Kemarin dan Hari Ini, Landasan Meraih Esok Hari.

Betapa cepatnya hari berganti. Dunia, setiap kali kita terbangun untuk menatapnya, seolah selalu berbenah dan merias diri. Nafas dan selera zaman pun terus berganti, seiring hadirnya generasi demi generasi yang silih berganti. Tak ada yang abadi. Tetapi, pencapaian para pendahulu yang telah meletakkan dasar-dasar pengetahuan, moral, dan peradaban serta kebudayaan akan terus dikenang.

tradisi kebersamaan

Banyak sudah yang telah dicapai oleh generasi pendahulu sehingga seolah tidak ada lagi gagasan serta buah karya yang bisa kita klaim sebagai 100% โ€œmurniโ€ milik kita. Bukankah setiap karya akan selalu merespon karya sebelumnya? Respon itu bisa bersifat positif, yang berarti mendukung konsep/pemikiran sebelumnya, atau bisa juga negatif, yaitu memberontak terhadap konsep/pemikiran yang pernah ada.

Semua pengetahuan kita saat ini merupakan akumulasi pemikiran dan penemuan dari generasi-generasi sebelum kita. Sisi baiknya adalah, sebagai penerus generasi kita tinggal mengembangkan pencapaian yang ada tanpa harus memulainya dari awal lagi.

pendakian semangat

Warisan peradaban ini kadang ada yang populer, banyak juga yang tidak. Seperti Minggu pagi, 14 Februari kali ini, ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) bersepeda melintasi area persawahan nan hijau subur di kawasan Pleret hingga Imogiri, beberapa dari kami mungkin masih mengingat nama Karl Von Drais sebagai seorang yang berjasa dalam penemuan cikal-bakal sarana transportasi sepeda yang kami kendarai. Tetapi, kami tidak kenal sama sekali siapa yang membuat sistem pengairan sawah ini pertama kali.

Berdelapan, pagi itu kami mengayuh sepeda menempuh jalur Pleret-Wukirsari-Imogiri. Meskipun rute itu penuh tanjakan dan turunan, kami sudah sering melewatinya. Akan tetapi, rute terberat harus kami hadapi pada kilometer terakhir yang menyisakan tanjakan dan turunan sangat ekstrem. Saat menanjak, sepeda harus dituntun karena kami khawatir rantai dan nafas kami akan putus. Ketika menurun tajam pun, kami lagi-lagi harus menuntun sepeda kami karena takut rem kami tidak akan mampu menahan laju sepeda.

puncak kesejukan

Pengalaman ini justru membuat kami kemudian menyadari mengapa sepeda di Bantul dikenal selalu menggunakan sistem rem yang unik dan khas. Yakni, rem depan menggunakan tromol dan rem belakang memasang konstruksi rem karet yang dikombinasikan dengan rem torpedo. Mengapa begitu? Jawaban praktisnya benar-benar kami dapatkan ketika melewati kondisi jalanan Imogiri ini.

Girisapto

Di turunan tajam, rem torpedo yang stabil dan antislip jelas sangat diandalkan. Hanya saja, agar beban rantai tidak berlebihan, tromol di roda depan membantu menahan laju sepeda secara halus sehingga tidak khawatir akan terjungkal, sementara rem karet menahan roda belakang secara meyakinkan. Pada tanjakan ekstrem, saat sepeda harus dituntun, rem torpedo tentu saja tidak lagi berfungsi. Beban berat sepeda hanya akan ditahan sepenuhnya oleh rem karet dan tromol yang keduanya dioperasikan lewat tuas rem di tangan. Di tanjakan seperti ini, sepeda torpedo tanpa rem tangan akan sangat menyulitkan, karena berarti seluruh beban sepeda harus ditahan dengan tangan kita sepenuhnya.

lesehan di warung Bu Wied

Kondisi jalanan ekstrem itu akhirnya membawa kami ke halaman Girisapto di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Girisapto yang lahir dari gagasan seniman Sapto Hoedojo adalah sebuah kompleks makam yang khusus diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan terakhir para seniman dan budayawan Jogja. Seperti diketahui, selama ini Jogja dikenal luas sebagai salah satu kota yang banyak melahirkan seniman dan budayawan sehingga seni-budaya mengalir deras dalam nadi kehidupan masyarakatnya. Girisapto yang letaknya di sebelah barat Makam Raja-raja Mataram di Imogiri ini merupakan salah satu bentuk penghargaan atas segala darma bakti yang telah mereka berikan bagi Jogja, bagi bangsa, bahkan juga dunia semasa mereka hidup. Selain Sapto Hoedojo, ada beberapa nama seniman dan budayawan terkenal yang dimakamkan di sana, antara lain Kirdjomuljo, Widayat, Drs Saptoto, dan El Manik.

serasa di taman firdaus

Jalan ke makam Girisapto, karena berlokasi di tanah berbukit, memiliki banyak anak tangga yang menjulang ke puncak. Suasana makam yang teduh dan nyaman itu sangat jauh dari kesan angker. Itulah sebabnya, tempat ini banyak dikunjungi orang-orang dari berbagai daerah untuk melakukan wisata ziarah.

