Ngonthel Pascaerupsi Merapi: Hikmah Kebersamaan

Merapi, gunung megah di utara Jogja yang biasanya memberikan kesejukan, menjanjikan kesuburan, dan menampakkan keindahan itu kali ini perangainya tak lagi biasa. Entah hikmah apa lagi yang ingin dibagikannya kepada kami semua.

siap memaknai kebersamaan

Selama erupsi dahsyat Merapi ini, kampung Potorono yang lokasinya agak ke arah tenggara boleh dikatakan aman. Selain berada di luar zona bahaya yang direkomendasikan, angin dari Merapi sejauh ini lebih banyak bertiup ke barat dan barat daya. Oleh alasan itu pula, beberapa warga yang sementara harus menyingkir dari Merapi memilih kawasan Piyungan hingga Wonosari sebagai tempat tinggal sementara mereka.

membawa tanda empati, meski sedikit semoga berarti…

Setelah erupsi Merapi relatif mulai terkendali, Minggu pagi, 21 November 2010 itu komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel dengan lebih leluasa tanpa memakai masker. Sesuai janji, sepagi itu sebelas sepeda telah berkumpul di pos Opoto. Kali ini, kami sengaja menyiapkan sepeda dengan boncengan belakang guna membawa berbagai bahan makanan seperti beras, mie instan, minyak goreng dan gula pasir, bahkan juga ikan asin yang akan kami salurkan ke posko swadaya di dusun Plesedan Tengah, Srimulyo, Piyungan, Bantul.

kebersamaan khas Opoto

Beriringan kami mengayuh sepeda onthel kami mendaki jalan Wonosari. Meskipun Piyungan bukan jarak yang jauh, tetapi jalanan yang menanjak curam, bahkan juga terjal telah membuat perjalanan kali ini tidak semudah yang kami bayangkan. Menuntun sepeda tak kurang dari satu kilometer benar-benar menjadi bonus khusus bagi acara ngonthel kali ini. Terlebih dengan membawa muatan di boncengan.

tanjakan kejutan kecil saat mencari lokasi posko

Sesampai di Posko, beberapa orang segera menyambut kedatangan kami. Saat kami datang, beberapa warga yang sudah sangat sepuh tampak tengah menyelesaikan sarapan di teras sebuah rumah berdinding bata yang belum selesai dibangun. Teras itu diperluas dengan memasang atap seng yang disangga tiang-tiang bambu. Di salah satu tiangnya tertempel beberapa foto ukuran besar, memperlihatkan hamparan luas yang putih terselimuti material Merapi. Tak ada bangunan, tak ada pepohonan. Semua rata. Itulah foto terkini dari padukuhan Kepuh, Desa Kepuharjo, Sleman, tempat tinggal mereka yang terkubur sempurna.

sejuk tapi kuyup

Saat ini, untuk sementara mereka sudah harus berbesar hati dengan tinggal di dusun Plesedan ini. Meskipun telah meninggalkan wilayah teritorial padukuhan, Pak Widodo, kepala dukuh mereka, terus memimpin pengembaraan 112 warga itu dengan berpindah-pindah beberapa kali mengikuti perkembangan situasi dan mengindahkan himbauan akan zona bahaya. Padahal, jika hanya memikirkan diri sendiri, Pak Widodo punya banyak kerabat yang siap menampung keluarganya.

akhirnya sampai juga…

Antara warga Kepuh dan warga Plesedan yang menampung mereka saat ini pun seolah sudah seperti keluarga. Kedekatan di antara mereka terjalin setelah sekian lama bersama-sama menambang pasir dan batu di lereng Merapi. Maka, ketika dukuh Kepuh musnah tertimbun lahar Merapi, tanpa ragu lagi warga Plesedan pun menawarkan rumah mereka untuk menampung warga Kepuh, meskipun belum terbayang bagaimana nanti menghidupi warga sebanyak itu.

wah, ternyata tak boleh meninggalkan simbol dan formalitas 🙂

Kisah Pak Widodo dan warga Plesedan yang lebih memprioritaskan keselamatan serta kepentingan bersama daripada kepentingan dan kenyamanan pribadi bukanlah kisah satu-satunya. Pada saat yang sama, begitu banyak relawan juga berdatangan dari berbagai penjuru atas kemauan sendiri untuk memberikan darma bakti bagi sesama. Menyaksikan semua itu, tak hanya membuat haru, tapi juga bangga.

