Mural, Moral, dan Wisata Kali Code

Tak ada yang tak mungkin. Yang ada adalah, apakah kita mau mewujudkan segala kemungkinan yang akan membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Tekad, semangat, dan komitmen serta kesediaan bekerja keras, mampu mengubah apa yang tadinya kotor dan kumuh hingga harus disingkirkan, menjadi indah dan dibanggakan.


keindahan di bawah jembatan Sayidan

Kali ini, kami bukan sedang bercerita tentang bagaimana kami merestorasi rangka-rangka sepeda onthel tua yang kami rakit kembali menjadi kendaraan kebanggaan seperti sering kami lakukan. Melainkan, kami sedang melaporkan apa yang kami lihat ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel ke kali Code, salah satu sungai yang mengalirkan air dari kaki Merapi membelah kota Jogja.

nyoto selagi sepi

Tidak seperti biasanya, Minggu pagi, 1 Agustus 2010 itu, hanya ada dua sepeda yang terparkir di depan pos Opoto. Artinya, hanya ada dua orang yang siap berangkat ngonthel. Apa boleh buat. Berdua kami mengayuh sepeda menuju jalan Mataram. Akan tetapi, ketika baru sampai perempatan Rejowinangun, mata kami tertuju pada sebuah warung dengan banner bertuliskan huruf-huruf dalam warna cerah: Warung Soto “Pak Min”. Sepanjang pengenalan kami, warung ini selalu ramai, bahkan penuh sesak oleh pelanggan. Kenapa sekarang sepi, bahkan lengang? Mungkin karena masih terlalu pagi. Berdua kami saling berpandangan, dan begitu saja tercipta sebuah persetujuan: kami mau nyoto dulu, selagi belum banyak pembeli!

Keputusan kami tidak salah. Setelah masing-masing menghabiskan semangkuk soto dan segelas teh panas, para pelanggan mulai berdatangan membuat kursi-kursi di sekitar kami segera penuh terisi. Perut kenyang dan badan yang terasa segar telah menambah semangat kami melanjutkan perjalanan.

Kali Code, mengalirkan air dari kaki Merapi

Masuk dari jalan Mataram, kami membawa sepeda kami lewat gang kecil hingga sampai di kawasan hunian khas di bantaran kali Code yang pagi itu terlihat sibuk. Beberapa pemuda-pemudi yang ternyata para mahasiswa KKN dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta menjelaskan kepada kami bahwa mereka sedang mendata para peserta lomba mural yang digelar dalam rangka perhelatan Suryatmajan  –Telusuri Yogyakarta Lewat Mural dan Jajanan, di samping juga untuk menyambut peringatan hari kemerdekaan RI Ke-65. Selain menghadirkan pelukis tamu, lomba itu banyak diminati para pemuda-pemudi setempat.

kesibukan menjelang acara seremonial

Sambil menunggu acara seremonial usai, kami berjalan menyusuri gang-gang hingga di bantaran sungai di wilayah Suryatmajan, kecamatan Danurejan. Bercerita tentang kali Code, kami tak akan bisa melupakan sosok YB Mangunwijaya, seorang arsitek, novelis, budayawan, dan juga seorang rohaniawan. Pada tahun 1980-an, saat pemerintah kota berada dalam kebimbangan mengatasi hunian liar dan kumuh di bantaran sungai ini, YB Mangunwijaya tampil dengan solusinya yang kontroversial, tetapi arif dan cemerlang.

melukis mural, mengekspresikan pesan budaya dan moral

Dengan menggugah kesadaran para penghuni, YB Mangunwijaya telah menata mental dan membangun harkat serta martabat mereka sebagai warga yang memiliki harga diri dan kepedulian terhadap lingkungan. Dengan contoh-contoh konkret, ia merancang arsitektur sederhana dan menyulap bantaran kali Code di sekitar jembatan Gondolayu menjadi kawasan hunian yang elok dan terkonsep dengan baik.

semakin dekat, semakin cantik…

Dalam pengamatan kami, kawasan Suryatmajan pun memiliki semangat untuk mengubah sesuatu yang secara umum dipandang sebagai kekurangan menjadi sebuah kelebihan. Jika bagi kebanyakan orang tepian sungai itu identik dengan kekumuhan, sebaliknya warga di sini membuktikan betapa pemandangan sungai dengan gemericik airnya justru menciptakan suasana hunian yang spektakuler dan tak biasa. Jarak antar-rumah yang bagi orang kebanyakan akan memunculkan kesan sumpek, di kawasan ini bahkan dihayati sebagai bentuk keakraban dan kebersamaan. Gang-gang kecil yang ada justru menjadi perpanjangan teras bersama yang sah-sah saja untuk dipergunakan di saat dibutuhkan. Siang itu, seorang ibu menggoreng beberapa ekor ayam di mulut gang untuk mempersiapkan acara syukuran.

