah dokter kandungan atau bidan..mau alih profesi?..
    @ den mas Sahid, penjenengan pasti akan sangat kesulitan saat mencari perumpamaan sepeda utk sosok buto Cakil alias Gendir Penjalin dan tokoh Punokawan…hehehe.. atau akan pindah ke sepeda modif kawula muda?..
    @ mas Bagus Majenun jebule wkt kecil sering naik “helikopter” dipinggir blumbang to…wakakakak
    @ SENSOOORRR>>>mas Wong, konon dari postur ikan yg ada dikolam kita juga bs melihat jenis kelamin apa yg paling sering “nongkrong” diatas helikopter blumbang kok, pernah ada uji coba pada dua kolam,yg satu khusus buat tongrongan dames dan satunya buat heren,ternyata ikan2 yg ada dikolam dames cenderung gemuk2 dan sehat2,sedangkan ikan yg dikolam heren cenderung kurus dan penakut.. setelah diamati ternyata disebabkan perbedaan metoda pemberian makanan,saat “pemberian “makanan dikolam dames ikan2 melihat makanan jatuh dari mulut yg dihiasi “senyuman,” sedangkan dikolam heren justru pemberian makanan diiringi intimidasi berupa ayunan” pentungan”..hehehe..

    • jangan2 ikannya kurus karena cuek sama yang nyemplung. berharap yang gondhal-gandhul, yang terlihat lebih yummie ikutan nyemplung. sayang tak pernah terjadi..

  58. @ Rama Rendra
    Sepeda untuk kiasan Punakawan, Togog dan Mbilung barangkali banyak ditemui pada desain 1800s seperti sepeda Penny Farthing yang ban depan setinggi orang sedangkan ban belakang kecil. Demikian juga bentuk-bentuk lainnya yang unik.

  59. @ Rama Wongeres
    Selamat untuk publikasi Jelajah Jogja, semoga sukses. Mengenai cover story, sebetulnya ideal lho, yakni profil wisatawan lokal pecinta kota Jogja. Jadi pas banget untuk menjadi referensi karena obyektif atau semacam consumer review. Barangkali lebih pas ditulis dalam bentuk wawancara singkat tapi padat…

    • wongeres OPOTO

      Cuma berbagi informasi, Pak Sahid. Pasti Pak Sahid baru saja tindak Sedayu, memeriksa apakah rem transportfietnya sudah berfungsi baik🙂

      Sampai saat ini saya masih ragu, apakah tokoh sekaliber priayi Golo juga bersedia seandainya diwawancara untuk penerbitan informasi alakadarnya? Tentu yang berhubungan dengan kegemaran mengoleksi sepeda…

  60. den Mas Sahid..iya betul juga…sejenis sepeda Peny Farthing atau bahkan sepeda pos atau low rider cocok utk tokoh punakawan atau buto..
    @ wah .. cover story dan foto2 onthelis yg ditampilkan sepertinya sdh berisi “wawancara” yg sangat padat makna den mas.. nanti kalau ada statement malah jd buyar kabeh…hehehe..

    • wongeres OPOTO

      Kalau Bianchi dames yang cantik itu kira-kira mewakili figur siapa ya? Harus kenya Milan atau Karawang? Hehe…

  61. Boss, kok yang aku kebetulan ikut ga ada yang dimuat ya? hehehe. Tapi siplah masih kuat goresan tintanya begitu meyakinkan dan selalu kata-katanya baru jadi ga bosen yang baca……BTW ini alamat emailku: aoela2004@yahoo.com….untuk cara meramu herbal batu empedu yang manual…. Minggu depan absen mau ke Malang Boss.

    • wongeres OPOTO

      “yang aku kebetulan ikut”? Sungguh pilihan kata yang jauh dari pede. Haha… Siap Boss, sudah dikirim. Jangan lupa oleh-olehnya: kupu-kupu Malang! (ssstt…tapi jangan bilang-bilang Mas Suga)!

