Burgers Deventer: Andai Aku Menjadi….

Andai sepeda-sepeda onthel itu bisa bicara, alangkah banyak cerita yang bisa didapatkan dari mereka. Baik tentang proses produksi, tentang strategi pemasaran dan distribusi saat itu, juga tentang pemilik yang tentu sudah berganti sekian kali selama beberapa generasi. Karakter pemilik, status sosial, lingkungan, serta perlakuan yang berbeda telah mewarnai sepanjang kehadiran sepeda onthel kita. Lalu, adakah tragedi, saat sebuah pembalikan keberuntungan menimpa sepeda-sepeda tsb? Semua bergantung bagaimana kita merawat dan menilainya.

Burgers Deventer Pasturan

Lihatlah sepeda Burgers dames (wanita) spesial ini. Kata spesial harus ditambahkan, karena Burgers dames ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh sepeda Burgers dames pada umumnya. Burgers dames sendiri sebenarnya sudah memiliki keistimewaan pada keberadaan pipa dobel yang menyangga frame lengkungnya, meskipun model seperti ini juga ditemukan pada beberapa merek sepeda lain seperti Gruno, Güricke, bahkan Simplex. Adanya dua penyangga ini membuat frame lebih kokoh dan stabil, termasuk ketika harus membawa beban berat.

andai aku menjadi keluarga petani…

Kembali ke tambahan kata ‘spesial’. Selain pipa penyangga dobel, sepeda ini masih memiliki pipa diagonal yang menghubungkan antara knee (sambungan pipa) pada bagian bawah pipa vertikal dengan supitan belakang. Entah bagaimana mulanya, hanya Burgers dames dengan spesifikasi seperti ini yang biasa disebut Burgers Deventer. Padahal, pada kenyataannya pabrik sepeda Burgers yang berlokasi di Deventer tidak hanya memproduksi sepeda jenis ini saja.

lampu depan, stang torpedo dan bel Burgers yang meyakinkan

Konon, sepeda tipe ini dahulu banyak digunakan di kalangan gereja. Oleh karena itu, beberapa orang juga menyebutnya sebagai Burgers pastur. Bentuknya anggun, tetapi memiliki konstruksi yang relatif lebih kokoh. Meskipun selintas orang akan menyamakannya dengan sepeda wanita, sistem pengereman sepeda ini melulu hanya mengandalkan torpedo di roda belakang, sebuah sistem rem yang kurang familiar bagi para wanita.

Rem torpedo yang tidak menuntut tuas rem di pipa stang membuat penampilan sepeda ini tampak simpel. Bentuk stang yang tinggi memberikan keleluasaan pada lutut saat mengayuh, bahkan bagi seorang yang tergolong jangkung. Hal ini menjadi salah satu pembenaran bahwa sepeda ini dahulu banyak dikendarai para pastur yang biasanya berpostur jangkung.

kom stang dan tangkai lampu, pipa diagonal, dan sadel kecil model plat

Kesan simpel juga dihasilkan oleh ketengkas yang hanya separo sehingga hanya menutup rantai dari sisi luar saja. Ketika dipakai di lingkungan berdebu, rantainya akan lebih cepat kotor, meskipun membersihkannya juga lebih mudah dibanding pada rantai yang tertutup seluruhnya.

Entah apakah seluruh sparepart dan aksesoris yang menempel saat ini diproduksi sezaman dengan tahun produksi sepedanya atau tidak, yang jelas sekujur sepeda ini masih banyak memberi kejutan. Misalnya komstangnya yang rumit bertumpuk-tumpuk dengan tulisan Burgers berhuruf kapital dan tangkai lampu original bergambar logo Burgers ENR di dalam bidang segi tiga yang menempel pada pipa vertikal stang berkat keberadaan dua baut berbentuk sangat khas.

stop lamp, ketengkas model belah/separo, dan tangkai kayuhan Burgers

Logo yang sama juga menempel pada lampu depan dan dinamonya, pada stop lamp belakang, pada bel, juga pada rotel/tangkai kayuhan yang sudah mulai tertutup karat. Hanya karena roda depan tidak menggunakan as berbahan alumunium bermerek atom sebagaimana kebanyakan sepeda Burgers yang sering ditemui saat ini, dan terlebih lagi karena velg tua depan-belakang tanpa merek yang ada pada sepeda ini berjari-jari 32-40, bukan 36-36, orisinalitas roda sepeda ini sempat diragukan. Akan tetapi, jika diperhatikan dengan seksama, pada as roda depan berjari 32 itu ternyata masih memperlihatkan tulisan “Burgers ENR Populair” yang mulai samar termakan karat. Fakta ini mematahkan opini sebagian orang bahwa Burgers harus menggunakan roda berjari 36-36.

dinamo, as roda depan, dan torpedo F & S Jerman

Kejutan lainnya disumbangkan oleh sadel model plat bertuliskan Burgers ENR. Pada touring jarak jauh di jalanan datar, sadel yang terlihat sudah tua ini terbukti mampu menyumbangkan kenyamanan berkendara. Kenyamanan lain didapatkan dari stangnya yang tinggi dan memberikan keleluasaan, di samping dari rasio gigi depan-belakang yang cukup ringan untuk dikayuh, tetapi juga cukup laju bagi kecepatannya. Selebihnya, kunci roda menggunakan merek Hopmi, dan pedal buatan Jerman.

si cantik nan seksi, berlatarkan hunian para Opoters…

Kini, setiap hari sepeda ini banyak dikendarai dari sawah ke sawah di lingkungan Potorono. Jika semula ia hanya dipakai di lingkungan gereja, sekarang ia tak segan melintasi bulak-bulak persawahan dan meniti pematang.

