Puasa, Ngonthel, dan Kegembiraan Hati

ngepos seusai taraweh

Logikanya, ngonthel merupakan aktivitas fisik. Tetapi, faktanya bisa lain jika yang ngonthel adalah para Opoters. Ketika kami ngonthel, sepanjang perjalanan tak jarang dipenuhi kelakar berkepanjangan. Ada yang menyanyi ‘ura-ura’ dengan lagu yang itu-itu saja (Caping Gunung!), ada pula yang rajin memberikan tanda lewat bel sepedanya jika ada pemandangan menarik yang terlalu sayang untuk dilewatkan, dan sebagainya. Ngonthel menjadi sebuah kegiatan rekreatif yang begitu menghibur.

Ngonthel Ramadhan di gerbang Prawirotaman

Itulah sebabnya, ketika Ramadhan tiba dan beberapa dari kami berpuasa, kegiatan ngonthel tak lantas berhenti begitu saja. Ramadhan, saat orang biasanya mengubah beberapa pola kesehariannya agar kondusif untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tanpa harus menghentikan produktivitasnya, masih juga menyisakan waktu panjang selepas taraweh untuk kembali berkumpul bersama teman-teman. Maka, itulah waktu yang kami sepakati untuk ngonthel selama Ramadhan. Kami ngonthel malam hari.

musisi jalanan di pasar Prawirotaman

Meskipun selama ini kami sesekali juga ngonthel malam hari, tetapi bulan Ramadhan memberikan suasana dan pemandangan yang berbeda. Suara orang mengaji terdengar mengalun di masjid dan surau-surau kampung yang kami lewati. Beberapa orang tua, lelaki maupun perempuan dengan sajadah di pundak mereka berjalan pulang maupun menuju masjid, sementara anak-anak berlarian setelah menyalakan petasan. Dan, yang tak kalah menyenangkannya adalah, justru di bulan Ramadhan malam menjadi lebih semarak. Warung-warung makan rasanya menjadi lebih ramai dari biasanya.

bakmi Jawa Pak Harjo Geno

Saat kami berkeliling, dari alun-alun utara, alun-alun selatan, maupun di lapangan Karang, Kotagede, warung-warung angkringan serta lesehan tetap ramai diserbu pengunjung. Terlebih lagi setelah kami membelah kota hingga melewati kawasan Prawirotaman, suasana begitu hidup oleh banyaknya wisatawan mancanegara yang makan, minum, dan bercengkrama di kafe-kafe terbuka yang berjajar di sepanjang jalan.

pengantar makan sahur

Tapi kami tak berhenti disana. Kami terus melewati gerbang Prawirotaman dan menuju pasar untuk menikmati bakmi Jawa Pak Harjogeno yang dikenal sebagai salah satu bakmi nyamleng yang ada di Jogja. Di kesempatan lain lagi kami hanya berkeliling kota lalu berbelok ke Tegalgendu, Kotagede, untuk menikmati nasi bakar di angkringan Nganggo Suwe.

‘nyamleng’ sampai ke hati

Tak hanya lezatnya bakmi Jawa, aroma sangitnya nasi bakar dan gurihnya sambal teri, perjalanan ngonthel malam yang eksotis serta hangatnya kebersamaan di tengah suasana pasar dan angkringan nan khas itu sungguh menggoreskan warna tersendiri di hati kami. Sekali lagi, bagi kami ngonthel tak lagi melulu aktivitas fisik.

merespon referendum dan naiknya harga gemak (puyuh)

setelah makan? bengong, narsis, atau… nambah lagi!🙂

Saat lebaran, karena kewajiban dan kesibukan masing-masing, acara ngonthel terpaksa ditangguhkan. Kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) baru bisa berkumpul, berhalal bil halal, dan ngonthel bersama lagi pada Minggu pagi, 11 September 2011.

Eforia kebersamaan membawa kami berkeliling menyusuri jalanan kampung, memandangi hijau persawahan dan perbukitan yang serasa sudah begitu lama tidak kami lewati. Setelah menyusuri kawasan Nyamplung, Srimulyo, dan Kradenan, kami pun sampai di Pagergunung.

berharap musim berganti

Rasanya kemarau sudah terlalu lama menemani sehingga tanaman di perbukitan tampak mulai meranggas di sana-sini. Untung air masih berlimpah untuk menggenangi sawah-sawah, dan sungai Opak masih mengalirkan airnya yang bening. Di langit, angin menggiring perlahan awan tipis-kelabu dalam arak-arakan panjang yang semakin merata, menutup kebiruan langit pagi jelang siang, memberikan secercah harapan akan datangnya hujan.