  62. Ulasan yang sangat menarik, dikomentari dengan beberapa analogi dan guyonan segar, sangat khas dari Jogja! Merujuk pada komen pak Sahid, kayaknya sepeda saya type Burisrowo atau Bomo narokosuro…
    !.what a lovely Jogja!

    • wongeres OPOTO

      Sugeng, Kyai Lintang? Kemarin pada nyerbu Garut, tapi kok yang mbaurekso belum berkenan menampakkan diri? Hehe…

  63. @ Rama Wongeres
    Sebaiknya yang diwawancarai orang luar Jogja Pak, karena lebih obyektif. Kalau orang Jogja sendiri mungkin terkesan klise karena kotanya sendiri.
    He..he..he..ternyata radar Opoto peka juga, sampai daftar sepeda onthelis Jogja yang sedang dalam perawatan bisa terdeteksi…

    @ Lintang Kemukus
    Untuk sepeda yang barangkali mewakili personifikasi tokoh “butha” seperti Burisrawa, kumbakarna atau Boma Narakasuma adalah sepeda transportfiets, karena sepeda ini ukurannya serba XL dan penampilannya memang kurang mriyayeni.

  64. @apa kbr Kyai Lintang branjang kawat…lamo indak basuo kemana aja? apa msh sibuk di brang wetan? kemarin acara Garut nguyek tak goleki tp penjenengan mboten ketiingal.. malah bs ketemu mas Suga.. lha nek sepedane kyai Lintang kan Gazelle sport jengki NOS kinyis kinyis ya pantese diumpamakan tokoh Wisanggeni atau Abimanyu to kyai..herhehe

  65. sungguh luar biasa…ijin nderek nyimak kangmas wong, nuwun
    -bejo-

    • wongeres OPOTO

      Wah, mimpi apa ini. Senang sekali Mas (eh, sudah bapak ding.!) Joni muncul lagi di angkringan obar-abir ini, hehe… Apa kabar Mas? Semoga semua sehat. Putranya sudah bisa mbonceng Gazelle?🙂

  66. Rangga Tohjaya - DeFOC

    Huaduh ada Mas Bejo nih mampir di angkringan ini……nderek tepang Mas, kulo injih tamu (yg nggak diundang ) lho Mas….monggo sami sami dipun laras “jajanan lan unjukan” ingkang wonten angkringan meniko….dijamin bisa senyum senyum sendiri ……lan yg pasti kita bisa tambah pinter lan tambah cerdas………. – salam dari Ki Rangga Tohjaya, yg kalau “berantem” nggak pernah kalah……itu kata pak dalang lho…..he he he he

    • wongeres OPOTO

      Senyum sendiri, pinter sendiri…🙂
      Pak Dhe, saya ini juga kadang dikudang istri, katanya ‘pinter dhewe’. Maksudnya, pinter nek pas dhewe. Nek ono kancane? Kabuuuur…!!
      Jan ngece tenan! Haha…

  67. @mas wong : kasinggihan mas saya juga senang sekali cangkrukan disini, ngangsu kawruh dari para sesepuh yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Alhamdulillah mas sehat semua, semoga mas nur & keluarga tansah pinaringan kawilujengan saha karahayuan ingkang sami pinanggih. Hahahaha….kalo bonceng sudah bisa, lha malah minta diputerin terus je tiap pagi, tapi tetep masih tak taleni pake lendhang mas…hehehe…terakhir saya bertemu panjenengan di soto lenthuk kotagede njih mas, wah kalo tidak repot waktu itu saya ingin bergabung lho…ikut ngonthel lagi, seruu…!!🙂

    @Ki Rangga : nderek tepang ugi kangmas, kulo saking tlatah kademangan umbulharjo, injih leres sangat inspiratif mas, makanya tidak hanya di blog sekali-kali saya juga ‘kopdar’ mengikuti jejak onthelis opoto ini mas, hehehe…mungkin lain waktu kita bisa bareng2 ikut jelalah jogja bareng opoto njih mas…nuwun

