Arsip Kategori: galeri

Gazelle 60 “Seri-1”: Tetap Bernilai di Usia Tua

berkilau di senjakala…

Apa yang terjadi ketika bintang pujaan yang dahulu begitu populer menjadi tua? Meskipun jawabnya tentu beragam, tetapi mungkin saja semua berangkat dari fakta yang seragam: terjadinya penurunan performa, fungsi, bahkan juga nilai. Benarkah menjadi tua berarti berakhirnya segala-galanya?

Pada beberapa bangsa, sikap terhadap warga senior mungkin juga berbeda-beda. Menjadi tua bisa berarti lamban dan harus menyingkir. Menjadi tua bisa juga berarti kaya akan pengalaman sehingga harus dihormati. Seorang teman yang menyelesaikan studi di Jepang sempat bercerita bahwa jika di Jogja orang menakar usia seseorang biasanya cukup dengan melihat penampilan fisik, di Jepang orang tidak sungkan menanyakan langsung usia yang bersangkutan. Informasi akan usia itu penting dalam adat mereka karena akan menentukan panggilan yang tepat bagi setiap orang, juga menentukan siapa yang akan dilayani lebih dulu. Usia seseorang ikut menentukan posisi sosial mereka. Baca lebih lanjut

Burgers Deventer: Andai Aku Menjadi….

Andai sepeda-sepeda onthel itu bisa bicara, alangkah banyak cerita yang bisa didapatkan dari mereka. Baik tentang proses produksi, tentang strategi pemasaran dan distribusi saat itu, juga tentang pemilik yang tentu sudah berganti sekian kali selama beberapa generasi. Karakter pemilik, status sosial, lingkungan, serta perlakuan yang berbeda telah mewarnai sepanjang kehadiran sepeda onthel kita. Lalu, adakah tragedi, saat sebuah pembalikan keberuntungan menimpa sepeda-sepeda tsb? Semua bergantung bagaimana kita merawat dan menilainya.

Burgers Deventer Pasturan

Lihatlah sepeda Burgers dames (wanita) spesial ini. Kata spesial harus ditambahkan, karena Burgers dames ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh sepeda Burgers dames pada umumnya. Burgers dames sendiri sebenarnya sudah memiliki keistimewaan pada keberadaan pipa dobel yang menyangga frame lengkungnya, meskipun model seperti ini juga ditemukan pada beberapa merek sepeda lain seperti Gruno, Güricke, bahkan Simplex. Adanya dua penyangga ini membuat frame lebih kokoh dan stabil, termasuk ketika harus membawa beban berat. Baca lebih lanjut

Simplex Cycloide Tromol: Berat di Awal, Melaju Kemudian.

Di antara sekian banyak sepeda onthel yang beredar di Indonesia, sebagian adalah produksi Belanda. Di antara pabrikan sepeda Belanda, salah satunya adalah Simplex. Di antara sekian model sepeda Simplex, salah satu yang menjadi favorit adalah Simplex Cycloide. Dan, di antara sekian Simplex Cycloide, varian rem tromol banyak diburu orang. Begitulah, selera individu yang sedemikian kompleks telah banyak memberi warna dalam dunia peronthelan.

Simplex Cycloide rem tromol

Setiap orang seperti memiliki alasan sendiri-sendiri untuk menyukai atau tidak menyukai produk, model, atau varian tertentu. Beberapa produk terkenal dari pabrikan besar kadang membuat seseorang penasaran untuk memilikinya, tetapi selanjutnya selera pribadi tadilah yang akan menjadi penentu utama.

Baca lebih lanjut

Gazelle X-Frame ‘Seri-10′: Keindahan yang Tak Biasa

Manusia tak hanya punya akal, tetapi juga perasaan. Maka, alasan seseorang untuk menyukai, mencintai, menolak, bahkan antipati tak selalu sepenuhnya rasional, kadang bahkan emosional. Itupun, tak ada yang bisa menjamin akan berlaku selamanya. Sebuah pengalaman kecil yang membawa pemahaman baru kadang mampu mempengaruhi selera dan kesan yang telah ada sebelumnya, kalau perlu secara ekstrem. Begitu pula selera kita dalam hal sepeda onthel.

