Parade Onthel Satria: Bersenang-senang a la Bawor

perhelatan onthel sebagai ajang silaturahim

Di Potorono, kami mengenal beberapa istilah untuk aktivitas yang mirip, tetapi sejatinya berbeda orientasi atau takarannya. Misalnya, kami biasa membedakan antara ‘ngepit’ (bersepeda) dengan ‘pit-pitan’ (sepedaan). Yang pertama lebih sebagai proses untuk menuju sesuatu yang akan dilakukan, misalnya bersepeda ke tempat kerja, sementara yang kedua merupakan tujuan itu sendiri: ya bersepeda berkeliling itulah tujuannya.

di Pabuaran, rumah dengan pintu terbuka lebar bagi kami

Ketika di satu pihak keberadaan sepeda onthel yang sudah tergusur oleh sepeda motor tidak lagi dipandang sebagai benda berharga, sementara di lain pihak kelangkaan sepeda onthel justru telah menumbuhkan kembali apresiasi terhadapnya, maka sering muncul perbedaan antara sepeda onthel yang semata-mata dipakai untuk ‘ngepit’ dengan sepeda klangenan yang dipakai ‘pit-pitan’. Dalam hal ini, sepeda untuk ‘pit-pitan’ biasanya relatif lebih terawat daripada sepeda yang cuma dipakai ‘ngepit’.

selalu ada kejutan. Pak Dieng, Kopijos, apa kabar?

Rupanya faktor ‘rasa senang’ memang mampu membuat perbedaan. Tetapi ‘senang’ juga berbeda pengertian dengan ‘bersenang-senang’. ‘Senang dengan sepeda onthel’ pun berbeda pengertian dengan ‘bersenang-senang dengan sepeda onthel’. Yang pertama tak lebih sebagai bentuk ketertarikan di antara aktivitas keseharian kita, sementara yang kedua ada kecenderungan untuk mengabaikan aktivitas lain, minimal ada semacam prioritas pada kesenangan tersebut.

Jakarta, Jogja, Irian, dll berbaur bersama Bawor mengawal Pak Bupati 🙂

Paragraf di atas adalah semacam permakluman serta ungkapan terima kasih kami kepada keluarga tercinta yang telah mengizinkan kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) untuk sekali-sekali ‘bersenang-senang’ atas kesenangan dan kecintaan kami pada sepeda onthel berikut segala yang menyertainya, termasuk silaturahim dengan sesama onthelis yang begitu hangat. Apalagi kami menghadiri perhelatan onthel yang pasti disertai gelaran aneka klithikan yang begitu memikat.

ritual jelang ngonthel

Sabtu, 7 April 2012 siang itu kami berangkat ke Purwokerto untuk menghadiri rangkaian acara Parade Onthel Satria dalam rangka peringatan hari jadi Banyumas ke-430. Dari delapan orang yang berniat, ternyata setelah melewati ‘seleksi alam’ hanya tinggal tiga orang yang berhasil berangkat. Meskipun kami sampai di GOR Satria sudah pukul 21.30 sehingga tidak sempat mengikuti beberapa acara hari itu, termasuk Sarasehan Onthel dan pengukuhan KOSTI Banyumas serta KOSTI Pekalongan, tetapi senang juga karena masih sempat menemui banyak sahabat onthelis dan klithikers di sekeliling Sasana Krida. Pak Heri Agusti DeFoc, yang biasa kami kenal sebagai Pak Dhe Rangga Tohjaya bahkan mempersilahkan kami dan Pak Gun DeFoc untuk menginap di rumah keluarga besar beliau. Tentu saja kami tidak menyia-nyiakan tawaran sebaik ini. Maka, setelah sempat melakukan inventarisasi klithikan, kami pun segera menuju Pabuaran.

awas, di gbr-3 ada tentara KNIL bersenjata Nikon🙂

Benar saja. Di Pabuaran, dua kamar dengan ranjang dan sprei yang bersih telah menanti kami. Setelah bergantian membersihkan diri dari aroma perjalanan, kami pun ngobrol bertukar informasi sambil melepas kerinduan setelah lama tidak melakukan jumpa darat.