Begitu menyandarkan sepeda, kami segera tergoda untuk menghambur dan memanjat ke atas bukit. Beberapa orang sibuk mengamati bebatuan tua yang kami temukan di sana. Batu dalam lapis-lapis warna keunguan itu agaknya menarik untuk digunakan sebagai mata cincin. Angin bukit segera menguapkan peluh di badan, memberikan perasaan sejuk dan mengalirkan kesegaran sekaligus kesadaran bahwa hari sudah cukup siang untuk sarapan.

menuntaskan kerinduan pada semangkuk soto!

Agaknya, setelah sebulan berpuasa, ritual nyoto merupakan saat yang begitu dirindukan. Kerinduan itu segera kami lampiaskan begitu kami sampai di kawasan Plered, tepatnya di warung soto Jawa. Semangkuk soto, ditemani tempe goreng, bakwan, dan jajanan tradisional seperti carang gesing serta segelas teh hangat dengan gula batu menjadi pengobat rindu kami pagi itu.

setia menyusuri kegembiraan hati

Sejujurnya, tak ada yang luar biasa dari sebuah rutinitas ngonthel semacam ini. Kegembiraan hati kamilah yang membuatnya istimewa. Seperti saat berpuasa, bukankah rasa lapar itu tak lebih hanya ada dalam perasaan. Keikhlasan dan ketaqwaan membuat kami mampu melewatinya dengan penuh kegembiraan hingga datangnya lebaran. Maka, bagi kami saat-saat istimewa itu akan selalu hadir, karena kami sengaja memberinya tempat di hati kami masing-masing, secara bersama-sama.

***

Komunitas Onthel Potorono (OPOTO) menyampaikan minal aidin walfaizin bagi sahabat yang merayakan lebaran, mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan kami selama ini, lahir maupun batin.

33 responses to “Puasa, Ngonthel, dan Kegembiraan Hati

  1. pertamax…. anehnya semua rute ngonthel OPOTO selalu nampak sangat mengesankan… dan memang senyatanya ya sangat mengesankan.. jgn2 ini juga kepiawian pak Tono memilih rute.. dan tentu kejelian mas Wongeres memilih warung..hehehe.. mhn maaf lahir batin kagem sederek OPOTO. salam

    • Sugeng pepanggihan, Pak Rendra. Semoga sehat selalu. Mas Tono memang punya naluri tikus untuk mengenali jalanan setapak. Kalau Mas Bantoro naluri apa ya kok bisa mengenali bebatuan? Hehe…

  2. keduax….
    nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kagem sederek sedaya. barangkali ada perkataan saya yang tidak berkenan.
    kalau di foto2 ini terlihat mengesankan, jangan lupa kontribusi tampang2 talentnya…

  3. KETIAXXXXXXXXXX…..

    mohon maaf lahir & bathin buat om Wongeres n keluarga besar OPOTO…

  4. herannya…nggak ada matinye nih ( kalau orang Betawi bilang) , mesthi ada hal hal yg “interest” bila saya ikut mengintip jalannya onthel OPOTO……menjadikan ingin ikut “terlena” didalamnya….kapan lagi yah…..? Wah.. mas Bantoro nggak keliatan tuh…ketutup batu apa yah…apa ketutupan Mas Max…..he he he he …..gimana Mas Max…eh ..Mas Agung…..apa sudah tambah gede perutnya….hikmah menjalani puasa…….salam kagem kerabat OPOTO sedoyo……

    • Pak Dhe Rangga, silahkan fotonya diklik, senyumnya Mas Bantoro masih cukup jelas karena cutinya kali ini benar-benar sampai puas. Mas Max malah sumlengeren, entah karena referendum atau karena harga gemak naik jadi 6500! Haha… Tanggal 25 sebenarnya termasuk hari baik untuk ngonthel🙂

    • Pakde Rangga, saya hadir, rasanya kok sayang melewatkan moment istimewa ngonthel bareng opoto seperti ini lho. Moment istimewa menjadi bertambah istimewa setelah diupload dengan tutur bahasa khasnya Pak Noer. Salam ngonthel juga buat pakde.