Sekali lagi seandainya sepeda bisa bicara, apakah kenyataan ini membuatnya menderita? Entahlah. Yang jelas, hingga kini ia masih saja terlihat cantik dan glamour, tak ubahnya artis yang tengah membawakan sebuah peran di lingkungan pedesaan. Sisa cat dasarnya masih terlihat pada sekujur body, fork, dan spatbor. Dengan perawatan desa seadanya, kilau kemerahannya begitu mempesona sehingga beberapa orang mengira bahwa sepeda ini telah dilapis varnish/clear.

Ia masih sangat cantik di usianya….

120 responses to “Burgers Deventer: Andai Aku Menjadi….

  1. cantik seandainya aku…🙂 siapa yang akan menimang dirimu?

    • boim betawie gille

      keren boz sepedanya di jodohkan sm pnya sy burgers heren 24 atau wandu boz
      biar sejarahnya tambah kentel aje boz dan di lestarikan,,,hehehehe

  2. Pertamax… andaikan dia bisa bicara… sdh berapa wanita cantik yg pernah mengendarainya..atau diboncengkannya.. tampilannya yg cantik kinclong kemrahan membuktikan betapa luar biasa tekun dan telaten pribadi yg merawatnya.salam

  3. Mudah-mudahan artikel ini memberi pencerahan pada jagad sepeda onthel Indonesia terkait dengan pemahaman yang salah mengenai sosok Burgers Pastur yang sering disamakan dengan Burgers Dames. Saya biasanya menandai dengan 3 ciri pokok: (1) bentuk setang yang lurus, (2) ada cagak ketiga, dan (3) panjang tangkai pedal berukuran heren.

    Saatnya Burjois (Burgers Jogja Istimewa) dideklarasikan he..he..he..

    • wongeres OPOTO

      Pak Sahid, ingat bocorannya Mas Suga: beberapa Burgers istimewa ada di Jogja, di tangan yang sama!

  4. om, saya penggemar baru sepeda onta. Sebenarnya sudah lama saya ingin punya sepeda, tapi baru kemarin saya mendapatkannya. Saya mendapatkannya dari budhe, sebuah batavus dames. Tapi banyak bagian yang sudah tidak ori (saya baca2 ttg sepeda tua di internet). dimana saya bisa mencari (wilayah jogja-bantul) sperpart asli batavus? yang saya cari antara lain: tromol (depan-belakang) dan stang, kira2 berapa harganya?

    • wongeres OPOTO

      Wuih, senang dong dapet warisan Batavus yang tentu relatif jelas sejarahnya. Saya masih suka liat sparepart Batavus kok Mas. Tromol sepasang kira-kira (sekali lagi kira-kira) antara 150 sampai 300rb. Stang antara 75 sampai 150rb tergantung kondisinya. Silahkan kontak Mas Tono saja Mas, no hp ada di halaman profil blog angkringan ini.

      Salam semangat!

  5. Mantep………..sungguh tampilan sepeda yg sangat menawan sekaligus “bakoh & wantek”. Apakah di depan nomer seri ada huruf C/E?
    Setuju P’ Sahid dengan komen-nya diatas cuman kayaknya utk stang yg lurus jg bisa dipakai utk burgers dames yg lainnya. Untuk ciri pokok yg ke 2 & 3 —-> sangat setuju sekali & mungkin plus opsi rem torpedo.

  6. Burgers pastur yg menawan, selamat buat pemiliknya seandainya ada kebosanan jangan segan2 untuk kasih khabar ha ha……..

  7. Saya suka tone gambar ini, suasana panen padi terasa kuat dan sangat serasi dengan warna ban karet sepeda dan cat sepeda yang mulai coklat. Penampilan sepeda menjadi lebih cantik dan klasik.

    Kalau yang naik sepeda ini pakai sorban dan sarung maka bisa disebut sebagai Burgers Kyai…he..he..he..

    • wongeres OPOTO

      Pak Sahid, benar sekali. Ini difoto pas Potorono musim panen. Sebenarnya saya mau menampilkan standar pemotretan sepeda yang setahu saya selalu diambil dari sisi kanan dengan posisi kayuhan sebelah kanan ada di depan (seperti siap dikayuh). Tapi saya pribadi suka melihat sepeda dari sisi kiri. Maka di bawah warna keemasan matahari pagi itu Si Burgers saya foto dari sisi kiri dulu. Begitu mau dibalik, e… mendadak matahari lenyap tertutup mendung. Cahaya nggak dapet lagi. Apa boleh buat, sebelum padinya dipanen semua! Maka jadilah dua foto di tempat dan saat yang sama tapi hasilnya berbeda.

      Lebih jauh, Pak Sahid bisa menjelaskan mengapa posisi foto sepeda selalu seperti itu? Seperti kalau foto jam tangan akan selalu menunjuk pukul 10.10 (menunjukkan bentuk ‘V’ victory)?

