Gunung Api Purba Nglanggeran: Kisah Mendaki Investasi

gn-purba-nglanggeran-01 senyum Opoters di Gunung Purba Nglanggeran

Hidup itu mengalir, mengantarkan kita pada peristiwa demi peristiwa, peluang demi peluang. Dan semua yang pernah kita jalani tidaklah sia-sia. Hanya saja, ketika mengalami saat-saat sulit, kita sering lupa, sampai kadang harus mengeluh berkepanjangan. Hal ini sempat menjadikan perenungan ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) menempuh perjalanan ngonthel ke Nglanggeran, sebuah kawasan Gunung Purba di Gunung Kidul yang belum pernah kami kunjungi. Gunung? Benar. Naik sepeda onthel? Betul. Apakah itu rute yang menarik untuk bersepeda onthel? Tentu saja tidak.

g-purba-nglanggeran-02 tanjakan pemanasan di Ngoro-oro

Minggu pagi, 19 Oktober 2014 itu kami merasa sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Lokasi Nglanggeran sebenarnya hanya berjarak 25 km dari Yogyakarta, 22 kilometer dari Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunung Kidul. Tetapi, jika begitu berangkat kami sudah harus menaklukkan tanjakan Pathuk yang kami nilai sebagai tanjakan paling ekstrem, kami tentu sudah akan kelelahan di awal perjalanan. Oleh karena itu, atas ide Pak Joni, kami menyiapkan sepeda onthel kami di atas tanjakan, tepatnya di PJR Pathuk. Dengan begitu, dalam bayangan kami semula, kami tinggal menikmati perjalanan dengan rute yang relatif landai. Apakah benar begitu? Ternyata juga tidak! Baru beberapa kayuhan saja dari PJR Pathuk, kami sudah harus menghadapi tanjakan-tanjakan.

g-purba-nglanggeran-03

salah satu dari mereka baru saja berlari setelah memencet shutter camera😀

Memasuki dusun Ngoro-oro, tanjakan-tanjakan sudah semakin nyata. Bagaimanapun, rute ke Nglanggeran merupakan rute mendaki. Di Ngoro-oro, kami sempat berhenti di kawasan tempat menara-menara transmisi berdiri menjulang di sana-sini. Kami juga berfoto dan menikmati pemandangan lepas di bawah sana: sawah-sawah berundak, jalanan setapak yang berkelak-kelok berlatarkan perbukitan dengan gerumbul-gerumbul pohonan hijau yang menghembuskan angin segar. Langit yang biru kontras seperti sengaja memberikan keleluasaan bagi berbagai jenis burung yang beterbangan dengan riang.

g-purba-nglanggeran-04

kawasan seribu pemancar

Setelah cukup beristirahat, pendakian onthel kembali kami lanjutkan dengan menyusuri jalanan terjal berliku, membuat perjalanan terasa begitu dramatis. Di tanjakan terjal maupun di turunan yang curam kami harus turun dari sepeda dan menuntun sepeda onthel kami. Di bawah guyuran sinar matahari yang mulai naik, maka perjalanan ini semakin lama menjadi semakin berat. Meskipun begitu, di sepanjang perjalanan kami tak berhenti berseloroh.

g-purba-nglanggeran-05

mendaki investasi

Pak Beni yang biasa bersepeda down hill selalu berteriak lantang setiap kali kami harus melewati tanjakan terjal: “Jangan risau melihat tanjakan, karena di balik setiap tanjakan pasti ada turunan. Tidak percaya? Tengok saja ke belakang!” Ada juga yang berlagak menyemangati dengan mengatakan bahwa karena ngonthel sudah, jalan dan mendaki sudah, maka acara terakhirnya tinggal… berenang! Sementara Pak Heru yang dengan tenaga kudanya selalu bersemangat memimpin di depan, dengan gaya khas seorang bankir menasehati kami: “Berlelah-lelah dahulu tidak apa-apa, ini kan investasi…”