    • wongeres OPOTO

      Mas Joni, lha iya to. Tiap ketemu kok pas nyoto. Agaknya, hidup adalah mengisi waktu dari saat nyoto ke saat nyoto berikutnya! Haha…

  68. Rangga Tohjaya - DeFOC

    @Kangmas Bejo…. lain waktu mungkin bisa ngonthel bareng mengikuti jejak OPOTO ….terus nyoto bareng njih mas….wah jan sotonya enak tenan lho Mas……gratis lagi……he he he he

  69. @ Dimas Bejo
    Sugeng rawuh Dimas…sumanggah ngrahapi daharan angkringan Opoto…sate klathak, peyek gotri, gudeg krecek sadel, baceman ban, setopan goreng, sup dinamo dan menu-menu istimewa lainnya. Sumanggah kersa. Nuwun.

  70. @kangmas sahid : hahahaha matur nuwun sanget….saya menunggu menu istimewa-nya yang belum keluar berupa ‘gudhangan onthelista’ hehehe…nuwun

  71. Sama Gus Rend ora iso ndelik blass heheheee…..alhamdulillah Gus Rend sudah sehat kembali. saya dulu rasan-rasan sama Okidikarawang,trus nanyain pak Rendra…komennya dimoderasi…ehhh tahunya gak muncul heeheheee..
    Gus Wong memang reporter jempolan….gayeng, renyah, legi trus seger ( campur blimbing wuluh hehehe….as always!
    Semoga semua NARASUMBER di sini diparingi sehat LAHIR BATIN!

  72. @m.Bejo..ndherek pitepangan mas…benjang napa saget ngonthel kaliyan Opoto,mbokbilih saget ampir-ampiran kaliyan kawula,kawula Gambiran mas,nunggal Kecamatan…
    @m.Noor…apakah Triumph yg “nyekakar” ditritisan sdh ada rottlenya?? kalau blm,m.Nugroho kayaknya nyimpen…maturnuwun sanget,atas “hadiah kecilnya”..wah jan nganti isa nggo ngilo..!!

    • wongeres OPOTO

      Mas Yon, triumph sudah komplit. Juga girnya. Tinggal mood dan ruang nyimpennya kalau sudah jadi. Maka, sementara biarlah nyekakar di tritisan bersama BB dan Holl. Ini memang termasuk nafsu besar tenaga kurang. Hehe…

      Itu memang sekedar kenang-kenangan kecil, Mas. Lha tapi kapan bisa terkenang kalau nggak ngadhep, hayo? Hahaha…

  73. @ Mas Yonthit & Kang Wong, Yuk kita budayakan menabung sepeda untuk hari tua, mumpung harga-harga masih terjangkau. Kalau mengingat motor tua, BSA di tahun 1993 seharga 3 juta sekarang harus ditebus minimal 2000-3000% lebih tinggi. Saya yakin hal ini juga akan terjadi pada sepeda tua untuk 10-20 tahun mendatang. Nuwun. SN.

    • wongeres OPOTO

      Wuaduh, statementnya Pak Doktor kita ini lho, kok selalu ada-ada saja, tapi tidak layak diabaikan. Kemarin itu ngajakin berpoliboga. Selain kaitan luasnya nanti dengan ketahanan pangan, mengurangi nasi dan memperbanyak variasi asupan juga merupakan salah satu jurus mencegah penyakit degeneratif. Sekarang ngajak menabung sepeda untuk hari tua. Ini artinya menanamkan kesadaran berinvestasi, supaya di hari tua kita mampu meraih kebebasan finansial? Weleh…weleh… Ini lho untungnya bergaul dengan para onthelis yang tak hanya arif-prasojo, tapi juga cendekia.