      Saya mau menyebutnya Kyai Burgers, tapi masih bingung, lebih dekat ke Kyai atau Nyai…🙂

  8. @mas Wahyu, bagaimana dengan Burgers full ori kagungane yg di gudang Mblitar? saya lihat fotonya benar2 istimewa, mbok sekali kali di Upload di angringan ini utk bahan pembelajaran pastii gayeng, apalagi kalau sekalian koleksi istimewa yg berada di “ndalem ” Jogja yg disebutkan mas Wong diatas.. byuuh..byuuh..salam

  9. Pak…kalo boleh tahu ini kagungane sinten nggih?….
    Kalo semisal sudah bosen saya minat pak…….

    • wongeres OPOTO

      Maturnuwun apresiasinya. Nanti kalau bosen akan diwartakan di blog ini Mas. Nah, ini ada peminat Burgers. Ayo siapa yang berminat mengurangi koleksinya?🙂

  10. Numpak skuter tuku bolang-baling. Burgers-e marahi pangling. Bukan Sulap Bukan Sihir. He he he banyak penawar???????

    • wongeres OPOTO

      Nganggo kathok kolore kabel. yen ora nggosok tangane gatel. Lha tapi onthel mentahannya yang mau digosok mana? Help…🙂

  11. mantap sepedanya, jadi kepengen punya.

  12. Rangga Tohjaya

    benar benar anggun , cantik dan mempesona….salah satu keindahan yang sangat sangat bisa saya nikmati tetapi ndak bisa anumpaki…….wahhhhh

    • wongeres OPOTO

      Lho. Kenapa tidak? Garuda, Batavia, Lion, Air Asia, dll siap mengantar sampai Jogja lho. Pak Dhe Rangga sehat? Kok lama banget ngumpetnya?

  13. mohon bantuannya pak saya lagi nyari ketingkas burgers.. dmanakah saya dapat memperolehnya?? terimakasih

    • wongeres OPOTO

      Mas Arka, saya pribadi belum pernah melihat ketengkas berlabel Burgers ENR. Tapi beberapa kali dapet Burgers ketengnya menggunakan model belah separo. Ada yang seperti pada foto di atas, ada juga yang bermerek Hebie. Bahkan, belakangan dapet Burgers wandu dengan ketengkas antik berbahan aluminium. Beberapa orang tua, termasuk Mas Bagus Majenun (uhuk…uhuk…) menduga itu juga bawaan dari barunya. Pernah juga ada Burgers orisinil ketengnya HPK dan sama merahnya dengan body. Semoga ini memberi gambaran, karena keteng model belah sudah sangat langka. Ada saya lihat menempel di sepeda, katanya kalau mau dibeli harus sekalian sepedanya😦

  14. Meskipun usianya sudah sangat tua, tetapi kenampakannya laksana putri cantik lencir kuning yang siap memikat pemuda yang meliriknya. Kalau yang Heren kok sepertinya kurang “beredar” nggih? apa saya yang kurang ngobrol..hehe. Salam.

    • wongeres OPOTO

      Duh, akhirnya nongol juga saudara kita satu ini. Hehe… Gravatarnya keren. Siapa yang motret Mas?

      Burgers heren di Jogja banyak kok. Minat?🙂

      • Om, masih sebatas pengen kok, belum punya nyali untuk mewujudkan, mencoba nggemateni yg sudah ada dulu hehe…padune. Itu motret sendiri, wira-wiri pakai tripod kok, salam.

  15. Gudangnya Burgers itu di Yogya dimana, ya? Kalau gudang frame Burgers saya malah tahu? bisa beli karungan. Burgers Monalisa Karangkajen?

    • wongeres OPOTO

      Mas Bagus, Minggu kemarin mboncengin Panji ke Prambanan juga pakai Burgers? Kami keliaran di pasar pakai 3 Burgers juga lho. Malah saya sempat ditolongin Pak Polisi betulin pen rotel. Tq Pak Polisi…

  16. ha ha ha gudang burgers heren dimana?

    • wongeres OPOTO

      Mmmm… di mana ya? Di Jogja!
      Rasah ngono. Di Surokarsan juga ditumpuki entah nunggu jaman apa baru nanti disetel…😀

  17. Wah sudah lama nggak mampir di blog potorono,salam kagem sedoyo,kagem pakdhe wongeres..ah cantik nian burgers ini,melihat aja terasa adem apalagi bisa memiliki dan menggowesnya..sejuk,pemotretan yang profesional hmmm..like it

    • wongeres OPOTO

      Jumpa lagi, Kangmas Beni. Lha iya to. Pabrik gula sudah musim giling kok nggak kondur-kondur. Nambang terus nanti sampai tembus amiriki lho. Hehe… Profesional? Halah…halah… pakai kamera pocket kok. Maturnuwun masih ingat mampir🙂.

      • Jumpa lagi pakdhe wongeres..nyuwun pangapunten menawi pas pabrik gulo gilingan mboten mampir,lha ngertos ngertos pun katah bahasan dados bingung ajeng nanggepi nopo nggih,maos kemawon saged nyimak guru guru peronthelan rembug mekaten🙂

      • wongeres OPOTO

        Lha maksudnya biar ngancani saya mancing piwucal para winasis, je. Guru itu kalau nggak ada muridnya kan ya blangkemen to. Hehe… Damai…!

  18. @mas bantoro ,mas rangga apa kabar, tumben kok lama tdk ngankring, sibuk kerja apa sibuk ngelus pit nggih…. salam
    @mas Bagus Majenun.. pripun kabare, mbok ampun ditumpuki mawon to Burgersnya ,ndang di rakit ben tambah lagi pasukan kavaleri burgersnya..hehehe.. salam

    • Nyuwun sewu Pak Rendra, lama nggak nongol, taksih sibuk ngelus bedile kumpeni ini alias belum boleh pulang kandang, salam dan sukses selalu Nggih.