Pak Bupati Mardjoko & Ki Dermang Towil mengawali parade onthel

Tanpa terasa malam pun kian larut. Dingin udara yang merayap lewat celah jendela mulai terasa menusuk. Mas Tono tampak meraih tas dan berniat mengeluarkan sehelai kain sarung yang disiapkannya sebagai selimut, ketika tiba-tiba beberapa gelas teh hangat dan sepiring besar mendoan yang masih mengepul dihidangkan di hadapan kami. Spektakuler! Mendoan hangat yang kami nikmati di habitat aslinya ini tak hanya berhasil mengusir dingin, tetapi juga menghadirkan suasana yang ‘Purwokerto banget’.

dor! Mbah Nolo berdua terperangkap dalam tubuh muda-mudi…😀

Kemewahan serupa masih kami nikmati pada Minggu pagi. Sebelum kami menuju GOR Satria untuk acara ngonthel, lagi-lagi telah dihidangkan menu istimewa: buntil daun lumbu yang lembut khas Purwokerto, daging ayam, dan serundeng kelapa nan gurih. Sarapan yang lebih dari cukup. Bayangkan. Di Minggu pagi kami biasanya hanya sarapan soto. Memaklumi kebiasaan kami, Pak Heri sebagai tuan rumah berjanji akan mengajak kami menikmati soto Sokaraja selepas ngonthel nanti.

saling pengertian. 

Setelah sarapan, kami bersama-sama menuju GOR Satria, sebuah gelanggang yang begitu luas dan komplit. Semakin siang, area seluas itu menjadi semakin penuh oleh onthelis dari berbagai penjuru kota. Beberapa penjual makanan dan minuman di lingkungan GOR pun segera penuh oleh pembeli dari berbagai komunitas dengan aneka kostum dan atribut. Mereka tidak tahu seberapa siang acara ngonthel akan berakhir sehingga sarapan serba sedikit rasanya merupakan tindakan bijak. Bersama mereka kami sempat berbincang dan berfoto bersama.

siapkan obat tidur, siapa tahu diperlukan setelah melihat pemandangan ini…

Perhelatan kali ini mengangkat Bawor sebagai maskot. Bawor adalah tokoh pewayangan khas Banyumas yang berkarakter terbuka, jujur, egaliter, merakyat, apa adanya, suka membela kebenaran, dan suka persaudaraan. Sungguh pemilihan maskot yang tepat untuk merepresentasikan jiwa para onthelis.

Dengan didahului beberapa ritual khas, acara yang dibuka oleh Bupati Banyumas Mardjoko itu pun segera disusul dengan pemberangkatan parade onthel keliling kota, menyaksikan objek vital serta ikon Purwokerto. Menjelang siang, peserta baru kembali berkumpul di GOR Satria. Acara berikutnya tentu saja berkeliling dan berbelanja di arena klithikan, tempat yang senantiasa menyimpan kejutan.

yang resmi maupun semi resmi, sampai segitunya menarik hati…

Dari waktu ke waktu, dunia klithikan terus menggeliat. Lihat saja aneka koleksi yang sulit dipercaya. Di gelaran tikar para klithikers, aneka aksesoris sepeda onthel yang beberapa tahun terakhir seperti lenyap dari pasaran, kini banyak terserak, tentu saja dengan harga yang menghentak. Siapa sangka, onthel yang sempat tersia, kini bisa tampil kembali sebagai benda yang berharga. Setelah puas berkeliling, kami sempat bertemu Pak Rendra, Pak dan Bu Sahid, Mas Sekjen, Mas Margi, Mas Suga, dan banyak lagi.

