Kampung Wisata Tembi: Ketika Dunia Menyempit

Pada kebanyakan orang, mengunjungi tempat-tempat bermain semasa kecil selalu membangkitkan kegairahan. Biasanya, menapaki tempat-tempat penuh kenangan yang di dalam ingatan dahulu sangatlah luas, kini serasa begitu kecil. Mungkin, telah terjadi perubahan skala saat langkah kaki kita sekarang tak lagi sependek dan semungil masa kecil dahulu.

masa kecil telah berlalu, tapi kami masih suka bermain seperti dulu

Senyatanya, dunia kini benar-benar telah menyempit. Bukan karena bumi mengecil, melainkan karena kemudahan akses serta keterhubungan antarpenjuru dunia telah semakin dimungkinkan oleh teknologi global. Globalisasi yang sesungguhnya menyangkut keterhubungan dua arah itu bukan saja telah memudahkan kita mengakses dunia, melainkan juga memudahkan dunia mengakses kita. Masalahnya, apakah yang kita miliki ini cukup menarik minat dunia untuk mengakses kita?

Tak seperti biasanya, Minggu, 20 Juni 2010 lalu, komunitas Opoto (Onthel Potorono) setelah cukup berkeringat menempuh perjalanan hingga jalan Parangtritis, menempatkan acara nyoto di paling awal. Gara-garanya, kami gagal membendung rasa penasaran ketika melihat papan nama โ€œsoto babat Bu Mulyonoโ€. Kenyataannya, setelah beristirahat sambil menikmati soto ini keringat di badan kami bukannya surut, melainkan justru makin kuyup. Tetapi, setidaknya hal itu mampu memompa kegairahan kami lagi untuk meneruskan perjalanan.

di mana bumi dipijak, di situ soto ditandaskan…๐Ÿ™‚

Pagi itu, kami mengunjungi satu tempat yang akan mengingatkan orang pada suasana kampung halaman semasa kecil. Tempat itu bernama Kampung Wisata Tembi, yang terletak di Dusun Tembi, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Dari Jalan Parangtritis Km. 8,5 kami mengayuh sepeda ke arah timur dan ketika membaca papan petunjuk arah ke Kampung Wisata Tembi kami berbelok ke selatan (kanan).

Saat sepeda onthel kami memasuki kawasan kampung wisata ini, hijau pepohonan segera menyambut kami, menghadirkan suasana kampung alami. Pada masa lalu, dusun Tembi merupakan tempat abdi dalem katemben yang tugasnya menyusui anak-anak dan kerabat raja. Barangkali, itulah sebabnya desa ini disebut desa Tembi. Berkat latar belakang itu pula, hingga sekarang masih saja ada semacam kepercayaan bahwa dengan berkunjung ke Tembi, seseorang bisa mendapatkan kemuliaan bak keluarga raja tempo dulu.

berlabuh di kehijauan pohonan

Dari gerbang kawasan kampung Tembi, segera tertangkap oleh pandangan mata kami adanya rumah kayu berbentuk limasan, sebuah pendapa luas yang terbuat dari bambu, serta rumah yang sepertinya dipakai untuk aktivitas membatik. Di kejauhan terlihat sebuah gardu bambu dengan latar belakang pemandangan persawahan. Bangunan-bangunan itu terletak di satu kawasan yang berhalaman luas berbatu dan masing-masing dihubungkan oleh jalan setapak terbuat dari cor semen yang ย tertata rapi. Aneka pepohonan kayu berukuran besar dibiarkan tumbuh rapat membuat halaman itu begitu rindang meruapkan aroma kampung yang dihembuskan oleh sejuknya udara nan menyegarkan.

rumah limasan, gardu, pintu air, sawah, dan rumpun bambu itu…

Rumah kayu berbentuk limasan yang disebut Omah Wirobrojo itu disediakan bagi para tamu yang ingin menginap dan menikmati suasana pedesaan. Sedangkan pendapa bambu yang luas biasa difungsikan sebagai gedung pertemuan, sarasehan, atau sebagai tempat berlatih membuat aneka kerajinan. Pagi itu, dengan dipandu para perajin muda, banyak pelajar SD yang begitu antusias mempelajari cara pembuatan kotak pensil dari anyaman pandan. Mereka tak hanya belajar, tetapi juga bermain dan berwisata. Di saat istirahat, mereka berlarian di dekat sawah, lalu beristirahat di gardu sambil bercerita dan bercanda riuh.

