Candi Sojiwan: Perwujudan Cinta yang Mengatasi Perbedaan

Opoto di candi Sojiwan

Cinta berkali-kali terbukti mampu mengatasi perbedaan. Bukan hanya cinta dan perbedaan pada suami-istri, tetapi juga cinta dan penghargaan atas perbedaan latar belakang, selera, serta pemikiran dalam satu komunitas. Lebih luas lagi, cinta pada Sang Pencipta akan mampu memelihara perdamaian semesta.

Minggu pagi 15 Juli 2012, ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel ke utara, perwujudan cinta yang mengatasi perbedaan itu kembali kami temukan di kompleks candi Sojiwan. Ngonthel pada pekan terakhir sebelum Ramadhan menjadikan perjalanan pagi itu terasa sedikit sentimentil. Justru karena kami sengaja meluangkan waktu untuk perjalanan kali ini, maka meskipun hanya berlima, perjalanan kami begitu santai dan tanpa beban. Dengan banyaknya alternatif jalan yang bisa kami lalui, rute perjalanan Potorono-Prambanan yang sudah kami tempuh entah sudah berapa puluh kali itu nyatanya masih mampu memberikan pengalaman perjalanan yang selalu berbeda.

pagi secerah hati kami

Jalanan aspal mulus berkelok, hamparan sawah di kanan-kiri, parit-parit dengan gemericik airnya yang bening, serta rumah-rumah sederhana dengan halaman dan kebun yang luas adalah sebagian pemandangan yang selalu kami temui. Di sudut-sudut desa, para warganya rutin melakukan kerjabakti seperti memotong semak dan rerumputan di tepian jalan atau membersihkan dan membenahi parit yang mulai dangkal oleh dedaunan dan endapan. Beberapa jalan yang berlubang diisi dengan batu, dipadatkan, lalu di atasnya diberi bongkahan sisa aspal. Di atas aspal itu mereka letakkan beberapa tempurung dan sabut kelapa, lalu dibakar. Bongkahan aspal di bawahnya akan meleleh dan menutup lubang dengan baik. Ketika kami melintas meminta jalan, warga desa itu mempersilahkan dengan senyum ramah sambil memuji sepeda-sepeda kami sebagai sepeda tua yang bagus dan terawat. Mungkin hanya basa-basi. Tetapi, hari gini, di luar sana mungkin juga sudah tak banyak lagi orang yang mau berbasa-basi hanya untuk menyenangkan orang lewat.

pria berselera (makan) ๐Ÿ˜€

Tak jauh lagi sebenarnya kami akan sampai di candi Sojiwan. Tetapi matahari sudah terlalu tinggi untuk menunda sarapan sehingga ritual nyoto harus didahulukan. Kami pun sarapan. Mungkin karena terbawa suasana sentimentil, pagi itu mangkuk-mangkuk soto kami lebih cepat tandas dari biasanya. Bahkan ketika piring ketiga berisi tempe goreng hangat dihidangkan di meja kami untuk menggantikan dua piring yang sudah kosong, beberapa pelanggan lain tampak mulai cemburu, mungkin juga heran dengan selera makan kami pagi itu. Yeah, untuk sebulan lamanya kami akan meninggalkan ritual ini.

candi Sojiwan dari sisi timur laut

Selepas nyoto, kami segera menuju candi Sojiwan. Rute termudah menuju candi ini, jika dari Jogja, sesampai di gapura perbatasan Prambanan silahkan berbelok ke kanan. Jalan inilah yang setiap hari pasaran Pon dan Legi dikenal sebagai pasar sepeda dan klithikan Prambanan. Begitu menyeberang rel KA, ada sebuah pertigaan. Setelah berbelok ke kiri (timur) kira-kira 300 meter, di kanan jalan kami melihat sebuah candi berdiri megah di area yang terbilang luas. Di puncak candi setinggi 27 meter lebih itu terlihat sebuah stupa besar yang rapi dikelilingi oleh stupa-stupa kecil. Inilah candi Sojiwan. Dinamai demikian, karena candi ini terletak di Dukuh Sojiwan, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