Meskipun panorama di sini sangat indah, ditambah lagi angin senantiasa berhembus semilir dari sela-sela pepohonan nan lebat menghijau, tetapi ada tuntutan lain yang tak cukup kami tuntaskan di sini. Kami lapar. Maka, tak berapa lama kami beristirahat di halaman Girisapto, kami segera menuju warung pecel Bu Wied.

Bu Wied yang melayani kami bagai raja

Di warung pecel Bu Wied ini, seperti biasa, kami memilih duduk lesehan di tepi sungai. Di sinilah kami menuntaskan hasrat kami menikmati sarapan pagi sesuai selera. Ada yang mengambil nasi pecel dan ayam goreng, ada yang lebih suka bubur dengan sayur tempe-krecek serta telor, tapi ada juga yang melakukan eksperimen dengan mencampur lontong, pecel kecipir-bayam, dan sayur tempe-krecek serta tempe garit. Sayang saat ini sedang tidak musim bunga turi yang biasanya menjadi salah satu ciri khas pecel Imogiri. Sedangkan minumnya, kami memesan teh panas dan wedang uwuh yang juga khas Imogiri.

Di bawah langit mendung, berlatarkan sungai dan hijau pepohonan yang terus mendesahkan kesejukan, makanan dan minuman itu menjadi begitu lezat. Kami pun berlama-lama ngobrol mengeringkan keringat sebelum kembali menempuh perjalanan pulang ketika hari beranjak siang.

Pak Joni memimpin dengan riang

Meskipun dengan melintasi jalan utama perjalanan pulang kali ini tidak lagi harus bertemu tanjakan tajam, tetapi energi kami memang sudah banyak terkuras. Terbukti di sepanjang perjalanan pulang itu tak banyak lagi kami berhenti. Semua seperti sepakat untuk segera sampai di rumah, agar bisa segera beristirahat membasuh penat. Maka, dengan kayuhan perlahan kami kembali menyusuri jalanan aspal, melintasi sawah-sawah, hingga jalanan khas kampung Potorono pun segera menjelang. Kami pulang!

61 responses to “Kemarin dan Hari Ini, Landasan Meraih Esok Hari.

  1. lha dalah .. om deddy mulai aktif lagi nich…. wah opoters tambah gayeng dabbbbb….

    @ om joni : Gong Xi Fat Cai om… jangan lupa bagi-2 angponya lho…. heee…heeee… peace om…๐Ÿ™‚

  2. Wah, jangan salah. Onthel Siluman tiba-tiba muncul lagi. Minggu kemarin benar-benar istimewa. Semua ditraktir sama Pak Joni lho. Tq Pak Joni…

    Capeknya kali juga istimewa…๐Ÿ™‚

    Bung Max’s jangan lupa oleh-olehnya nanti sepulang dari Bali. Hehe…

  3. Kok tempatnya selalu terlihat enak dan nyaman ya… Jadi suka berandai-andai bisa ngontel bareng bapak2 semua… salam dari Tangerang

    • Tempat dan suasananya jadi semakin nyaman lagi setelah pada kecapekan dan kelaparan. Hehe…

      Salam dari Potorono, Pak Adi.

  4. @ wow..kali ini foto2 yg tampil bener2 menyejukan…sangat indah.. baik lokasi maupun ” model”nya… dan terutama intro yg “mentes”… saluut.. rupanya sebelum berangkat sdh meninggalkan reportase yg indah..
    @ nggoleki fotone mas Max kok ga ada ya..apa krn sdh langsing shg saya pangling?….hehehe
    salam dari Karawang

    • Haha… Pak Rendra tahu aja. Maksudnya nanti pulang-pulang, capek, nggak ada perasaan dikejar-kejar deadline…

      Mas Max’s baru jadi selebriti. Beliau lagi ke Bali, Pak Rendra. Mau ketemu Julia Robert atau gimana gitu…๐Ÿ™‚

  5. Om potorono..kemarin kok ngilang yo.padahal panjenengan di cari kang Irmanov yang penasaran dengan yg namanya pak wongeres.

    Btw..kemarin ga ikut ngontel ke bekasi ya.