pendapa bambu dan workshop aneka kerajinan

Kampung Tembi merupakan salah satu dari kawasan Kampoeng Kerajinan Gabusan-Manding-Tembi (GMT) Bantul yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 31 Agustus 2007. Sebagai kampung Wisata, selain menyediakan paket pembuatan aneka kerajinan; di kampung Tembi juga disediakan paket wisata kuliner tradisional; wisata keliling kawasan GMT (Gabusan-Manding-Tembi) dengan mengendarai becak, andong, atau kereta mini; serta paket wisata bertani, termasuk memandikan kerbau; dan paket wisata outbound. Semua paket wisata ini bersifat fleksibel, misalnya bisa digabungkan dalam bentuk wisata seharian dan malamnya menginap di Omah Wirobrojo.

batik jogja kreasi Tembi, bagi yang suka tampil trendy

Ketika memasuki bangunan di belakang pendapa bambu, kami melihat aneka batik khas kampung Tembi ditata berjajar dalam rak-rak. Bagi kami batik ini unik, karena jika dilihat dari coraknya masih menampilkan motif-motif Jogja, akan tetapi dari sisi pewarnaannya mengingatkan pada batik pesisiran sehingga terkesan trendy dan berjiwa muda. Aneka produk kerajinan terbuat dari serat alami (pandan, sigres, agel, akar wangi, dan pelepah pisang) serta vinyl juga dipajang rapi dalam satu showroom terpisah. Selain dipamerkan, aneka aksesoris interior rumah maupun perkantoran ini juga boleh dibeli.

Kami terus berkeliling hingga ke kolam ikan dan sawah sambil mengobrol dengan penduduk sekitar. Agaknya, karena dikelola oleh komunitas desa, kampung wisata ini memiliki keleluasaan dalam mengeksplorasi potensi serta asset desa yang ada, baik menyangkut lahan, sentra kerajinan, seni musik, maupun budaya setempat.

cerah-ceria untuk tampil lebih muda

Di kampung wisata ini sering ditampilkan musik bang-bung, yaitu musik yang terbangun oleh aneka alat musik perkusi dari bambu dan tembikar seperti genthong dan klenthing (tempat air), ditingkah suara kencrung dan seruling serta harmonika sebagai melodi. Musik khas yang awalnya secara iseng dimainkan oleh para tentara pejuang pada tahun 1947 ini masih dilestarikan dengan baik oleh komunitas musik bang-bung kampoeng Tembi. Sayang, karena kami datang pagi hari, kami tidak dapat menikmati musik yang belakangan biasa menyanyikan lagu campursari ini.

Tapi musik dari suara alami yang kami nikmati kali ini sudah sangat menghibur. Bagi kami yang terbiasa hidup di pedesaan, suasana semacam ini terasa menenteramkan. Entahlah bagi orang-orang dari negeri seberang yang terbiasa dengan budaya kosmopolitan. Akan tetapi, bukankah keindahan yang berasal dari alam itu bersifat universal? Maka, keelokan kampung tradisional semacam ini, bisa jadi justru merupakan sumber inspirasi yang mereka cari. Seperti juga kami yang serasa tiada bosan mengayuh sepeda onthel kami minimal seminggu sekali untuk menikmati keindahan serupa ini.

sumur timba, pembasuh penat dan dahaga

Hari terlalu siang untuk perjalanan pulang yang masih panjang. Matahari pun mulai terik. Sepanjang jalan itu keringat kami terus menitik. Tetapi kami tetap saja tertawa-tawa, pertanda kami belum juga jera. Ketika dunia makin menyempit, kami tak mau terhimpit. Biarlah kami terus mengayuh sepeda, berbagi cerita, dan belajar banyak hal dari sahabat di mana saja.

