Pendopo nDalem: Angkringan di Istana Pangeran

gerbang pendopo ndalem

Dalam banyak tayangan acara di televisi, para bangsawan dalam tata kemasyarakatan lama sering dilecehkan secara berlebihan sebagai seorang dengan pandangan dan perilaku feodal yang kolot dan tidak lagi sesuai perkembangan zaman. Padahal, bahkan di zaman modern ini, perilaku feodal juga banyak dipraktikkan di kalangan politisi, pejabat, akademisi, budayawan, bahkan rohaniawan, dan sebagainya. Para oknum yang menganggap dirinya ‘lebih tinggi’ dari sesama, bahkan atas dasar ukuran yang direkanya sendiri itu bisa kita temukan di mana saja.

Mestinya kita tak lupa, betapa dalam perjuangan menegakkan revolusi kemerdekaan yang mencita-citakan kedaulatan di tangan rakyat, seorang raja Yogyakarta justru tampil di depan untuk melindungi dan mengasuh bayi bernama “Indonesia”. Beliau adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang dikenal lekat dengan prinsip mulia: tahta untuk rakyat!

tempat kelahiran HB IX

Kami mengenangkannya ketika kami, komunitas Onthel Potorono (Opoto) ngonthel pada Sabtu malam, 4 Agustus 2012 ke angkringan Pendopo nDalem di jalan Sompilan 12, utara pasar lama Ngasem, Yogyakarta. Angkringan ini menempati sebuah bangunan tua yang dibangun pada tahun 1872 atas perintah Sri Sultan Hamengku BuwonoVII. Bangunan yang disediakan sebagai rumah tinggal Gusti Pangeran Purbaya ini lalu dikenal sebagai nDalem Purbayan lama, karena sebagai putra sulung, Gusti Pangeran Purbaya kemudian pindah ke keraton dan dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1921. Satu hal yang istimewa adalah, genap 100 tahun lalu, tepatnya bulan April 1912, di rumah ini dilahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Dorodjatun. Bayi inilah yang di kemudian hari menjadi manusia besar dan dikenal sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Maka, sungguh ajaib rasanya ketika malam itu kami menikmati nasi kucing, bakmi, dan aneka jajan pasar serta berbagai minuman rempah di rumah nan bersejarah. Makanan itu disajikan di atas meja yang ditata memanjang. Nasi kucing, sebagai menu khas angkringan disajikan dalam aneka pilihan lauk seperti ikan tongkol, sate ayam, telur puyuh, teri, oseng-oseng, gudeg, atau brongkos. Sedangkan aneka jajan pasar seperti klepon, nagasari, ketan, jadah manten, lemper, semar mendem, serabi, kue ku, kicak, dan banyak lagi dihidangkan dalam tampah-tampah bambu beralaskan daun pisang.

nasi kucing, sate, dan jajan pasar

Di samping teh, kopi, beras kencur, temulawak, dan kunir asem, minuman rempahnya pun menggoda. Ada wedang Gajah (ukuran gelas besar) atau Bledug (=anak gajah, untuk menggambarkan ukuran gelas kecil) berisi campuran sereh, jahe, cengkeh, kayu manis, dan gula jawa. Ada juga wedang Gasu (ukuran besar) atau wedang Suduk (ukuran kecil) berupa susu, sereh, jahe, cengkeh, kayu manis, dan gula jawa. Lama kami menikmati menu angkringan sambil ngobrol ke sana-ke mari, sementara para pelanggan lain terus datang dan pergi.

kembul bujana

Tak terasa malam pun kian larut. Maka, selagi badan kami masih hangat oleh makanan dan minuman yang masuk ke perut, kami memutuskan kembali mengayuh sepeda onthel kami menembus gelap dan dinginnya udara malam yang serasa menusuk sampai ke tulang.

senyum kenyang  🙂

Dari Ngasem, perlahan kami menuju alun-alun selatan. Pada bulan Ramadhan, rupanya tempat ini masih ramai dikunjungi orang hingga larut malam. Sepeda tandem dan kereta kayuh berhiaskan lampu warna-warni tampak masih ramai disewa orang untuk berkeliling alun-alun, sementara di tengah alun-alun banyak orang masih berkerumun. Kami terus melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di Plengkung Gading, tanpa dikomando kami semua meminggirkan sepeda kami, mengikuti naluri untuk meninggalkan jejak diri. Ya ampuuun!