  5. Ngaturaken Wilujeng Idul Fitri 1432 H…Nyuwun gunging pangapunten kagem sedherek sedherek Opoto… Mugi kito kanugrahan jatining fitrah saking gusti ingkang Maha Mirah..Amin

  6. Wah, liputannya dijadikan satu ya? ramadhan + syawalan……si Boss lagi kekurangan kata-kata nih! hehehe

  7. nyuwun di jawil, nek badhe goes malih amargi sakmeniko sampun dados tanggi potorono hihihihihihi3

    • Alhamdulillah, makin deket. Masih wira-wiri Mas? Musim matoa lho. Hehe… Syawalan kemarin datang? Wah, menyesal kami pulang siang sudah pada gempor trus malah ketiduran sampai sore.

  8. m.Noor,sudah beberapa hari ini,Prenjak-e kok ngganter ya m.Noor..??? sepertinya akan ada Priyagung dari jauh,yang akan rawuh Yogya,apa yaa ??.apa sudah “dicawiske ubarampe”nya mas..syukur-syukur,kerawuhannya pas tgl 24-25 ya mas?? jadi,bisa diaturi ngonthel bersama…hehe

  9. injih tasih ,pk noer, musim matoa dan buah merah, pk he3 syawalan mboten nderek,pk blm merapat di jogja

    • buah merah mahal harganya
      buah matoa di lereng bukit
      rumah mewah malang nasibnya
      karena cuma dipakai transit!

      wis, nek ngono kuwi njuk kepiye, jal?😀

  10. buat semua angkringers “OPOTO” mohon maaf lahir dan batin bila ada kilaf dlm berbuat dan bertutur kata, baik sengaja ataupun tidak sengaja.
    @ mas Bantoro trimakasih udah ditunjukkan Batu yg bisa di buat Akik waktu kita berhenti di bukit Nyamplung
    @ pak Rendra sugeng pepanggihan malih, sebenarnya Rutenya itu biasa saja kok pak cuma diselang-seling, dan beberapa Rutenya itu memang sok dilewati TikuS… ha…ha…
    @ mas Billy selamat atas Rmh barunya dan kita jadi tetangga sekelurahan, kalau pas di Rmh nanti bisa ngonthel bareng

  11. @pak noer, wkwkwkkwkwkw rmh jelek,pak
    @kang mas tono, telponlah daku ya hehehheheh3 nuwun

  12. Wah Mas Billy ndak tahu nih ngendikane Pak De Wongeres…….rumah panjenengan memang rumah “mewah”…….rumah “mepet sawah”…..dan spesifikannya didalamnya ada sebuah (atau lebih) seekor “sepeda onthel” . makaten lho Mas Billy………..monggo ndang di onthel….sebab onthel puniko migunani……..nddak percaya?????? Wis to…………..

  13. Mohon maaf lahir dan batin kagem sedoyo OPOTERS!

  14. @mas rangga, wkwkwkwkwkwkkw sudah byk debu, semoga sekedap malih saget goes2 malih ,amargi sampun minggah 10 kg hihihihihihi3, nwn

    • Kalau begitu, sekedar saran buat Mas Billy, sebaiknya sementara ganti sepeda dulu, misalnya pakai transportfiet biar tidak overload! Hahaha… Maaf lahir batin lagi ah…

  15. wkwkwkkwkwkwkwkkw ngece, si pak dhe nur si kumis tipis

  16. selamat idul fitri buat dulur2 opoto, salut kegiatan komunitasnya, apa nggak ingin ke tanah blambangan naik sepur sritanjung dari jogja cuma 38 ribu, ayo kami undang ikut gerakjalan tradisional 45 km jajag-banyuwangi dengan ngontel rame2 besuk sabtu 1 september 2012 jam 16.00 wib, aku tunggu, setahun yang lalu blambangan tiduran berlimapuluh di benteng vadenbeg, ayo kapan OPOTO ngluruk di markasnya minaknjinggo

    • Waduh, apa kabar Blambangan? Selamat Idul Fitri juga. Mohon maaf, Mas Jacob. Lha ini suasana lebaran di Potorono masih berlanjut. Masih ada yang sibuk syawalan, sorenya pada kerokan. Hehe… Salam sukses buat semua sedulur Blambangan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s