  19. mantabh om….😀😀😀

  20. Pak Rendra, Mas Noer numpuki burgers itu ibarat numpuk rotinya, isen-isenane belum dapat baru dapat daging dan sausnya saja, mayones, salat, bawang bombai belum ada. Ketemunya stang Ramola, Hero, Atlas.
    Saya nggak numpuki di rumah tapi nitip di bengkel2 entah sampai kapan dan kadang sampai lupa kalau masih punya. Tiwas ditawar ternyata milik sendiri

  21. @wah mas Bagus jan kebangeten.. stang satu kok dibeli tiga kali…hehehe
    @ mas Bantoro..ampun kesuwen lho , bedile kumpeni kinclong tapimangke pite sing karatan..

    • wongeres OPOTO

      Hehehe… akhirnya ngaku juga ya. Jangan-jangan ibunya Panji juga sempat dilamar dua kali sama Mas Bagus😀

  22. hua ha ha ha, cukup sekali mas, dua kali kenalannya. Gara-gara Burgers Deventer kemerah-merahan kadya srengenge angslup ing wayah candhik ala di upload di blog, gegerlah dunia peronthelan. Burgers naik tahun tahun ini

  23. Mas Bagus, berarti saatnya ndudah celengan frame “B” di nDalem Surokarsan ki. Mung melu entuk ‘kecritan” yo rapopo.. hehe

  24. Mas Bantoro, gimana mau ndudah celengan? di Ndalem Surokarsan malah mlompong blong. Cuma satu spd favorit Juncker Dames. Frame “B” Nyebar di bengkel sampai lupa. he hehe. Lha pretelane ilang terus.
    Kalau di pasar kalah sama alap-alap wetanan, yg asal ngangkut dan berapa buka harga tinggi. ampuuun DJJJJ

  25. kalo laper siyap disantap😀

  26. om, burgers itu yang disebut-sebut sama pakdhe sepeda bikres ya? Atau beda merk?

    • wongeres OPOTO

      Bwetul, Mas. Dari pengucapan Belanda mungkin Bü(r)khers gitu trus mampir di lidah kita jadi Bikhres, Bikres, atau juga Bigres. Tapi yang dimaksud ya mereknya satu: Burgers.

  27. Burger yang cantik dan sexy ,model seperti ini paling banyak masuk tanah air ,

    • wongeres OPOTO

      Waduh, kok komentarnya belum selesai nggih? Padahal ini pada nunggu komentar para winasis untuk pencerahan bersama lho. Sumangga, Pak Marko…katuran paring pangandikan.

  28. Mathur nuwun pak Opoto, sudah lama pingin ngrusuhi ,nimbrung ngobrol tukar pikiran bahasa jawa ,mengenai sepeda kok ,ndilalah ngak sempet2 ,burger sangat menawan ,dan sexs ,paling identik ,slebor dengan lekukan kedalam ,di disain begitu karena kebanyakan yang memakai pastur ,atau suster yang menggunakan rok (kasaranya) agar kalau kehujanan air ngak kemana2 melewati talang tengah yang di slebor ,kalau burger yang di atas rancangan buat suster yang berbadan besar + tinggi ,juga buat jalan yang bergelombang ,buat kenyamanan si pengendara ,sepedanya termasuk orisinil ,ketengkas belah ,juga retro pedal ,dolltrap !! lebih pakem lagi dengan standart dobel ,karena identik burger yang slebor belakang buat pengunci standartnya ,termasuk langka di negara asalnya Pak !!

  29. Para Kadhang ingkang minulya,
    Saya coba periksa kembali referensi mengenai sepeda Pastur. Dari gambar sepeda pastur yang saya temui versi Burgers, Gazelle, Simplex, Gruno dan Phoenix, ternyata kesemuanya mengadopsi sadel heren. Memang terlihat “ganjil” atau “wagu” bilamana dikaitkan dengan kebiasaan kita melihat sepeda dames dengan sadel dames. Namun memang sebenarnya sepeda tersebut dirancang untuk dikendarai pria sehingga sadel juga harus tipe heren. Kemudian untuk masalah tiang frame, sepeda Phoenix adalah pemecah rekor karena menggunakan 4 tiang, sedangkan Gruno tetap menggunakan satu tiang sebagaimana sepeda dames pad umumnya. Nuwun.

    • wongeres OPOTO

      Wah, penelitian Pak Sahid yang sangat jeli dan menarik ini akan melengkapi wawasan kami para Opoters yang cenderung hanya mengikuti pemahaman awam (tapi lumayan massal). Artinya, meskipun barangkali salah, tetapi sudah kaprah. Seperti dalam mengkatagorikan sepeda Burgers pastur ini. Meskipun kami terbiasa melihat tokoh Arjuna yang adalah sosok ‘lelananging jagad’ itu juga berbadan kecil dan tindak-tanduknya halus bak perempuan, tetapi setiap melihat Burgers Deventer secara spontan kami akan menilai: cantik. Meskipun bodynya kokoh, stangnya torpedo!

      Pak Sahid, Gruno dames malah ada yang cagaknya dua ya.