g-purba-nglanggeran-06

menyegarkan raga di soto jahe Mbak Jam

Setelah beberapa saat, labirin panjang dan terjal itu akhirnya menuntun kami memasuki Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Akan tetapi, jangan salahkan kami kalau ternyata kami pun tergoda oleh papan penunjuk arah menuju “Soto Mbak Jam”. Tanpa perdebatan berarti, keputusan untuk terlebih dahulu nyoto di Nglanggeran pun kami laksanakan. Tempatnya cukup unik, seunik rasa sotonya yang cenderung manis dan didominasi aroma jahe sehingga sambil meminta sedikit garam kami pun berkomentar bahwa soto Nglanggeran ini cocok untuk menghangatkan badan dan mengusir masuk angin. Setelah menandaskan mangkuk-mangkuk soto dan bergelas-gelas teh hangat, kami pun berpamitan. Sebelumnya, kami sempat mengajak Mbak Jam berfoto bersama sebagai kenang-kenangan perjalanan.

g-purba-nglanggeran-07 bersama Mbak Jam, pemilik resep soto jahe Nglanggeran

Hanya beberapa kayuhan dari soto Mbak Jam, sampailah kami di pintu masuk Gunung Purba Nglanggeran. Gunung Purba Nglanggeran adalah sebuah gunung karst. Lapisan kapur di gunung tsb berasal dari dasar laut yang terangkat dan kemudian menjadi daratan. Lebih dari 60 juta tahun lalu, ia adalah sebuah gunung aktif di Jogja selain Merapi. Gunung Gedhe sebagai puncaknya menjulang di ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut. Hanya saja, ketika kami datang, gunung ini sudah tidak aktif lagi. Kami sedikit terlambat.

g-purba-nglanggeran-09 Gunung Purba Nglanggeran

Saat kami berdiri di pintu masuk, hari sudah terlalu siang sehingga kami justru ragu untuk mendaki sampai ke puncak. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki ke Embung Nglanggeran, yaitu sebuah telaga buatan seluas kurang-lebih 5.000 meter persegi di ketinggian 500 meter dari permukaan laut. Embung ini berfungsi untuk memanen air hujan, menampungnya agar dapat digunakan untuk mengairi kebun buah kelengkeng, durian, dan rambutan di area sekitar embung. Ketika musim kemarau, para petani bahkan bisa memanfaatkan airnya untuk mengairi sawah mereka. Meskipun puncak yang harus kami daki tidak setinggi puncak Gedhe, tetapi perjalanan ke Embung Nglanggeran juga tidak bisa dibilang dekat, dan di kiri-kanan jalan bebatuan raksasa semakin lebat terserak. Beberapa kali Mas Tono yang tengah tergila-gila pada batu akik pun berhenti ketika melihat penampakan batu yang menarik hatinya.

g-purba-nglanggeran-08entah bagaimana Mas Tono membawanya pulang…😀

Panas semakin terik. Kami juga salah memperkirakan perbekalan minum kami. Jarak masih jauh, tapi air minum tiada lagi. Beruntunglah, di jalanan sesunyi itu, ketika rasa haus mulai menyerang, ada juga warung kecil yang menjual air mineral dalam kemasan. Kesejukan tak hanya kami rasakan saat kami menikmati air seteguk demi seteguk. Keramahan Ibu pemilik warung itu pun terasa begitu menyentuh. Tak hanya menyediakan air minum, ia juga menyuguhkan sepiring randha royal, yaitu tape singkong yang digoreng. Gratis. Setelah minum dan membawa bekal secukupnya, kami pun berpamitan sambil mengucapkan terima kasih kepada pemilik warung. Perjalanan agaknya masih panjang, tetapi setidaknya sekarang kami tidak lagi takut kehausan.

g-purba-nglanggeran-10

menikmati “randha royal”