71 responses to “Kampung Wisata Tembi: Ketika Dunia Menyempit

  1. @ wah luar biasa, ternyata Jogja menyimpan banyak keajaiban tempat wisata yg belum “terjual” sempurna… selama ini kami hanya tahu Keraton,malioboro,gembiraloka ,prambanan dan parangtritis….
    sahabat OPOTO selalu berhasil menyajikan dengan sangat manis lokawisata lain di tlatah Jogja yg msh tersembunyi … kapan2 jd pengen berkunjung nih..semoga blog ini selain menyajikan mslh peronthelan juga tetap konsisten menggali budaya dan wisata lokal yg terpendam shg diketahui khalayak..dan rasanya sudah mulai menjadi ciri khas blog hebat ini. selamat buat sang sastrawan mas Noer dan sahabat OPOTO..salam dari Karawang

    • wongeres OPOTO

      Maturnuwun, kalau reportase ndeso ini bisa diterima. Opoto bukan alat promosi, tapi kami suka berbagi informasi. Hehe… Rintisan kampung wisata ini sebenarnya menarik, karena menurut kebiasaan ndeso kami terasa lebih membumi (suasana maupun rate-nya), meskipun fasilitas air panas, hot (bukan G)spot sudah tersedia. Hehe…

      Setahu saya, untuk menu kuliner tradisional, musik, dsb harus ada reservasi dulu.

    • Budidwiprasetyo

      Ass. Ms yang punya blog,,sampaikan salam saya kepada saudara saya,om petrus dan semuanya,,saya Cucunya Alm. Djumbadi,nama saya budi dwi prasetyo anak kedua dari pasangan subari dan wakidah,,salam rindu buat desaku tembi,,bagaimanapun tembi tetap dihati,,suatu hari aku akan plg ke tembi,,t

  2. heri agusti DeFOC

    Ass.wr wbkth,kulo nuwun Pak De Wongeres, perkenankanlah kembali saya ikut “mengintip” “polah” kerabat OPOTO..semoga tidak bosan seperti saya tidak akan bosan numpak sepeda onthel ini. Sangat terasa seolah saya ikut merasakan kebahagiaan apa yg kerabat OPOTO rasakan saat mengontel sepedanya dan bisa menikmati perjalanan onthel panjenengan…..hanya belum bisa menikmati nyoto nya itu lho….salam buat Mas Tono, Mas Joni dan kerabat OPOTO semua……nuwun.

    • wongeres OPOTO

      Wa alaikum salam. Weleh-weleh, dari auranya kok Mas Heri terlihat sibuk ya akhir-akhir ini. Jangan-jangan ada yang lagi dikejar lagi. Padahal Batavusnya saja apa sudah selesai dipoles?๐Ÿ™‚

  3. Sesuatu yang seringkali kita perhatikan / kita anggap biasa, tapi kalau yang cerita om Noer jadi “tidak biasa” bahkan menjadi luar biasa…. Excellence habis pokoknya…..

    @ om rendra
    jumpa kembali om rendra… mohon maaf nich om rendra, saya agak lama nonaktif nich…..

    memang om noer kita ini ahlinya membikin ” yang biasa menjadi luar bisa”… sama seperti om rendra… “berburu sepeda biasa menjadi koleksi yang luar biasa”…haaa..hhaaa.. peace om…

    • wongeres OPOTO

      Hmmm… ini maksudnya yang mana ya? Kalau soal pendaran sinar dari Simplex sejoli itu kan memang benar?๐Ÿ˜€

  4. @weee lha dulur lanang sing kuru ceking muncul lagi,apa kbr gus Maxs…hehehehe.. sudah sadar dan taubat to ,atau sdh dpt sepasang simplex kinclong lagi shg berkenan hadir lagi di dunia persilatan OPOTO….. salam

  5. @ om noer
    walah.. sinar dari simplex sejoli tetap masih belum menyamai sinarnya gazelle seri 10 wutuuuuuh…. apalagi sianrnya gazelle cros dari negeri manca…. makancar-kancar…… heeeee..heeee…

    @ om rendra
    bukan sudah sadar dan taubat om rendra… tapi sudah selo nich…apalagi badan rasa-2nya udah makin melebar aja…haaa..haaa… tidak ada sepeda baru om rendra, hanya isunya om noer aja tuch…. heeee..heeee…

    • wongeres OPOTO

      Akreditasi sudah beres ya. Wah, kalau saya mau naik sepeda bagus memang bisa bikin badan langsing. Soalnya buat beli sepedanya harus mengurangi jatah konsumsi. Haha…

      Pak Rendra, issue terbaru itu adalah: sesuai penampilan Mas Max’s yang di atas rata-rata, seleranya pun berbeda. Yang lain ngincer Burgers, beliau malah mbangun kapiten!

