Category Archives: berbagi

Mbah Pudjo Sadel: Saya Menjual Orang!

Apa yang paling menentukan kenyamanan saat mengendarai sebuah sepeda onthel? Jawaban atas pertanyaan ini barangkali masih bisa beragam. Mbah Pudjo Hartono (76 tahun) yang tinggal di dusun Gading, Donokerto, Turi, Sleman, Jogja, memilih salah satu dari beberapa jawaban yang ada: sadel!

sadel: salah satu kunci kenyamanan ngonthel

Berdasarkan pilihan jawaban itu pula Mbah Pudjo menjalankan profesinya. Lebih dari 60 tahun ia menekuni kegemarannya sejak kecil, yaitu memperbaiki sadel-sadel yang rusak. Dengan jam terbang selama itu, ia bahkan hapal jenis-jenis sadel dari berbagai merek sepeda onthel yang beredar di Indonesia. Meskipun begitu, setiap akan menjawab pertanyaan seputar sadel ia masih merendah dengan mengatakan bahwa ia akan menjawab dan melayani permintaan “sakgadug kulo” (semampu saya). Baca lebih lanjut

Iklan

Bersepeda di Belanda

Setelah tulisan tentang bersepeda di Jerman, tulisan bersepeda di Belanda berikut ini kembali ditulis oleh sahabat/koresponden Opoto (Onthel Potorono): Mas Farid Mustofa. Semoga memperkaya wawasan kita (wongeres).
—–

Tanggal 24 Juli 2009 saya ke Belanda, mengunjungi Eduard, teman kost saya saat ia belajar di Jogja. Ternyata Eduard benar-benar jatuh cinta pada Indonesia. Kecintaan Eduard terhadap Indonesia bukan hanya dibuktikan dengan menikahi wanita Indonesia, melainkan juga dengan ketekunannya mengelola warung makan yang menyediakan 36 menu masakan khas Indonesia. Sebagai buah dari ketekunannya itu, di warung mungil seluas 5m x 3m itu Eduard dan istrinya sanggup menjual 200 porsi sehari, satu porsinya berkisar 10euro (Rp150.000). Sebuah bisnis yang menarik, semenarik nama warungnya: „Toko Iboe Tjilik“.

Bersepeda-di-Belanda-01

bersepeda berdampingan, layaknya di Indonesia

Selagi berada di Belanda inilah saya meniatkan hati untuk mengamati situasi persepedaan di sana. Tetapi, tiga hari di Leiden dan sehari di Amsterdam ternyata tidaklah cukup untuk maksud tersebut. Baca lebih lanjut

Bersepeda di Jerman

Berikut ini adalah gambaran suasana bersepeda di Jerman yang ditulis oleh seorang sahabat dan koresponden Opoto (Onthel Potorono): Mas Farid Mustofa. Sudut pandang dari kaca mata orang Jogja yang mengaku awam tentang sepeda ini justru membuat ceritanya  begitu lucu, hidup, otentik, dan inspiratif. Semoga berkenan mengikuti ceritanya (wongeres).

***

Sebelum berangkat ke Jerman, saya tidak membayangkan akan bersepeda di sana. Apalagi mengendarainya setiap hari. Saya lebih tertarik menggunakan alat transportasi kebanggaan Jerman, yaitu trem yang kenyamanan dan keakuratan jadwalnya terkenal handal.

Setelah hampir 8 bulan tinggal di Jerman, rupanya takdir saya berkata lain. Nyatanya, baru 15 menit lalu saya memasukkan sepeda ke keller (gudang bawah tanah) setelah menempuh 10 km untuk jumatan. Ironisnya, bukan hanya seminggu sekali saya lakukan itu, tapi hampir setiap hari. Itu artinya, saya nyepeda terus!

bersepeda-di-jerman-01

di dalam kota, sepeda masih jadi primadona

Saya tinggal di Leipzig, dua jam dari Berlin. Kota komponis JS Bach, filsuf W. Leibniz, F. Nietzsche, dan penyair Goethe ini kira-kira sebesar Jogja, tapi selengang Klaten karena hanya berpenduduk 500.000 jiwa. Di kota ini berdiri universitas tertua kedua di Jerman (yang Desember nanti merayakan ultahnya ke 600), juga rumah opera Gewandhaus Orchestra yang pernah disinggahi komponis besar seperti Beethoven, Wagner, Bach, dan menjadi barometer musik klasik Eropa hingga sekarang. Baca lebih lanjut

Pasar Pandak: Wisata Belanja Sepeda Onthel

Sebaik-baik perubahan adalah yang dapat kita kendalikan melalui sebuah perencanaan yang baik. Sedangkan sebaik-baik rencana perubahan adalah yang tidak banyak menyisakan korban. Laju modernisasi dan tuntutan pasar global merupakan salah satu kekuatan yang memicu perubahan dalam kehidupan keseharian kita. Kalau kita perhatikan, pengembangan dan perluasan kota telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat pinggiran kota, bahkan desa, termasuk mempengaruhi pola konsumsi mereka.

Aktivitas ekonomi masyarakat desa yang dahulu terpusat di pasar tradisional, kini sebagian mulai tersedot ke minimarket, supermarket, bahkan hypermarket dan mall. Pamor pasar tradisional pun terus merosot. Jika ini terus berlanjut, bukannya tidak mungkin, pasar tradisional akan punah tergerus zaman. Keriuhan pasar desa yang becek dengan baunya yang terlanjur lekat dengan kehidupan kita itu barangkali juga hanya tinggal kenangan. Oleh karena itu, masing-masing pemerintah daerah berupaya mengantisipasi agar pasar tradisional beserta para pedagang yang melakukan aktivitasnya di sana tidak menjadi korban perubahan ini.

