Sepeda Onthel, Bakmi, dan Tradisi

Segala yang kini disebut tradisional, pada awalnya tidaklah menutup diri dari kehadiran unsur-unsur baru dan pengaruh asing. Sementara trend paling mutakhir pun sering tak sulit dilacak kesejarahannya dari akar tradisi.

Opoto menyapa malam

Kenyataan itu benar-benar kami hayati setelah kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel bersama sahabat-sahabat onthelis Jogja dan menikmati sepiring bakmi di dalam keremangan warung bakmi Sor Sawo, di Kotagede, Sabtu malam, 24 Juli 2010 lalu.

Ceritanya, berangkat dari janjian dengan beberapa sahabat di blog Opoto, malam Minggu itu kami sengaja mengobati rasa rindu pada eksotisme ngonthel bareng di malam hari. Entah mengapa, acara ngonthel malam hari selalu membawa sensasi tersendiri. Apa lagi, malam itu bulan dalam bentuknya yang bulat penuh tampak bersinar benderang di langit terang.

Datang dalam saat yang berbeda-beda, akhirnya kami berkumpul juga di lokasi yang kami sepakati, yaitu di pertigaan Basen, Kotagede. Mas Aat dari Janti datang paling awal, disusul Mas Margi, Pak Daryanta, Mas Guntur, Mas Yoyok, dan Mas Billy dari arah kota. Opoto yang berangkat berenam justru datang belakangan.

onthel dan persahabatan

Tak kurang dari dua belas orang, kami segera bergerak menuju sasaran. Tujuan kami adalah mencari bakmi Jawa Pak Jono yang karena tempatnya berada di bawah pohon sawo, maka dikenal juga sebagai bakmi sor sawo. Karena kedekatan lokasinya dengan keberadaan Watu Gatheng, yaitu batu-batu bekel berukuran besar yang konon dahulu merupakan mainan Raden Ronggo, salah satu putera Panembahan Senopati, beberapa orang juga menyebutnya bakmi Watu Gatheng.

Di kegelapan malam, warung berdinding bata itu tampak sangat sederhana. Bangunan utamanya terbagi menjadi dua ruangan. Satu ruangan lengkap dengan meja dan kursi biasa dipenuhi para pelanggan yang sabar mengantri pesanan, sedangkan satu ruang di belakang adalah dapur tempat Pak Jono dan istrinya memasak bakmi. Berapa pun pelanggan yang datang memesan, Pak Jono akan memasaknya seporsi demi seporsi.

Pak Jono, setia meracik tradisi –seporsi demi seporsi

Di sebelah warung, dua ruang terbuka disiapkan bagi pelanggan yang lebih suka lesehan di atas tikar yang tergelar. Di sanalah kami duduk setelah memarkir sepeda onthel kami rapi berjajar. Mas Bagus Kurniawan yang semula kami kira ingkar janji ternyata sudah menyusul langsung di lokasi.

Menunggu tiga belas porsi bakmi yang dimasak satu per satu tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar. Tetapi justru itulah, kami jadi punya waktu untuk ngobrol dan berkelakar, bertukar pikiran dan pengalaman. Tak terkecuali tentang bakmi yang kemudian kami nikmati.

Bakmi dikenal bukan sebagai makanan asli Indonesia. Orang menemukan mie pertama kali sekitar 2000 tahun lalu di daratan Cina. Meskipun begitu, saat ini orang akan menyebut bakmi Pak Jono ini sebagai bakmi Jawa, yaitu bakmi yang sudah mengalami akulturasi dengan cita rasa lidah Jawa.

sepiring bakmi dan secercah inspirasi

Pada bakmi Pak Jono, cita rasa Jawa itu muncul dari rasa โ€˜pahit-pahit sedapโ€™ yang dihasilkan dari kemiri dan bawang putih yang digepuk lalu ditumis sebelum dicampurkan sebagai bumbu bakminya. Di samping itu, Pak Jono juga menambahkan ebi untuk membuat masakannya terasa gurih, mantap, dan beraroma.

Bakmi ini berkarakter. Ini dimasak dengan konsep yang jelas mengikuti tradisi Mataraman, kata Pak Daryanta yang merasa terkesan oleh rasa pahit-pahit nyamleng itu. Bahkan, menurut Pak Daryanta pula, masakan Jawa-tradisi sebelum mengenal bumbu masak selalu menyertakan tempe semangit (tempe yang sudah agak lama) sebagai penyedapnya. Hasilnya adalah rasa pahit yang ngangeni.

tintrim, tapi intim…

Kisah bakmi rupanya tak jauh-jauh dari cerita tentang sepeda onthel. Di Jogja dan di beberapa kota lain, sepeda onthel tua buatan Eropa yang kami kendarai ini juga biasa disebut ‘sepeda Jawa’. Beberapa sahabat yang kesehariannya selalu mengaitkan kesederhanaan dan keunggulan kualitas sepeda onthel dengan budaya Jawa-lama pun sepertinya sampai lupa bahwa sepeda onthel ini dirancang dan diproduksi dengan mengindahkan kultur dan karakter geografis negara pembuatnya yang nun jauh dari Jawa, bahkan dari Indonesia. Mengapa bisa begitu?

tiga pribadi, tiga selera, satu komitmen pada persahabatan

Obrolan malam itu terus mengalir ditemani teh kental manis yang terasa segar dan menghangatkan. Tak hanya segelas, kami bahkan mengisinya beberapa kali dengan menuang dari poci. Sesekali kami beranjak, saling mengamati sepeda kami, lalu duduk lagi. Beberapa saling bertukar informasi, bahkan mengarah ke transaksi. Tanpa terasa, ketika orang terakhir menuntaskan suapannya, malam telah menjadi semakin larut. Kami segera beringsut dan bersiap pulang.

Beriringan kami mengayuh onthel perlahan menembus kegelapan malam, menyusuri gang-gang kecil perkampungan Kotagede yang khas. Di gerbang makam Hasta Renggo Kotagede kami sempat berfoto bersama sebelum akhirnya berpisah menuju rumah masing-masing. Mas Aat akan langsung pulang ke Janti, Mas Bagus bergabung dengan Mas Margi, Pak Daryanta, dkk membelah kota, dan kami berenam menyeberang jalan lingkar menuju Potorono lewat pasar Ngipik.

malam kian larut, persahabatan ini tak akan surut…

Beruntunglah, jalan-jalan kampung di Jogja begitu terawat sehingga saat kami lewat selarut itu kami benar-benar menikmati suasana malam. Sementara itu, suara yang terdengar dari sepeda kami hanyalah suara decik presneling dan gesekan dinamo pada ban depan sepeda kami. Bagi kami, paduan kedua suara itu menciptakan irama harmoni yang begitu menyentuh hati. Tenang, tapi tidak sunyi. Hening, tapi tak sampai sepi.

Selepas dusun Bumen, kami berbelok ke jalan Wonosari. Potorono tinggal beberapa kayuhan lagi. Bulan bulat di langit masih membagi sinar keemasan di kegelapan langit malam. Di kedinginan udara jelang dini hari, sebentuk kehangatan justru menjalari seluruh badan dan hati kami.

cinta tradisi, tapi tak menutup diri…

Terbayang kebersamaan yang baru saja terjadi, juga sebuah refleksi sederhana atas kisah bakmi dan sepeda onthel kami: bahwa agar bisa disebut berkarakter, orang tak harus selalu kaku dan menutup diri. Sementara untuk menjadi pribadi dinamis, tak harus berarti mudah terpengaruh oleh setiap perubahan terkini….

