Menghirup Nafas Zaman di Warungboto

warung-boto-001Situs Warungboto

 

Idealnya, kebutuhan lahir maupun batin hendaknya mendapatkan pemenuhan secara seimbang agar manusia dapat hidup dengan sehat dan bahagia. Akan tetapi, saat populasi manusia semakin banyak, sementara lahan yang tersisa untuk hunian menjadi semakin sempit, hidup kadang hanya jadi medan pertaruhan untuk bisa memiliki sepetak tanah hunian bagi sekeluarga.  Itu pun diraih kalau perlu dengan mengabaikan banyak aspek batiniah. Kehidupan lalu lebih banyak tersita melulu untuk memenuhi aspek fisik semata.

Oleh karena itu, acara ngonthel Minggu pagi bagi kami komunitas Onthel Potorono (OPOTO) merupakan salah satu momentum  penting dalam menjaga keseimbangan lahir batin. Selain berolah raga menjaga kebugaran fisik, kami juga bersilaturahim dan menafkahi kebutuhan batin dengan menikmati keindahan alam yang dianugrahkan Tuhan. Sambil menikmati semangkuk soto, biasanya kami juga mendiskusikan banyak hal sehingga menambah pengetahuan.

warung-boto-002Menyeberang Sungai Gajahwong

 

Di bawah langit cerah membiru, Minggu pagi itu kami ngonthel berlima ke arah kota. Menyusuri jalan Wonosari, kami segera sampai ke Rejowinangun. Tapi kami sengaja mengambil rute memutar lewat bonbin Gembiraloka agar bisa berfoto di jembatan sungai Gajahwong sebelum kemudian menuju jalan Veteran lewat depan perempatan SGM. Tujuan kami adalah mengunjungi situs Warungboto. Konon, situs ini sudah kembali cantik setelah melalui sekian tahap pemugaran.

warung-boto-003Semangat baja para onthelis

 

Karena jaraknya tak begitu jauh, kami pun segera sampai. Ternyata benar. Kompleks situs yang terdiri atas pagar keliling dan bangunan pesanggrahan ini sudah bersih dan menarik. Menginjakkan kaki di pelatarannya yang asri membuat kami serasa pulang kampung. Teduh, alami, dan bersahaja.

Dinding-dinding bata tebal tanpa struktur kayu yang membentuk bangunan pesanggrahan itu di bagian depan tampak mulai ditumbuhi lumut-lumut sehingga membentuk tekstur yang begitu khas. Meskipun tanpa ukiran di pintu dan dindingnya, secara umum situs ini bahkan mengingatkan kami pada pemandian Tamansari.

warung-boto-004Labirin yang cantik

 

Situs Warungbata yang dahulu dikenal sebagai pesanggrahan Rejawinangun ini dibangun pada tahun 1785 oleh KGPAA Hamengkunagara, seorang putra mahkota yang memang dikenal suka membangun pesanggrahan. Putra mahkota ini pada tahun 1792 naik tahta dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Sebagaimana umumnya pesanggrahan yang menjadi  tempat beristirahat raja dan kerabat, pesanggrahan Rejawinangun pun dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang menunjang kenyamanan dan ketenangan seperti taman dan pemandian. Di sebelah barat bahkan terdapat ruang pengimaman semacam mushola lengkap dengan mihrabnya.

warung-boto-005Kawasan situs Warungboto

 

Di sebelah timur ruang pengimaman, pada ketinggian tanah yang lebih rendah terdapat dua kolam pemandian. Satu kolam kecil mirip jacuzi tempat beradanya mata air di sebelah barat, dan satu lagi kolam lebih besar yang menampung aliran mata air tersebut persis berada di sebelah timurnya. Mengingat keberadaan banyak ruang yang dihasilkan oleh dinding-dinding tebal tersebut, sepertinya pesanggrahan ini juga dirancang dengan mempertimbangkan fungsi keamanan atau pertahanan.

warung-boto-006Pemandian keluarga raja

 

Dahulu, bangunan pesanggrahan ini menempati area yang luas membentang dari sisi barat hingga sisi timur sungai Gajahwong. Tetapi, saat ini yang dapat kita jumpai hanya sebagian bangunan saja di sisi barat, yaitu yang berada di wilayah Warungbata. Itulah sebabnya situs ini kemudian lebih dikenal sebagai Umbul Warungbata. Di sebelah utara dan selatan situs ini berbatasan dengan pemukiman, sementara di sisi timur berbatasan dgn sungai Gajahwong, dan sisi barat berbatasan dengan jalan Veteran.

warung-boto-007Opoto di Umbul Warungboto

 