penampakan serupa makhluk ghana

Di samping beberapa spekulasi lain dari para pakar, banyak pihak meyakini bahwa candi yang diperkirakan kurang lebih sezaman dengan candi Plaosan ini dibangun antara tahun 842 – 850 Masehi oleh Rakai Pikatan sebagai persembahan kepada istrinya, Pramodawardhani. Seperti diketahui bahwa Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya adalah pemeluk agama Hindu, sedangkan Pramodawardhani sebagai puteri raja Samarattungga dari Dinasti Syailendra adalah pemeluk agama Buddha. Pembangunan candi Sojiwan diduga juga merupakan salah satu upaya menjaga kerukunan di antara ummat beragama, khususnya Hindu dan Budha saat itu.

sebagian dari relief cerita fabel dari pancatantra/jataka

Ketika kami berkeliling, ternyata benar bahwa di bagian kaki candi Buddha ini terdapat beberapa relief cerita fabel (cerita binatang) yang bersumber dari cerita-cerita Pancatantra dan Jataka dari India, mirip dengan yang terdapat pada candi Mendut. Relief cerita fabel yang keberadaannya sudah tidak utuh lagi ini memuat berbagai ajaran moral dari agama Budha.

relief pada sisi kanan dan kiri luar tangga candi

Sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1813, secara bertahap mulai tahun 1950-an sudah dilakukan upaya rekonstruksi. Tragisnya, saat bangunan mulai berdiri, gempa Jogja 2006 kembali memporak-porandakannya sehingga harus dilakukan pemugaran ulang dan baru selesai pada bulan Desember 2011 silam. Kini, candi Sojiwan siap menerima kunjungan wisatawan.

kinari si makhluk surga, pintu candi, dan makhluk ghana

Sampai siang kami berkeliling dan duduk-duduk di sekitar candi sambil menikmati semilir angin. Hanya karena di rumah kami telah ditunggu oleh beberapa kewajiban seperti mengantar ortu kondangan, membelikan lauk untuk anak makan siang, dan berbagai tugas mulia lainnya, maka kami harus segera bergegas pulang.

menikmati keindahan

Di siang hari yang panas, perlahan kami segera mengayuh sepeda onthel kami ke selatan. Setelah melewati jalanan kampung, menyusuri tepian sungai kecil, dan menyeberang jalan Prambanan-Piyungan, kami kembali memasuki persawahan hijau di kawasan Berbah, Sleman. Meskipun angin terus berhembus menyeka keringat di sekujur badan, tak urung rasa haus kembali tak dapat ditahan. Apa lagi ketika kami bertemu penjual buah yang juga jualan es degan.

cinta kebersamaan

Segelas air kelapa muda di siang terik, meskipun diminum di tempat seadanya rasanya menjadi begitu berharga. Sulit menakar kenikmatannya, bahkan ketika harus dibandingkan dengan berderet minuman di kafe nan mewah. Barangkali benar bahwa kami harus rajin mengunjungi kutub-kutub kehidupan, kalau perlu yang paling ekstrem, agar kami semakin paham bahwa begitu banyak perbedaan yang berpotensi menebarkan berbagai jarak, tak lebih karena miskinnya perspektif atau sudut pandang kami. Semua kenikmatan, kebahagiaan, kebenaran, maupun keterbatasan, selalu melekat dan bergantung pada konteks situasi masing-masing. Ternyata semua itu sama, yaitu sama-sama berbeda dari yang lain. Maka, mengapa kita memilih gusar melihat perbedaan yang hanya akan merentangkan jarak, bukan menyemaikan cinta atas persamaan yang akan menciptakan harmoni?

secuil surga dalam segelas air kelapa muda๐Ÿ™‚

Setelah tegukan terakhir, kami segera membayar air kelapa muda yang begitu segar. Tak cuma bagi raga, tapi juga bagi nurani. Kami kembali melanjutkan perjalanan dalam semangat kebersamaan. Enam tahun sudah kami rutin bersepeda onthel seperti ini, dan selama itu pula kami terus saling berbagi.