Pandak-1

aktivitas pagi pasaran di gerbang pasar Pandak

Beruntunglah kita, para penggemar sepeda onthel, karena pasar sepeda tradisional yang biasanya menyatu dengan pasar hewan itu masih eksis hingga sekarang. Apa lagi saat ini, ketika minat orang akan sepeda onthel kembali merebak.

Lihat saja misalnya pasar Pandak di jalan raya Palbapang-Srandakan (lebih kurang 2 km barat perempatan Palbapang), Bantul, Yogyakarta yang di hari pasaran selalu ramai dikunjungi penjual maupun pembeli, sebagaimana pagi itu, saat komunitas Opoto (Onthel Potorono) main ke sana.

Baca lebih lanjut

Margono Sedayu: Menangani Onthel dengan Hati.

Nama Margono dalam jagad perbengkelan sepeda onthel di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang ayahnya yang juga kakak kedua dari Mbah Ngatijo: Pak Sadiyo almarhum.

Sebagai anak Pak Sadiyo, Margono sejak kecil sudah sering ikut ayahnya membawa dagangan sepeda ke pasar Godean. Di usia SD itu, ia sudah mampu mengenali beberapa merek sepeda onthel. Pembawaan ayahnya yang kreatif, tak bisa diam, dan keras hati sedikit banyak mempengaruhi Margono remaja, termasuk dalam memilih sekolah. Setamat SMP, Margono meneruskan ke STM, dan sejak kelas satu ia sudah membantu bekerja di bengkel ayahnya di Sedayu.

Margono-&-ibuSang Penerus bersama ibundanya

Baca lebih lanjut

Obituari: Mbah Wir, Legenda Onthel dari Prambanan.

Mbah Wiryo (84), tokoh legendaris peronthelan sekaligus kamus atau ensiklopedi berjalan mengenai sepeda lawasan telah tiada pada hari Minggu, 17 Mei pukul 23.00 WIB. Almarhum juga seorang pedagang sepeda onthel lawasan yang tinggal di Dusun Klurak Baru, Desa Bokoharjo Kecamatan Prambanan, Sleman. Almarhum dimakamkan hari Senin pukul 14.00 Wib di makam setempat. Selamat Jalan Mbah Wiryo. Dari teman anak bungsumu.

Demikian sebuah berita dipostingkan di blog ini oleh seseorang dengan nama Bagus Kurniawan. Pesannya yang singkat tak bisa menyembunyikan sebuah dukacita yang mendalam. Komunitas Opoto menuliskan obituari berikut ini sebagai kenangan atas almarhum Mbah Wir, Sang Legenda.

—————————

Sebuah profesi, sejatinya menuntut sebuah tanggung jawab besar yang tumbuh dari kecintaan atas pekerjaan yang dipilih. Kecintaan, dedikasi, kesungguhan menekuni semua yang berhubungan dengan pekerjaan, termasuk menghadapi pasang-surut serta suka-dukanya itulah yang akan membuktikan profesionalitas seseorang.

Nama Wiryosuharto, atau biasa dikenal sebagai Mbah Wir, barangkali adalah salah satunya. Meskipun ia hanya memiliki bengkel kecil yang sederhana di Prambanan sana, namanya sangat dikenal bak legenda. Di bengkel itu pula, setiap hari Mbah Wir bersama istri setianya memajang berderet-deret sepeda onthel tua pilihan yang didapatkannya dari hasil perburuannya ke pasar-pasar desa di Bantul, Godean, dan sekitarnya. Pelanggannya yang tak hanya para pencinta onthel di wilayah Klaten-Jogja, melainkan juga dari Jakarta dan luar Jawa, sering berkunjung untuk melihat ‘hasil buruan’ Mbah Wir, siapa tahu ada yang disuka dan cocok harganya.

Mbah-Wir-Prbn1

kemandiriannya beralaskan sebuah kecintaan mendalam pada profesinya Baca lebih lanjut

Mbah Ngatijo: Ilmu untuk Sesama.

Sebuah pepatah Jawa menggambarkan betapa pentingnya ilmu/pengetahuan sebagai sesuatu yang “digembol ora mrongkol, dibuwak ora kemrosak” (ditaruh saku tidak kentara, dibuang pun tidak berbunyi). Kalimat itu menggambarkan bahwa kekayaan berupa ilmu itu lebih kekal daripada harta benda, karena ilmu tak akan bisa dirampok atau direbut. Tidak seperti harta benda, ilmu secara fisik juga susah dikenali sehingga membedakan si kaya dari si miskin tentu lebih mudah daripada membedakan seorang yang banyak ilmu atau tidak. Ilmu juga sangat praktis sehingga transfer ilmu bisa saja terjadi tanpa menarik perhatian.

Sesungguhnya, sebuah ilmu baru akan berguna jika diamalkan sehingga mampu mendatangkan manfaat bagi banyak orang. Begitulah yang diyakini oleh Mbah Ngatijo, seorang pemilik bengkel sepeda onthel yang dikenal luas oleh para onthelist Jogja.

mbah-ngatijo1

Baca lebih lanjut