***
Salam hangat persahabatan dari kampung Potorono untuk seluruh onthelis di mana pun berada.

139 responses to “Sepeda Onthel, Bakmi, dan Tradisi

  1. wah..bacanya mrinding…
    ngonthel malam, solusi pas di bulan puasa.

  2. Mlm yg begitu menyenangkan, trimakasih bt tmn2 opoto, kpn lg kt bs ngonthel mlm lg.

    • Tapi ngantuk bagi Mas Guntur. Haha… Siangnya mungkin habis berburu seharian๐Ÿ˜€

      Ngonthel malam lagi? Wah, klop sama usulnya Mas Aat ya…

  3. heri agusti - DeFOC 0919

    OPOTO menyapa malam? Wah persis spt pasukannya Pasingsingan, gagah dan tegar sesuai dg titihannya …turonggo wesi.Di Depok juga ada bakmi terkenal , bakmi DPR (Dibawah Pohon Rindang)..nggak kalah enaknya lho sama bakmi SORSAWO….huaduh indahnya ngonthel bareng …padang wulan….jadi ngiri lho aku Pak De..

  4. @….. dalam pada itu ketika org terakhir menuntaskan suapannya, malam menjadi semakin larut,kami segera beringsut…. dhuh mingini tenan .. alhamdulillah masih bisa menikmati ceritanya mskipun sambil ngeleg idu…hehehe.. salam

  5. muncul jg hihihihihihi3,tinggal acara brikutnya hihihihihihihi3

  6. Keren tenan foto2nya…..
    Mau lagi…lagi…lagi….ayoooohhh.
    XFrame nya wow..chemestery nya.
    Salam semua…

  7. Walah, kok yo ora ngajak2… aku yo gelem lho kalo ada acara spt ini…
    Dan tumben, kok kulinernya bakmi…. mungkin sotonya kalo malam sudah habis yaa… salam buat sahabat OPOTO…

  8. BETUL JUGA KATA MAS AAT, SOLUSI BULAN PUASA,NYAMPLENG POKOKNYA.

    • Mas Faj, itu cuma akal-akalannya Mas Aat, supaya selama puasa tetep bisa makan 3 x (sahur, buka, dan mbakmi). Haha…

  9. Eeeenaaak tenannn bakmine, apalagi rasane rasa mbayar tambah eenak banget

  10. Saya kemarin setelah baca blog Opoto juga kemudian penasaran untuk mencoba Bakmi Pak Jono Kotagedhe… saya coba pesan godhog….mmmh…rasanya lumayan juga…saya beri nilai 7 untuk range nilai 0-10.

    Namun kekurangan yang menonjol adalah nunggunya lama banget padahal warung tidak begitu ramai…tapi memang itulah kultur jajan bakmi jawa harus mau bersabar menunggu 1-2 jam hanya untuk sepiring bakmi yang hanya membutuhkan 10-15 menit untuk menghabiskannya…he..he..he…

    Barangkali kalau buka warung bakmi jawa di Eropa…apa meneer dan mevrouw belanda mau menunggu berjam-jam hanya untuk makan malam ya…he..he..he…Penjual bakmi biasanya juga ngotot tidak mau menambah anglo karena takut citarasa bakmi masakannya jadi berkurang.

    Tapi memang itulah budaya kuliner kita yang lebih cocok dinikmati dengan hati daripada dengan akal. Waktu menunggu yang lama justru bisa dimanfaatkan untuk social event guna berbagi rasa…setuju?

    • Pak Sahid, siapa tahu yang berbeda dari fastfood itu yang eksotis. Bisa sambil nyang-nyangan angsang Simplex! Haha…

      Kalau Opoters sih disuruh nunggu lamaaa juga mau, apa lagi kalau yang masak Chef Farah Quinn. Benar atau benar teman-teman? ๐Ÿ˜€

  11. Tour ngonthel malam hari, untuk bulan puasa bisa diagendakan. Tinggal arah angin, mengidul, mengilen, mengalor, mengetan utawi mentengah. Paling nyamleng nggih mbakmi.

    Foto di di depan gerbang makam, bloking-nya oke, sampai ada motor terpakir jadi tidak keliatan.

    • Ke bakmi letheg pasar Pleret…

      Ndilalah tripodnya itu kemarin oleng Mas, Untung Pak Joninya masih keliatan๐Ÿ™‚

  12. @itulah uniknya hidup di Jogja atau solo..semuanya bisa dan biasa dilakukan dengan” …mat matan..” dengan nguler kambang dan kutut manggung…. disitulah sebenarnya kunci kenikmatannya…. dan memang hanya pas diterapkan di Jogja dan sekitarnya…. kalau “ngelmu” di di pantrapke di Jakarta dijamin sudah dari tadi pengunjung warung bakmi tu kabur sambil ngedumel……” gilee lama bangeet, kagak sabaran deh gue.. mending kabuur…”..hehehehe

    • Ayam goreng “Mbok Sabar” bisa laku nggak ya di Jakarta? Hehe… Tapi belum tentu lho bahwa yang ‘short’ lebih disuka daripada yang ‘long’. Contohnya: pijat…๐Ÿ™‚

  13. @ Wongeres

    Kalau buka cabang di jakarta sebaiknya brand “Mbok Sabar” dirubah menjadi “Mbok Kesusu”…he..he..he..

  14. Sebenernya sama saja dengan makanan fastfood cuma beda nya kalo bakmi jawa ini ngobrol dulu baru di santap hidangannya tapi kalo di fastfood makan dulu baru ngobrol dengan dunia maya.

  15. waduh, reportase tereksotis abad ini hehehe…Gus Wong, terus terang saya lagi puasa ini, dicritani bakmi sing kemedul dadi ngences niki hehhe..apalagi ada perjalanan malam isro’ ngelih, miro’j e sendakep nutupi howo songo ,ngenteni matenge bakmi…..NGONTHEL NGUPADI BAKMIE! 4 hari di jogja tapi gak sempet keluar Gus Wong!

    • Howo wolu, sing siji diumbar tondak-tanduk. Hahaa…

      Mboten makaten, Kyaine. Larah-larahipun sepeda onthel yang buatan walandi kok bisa menyatu dengan hati dan kehidupan orang Jawa itu kados pundi?

  16. minggu sorene awakke remux kabeh soalnya sampe rmh jam 12.45 pdhl paginya jam 7 anter rombongan manten ke klaten…tobat!!! tp tetep asik bt nyobain stamina bs tahan sampe dmana limitnya..kita tunggu NR selanjutnya pak!!๐Ÿ™‚

  17. @Pak Nur
    Mas Guntur sekarang bukan berburu onderdil pit tp berburunya lain pak bt masa depan hehehe..๐Ÿ™‚

  18. @pak sahid…. nek dijakarta ayam goreng mbok kesusu juga pasti ditolak pembeli…biasanya yg dicari malah susune simbok (tp jgn digoreng)..hehehe..
    @mas Noer jawaban pertanyaan ke gus Brongot sama dengan kenapa mie yg dari negeri nya Suma han kok bisa menyatu dengan kehidupan dan hati serta lidah org jawa…( jangan2 kita wong jowo opo opo pancen geleman yo mas)… pertondo nek jembar atine..hehehehe…

  19. wah,, ketok sing rasabaran ki… liyane padha “ngendikan” je… malah di tinggal “telap-telep”…. haaaa…haaa…

    Om noer.. acara selanjutnya kemana ?