soto Sokaraja. enak, gratis lagi…

Sesuai janji, sebelum pulang dan selagi hari belum terlalu siang, Pak Heri Agusti mengajak kami ke warung Pak Sungeb 1 dengan menu spesial soto Sokaraja. Jika biasanya kami menyebut soto itu cuma minuman, kali ini kami menjumpai soto dengan kuah yang sangat kental. Warnanya pun menarik berkat perpaduan antara warna nasi dan soto yang bersih sebagai latar, serta kontras antara kerupuk nan merah dengan taburan mie kuning cerah yang telah digoreng renyah, serta hijau daun bawang, taoge tanpa kaki, dan seledri. Rasanya? Tepat! Rasanya jadi pengin nambah…

selagi banyak pelanggan, terima magang bikin keripik dan mendoan…

Usai menikmati soto Sokaraja hingga tandas, kami mampir ke pusat oleh-oleh Purwokerto. Nopia, Mendoan, dan Keripik tempe serba sedikit sempat kami beli untuk orang-orang tercinta di rumah. Bahkan di sepanjang perjalanan pulang itu kami berhenti beberapa kali menuruti kata hati. Benar-benar perjalanan bersenang-senang.

uji nyali di kalibagor, berlatih teliti di Prembun

Akan halnya dua porsi soto Sokaraja nan kental-gurih itu ternyata mampu bertahan mengganjal perut kami hingga kami sampai di Jogja. Tak hanya sotonya, kehangatan obrolan dan canda dengan para sahabat onthelis pun terus menghangatkan persahabatan kami, hingga saat ini….

***
Liputan ini kami dedikasikan untuk Pak Heri Agusti yang saat ini tengah menjalani proses pemulihan setelah ‘membuang batu’ tanpa harus sembunyi tangan. Semoga cepat sembuh sehingga bisa segera ngonthel lagi. Terima kasih atas segala kebaikan Pak Dhe Rangga Tohjaya dalam menyambut kami. Salam hangat kami dari kampung Potorono.

72 responses to “Parade Onthel Satria: Bersenang-senang a la Bawor

  1. Kang Bro Wongeres, terima kasih atas liputan yang asyik ini. Alhamdulillah saya selama ini sudah bisa ngepit dan pit-pitan, dan bahkan sering ketemu serdadu KNIL bersenjata Nikon D90….he..he..he..

    • wongeres OPOTO

      …dan senang bersenang-senang! Hehe… tempat parkirnya di UGM sudah dititeni lho. Waspada! 🙂

  2. @ akhirnya yg ditunggu muncul juga, tks mas Noer,liputan yg selalu mengandung”sesuatu” seger sumyah dan gurih laksana soto sokaraja, hal ini juga membuktikan bahwa kemanapun sahabat OPOTO melangkah pasti disana akan ketemu soto…dan alhamdulillah akhirnya mas Noer ngonangi profesi sampingan saya sebagai penjual kripik mendoan…hehehehe oya buat mas Heri “rangga tohjaya alias macan kepatihan” semoga segera pulih.. salam onthel

    • wongeres OPOTO

      Haha… ternyata multi talenta! Nggoreng mendoan oke, marketingan alias ngentul pembeli juga oke. Lha wong teman sendiri saja diprospek suruh beli getuk goreng!😀

  3. I'wey Onthelist

    Oooooo, Pak Rendra saya pesen mendoan nya yah…… wakakakak
    Cocok tuh….., KNIL nya siap agresi ke 3 tuh…heheheh
    Gimana kabarnya pak Rendra & Pak Sahid… Salam Onthelis..
    Thanks pak Noer atas uploadnya…. Kenangan di Purwokerto bersama Sungeb….

  4. palgunadi2010

    Untuk Pak Nur :
    Liputannya sarat makna dan menginspirasi
    iya…. pak Heri Agusti saat ini masih dalam proses pemulihan kesehatan
    sepeda sementara dicantolkan di dinding, belum boleh ngepit dan pit-pitan
    dan saran dari dokter…. belum boleh nyoto..

    • wongeres OPOTO

      Terima kasih, Pak Gun. Kemarin itu Seninnya mbolos nggak? Hehe… Wah, Pak Dhe Heri nggak boleh nyoto? Itu kalau soto klethuk kali? Salam kami untuk sahabat DeFoc.

    • wongeres OPOTO

      Kok nggak dateng Mas? Takut ketuker sama Bawor, ya?😀
      Salam buat Junior.