Meskipun semula kami semua cukup mampu menahan diri sehingga sesi berfoto bisa berjalan dengan tertib, tetapi naluri kami yang lain agaknya masih butuh penyaluran. Beberapa detik kemudian sepeda itu begitu saja kami tinggalkan, sementara kami memanjat ke atas lalu asyik memandangi lalu lintas Jogja dari atas plengkung. Puas menyalurkan hasrat, barulah kami benar-benar menempuh perjalanan pulang.

maklumat raja

Di malam selarut itu, sambil terus mengayuh sepeda onthel kami, berbagai kesan sempat singgah di hati. Pertemuan antara rumah tinggal para putera mahkota –yang dalam hierarki kekuasaan lama menduduki strata atas– dengan menu angkringan yang saat ini kita kenal sebagai makanan rakyat ‘akar rumput’ yang biasa dijajakan di pinggir-pinggir jalan menjadi sebuah kontradiksi yang secara arif membenturkan nilai-nilai yang mampu menyadarkan kami akan zaman kesetaraan di era demokrasi di sebuah negara yang bulan Agustus ini memperingati ulang tahun kemerdekaan ke-67.

menghidupkan malam

Mungkin terbawa oleh situasi Ramadhan yang memberi ruang bagi kami untuk menghayati kemerdekaan bangsa ini dalam keheningan batin, kami menyambut Agustus kali ini tidak dengan hingar bingar. Kadang sebuah pertanyaan justru menggelitik: mengapa setelah 67 tahun kita masih saja mengungkapkan rasa syukur atas kemerdekaan ini dengan ekspresi yang seragam, sama persis dari tahun ke tahun? Apa lagi semua rutinitas itu terbukti belum mampu membuat keadaan menjadi lebih baik. Rasanya kita harus mawas diri lebih jauh lagi agar mampu melakukan yang terbaik bagi bangsa ini.

plengkung gading

Tak semua nilai lama itu buruk. Dan tidak semua trend terbaru itu baik. Begitu juga sebaliknya. Maka tak perlu mencela semua hasil peradaban lama dan memuja semua bentuk produk baru. Kita hanya butuh kesadaran dan integritas untuk melakukan yang terbaik di setiap bidang yang menjadi tanggung jawab kita, menyiapkan jalan lapang bersama bagi datangnya peluang-peluang terbaik di masa mendatang. Merenungkan ini semua mungkin akan lebih produktif, agar kami tak cuma tenggelam dalam lautan bendera plastik dan umbul-umbul yang kami pancangkan untuk sekedar melepaskan kewajiban tahunan yang melekat pada diri kami.

(katanya lho:) memandang dari perspektif berbeda!

Malam semakin dalam. Lampu-lampu pengaman di sepeda kami berkeredipan menyibak kelam malam. Satu-satu kami mengayuh sepeda menyusut jarak. Udara semakin dingin, tetapi badan dan hati kami semakin hangat oleh kayuhan dan kebersamaan.

Tak masalah seberapa panjang perjalanan, selama di hati ada kemauan dan harapan. Dirgahayu Indonesia Raya!

Komunitas Onthel Potorono menyampaikan
Selamat Idul Fitri 1433 H bagi yang merayakannya
Mohon Maaf Lahir Batin.