Gazelle cross frame di dusun Potorono: dari sawah turun ke hati…

Secara umum, banyak onthelis begitu suka pada merek Gazelle karena alasan yang berbeda-beda. Ada yang karena kenyamanannya saat dikendarai, ada yang memandangnya lebih menguntungkan dari segi investasi, ada yang semata-mata suka pada gambar kijang yang menjadi logonya. Di sisi lain, banyak juga yang tergila-gila pada sepeda model cross frame –apa pun mereknya– lebih karena alasan kelangkaan, antik, gagah, atau karena relatif mudah dikendarai daripada sepeda pria. Meskipun begitu, apakah lantas ada jaminan bagi kedua kelompok onthelis tadi untuk otomatis menyukai sepeda Gazelle cross frame? Belum tentu, karena masih banyak penyimpangan yang mungkin ditemukan pada penampilan sepeda-sepeda tua tersebut. Sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan beberapa orang yang semula kurang suka sepeda cross frame karena terkesan ribet, justru bisa saja langsung jatuh cinta! Baca lebih lanjut

Burgers Heren-24: Elang Tua yang Tetap Perkasa

Salah satu bukti keadilan Tuhan adalah bahwa kita diciptakan dengan selera yang berbeda-beda. Bayangkan jika selera semua orang di dunia ini seragam semua. Membuat rumah dengan model sama, menghadapnya ke selatan semua, profesinya jadi dokter semua, dan dalam memilih pasangan hidup pun mereka menuntut kriteria yang sama semua. Kira-kira akan amankah dunia, atau bahkan sebaliknya?

Burgers heren-24 dengan frame yang lebih panjang

Perbedaan selera juga merupakan rahmat bagi onthelis. Beberapa onthelis suka sepeda buatan Belanda, beberapa lagi suka buatan Inggris, Jerman, Perancis, dsb. Sesama penyuka sepeda Belanda pun ternyata memiliki pilihan merek yang berbeda. Beberapa suka Gazelle, yang lain memilih Fongers, Batavus, Simplex, Burgers, dsb. Jika kita menerima segala perbedaan ini sebagai rahmat, lalu kita mau membuka diri untuk mendengarkan pertimbangan yang mendasari setiap pilihan –baik individu maupun kolektif– kita akan mendapatkan banyak pengetahuan menarik yang bukan saja akan semakin memperluas wawasan kita, melainkan juga semakin memperdalam kecintaan kita akan sepeda onthel. Baca lebih lanjut

Humber BZ Dames: Kilau Sang Primadona

Ketika kita memandang pergerakan waktu itu berjalan linear, maka kita akan mengandaikan bagaimana kita berangkat dari awal, menuju ke tengah, lalu sampai pada akhir. Tetapi, di sisi lain, ternyata waktu juga membawa banyak hal berjalan sirkuler membentuk sebuah perputaran terus-menerus.

Humber BZ dames, mantan primadona…

Salah satunya, kita pun melihat desain sebagai bagian dari mode –-termasuk mode pakaian, rumah, dan kendaraan– yang terus berputar. Apa yang dahulu menjadi tren, sebentar kemudian akan usang, tetapi kelak suatu saat akan kembali lagi menjadi tren yang digandrungi. Begitu pula dengan sepeda onthel, meskipun sebagai tren saat ini penyambutnya masih terbatas pada lingkungan tertentu saja. Baca lebih lanjut

Rudge Limited: Kreativitas Tanpa Batas

Saat kita merasa sangat mengenal sesuatu dengan baik, lalu tiba-tiba tergelar fakta di depan mata yang sama sekali bertolak belakang dari apa yang ada di benak kita, kira-kira bagaimana perasaan kita? Tentu terkejut, shock, merasa kecolongan.

Tapi tak perlu gusar. Kita bukan sedang membicarakan orang-orang terdekat kita, melainkan membicarakan sebuah sepeda onthel yang kita kenal baik dengan merek Rudge Whitworth.

rudge-potorono-1

si cantik yang membikin shock

Selama ini, kita mengenal sepeda Rudge sebagai salah satu produk dari Raleigh industry, England –di samping Raleigh dan The Humber– dengan ciri khas produk mereka yang akan segera terlihat, misalnya bentuk spatbor kuwung-nya yang berpenampang U dengan dudukan baut tangkai spatbor dipatri di bagian dalam. Stopan belakangnya bulat, terbuat dari plastik hitam keras dengan reflektor merah. Dudukan baut rangka pada keni di bawah sadel biasanya embossed berbentuk kotak, dengan nomor rangka tertulis di sisi kiri sepeda, dan banyak lagi. Baca lebih lanjut

Batavus 24: Kesederhanaan Si Kumbang Jantan

Di samping Gazelle yang secara umum boleh dibilang merupakan merek sepeda favorit, terutama nomor produksi dengan kepala 10 dan 11, setiap daerah memiliki merek favorit lain yang berbeda-beda. Ada yang lebih menyukai Fongers, Humber/Raliegh, Simplex, Burgers, Batavus, dsb. Di kawasan Bantul, Batavus termasuk merek sepeda favorit yang banyak diminati. Pemeringkatan ini tidaklah melulu berdasarkan kualitas produk sepeda tersebut, tetapi berkaitan dengan banyak variabel, terutama kondisi sosial-geografis.