Segenap rasa penat sementara sirna oleh indahnya panorama puncak dan hamparan air yang menyejukkan mata saat kami sampai di Embung Nglanggeran. Meskipun matahari terik, belaian angin di ketinggian telah mengeringkan peluh di sekujur tubuh kami. Tetapi kami tak bisa menikmatinya berlama-lama. Setelah dirasa cukup, kami pun turun, lalu bergegas menempuh perjalanan pulang. Jarak yang harus kami tempuh masih sepanjang saat kami berangkat. Hanya saja, kondisi jalan yang menurun jelas membuat kami lebih santai sehingga bisa memperhatikan betapa di kanan-kiri jalan banyak tumbuh pohon coklat dengan buah yang lebat serta deretan pohon durian yang tengah kembang. Pak Joni tampak begitu excited dan bahkan mengajak mampir ke sebuah tempat yang menjual aneka oleh-oleh khas Nglanggeran seperti aneka olahan singkong dan dodol coklat. Tidak lupa kami membeli beberapa botol minuman sebagai bekal perjalanan pulang.

g-purba-nglanggeran-11 embung Nglanggeran

Melihat kami semua menikmati turunan di sepanjang perjalanan pulang, Pak Heru dengan gaya bankir kembali melanjutkan pelajarannya: “Bagaimana? Lebih nyaman, kan? Ini kita sedang menikmati investasi yang kita tanam dalam tanjakan-tanjakan saat berangkat tadi…” Hari semakin siang, sepeda onthel kami terus melaju hingga menuruni Pathuk dan begitu saja kami sudah sampai di Piyungan. Tapi perjalanan belum selesai, karena rasa haus kembali menghampiri. Untuk menghindari dehidrasi, kami pun berhenti sejenak di sebuah rumah makan, hanya untuk meneguk segelas air kelapa muda dengan gula jawa. Sejuk dan segar, membuat jiwa-raga kami kembali bugar hingga kami sampai di rumah, disambut tatapan takjub tetapi penuh maklum dari keluarga, karena kami pulang selambat itu. Kami pun bercerita bahwa kami baru saja mendalami kembali prinsip investasi. Bahwa semua kesulitan yang kami lalui di saat berangkat, ternyata memberikan kemudahan dan kesenangan di saat pulang. Semoga, kebiasaan ngonthel kami ini pun akan menjadi investasi, khususnya bagi kebugaran dan kesehatan kami di hari-hari nanti.

***
Untuk sedulur onthelis di mana pun berada, jangan pernah kehilangan semangat untuk mengayuh, meniti dan mendaki segala kekayaan alam serta peradaban bumi pertiwi.

Salam hangat dari kampung Potorono.

29 responses to “Gunung Api Purba Nglanggeran: Kisah Mendaki Investasi

  1. Assalamu’alaikum,
    Alhamdulillah sekian lama saya tunggu tunggu akhirnya blog fenomenal pit onthelpotorno kembali menerbitkan kisahnya, kemana saja mbah pak mas lama ga update blog?sibuk mejeng di tugu atau asyik mejeng di jembatan janti?😀
    semoga onthelpotorono rajin update cerita lagi sampe kangen rasanya baca kisah ngonthel pit ontanya hehe😀 sampe-sampe saya berulang kali baca tulisan yg sama demi kisah onthelpotorono yg seperti terjadi di desa saya sendiri😀
    insya Alloh kapan2 bila ada waktu serta kesempatan saya pengen ngonthel ke kerajaan potorono naik pit onthel dari Kebumen langsung🙂
    ayo ngonthel lagi sembari bercerita pd ontheler yg lain🙂

    • wongeres OPOTO

      Wa alaikum salam.
      Wah, komentar Mas Yogie membuat seolah kisah perjalanan kami ini sebegitunya berarti🙂 Matur nuwun atas apresiasi Panjenengan, Mas. Perjalanan ngonthelnya sih setiap Minggu pagi kami lakukan. Tapi situasi dapur kadang menuntut waktu lebih untuk “gegenen” (menghidupkan api pada tungku) sehingga tidak sempat diupload. Insya Allah ke depan kita akan kembali berbagi kisah. Kisah yang itu-itu juga, karena hanya seperti itulah lingkungan tempat kami ngonthel….

  2. wahyu supriyanto

    waduh…. jadi kangen pengen ngontel lagi pak…. meluuuuuuuu…..