anak-anak sehat dan ceria

Suasana kebersamaan terasa sangat kental. Seorang kanak-kanak dan ayahnya, sepasang muda-mudi, dan seorang tua kami lihat melakukan aktivitas masing-masing di dekat sumur sambil saling bercakap. Beberapa kanak-kanak lain tampak berlarian dan bermain bersama dengan riangnya. Penampilan mereka pun bersih dan sehat. Selain fasilitas bersama untuk MCK, gardu ronda dan posyandu yang rapi juga mengesankan keteraturan dan ketertataan kehidupan sosial mereka.

anak-anak sungai

Ketika para muda-mudi mulai melukis mural di talud sungai yang telah dikapling-kapling, semua orang, tua-muda tampak mengapresiasinya dengan penuh kegembiraan. Beberapa kanak-kanak mengaguminya dengan penuh rasa ingin tahu, lainnya menikmati dengan asyik bermain air di tengah keramaian yang ada.  Dalam sekejap, talud sepanjang tepian sungai yang semula kering gersang telah menjadi kanvas bersama yang tak hanya menggoreskan bentuk dan komposisi warna nan indah, tetapi juga mengekspresikan aneka kecintaan, pesan budaya, serta moral.

fasilitas umum yang tertata

Hampir seharian kami terkesima oleh pemandangan tak biasa ini. Selain dengan warga setempat, kami juga ngobrol dengan mahasiswa yang tengah KKN di sana, juga dengan pemuda FKPM Mataram yang ikut berpartisipasi menjaga ketertiban dan kelancaran acara.

KKN dan FKPM, membaur bersama

Setiap hari, kami dan entah berapa ribu warga kota Jogja lewat di jembatan Sarjito, Jembatan Gondolayu, atau Jembatan Sayidan. Tetapi, rasanya kebanyakan tidak mengenal betul kawasan Code yang sebenarnya. Rupanya, kawasan ini menyimpan berbagai keindahan, kearifan, dan semangat kebersamaan. Bahkan, konon kawasan ini akan diwacanakan sebagai tempat wisata, karena selain keunikan lokasinya, aneka kerajinan serta kuliner khas karya warga setempat dipandang cukup potensial untuk menarik  minat wisatawan.

di tengah local harmony…

Saat kami beranjak pulang, sambil bergegas mendaki, rasanya kami sepakat dengan kata pepatah: tak kenal maka tak sayang….

44 responses to “Mural, Moral, dan Wisata Kali Code

  1. wah jadi kangen jogja ini pak.
    salam pak

  2. Meskipun hanya berdua, tetapi liputannya tetap ganas memikat…OPOTO pancen oye…

  3. Wahyu Supriyanto

    Pak Nur… ternyata code dapat menggugah rasa kamanungsan ya pak, berbalik sembilan puluh derajat dengan bantaran kali ciliwung…..
    jogja memang tak ada duanya..
    Selamat mununaikan Ibadah Shaum Romadhon… semoga Allah SWT melimpahkan barokah pada temen2 OPOTO
    salam dari Bogor ….

    • Wah, kalau Pak Wahyu ada bersama kami, pasti foto-fotonya akan jadi lebih indah🙂
      Sugeng siyam ugi, Pak Wahyu. Amien.

  4. heri agusti - DeFOC

    “MIRACLE OF THE ONTHEL” =keajaiban onthel, demikian kira kira analisa nalar kami tentang reportase ini Pak De, lha wong dari sebuah “onthel” kami bisa benar benar melintas jaman utk menikmati indahnya dunia. Benar Pak De Wongeres, kami ingat kpd Romo Mangun yg telah membangun “Girli = Pinggir Kali menurut istilahnya beliau kala itu. Hanya kami belum tahu persis kira kira DANA yg telah membuat pinggir kali Code tsb menjadi asri kira kira darimana ya Pak De ? Terus Pak De kemarin bertemu dg Sunan Kali Jogo nggak sih (dlm imajinasinya) he he he he sebab Kali aja ada yg Jogo lho………mari kita teruskan ibadah syaum kita dg tidak lupa……..ngonthel. Salam buat Mas Tono dan kerabat OPOTO lainnya. Nuwun.