  6. @ waladalah…kolektor unik ….kapiten dijejer simplex sejoli….wuih pasti akan membuat OPOTO menjadi lebih berwarna… selamat mas Maxs..hehehe..( pesan penting.. bel jgn dilas ke stang…cukup satu saja se jogja..).
    @mas Noer… mas maxs mungkin belum pernah nyoba burgers nglenyers sih..jd belum kerso nglirik…

    • wongeres OPOTO

      Burgers kembar identiknya sama nglenyernya. Tapi Mas Max’s paling kheki kalau liat sepeda 24 tanpa boncengan. Apalagi kalau torpedo. Katanya sepi mamring…๐Ÿ™‚

  7. Wah eis blusukan tekan Tembi, Timbulharjo Sewon, Teman-teman OPOTO nemu apa lagi, ya di sana?

    • wongeres OPOTO

      Ya nemu tempat ideal untuk kumpul-kumpul komunitas onthel itu Mas. Hehe…

      Mas Bagus, Sabtu malam hadir di pameran fotonya GS nggak? Ketemu di sana yuuk. Tapi ya onthelnya ditinggal dulu. Kami jalan Minggu pagi saja.

  8. kalau boleh ikut mempromosikan sesuatu apa tidak menyimpang dari AD ART tmn2 Opoto agar bisa diberikan sesuatu lebih detail agar siapa tahu jadi referensi u mengunjunginya spt : tiket, rata2 harga kamar dll. akan lebih mempopulerkan sesuatu yang mustinya populer. dan tak lupa referensi sotonya, trims

  9. wongeres OPOTO

    Haha… ayo sini, Mas Faj mau dipromosikan apanya?๐Ÿ˜€

    Kalau price disertakan, takutnya nanti suatu saat berubah sudah nggak valid lagi dong. Kalau waktu kami ke sana sih masih berkisar 350-an. Itu sudah termasuk pajak dan pelayanan, makan 3 kali. Menarik, kan? Passwordnya: sahabat Opoto! Haha…

  10. Mas Nur, ulasan yg sgt indah… kolaborasi onthel-kuliner-tempat wisata yg sgt keren… ngomong2x kapan memuat ulasan ttg sepeda masterpiece-nya OPOTO?

    • wongeres OPOTO

      Weleh Mas, beda dengan di ndalem Kabagusan, nggak ada masterpiece di Potorono. Semua sepeda, selama dikembalikan orisinalitasnya, merupakan karya yang kami apresiasi sebagai karya desain yang indah dari desainernya waktu itu (jawaban gini ini ‘padune’ ya karena nggak punya yang istimewa tadi itu ya. Hahaha…).

  11. @wongeres : Saya akan hadir mas, undangan sudah sampai ke tangan, saya pasti datang.

    • wongeres OPOTO

      Sip Mas. Ketemu nanti malam di Coral Gallery. Kapan-kapan kita bikin pameran foto onthel, gimana? Mau membantu?

  12. oke mas siap, ……

  13. kang mas noer,kok foto2 goes malem di kotagede kok mboten ditampilkan hihihihihihihihi3

    • Akan tiba saatnya. Hehe…

      Motret malam dengan kamera pocket itu penuh tantangan lho. Apa lagi berbanyak orang. Kalau jaraknya dekat nggak akan muat, kalau jauh flash-nya nggak nyampe. Pakai ISO tinggi karena semua bergerak malah makin parah lagi. Ini sekedar pemanasan biar nanti nggak ada yang protes kalau gambarnya jadi agak aneh. Hehe…

  14. @mas bagus majenun sama mas Bagus Podjok opo masih seduluran to…

  15. @Pak Rendra, beda pabrik, beda merek, keni dan sanggan frame juga beda. Kalau soal showroom tanya saja Mas Noer.

    Tunggal guru ojo ngganggu, tunggal kawruh ojo gawe kisruh. Rep kedhep sak buwana, huwel-huwel beehhh

  16. minggu kemarin kemana pak? minggu depan terakhir sebelum puasa ya?

    • Minggu kemarin kami blusukan ke kali Code. Kebetulan di sana pas ada lomba mural, menghias sepanjang talud itu. Asyik juga lho…

      Minggu ini iya terakhir sebelum puasa. Mestinya ke Patoknegoro ya. Tapi besok itu di Semaki ada yang mau bikin pasar sepeda onthel dengan mengundang teman-teman yang mau berpartisipasi, baik sebagai penjual maupun pembeli. Enaknya kita nengokin sebagai apa ya?