Merapi memberi kehidupan mereka hingga usia 106 tahun!

Tak kalah luar biasa adalah solidaritas yang ditunjukkan sesama warga Jogja, khususnya warga Bantul. Begitu menyadari bahwa masyarakat Sleman di Jogja utara mengalami musibah, secara spontan seluruh warga Bantul berbondong-bondong memberikan bantuan semampu mereka. Mereka ingat benar, betapa ketika gempa tahun 2006 melanda Bantul, warga Jogja, termasuk warga Sleman bersatu padu bersama seluruh relawan dari berbagai kota dengan gigih dan tanpa pamrih membantu mereka. Maka, inilah saatnya mereka membalas budi baik yang pernah mereka terima. Begitu musibah menimpa Sleman, di setiap dukuh, bahkan RT, masyarakat Bantul menghimpun bantuan nasi bungkus, pakaian, dsb. Para relawan pun dengan segera menuju lokasi bencana. Kini, saat kondisi dipandang mulai kondusif, warga Bantul pun telah menyediakan diri untuk membantu membersihkan kampung-kampung di lereng Merapi agar dapat secepatnya kembali dihuni.

menurun atau mendaki, tetap saja tak bisa dikendarai 😦

Mobilisasi bantuan yang terus mengalir spontan dan tanpa henti ini tentu saja mengundang simpati, mengetuk hati, dan memberi inspirasi bagi para dermawan di seluruh penjuru negeri. Tanpa kecuali, sahabat-sahabat onthelis melalui KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia) pun menghimpun bantuan dengan berbagai cara, termasuk melelang beberapa sepeda dan menyalurkannya melalui komunitas VOC (Velocipede Old Classic) Magelang & GHOST (Grabag Human Onthel Solidarity).

Agaknya, bahwa hoby bersepeda onthel identik dengan kesetaraan, kebersamaan, dan kesetiaan telah dibuktikan. Bagi kami misalnya, kebersamaan seperti yang kami rasakan pagi ini bahkan sudah menjadi kebutuhan. Kami menikmatinya sambil saling bercerita, berdiskusi, dan sesekali bergurau sepanjang perjalanan. Hingga saatnya kami berpamitan dari posko dan mampir sarapan di warung soto Payak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Potorono, berbagai topik masih terus kami bicarakan. Kami pun berbagi cerita tentang heroisme para pahlawan kemanusiaan di lereng Merapi.

dasar Opoto. soto Payak masih tutup pun dibuka sendiri…

Di tengah maraknya peristiwa-peristiwa tragis yang semakin mempertegas betapa egoisme, kepentingan kelompok, bahkan individu telah semakin jauh meminggirkan nilai-nilai kebersamaan sebagai karakter bangsa yang dahulu begitu kita banggakan, tiba-tiba kami saksikan banyak kisah heroik yang begitu menyentuh, meskipun luput dari perhatian mayoritas media dengan kepentingan yang hampir seragam.

semoga kita mampu mewariskan alam yang sehat untuk anak-cucu kita…

Kisah-kisah itu menyadarkan kami bahwa kepedulian yang tulus dan tanpa pretensi itu rupanya masih ada. Musibah yang pernah menimpa memang telah memporakporandakan banyak kampung dan hunian, serta mengoyakkan batas-batas wilayah kehidupan personal. Akan tetapi, terkoyaknya batas pribadi itu ternyata justru menjadi titik balik bagi tumbuhnya kepedulian dan kebersamaan.

Hidup tak lagi sesempit pagar rumah kita. Hidup menuntut manusia untuk saling peduli, saling berbagi, bahu-membahu, termasuk dalam menjaga kelestarian alam semesta sebagai hunian yang dipercayakan Tuhan kepada mereka.