  20. Kalau ngonthel pagi kan temanya soto… kalau malem temanya bakmi pripun? dari bakmi ke bakmi getoh…sambil ngasih poin kayak Pak Sahid. dinilai oleh yang lidahnya canggih. nek aku onone enak dan enak banget.

  21. ugi ugi-mugi jembar kubure nggih Den Rendra hehehe….irama jogja memang sedikit slow,tapi saya kok tambah merasa jadi manusia seutuhnya hehehe….saya pernah kesusu tapi di amuk mbok Nyai hehehe…..jadi sekarang, saya merasa ritme agak slow penting,apalagi untuk menentukan mau pilih sego kucing teri, tongkol ato rames plus asep-e spedamontor, alhamdulillah numun sewu wareg gus Wong.

  22. ai rili lop jogja………….

  23. @ Mas Aat
    Masalah citarasa memang subyektif, jadi nilai 7 untuk bakmi Sorsawo bersifat relatif he..he..he..pokoknya jangan percaya…he..he..he..

    Berikut ini adalah rating pribadi untuk bakmi-bakmi yang lainnya (sekali lagi jangan percaya lho…coba sendiri):

    BANTUL
    Bakmi Pasar Plered: 7,5
    Bakmi Mbah Mo Manding: 7,5
    Bakmi Pak Trisno Manding: 7
    Bakmi Sebelum p4an Manding: 7
    Bakmi Pak Sunar Madukismo: 8
    Bakmi Pak Guno Sewon: 7

    JOGJA SELATAN
    Bakmi Pak Gundul Wirosaban: 6,5
    Bakmi Kotagedhe Sorsawo: 7
    Bakmi Kotagedhe Kemasan: 7,5
    Bakmi Pak Rebo – Kintelan: 8
    Bakmi Dua Jaman – Jalan Parangtritis: 8
    Bakmi Pak Guno Pasar Prawirotaman: 7
    Bakmi Pak Guno Mangkuyudan: 7
    Bakmi Pak Tug Pujokusuman: 7
    Bakmi Museum Perjuangan: 6,5
    Bakmi Pak Kumis Taman Siswa: 6,5
    Bakmi Pak Cawan Jl. M. Panjaitan: 7
    Bakmi Pak Totok Jl. M. Supeno: 7,5
    Bakmi Doreng – Suryowijayan: 7,5
    Bakmi Pele Alun-Alun: 7

    JOGJA TENGAH
    Bakmi Kadin: 7
    Bakmi Bintaran Depan Bakmi Kadin: 7
    Bakmi Pak Jono Bintaran: 7

    JOGJA UTARA
    Bakmi Pasar Terban: 7

    SLEMAN
    Bakmi Jempol Sidoarum: 7

    • Wah, saya tahu. Range 8-10 ini pasti ada di bakmi Bu Dewi Sahid Nugroho. Makanya kalau di ndalem Kasahidan sajak aring… Hehe…

  24. Ada dua yang ketinggalan

    Bakmi Pugeran = 7
    Bakmi Depan Kantor Pos Plered = 7

  25. @ itulah hebatnya pak Dosen… selalu siap dengan penilaian, kriteriane nopo pak,apa hanya bener2 “taste” pribadi?…hehehe… tapi saya kok percaya dengan hsl penilaian tsb..krn saya pernah mebktkan sendiri perbandingannya kala di jamu bakmi pak Rebo di ndalem Goloningratan kemudian ngontel malam ke bakmi mbah Mo Manding dan teakhir ke bakmi…dikota gede… siip pak sahid..minmal bisa buat patokan para penyuka bakmi jawa …
    @ Gus Brongot di Jogja 4 hr kok tdk ngrasakke ngontel malam dan nyantap bakmi jowo bersama sahabat Podjok…. sungguh penjenengan termasuk golongan orang2 yg merugi….hehehehe..

  26. @ Boss Rendra…kalau mau dibikin lebih rumit…biasanya ada 7 kriteria:

    Faktor Utama
    – Mutu Bakmi (tekstur, kekenyalan & aroma)
    – Mutu Bumbu (intensitas & keseimbangan rasa)
    – Mutu Ayam (tekstur, kekenyalan & aroma)

    Faktor Pendukung
    – Higienitas bahan makanan, alat saji, dan tempat
    – Atmosfir warung
    – kelengkapan menu minuman
    – Kewajaran harga

    Wah kok jadi complicated kayak bikin skripsi…he..he..he..

  27. Berarti Bakmi yang Next DTO dimana ya? Kalau saya pilih Bakmi yg nggak pakai bahan pengawet saja.

    Beberapa nama warung bakmi di atas berdasarkan data penelitian di BPOM DIY th 2008-2009 ada yg pakai pengawet. Konyol itu warung-warung terkenal bin kondang binti kesuwur.

  28. @wah 7 kriteria yg rumit..ya beginilah memang gaya pak Doktor Sahid yg juga wasis dibidang kuliner….. biasa berfikir sistematis dan terpola…hehehehe… ayo pak kalau soal makanan mending pakai intuisi saja biar ga pusing..hihihi
    kalau sy dlm menlai enak dan tidaknya warung hanya ada satu kriteria pak…. semakin banyak onthel,becak,motor dan mobil yg pakir didepan warung itu…langsung saja saya jajal dan ternyata hampir tdk pernah meleset..pasti enak… ( ktiteria “ngawur” mode.on.hehehe)
    @ mas Bagus monggo dipun wdhar hsl investigasinya buat keamanan kita semua..

  29. @ Boss Rendra…kalau model rule of thumb gampang banget pak…pengalaman saya begini:

    Kalau warung laris ramai sesungguhnya belum tentu enak…karena masih ada kemungkinan kedua yakni semata-mata karena murah. Jadi 50 : 50.

    Saya biasanya melihat faktor selain jumlah orang yang jajan, ditambah kalau juga banyak warga keturunan Chinese yang ikutan jajan, kemungkinan di atas 75% maka warung itu pasti enak…boleh dibuktikan he..he..he..

  30. @ Pak Rendra : Waduh kalau data yg pernah saya pegang dan saya tulis sebenarnya ada 60 lebih warung Bakmi Jawa, tapi dari 25 warung yg disebut di sini ada beberapa.

    Maaf saya tidak berani menyebutkan. Cukup dilihat saja mie kuningnya yg ada di gerobak, kalau kuning mengkilat itu pasti pakai bahan pengawet (Boraks).

    Tujuannya biar tetap kenyal dan tidak bau alias ngiler di malam hari. Biasanya bakmi pakai pengawet itu didatangkan atau dibeli pemilik warung pagi hari bukan sore hari. Mereka kan belinya kiloan biasanya berasal dari luar kota. Tidak semua produksi Yogya.