    • wongeres OPOTO

      Hehe.. Pak Wahyu, lha ini cerita keluh kesah juga, je. Berangkat fajar, pulang ashar.. Hiking saja sudah berat, ini sambil nuntun sepeda!😦

  3. Mantabs Bro

  4. Sayang ya Pak Noer, nggak sempet naik ke gunung Purba sama menikmati air Air terjunnya.

  5. baguskurniawan

    wooooo, keliwatan nih

    • wongeres OPOTO

      Mas Bagus, kami sudah berburu akik di gunung. Minggu lalu ke Sungai Oya. Ayo minggu depan kita ke perajin batu. Yang recommended di mana Mas?

  6. Qlyyyy Spooorrr

    Siiiip siiiiip siiiiip, setorane udah melebihi, jadi bisa up load lagi.
    Lho malah mau ke zaman batu lagi, bagus donk untuk dikoleksi

    • wongeres OPOTO

      Hahaha… kromo alusnya: “entèk ngamèk kurang golèk” 😀
      Mas Harjo, koleksi Gazelle tuanya sudah nambah belum? Mau nempil setopannya. Itu kalau digosok katanya bisa mirip merah siyem. Hehehe…

  7. jooooos pak noer… lihat route dan alamnya bisa “ngonthel” sambil hunting “perburungan” yaaaa… heee..hee.. salam opoteeeeeers…

    • wongeres OPOTO

      Hahaaa… Apa lagi kalau pakai sadel Simplex dames! Pasti akan ada kaitannya dengan perburungan.🙂 😀
      Ayo Pak Agung, boleh dong kita dipandu ke habitat perburungan, biar nambah wawasan. Boleh?

  8. baguskurniawan

    @Mas Noer, tukang gosok batu akik di sekitar kota Yogya seperti Kotagede, giwangan dan mergangsan, ada mas. Cuma nggak tahu hari minggu pada buka atau nggosok apa tidak. Ayo belajar nggosok sendiri saja

  9. anggorowijatmiko

    Luar Biasa…

  10. Kapan onthel ke Borobudur pak Noer?

    • wongeres OPOTO

      Pak Heru, iya nih, hujan sudah mulai reda. Kita ajak Mas Aat yuk. Sepertinya dia hapal jalan ke sana, terutama ke mangut beong. Hehe…

  11. Cah kene omahe kono

    Wahhhh…..memang OPOTO gak ade matinye….selalu eksis….!!!…TOP…
    Pakdhe noer….menawi burgers pasturipun punopo pun bosen?…hehehe

    • wongeres OPOTO

      Waaah. Amin, maturnuwun.
      Alhamdulillah, Burgers taksih setya ngancani nggosok akik lhooo.

      Pagupon omahe dara…😀

  12. qlyyyy Spooorr

    Burgers masih menemani nggosok akik wonten Potorono, yen kulo ngentosi bosene G1 ingkang sampun sepuh lan boten nate kagem Katuranggan lan Pejantan wonten Potorono, badhe kulo sandingaken G2 wonten Minggir, mangke datheng Minggir rak saged nambah.

  13. Apakah mas Aat masih ingat cara mengayuh sepeda?

  14. He he nemu lagi

  15. perjalanan yang menyenangkan dan menyehatkan pastinya, jd tidak merasa capek,

  16. Sudah kuduga, blog pak Noer hanya hangat hangat tahi ayam kayak yang di blog wira wiri naek sepeda juga sama; sepedaan sudah nggak ungsum lagi, tidak pernah ada acara pit-pitan lagi. Sedih. Ayo semangat pak.

    • Hehe… alam menjadi saksi, Opoto terus bersepeda setiap Minggu pagi! Hanya saja banyak cerita tidak sempat kami upload di blog ini. 😦

  17. Ulasan, paparan, walah mbuh..tapi cerita Dari Wongeres memang sangat menarik dan berkualitas sastra tingkat tinggi, ngonthel ditambah lagune Billy Joel, summer highland falls , atau delta blues nya Mas Herry Firmansyah atau…kuthut manggung..pasti nglanguttt..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s