Siang makin terik saat tanjakan terakhir kami lalui. Kampung Potorono tak jauh lagi….
***
Selamat berpuasa Ramadhan 1433 H bagi yang menjalankannya.

57 responses to “Candi Sojiwan: Perwujudan Cinta yang Mengatasi Perbedaan

  1. Ah… buka puasa hari ini sambil membaca blog dan nonton foto cowok-cowok keren…

  2. I'wey Onthelist

    Ada yang iri nih…. Sayang ga bs ikut ngonthel saat itu…..
    Ayo kapan “Next Planing”….? mudah2an ga ketinggalan kereta…….hehehehehe…

  3. I'wey Onthelist

    Pak Noer, segera dibikinkan Jadwal Ekspedisi candinya…. biar pada semangat….. wakakakak

  4. @ wah “munggahan” ngonthel yg mengasyikan sebelum ramadhan.. pilihan rute dan menu yg tepat, semangat dan kecintaan yg tepat pd sebuah kebersamaan pastilah jd bekal yg tepat utk mengarungi hari hari haus dahaga di bulan baik ini.. salam kangen buat sahabat ganteng2 Opoto.. ( sambil mencari cari sosok kecil mungil bersadel lebar..mas Max..kok ga nampak)>>

    • wongeres OPOTO

      Pak Rendra, Mas Max beberapa hari lalu baru ‘diangkat’ (kok kuat ya?) sebagai Pak RT di lingkungan kami. Masa jabatan diusulkan selamanya alias RT abadi, dan masa bakti diperbarui setiap 3 tahun sekali๐Ÿ˜€ Rak makaten to, Pak RT?

  5. semoga ada jadwal ramadhan ngonthel,ditunggu pak nur ?

  6. Kunjungan ke Candi Sojiwan adalah satu tujuan, tiga rute pulang yang berbeda dan sungguh mengasyikkan. Juara sprint Mas Aat. Beberapa relief Candi Sojiwan ada yang sama dengan yang ada di Candi Plaosan dan Mendut.Kita tunggu rute ngonthel malam hari pas sehabis tarawih atau sekedar jalan-jalan sore mencari menu buka puasa atau takjilan di masjid besar Kauman

  7. I'wey Onthelist

    Setuju mas bagus…. ayo bikin jadwal… ada ide?

    • wongeres OPOTO

      Mas Bagus jadwalnya persiapan ke tanah suci, Mas…
      Info: buah mulwo depan rumah saya sudah merah lho, tapi belum sempat ngundhuh, soalnya agak tinggi. Hehe…

  8. Punten Mas Wong buah “Mulwo” meniko buah punopo . . . . . matur nuwun

    • wongeres OPOTO

      Pak Subandi, buah mulwo itu sering disebut sebagai buah Nona (Annona reticulata). Karena memang masih satu kerabat dengan buah sirsak (Annona muricata) dan srikaya (Annona squamosa), penampilan buah mulwo bulat seperti srikaya, tapi ukurannya relatif lebih besar dan permukaan kulitnya lebih mirip sirsak. Kalau sudah masak warnanya merah seperti Burgers dames yang bikin gemes๐Ÿ™‚

      Daging buah di dalamnya seperti srikaya, rasanya relatif lebih manis, dan kalau sudah masak banget rasanya malah seperti tape singkong. Pohonnya setinggi pohon sirsak, tangkai buahnya besar, kuat, dan keras. Istimewanya, buah mulwa atau buah nona ini mengandung senyawa acetogenin yang berfungsi untuk dijadikan antikanker dan alkaloid yang bagus dikonsumsi bagi penderita gagal ginjal.

      Makaten…

  9. Betul Mas, Rute yg dahsyat. He Buah mulwo yg enak dan banyak manfaat

    • wongeres OPOTO

      Jarang yang nanam, Mas. Kemarin pas buahnya lebat banyak orang pada heran. Malah pada dikira mangga varietas baru.

  10. Mantap ….Hebat …..penjelasannya lengkap banget, tetapi terus terang saya belum pernah melihat buahnya, sepertinya di daerah saya tidak ada.
    Apalagi merasakan manis lezatnya buah Mulwo . . . . . . . . matur nuwun Mas.