**
Atas nama warga Jogja, kami menyampaikan terima kasih atas kepedulian semua pihak yang telah meringankan tangan memberikan berbagai bantuan bagi warga yang tertimpa musibah terkait letusan Merapi, juga musibah di Wasior dan Mentawai. Semoga menjadi amal yang baik di sisiNya. Amien.

70 responses to “Ngonthel Pascaerupsi Merapi: Hikmah Kebersamaan

  1. Merapi memang sedang punya gawe. Itulah yang saya ingat untuk membahasakan erupsi merapi oleh warga lereng Merapi. Tidak ada dendam, meski kampung halaman mereka tertimbun material vulkanik. Mereka masih mencintainya, dan berharap Merapi segera selesai gawe nya, dan mereka kembali menata hidup mereka meskipun dari nol. Semoga diberikan kemudahan.
    Kebetulan saya punya foto Merapi hasil jepretean amatir di: bit.ly/merapiii – monggo mampir.
    Mas Bagus, mbok juga pameran foto2 merapi-nya. pasti jauh lebih dahsyat, lha wong wartawan plus SAR je…

  2. Merapi Tidak Pernah Ingkar Janji. Merapi bisa pula ganas tapi bisa pula mendatangkan berkah yakni pasir Merapi yang tak pernah habis ditambang. Tanah di Merapi pun memberikan kesuburan dan kemakmuran bagi warga yang tinggal di sabuk gunung. Terimakasih bonus etape khusus. Kemarin siapa yang jadi raja tanjakan di etape King of Mountain?

    • Sebenarnya ada yang istimewa juga: Mas Max’s, salah satu ikon Opoto yang ditunggu-tunggu, akhirnya turun gunung. Lha tapi begitu turun malah diajak nanjak! Tobaaat…!

  3. sungguh inspiratif

  4. Ternyata Watu Gajah sudah ditemukan di wilayah antara Dusun Kepuhsari-Pagerjurang tidak jauh dari Dusun Kepuh wilayahnya Pak Dukuh Widodo, panjang sekitar 8 meter, tinggi sekitar 3 meter. Pengganti watu gajah di Kali adem yang sedikit terkubur material

  5. Rangga Tohjaya - Defoc

    TERHARU dan BERBANGGA perasaan saya menyimak kiprah panjenengan sedaya, bakti sosial ala onthelis, yah walaupun bisa dijangkau dg mobil ataupun kendaraan lain, akan lebih mantab dengan menggunakan onthel dan saya juga hanya bisa mendoakan agar semua amal ibadah panjenengan akan bisa menolong kita di hari pembalasan nanti.
    Desa Kepuhrejo terkubur sempurna? Maksudnya ilang nggak ada bekasnya gitu Pakde? Lha kira kira berapa meter desa tsb tertimbun pasir ?
    Saya tidak bisa memprediksi ada apa dg rahasia Alloh ini Pakde.
    Tetapi daharnya bukan soto campur kan ? Soto campur pasir….wis lah pokoke kita harus bisa mengambil hikmah dari semua ini….khususnya saya, semoga akan menjadi manusia yg “lebih baik dari kemarin”……yg terutama akan lebih bertakwa kepada Alloh yang Maha Segalanya …gitu Pakde Wongeres …nyuwun pangapunten …nuwun.
    Mas Aat, saya pingin ngintip foto fotonya njih…..
    Mas Bagus…mana fotonya dari relawan rangkap jabatan…

    • Ki Rangga, peristiwa Merapi kali ini kembali mengingatkan bahwa hidup haruslah selalu seperti mengendarai onthel: untuk menjaga keseimbangan, kita harus terus bergerak! Merapi bahkan juga telah mengubur kali Gendhol. Bagaimana kita membayangkan material vulkanik itu mengubur perkampungan setinggi 7-8m? Dan pada kedalaman 2m, timbunan itu panasnya masih di atas 200 derajat! Perubahan besar yang ditimbulkan tentu menuntut perubahan pola pikir kita juga. Kalau perlu bahkan sangat ekstrem. Karena hidup harus terus berjalan.

