Tag Archives: kuliner jogja

Sega Nggeneng, Sepeda Onthel, dan Anomali Teori

dapur Mbah Martodiryo: kepulan asapnya dirindukan banyak orang

Teori marketing modern selalu mengajarkan kunci sukses bisnis: lokasi, lokasi, lokasi! Tapi para leluhur kita dahulu  pun tak putus mewanti-wanti: jangan pernah melupakan apa yang menjadi asal-muasal kesuksesanmu. Maka, para penganut bisnis modern pun sibuk berburu lokasi strategis, sementara pengusaha tradisional tetap merawat asset lama mereka.

Kami tidak sedang mempertentangkan antara teori bisnis rasional dengan kearifan tradisional, tetapi hanya mau memberikan sebuah pengantar bagi sebuah pengalaman unik ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) sengaja ngonthel ke kawasan Karanggeneng pada Minggu pagi, 29 April 2012 lalu. Baca lebih lanjut

Iklan

Sepeda Onthel, Bakmi, dan Tradisi

Segala yang kini disebut tradisional, pada awalnya tidaklah menutup diri dari kehadiran unsur-unsur baru dan pengaruh asing. Sementara trend paling mutakhir pun sering tak sulit dilacak kesejarahannya dari akar tradisi.

Opoto menyapa malam

Kenyataan itu benar-benar kami hayati setelah kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel bersama sahabat-sahabat onthelis Jogja dan menikmati sepiring bakmi di dalam keremangan warung bakmi Sor Sawo, di Kotagede, Sabtu malam, 24 Juli 2010 lalu. Baca lebih lanjut

Mangut Lele Bu Is: Keistimewaan dalam Kesederhanaan

Sesuatu yang istimewa tidaklah selalu terlahir dari hal-hal yang luar biasa. Kesunggguhan dan ketekunan mengeksplorasi apa yang ada terbukti seringkali mampu menghadirkan keistimewaan yang lebih alami.

mangut-01

laskar Opoto yang lapar

Minggu pagi, 16 Agustus 2009 itu komunitas Opoto (Onthel Potorono) berencana ngonthel terakhir sebelum puasa dengan penekanan lebih pada kulinernya. Sepertinya ini agak berbau romantisme karena akan meninggalkan kebiasaan makan siang hari selama sebulan. 🙂 Pilihan kuliner itu jatuh pada mangut lele Bu Is di Jetis, Bantul.

Baca lebih lanjut

Gudheg Pawon: Kejarlah Gudheg, Walau Sampai ke Dapur!

Jika kita berkeliling ke kampung-kampung di Jogja, akan kita jumpai banyak pohon nangka, bahan baku sayur gudheg yang terkenal sebagai salah satu trade mark kuliner dari Jogja itu. Sebenarnya mana yang lebih dahulu hadir di Jogja: keberadaan pohon nangka, atau sayur gudheg? Mempertanyakan keduanya sama saja mempertanyakan mana yang lebih dahulu ada: kreativitas mengolah peluang atau nasib baik?

Pengalaman komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel malam di Angkringan Nganggo Suwe ternyata membuka semakin banyak tantangan untuk mencoba kuliner malam Jogja yang ajaib. Sabtu malam tgl 8 Agustus lalu kami kembali ngonthel malam hari. Kali ini kami sengaja mau mencicipi Gudheg Pawon di jalan Janturan, Jogja. Arahnya dari pertigaan toko Pamela Kusumanegara menuju ke selatan.

gudheg-pawon-1

dengan semangat perjuangan, opoters memburu gudheg tengah malam

Bagaimana tidak ajaib. Warung gudheg satu ini mulai buka pada pukul 23.15 WIB, saat orang umumnya sedang lelap berselimutkan mimpi indah. Sudah begitu, apa yang disebut warung itu sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada adalah sebuah dapur renta berukuran 4m x 6m yang setiap malam diserbu antrian panjang hingga ke halaman. Pembeli dilayani di dapur itu, persis di dekat pawon (tungku) tempat nasi ditanak dan gudheg dimasak, lengkap dengan aroma asap dari kayu yang terbakar.

Baca lebih lanjut

Ngonthel Sampai ke…Padang!

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Artinya, Zal? Ya, berbeda daerah, beda situasi, beda kondisi, bahkan berbeda angle atau sudut pandang akan menghasilkan adat, kebiasaan, dan pandangan yang berbeda pula sesuai dengan konteksnya. Kalau kita mampu menyadari dan membuka diri terhadap perbedaan itu, harusnya hidup kita akan kaya warna. Sungguh!

Ini peribahasa sederhana lho, tapi kok untuk mempraktekannya nggak sesederhana itu ya. Buktinya, kita masih sering main mutlak-mutlakan, merasa bahwa kebiasaan kita, pendapat dan pandangan kita, adalah satu-satunya yang terbaik. Contohnya, kalau kita balik ditanya, apakah pendapat kita barusan –tentang adanya perbedaan sesuai konteks– itu mutlak benar adanya? Hayo, masa mau bilang tidak?

Lontong-sayur1

Kalau konteksnya ngonthel sih, lain Minggu sebaiknya ya lain pula routenya. Seperti Minggu, 14 Mei 2009 ini. Bahkan, meskipun sama-sama ada acara nyotonya, kali ini sotonya pun b e d a. Biasanya kami sering dibuat ragu dalam mengkategorikan soto itu termasuk makanan atau minuman. Tapi kali ini, haqqul yaqin: soto ini termasuk makanan! Kenapa? Karena kuahnya begitu gurih dan kental. Minggu ini, Opoto ngonthel sampai ke soto Padang.

Baca lebih lanjut