  11. mas nur< mengaharap dot com saja siapa tahu bisa ngowes bareng teman teman kalau pas mudik lebaran. he he. walaupun terlambat selamat menjalan ibadah puasa untuk semua teman teman onthelis.

  12. selamat menunaikan ibadah Puasa buat semua temen onthelis dimana saja berada, @ mas Bagus saya setuju ngonthel sore/malam hari sambil nyari menu buka puasa di Kauman ,sebab saya dari Pelem Sewu tinggal ke utara dan pulangnya jalanya turun terus ke selatan JL.Paris. untuk buah MULWO selepas ngonthel itu saya tanya pak Noer ,pak itu buah apa to ? itu buah Mulwo mas tono kalau mau ngicipi saya punya tak kasihkan kulkas, ya boleh rasanya enak perpaduan antara srikaya dan sirsak putih empuk dingin karna dari kulkas ,untung pas saat itu belum puasa jadi saya bisa mencicipi yang disebut buah…Mulwo tersebut, matursuwun lho pak Noer.

  13. Opoto selalu keren…..selaaaalu keren….Gus Wong sih BUDAYAWAN !

    • wongeres OPOTO

      Kiai Blackmore, mungkin maksudnya BUDIDAYAWAN? Karena sukanya ambudidaya barang tuwa amrih rada pakra! Hehe…

  14. Wah wah….Unique Journey yang mengasyikkan Pakdhe Noer….:)

    Ngemeng2…kok kaos yang dipake pakdhe setiap ngonthel seringnya berwarna oranye ya???…Apakah ada ‘sesuatu’ yang ‘banget’ y….hehe

    Jare Wong Jowo bagian tengahan…kalo makan bareng pake SOTO itu pertanda tanggalnya tua pakdhe…Tapi kalo tanggalnya muda biasanya pake SATE…Punopo leres kados mekaten Pakdhe Noer ????…:)

  15. wongeres OPOTO

    Mas Furqon cengkeh geret lelancuring bawana๐Ÿ™‚

    Maturnuwun awit apresiasinipun. Ini malah seperti diingatkan: kaos Opoto memang sudah pada mbladhus! Hehe… saatnya bikin kaos lagi. Warna orange cuma untuk menyiasati agar penampilan Opoters setiap kali blusukan ke sawah, hutan, dan candi tetap kontras.

    Soal soto itu hampir benar. Tapi tepatnya adalah: kami makan soto bareng-bareng di tanggal berapa pun biar bisa terus berkuliner-ria sampai tanggal muda berikutnya. Kecuali ada undangan (baca: traktiran)!๐Ÿ˜€

    • Rangga Tohjaya

      Nyuwum ngapunten Pak De Wongeres…lama nggak nyimak, eh taunya saya nambah wawasan lagi nih : Candi Sojiwan…ada to? Wah Pak De sekarang nyambi jadi “tukang buah” njih ???? ah……masih sangat interesting lho…onthel dg kehidupan kami……..
      Oh ya Pak De….dg kerendahan hati saya informasikan bahwa mulai hari ini saya sudah mulai “dipensiunkan” sebagai punggowo negoro pada usia 60 thn (= pak Guru), artinya mulai hari esok 1 Agustus 2012 saya sudah mulai bekerja sebagai “ontheler sejati” sambil momong cucu …..doakan kami ya Pak Dhe agar bisa selalu “awet tua”…..onthel is my life………salam buat keluarga OPOTO …….nuwun…

      • Wah Pakdhe, selamat datang di dunia pensiun. Semoga semakin bahagia dan memberi makna lebih pada kehidupan. Kalau itu artinya perubahan dari ontheler paruh waktu jadi full time, ditunggu ngonthelnya di Jogja

  16. @ mas Rangga selamat menempuh Purna Bhakti, wkt ngonthel menjadi semakin leluasa ya..hehe @ Mas Wong , bagaimana cara mendapatkan bibit buar Mulwo ( Nona Susurata) apa di Jogja ada yg jual? , pengen banget menanam pohon buah ajaib itu, kebetulan saya sangat mengagumi Nona nona..heheh. salam

  17. wongeres OPOTO

    @Pak Dhe Rangga
    Selamat, Pak Dhe Rangga. Berarti sekarang siap ‘mandhita’. Doa kami semua, semoga panjang umur, makin produktif dan sehat selalu.