  31. @pak nur,heheheheheeh3 sampun jos skmeniko hehehe3 amargi di traktir bakmi wkwkkwkkwwk
    semoga brikutnya ada yg ultah hihihihihi3, setelah foto2 ditampilkn pd pengen nr to,pak? hheheheheh3 monggo acara brikutnya diatur kmwon,saya siap heheheh3 ultah lg hehehehe3
    @hasil foto2 nya top bgt dgn usha nginceng,mlayu,jepret,kringeten,puas heheheh3
    @pak yok, penjengan emang kirang “jampi” letoy trus hehehehehehe3

  32. @kang mas bagus, monggo diagendakan goes2 malam, bersama tmn2 saya manut

  33. @betuul pak Doktor,saya lupa menambah satu kriteria lagi yaitu atensi warga “keturunan”..biasanya selera rasa mereka emang cukup baik..( ditempat kami ada resto mie yg terkenal sangat enak,parkirpun selalu penuh sesak dan pembelinya kebanyakan di dominasi oleh warga keturunansehingga hrs antri lumayan panjang, ternyata setelah dilakukan “investigasi” masakannya selalu di campur dengan mnyak “BB60″… walhasil kamipun tdk pernah lagi makan disitu)..
    @mas Bagus tks info tentang ciri2 mie ber boraksnya,memang ga enak kalau menunjuk nama di ranah publik ya mas..
    @mas Noer ternyata blognya bisa buat ngerumpi segala macam topik nih..siip tenan..
    @mas Maxs apa kbr …..kok slulup maneh yo…wkkk…

  34. heri agusti DeFOC

    @OPOTO : multi talenta , biasanya gado gado itu enak lho, onthel campur soto, campur bakmi, campur pasar, campur blangkon, campur masjid, campur candi, terus campur apalagi yah……pokoke dadi bahan diskusi yg sngt menarik dan “ilmiah” dg disiplin ilmu yg berbeda…..kami pernah bilang : OPO TUMON
    ……ayo “ngerumpi lagi” sbg hiburan disela sela kesibukan ngantor ….mumpung blog OPOTO masih “open house”……….injih to?

  35. @mas billy
    jampine adoh je mas hahaha.. podho wae to!!๐Ÿ™‚

  36. @ om rendra
    Kabar baik om rendra.. enggak slulup kok om, habis mau slulup ngga ada tempat yang cukup om…haaaa
    ..haaa

  37. Campur Sari, pak Heri….hehehe.

    mi re mi re mangan bakmi enak rasane…

    Selain jago soal ngonthel, bapak-bapak ini ternyata jago soal makanan….., bahkan jauh lebih jago….

  38. Wah, senangnya kalau sedulur-sedulur pada mau berbagi wawasan. Maturnuwun.

    Pak Sahid memang penikmat kuliner sejati. Selama ini pemahaman masyarakat awam tentang mie sering keliru. Memasak mie instant saja kalau begitu direbus jadi membesar, rasanya puas, karena jadi mengenyangkan. Padahal kalau bagi Pak Sahid pasti akan didiskualifikasi karena ini berarti tingkat kekenyalannya rendah๐Ÿ™‚

    Mas Bagus, penyertaan bahan pengawet sebenarnya bisa saja diterima, asal bukan yang justru membahayakan tubuh kita. Kan ada beberapa bahan yang masih diperbolehkan oleh BPOM. Setahu saya, mie letheg yang dari sisi penampilan kurang menarik, justru tanpa bahan pengawet sehingga lebih aman dikonsumsi.

    Selain bahan pengawet, beberapa penyertaan bahan lain juga biasa ditambahkan, misalnya untuk meningkatkan nilai gizi serta penampilan. Mie pelangi, misalnya mendapatkan warna-warninya dari bahan sayuran seperti wortel, bayam, dsb. Lebih menarik dan lebih sehat. Tapi versi generiknya pernah kami temukan di Mie Ayam Manding (nggak jauh dari bakmie Mbah Mo) yang di samping semangkuk mie ayamnya masih dihidangkan semangkuk lagi bayam segar yang sudah direbus dengan tingkat kematangan yang pas.๐Ÿ™‚

  39. @..wow ada lagi mie bayam…mantaap ni mas Noer…pantesnya dinamain mie Popeye..pasti sehat..kpn2 kita coba yuuk…

    • Kalau nggak salah, namanya memang mie ayam Popeye. Ada lagi tambahannya: cekereyem. Hehe… Jadi kalau sudah ngadhep 3 mangkuk, masing-masing berisi mie ayam, bayam, dan cakar ayam, tergantikan sudah energi yang sempat drop setelah seharian berburu onthel.๐Ÿ™‚

  40. @denmas Rendra, Pakde Wongeres…..mia bayam sudah tentu memang menambah cadangan stamina dan menambah zat besi ( gitu kan ya Jeng Ny. dr. Rendra?) cocok untuk tenaga bila akan ngonthel yg banyak tantangan (jarak jauh}…..lah kalau bakminya kami tidak suka “kekerasan”, karena kami suka”kekenyalan”…he he he
    @Ki Juru,…….Campur Sari juga memang enak, tetapi ada yg enak lagi lho…..Campur Saru, begitu ngendikane Pak De Wongeres pada suatu ketika….ha ha ha ha (……berarti guyon…)
    Nyuwun gunging pangapunten njih……

  41. Wahhh pak Heri ki jan ono-ono wae…

    lah nek mengko mangan mie popeye, jangan-jangan habis memakanya ngonthel neng laut…..sambil nyanyi :

    “onthel sailor man, onthel sailor man….”

  42. Bakmie Sor Sawo juga bisa buat nenepi dan uji nyali. Kalau ketigabelas orang yang datang malam itu sudah jelas lulus dalam uji kekuatan: ya kekuatan ngonthel sampai di lokasi, ya kekuatan menahan lapar sampai giliran datang….

  43. Kalau jajan bakmi sekaligus uji nyali…barangkali bisa dicoba pada lokasi Bakmi Pak Trisno di Mandhing Bantul…onthelis akan melewati jalan kampung kecil menyusuri kompleks pekuburan kampung di kiri dan kanan jalan yang cukup luas…selamat mencoba!

  44. Hwaduh, Mohon maaf atas ketidaknyamanan karena tampilan blog Opoto yang tiba-tiba jadi kacau balau. Akan kami petani sedikit-sedikit.

  45. Atas nama segenap komunitas Onthel Potorono, kami menyampaikan selamat berpuasa bagi yang menjalankannya. Mohon maaf lahir dan batin.

  46. @ kagem sederek onthelis sedoyo .. selamat menunaikan ibadah Puasa, mhn maaf lahir batin..

  47. Buat saudaraku semua kerabat onthelis yg mengenal saya (maklum belum terkenal) : Denmas Sahid, Bapak Rendra, Pak De Wongeres dg OPOTOnya,Ki Juru Warto, Mas Towil, Mas Bagusmajenun, Mas Wong Cilik, MAS bILLY, Mas Aat, dll kami nggak bisa menyebutkan satu persatu……saya mohon maaf atas kesalahan dan kehilafan saya selama ini shg panjenengan semua Merasa “tidak nyaman” agar saya bisa menjalankan ibadah puasa dg ikhlas shg bisa menjadikan pahala yg sangat menolong saya di hari kemudian
    @ Pak De Wongeres…blok OPOTO tidak kacau balau kok dan kami masih sangat merasa nyaman sepanjang Pak De masih mau membuka angkringannya buat diskusi dan membuka wawasan tentang onthel tentunya, bukannya “ketidak seragaman justru menunjukan ke titik kebersamaan” seperti seragamnya OPOTO ….he he he he…….lha yang mau “dipetani” apanya?