  6. keren mas, bisa jadi panutan

  7. wah jan…marakke mrinding, lembah manah, agunging budi pekerti, welas asih marang sak podho-podho, sepi ing pamrih rame ing gawe, tulung tinulung tanpo pengarep, “nangekke wong sing tibo (loro lopo)”………SALUT buat temen2 OPOTO…. semoga bisa meng- ENERGIZE saya pribadi maupun temen2 onthel yang jauh dari Jogja utk “lebih peduli”.

    • Amien. Maturnuwun juga sudah mengingatkan pada konteks kearifan warisan leluhur. KOSTI dan sahabat-sahabat onthelis juga sudah menyingsingkan lengan, melelang onthel, sejak musibah ini menimpa kok…

  8. Salut buat rekan2 OPOTO dan Pak Noer, selain kebersamaan dan kekeluargaan, tidak lupa juga berbagi buat sesama. salam.

  9. Reportase dan action khas Opoto………secercah harapan yang tersisa dari sebuah Peradaban! Disaat yang lain MERAPATKAN hasil RAPAT minggu lalu…Opoto sudah meRAPATkan diri dengan korban Merapi. Sebentuk kesadaran diri tanpa melalui proses berfikir yang rumit,njlimet yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan KEHILANGAN ….kehilangan sebuah MOMENTUM…momentum untuk berbagi . Tapi……………………. Gazelle-nya memang buaaagus,Gus Wong!

    • Gak ada kata terlambat untuk membantu pengungsi. Mereka yang dusunnya tertimbun masih butuh bantuan kita. BTW, kalau ada yang tahu atau bahkan punya program pemulihan ekonomi warga Merapi, mohon infonya nggih. Nuwun

    • Kyai Branjangan, Gazelle yang mana to?

  10. Rangga Tohjaya - Defoc

    @Mas Bantoro….assalamuallaikum wr wbkth….dimana posisinya sekarang? Apa masih ditempat yg nun jauh disana, njajah ndeso milang kuto? Kalau naik sepeda merasa enak, bilang sama temen temen (nyebar virus), kalau merasa nggak enak, bilang sama Pakde Wongeres(nanti dibikin uenak)…dikasih bumbu spesial soto….he he he
    Selamat beribadah mencari sesuap emas, segenggam berlian….jaga kesehatan dg pola makan yg sehat dan jangan lupa…….ngonthel..
    Nyuwun ngapunten (hanya gojegan yg cerdas) dan salam dari “pini sepuh”

    • Pakde Rangga, “pinisepuh” yang msh berjiwa muda hehe, matur suwun lho atas pangandikane. Posisi msh di timur jauh. Saya malah blm sempet “sambat” soal tumpakan humber sama Om Wong. Salam ngonthel selalu.

  11. Betul kata M.Aat ; M.Bagus ditunggu dokumentasi Merapinya.!

    Wongeres… Ayoh jurit malamnya kapan lagi !!!

  12. Teman2, Foto Merapi sebagian sudah kami upload di www@detik.com. Silakan di kunjungi saja. Sebagian lagi sekitar 1.500 file foto masih di hardisk komputer belum saya apa-apakan. Saya masih harus memilih dan memilah lagi. Mas Aat kalau untuk pameran biarlah teman-teman yang lain. Saya masih belum tega dan belum punya keberanian, masih teringat situasi di kawasan Cangkringan yang sudah luluh lantak dan tertimbun material Merapi dari 0,5 sampai 3 meter.

  13. Iya, Mas. Yg harus kami dokumentasikan saat ini adalah nanti saat warga mulai recovery ketika status Merapi sudah turun. Seperti saat Gempa 27 mei 2006. Saat ini, yg dibutuhkan warga pengungsi adalah mengembalikan semangat mereka lebih dulu.