    @Pak Rendra
    Mulwo bukan buah favorit, masih kalah dari ‘kopi anjing’ yang tekstur pohon dan daunnya bagus dikoleksi. Tetapi kalau cuma thukulan saja nanti coba saya ndhedher lagi, kalau sudah tumbuh saya kabari.

    @ seluruh onthelis nusantara, ada wacana baru nih dari Kosti. Silahkan ngintip acaranya di sini:
    http://jobfestival.wordpress.com/about/

  18. I'wey Onthelist

    Gimana nih Planning ngontel Malamnya…..?

    • Malam Minggu ya, pkl 20.30. Kumpul di pos. Siapkan sepeda yang aman di keramaian. Jangan lupa pasang lampu depan-belakang. Mas Tono bisa ikutan nggak ya? Jam segitu kan ‘prime time’ bagi tokonya. Hehe…

  19. @Mas Aat…terima kasih doanya, kangen saya utk ngonthel bareng OPOTO di Yogya ndeso yg jalannya super aspal mulus, salam buat Pak RT Agung dkk
    @Pak Dhe…bener kata Mas Aat….saya sekarang bisa full time ngisik isik Onthel, sambilanny ngisik isik mbok wedok yang STNK ( Setengah Tua Namun masih Kenceng)….ha ha ha ha…..salam buat keluarga..
    @Den Mas Rendra…terima kasih doanya….semoga Den Mas juga selalu mendapat Rakhmat dan KaruniaNya yg berlimpah…..apa ada kerjaan buat saya Den ??……..barang kali perlu tenaga buat membantu ngitung duit ??
    ……..lidah saya masih kuat kok kalau cuman melet melet disebelah Den Mas Rendra………he he he he

  20. Setelah buah Mulwo Mas Wong nulis lagi Buah “Kopi Anjing”, lha ini buah kopi jenis apalagi Mas . . . . . . .saya baru dengar, matur nuwun.

    • Haha…Pak Bandi, nanti beneran saya dibilang Pak Dhe Rangga jadi tukang buah lho. Lumayan sih, jadi side job๐Ÿ™‚

      Kopi anjing (Cynometra cauliflora) juga disebut buah namnam. Buahnya majemuk bergerombol di batang pohon, jadi seperti pohon buah kepel atau juga seperti belimbing wuluh. Bentuk buahnya setengah lingkaran mirip pastel/ginjal. Warnanya coklat, kulitnya kasar dan seperti berurat. Maka, sebenarnya istilah kopi anjing ini konon cuma ‘plesetan’ dari (maaf) puki anjing!

      Buahnya berpolong dengan biji pipih. Waktu kecil saya suka memetik yang sudah agak kuning/masak (rasanya asem ada manisnya dikit), dicuci, dibelah, diambil bijinya, lalu polongnya diisi gula pasir sedikit, kedua belah ditangkupkan lagi lalu dikocok sampai gulanya merata, baru dimakan sebagai ‘tombo ngantuk!’ Daunnya biasa direbus sebagai obat diare, tapi juga melancarkan buang air kecil.

  21. naik onthel hari Selasa
    hari Minggu buat keluarga
    yang masih pada puasa
    niscaya akan masuk surga

    onthelku antik mereknya teha
    ditumpaki adoh tekan deso Berebah
    wulan poso ndak usah ngendorke beha
    mengko mundak didukani simbah

  22. Mantap banget pencerahan dari Mas Wong, ini berlaku pepatah “Malu Bertanya Sesat Di Pikiran”, lha iya buah yang rasanya asem manis kok dikira buah kopi pahit, sepertinya ini termasuk tanaman langka juga . . . . . . . . .matur nuwun sanget Mas.