      • Kang Wong, kalau dari bukti referensi, Gruno Pastur terbaca bercagak tunggal. Saya belum menemukan referensi Gruno Pastur yang bercagak dua. Artefak yang kita jumpai di lapangan kadang-kadang juga bisa menipu ketika kita tidak punya perbandingan pasti yakni yang terjadi pada merek sepeda dengan populasi kecil seperti PON, Wilhelmina, Dll. Seperti kasus spatbord SPG saya yang diperoleh dari Belanda dengan ciri fisik ditengah mencungul (kebalikan dari Burgers), itu ternyata spatbord Germaan. Namun Alhamdulillah sekarang sudah dapat spatbord orisinil meski bukan bawaan, SPG sudah mbodi seksi utuh kembali…he..he..he..

  30. @ P’ Sahid……………
    Setuju dengan pendapatnya diatas………..sesuai dengan bahasan diatas (Burgers Pastur) kalau melihat sumber dari Burgers ENR Rijwielen Prijslijst th 1931—-> mulai seri C, disitu jelas bahwa utk tipe Priesterrijwiel/Pastoor hanya untuk katagori Heren sedang dames tidak ada…(Gus Wong kok lali to?????? he..he…) ya memang menggunakan sadel Heren kalau ingin sesuai….tetapi dengan sadel dames pun wuuuiiiihhhh Mantep je Pak.
    @ Marco,
    piye kabare co…….??? piye Matchlesse? digoleki P’Sugeng Ps.Colombo…..

    • wongeres OPOTO

      Mas Suga, faktanya antara rencana peruntukan produk dengan sambutan pasar bisa saja berbeda to. Misalnya sepeda motor matic seperti Mio yang semula lebih dirancang untuk wanita atau ibu-ibu agar tidak ribet, ternyata malah disukai cowok-cowok ABG. Kalau sudah begitu, strategi marketingnya tidak perlu ngotot untuk meluruskan, tapi malah dijabanin.

      Nah, setelah tidak dikendarai para pastur, Burgers Deventer ternyata lebih banyak diminati para onthelwati yang cantik-cantik kok. Kata Mas Aat, yang terakhir ya waktu kongres Kosti kemarin. Makanya, sadel dames memang lebih serasi. Hehe…

      Tapi ini penting dan akan menegaskan lagi bahwa Burgers Deventer semestinya (paling tidak oleh pembuatnya) dirancang untuk pria!

      Mas, di tahun 1931 itu prijsterrijwiel sebenarnya juga nggak ada yang pakai rem torpedo ya?

      • @ Gus Wong……………
        Cara membacanya utk harga adalah : jika ada penambahan saja dikasih harga (misal nambah versn. SA dst), sedang spek standart-nya ya memakai tanda (-), sumonggo.

      • wongeres OPOTO

        Oh, begitu. Nyicil ayem…🙂

  31. Leres ngendikanipun pak sahid menawi burgers menika kagem pastur nggih sadelipun kedah ngagem sadel heren,tapi bro suga punya pendapat kalau sadel dames nggih luweh maknyus je….kalau saya amat amati kok sepeda ini mirip dengan yang di buku Zd Holland Speda Ladjoe,Napa leres nggih kagunganipun pakdhe Wongeres..Ah menyenangkan “jombang Kertosono ‘Iso nyawang gak iso ngrasakno”
    @Pak Sahid ; beberapa hari yang lalu saya mencoba sms bu sahid nanya falter..ah mungkin saya tak nabung dulu dapat jawaban dari bu sahid hehe..salam

    • wongeres OPOTO

      Hehehe… jebul masih memendam rasa pada Falter to.
      Mas beni, kalau yang di buku Speda Ladjoe itu sepertinya koleksi Pak Yulianto Mas.

      • @ Pak Beni, semoga tercapai apa yang diinginkan. Amien.

      • Iya nih pakdhe mendem jero,ya mudah mudahan tercapai kata Pak Sahid🙂 O berarti sedaya kangunganipiun pak yulianto to ? hmm..merinding

      • wongeres OPOTO

        Bukan, Mas Beni. Yang di Buku Speda Ladjoe itu setahu saya milik beberapa kolektor. Sementara yang diupload di blog Opoto ini tidak ada yang milik Pak Yulianto.

      • O mekaten? nggih pakdhe,lha percoyo menawi wonten mriki kagunganipun Demang demang potorono..la nggih mekaten to pakdhe? mosok koleksine pak yulianto diupload blog potorono? larang mbayare..hehe

      • wongeres OPOTO

        Bwetuul, Mas Benny. Tapi benar saya baru mikir, bagaimana caranya mengupload koleksi para kolektor yang bikin mrinding itu dalam sebuah buku yang komprehensif, tapi tanpa mbayar, malah saya yang dibayar idhep-idhep untuk membantu biaya cetaknya! Mungkin nggak ya Mas?