  5. Kangmas Heri, sayangnya kami cuma berdua. Kalau saja ada Mas Bagus Kurniawan, cerita tentang suara kereta kuda melintas di malam hari bisa dibahas dengan menarik. Kalau ada Pak Sahid Nugroho, aspek ekonomi masyarakatnya bisa didiskusikan pula. Bahkan, siapa tahu beliau punya peta kuliner hingga di bawah jembatan ini. Kacang bawang Suryatmajan katanya enak. Hehe…

  6. seseorang biasa merubah sesuatu dari yang biasa menjadi lebih baik baik, tetapi orang luar biasa merubah apapun yang ada menjadi luar biasa. ini adalah penilaian saya terhadap liputan teman-teman opoto kali ini, tidak semua orang bisa melihat dengan jeli disetiap tempat mengandung keindahan kalau sudah diliput dari tmn2 opoto seperti ini baru merasakan bahwa sekitar kali code ternyata indah. salut atas liputannya yang mampu menghidupkan keindahan yang ada dan juga karena terutama bahwa nyoto menduduki acara pertama. ha ha

    • Sangat menginspirasi lho Mas Faj. Kalau merasa punya kekurangan, biasanya kita lalu berusaha mengimbangi atau menutupinya dengan menambah-nambah kelebihan. Tapi ini tidak. Langsung pada titik yang dianggap kekurangan itulah action pembalikan dilakukan. Sehingga, begitu berhasil, kekurangannya hilang dan berganti jadi kelebihan. Kapan-kapan Opoto perlu juga ke kawasan Gondolayu yang merupakan rintisan perjuangan YB Mangunwijaya waktu itu.

      Tapi ya kembali ke cara pandang, orang biasanya ‘sawang-sinawang’ yo Mas. Hidup soto!🙂

  7. Kacang Bawang yg dijual di toko kacang bawang di jalan Mataram belakang kantor gunernur DIY memang enak sekali. Menjelang lebaran ini pasti laris tokonya. bisa belim 250 gr, 500 gr atau satu kilo.

  8. Tetap Semangat !!

  9. Saya cerita rakyat atau folklore Lampor sudah tidak ada yang tahu lagi di sepanjang Kali Code seperti di dekat kampung saya di Surokarsan, Mergangsan anak-anak sudah tidak tahu lagi cerita pasukan Laut Selatan yang datang menuju utara ke arah gunung Merapi dengan suara gemerincing dan lampu aneka warna. Demikian pula di sepanjang Kali Kuning, Kali Opak cerita itu juga sudah redup.
    Kalau di kawasan kota, sangat maklum karena sekarang sepanjang Code lebih banyak didiami kaum pendatang. Sementara itu memori banjir bandang besar menghantam Kali Code hingga byk kampung yang tenggelam terakhir kali pada hari Sabtu, 4 Fabruari 1985. Setelah itu tidak ada banjir bandang Merapi menerjang kota karena di hulu sudah dibangun cek dam raksasa. Pasir Merapi pun sudah tidak lagi dirasakan sebagai berkah untuk warga Kali Code di kota sampai muara. Hal ini terlihat sudah tidak banyk warga Kampung Tungkak Karanganyar yang berprofesi sebagai pencari pasir. Pasir Merapi sekarang sudah diambil lebih dulu dari atas setelah ditampung di cek dam.

  10. heri agusti - DeFOC

    @Kangmas Bagusmajenun, cerita tentang Lampor (pasukan berkuda Nyi Roro) masih juga bergaung di tempat pak Lik saya (Kapten Ngatijo) di dukuh Kadisoka di dekat Candi Sambisari Yogya, tetapi yg sering menyaksikan ya itu para kawulo sepuh, bahkan beliau pernah menyaksikan sediri …..malam yg mencekam di sepanjang Kalikuning yg melintas di dukuh Kadisoka tsb…..tetapi yg Kawulo muda juga sudah mulai “cerita” tentang sepeda onthel….kena virus dari kerabat Podjok katanya……

  11. Kali Kuning, Code (Boyong), Opak adalah jalur utama pasukan Lampor. Memang kalau di sekitar kawasan utara (Sleman) di jalur ke 3 sungai itu legenda/Folklore tersebut masih ada. Sedang di kota Yogya sudah mulai hilang. Biasanya kalau pasukan itu lewat pas hujan disertai banjir kiriman. Sumangga kalau mau pengin lihat istilahnya warga lereng Merapi Ting (Lentera) hijau masih sering terlihat di kawasan Kali Krasak dan bedhog atas.