34 responses to “Pendopo nDalem: Angkringan di Istana Pangeran

  1. Paragraph awal mustinya ada kutipan (anonim,190an) lebih jempol Boss, bisa jadi referensi para susastra. ditambah lagi cerita keki selagi pesan bisa disisipkan sebagai intermezzo begitu. hwhwee

    • Pak Ustad, lha itu kalimat kita sendiri kok. Silahkan deh cermati di televisi. Setiap ada orang berblangkon, kok karakternya cenderung negatif. Seolah tidak ada hal baik yang bisa kita ambil dari peradaban lama kita. Bukannya semua peradaban itu baik pada zaman dan habitatnya? Selebihnya, ada nilai-nilai universal yang semestinya terus melekat meskipun zaman terus berganti. Misalnya nasionalisme, humanisme, religiositas…

      Nasionalis itu tidak mengecilkan peranan para pahlawan. Humanis itu memperlakukan manusia, entah itu manusia Jogja, Solo, Kebumen, Tegal, Betawi dsb sebagai sesama ummatNya. Religius itu percaya bahwa ada tatanan yang dikehendaki dan yang dilarang oleh Yang Maha Pencipta (ini bener nggak ya, ngomongnya?)🙂

      Kalau maksudnya paragraf kedua, referensinya ada di setiap hati wong Ngayogya. Atau baca maklumat raja yang salah satunya terpampang di sudut alun-alun selatan itu (kisah kepahlawanan HB IX kepanjangan nggak ya kalau kita kutip ceritanya di sini?).

  2. Plengkung gading/nirboyo adalah plengkung legendaris kraton Yogya. Seorang raja/sultan hanya sekali seumur hidup lewat plengkung ini ketika sudah wafat. membayangkan sepeda ini adalah sepeda para abdi dalem prajurit yang jagan konten (kunci) pintu gerbang siap melakukan penjagaan dan inspeksi

  3. den Bagus PODJOK

    Tulisan yang sangat menarik untuk disimak, diresapi dan menambah wawasan bagi siapapun bagi sejarah HB IX…. walau hanya sepenggal kata…

  4. I'wey Onthelist

    Ditunggu agenda selanjutnya lho…..

  5. @menu lebaran kali ini sungguh menarik utk disimak.. makasih Mas Wong.. sayang sekali kemarin kita tdk sempat jumpa utk skedar berbincang ya.. alhamdulillah pantai Krakalnya ketemu.. sungguh indah..sama dengan reportase kali ini. salam buat sahabat OPOTO semua, mhn maaf lahir batin.

  6. Ngaturaken Minal Aidin Wal Faidzin mohon maaf lahir bathin..tema yang menarik angkringan di pendopo ndalem

    • Sami-sami, Mas Beni. Silahkan dicoba mampir mencicip berbagai jajanan pasar, nanti kalau ada liburan lagi. Kemarin cuti panjang, Mas?

  7. Sugeng Riyadi para sedherek sedanten. Menyang Kulonprogo tuku pethel, wis bar badha ayo ngonthel? maneh

    • Nyambut gawe paitan pethel
      bubar adus lunga ning Beran
      Untung wae ra sido ngonthel
      jebul Bu Bagus sido babaran! 🙂

      Mas Bagus, segenap keluarga OPOTO menyampaikan ikut berbahagia atas kelahiran anak kedua yang ganteng! Semoga menjadi anak sholeh dan akan melengkapi kebahagiaan keluarga.

  8. – Lah kalau saya memakai blangkon kok ya punya “rasa” etok etoke sedang menjadi seorang bangsawan yg sedang numpak onthel lho pak Dhe….yo mesthine kita jangan berasumsi bahwa “blangkonan” itu menunjukan perilaku yg negatif spt anggapan orang orang “masa kini”
    – Makanan yg tersaji kayaknya juga termasuk makanan yg perlu “dilindungi” lho pak Dhe, apalagi di Jakarta itu termasuk “makanan langka”, makanan yg sering saya rindukan…….
    – Oh ya pak Dhe Wongeres, saya mengucapkan Minal aidhin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathi kesalahan kehilafan saya kepada kerabat OPOTO semua……jangan bosen untuk ngonthel………..
    Kalau saya soal ngonthel spt orang : ngonthel sak mateke………ha ha ha ha.
    – Nuwun….wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh……

    • Pak Dhe Rangga, begitu juga semua kekhilafan kami yang kalau gojeg suka “car-cor” ini mohon dimaafkan. Alhamdulillah, keistimewaan blangkon sudah diakui, nggih Pak Dhe…🙂