  74. Terima kasih Kang Wong atas pemberian majalah Jelajah Jogja. It is real a good start! Saya yakin kalau pemimpin redaksi dipegang Sang Sastrawan Onthel yang sakti mandraguna ini, majalah ini pasti semakin berkilau.

  75. @ wah jan.den mas Sahid selalu hadir dengan ide yg brilian..dan pasti tdk hanya ide saja ..lha wong beliau memang sdh menabung pit sejak bertahun lalu dan jumlah serta kualitasnya pasti sdh sangat cukup utk menyempurnakan kecukupanhari tua yg memang sdh cukup… ini bener2 jd ispirasi positip..
    @mas Wong….ternyata bener2 sedang ngopeni Triumph to…jadi inget obrolan Triumph, Wakoal dan kuthubaru yg ramai sesaat lalu..selamat mas Wong atas kelengkapan celengannya..
    @sependapat dengan den mas sahid.. ditangan sastrawan pendekar onthel segala bentuk tulisan pasti menjadi “gurih” saat dibaca,, selamat mas Noer..salam

  76. Trium,wacoal, dismissio…..pasti dijamin merem melek heheee…pake rim 26 inc atau 28 inch juga oke….apalagi yang seukuran pennyfarthing depan…sepeda merk dolly parton juga pake ring besar hhihihiiii

    • wongeres OPOTO

      Kyai Lintang, kalau sepeda dolly pakai ring seukuran pennyfarthing, lalu asnya apakah torpedo atau tromol a la mata bagong? Soalnya kalau menurut Pak Sahid, tromol 36 itu sudah sangat ideal…

  77. Gus Wong iki kok sajake fokus sama Jupe juga ya hehehee…..atau JUPE merupakan salah satu SUMBER INSPIRASI tiada henti…titititititit….i

    • wongeres OPOTO

      Kan cuma jempolannya saja, Kyai. Konon, kalau reporternya Jupe, bahasa tubuhnya saja sudah bicara banyak to. Hehe…

  78. Terima kasih Mas Nur, buku Jelajah Jogja edisi April-Mei pagi ini nyampai meja kantorku, cover depan Bapak Rendra lagi naik sepeda melintasi Tugu Jogja dengan siapa ya, halaman selanjutnya Bapak Sahid Nugroho lagi pakai Pakaian Raden Arjuno atau Bethoro Kreno dengan siapa ya. maaf pak kalau salah.

    • wongeres OPOTO

      Maturnuwun sudah diterima. Saya cuma mengakomodasikan banyak saran, bahwa tamu-tamu Panjenengan mungkin membutuhkan itu. Benar, onthelis Karawang itu sedang melancong sarimbit dan tertangkap kamera candid. Pak Sahid? Untuk jadi Arjuno, Pak Sahid kan nggak butuh pakaian seperti itu…🙂

  79. @m.Noor…lha justru kalau tidak ngadhep,kan malah banyak kenangan bisa dimunculkan to mas? Imajinasinya malah bisa lebih kreatif lho mas,kadang kasunyatannya tdk ada,malah bisa kita create,(personal,subyektif sekali)….si dia yg dalam kesehariannya kalau nyapu tidak mbungkuk,”bisa kita bungkukkan” (leres to m.Aat),hehe…
    lagipula,ngadhep ternyata tidak pasti memiliki,memiliki tidak pasti ngadhep,ya to mas..??
    @p.Sahid…hehe,penginnya juga begitu pak,nyuwun tambahing pangestu,mugi saget kasembadan…
    dibanding Ki Ageng Potorono,dalam skala yang lebih kecil,saya juga termasuk yang “gegedhen empyak,kurang cagak” kok pak…
    kalau melihat pergerakan harga (asesoris) sekarang ini,dibanding setahun yll saja,sudah “nggilani”,cenderung irasional ya pak (sekaligus peluang)??