  12. @ seharusnya Gub DKI dan jajarannya bisa belajar banyak dari kali Code utk menata hunian wargadi bantaran Ciliwung Jakarta…

  13. heri agusti - DeFOC

    @Den mas Rendra, Bapak Fauzi Bowo sewaktu kampanyenya dulu juga sudah “nyombong”, kalau Jakarta banjir, serahkan ahlinya ( maksudnya beliau adalah ahlinya banjir) eh nggak tahunya setelah jadi Gubernur kalau ada banjir beliau cuman “nonton” doang….he he he ahli nonton banjir kata sebagian warga Jakarta yg ikut klelep kebanjiran…..di Indonesia tambah lagi satu pelawak yg nggak lucu, Lah kalau onthel, saya juga bisa bilang, serahkan saya ahlinya…..ahli ngelap onthel sampai mengkilap kinclong kinclong…..kalau soal “urusan perut”, serahkan ahlinya, ….Den Mas Sahid Sang Profesor multi talenta…..ha ha ha ha ha…jadi laper nih….

    • Bisa jadi beliau juga korban lho. Mereka yang dulu membisiki akan siap membantu mengantisipasi banjir ternyata malah pada ngacir? Hehe…

      Tanggal 17 Agustus lalu Opoters ngonthel malam bareng banyak sahabat onthelis dan mampir di rumah Ki Ledjar Subroto, maestro wayang kancil yang giat mengkampanyekan pelestarian lingkungan. Mending silahkan undang saja beliau dengan seperangkat wayang kancilnya. Pasti menginspirasi. Opoto siap jadi kontaknya🙂

  14. @mas Heri… padahal jakarta sama jokjakarta kan sama to…hanya beda di ” JOg” saja….. satunya daerah khusus dan satunya daerah istimewa.. mestinya pemimpinnya kan bisa saling berbagi ilmu… ( sok tau mode on)….hahaha.. bagaimana kalau kita kelompok onthelis Jakarta dan sekitarnya ajak pak Foke utk ikutan ngonthel di sekitar kali Code siapa tau bs jd inspirasi beliau dlm menata Ciliwung.. setujuu..

  15. Pergelaran wayang kancil di ndalem Karawang…🙂

  16. @mas Noer…sungguh merasa terhormat kalau bs nanggap pagelaran wayang kancil… tp msh takut kancilen krn ilmu pewayangan masih cethek banget je…hehehe… salam

  17. @ Rama Heri Agusti
    Wah mboten lho Pak…kula menika ahli kuliner pengawuran he..he..he..

    @ Pak Rendra
    Omong-omong tentang pagelaran seni. Saya akhirnya kesampaian juga akan main ketoprak humor bersama tokoh pelawak kondang Jogja seperti Marwoto, Yuk beruk dll…untuk acara Lustrum FEB-UGM September nanti. Ternyata susah juga akting ketoprakan he..he..he..

  18. @pak Sahid…wah selamat pak..kapan shootingnya…kalau bs direkam sendiri buat kenang-kenangan nanti sy minta copynya njih… setelah itu segera ketoprak onthelnya digelar …hehehe. salam

  19. wisata dengan ontel memang sangat menyenang kan he he hehe

  20. @Denmas Sahid, alhamdullilah panjenengan bisa main di ketoprak humor,bareng Mas Marwoto, kalau bisa sisipkan juga tentang onthel njih Pak dalam menggali senyum atau ketawa penonton. Selain di TKP, kira kira kami bisa menyaksikan di media menopo? Wah “selamat ” buat Denmas, anggap saja perwakilan dari kerabat onthelis njih.

  21. Hmm… Pak Sahid memang benar-benar pribadi multi-talenta dan multi-selera😀

  22. @ Rama Heri Agusti & Rama Wongeres

    Menika menawi saestu, Pak Walikota Herry Zudianto (Pelopor Sega Segawe) amargi taksih kaleres alumni FEB-UGM ugi nderek tumut Ketoprak Humor dados Pak Nggolo.
    Dados mangke saged kathah nyenthil prekawis sepeda onthel. Kula malah dados lingsem menawi badhe dipun pirsani para priyayi minulya kados Pak Heri Agusti kaliyan Pak Wongeres. Mangke malah mboten mungel he..he..he..

  23. Kalau Mas Sahid tidak berkeberatan saya pun ingin mendapatkan rekamannya dan bagaimana caranya supaya dapat itu rekaman, trims Mas

  24. @pak sahid sy juga bade nyuwun copy rekamannya njih..nuwun..