  23. kayuh sepeda menanjak tinggi
    rantainya dol nggak bisa lari
    selama puasa rajin gosok gigi
    pake odol rasa strawberry

    onthel idaman buatan Belanda
    tampilan hebat dikayuh nyaman
    cari alasan batal puasa
    badan sehat ngeluh meriang

    jadilah pakar bongkar torpedo
    pasanglah konis buatan Jerman
    selepas asar putar radio
    mau request suara adzan

    naik sepeda ukuran tinggi
    modelnya aneh, remnya tromol
    kenyang berbuka beranjak pergi
    katanya taraweh, kok masuk mall

    buka bengkel di tempat teduh
    menggelar tikar menghitung gotri
    pantun onthel bukannya menuduh
    cuma kelakar penghibur hati
    ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

  24. Situs di Jogja and Jateng memang bukam main, bikin iri saja! Reportase yang menggetarkan dari Budayawan OPOTO ini terasa seperti 4 sehat 5 sempurna,nyampar kesandung, lengkap dengan penjelasan tentang Candi dan REKONSILIASI AGUNG pelaku utama sejarah 2 Klan besar penguasa Mataram Kuno, yang juga mengingatkan kita pada analisa religius yang cemerlang dari Pangeran Dara Sikhoh dari Moghul! Opoto selalu saja mengesankan….

    • Waduh, Kyai Branjangan mulai bikin malu saya lagi. Lha sebagai onthelis jalanan, yang bisa kami lakukan kan memang hanya nyampar kesandhung hal-hal kecil semacam ini. Sisan gawe, siapa tahu yang disampar ini bagian dari sesuatu yang lebih besar yang harus kami simak dalam kehidupan ini. Nah, Kyai Branjang dan para winasis yang sudi mampir di blog angkringan ini diharapkan berkenan menjelaskan wacana/bagian yang lebih besar dari cuilan-cuilan yang kami sampar tadi. Tentu dalam bahasa yang sederhana, agar mudah kami pahami. Dengan begitu, kami akan terus tuman alias ketagihan ngonthel ke mana-mena sambil nyampar nyandhung. Hehe…

  25. Kasinggihan dawuh Wong Agung Potorono, ngonthel semakin sehat dan mencerahkan asal selalu baca reportase khas Wong Agung Potorono dan komen yang menyegarkan dari Gus Zadel, Kyai Ronggo, Mas Bagus, Mas Aat, Gus Ton dalah poro winasis sedoyo. Saya berharap harmoni yang sedang dicari bentuk,rupa dan warnanya segera ditemukan, apalagi Gus Wong sudah memulai dengan cerita Rekonsiliasi Agung yang terjadi 1200 tahun yang lalu ini, dijadikan pijakan untuk Memayu hayuning bawono,atau kalimat apapun yang sebenarnya bertujuan untuk keselarasan hidup yang paripurna! Dalam tataran tertentu Pemahaman akan mencair, yang akhirnya bisa masuk dalam sela-sela kehidupan untuk memberikan kesegaran dan kedamaian. Air, banyu,water,cai,tirta,tirto….hanyalah kata! Kulo nyadhong nyuwun pawarto….kemaren ada penampakan HF 60,tapi yang punya orang 10, didumi 1000 dadi 10 ewu nggih Gus hehehee…

    • Dalam pada itu, Burgers dalam berbagai varian pun semakin diperebutkan sehingga keberadaannya di desa-desa menjadi semakin langka. Sementara itu Fongers dengan konstruksi rem yang unik tak kunjung hilang dari angan-angan para kolektor. Stangnya terlihat dikerjakan dengan baik dari bahan besi pilihan dengan pamor nikel yang berkeredipan di bawah sinar matahari. Keduanya memiliki karakter yang berbeda, lengkap dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dengan demikian, maka perburuan atas keduanya pun semakin lama menjadi semakin sengit….๐Ÿ˜€

      Kyai Branjangan, untuk HF saya sudah nyicil nyimpen stangnya. Kuku-kuku macannya menghunjam dengan mapan ke pipa memanjang di kanan-kirinya… Haha…

  26. Wah..wah..kuku ponconoko sudah diasah, Haryo suman alias Sangkuni menyembunyikan diri takut di sobek-sobek! Fongers and Burgers, mirip Senopati ing Ngalogo dengan Pangeran Benowo yang sama-sama mempunyai Rog-rog asem dan Tameng wojo, sementara itu Kyai Gringsing memperlihatkan diri pewaris sah Padepokan Windujati hehehehe….Opoto selalu mengesankan!