    • wongeres OPOTO

      Mungkin untuk menjual juga tak harus memiliki ya Mas? Haha… klakon tak ijolke Burgers dames tenan…😀

      Mas Yon kok malah ngilang? Akhirnya malem-malem kami sowan ke ndalem Sahid Nugrahan lho. Sugeng tanggap warsa, Pak Sahid. Semoga kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan selalu terlimpah untuk Pak Sahid sekeluarga. Amin.

      (Pak Sahid, saya juga ikut kehilangan, ternyata anak-didik Pak Sahid itu juga saya kenal lewat profil LPPM, benar?).

      • Kang Wong, mohon maaf ternyata kemarin ada kesalahan informasi. Yang wafat adalah adik dari mahasiswa saya. Nuwun.

      • wongeres OPOTO

        Oh, ndherek berempati untuk keluarga yang kehilangan dan saya bersyukur bahwa ybs sehat adanya. Pak Sahid masih akan melihat ananda yang cantik dan pintar ini berprestasi. Nuwun.

  80. Gi Sepiningati

    Nongol lagi aahhhh….

    @ Mas Yonthit, saya punya pandangan beda dengan hal ini. Menurut penerawangan saya, tabungan sepeda tua tersebut merupakan salah satu faktor penyebab tingginya harga sepeda onthel ini. Karena keterbatasan barangnya, alhasil seperti yang dikatakan Wongeres yaitu banyak dibuat tiruan modelnya. Jika ada produk yang digemari secara luas tetapi mahal, maka akan segera keluar kw1, kw2. (Kw 9-nya ke mana ya pak Noer hehehe). Pun, mas Yonthit juga merasakan aksesoris onthel dan onthelnya harganya kian selangit bahkan cenderung irasional dan gegirisi. Bisa ditebak, orang yang mengoleksi sepeda apalagi yang orisinalan dan langka hehehe….orang yang punya uang lebih. Selain itu, banyak kasus lainnya.

    @Pak Wongeres bila tabungan onthel akan menanamkan kesadaran berinvestasi, saya yakin tak beberapa lama lagi onthel bagus akan hilang dari peredaran bumi pertiwi yang tersisa hanya sepeda onthel apa adanya. Soalnya banyak yang dikoleksi atau diburu orang bahkan banyak yang akan di jual ke luar negeri untuk menghasilkan apa yang ia investasikan selama ini. Menurut saya banyak orang ingin mencari keuntungan, apapun akan dilakukannya demi keuntungan tersebut apapun taruhannnya. Saya sependapat bila tabungan onthel ini lebih diarahkan untuk menanamkan kesadaran mental merawat bukan semata-mata karena uang. Mental merawat akan menumbuhkan dan memupuk warisan sejarah dan merawat memori…..Maaf kalau ada kata kurang berkenan…

    • wongeres OPOTO

      @ Mbah Yanto yang lagi (mumpung?) sepi🙂
      Kalau ‘sekelas’ kami di Potorono ini cari sepedanya kan cuma di sekitar sawah, pasar, atau kalau saling ketemu di bengkel kecil sor waru. Saya malah nggak pernah berburu, hanya kalau ketemu yang ‘nges’ di hati. Itu pun biasanya nggak berani langsung menawar. Di lingkungan kami, menawar sepeda yang sedang dikendarai seseorang itu kadang dianggap berlebihan, seolah mau ‘ngilani’ dada orang. Kan tidak semua yang kita lihat boleh/bisa dibeli. Santai saja, nanti kalau pulung kan datang sendiri.

      Karena belinya dari pemakai yang biasanya memperlakukan sepeda sebatas layaknya sebuah sarana transportasi/angkutan, maka setelah berada di Potorono boleh dibilang akan menjadi lebih terawat dan bertambah persentase orisinalitasnya, meskipun tetap diperlakukan sebagai sarana transportasi dan rekreasi.