    • daerah potorono, katanya ada yang punya tangan emas,bisa otak atik dinamo mati jadi PLTK (pembangkit listrik tenaga kempol)…

  17. heri agusti - DeFOC 0919

    ini pamer, tetapi bukan pameran….Pak de Wongeres….saya baru saja kecapekan, over training bhs inggrisnya mungkin yah…saking senenge numpak onthel Batavus dames, cagak setang disambung (diduwurke) , nyonto sepeda yang disewakan waktu di Jogya…..esuk ngonthel, sore ngonthel Diajak teman…..malemnya…loyo, badan panas kecapekan…..nggak tahunya Batavus setang duwur ditumpaki enak juga ya Pak De? Jangan dilihat barangnya….tetapi rasanya…..mak nyessssss nganti lali mangan……..

    • Lha. Yang terakhir itu yang bikin meriang. Mestinya kan harus ada acara nyoto. Sekalian teman-temannya ditraktir. Kan ulang tahun…๐Ÿ™‚

  18. heri agusti - DeFOC

    Ulang tahun? Loh kok tahu nih pakde,…..iya sih jujur saja sebenarnya pingin nraktir teman teman OPOTO , tetapi ternyata belum sempat yah…semoga saja lain waktu kami bisa nyepeda dan….nyoto bareng tentunya…..njajah deso milang kuto nang potorono…….

  19. @mas Bagus…ternyata lain merk dan bedo showroom to sama mas Bagus Podjok..tapi tunggal guru …hehehe..
    @ mas Nur ..kayaknya nek ide pasar sepeda dadakan di jadikan agenda rutin di Jogja diyakini akan sangat menarik wisatawan onthel Nusantara… banyak sekali rekan onthel di jakarta .bandung, tlatah sumatra dan kalimantan bahkan negeri Jiran pernah tanya kepada saya kalau di Jogja pasarsepeda onthel dan klithikan dimana lokasinya… dan anehnya setap pertanyaan selalu saya jawab …” wah tidak tau je mas…” saya hanya tau ada toko klithikan yg ada di seputaran malioboro…. nah kalau ide mas Noer td di “patenkan” hari dan lokasinya niscaya akan menjawab hal ihwal kebingunan tsb…
    saya sarankan dijatuhkan hari sabtu atau minggu dengan lokasi yg dekat pusat turis yaitu malioboro… tiap wkend puluhan onthelis dan klgnya banyak yg berlibur di Jogja, apalagi saat sat liburan sekolah…byuuh ramene… siapa tau dr ide simpel itu suatu saat akan jadi “DTO” ( daerah Target Operasi” para pemburu onthel nusantara sak uborampene… monggo mas dadoooosss..hehehe

    • Pak Rendra, idenya sih, pasar itu akan digelar terus setiap Minggu. Dan itu bukan ide saya lho. Ada teman di Semaki yang akan merealisasikan gagasan pribadinya. Semua orang boleh terlibat.

      Pasar sepeda onthel di Jogja sebenarnya sudah ada banyak. Di Pugeran, Menteri Supeno, Barongan, dan Imogiri, setiap hari ada pasar sepeda. Di Terban pun kapan itu saya masih dapet Burgers dames yang lumayan utuh. Di Pandak, Godean, Turi, Prambanan, dsb juga ada kalau pas hari pasaran…

  20. Denmas Rendra lagi mengajukan aspirasi yaa, waah nantinya jadi pasar aspirasi dong. Pertanyaannya apakah pasar ini nantinya juga menjual onthel aspirasiโ€ฆhehehe, bercanda kok. Soalnya, saat ini sudah banyak muncul aspirasi-aspirasi lainnya. Hebatnya yang mengajukan aspirasi itu si kura-kura hijau.

    Kira-kira aspirasinya Ki Lurah Opoto apa yaa? sory dab hihihi….

  21. @betul ki Juru.. bedanya dengan ” mereka” adalah kita pakai kocek sendiri , tdk pernah menggunakan APBN utk dana aspirasi onthel ini…hehehe… lagi ngetrend ya di senayan… ( ayo kembali ke onthel ki juru…)..