    • Kangmas Heri, blog Opoto yang lugu ini bisa mendapat kemudahan pengelolaan dan (mungkin) keterbacaannya berkat theme cutline yang dirancang oleh Chris Pearson (terima kasih untuk ini semua). Kemarin tiba-tiba tema blognya berubah sendiri sehingga penataan teks maupun fotonya jadi amburadul. Foto di heading itu juga perlu disesuaikan lagi ukurannya. Sekarang kita pakai Coraline, semoga sudah kembali familiar….

      Soal angkringan ide, opini, dan wawasan, meskipun puasa tentu tetap buka setiap saat. Sumangga dipun kedhapi๐Ÿ™‚

  48. Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam ber-angkringan. Mungkin ada gojek yang tidak keno, atau manggange gosong, atau jahe nya kurang pedes.
    Yak, kapan ngonthel malamnya?

  49. kepda sederek2 sedoyo saya mewakili keluarga, mohon maaf lahir batin jiga ada salah disengaja maupun tdk di sngaja , smoga di bln puasa ini kito sedoyo selalu di berkahi dan mendapat Rahmat oleh Allah SWT, amiennn. matur nuwun. MERDEKA!!!

  50. mas sahid yang terhormat, mohon lain waktu gantian u pembagian kategori, dan peta untuk soto. ditunggu mas.

  51. Sugeng siyam para sedherek onthelis sedanten, sumangga buka lan sahur ngiras bakmi sinambi ngonthel dalu.

  52. @ Dimas Faj yang dimuliakan…
    Berikut ini sekedar penilaian pribadi untuk mutu rasa Soto di Jogja dan sekitarnya adalah sebagai berikut (mohon jangan percaya…silahkan mencoba sendiri):

    JOGJA BARAT
    Soto Sapi Pak Sholeh Tegalrejo = 8
    Soto Ayam Sawah Jalan Soragan = 7,5
    Soto Ayam Kadipiro (original) – utara jalan = 8,5
    Soto Ayam Kadipiro (turunan) – selatan jalan = 7
    Soto Pak Slamet Pinggir Rel KA Sidoarum = 7,5
    Soto Pak Sholeh Jalan Wates KM 7 = 7,5

    JOGJA UTARA
    Soto Kudus Menara Condongcatur = 7
    Soto Kudus Terban Selatan Mirota Kampus = 7,5
    Soto Kudus Depan Gedung Wanita = 7,5
    Soto Kudus Jalan Monjali (Utara POM Bensin) = 7
    Soto Sapi Pak Wongso (Soto Sumuk) Gondolayu = 7
    Soto Sulung Stasiun Tugu = 8
    Soto Ayam Mirasa Jl. Laksda Adisucipto = 8
    Soto Ayam Mlathi = 7

    JOGJA TENGAH
    Soto Ayam/Sapi Pak Tembong Perempatan Bausasran = 7
    Soto Sapi Pak Marto Tamansari = 7,5
    Soto Ayam Patangpuluhan = 7
    Soto Sapi Jawa Timuran Sonosewu = 7
    Soto Ayam Pasar Beringharjo = 7
    Soto Ayam Jalan Malioboro = 7

    JOGJA SELATAN
    Soto Sulung Jalan Perintis Kemerdekaan = 7,5
    Soto Sapi Gedhek Kemasan (Timur Stasiun Giwangan) = 7
    Soto Kudus Wirasaban = 7
    Soto Jalan Bantul (Dekat Gerbang Kasongan) = 6,5
    Soto Ayam Dekat Pleret = 6,5
    Soto Sapi Jalan Imogiri Timur = 6,5

    JOGJA TIMUR
    Soto Sapi Pak Sabar Gedong Kuning = 6,5
    Soto Pak Slamet Jalan Wonosari = 7

    Semoga bermanfaat dan sekali lagi jangan percaya lho…

  53. Wah, Pak Sahid cerita soto di jam segini… Haha… Maturnuwun wawasan persotoannya. Soto Pasar Ngasem pindah ke mana ya…

  54. wah. iki…ngajak ngonthel pagi…
    soto lamongan umbulharjo tidak masuk, pak?

  55. @ Mas Aat…benar-benar..ini radarnya terlalu zoom…yang dekat-dekat malah jadi kabur he..he..he… Soto Lamongan Umbulharjo ada 3 unit…penilaiannya:
    Soto Sapi Lamongan UH – Unit Selatan = 7
    Soto Sapi Lamongan UH – Unit Tengah = 8
    Soto Sapi Lamongan UH – Unit Utara = 7

    • Ada Opoters yang fanatik dengan soto sapi Lamongan ini. Namanya Pak Marno. Tapi nggak taunya ada satu nama lagi yang juga doyan. Inisialnya ‘A’๐Ÿ˜€

      Kalau saya, soto dan nasi pindang Kudus depan UIN sudah cukup untuk mengobati rasa kangen pada masa kecil saya di Kudus. Meskipun penjualnya ‘cuma’ orang Kotagede, rasanya cukup representatif. Ada lho soto Kudus yang sudah kita tambah garam, kecap, dll rasanya tetep belum sampai Kudus. Masih berputar-putar di Demak, kali ya. Hehe…

  56. Kalau menu sate ayam…saat ini agak menyedihkan karena semakin banyak warung sate yang beralih dari ayam kampung ke ayam potong sehingga terjadi degradasi cita rasa yang signifikan…Dari hasil hunting, hanya tinggal dua yang masih tergolong heritage dan yakni Sate Podomoro utara Hotel Melia dan Sate Pasar Gadhing.

    Sate Pasar Gadhing memiliki karakter bumbu kacang yang almost perfect…apalagi ditambah tumisan brambang…mmmhh…mak nyus tenan…
    Sate Pasar gadhing ini adalah usaha keluarga Mas Pardal salah satu anggota Podjok hanya buka jam 17.00 sampai dengan 19.o0 (setelah itu pasti sate sudah ludes terjual) …ukuran daging sate juga masih standar sebagaimana aslinya sejak dulu. Secara pribadi saya memberi nilai 8,5…Selamat mencoba…pasti tidak menyesal…

    • Situasi zaman dan tuntutan pasar memang bisa mengubah banyak hal, termasuk keputusan mengganti daging ayam kampung dengan ayam potong yang disesalkan Pak Sahid. Tetapi, kadang situasi itu malah bisa memunculkan kreativitas baru yang justru sukses.