      • saya datang om…hari pertama nongkrong terus di stand KOSTI, hari kedua cuma datang di GOR
        paginya aja, jam 10-an sudah kembali ke jakarta …

  5. Mbah Nolo Klabang

    lha dalah ga sadar kena bidikan kemera pak Noer, hehehe….ternuwun pak..kok ga ketemu pak Wongeres yaaa, hanya berjumpa dua orang pendekar onthel ternama. Satunya dari Karawang, dan satu lagi dari Malang. Yang dari Karawang, piawai dalam memilih sepeda tua berkualitas nan langka. Sementara yang dari Malang pakarnya Fongers. Sempat ngobrol tentang literatur lampu dan dinamo yang pas untuk sepeda Gazelle era 1940-an dengan dua pendekar onthel ini. Senang kalau ngasah pengetahuan onthel yang didukung dokumen maupun referensi yang ada…

    • wongeres OPOTO

      Begitulah kalau lagi berdua. Panas matahari serasa sinar rembulan.
      Teriakan orang pun paling serupa sepoi angin. Hehe…
      Mbah Nolo, Pendekar Malang sekarang lagi ngirit shampoo ya? Bikin pangling.

  6. Rangga Tohjaya

    selingkuh nggak, ngerokok juga nggak, judi nggak….lha wong mau ngonthel saja kok ya dilarang………inilah “siksaan ” yg aku alami PakDhe….terima kasih atas Doanya PakDhe Wongeres dkk…….selamat ngonthel untuk bersenang senang dan jangan lupa, setelah nyoto…….minum air putih yg buanyaaaaaaak……..

    • wongeres OPOTO

      Nah, dengarkan itu testimoni Pak Dhe Heri. Minum yang banyak. Soto itu bukan minum! Saya juga lho, mulai berasa ada endapan. Maturnuwun, Pak Dhe Heri…

    • I'wey Onthelist

      Cepet pulih Pakdhe…. jangan banyak pikiran….

  7. bagus kurniawan

    Dalam catatan Indies Tijdschrift dan laporan pertanian dan perkebunan di Hindia Belanda, Pabrik Gula (Suikerfabriek) Kalibagor Banyumas adalah salah satu pabrik gula terbesar di Jawa bagian selatan wilayah Karesidenan Banyumas.

    Selain Kalibagor di Banyumas juga pernah berdiri pabrik gula milik orang Belanda seperti Suikerfabriek Bodjong dan Suikerfabriek Klampok. Kalibagor yang didirikan tahun 1839 itu merupakan salah satu pabrik gula terbesar di banding pabrik gula di Cirebon, Brebes, Tegal, Pekalongan, Kedu, Yogya-Solo (vorstenlanden).

    Jalur transportasi yang digunakan menggunakan kereta api melalui jalur Purwokerto-Kroya. Sedang wilayah perkebunan tebu tersebar di wilayah Banyumas.

    Namun sayang setelah republik ini berdiri atau saat perang kemerdekaan, pabrik gula tersebut ditinggalkan oleh keluarga Mulder salah satu pemilik pabrik gul. Mereka harus pindah ke Semarang kemudian ikut pindah ke Belanda bersama orang-orang Indo Belanda yang sebenarnya belum pernah tinggal dan hidup di Belanda.

    Apalagi setelah tahun 1970-1980-an kondisi pabrik semakin mundur dan tidak terurus. Hampir sebagian besar mesin produksi dan kereta lori/lokomotif penarik tebu yang buatan Dresden Jerman itu rusak berat.

    Yang paling parah pasca reformasi, hampir semua besi tua yang ada di dalam pabrik habis dijarah massa. Pemkab Banyumas waktu itu tidak bisa berbuat banyak. Satu demi satu besi tua peninggalan kejayaan pabrik gula di Jawa habis dijual ke tukang rongsok.

    Saat ini yang masih tersisa hanya tulisan PG Kalibagor, bangunan pabrik dan cerobong yang menjulang tinggi. Bekas pabrik gula itu akhirnya hanya dikenal sebagai tempat yang angker, gara-gara dipakai untuk acara televisi swasta “UJI NYALI”.