  27. dalam pada itu Agung sedayu murid kinasih Kyai Gringsing dan pewaris ilmu Ki Sadewa tete2p saja tertunduk dan tersipu malu di samping pakiwan tatkala Sekar Mirah menggodanya dengan lirikan manja,…

  28. Huahahaha….dalam pada itu juga Gus Rend dapet X frame seri 10 dari Raden Londo..ehh..raden ronggo..

  29. mengkuti rutenya, terbayang suasana ini http://xat289.wordpress.com/2008/12/27/naga-sasra-dan-sabuk-inten-jilid-1/
    Mugi2 sehat lahir batin selalu Mas.

    • Jadi, ceritanya, sekarang sudah brani mbaca2 cerita bersuasana ndeso? Gak takut kangen kepati-pati lagi? Hehehe… Vielen Dank!

  30. Her Dorfleid….huahahaha…..Mahesa Jenar cucu murid dari Pangeran Handayaningrat…di Opoto, selalu menemukan sedulur dari padepokan yang sealiran …thanks for nice link…!

    • Betul, Kyai Branjang. Banyak ajian yang menjadi ciri padepokan dengan nafas yang sealiran. Nah, kalau padepokan Kyai Zadel, Kyai Ronggo, atau Kyai Branjang mungkin punya lembu sekilan, bajing kirig, atau tameng waja, Opoto punya sipat kuping! Hehehe…

  31. Aji sipat Kuping hanya dipakai oleh Panji Pati-pati alias Witantra ketika dikejar Sang Rajasa Amurwabumi pada cerita Sepasang Naga disatu sarang, dan sekarang dipunyai Kyai Wong Agung Jayengrono, bukan main……..asal jangan aji mundri.!..penguasa sekarang bukan Rahwono ning Haryo Suman von Hambalang!

    • Kyai Branjang, untuk menguasai berbagai ajian itu salah satunya memang harus mesu raga lho. Perlu sanggar yang memadai dengan segala peralatannya sehingga mampu melatih berbagai jurus: bagaimana berlari di antara tiang-tiang bambu yang ditata dengan ketinggian berbeda, menerjang segala rintangan berlapis-lapis, kebal terhadap segala senjata lawan…

      Akan halnya nama ajian sipat kuping itu, muasalnya adalah berlari asipat (menirukan karakter) binatang yang memiliki karakter khas pada kupingnya. Misalnya kelinci, kanguru, dsb. Di masa sekarang, menerapkan ajian sipat kuping juga perlu mengetrapkan ‘lambaran’ khusus pada kedua kupingnya agar kebal berbagai suara๐Ÿ˜€

  32. hahahaa bener juga Kyai Wong Agung ini….Aji Sipat Kuping mempunyai laku yang mirip Aji Tinggal Glanggang Colong Playu. Biasanya semakin takut semakin mujarab Aji ini, misalnya ditakut-takuti dimakan wewegombel…Sumardi bisa ngalahin Usain Bolt tanpa sengaja.

  33. Ayo start expedisinya Kapan…..? lets go…

  34. Wong Tulung Agung

    Kapan liputan opoters di tahun 2014 dikupas neeehh….Kawulo penganggum tulisan dari para winasis yang ada disini…gak pinter nulis cuma gemar baca saja…tulisannya kaya pesan yang mendalam…interaksi yang harmonis…semoga budaya ini tetap lestari sebagai bentuk jati diri…

    • wongeres OPOTO

      Duh, beribu maaf, Wong Agung Tulung. Eh, kebalik…!
      Iya, ini lagi ngumpulin foto lama, mau upload cerita ngonthel bareng pentholan2 oudefiets, siapa tahu ada manfaatnya.
      Terima kasih sudah mampir. Silahkan tinggalkan cerita untuk kita semua ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s