      Di Blora, sate ayamnya juga menggunakan daging pilihan dari ayam kampung. Kalau kita minta daging, tidak akan kita jumpai kulit atau jeroan. Murni daging ayam kampung dengan tekstur yang lembut dan empuk. Bumbu kacangnya lembut dan gurih, masih ditambah kuah kuning dan brambang goreng. Uniknya, di sana tidak dikenal adanya porsi. Penjualnya akan menyajikan sepiring penuh sate yang akan terus di-jok/ditambah lagi. Begitu kita selesai makan, penjual akan menghitung jumlah tusuk sate yang terserak di meja. Bagi yang mau nakal, kalau tusuknya dibuang di lantai tentu tidak akan dihitung. ๐Ÿ™‚

      Pada waktu lebaran, saat harga daging ayam melambung, kadang ada dua cara yang mereka tempuh, yaitu sedikit menaikkan harga dan mengecilkan ukuran daging. Banyak yang mengeluhkan sehingga paguyuban penjual sate di sana sempat harus membuat aturan bersama.

      Di saat banyak keluhan tadi, di Blora justru muncul sate jagal (daging sapi) yang kualitas daging serta bumbunya langsung merebut simpati. Makanya, sekarang di Blora ada dua pilihan sate yang sama enaknya. Mau ngonthel ke Blora?

  57. waaah mantaf niy kayaknya sambil ngonthel mlm skalian wisata kuliner. klo d kampung saya namanya ngonthel padhang bulan. sebulan cm skali karena pas bulan purnama saja. biasanya lewat daerah-daerah yg wingit dan sepi dr rute yang dilewati manusia. itung-itung uji nyali skalian uka-uka. pernah kjadian sepeda temen g kuat digowes padahal jalanan datar ternyata ada makhluk tak kasat mata yg numpang mbonceng hehe…

    • Mas Billy, kalau boleh tahu, pembonceng gelap itu lebih memilih merek sepedanya atau profil pengonthelnya Mas?๐Ÿ˜€

      Salam kami untuk sahabat Pasero…

  58. Wah sepertinya semuanya sudah terbahas disini, maturnuwun saya jadi tambah wawasan tinggal nanti memilih warung untuk berbuka bersama dimana dan kapan…?. Untuk teman-teman onthelis saya mau menngucapkan selamat menjalankan ibadah Puasa . mohon maaf Lahir dan Batin.

    • Ngonthel sambil nyari bakmi habis taraweh pasti asyik ya. Bisa diagendakan. Tapi ngonthel Minggunya diganti sore atau agak siangan? Bedanya, kalau sore sekalian buka bersama. Kalau siang ya puasa bersama๐Ÿ˜ฆ

  59. heri agusti DeFOC

    Wah …Mas Tono ini kayaknya dari kemarin mlongo, ndomblong, terkesima menyimak ngudorasane para pakar kuliner ngudar wawasan nggih….persis spt saya juga sama Mas Tono…lha saya taunya soto yg enak dan khas cuman “soto Sokaraja” nun jauh disebelah barat Ngayojokarto sana, terus ada Soto Kadal yg katanya bisa untuk ngobati gatel gatel ( juga jangan percaya kalau belum mencoba) itu ada di jalan Bank di kota Purwokerto, tetapi cukup uenak lho mas….., selamat menjalankan ibadah puasa Mas Tono……cobalah soto soto yg telah dikriteriakan oleh DenMas Sahid…..jangan percaya ngedikane beliau……..

    • Kangmas Heri, apa nggak takut nanti dikadali? Hehe… Dari sana kalau menuju Jogja mampir sate ambal saja. Dekat kecamatan. Saya yang dasarnya juga suka manis bisa ambal makaping-kaping alias nambah terus.๐Ÿ™‚

      Mas Tono itu justru selama ini menjadi salah satu cucuk-lampahnya Opoters yang tau banyak warung yang ada soto maupun sitinya๐Ÿ˜€

  60. eh sudah jumat….
    jadi bagaimana, sabtu malam mau ngonthel malam tak? atau minggu sore cari buka?

  61. Mas Tono, cucuk lampah nyoto, Mas Wong cucuk lampah lan pangincengan klithikan lan sepedanipun. Sak lajengipun, cucuk lampah nganyang rega lan mbungkus.

    • Wah, ada lagi cucuk lampah nyoto, klithikan, maupun mbungkus sepeda: Mas Agung Max’s. Sudah ketemu kan, waktu di Sor Waru itu…๐Ÿ™‚

  62. matur suwun mas sahid, bisa punya peta baru u kuliner.

  63. @ pak Sahid mas Noer mohon info gudeg jogja yg paling maknyuss dimana ya.. tiap kali ke jogja kok sy njujugnya hanya bu Lis mijilan..jangan2 nilainya cuma 6,5 saja, sy penyuka gudeg kering pak..
    @ mas Tono.. kapan2 mbok saya dituntun nyoto dan nyiti njih…hhihihi..

  64. Dari peta kulinerya pak Sahid saya kan tinggal ngecek apakah ada Siti-Sitinya yang lumayan disamping rasanya yang mak Nyuusss.
    @ mas Heri saya sudah pernah nyoba soto Sokaraja memang makNyuuuss tenan ,yang belum pernah soto.. sandal eh soto.. KADAL sepertinya interesting untuk dicoba kalau nanti pas ke Purwokerto
    @ pak Rendra nggih sumonggo menawi tindak dateng Ngayogyakarta malih meniko X Frame utawi Burgers 24 tipun rak saget dicobi ditunggangi/dikayuh muter-muter Ngayogya sambil kalian nyoto,Siti lan Mbak Mie utawi ngguDeg.

  65. Pak Rendra : Kalau saya Gudheg Juara rasa gurih nggih Gudheg Bu Slamet Jl Batikan dekat Kali Mambu tidak jauh dari rumah Pak Sahid. Kalau Gudheg rasa manis nggih plengkung Wijilan atau Gudheg Mbarek

  66. @pak Tono ..siaaaap komandan..
    @mas Bagus…sepertinya lidah sy lbh suka yg gurih deh depd yg manis..maklum lidah mbanyumasan hehehe.. kpn2 kita lurug ya mas..nuwun

  67. Boleh juga, kok sama saya juga lebih suka gurih, lebih pas. Kalau pengin gudheg rasa gurih plus huu haaahh pedasnya minta ampun, Gudheg Yogya di Kota Padang dekat pasar raya, yg jualan orang transmigran Sitiung Sumbar tapi asli kidul Pasar Piyungan Bantul. Jan sambel gorenge ngampleng tenanan

  68. @ Boss Rendra
    Kalau gudeg Jogja…sebetulnya rata-rata enak semua, karena asli dari kota ini…tapi untuk pilihan pribadi, saya punya beberapa idola (sekali lagi jangan percaya lho…silahkan dicoba sendiri):

    GUDEG KERING
    Gudeg Yu Jum Mbarek (Timur MM-UGM) = 8
    Budeg Bu Lis Plengkung Wijilan = 7,5

    GUDEG BASAH – SIANG
    Gudeg Juminten (Kranggan) = 8

    GUDEG BASAH – MALAM
    Gudeg Permata = 8
    Gudeg Sagan = 7,5
    Gudeg Santa Maria Gondomanan (Ex Klentheng) = 7 (ada 3 unit)
    Gudeg Batas Kota Jalan Solo = 7
    Gudeg Pasar Kuncen (Lokasi terakhir belum terlacak) = 7,5
    Gudeg Pasar Gampingan= 7
    Gudeg Pawon Janturan = 7
    Gudeg Krecek Pedas Jokteng Wetan = 7

    GUDEG BASAH PAGI
    Gudeg Depan Bank Mandiri Jokteng Wetan = 7,5

  69. @ pak Doktor…wah lengkap sudah infonya..kalau yg Yu Jum dkt MM UGM ud seing nyoba dan bawa temen kesana..memang markotop pak.. yg lainnya akan sy coba teritama yg krecek pedas jokteng dan gudeg gurih bu slamet…
    Nah sy denger ayam kampung ,tempe dn tahu bacem Jogja juga misuwur pak tp sy blm pernah nemui tempatnya padahal pernah di oleh olehi temen dan maknyus tenan… nuwun.