  22. heri agusti - DeFOC

    @ Denmas Rendra , Pak de Wongeres……saran dan aspirasi yg sangat bagus….Jogya : bisa menjadi wisata onthel yg strategis dan bisa ajak keluarga utk berlibur ke “Bali” ( mulih ke kampung) dg sarana yg murah, transpotasi gampang, hotel relatif murah dan ada kuliner yg murah (sego kucing) , asal dekat dg Malioboro (ikon kota gudeg Jogya) ……hayo laksanakan ….semoga sukses…..

  23. Kalau semua sepeda jadi DTO, habis ini merek apa ya?. Hunting klithikan di pasar2 desa, jadinya “jeruk makan jeruk”, kalau nggak mruput datangnya sudah hilang digondhol Alap-Alap. Bulan kemarin lelangan Gazelle ser 5 dan 9 di Pegadaian Kulonprogo, kok ya jeruk purut, ketemu jeruk Bali dan jeruk Keprok, ya kelibas.

    • Kalau menurut ramalannya Pak Doktor Sahid sih Burgers Mas. Tapi kan sudah nyicil ayem karena sudah pegang sekartaji. Lalu Batavus. Kangmas Heri juga sudah langsung njrunthul pegang Batavus dames berleher jenjang. ๐Ÿ™‚

  24. Repot ya. Bagi kami orang desa, banyaknya aspirasi semacam itu selalu membingungkan. Paling-paling pegangan kami cuma: yang terlalu amat sangat bagus itu biasanya tidak bagus. Nyamari. Mulane ojo gumunan, ojo kagetan๐Ÿ™‚

    Tapi kalau soal pasar onthel semoga tidak. Ya, kalau hanya pamrih kecil setimpal dengan usaha yang harus dilakukan sih sah-sah saja. Letaknya di kota kok. Dekat Kusumanegara. Kapan-kapan Opoters akan meliputnya.

  25. @ Om bagus… lha saya itu mung jeruk “kingkit” je… musuh jeruk keprok dan jeruk bali ya jelas balik kanan.. maju jalan…. haaaa..haaaa…

    • Maksudnya, jeruk kingkit itu bagusnya buat ngelapisin kuku lentiknya gedhang-gedhang ambon biar lebih ‘shining’, gitu? Haha…

  26. Bung Wongeres & Mas Max nek jeruk Kingkit itu artine Njengking terus digigit dan dicubit sedikit. biar gurih tambah rasa gecekan bawang putih dan ebi, jadi terasa tidak kasinan kebanyakan garam.

    • Lho. lha ini kan bumbu bakminya Pak Jono Kotagede kemarin. Saya baru mau melaporkan perjalanan malam kita itu, je… jangan lupa kemiri!

  27. @ lha nek mas Maxs jadi jeruk kingkit… terus jeruk baline sakpiro cilike…….hehehehe…pissss..

  28. @mas maxs ga bakal terpengarus DTO kok..beliau sangat loyal dengan simplexabella.. jadi termasuk golongan lelaki setia… wow…

    • Lho. Justru karena kita semua golongan setia, kita nggak kaku ngomongin merek-merek lain. Bukannya begitu, Pak Rendra? Hehe…

      Atau kita perlu bikin komunitas onthel “Selebor” alias selera borongan?๐Ÿ˜€

  29. @wah boljug tuh mas Noer..onthelis selebor…. selera bobor…hehehe..

  30. Wah jangan selera borongan, nanti dikira seperti para pengepul sepeda dari Jawa Timur yg tiap 1-2 bulan datang ke Bantul, Prambanan dan Klaten. Kalau beli borongan semua frame dipukul rata 100-200 ribu, gir 25 ribu

  31. @ om rendra
    wah om rendra tu senangnya “mancing-mancing” lho… saya tuch sebenarnya ya cuma jeruk kingkit sebesar kedele itu om… tapi karena di “elus-elus” trus jadi GEDHE sendiri jadi segini …. haaa..haaaa.. kalau cak erwin bilang “Jirem Rodar” (siji marem, loro modar).. haaaaa….haaaaaa…..