  25. @ Pak Sahid, wah, belum main ketoprak udah pada booking copy DVD/VCD-nya… Gimana kalau sudah main,he3x… benar2x udah jd selebriti onthel…
    @ Pak Wongeres, meski hanya hunian sungai kalicode, ternyata setelah dikemas OPOTO bisa berbeda 180 derajat… Semoga Kalicode bisa menginspirasi kota-kota lain dlm menata hunian di pinggir kali…

  26. Waduh malah saya jadi malu ini he..he..he..mohon doa restu semoga nanti aktingnya lancar-lancar saja he..he..he..

    Saya baru mulai menulis script supaya pesan-pesan lingkungan hidup khususnya kampanye kembali bersepeda bisa mengalir alami…dan mudah-mudahan tetap bernuansa lucu dan segar…

    Tokoh Baron Sekeber itu sebetulnya hanya dongeng saja, karena tidak ada referensi sejarah yang memvalidasi. Dongeng Baron Sekeber muncul di cerita Babad Pati….saya masih bingung akses yang akan saya gunakan apakah aksen Belanda atau mungkin ada saran dari para sobat?

  27. heri agusti - DeFOC

    @Denmas Sahid, Kalau Denmas didapuk dadi Wong Londo mestinya aksennya juga memakai aksen Belanda to, walaupun prosentasenya sedikit. Justru yg banyak pakai boso Jowo saja ( biar tambah lucu ) ……… katakan saja : orang Belanda tetapi lidah “pecel” atau lidah “soto”. Kami percaya bahwa Denmas punya sence of humor yg tinggi…..biasanya seorang pelawak adalah orang orang yg “pinter dan cerdas” seperti panjenengan. Kata kata yg salah ( atau diplesetkan) akan menjadi aneh dan….lucu…….yah maklum : ketoprak humor gitu lho………….semoga sukses….

  28. Ini kalau semakin panjang daftar permintaannya, Pak Sahid bisa mulai pasang tarif untuk pentas satu episode atau satu serial. Haha…

    Apa Pak Sahid mau didhapuk Baron Sekeber? Wah, lha harus mulai pasang softlens dan berlatih agak-agak genit sedikit. Hehe…

  29. @ baron sekeber naik onthel apa jaran sih… rasanya pas banget deh kalau onthel dibawa naik ke panggung sebagai titihane tuan baron… apalagi tuan Baron pakai kostum serdadu SS Jerman dengan logat londo…hehehe pasti seru… selamat pak Sahid..jd pengen nonton nih..

    • Apapun merek titihannya, Baron Sekeber akan suka kalau pakai sadel Lepper yang mendut-mendut, soalnya konon tokoh ini adalah mantan cowoknya Rara Mendut sebelum ketemu Pranacitra…? 🙂

  30. kpn2 hrs diadakan tour d’code pake gethek niy siapa tau dpt “barang kali” hehehe..🙂

  31. @pak nur
    hehehe…betul pak siapa tau mas lemus lg frustasi trus nesu2 buang brg2 koleksinya ke x-code lha rak lumayan to oleh “barang kali sing keli” hahaha🙂

  32. bukan pak yg bener barang kali teng krampul hehe…🙂

  33. humbermania defoc 0905

    tur suwun pakdhe wongeres,Penataan kawasan Code mengajari kita bahwa dengan kearifan lokal dan urun rembug warga serta peran pak Wal-kot plus ide ide visual -disain arsitektur-sipil dll dari seniman dan akademisi rasanya tidak akan terwujud dalam sekejap.Memori saya melayang kepada alm Romo Mangun yang telah meletakkan pondasi penataan kawasan ini,Kota kota besar khususnya Jakarta mustinya belajar banyak dengan kearifan ini.Mereka terlalu arogan dengan menggelontorkan program2 fisik,sementara penghuni di bantaran2 kali tidak merasa “diuwongke”,sekali lagi tur suwun pakdhe

  34. saat ini saya domisili di jogja,tp jujur lum pernah menjelajahi kali code sejauh foto2 di atas, huh jadi pengen,hehehe..dulu pernah jalan2 di bantaran kali code tp hanya di ujung di jalan sudirman, yg banyak orang usaha mengumpulkan sampah🙂

  35. RAJA Sepeda Onthel

    Mantap mas…
    Hidup Sepeda Onthel..

    Kalau pingin menambah koleksi nya silahkan hubungi saya saja, jika ingin informasi lebih lanjut buka saja blog saya.
    RAJA Sepeda Onthel | http://jualsepedaonthel.wordpress.com | 081 333 8411 83

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s