  8. Mbah Nolo Klabang

    Sangat memprihatinkan sekaligus merana itu bekas pabrik gula Kalibagor.
    Saat ini pemerintah gencar-gencarnya menyelamatkan aset sejarah. Ironisnya di tlatah Banyumas malah pingin merobohkan ataupun membirakan saksi sejarah. Padahal betapa hebatnya ekonomi banyumas tempo dulu.
    Banyumas adalah kota kadipaten tua yang penuh peninggalan sejarah Belanda mengakui banyumas merupakan kota tua setara semarang dan Batavia. Petanyaannya ? mengapa masyarakat tlatah Banyumasan enggan menghargai maupun menjaga peninggalan sejarahnya.

    Kepriwe pak Rendra, pakde Rangga jan ora isin karo kabupaten liyane, lha wong neng kabupaten tetangga ana bendungan cilik ben bisa disulap dadi sarana obyek wisata, neng banyumas kene sing genah-genahe luwih amba, jan wiwit biyen ngasi siki ejeg baen…..mbok ya dipermak sing menarik dadi Obyek wisata apa kepriwe ,sing genahe nguripi wong Banyumas….sing diurusi kur alun-alun baen…hehehehe

    • wongeres OPOTO

      Nggak juga lho, Mbah Nolo. Banyumas sudah mulai juga dengan komunitas sepeda onthel dan para pengurusnya. Siapa tau komunitas baru ini akan memberi warna berbeda. Iya, to?🙂

  9. …duhhhh getun mas Noor,sepertinya saya masuk yang “seleksi alam”…moga-moga,lain waktu,”alam” berpihak pada saya…salam katur sedaya

    • wongeres OPOTO

      Bukan, Mas Yon. Yang berangkat itu yang terseleksi, yang tidak berangkat itu yang afkir.😀 😀

      Makanya ayo disudahi dulu nglakoninya, sepeda dipancal lagi, biar aliran darah lancar kembali…

  10. bagus kurniawan

    Kalau bangunan pabrik gula di Yogya sudah habis diruntuhkan saat jaman Jepang. Rel keretanya dicopoti terus dibawa ke Birma oleh Jepang. PG Pleret, Bambanglipuro, Turi, Sleman, Godean, Madukismo, Tamanmartani Prambanan dan Galur Kulonprogo sudah tidak ada sisanya. Yang tersisa hanya pabrik pengeringan tembakau Vorstenlanden di Berbah dan Sorogedhug Prambanan. Gambar/Foto Stasiun Pleret Bantul masih tersimpan di Museum Sonobudoyo.

    • wongeres OPOTO

      Ada lagi dong, sisanya. Burgers Potorono. Haha…
      Mas Bagus, acara ngonthel Sragen itu tanggal berapa dan penyelenggaranya siapa ya? Jogja mundur lagi?

  11. @semua sudah terjual,semua sdh tergadai, semua sdh rata tanah..apalagi yg perlu disesalkan, bahkan jangan-jangan harga diri bangsapun sdh dilacurkan… apalagikah yg tersisa? romantisme masa lalukah? kenangan maniskah?… hohoho..setiap jaman memang selalu ada korban, mungkin ada baiknya kita segera berkemas dari “titik” ini.. bukan masa yg telah terlewati..meskipun tetap bisa dijadikan cermin..tetap semangat….

    • wongeres OPOTO

      “kalau cermin tak lagi punya arti
      pecahkan berkeping-keping
      kita berkaca di riak gelombang
      dan sebut satu kata: hakku!”
      (Leo Kristi)

      Pak Rendra, silahkan bersiap menghadiri Konser Rakyat Leo Kristi
      “Konser Kebangkitan Perdamaian Dunia”
      Sabtu, 19 Mei 2012 pkl 19.30
      di Auditorium Chanti Darma PMPP
      Bukit Merah Putih, Sentul.

