Tag Archives: pariwisata jogja

Candi Sojiwan: Perwujudan Cinta yang Mengatasi Perbedaan

Opoto di candi Sojiwan

Cinta berkali-kali terbukti mampu mengatasi perbedaan. Bukan hanya cinta dan perbedaan pada suami-istri, tetapi juga cinta dan penghargaan atas perbedaan latar belakang, selera, serta pemikiran dalam satu komunitas. Lebih luas lagi, cinta pada Sang Pencipta akan mampu memelihara perdamaian semesta.

Minggu pagi 15 Juli 2012, ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel ke utara, perwujudan cinta yang mengatasi perbedaan itu kembali kami temukan di kompleks candi Sojiwan. Ngonthel pada pekan terakhir sebelum Ramadhan menjadikan perjalanan pagi itu terasa sedikit sentimentil. Justru karena kami sengaja meluangkan waktu untuk perjalanan kali ini, maka meskipun hanya berlima, perjalanan kami begitu santai dan tanpa beban. Dengan banyaknya alternatif jalan yang bisa kami lalui, rute perjalanan Potorono-Prambanan yang sudah kami tempuh entah sudah berapa puluh kali itu nyatanya masih mampu memberikan pengalaman perjalanan yang selalu berbeda. Baca lebih lanjut

Ngonthel di Hari Istimewa Jogja

komunitas manasuka di hari istimewa

Rasanya semua orang menyukai sesuatu yang istimewa. Terhadap sesuatu yang dirasa istimewa, orang pun biasanya bersikap mengistimewakan. Lihat saja perilaku para onthelis. Jika di antara koleksi sepedanya ada yang sekiranya istimewa, biasanya lalu diistimewakan. Bagi kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono), hari Minggu adalah hari istimewa karena ada acara khusus yang selalu kami nantikan: ngonthel. Apa lagi pagi itu, 5 Desember 2010, kami berniat menghadiri acara istimewa: Kenduri Jogja! Baca lebih lanjut

Pasar Seni Gabusan: Potensi yang (masih) Terabaikan

Salah satu kata kunci yang membuat komunitas Opoto (Onthel Potorono) bersemangat selama ini adalah kebersamaan. Dengan kebersamaan, segala sesuatu bisa dijalani dengan lebih ringan. Meskipun begitu, kalau terlalu terlena oleh semangat kebersamaan melulu, ya ada juga negatifnya to: kita bisa kehilangan kemandirian.

Minggu, 31 Mei lalu merupakan ujian bagi kebersamaan kami. Dari sekian banyak warga komunitas Opoto, sebagian terpaksa absen karena ada satu acara ke luar kota. Sudah begitu, di antara yang tersisa pun beberapa tengah tergoda menjalani hidup ala bangsawan (bangsane tangi-awan :D). Alhasil, hanya ada 4 (empat) –kaya nulis angka di kuitansi orang saja! Sanggupkah mereka berempat menegakkan semangat ngonthel? Berikut ini liputannya.

gabusan1

para onthelist negeri liliput?

Karena hanya berempat, kami mengayuh tak begitu cepat. Tujuannya ke arah selatan, lewat Pleret, Tembi, dan pelan namun pasti kami sampai di Gabusan. Di sana ada Pasar Seni Gabusan. Lokasinya, dari kota Jogja silahkan menuju ke selatan lewat jalan Parangtritis. Di kilometer 9.5. akan ada sebuah gong berukuran raksasa di tepi jalan. Di situlah Pasar Seni Gabusan berada, tepatnya di Timbulharjo, Sewon, Bantul. Bagaikan aktor Bollywood menemukan pilar, kami pun berpose di depan Gong golong gilig, juga di depan Pasar Seni Gabusan.

Baca lebih lanjut