    • Hehe… kami juga lihat Kang Laexs lho. Kang Irmanovnya juga akhirnya ketemu kok, meskipun cuma saling teriak di Bekasi. Padahal kami juga sudah pernah ngobrol kok waktu acara Solo dulu.

  6. @ om Laexs,mhn maaf kemari mas Wongeres saya culik utk menemani sy ngawal anak dan istri sy yg ikut ngonthel ke Bekasi beserta rombongan yg lain, namun krn msh ada acara maka beliau minta di turunkan di bekasi square… katanta kalau tahun depan ada acara serupa mas Wong dan OPOTERS akan hadir utk ikut nggowes Karawang Bekasi…

  7. @ mas Towil, mas Bagus< pak Jonhny indian, pak ngadiman,pak Darsono dan tentu saja mas Noereska dan mas harsono.. kami mengucapkan terima kasih atas kerawuhannya di rumah kami … semoga lain wkt kerso rawuh lagi..salam

    • Istilahnya itu lho. Bukannya kerawuhan itu arinya kesurupan? Haha… Sebuah pengalaman luar biasa dengan penyambutan istimewa dari Pak Rendra sekeluarga. Matur nuwun Pak Rendra…

  8. pak de wongeres hari ini saya mendapat kuliah tentang “sistem pengereman” pada sepeda onthel , terima kasih
    ingat Sapto Hudoyo. jadi ingat istri beliau ( ibu Wuryani) beliau adalah teman sekolah saya di SMA 2 Purwokerto, terima kasih kembali pak de…..sedikit mimpi nostalgia
    hayo hari ini nggak dahar soto……..pecel juga lumayan buat ganjel perut
    sayang di kerawang gak ketemu sampean

  9. Gong Xi Fa Cai pak Joni and thank you untuk traktiranya di IMOGIRI .
    @ pak Gung Max jangan lupa oleh2 Kopi Bali nya sepulang dari pulau Dewata.
    @ pak Noereska and temen2 selamat & sukses untuk acara Kerawang – Bekasi.

  10. wah saya belum berani nanjak ke makan seniman ini mas nur mengingat tanjakannya memang cukup tinggi…semoga nanti saya bisa ngonthel bareng Opoto kesini….
    @mas rendra : nyuwun ngapunten mas saya belum bisa sowan ke karawang karena saya harus ngawal anak saya hari Sabtu kemarin periksa ke RS…salam buat keluarga ya mas…nuwun

  11. terima kasih pak de Wongeres, hari ini saya mendapat “kuliah” gratis tentang : sistem pengereman sepeda onthel yg unik.
    di Kerawang saya cari pak De Wongeres nggak ketemu…ngumpet dimana sih.
    ingat Sapto Hudoyo, saya ingat teman sekolahku di SMA 2 Purwokwrto(ibu Wuryani) yg sempat jadi istrinya beliau……..cerita nostalgia……..nuwun

    • Mas Heri, wah, sayang nggak ketemu ya. Padahal saya sudah beredar di klithikan, di depan penyanyi yang cantik-cantik, juga di lapangan, sampai muka saya kaya’ udang rebus. Saya tenggelam di antara pembesar-pembesar onthel yang hadir di Karawang, Mas. Hehe…

  12. @mas Heri dr Pwt yah..pakde sy juga ngajar aljabar di SMA2 Pwt namanya Pak Darjadi..kenal gak…tp skrg udh pensiun… salam kenal ya mas..

  13. Wah, perjalanan yg menyenangkan. Meski kita tdk ikutan ngonthel bareng OPOTO, tetapi ulasan dan gambarnya serasa kita ngonthel bersama-sama mereka.Inilah hebatnya tulisan mas Noer, selalu bisa membawa imajinasi pembaca.
    Tapi kok tumben tidak makan soto???

  14. @ Pak Rendra,
    Terimakasih atas jamuan & semua fasilitas yg tersedia, sangat berkesan bagi kami. Apalagi dgn oleh-oleh jagung ajaibnya yg sangat manis… semanis tetangga sebelah, ha3x…
    Kalau ke jogja jangan lupa kontak yaa…

  15. tak pernah lekang oleh waktu, tak pernah punah ceritaku tuk merangkai kata demi kata menemani sepeda onthelku tersayang….kita bahkan tidak pernah tahu siapa yang menemukannya….tapi itu semua lebih nikmat kalo diakhiri makan makan apalagi pake ditrakstir segala

  16. betul om rendra, kebetulan putranya pak de daryadi juga satu kelas sama saya
    salam kenal, saya lagi jatuh cinta nih sama sepeda ontel di komunitas DeFOC – Depok