  14. Gazelle X nomer urut 10….Gus Wong! Jos Markenjos…

  15. matur nuwun mas noor dan keluarga besar OPOTO,semoga kebersamaan ,keihlasan dan kepedulian membawa banyak manfaat bagi sesama.Rasanya pengin ‘ngrasakke tanjakan piyungan’,he3.Tgl 6 desember kemungkinan sy ke yogya,siapa tahu bisa ketemuan.Ok salam

  16. @wah ketinggalan kabar nih.. selamat BUat rekan dan sahabat OPOTO ,semoga segala amal dan ketulusan bisa menjadi tambahan inspirasi buat kita semua… ngomong2 treknya kali ini luar biasa ya ma Wong.. dan yg lebih luar biasa lagi sy lihat di foto ada sesosok priagung yg ” besar” ikut dan tenyata kuat mendaki.. meskipun pakai bell las lasan..hehehe ( mas Max..apa kabar?).
    @ mas Bagus.. sy ucapkan selamat atas tugas2nya selama ini di pinggang Merapi.. pasti koleksi ftnya keren .. ( mau dong..)
    @ gus Genduru apa kabar? tdk kecipratan abu vulkanik dr Bromo kan?.. semoga..

  17. @ Ki Ageng Wongeres…sepertinya lebih pas kalau kirim bantuan pakai transportfiets, pasti bisa bawa barang lebih banyak he..he..h.e.

  18. @Om Noer & om erwin : jurit malam …. hayooo…siaaaaaap… rencana mau camping juga ayooooo… pokoknya siaaaap tempur nich….
    @om rendra : haaaa…haaaa… om rendra tuch “ngece”…. soalnya kalau gak dipaksa untuk kuat…. nanti malah ketinggalan di bukit…waaah… bisa kurus “ndadak” om!!!!! haaaa…haaa… sampai rumah “parem” satu kilo… TUNTAS om.

    • Ooo… pantesan stok parem sekitar Potorono pada ludes! Pokoke ngono wae lah. Saben krasa kesel, bengine turu karo parmi…😀

  19. kalau kuda lumping kuda naik orang, kalau ini sepeda tak bisa dinaikin orang apa namanya ? suatu reportase yang sangat mengharukan tentang kesetiakawanan yang makin susah ditemukan, cukup mengharukan terutama bagi yang melihat sendiri bagaimana 2006 kita melihat banyak truk berisi sukarelawan u membantu saudara di bantul, kini arus balik dari bantul total membantu saudara-saudara di sebelah utara, semoga keistimewaan ini tidak rusak karena demokrasi.

    • Mas Faj, insya Allah kita tidak mudah lupa akan jasa dan pertolongan yang kita terima di saat kita kesulitan. Insya Allah juga, kita tidak mudah lupa pada sejarah…

  20. @m.Noor…mohon maaf mas,kami2 tdk bisa gabung,kebetulan ngepasi pada punya kepentingan juga….InsyaAllah,lain waktu bisa gabung…….ada salam dari p.Tris Ngablak u. m.Noor+teman2 Opoto……mohon maaf

  21. good job ilike it,,,,Sukses boeat OPOTO ”Lanjutkan”

  22. @Mas Aat…2 minggu ygv lalu saya meliat tayangan”dompet peduli pemirsa tv one”, ada sumbangan dari masyarakat pemirsa berupa uang sejumlah Rp.100 milyar lebih , baru digunakan Rp.15 milyar utk bantuan sembako korban Merapi, Wasior dan Mentawai……… sisanya rencananya utk membantu dalam bentuk pemulihan ekonomi dan sosial dll……sekarang dicoba bagaimana kita bisa berkomunikasi dg TV One tsb ?
    @Pakde Wongeres……ternyata dg adanya rentetan bencana yg ada saat ini menjadikan bertambahnya jenis SUSU ya Pakde? Coba kita simak ada jenis susu : SUSU TANTE : sumbangan sukarela tanpa tekanan…SUSU PRAWAN : sumbangan sukarela para dermawan…SUSU ASOY : sumbangan sukarela arek Suroboyo…SUSU KIRIK : sumbangan sukarela kiriman pak carik….SUSU DEWA : sumbangan sukarela dedikasi mahasiswa…SUSU KECAKOT : sumbangan sukarela dari kecamatan kota…SUSU ONGKOS : sumbangan sukarela orang orang kosti….SUSU ONTA : sumbangan sukarela ONthelis temen temen kiTA……….inilah wajah seutuhnya masyarakat Indonesia yg sebenarnya, homo homini socius , bukan homo homini lopus……gitu apa ya Pakde……alhamdulillah sahabat sahabat kita ada didalamnya…….termasuk OPOTO tentunya….apa ada yg melelang sepedanya seperti sahabat kita yg ada disana(?)…..trenyuh aku………