      Merawat sepeda onthel dengan penuh kecintaan itu semoga akan menenangkan jiwa. Sebaliknya, jika melulu memikirkan nilai jualnya malah bisa kemrungsung. Saya kira manusia dibekali kemampuan untuk melakukan segala sesuatu secara berimbang. Secara umum, barangkali ini yang membedakan antara onthelis dan ‘spekulan’. Saya suka memperhatikan para penjual sepeda di pasar, sepertinya mereka menyemir sepeda dagangannya juga dengan penuh cinta, karena dengan lantaran sepeda-sepeda itulah ia bisa ‘ngayahi’ kehidupan mereka.

      Ini topik menarik. Saya setuju pendapat Mbah Gi tanpa harus menarik dukungan terhadap ide investasinya Pak Sahid.

  81. @ Kang Yonthit
    Sebetulnya yang terinflasi hanyalah merek-merek populer saja yang berakibat permintaan melebihi penawaran yang tersedia. Untuk merek-merek dan varian yang biasa tampaknya relatif stabil.

    @ Kang Qly Spooor
    Waduh…salah Pak he..he..he..Saya waktu itu sedang pakai kostum Anoman, tapi batal dipotret Kang Wongeres he..he..he..

  82. Kalau naik sepeda Burgers momot damen/jerami pakai kostum apa? Tapi juga ada Fongers HZ 60 torpedo tiap hari dipakai bakul bakso di pasar Prawirotaman. Kostumnya warna biru tulisannya gilingan gading “Lestari”

    • wongeres OPOTO

      Halah. Masak gading digiling Mas? Daging, kali? Hehe…
      Mas Bagus, terus terang saya agak tersindir ini. Lha gara-gara dikomporin Pak Sahid Jumat malam lalu, barusan saya malah nglungsur Burgers dames abang mbranang milik bakul sembako di pasar Imogiri🙂 Tiap hari dipakai nganter dagangan, kostumnya kaos oblong Mas…

  83. Selamat Kang Wongeres berarti ini Burgers Dames yang ke 4 atau ke 5 yang berhasil diakuisisi? Ini fenomena tandingan untuk skema koleksi serba Simplex Dames di Magelang he..he..he…
    Burgers Dames milik Kang Yadi Pakualaman juga tinggal call lho…he..he..he..

    • wongeres OPOTO

      Walah… mboten, Pak Sahid. Saat ini di Potorono cuma ada 4 Burgers dames yang ori. Tapi yang dua kondisi sudah repaint by Mbah Ngatijo. Meskipun sama-sama Burgers dames, ternyata beberapa bagiannya berbeda. Gir, stang, komstir/komfork, dsb. Mungkin nanti akan kami upload biar para suhu seperti Kyai Lintang dan Mas Suga berkenan memberikan pencerahan. Burgers Pak Yadi? Wah, saya cari mentahan saja. hehe…

  84. waow..selamat mas Wong atas peternakan burgers damesnya..hehehe, kalau ada yg jengki uk 28 sing msh mak nyuus saya mau mas..

    • wongeres OPOTO

      Siaaap, Pak Rendra! Biar ada yang heren, dames, dan yang trans atau hetero. Haha… Burgers jengki itu ada dua ukuran. Orang-orang menyebutnya juga rolikuran dan patlikuran. Yang mak nyus itu yang keluarnya sesuai pasara 🙂

  85. Nuwun sewu Mas Noer, salah tulis maksudnya “Gilingan Daging LESTARI”. Wah sip, siyap-siyap keluarga besar Burgers dikeluarkan dari kandang? Aneka sparepart Burgers sudah siyap lho Mas?

    • wongeres OPOTO

      ‘Aneka’? serbuuu… Hehe…
      Perlu disambangi. Sementara saya kungkum di luar kota dulu, Mas Bagus…

  86. Wah hebat lho Kang Wongeres, sebuah prestasi tersendiri bisa mengumpulkan 6 Burgers Wanodya. Saya yang sudah lama pengin belum dapat satupun, lha Priyayi Gung yang satu ini malah dapat setengah lusin telap-telep he..he..he..