  17. benar pak rendra Pak Daryadi memang mantan guru saya di SMA 2 Pwt, kebetulan putra beliau ( kalau nggak salah namanya Fajar) juga teman sekelas saya
    salam kenal juga pak Rendra dari Heri agusti- komunitas onthel DEfoc =DEPOK…….nuwun

  18. @den Bagus Podjok..wah sy yg mhn maaf tdk bs menjamu penjenengan semua dgn baik..hanya ala kadarnya…maklum kota kecil mas..hehehe.. kalau soal manis jagung karawang tdk ada yg ngalahin mas..( rekor MURI je..hehehehe..nyombong dikit ah..)
    oya mas, baju indian bang Jonhy ketinggalan di gubug kami tp ntar tgl 1 maret insyaallah sy di jogja tak bawain..salam buat kerabat Podjok dan OPOTO…

  19. @ mas Heri agusti.. kalau gt sama2 tirta kencana ya..hehehehe.. oya anak pakde sy yg sulung namanya mas Bayu skrg dosen Undip matematika…
    di Pwt ada raja gazelle namanya pak Santo pensiunan Bina Marga..kalau mas Heri mau liat2pas pulang monggo dicari,sy juga blm pernah kesana tp katanya sepedanya ada 8 Gazelle semua.. salam

  20. 2 mas Noer.mhn maaf sy numpang blog buat ngobrol ama mas heri dikiiiiit…hehehe

  21. Jogja dan sekitarnya memang memiliki pemandangan alam yang indah, dekat gunung dan dekat pantai menjadi point tersendiri, tetap nggowes terus Opoto … sayang di Bekasi tidak ketemu Kang Noer, padahal saya sempat ketemu Kang Towil ditempat finish.

    • Mas Dhony ketemu Mas Towil di finish? Lho. Padahal Mas Towilnya berangkat duluan. Saya sering nyegat di jalanan, juga di etape demi etape lho…

      • Pakaian Kang Towil pancen khas, sekali pandang langsung mengenali Kang Towil, mohon maaf email Kang Noer terdelete saat saya bersih-bersih email dari facebook. Kl tidak keberatan di sms aja ke 0818591047, ngapunten ingkang ageng sak derenge jadi ngerepoti๐Ÿ™‚

      • Mas Dhony, email saya masih wongeres@yahoo.com
        Tapi kalau mengirim ke situ, ada baiknya saya diberitahu di sini. Soalnya kadang nggak sempat buka…๐Ÿ™‚

  22. Om Wongeres, sebenarnya maksud hati kemarin waktu acara Napak Tilas Kwa-Bekasi pengen ngobrol dengan panjenengan. Sayang ngak kesampaian karena saya tugas di bagian Registrasi Peserta. Tulisan dan eksotisme daerah bantul dsk memang luar biasa, ingin rasanya bisa gabung dengan Opoto. Salam Onthel dari POC Bekasi.

    • Salam kenal, Mas Susilo. Lho. Mas yang di sebelah mana ya? Di situ kami malah sempat foto-foto juga lho…

      Salam buat sahabat-sahabat POC.

  23. Saya yang paling pinggir pak, yang pakai baju hitam dan berkulit hitam.. he..he.. saya hanya bisa berkali-kali melayangkan pandang ke rekan-rekan Opoto.

    Salam kembali pak buat sederek Opoto.

  24. mantap, kata teman untuk menikmati keindahan gunung tak harus sampai puncak dulu baru menikmati pemandangan, ditengah jalanpun kita dapat menikmati, inilah suasana ketika menikmati kebersamaan dengan teman2 dan alam sekitar, suasana yang selalu ditunggu bagi orang yang sedang sibuk ( maksudnya ngiri ), kapan ??

    • Betul, Mas Faj. Kalau pas menunggu soto dihidangkan itu kami juga nggak nganggur alias ndomblong kok. Tapi kami sudah bisa menikmati gorengannya, krupuknya, juga Sitinya. Hehe…

  25. pah rendra, mohon maaf saya ternyata salah ingatan, tetapi ada kok famili Pak Daryadi yg namanya Fajar
    oh ya insya allah saya pingin ketemu Pak Santo di PWT, pingin ngobrol ngobrol, kebetulan saya juga punya gazelle kata orang masih orisinil…..apa iya ya……matur nuwun
    matur nuwun pula buat pak de Wongeres, kami bisa rerasanan di blog beliau

  26. @ mas Heri..iya betul ada mas fajar keponakan dr ibu… silahkan diserbu pak Santo.. barangnya yahuud temenan.. itu mas Dimas juga piyayi Karang salam dekat UNWIKU lho..
    @ mas Wong….. ngeri jeleknya dan karatannya ya..hehehehe

  27. @ mas wong…. sy jd iri gak bs ikut, kpn2 kt goes lg.
    @ pak rendra : heeee nanti kl ke jogja touring lg. maaf kmrn gak bs ikut ke karawang psk, heeee lg nunggu yg di rmh.