  23. eh Jeng Vita………ai laik it tuuuuuuuuuuuuuuuu
    du yu laik onthel? ha ha ha ha boso inggris britis nih
    lanjutken…..

  24. Mbah Nolo Klabang

    Kulonuwun malih Ki Lurah Opoto, simbah merinding dan salut melihat Opoto dan onthelis lainnya serta masyarakat berjuang bahu membahu membantu warga yang sedang kesusahan. Melihat gerakan simpatik ini mbah nolo jadi ingat pepatah orang tua dulu yaitu “holobis kontul baris” (satu kekuatan bersama). Ini menjadi bukti bahwa Jogja memang istimewa, kekuatan budaya masyarakat yaitu semangat gotong royong masih tetap dimiliki dan dijaga masyarakat Jogja ditengah terpaan budaya uang. Opoto memang istimewa….

    Tapi lhoo kisanak Rendra kok malah nguthak athik keistimewaan (keunikan) si las bella milik bung Max’s yang udah adem ayem di potorono. Yaa mbok ngusik-ngusik onthelnya mbah nolo ini yang keadaanya semrawut….hihihihiii…Ini simbol atau gambaran kegalauan hati simbah nolo, ki lurah dan kisanak Rendra…

    • Sugeng, Mbah Nolo? Kemarin kami kenduri bersama lho.
      Saiyeg saekapraya, telap-telep kembul bujana.

      Kata seorang ulama: “membereskan hal-hal yang sudah beres itu ‘ndak beres’ namanya…” Hehe…

  25. Mbah Nolo Klabang

    Setuju Ki Lurah, sekarang kan banyak yang ndak beres, termasuk mbah nolo ini. Bagaimana tidak, lhaa wong mau membereskan satu onthel Fongers aja ndak beres-beres akhirnya ya mengalihkan perhatian dengan mengusik-ngusik ki sanak Rendra, atau onthelnya Opoto yang udah beres itu, atau terkadang onthelnya kisanak Rangga,…hehehe, ndak peduli melanggar etika, moral, bahkan sejarah. Alhasil, ketidakberesanlah yang akan dituai ….hehehe…salam.

    • Hahaha… Mbah Nolo, sebenarnya onthel di Potorono juga belum beres-beres banget. Banyak kekurangsempurnaan di sana-sini. Lha tapi daripada ngaluk-aluk membayangkan yang perfect segala-galanya, malah kemrungsung terus to. Kan mendingan mencukupkan dan mensyukuri apa yang sudah ada, sambil masih ngincim di dalam hati: kapan nanti pas punya duit sekarung dan ketemu lampu-dinamo Burgers ENR yang mulus tetap akan kita kejar! Begitu, Mbah Nolo. Semangat kan harus tetap ada? Hehehe…

  26. Apa yg dapat aku utarakan…dalam layar kaca yg kecil ini…mungkin tidak banyak berarti…meskipun aku bermaksud mengatakan sesuatu…tentang onthel yg melintas jaman dlm kehidupan kami…selebihnya , mengutarakan betapa saudara saudaraku ini akan sangat berarti sebagai “referensi” bagiku tentang cerita onthel dan berbagai masalahnya.
    ( saduran bebas dari buku ” Naga Sasra dan Sabuk Inten – SH Mintardja – 1968 )

    • Weleh…weleh… Pak Dhe Rangga masih setia nyambangi Mahesa Jenar to. Di Potorono adanya cuma nagasari & sabuk grenjeng, je. Hehe…