  9. mohon maaf lahir bathin utk om Nureska sekeluarga & Keluarga besar OPOTO

  10. Pangeran Mangkubumi tidak mengakui penyerahan Mataram kepada Kompeni Belanda. Setelah pihak Belanda beberapa kali gagal mengajak Pangeran Mangkubumi berunding menghentikan perang dikirimkan seorang Arab dari Batavia yang mengaku ulama yang datang dari Tanah Suci. Berkat pembujuk ini akhirnya diadakan perjanjian di Giyanti (sebelah timur kota Surakarta) antara Pangeran Mangkubumi dan Kompeni Belanda serta Susuhunan Pakubuwana III (1755). Menurut Perjanjian Giyanti itu kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, ialah kerajaan Surakarta yang tetap dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwana III dan kerajaan Ngayogyakarta dibawah Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta. Atas kehendak Sultan Hamengkubuwana I kota Ngayogyakarta (Jogja menurut ucapan sekarang) dijadikan ibukota kerajaan. Kecuali mendirikan istana baru, Hamengkubuwana I yang berdarah seni mendirikan bangunan tempat bercengrama Taman Sari yang terletak di sebelah barat istananya. Kisah pembagian kerajaan Mataram II ini dan peperangan antara pangeran-pangerannya merebut kekuasaan digubah oleh Yasadipura menjadi karya sastra yang disebut Babad Giyanti. Sultan Hamengkubuwana I dikenal oleh rakyatnya sebagai panglima, negarawan dan pemimpin rakyat yang cakap. Beliau meninggal pada tahun 1792 Masehi dalam usia tinggi dan dimakamkan Astana Kasuwargan di Imogiri. Putra Mahkota menggantikannya dengan gelar Sultan Hamengkubuwono II. Hamengkubuwana I dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia pada peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2006.

  11. mohon maaf lahir Batin kagem sederek2 potorono, heheheh3 wah kolo wingi salah nyegat saya kira wonten ndalem sopingen kotagede heheheheh3 sanes wedal malih, pak dhe kumis tipis hehehehhehe2

    • Mas Billy ki senengane menggok ora ngeplang kok. Hahaha… Padahal malam itu rasanya sudah pasti akan ketemu, lha kok lepas lagi😀 Maaf lahir batin juga ya Mas…

  12. Hamengku Buwono IX…bukan main,tauladan! Tunggak Jarak mracak, tunggak Jati mati!

    • Benar. Kita butuh lebih banyak lagi sosok yang egaliter, jujur, dan berani. Ya, maunya sih semoga tunggak apa saja yang bakal barokah bagi lingkungannya akan mrajak dan semi.

  13. Tulisan Pakdhe Noer emang mantep lan nancep sakjroning ati….
    Sugeng Riyadi kagem sedaya mawon….nuwun agunging samudera pangaksami…

  14. Sugeng Riyadi, mohon maaf lahir batin kagem sederek sedaya. Mohon maaf lahir batin lagi, karena baru sekarang ucapannya. Hehe..

  15. waduh angkringan ora melu meneh kapan yo neng angkringan meneh >>>>>> ………. ????? melu ki

  16. no comment : keren !

  17. koment yang… telat…. he he he hanya satu ungkapan… kapan yo isoh melu maneh?

  18. wah ada acara lagi nih di Jogya ya Pak Dhe Wongeres? Yah semoga nanti bisa menghadiri acara onthel tsb, sudah kangen nih sama sedulur sedulur onthel di Jogya , dan,…kangen juga sama “sego kucing” Malioboro………

  19. lho kok masih sepi njih?

  20. liat foto-foto di atas, jadi ingat jogja😦

  21. baru tahu setelah baca tulisan di atas ada terowongan yg namanya plengkung gading. kemarin saya lewat & mengambil foto terowongan tsb tanpa tahu terowongan apa itu, maklum bukan orang Jogja jadi ga tahu.
    ini kisah saya https://yogieza.wordpress.com/2015/04/14/traffic-light-di-terowongan-keraton-jogja/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s