Puas menikmati suasana dan berimajinasi membayangkan betapa nyaman tetirah di tempat luas dan asri seperti ini, kami pun beringsut keluar dari situs dan menghampiri sepeda onthel masing-masing. Hari sudah terlalu siang, terutama untuk sarapan. Kami segera mengayuh sepeda kami dengan target menemukan warung soto terdekat yang searah jalan pulang. Untunglah, setiba di barat pertigaan Rejowinangun kami melihat warung soto ayam “Pak Min” di tepi jalan. Tanpa dikomando, kami pun segera memarkir sepeda dan menyantap semangkuk soto panas yang segar dan segelas teh manis yang membuat badan terasa “kemepyar”.

warung-boto-009Opoto dan nyoto

 

Selepas memuaskan lapar dan dahaga, kami kembali mengayuh sepeda onthel kami dengan sebisa mungkin menghindari jalan raya. Kami memintas lewat jalan Nyi Ageng Nis, lalu lewat gapura Kotagede ke timur. Di sepanjang jalan yang kami lalui, kami melihat penduduk desa tengah bergotong-royong membangun gorong-gorong dan selokan. Mereka perlu mengantisipasi musim hujan dengan debit air yang semakin lama terasa semakin besar sehingga menimbulkan banjir di sana-sini.

Di kawasan Kotagede, sebelum menyeberang ke Ngipik, kami sempat berfoto ketika menjumpai bangunan rumah susun yang menjulang, tempat ratusan keluarga berlindung berbagi lahan. Jemuran pakaian warna-warni tampak menghiasi semua teras dan balkonnya yang menghadap arah matahari, menyiratkan semangat kebersamaan menyongsong kehidupan esok pagi. 🙂

warung-boto-010Rusun kebersamaan

 

Sesaat sebelum sampai Potorono, ketika memasuki kawasan Ngipik, kami kembali melihat sebuah perubahan. Pasar Ngipik yang dahulu lebih mirip pasar tiban dengan bangunan semi permanen, kini telah berdiri luas dan megah, menjanjikan sebuah proses transaksi antara penjual dan pembeli dengan lebih nyaman.

warung-boto-011Pasar Ngipik yang baru

 

Hidup begitu dinamis. Manusia terlihat terus berupaya menyiasati zamannya. Yang terasa  kontras dari apa yang kami lihat sepagi itu adalah bahwa dahulu manusia bebas berkreasi menaklukkan dan memanfaatkan belantara yang luas untuk kenyamanan hidupnya, sementara kini manusia berkreasi untuk memanfaatkan lahan yang makin sempit agar dapat dioptimalkan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Agaknya setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Dan yang bisa kami lakukan kemudian adalah mengalir mengikuti arus zaman tanpa harus terhanyut oleh zaman itu sendiri. Orang Jawa menyebutnya “ngeli nanging ora keli”. Artinya, dalam siatuasi apa pun, hendaknya kita masih menjadi subjek bagi diri kita sendiri, bukan terpuruk menjadi objek permainan zaman semata.

 

***

Tulisan ini didedikasikan kepada rekan-rekan onthelis yang terus menyemangati kami untuk kembali membagi kisah-kisah perjalanan ngonthel kami. 

Keluarga Onthel Potorono juga menyampaikan
Selamat Idul Fitri  1438H.

Mohon maaf lahir-batin.

 

Iklan

5 responses to “Menghirup Nafas Zaman di Warungboto

  1. wongeres OPOTO

    Pak Yos, maturnuwun sudah ngonthel jauh-jauh dari Klaten hanya untuk menyambangi dan menyemangati kami. Nanti setelah lebaran kita agendakan ngonthel bareng ke PG Gondang nggih…

  2. Maturnuwun Pak Noer untuk artikel Opoto Go to Warungboto yang akhirnya naik tayang juga setelah melewati masa penggodogan secara seksama :p
    Narasinya begitu mendetail, mendalam, dan penuh makna. Gambar2nya juga joosss, tone warnanya tajam, feel-nya dapet banget 🙂
    Semoga yang Taman Sari segera tayang juga.. wkwkwk.. :p Lalu kita lanjut mengeksplorasi lokasi eksotik yang lain 😀

    #ngeli_ning_ojo_keli

    • wongeres OPOTO

      Weleh…weleh…
      Iya, maaf. Kemarin uploadnya terkendala wannacry. Hehee… Trus ada Pak Yos yang jauh2 ngonthel hanya untuk menanyakan kok Opoto lama tiada (b/c)eritanya. Tamansari menyusul. Berikutnya kita ke Gondang yuk. Mas Tono, Mas Bagus, Pak Agung Max, dll sudah ok tuh…

  3. Kangen dah lama absen nin dr peronthelan opoto…., Semoga hbs lebaran bs join ikut ke gondang…..😂😂😂😂😂

  4. wongeres OPOTO

    Horeee… onthel Jerman Pak Heru bakal dapet jodoh nih. Ayo keluarin lagi…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s