    • wongeres OPOTO

      4 itu sudah termasuk yang repaint, Pak Sahid. Yang lain saya tidak yakin Burgers. Saya masih sering lihat, tapi catnya kurang nyus. Yang lumayan nyus lain hari akan saya upload, meskipun tentu belum selevel dengan koleksi para pepundhen

      Nuwun sewu, Pak Sahid masih kagungan nomor telepon Pak Yadi? Sumangga…🙂

  87. lama tak mendengar kata telap – telep, apakah mas wong begitu telap -telep makan burgers ?

    • wongeres OPOTO

      Apresiasi yang bagus, Mas Faj. Sebuah kata memang tidak lahir begitu saja. Ia selalu mampu menggambarkan sesuatu atau situasi secara khas sebagaimana dimaksudkan oleh katanya. Banyak kata dari bahasa ibu yang menarik diperbincangkan. Seperti ‘nylekamin’nya Pak Rendra…🙂

  88. @ Dimas Faj

    Kalau bahasa inggrisnya “telap-telep” barangkali bisa diwakili kata “pac-man”…he..he..he..

  89. @ P’ Sahid,
    he..he… Mr. “pac-man” seangkatan sonic….(keconangan nek dulu-nya P’Sahid seneng mbek sega…).
    wah nek “telap-telep” dhulure ndemenakake, angah, sumego ning ora “alu amah”….(sing mburi dhewe medheni).

  90. @ Bro Suga
    Lah iki lakone teka…
    Masih ada Burgers Wanodya bagus orisinilan di Jogja yang sudah siap dipinang lho Pak. Sumanggah kalau mau di-“pac-man” ke Malang he..he..he..

  91. @ P’ Sahid
    Ampun Pak…..sementara saya masih mencari BD 60, mau barter jg boleh he..he…

  92. @ Wongeres,
    Ayo kita tour pakai BURGERS… Kita bikin club burgers yok… Kita beri nama BURJOIS = Burgers Jogja Istimewa….

    • wongeres OPOTO

      Wah, lha kalau Mas Bagus ya nanti harus disiplin ngatur jadwal: Senin ikut Fongersmania, Selasa Gazelle, Rabu Simplexian, Kamis Englandmania, Jumat Fahrrad über alles, Sabtu Burjois, Minggu kirab Podjok, masih banyak merek yang belum kebagian hari! Haahaha…

  93. @ Den Baguse Podjok, pengin ikutan Burjois tapi masih menunggu paringan limbah Burgers dari Kang Wongeres he..he..he..

    • wongeres OPOTO

      Pak Sahid, lha wong yang diisik-isik saja karatan begini, bagaimana limbahnya? Beda dengan Mas Suga. Panjenenganipun kagungan Burgers dames ngedab-edabi saja cuma dipinggirkan lho. Sumangga…🙂

      • @ Gus Wong,
        walah Gus, kulo mung sak dremo “distribusi” kemawon, supados nambah sederek lan “leyed yeto” kemawon kok…..Nak mekaten to Gus Ren?
        @ Gus Rendra,
        Wah lha panjenengan pikantuk “bolo” ingkang nggegirisi lan podo “gedhene”…….dados kulo nggih mendel kemawon…(…mbok ampun kroyokan)..he..he..

  94. Menunggu urutan, kapan Burgers jadi the most wanted.

  95. menunggu burgersnya pak Yadi di “sale”..hehehehe

  96. wongeres OPOTO

    Sugeng rawuh, Pak Rendra. Akhirnya jadi bawa oleh-oleh dinamo gajah NOS berapa karung? Haha…

  97. @wah batal “hunting” klitikan kok mas Wong, lha wong barange aneh2 je..hehehe

  98. @ Kang Wongeres
    Sementara ini memang sepeda Burgers Dames klangenan Bro Suga adalah yang terbaik di jagad sepedaonthel Indonesia. Transfer merek asli masih jelas, bodi utuh ngaleng, cat hitam asli nglenes dan khrrom asli berkilau.. Sayang tidak bisa dicicil harian he..he..he..