Di sebuah bengkel di kawasan Bantul, seorang ibu penjual sayur menuturkan dengan berapi-api, bagaimana dengan uang Rp25.000,- ia mendapatkan rangka/frame sepeda dames yang masih bagus dari penjual besi rongsokan. Hebatnya lagi, setelah dilihat secara seksama, ternyata frame itu milik sepeda Batavus. Menyadari rangka sepedanya ‘bermerek’, ibu tadi pun berkeliling ke bengkel-bengkel untuk mencari kelengkapan lainnya. Sekarang sepeda itu sudah berdiri utuh, dan sudah ditaksir oleh seorang pemuda dengan iming-iming Rp250.000,- tapi Si Ibu masih memeluk erat sepeda favoritnya….

batavus-1

sosok sederhana penuh wibawa

Baca lebih lanjut

Humber Sport: Memuliakan Kembali Si Onthel Jengki

Alangkah relatifnya dunia ini. Apa yang tidak kita butuhkan, bisa jadi diperebutkan orang. Apa yang kita sayang-sayang, ternyata malah dibuang orang. Ini hanyalah secuil kisah yang kembali menunjukkan kebenaran relativitas tadi.

Humbersport-OPOTO-1

Tengoklah sepeda ini. Sepintas penampilannya memang sama seperti sepeda jengki kebanyakan. Akan tetapi, seorang peminat onthel pasti memerlukan waktu lebih lama untuk memperhatikannya. Mengapa? Baca lebih lanjut

Humber Tourist: Kisah Merealisasikan Impian

Apa yang akan kita katakan kalau melihat seseorang mengumpulkan kain lap sebagai upaya merealisasikan cita-cita memiliki mobil? Gigih atau konyol?

Nyatanya, seorang teman di Jawa Timur benar-benar berhasil membeli sebuah mobil, setelah bertahun-tahun mengumpulkan dan menjual kain lap. Kain perca yang kecil-kecil disetornya ke bengkel-bengkel, dan yang lebih lebar dipotong persegi, dicelup warna orange, diobras di tepinya, lalu dijual ke toserba. Semuanya laku terjual.

tourist-OPOTO

Humber Tourist Potorono

Kisah kepemilikan Humber Tourist ukuran 24 ini pun mirip-mirip seperti itu. Setidaknya dari sisi semangatnya. Beginilah kisahnya.

Baca lebih lanjut

Nederlandsche Kroon Si Onthel Siluman

Koleksi sepeda di Opoto (Onthel Potorono) sebenarnya cukup beragam. Salah satunya adalah sepeda ini. Jika selama ini ada sebagian orang yang memuja sebuah merek sepeda buatan Belanda sebagai ‘rajanya sepeda’, maka sepeda ini justru secara eksplisit menyatakan diri sebagai ‘mahkotanya Nederland’. Mereknya, sebagaimana tertulis di emblem yang melekat di tube depannya: Nederlandsche Kroon.

nederlandsche-kroon-dpn

Sayangnya, upaya menampilkan sepeda ini selalu saja terkendala. Hal ini berkaitan dengan keberadaan pemilik sepedanya yang mirip siluman. Maksudnya bukan rupa atau parasnya, melainkan saat dan cara pemunculannya yang selalu susah diterka. Seringkali, saat rombongan kami sudah menempuh separuh perjalanan, tiba-tiba sepeda ini muncul dari barisan paling belakang. Pernah juga ketika kami hampir menyeberang jembatan, bayangan sepeda ini berkelebat melintas lalu bergabung di barisan depan. Dari mana saja datangnya? Bagaimana ia bisa tahu route kami? Tak pernah ada yang tertarik untuk mempermasalahkannya. Kami lebih memilih sebuah permakluman: itu sepeda onthel siluman! Baca lebih lanjut

Fongers PFG: Menjaga Sebuah Kebanggaan

Panjang-pendeknya usia sebuah kebanggaan ternyata bergantung bagaimana kita merawatnya. Berikut ini adalah cerita tentang perjalanan sebuah sepeda onthel Fongers PFG seperti yang diceritakan onthelist Opoto (Onthel Potorono), Erwin, kepada kami semua.

pfg-opoto-depan

Alkisah, Fongers PFG ini dahulu punya pasangan. Mereka dipesan secara langsung dari Belanda untuk para pejabat di lingkungan deperindag RI di Jakarta, termasuk Pak Dhe alias kakaknya Bapak. Oleh Pak Dhe, sepeda yang tipe pria dipersembahkan kepada Eyang Kakung sebagai tanda bakti beliau kepada ayahandanya. Saat itu, Eyang masih menjabat sebagai kepala kantor pos di Jogja. Baca lebih lanjut