      Pak Dhe, Minggu pagi kemarin saya ditraktir sama Mas Hari Humbermania lho. Priayine santai, tapi gesit. Lha dalam sekejap sudah mak plecit, tahu-tahu sudah ngelus-ngelus Rudge orisinilan di Solo sana. Wah…wah…😀

      • tur suwun mas noor acara bincang paginya,sinambi ‘mecel’ di esgepece,ternyata nyetel juga dengan leo kristi,kalau jadi launching album di jkt tlg dikabari.Ok kapan2 nanti tak sowan ke P Sahid atau mas bantoro,mas bagus.Siapa tahu bilateral onthelista depok-yogya menelurkan gagasan2 baru,mumpung Yogya belum merdiko.Salam dari mas mahatmanto dr jepun.

      • @Pak Hari Humbermania, salamnya sudah diterima dg senang hati, lha wong saya nyadong dawuh lho, la kok rawuh ke Jogja tidak berkenan “Njawil”. Semoga perburuan “England” ke Solo-nya berhasil. Salam.

  27. rangga tohjaya - DeFOC

    Om Hari? iyo Pakde Wongeres….sudah lama beliau pingin silaturami ke OPOTO…brp waktu yg lalu minta alamatnya Pakde…saya katakan udah cari aja di Potorono, mestine orang tahu siapa Wongeres itu… Om Hari juga ngendiko kok …yen Pakde Wongeres iku orang terkenal….terkenal sebagai calon Gubernur DIY yg dipilih dari Partai Onthel…….he he he he

    • Oh, lha iya to Pak Dhe Rangga. Di Potorono saya sudah terkenal sebagai orang yang kurang dikenal. Hehehe…

      Tapi kalau cuma di kawasan Jogja saja, misalnya Pak Dhe Rangga ada masalah dengan petugas, bilang saja temannya wongeres. Nah, nanti kalau urusan jadi beres, lain kali kalau saya kena urusan juga tak bilang gitu: temannya wongeres! Haha…

  28. @halo mas Hari humbermania, halo mbah Nolo, halo mas Rangga , halo mas Wong..apa kabar semua, semoga di awal tahun baru Muharam ini semua sehat wal afiat.. semoga Potorono tetep ayem tintrim.. baru saja buka Wira wiri kok udah ada woro woro acara feb di Jogja.. rasanya kok sdh kangen banget dengan kota “erupsi”, kangen sotonya, gudegnya, pengamennya, klithikannya dan tentu saja sahabat onthelis Jogja yg super top…hehehe..

    • sugeng sonten mas rendra,tepangaken kawulo.Ngemut emut asmo njenengan,memori saya nyantol pada tokoh budayawan WS Rendra,priyagung saking solo.Masih stay di karawang mas,dulu waktu adik sy tugas di batalyon 305 sy sering ke krawang,terakhir 2 tahun lalu mampir ke waduk peninggalan walandi (lupa saya).Ok salam

  29. Mbah Nolo Klabang

    Hehehe…ide bagus Ki Demang Ronggo, Ki Lurah Opoto jadi Gubernur Onthel di Daerah Istimewa Onthel (DIO) dengan ibu kotanya Potorono. Sedangkan wakil gubernur onthelnya adalah Denmas Rendra, karena padepokan Karawang telah mendekler bergabung dengan Opoto. Dan mekanismenya melalui penetapan, sekali lagi PENETAPAN….hehehe. Simbah Nolo pun mau mendirikan Partai onthel Pungres (POP) yaitu Onthel Pendukung Wongeres….hihihihihi

    Ngomong-ngomong kapan yaa Ki Lurah mau bercerita (meliput) tentang gedung-gedung toea peninggalan Belanda di Jogja seperti usulan pak sahid beberapa waktu yang lalu. Soalnya, Jogja kan benar-benar kota perjuangan jadi perlu diingatkan kembali sejarahnya. Agar kita-kita ini jangan melupakan sejarah (Jasmerah).
    Selain itu, sekarang kan banyak yang sudah dihinggapi “jasbiru” yaitu jadi sangat bingung mikir melulu, hehehe….termasuk simbah ini. Lha bagaimana tidak sangat bingung, mau mbungun satu onthel aja ndak beres-beres mikir katongnya tipis, belum lagi mikir sembako pada naik, belum lagi ada pajak sana sini. Jangan-jangan nanti onthel pun bisa kena pajak seperti dekade 80-an harus dipasangi plembir….Opo ora tambah bingung Ki Lurah.