    @ om noer
    lha kalau “drijine sak gedang-2 ambon”, kalau tambah driji kaki… butuh jeruk kingkit sak hektar pak noer…. haaaa….haaaa… lha wong driji sikile sak tengki-2 je……๐Ÿ™‚

  32. Joko Wiyono DeFOC

    wah, senangnya masih bisa menikmati suasana seperti itu,.. benar-benar “Back to Nature”, sambil Gowes Ontel, menikmati semilir angin, suara pohon bambu yang saling bergesekan, menikmati hamparan sawah….. Wah, menyenangkan sekali…

    • Pulang-pulang langsung buka puasa! Hehe… Tempat-tempat seperti ini yang makin menyemangati perjalanan ngonthel kami, Pak Joko…

      Salam buat para sahabat di DeFoc.

  33. Trimakasih sudah berkunjung dan meng-upload kampung wisata Tembi. semoga bisa disebarluaskan dan kami tggu untuk kunjungan2 berikutnya….

    • Terima kasih juga sudah menyambut kami, Pak Dawud. Beberapa hari yang lalu saya main ke Balai Seni di Kadipaten kidul, ternyata beberapa juga kenal Pak Dawud ya. Insya Allah kapan-kapan kami mampir ke Tembi. Nuwun.

      Salam dari Potorono

  34. Sama-sama pak. semoga dgn adanya blog ini bs menambah publikasi untuk kampung wisata Tembi.

  35. ely triastuti

    waaahh … ternyata oke jg dgn nama pedesaan yg mulai punah….. galakkan tempat wisata seperti ini, …. ^^,

    • wongeres OPOTO

      Iya, Bu Ely. Asal jangan galak-galak ya. Nanti tamunya pada takut. Hehe… bercanda. Terima kasih atas kunjungan dan support semangat di awal pekan ini.

  36. pak, mau tanya kira2 paket bertaninya berapa ya? saya mahasiswa yang mau mengadakan acara summer school gitu, lagi kebingungan ini cari desa wisata yang bisa buat bertani dan bermain kerbau buat sekitar 20 orang gitu. saya cari cari harga Tembi ini ga ketemu2 e. mungkin bapak bisa bantu? makasih sebelumnya.. ^^

    • wongeres OPOTO

      Mbak Ellen, ada beberapa tempat seperti yang Mbak Ellen maksudkan. Kalau ingin tahu paket dan harga di kampung wisata Tembi, coba kontak Bpk Dawud (081392133205). Semoga membantu. Soal jadi kerbaunya… ada yang berminat? ๐Ÿ™‚

      • @ Gus Wong,
        Mungkin yg di kamsud m’ellen “bermain kerbau” itu mau pake pit onthel alias “pit kebo” jadi ya dipakai untuk PP ke sawah/bertani….nak begitu to mbak? Apa mau cari “kerbau” sungguhan? wah kalau pake kerbau sungguhan kayaknya kampung wisata Tembi bisa menyediakan kok…kalau cuman 5 ekor. Sebenarnya jg ada kerbau yg lain tapi biayanya tinggi karena termasuk “kebo nyusu gudel”…wkwkwkwk….

      • wongeres OPOTO

        Kerbau sungguhan ada kok (Pak Dawud, silahkan ini dibantu).
        Kalau yang asal mirip-mirip kerbau, waktu kami berkunjung tempo hari juga ada banyak. Tapi begitu kami pulang ya langsung hilang! Haha…

        Mas Suga, saya tak ngeplang dulu. Kembali ke pit kebo, saya mau minta pencerahan: sebenarnya ada berapa to model kom stir/fork pada Burgers?

  37. @ Gus Wong,
    Maaf ini hanya sebatas yg saya ketahui nggih…..ada 4 model kom stir fork:
    – model sebelum th 30 —> kom seperti heren seri C, E, R, H cuman plat krom/penutup fork bagian atas ada strip-nya (3 strip), bentuk ini jg dipakai utk Burgers wandu bermesin.
    – Burgers cross (model Laag, Hoog) & Heren –> kom seperti cepuk (kom bagian atas & bawah bentuk sama).
    – Burgers transport & Dames –> bentuk kom model biasa (kom bagian atas lebih besar dibanding bagian bawah —> seolah-olah kom bagian bawah masuk ke kom bagian atas –> walau masih terlihat sedikit).
    – Burgers sportrijwiel (Heren & Dames) –> sama seperti burgers Dames cuman kom bagian bawah tidak terlihat (ambles masuk ke kom bagian atas semua).
    Sekali lagi maaf nggih Gus jika kurang berkenan & salah dalam meng-identifikasi masalah kom meniko…….matur suwun.

  38. pengen banget segera ke kampung tembi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s