  70. heri agusti - DeFOC

    Ngilerrrrrrrrrrrrrrr(???????????????????????????……………)
    Lha semua ini makanan favoritku je…..
    Maka terjadilah “pengancaman” yang nggak bisa dituntut dengan hukum pidana……wis to………kapannnnnn?????????????

  71. Haha… pada suka bikin kemecer!

    Entah kenapa, kalau soal gudheg kering, hati saya sudah tertambat di Mbarek. Yang pertama langsung nyamleng di lidah ya gudheg Bu Hj Ahmad. Syaratnya, minta saja arehnya yang banyak. Anehnya, meskipun warungnya selalu ramai, Bu Ahmad ini paling jarang disebut. Mungkin karena dia nggak ikut masuk ke sentra gudheg Wijilan. Tapi anaknya buka warung di pojokan alun-alun utara, tak jauh dari Wijilan, dan tetap pakai nama Hj Ahmad. Gudheg Mbarek yang lain ya Yu Jum, bahkan gudheg Mbarek di dekat SD Muh Sapen juga enak.

    Kalau gudheg basah, saya setuju Pak Sahid, hampir semua enak. Di dekat Wijilan (pinggir jalan Ibu Ruswo), kalau pagi ada nenek-nenek jualan gudheg di emperan toko, juga enak. Di gang Buntu jalan Gejayan (Jl Affandi) juga enak (sekarang masih jualan nggak ya?).

    Kalau mau nyoba gudheg dengan rasa yang agak beda, di batas kota (jln Solo, depan hotel Saphir) ada gudheg Campursari. Di sini juga perlu minta areh dan sambel krecek yang banyak. Gudhegnya kering, tapi ada aroma terasinya yang bagi saya rasanya nyanthol banget.

    Kalau gudheg Campursari agak beda bumbunya, ada juga gudheg yang beda bahannya, yaitu gudheg Manggar. Warungnya di Mangiran, kira-kira 1 km sebelum jembatan Srandakan (jadi silahkan sampai jembatan dulu, terus nanti balik lagi 1 km. Hahaha…!). Gudhegnya bukan dari nangka muda, tapi dari manggar (bunga kelapa muda). Sebaiknya datang sebelum siang, sebelum habis. Kalau kita menemukan gudheg manggar di tempat-tempat mewah, biasanya juga hanya ngambil dari sini. Idealnya habis dari pasar onthel Pandak terus mampir ke sini. Hehe…

  72. @wuiiih ini dia gudeg manggar… rasanya sangat perlu dijajal krn belum pernah nyoba ..bahkan mbayangin aja belum pernah mas Noer…pasti sensasinya beda… kalau gudeg campursari sdh dua kali ngincipi krn kebetulan pas jalur yg terlewati kalau mau ke adisucipto dan rasanya memang agak aneh p dilidah sy kok kurang sreg ya. shg selalu jd pilihan terakhir kalau ga sempet mampir wijilan…masih nyamleng yg deket MM UGM.. gudeg bu Ahmad tepatnya dimana mas.apa ya deket MM tadi?. nah menu ayam bacem goreng blm ada “penerangan” nih..hehehe… selamat kemleceeer mas Heri… di Purwokwerto ada lho makanan yg sangat TOP… yakni sate cempe balibl dua saudara dan sop buntut super enak depan stadion Ksatria…salam

  73. Kalau coba ditentukan champion dari setiap kategori jajanan di Jogja…mungkin kalau coba disusun versi “ngawur” adalah sebagai berikut:

    1. Soto Ayam = Soto Kadipiro (Original) Jalan Wates
    2. Bakmi Jawa = Pak Rebo Jalan Brigjen Katamso
    3. Gudeg Kering = Yu Jum Barek
    4. Gudeg Basah = Gudeg Permata Jalan Sultan Agung
    5. Bakso Sapi = Bakso Bethesda Jalan Sudirman
    6. Mie Ayam = Mie Ayam Contreng Jalan Parangtritis
    7. Gado-Gado = Bu Hadi Pasar Beringharjo
    8. Sate Ayam = Pasar Gadhing
    9. Tahu Kupat = Pak Bagyo Muja-Muju
    10. Lothek = Lothek Bintaran
    11. Ayam Bakar: 3 Berku Depan Gembiraloka
    12. Ayam Goreng: Resto Tohjaya Jalan Solo
    13. Soto Kudus: Soto Kudus Depan UIN/Gedung Wanita
    14. Soto Sapi: Pak Sholeh Tegalrejo
    15. Soto Sulung: Soto Sulung Stasiun Tugu
    16. Sate Kambing: Sate Klathak Pasar WOnokromo Jejeran
    17. Tongseng Kambing: Tongseng Utara Pasar Ngasem
    18. Sop Buntut: Pak Bagyo Sudagaran Jalan HOS Cokroaminoto
    19. Angkringan: Nganggo suwe Kotagedhe
    20. Burger: Monalisa Jalan Ke Arah Pasar Tela
    21. Restoran Eropa: Cozzy Babarsari
    22. Restoran Etnik: Pondok Cabe Jalan Affndi/Jalan Terban
    23. Restoran Asia: Phukket Jalan Dr. Soetomo / Jalan HOS Cokroaminoto
    24. Restoran Padang: Sederhana Jalan Kaliurang
    25. Restoran Jadoel: Kedai 3 Nyonya Jalan Soedirman (Depan Pizza Hut)

    Kalau penasaran…silahkan mencoba sendiri…he..he..he..

  74. @nah ini dia kompliiiit pliit…semoga bisa jadi modal jawab peryanyaan temen2 yg mau “nguliner” di Jogja.. matur nuwun pak Doktor.. salam…

  75. heri agusti - DeFOC

    Yah….ada lagi gudeg yg dibikin bukan dari nangka MUDA , tetapi dibikin dari bunga kelapa MUDA [manggar], Gudeg Manggar yg di Mangiran…..kayaknya boleh juga tuh apalagi buat yg seneng “daun MUDA ” ( lalapan?]……ayo poro pini sepuh…monggo dipun kedapi……habis ngonthel dari Pandak langsung buka puasa disini…makaten Pak De Wongeres?………Kados pundi Denmas Rendra.?….Mas Tono udah nyoba apa belum?