      • Mungkin pakdhe,apa sih yg di dunia ini g mungkin,semua bisa asal ada rembuge Hehe,malah saya kadang mikir juga mungkin gak ya ada edisi mingguan kayak motorplus tapi isinya onthel plus,wuuuss mantep pasti. Iklan dari bursa klithikan n dagangan sepeda,terus isi liputanmbahas sepeda yang marai kemecer n merinding (Ambil contoh kolektor A punya 50 sepeda,B 50 sepeda) kalau tiap minggu dibahas 2 sebulan 8 sepeda (g habis habis belum diambil kolektor yg lain),bisa dishare juga g cuma dari onthel tapi dari komunitas sepeda lain..(ah seandainya ada)🙂 Kadang kesulitan qt para onthelis hanya terpaku pada terbitan buku yang terbatas (Pit onthel,Indische fietsen dan speda ladjoe) kalau ud dibaca ywd bingung ntar minggu berikutnya baca apalagi ya? sampai2 sy bolak balik baca indische fietsen sampai kumal dan beli buku itu lagi..aarrgh Ywd hbs itu hari2 menikmati sepeda wordpress,klitikan pak yudi,blog potorono dan dol tinuku Pak Sahid..Ya kalau otomotif ada,motor plus juga ada..onthel juga bagian dari jalan raya…nyuwun ngapunten ulasanipun katah pakdhe..suwun salam

      • wongeres OPOTO

        Mas Beni, ya memang beda. Kalo motor plus kan tinjauannya ke depan. Sementara onthel ini tinjauannya ke belakang, meskipun konteksnya (mengapa kita menyukainya, apa dampaknya bagi generasi mendatang, dsb) tetap bisa ke depan juga. Motif dan agenda yang ada pada para kolektor dalam mengoleksi sepeda juga bermacam-macam. Kita tentu tidak bisa memaksa jika keinginan kita itu ternyata harus mengorbankan kepentingan mereka.

        Tapi, kabar baiknya, sepertinya akan segera terbit buku onthel dahsyat. Tunggu saja…

  32. Mas Suga ,baik2 mas ,saiki ngepit wae mas ,bosen numpak uduk bensin mundak xixixi,ngih salam kagem sedoyo ngih !!

  33. sepeda surga……

  34. @p.Rend,m.Noor…jadi ingat waktu “ngotong-otong” si molek ini…sepanjang jalan ketar-ketir adanya,takut kalau terjadi apa-apa…
    ana randha,dirubung laler…
    onthel-e priyayi Potorono,marai kemecer…!!!!

    • wongeres OPOTO

      Mas Yon, lha kok nggak pernah nengok Potorono? Kasian Simplex molek. Lelah menunggu, membilang waktu…

      • hehe..tapi saya yakin masih “mencirit” to mas..?? njih m.Noor,baru banyak acara keluarga….InsyaAllah lain waktu saya sowan,salam u/ rekan-rekan

      • wongeres OPOTO

        Ya masih Mas. Nggak dikutik-kutik. Mau ngganti vokal i jadi e juga nggak berani. Hahaha…

  35. Para Kadhang ingkang minulya…
    Hari Minggu 25 Juli mendatang akan kita gelar Jamuan Makan Malam bertajuk “OLDTIMER FIETSER SPECIAL DINER” bersama Tim De Oude Fiets Belanda di Kedai Kopi Thiam Jalan Sosrowijayan (Toko Bung Yudi Marcopolo ke barat sedikit utara jalan). Semua onthelis Jogja boleh ikutan hadir karena makan malam yang disajikan model “YARWE”.

    Para pecinta sepeda Fongers dan Gazelle akan kita pertemukan dengan Pakar Fongers Jos Rietveld dan Theo de Kogel ahli Gazelle. Don’t miss it…

  36. Oh ya ada yang kelupaan, direncanakan acara dimulai jam 19.00 s.d. 22.00 WIB.

  37. Gus Sahid, Gus Wong and Gus Rendra,Ontheler bener-bener ketemu Nara sumber yang sangat kompeten,Kalau acara beginian dimulai jam 19.00 sd 04.30 pagi hehehee….kayak dengerin Maestro Alm.Nartosabdo nyritain Werkudoro mencari punjering angin….never rubbering your neck!

  38. wongeres OPOTO

    Nyuwun pirsa, Pak Sahid: lha bagi Opoters yang cuma tahu bahasa Potoranan ini apakah bisa mengikuti apa yang dibicarakan para pakar? Bersediakan nanti Pak Dr Sahid Nugroho mentranslatenya ke dalam bahasa yang kami pahami?

  39. dengan kata lain boso wohwohan lah..

  40. Kang Wongeres. Sudah kami siapkan ada 3 translator yang akan bertugas menterjemahkan bolak-balik Indonesia-Inggris dan sebaliknya. Salam.

  41. Rangga Tohjaya - DeFoc

    Wah ……sumber “onthel” dari pakar pakar yg berkompeten…pasti sangat menarik dan sangat informatif……disini mungkin ada “direktori” tentang onthel………ikutan ahhhhhhhh…..tetapi saya akan menyambangi beliau beliau ini di Kebun Raya Bogor….tempat yg paling dekat…yg katanya disana beliau ini akan mampir……yok yok yok yok…….

  42. Wah mbayare pakai godhong klaras atau pakai uang gulden atau euro yarwene?

    • @ Mas bagus…………..
      mbayare yarwe, panganane pukwe…lan ketoke kabeh sak rego limangewuan……..mung jarene lho..(uuueennnakkk nan…teh pait, camilane balok lan gereh kinanthi..), sinambi nggrungoke poro winasis.

      • wongeres OPOTO

        Kalau model Potoranan, mendingan urunan aja. Belinya cukup satu porsi. Yang urun lima ribu makannya pake lima jari, yang empat ribu ya empat jari, dst. Mau urun berapa?

  43. Bro Suga kalau pas hunting onthel di Jogja, wajib hadir lho untuk mewakili salahsatu ahli Fongers dari Indonesia…

    Mas Bagus Majenun, sumanggah rawuh Mas, mewakili Pakar Burgers…

    Mudah-mudahan panitia dapat sponsor sehingga bisa menjamu tamu-tamu dengan lebih baik lagi.