  28. @ mas Margi..semoga bengkel baru sudah siap operasi…sy tetap sabar menunggu….hehehehe. salam

  29. Pak Rendra, kalau bengkel baru Mbah Ngatijo sudah jadi kok. Tapi Mas Margi saat ini sedang jadi suami siaga 24 jam, menunggu kelahiran Sang Buah Hati…

  30. @ wah kalau gitu selamat menanti dengan sabar dan penuh doa mas Margi….
    @ mas Wong.. dos pundi fotonya menopo sae sae?..hehehe

  31. Fotonya cukuplah untuk sebuah kamera pocket. Hehe… Tolong di-sms alamat emailnya, Pak Rendra…

  32. Bercerita tentang sejarah masa lalu, seperti yang telah tersaji diatas rasanya kita teringat akan masa 20-25 tahun yang silam. Bahkan ketika suatu saat kita mudik ke kampung halaman karena satu keperluan, sudah banyak yang berubah dan berbeda. Sehingga kita jadi merasa asing dengan sejuta kenangan masa lalu yang dulu pernah kita miliki, dulu aneka dolanan dan permainan tradisional masih menjadi barang yg langka dan mengasyikan. Apalagi kalo teringat sepeda HUMBER Dames alm. yang berbunyi cik..cik..cik rasane pingin mudik terus. Sayang setelah alm. sepuh sepeda tsb tidak terawat dan akhirnya saya harus hijrah ke jakarta karena kerja sepeda tsb di colong sama tetangga dan hanya di jual 80.000 rb….wah betapa keselnya hati ini, cerita diatas memberiku inspirasi baru untuk bernostalgia bersama masa lalu lewat tulisan POTORONO…yang ngangeni! sungkem kagem crew semuanya.

  33. Kapan nih OPOTO bikin event?bersepeda lewat tempat yang suejuk…nt daku minta ijin dinas ke Jogja deh

    • onthelpotorono

      Mas Adit, semoga akan terlaksana kelak pada suatu hari, ketika jalanan kota Jogja sudah suejuk…๐Ÿ™‚

  34. betul kata pak prayogo, kalau soal onthel dan cerita nostalgia sepeda, paling pas adalah tulisan Pak De Wongeres.
    kalau “motor” sudah ada tabloid “Motor Plus”. saya percaya suatu hari kelak ada majalah tentang “onthel” yang akan muncul dari telatah POTORONO. atau bisa juga tulisan Pak De dirangkum menjadi : Onthel dan permasalahannya, atau apa saya perlu bikin disertasi tentang onthel,yg referensinya dari Pak De Wongeres………….gitu kan pak Prayogo?

    • onthelpotorono

      Boleh… boleh… akan bertambah doktor onthel di Indonesia. Asal tetap kita jaga otentisitasnya lho. Jangan jadi plagiat. Hahaha…

  35. mas wongeres, saya kemarin nyoto di jl piyungan, pulang kampung sebentar mau mampir di bakso baskom. lumayan setelah semalam kelaparan.

  36. onthelpotorono

    Oalah Mas Faj. Minggu kemarin sesiang saya main ke Mbah Tris. Sorenya pulang mampir bakso baskom, buat penghangat karena yang di rumah pada nggreges…

  37. Buyut-buyute Panembahan Senopati lagi njlajah deso milangkori! Jogja-Solo jadi Gus Wong?

    • Haha… asal jangan buru-buru ‘buyuten’ alias tremor lho. Jogja-Solo belum dirembug. Kami malah mau nyoba tantangan ngonthel ke Wonosari Gunungkidul dulu. Sampai lupa, siapa dulu yang usul ini ya? Denmas Lintang mau dibawain sego abang sayur lombok ijo?๐Ÿ™‚

  38. Erwin Erlangga

    Hallo….๐Ÿ˜†

  39. mas Erwin, pak de Wongeres kemana nih?

  40. setelah kemarin dan hari ini, ngontel kemana lagi yah? ke gunung kidul boleh juga tuh, ndak tahunya udah ilang kok gunungnya, jadi nggak perlu krenggosan lagi……..sayahe wis ilang to?

    • onthelpotorono

      Minggu ini kami ke Gunungkidul. Tapi cerita katak melompat ke Karawang kami share dulu. Jampining sayah namung bingahing manah๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s