      Petunjuk akses menuju lokasi :
      Mobil: Keluar Gate Sirkuit Sentul ke kiri, lalu kiri lagi, kurang lebih 2 km ke kanan. Ikuti Baliho atau bisa tanyakan kepada petugas TNI yang berjaga di sepanjang jalan.
      Umum: Disediakan 2 bus MABES-TNI parkir depan UKI Cawang pkl 15.00
      berangkat menuju lokasi pkl 17.00

  12. bagus kurniawan

    Acara Jambore Onthel Sragen tanggal 2-3 Juni 2012. Yang bisa kita selamatkan adalah spd Burgers yang masih disimpan di sekitar bekas pabrik gula dan para keluarga guru

  13. Itu acara di Purwokerto ya? waduh pada kemana nih opoters lama yang dulu-dulu…. Gimana nih Gan biar pada aktif lagi? memang kalo terlalu lama istirahat seperti berat mau mulai lagi. Mana sepeda cuma dipompa2 doank. Atau ada undangan reunian para opoters lama yuk? Aku pasti ikuut.

    • wongeres OPOTO

      Sesepuh kita Pak Tjip katanya sudah berani ngonthel lagi kalau jarak dekat. Misalnya ke warung Bu Yahya. Pak Joni sudah aktif lagi. Pak Max kemarin masih meres-meres kanebo di depan istana barunya, tapi siap gabung asal mau brangkatnya siangan. Mas Tono meski sedang menyulap rumah minimalisnya menjadi minimarket terbukti masih sempat ikut ke Purwokerto. Lainnya masih kok. Malah tambah bapaknya Adit. Gak percaya? lihat postingan berikutnya. Bapaknya Arsya saja itu yang mompa-mompa doang, kelamaan menikmati rumah barunya… 🙂

    • I'wey Onthelist

      Gimana, wong bannya kempes trs ya memang harus dipompa2 terus ya pak aula…..heheheh….

  14. @njih mas Noer, makasih infonya, bahkan konon bagi yg hadir akan dibagi kaos dengan desain keren ,seekor merpati tengah berdendang menyerukan perdamaian diatas patahan drum dr Potorono..hehehe…siip mas Noer, rawuh kan? .

  15. bagus kurniawan

    Berarti akan tambah banyak lagi yg ikut ngonthel tiap hari Minggu ini

  16. wongeres OPOTO

    Segenap keluarga Onthel Potorono ikut berbelasungkawa atas berpulangnya ibunda dari Mas Max Agung. Semoga Tuhan membalas semua amal kebaikan dan mengampuni semua kesalahan ibunda, dan memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Amin.

  17. Saya sekeluarga ikut berbelasungkawa atas berpulangnya ibunda dari Mas Max Agung. Semoga Tuhan membalas semua amal kebaikan dan mengampuni semua kesalahan ibunda, dan memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Amin.

  18. Kang Wongeres dan para sahabat Opoto, semoga nanti bisa berjumpa lagi di Acara Jambon Sragentina 2-3 Juni 2012. Serdadu KNIL Vredeburg sudah dimobilisasi untuk diterjunkan di sana. Salam Kring-Kring.

    • I'wey Onthelist

      Semoga saja kita bisa ikut dompleng serdadu KNIL…..heheheh salam onthelist…ting ….tong….

  19. @ saya sekeluarga turut berdukacita atas berpulangnya ibunda mas Max Agung, semoga arwahnya diterima disisiNYA, amiin

  20. sayang tdk bs bertemu d pourterico

    • wongeres OPOTO

      Emang mau nraktir apa, hayo? Wong baru ‘bulan madu’ kok ngarep ketemu kurowo pemangsa soto…😀

  21. Rangga Tohjaya

    Semoga amal ibadahnya diterima oleh Gusti Alloh yg maha welas dan Mas Max sekeluarga yg ditinggalkan senantiasa diberi ketabahan serta selalu mendapatkan limpahan karuniNYA

  22. Kang Wongeres, sekedar info, soto terlezat di Sragen adalah Soto Girin atau Soto Gimo (kakak beradik) di Jalan Sukowati ….

    • wongeres OPOTO

      Siaap, Pak Sahid! Terima kasih atas tawaran eh, ini tadi berita ya? Hehe… Semoga teman-teman tertarik keluar sarang dan pada lulus seleksi alam😀

  23. u den mas sahid, matur suwun info soto, semoga bisa mampir.