  44. Kasinggihan Pak Sahid, sudah ngatur jadwal kantor mintal tanggal tersebut off piket alias tidak jadi zijnder dulu.

  45. whaduh jadi pengeeen..

  46. Wah kalau yang tinggal di seputar jakarta menurut Pak Sekjen Kosti tanggal 18 Juli,semoga bisa ngrawuhi,tapi mungkin luweh gayeng yang di jogja ya..sip sip sukseskan acaranya

  47. apa di belanda sering hujan, sehingga perlu talang air ?

    • wongeres OPOTO

      Mas Faj, pertanyaannya ditahan dulu sampai nanti ketemu Jos Rietveld dan Theo de Kogel saja ya…😛

  48. Pak Sahid, Minggu kan tanggal 24 Juli bukan 25 juli. Yang betul tanggalnya berapa atau harinya yng salah Pak?

  49. Nuwun injih Mas Bagus, ingkang leres Minggu 24 Juli 2011, Nyuwun pangapunten wonten lepat tanggal.

    Lokasi acara rencana dirubah tidak di Kedai Kopi Thiam, namun di tempat yang lebih sederhana agar terjangkau bagi semua segmen namun tetap lokasi yang asyik dan hangat, yakni di Resto Warung Botho (WB)Yogyakarta (ancer-ancernya Kampus UAD Ahmad Dahlan Jalan Janturan ke arah selatan terus sebelum perempatan jalan kecil di sisi kiri jalan (timur).

    Kula tengga rawuhipun para sederek onthelis Jogja ingkang saestu Istimewa…

  50. wongeres OPOTO

    Datang aaah… meskipun berbekal boso woh-wohan🙂

  51. Kang Wongeres nanti akan kami perkenalkan ke F4 sebagai tokoh pemerhati sepeda Fongers dari Yogyakarta, yakni salah satu pakar Fongers dari kota ini bersama Dimas Niko.

    • wongeres OPOTO

      Pak Sahid, jangan meden-medeni to. Ini sudah noto ati biar brani budhal, je. Saya hanya suka saja kok, bukan ahli. Bahkan mat juga belum…

      Kalau toh harus pakai klaim-klaiman segala, saya lebih pede sebagai pemerhati kedekatan manusia dengan sepedanya. Hehe…

      • Gus Wong ngendiko”……………pemerhati kedekatan sepeda…………..” Wah wah ini yang cocok cok cok dengan pikiran saya mengenanai ngilmu kejawen peronthelan. Ngonthel esuk2 turut ndeso mBantul kok maraake ati dadi ayem,adem.

  52. @ Wongeres, Pak Sahid & Mas Bagus Majenun…
    Menindaklanjuti rencana saya & Wongeres sewaktu kita ketemu di HUT Pak Sahid di Warung makan serba sambal, saya memprakarsai untuk mendirikan “BURJOIS”=Burgers Jogja Istimewa… bukan BORJUIS lho, he3x… Ini bukan paguyuban onthel baru… hanyalah wadah/klub penggemar sepeda bermerk Burgers… Semua penggemar onthel yg menyukai sepeda Burgers boleh gabung…Deklarasi masih menunggu waktu yg tepat… Yg penting kita sosialisasi dan selalu menggunakan sepeda bermerk Burgers di setiap acara onthel… Bravo BURJOIS!!!

    • wongeres OPOTO

      Mas Bagus, sebenarnya saya, Mas Aat, Mas Bagus Kurniawan, juga banyak teman lain sudah termasuk burjois lho. Kongkow-nya biasanya di sekitar makam Kotagede, tepatnya di depan warung burjo Sidosemi…😀

  53. @ Den Baguse Podjok…
    Ini evolusi tahap kedua dari komunitas sepeda onthel Indonesia, kita mulai dengan Burjois, nanti disusul Antieke Gazelle Bond yakni komunitas penggemar Gazelle tua seri 5 ke bawah, SCC (Simplex Cycloide Club), OFK (Oldtimer Fongers Klub)…

  54. @ Mas Wongeres & Bagus Kurniawan,
    Ayo kita sosialisasikan “BURJOIS” dan selalu menggunakan sepeda merk Burgers di setiap even onthel… Kalo perlu kita adakan tur Burgers secara rutin setiap sebulan sekali gimana mas?

  55. oke mas siap matur nuwun sekali

  56. jumantara…

    To..Opoto/sahid nugroho
    mau tanya saya punya sepeda burgers wandu dengan ciri2 framenya di sebelah kanan bawah sadel terdapat no serinya tanpa di awlai dengan huruf H/K/C/B….tetapi di depan leher frame ada juga no serinya di awali huruf D……Hub depan atom 36 blakang terpedo velostel 40,gir YY, katengkas Plengker,Stang Palsu…yang saya tanyakan apakah Sepeda saya termasuk sepda Burgers apa Bukan…..Mohon penjelasannya ataou siapa saja yang tau tentang sepeda burgers tersebut ?????????????? thanks

  57. Opoto.., selalu hadir dengan kisah2 yg sangat menarik. Sukses and keep Gowes selalu. best regards.
    Ayo ngonthel malem…mumpung gak ujan neh.