  99. wah telat den mas sahid.. saya tanya kemarin pas ketemu di bekasi ternyata sudah piyu je…padahal memang cakeep..

  100. @ P’ Sahid….
    Waduh Pak…………masih banyak speda Burgers dengan kondisi yang jauh lebih bagus dari itu, hanya memang belum dikeluarkan saja, seingat saya : di Yogya saja ada 5 (2 heren, 1 dames, 1 cross, 1 transport), Solo 1 Dames, Jatim 1 Heren…rata2 smua masih 95-99% orisinil bawaan speda (boncengan ENR dng stopan yg nggandul di belakang-nya), kunci speda ENR bahkan ada yg masih lengkap dng hanvat ENR & ban luar-nya yg buatan Vredestein masih tertulis Burgers ENR, atau bel Lucas no.21 & dinamo/lampu memakai Netco utk transport-nya…….iiihhhhh dadi mrinding………..

  101. Memang paling seru kalau bisa lihat sepeda dengan kondisi 90% ke atas. Kekaguman bukan karena kondisi penampakan atau harganya yang biasanya mahal, tapi episode cerita yang menyertai sehingga sebuah sepeda bisa utuh setelah melewati masa puluhan tahun.

  102. dan burgers2 istimewa yg di Jogja berada di ndalem mas Suga..kpn ya bisa nyawang..mskpn ora biso nyanding?

    • wongeres OPOTO

      Kan sudah ada wangsit saneponya, Pak Rendra: kalau mau nyanding harus datang sendiri-sendiri, Panjenenganipun ogah kalau dikroyok. Hahaha…

  103. wongeres OPOTO

    Wah, semoga remnya Mas Bro Suga cukup pakem, jadi harga Burgers tidak ngelantur. Hehe… Burgers kondisi 90, bahkan 100 % masih ada lho. Keluaran 2010. 🙂

    Pak Sahid, Burgers Potorono mungkin juga sarat dengan cerita episode yang menyertai, misalnya stopannya lari ke mana, sadelnya jatuh ke siapa, kuncinya dulu kira-kira dijual ditukar apa sehingga jatuh ke Potorono sudah tinggal frame. Haha..

  104. wah mas Noer kalau simpenannya mas Suga saya mboten kiyat..”nanjakipun” kados jakal je..hehehe.. ampuun mas Suga..kulo nenggo pas mbrosotipun saking Kaliurang menuju yojo kemawon..
    @burgers Potorono sanajan mboten dugi 90% nanging tetep nyooss..ngremenaken .abiiing kincloong…

    • @ Gus Ren…..
      nadyan “nanjak” namung wonten “persnel” ipun dados nggih “aturable” he..he….
      Setuju Gus……ingkang penting tetep mak nyooss…………..uueenak tumpakane kados G 10 H/D….
      @ Gus Wong,
      Rem-nya sdh pake “torpedo beckson/styria” kok….jd dijamin pakem…he..he…

  105. jadi pengen liat2 kesana mas🙂

  106. Waahh…bikin ngiri nih, mas-mas onthelnya…
    jd pengen gabung ;)….
    Mas, minta info nih ttg Pak Sukino , pembuat gula batu di kawasan Nggonalan, RT 01, Dukuh Ngasem, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta…ada no telponya gak?….pgn bgt tuh ngerasain gula batunya..kykny seger bgt rasanya😉
    kl ada, tlg informasikan ke no hp sy ya mas…082123077099
    atau ke email: hendrakusuma21@gmail.com
    Tengkyu mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s