  76. Ada beberapa kategori jajanan yang ketinggalan ditulis (sekali lagi jangan percaya ini cuma asal-asalan lho):

    26. Sop Ayam: Sop Pak Min Unit Prambanan (Barat Masjid Prambanan)
    27. Mangut Lele: Mbah Geneng Sewon Bantul (ISI ke selatan ketemu kantor pos belok kanan)
    28. Brongkos: Warung Alkid Handayani
    29. Rujak Cingur: Rujak Cingur Gayam depan Radio Geronimo
    30. Gudeg Ceker: Gudeg Ceker utara STIE YKPN

  77. Wah, lha masih siang, malah jadi kepengin masakan ikan pecah kulit khas kedai 3 nyonya dekat tugu. Pak Rendra wajib nyoba ini. Haha…

  78. @ mas Noer..ikan pecah kulit ? menantang sekali tuh namanya ….dan baru tau ada nama ikan sepeerti itu… siiip pasti akan saya coba..
    @ pak doktor..bagaimana dengan brongkos warung ijo pasar sleman bawah jembatan yg sdh sering masuk tivi bersama pak Bondan…? menurut lidah saya kok maknyuus tenan lho…

    • konon, kata “maknyus” itu dipake umar kayam dalam mendiskripsikan brongkos bawah jembatan Krasak. katanya lho…
      brongkosnya beda sama Handayani. buat saya agak mirip rawon, soale tanpa kacang. daging tok. setahu saya lho…

  79. @mas Aat betul..saya sdh nyoba beberapa kali disana…memang mempunyai cita rasa yg sangat khas…daging bertekstur lembut dan tdk begitu berlemak..apalagi di padu dengan tempe “mendoannya” yg agak kering..wah jan lazaaat banget mskpn konon kokinya udh generasi keduanya.

  80. Kalau kedai tiga nyonya…saya paling suka terong sambal ijo dan ayam mangga…alunan musiknya juga orisinil tahun 1930-40s…pas banget kalau naik sepeda Fongers rem karet he..he..he..

  81. @ Pak Rendra…saya malah belum pernah coba brongkos warung ijo..jadi belum berani menilai tanpa data empirik he..he..he..Kalau ke Muntilan jangan lupa mampir warung Bu Santi…Klentheng tengah kota belok ke kiri 500 meteran…Mak Nyuss juga…

    • Pak Sahid, ketika kami ngonthel 17-an semalam, ternyata Pak Sahid sedang menunggui ibunda. Doa kami semua, semoga kondisi ibunda segera pulih…

  82. humbermania defoc 0905

    saya jadi kelingan “bali wae nang yogya”,komplit-plit informasi soal perbakmian di tlatar yogyakarto-hadiningrat.Nyuwun sewu apa setelah lebaran ada tradisi halal bihalal,siapa tahu pas sy “bakdan” dirumah mertua di yogya bisa kepanggih dengan temen2 Opoto dan Pojok,dan siapa tahu lagi bisa mampir ke bakmi sor-sawo.Betuul3 spt analisanya pak sahid,sabar menantinya itu lho,kalo yang pesen 20 orang,brp jam.Sugeng siyam,salam

    • Lha, jadi ketahuan kan, kalau ternyata memang pencinta produk Jogja! Haha…
      Hayo, siapa yang lebaran kali ini jaga gawang? Sugeng siyam…

  83. kalo di muntilan, ada mangut2an yang marem juga. Purnama. lor jembatan ukir2an batu, ngetan sithik.

  84. Merdeka, Makan Bakmi dan Ngonthel

    • Waduh, mohon dipersori banget Mas Bagus… 17 Agustus kali ini kami sempat memerdekakan diri dengan mbakmi jalan Parangtritis, tapi karena janjiannya serba mendadak, teman-teman sendiri jadi pada telat, dan sms untuk Mas Bagus jebul malah belum sending…๐Ÿ˜ฆ

  85. Wah ternyata kelewatan, gak apa-apa Mas. Saya tunggu undangan berikutnya

  86. heri agusti - DeFOC

    @humbermania defoc o9o5……Om Hari Budi kalau sowan mertua ke Jogya ajak ajak dong, siapa tahu bisa nebeng ikut “pesawat” sama Om Hari Budi…..tapi kalau “ngonthel” ke Jogya yah matur nuwun saja…tetapi kalau nagihi uang kos kosan boleh juga sih, siapa tahu dpt bagian dikit lumayan buat beli HUMBER ….onthel idaman…he he he he
    @Pak De Wongeres,…itu Om Budi Hari di Jogya menanam investasi yg memberikan income yg lumayan pula…mau dikembangkan buat warung soto atau warung bakmi……atau buat ruang pamer koleksi onthelnya yang “aneh aneh” ya Om Hari?…….Minggu sore ngonthel ya Om…biasa ngabuburit di rumah Om Gunadi……ada kuliner nasi uduk ayam kampung lho di Kalimulya …….ditunggu…

  87. Kulanuwun…badhe nyuwun pirsa para winasis sedaya,mbokbilih wonten ingkang pirsa….sampai saat ini saya msh penasaran sekali dgn keberadaan kacang garing(nyuwun sewu,kelas sy cm kacang garing),yg dl ada di Jokteng Wetan,kalo malam…lokasinya skrg dimana njih ?? gurihnyaaaaa,ngedab-edabi..!!! cocok u. teman jagongan mbahas perontelan….mtrnwn

  88. Mas Yonthit, yg jual kacang garing di Jokteng wetan sudah gak jualan lagi, padahalnya kacang garing asin dan sangannya enak sekali. Sekarang orgnya masih tinggal di kampung Danunegaran tapi gak jualan. Saya juga lupa namanya tapi masih ingat rumah di belakang masjid Danunegaran jl Paris.

    • Sayang ya. Masa alesannya hanya takut membuat orang kecanduan? Hehe… Jangan-jangan masih bersedia melayani pesanan khusus, misalnya untuk acara sarasehan onthel di Gambiran? Ayo kita coba!๐Ÿ˜€

  89. @mas Bagus…sembah nuwun,sudah mengobati rasa penasaran saya selama ini..lha sampai detik ini,saya blm menemukan kacang seenak bikinan beliau mas,mgkn tatarannya sama kayak Cycloide ya mas Bagus…he..he….salam kenal mas
    @mas Wong…masukan yang bagus,kapan2 perlu di realisasikan…ada beberapa teman Gambiran yg interest jg di onthel,incld.mbakmi+nyoto…he..he..sendika dhawuh

  90. @mas Wong….ada juga bakmi Mutihan kang Jiyono,adik dari kang Jono SorSawo,brgkl blm pernah dicoba,ato kapan-kapan kita,Opoters+kanca-kanca Gambiran silaturahmi kesana..tidak ada salahnya u.dicoba

    • Mas Yon, yang dimaksud itu bukan bakmi sor pring ya? Katanya bakmi sor pring itu anaknya Pak Jono, jadi alirannya sama, cuma kalah jam terbang…๐Ÿ™‚

  91. Yuk kapan-kapan di coba, tapi jangan datang ke bengkel Sor Pring nanti malah di kira mau ngecat sepeda atau kenteng mobil.

  92. wah dadi pengin mulih nang jogja meneh. nang kene mung iso ngonthel dewekan ra ono kancane

    • Mas Memet, di mana pun berada, onthelis kan satu jua. Hehe… Semoga kelak saat pulang ke Jogja jadi makin berarti.

  93. saya punya ontel berbatang 2. kira2 tahun keluaran berapa?

    email saya ya di rizkisamsul@gmail.com

  94. asik tenan main onthel …. sehat lan akeh konco ….

  95. trims ulasan kuliner nya saya akan coba juga yang belum pernah

  96. sorsawo itu emang oke banget jadi kangen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s