    Halo juga Denmas Rendra, semoga sehat selalu…hehehe

    • Mbah Nolo, ngomong-ngomong, terlepas apakah itu masih menjadi bukti pembayaran pajak onthel atau tidak, plembir itu sekarang malah laku lho. Kalau Mbah Nolo punya, bisa-bisa malah diburu para onthelis untuk ditempel di sepedanya biar tampak lebih mirip penampakan asli sepeda onthel tempo doeloe.
      Jasbiru itu bukannya: jangan suka mengharu biru? Atau jangan suka bikin runyam? Hehe…

      • P’Wong
        – saestu leres bab “plombir”, wonten conto nipun, sepeda tonggo kulo
        pajeng awis padahal merek P***X, amargi templekane plombir “jan ora
        nguwati” –> wonten 8 iji cacahe’. (……melu nggumun, sing “loro/gerah ki
        sing tuku opo sing adol” niku P’Wong?
        – walah….tasih sonten kok ajenge “nggaru biru” kirang permono to P’Wong.

      • wongeres OPOTO

        Lha niyate panci mundhut plembir sing ditataki sepeda kok nggih… Pak Suga kalau ada sepeda Simking bekasnya Roro Mendut, minat mboten?🙂

        Kita kan suka pakai ngelmu ngalah: Alah, isih sore. Alah, durung bengi banget. Alah, keturon! Hahaha…

  30. sugeng enjing mas bantoro,nyuwun ngapunten wekdalipun kolowingi mepet sanget.saya khawatir njenengan taksih mlajar dateng papua.Next januari awal tak sowan ke gedongkuning,siapa tahu ada soto atau temennya yang bisa dijadikan media.Salam mas,kmr di solo ada yg mau lepas Rudge ori komplit 4 jt blm ditawar.

  31. salut buat kawan-kawan onthelis di sana. semoga bantuannya bermanfaat untuk para korban.

  32. Amiin. Terima kasih. Salam hangat dari kampung Potorono untuk sahabat-sahabat onthelis di Samarinda. Terus mengayuh demi keseimbangan dunia🙂

  33. teriring doa dan salam dari pegunungan tengah ujung timur Indonesia..smoga tetap tabah dan tegar menghadapi smua.amen..

  34. sami2 pak..rumah di kuncen jg kena awu + pasir ..

  35. P’Wong
    wah kadose dereng Pak, bab sepeda simking-nya. Menawi bekasipun mbah putri roro mendut kulo “tasih ajrih” tapi menawi sepeda bekasipun Alm.Romo Mangun kulo purun sanget (…lha kolo rumiyin wonten Kotabaru…kathah sanget je). Tasih nggadahi pit kagungane Alm. Pastur Dick Hartoko….(orang asli Belanda yg sangat “njawani”)…..”wangun tenan”….””pedhan saleg”.
    Kulo piyambak…sampun cocok kalih wesi nenyeng ingkang jenenge “Ponger”.

    • Hehe… lha wong ini Roro Mendut edisi nostalgia 2010 kok…
      Kasinggihan, Pak Suga. Saya masih ingat betul dengan Romo Dick saat sempat sinau dari beliau. Meskipun kami culun-culun, tapi beliau tidak pernah meremehkan apa yang kami sampaikan sehingga semua merasa pede. Beliau banyak bercerita tentang keindahan universal. Mungkin salah satunya ya Roro Mendut 2010 tadi🙂

  36. Gus wong Agung,akhirnya saya kemaren melihat Potorono yang legendaris , lihat PLANG POTORONO trus Banguntapan……..muter-muter, eh ketemu Gazelle Heren jreng ditunggangi priyantun sepuh….waduhhhhhh ijo royo-royo kuthane!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s