  58. RM. WALET PUTIH

    kulo kagungan Burgers Heren 24an, sinten ingkang butuh

  59. Wah foto foto bapak bapak Opoto dan tidak lupa Pak Sahid masuk di detik foto pas njamu Mr Jos Rietveld de oude fiets,Pak Nur dengan seragam orange plus blangkon khasnya,wah pasti ramai n gayeng ya acaranya..salam

  60. Mas Beni, terima kasih infonya. Saya sudah lihat juga:
    http://foto.detik.com/readfoto/2011/07/25/173613/1689111/157/4/

    Matur sembah nuwun untuk Rama Bagus atas liputannya.

  61. Salam Deventeris,,
    Sepeda yang cantig.. oya, Burgers ini seri hurufnya apa ya mas? bellnya menurut saya aga mudaan dikit di bandingkan dengan lampu dan dinamonya..:-)
    sekedar klarifikasi.. untuk sepeda Burgers pastor yang ada di buku speda ladjoe itu adalah milik pa Azhar Y, itu benar dan yang satu lagi milik pa Dhe(tit,, off the record hehe..) beliau tidak ingin dipublikasikan. Beliau penggemar fanatik Burgers sudah sangat lama, terakhir beliau saya carikan kunci ENR, sekarang baru ngincer hub roda ENR, ya semoga saya tetap bisa mendampingi untuk membuat sepeda itu “utuh”. Oya ini ada email dari temen tentang Burgers, semoga bermanfaat.

    Het klopt, de letters geven ongeveer het bouwjaar aan. Een exacte lijst voor
    Burgers bestaat niet, maar wat we weten is
    Jaar Letter
    1930-1936 C
    1937-1950 E
    1936-1940 R
    1950-55 H
    1955-58 K
    1956-1961 S
    Binnen een letter werd op volgorde tot 99.999 genummerd: dus b.v. van C1 in
    1930 tot C99999 in 1936. Maar de aangegeven jaartallen kloppen niet precies,
    het kan altijd een paar jaar ernaast liggen. En soms staat er ook nog een
    tweede letter of de framehoogte in het framenummer, b.v.: C 55 21552 (=
    C21522 met 55 cm framehoogte) of AR 29832. Burgers is lastig te dateren.

    Banyak Temen2 yang mengira bahwa burgers dames selalu meiliki 2 penyangga padahal tidaklah selalu demikian, Sekarang banyak juga yang memburu Burgers dames penyangga satu, bahkan sudah di temukan bahwa spatbord Burgers tidak selamanya model talang air. Semua ini menambah keunikan speda Burgers, Saya berharap teman2 mau share seandainya menemukan speda Burgers dengan bentuk atau kontruksi yang aneh, Sampai sejauh ini belom ditemukan data-data sepeda burgers yang mendekati otentik, khususnya tentang bentuk dan onderdil.

    Demikian curhat saya hahaha…

    Salam deventeris
    didi

    • wongeres OPOTO

      Mas Didi, terima kasih dan maaf terlambat merespon karena bersamaan postingan baru (akhirnya kita berjumpa di sini, setelah jumpa darat di Vredeburg tempo hari).

      Kadang merahasiakan sedikit untuk kebaikan itu boleh ya? Hehe… Tentang bell sepeda ini memang dipasang kemudian Mas. Ada yang lebih baru, tapi biarlah, setidaknya kondisi/penampilannya yang ini tampak lebih seumuran.

      Mas Didi sudah menemui Pak Theo de Kogel belum? Selagi dia di Indonesia lho. Amsterdam-Java mesti bisa berdiskusi toh. Haha… Agaknya dia juga suka Burgers sehingga mungkin saja bisa memberikan banyak informasi.

  62. iwan dodotiro

    Singgah di OPOTO seperti belajar tata bahasa yang santun tetapi tetap berilmu hangat akrab ,sungguh menentramkan hati!

    • wongeres OPOTO

      Lha iya to Mas Iwan, blog angkringan ini akan mampu menambah ilmu kita semua kalau para angkringers yang singgah berkenan membagi pengetahuannya. Silahkan…

      Maturnuwun atas apresiasinya.

  63. ulasan yang menarik pak nur…saya menunggu ulasan speda pastur yang lainnya
    salam…

  64. Mohon Bantuan!!!!!!!!!!!!!
    ada yg tahu ga klo sepeda onthel no serinya ada di sebelah kiri terus dibacanya dari atas ke bawah s1247L , n d bawah breaket ada tulisan made in germany as kroncong besar, kira-kira itu mers sepeda apa ya????????????????
    gmbar lbh detailnya silahkan klik di http://pecintaonthelperumbalokang.wordpress.com/komunitas/mohon-bantuan-para-onthelis/

    • Wah, sepeda Jerman di Potorono sangat jarang Mas. Mohon maafkan keterbatasan pengenalan kami atas sepeda tsb. Barangkali teman-teman Jerman mania bisa membantu?

  65. wuuaahh mirip sepeda nenek di desa…

  66. Nuwun sewu pak mau ikut gabung nih,saya membutuhkan asesoris untuk sepeda BURGERS jantan seri K 9339,asesoris berupa: Slide board ( dpn & blkng ),katengkas,lampu ( dpn & blkng ),emblem BURGERS,kira2 dmn bisa saya pesan ? Suwun….

  67. Oo iya,klo ada info ttg asesoris BURGERS mohon hub saya di ph: 0852 7770 5575

  68. Teman-teman yang sekiranya bisa mengobati keresahan hati Pak Teguh, silahkan kontak langsung.

  69. Ping-balik: THE LEGEND OF BURGERS PRISTERRIJWIEL « KOSTI KABUPATEN KENDAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s