  24. Om noer, Pak sahid, Mas Rend, pak Heri dan sahabat onthelis Nusantara semua .. kami sekeluarga mengucapkan Terima kasih atas perhatian dan doanya… Sungguh perhatian dan simpati teman-2 membuat kami terharu…terima kasih.

  25. wkwkwkwkkwk amannnn acara brikutnya saya yg traktir nyoto buat sedulur lor deso

  26. wongeres OPOTO

    Wah, nyetel Jogja TV acara gaya sepeda, kok jebul ada sosok yang kita kenal. Diperlihatkan bagaimana beliau yang satu ini berangkat kerja dengan bersepeda, parkir di FEB UGM hingga pulang lagi di ndalem Nggolo, bersantai membuka-buka buku Oudefiets. Eee… yang dibuka kok ya artikel Onthel Melintas Zaman! Jaan… sosok yang patut diteladani. Terpaksa, sekilas juga terlihat beberapa sepeda yang diperlakukan bagai pusaka, dilindungi cover berwarna silver. Salut dengan sosok sahabat kita: Dr Sahid Susilo Nugroho! 🙂

  27. bagus kurniawan

    Mas Billy, acara ngglembug spd Burgers di Soto Kemangi berhasil ya?

  28. wkwkwkkwkw bpk nur kumis tipis, sak meniko wonten somenggalan nembe dumugi saking papua sekedap hihihih3 @ kakanda bagus kurniawan kl ini burgersnya cagak 2 perlu pencerahan dr panjengan amargi saya kurang paham tp kondisi good, mangke saya tag d fb tp mngkin Insya Allah jumat ,krn pas saya di srby ini foto2 ktinggalan d rmh hihihihi3

  29. bagus kurniawan

    Mas Billy, hati-hati kalau mau minta pencerahan dari komunitas Burgers, bisa di dhalat methe lho? alias disusuki atau dibateni? wakakakak

  30. wkwkwkwkwkkwkw iya ,mas sudah terbukti ganasssss pokok men hati2 dg om kumis tipis and gank potoronoan pokokmen wkwkwkwkwkwk

    • wongeres OPOTO

      Sudah, Oom Billy, diamankan saja di Potorono yang sudah tahu sratenane. Kalau mau pake yang lebih berkilau juga ada, tinggal ngganti ongkos cat. Mayar, to? Japemethe kok…😀

  31. cah Bagus….sajake penak diprentah Walondo yo…? temoto, penak, adem, ayem, ayom…. nggleges numpak Burgers…

    • wongeres OPOTO

      Kae lho, podho dirungokake: penak melu warandha. Temata, penak, empuk eyub, ayem, ayom… nek nggleges marai nggreges… 🙂

  32. @mas Billy…saya kok jadi ikut penasaran dengan si cagak dua ya..boleh minta fotonyakah? salam

    • wongeres OPOTO

      Jadi, ceritanya si merah cagak dua mau ditambah cagak dua lagi biar jadi cagak empat, Pak Rendra? Hahaha…

  33. orang pinggiran

    ternyata pasoekan SS Jerman ada potonja juga..matur nuwun …hehhehe

    • Rangga Tohjaya

      yah…….baru mulai ngonthel lagi……..alon alon waton kelakon……..
      sudah sampe mana nih ???……wah bisa “ikut ngonthel njajah deso milang kota” kayak kemarin………ndengerin poro winasis onthel klekaran wonten angkringan puniko………

  34. wongeres OPOTO

    @orang pinggiran
    Wah, ternyata bener-bener nggak ngerasa to…

    @Pak Dhe Rangga
    Wah, syukurlah sudah bugar lagi, dan pasti lebih ‘leluasa’ dibanding sebelumnya. Pak Dhe suka mangut? Nanti akan kami oleh-olehi ya. Tapi ceritanya saja dulu…🙂.

  35. wongeres OPOTO

    Fenomena cagak dua sebenarnya masih menarik dibicarakan. Tapi Mas Suga sebagai salah satu pakarnya lagi ke mana saja ya? Oh, dan satu lagi penggemar ‘cagak dua berleher jenjang’: Bosch Pram!

  36. hihihihihi3 kangmas nur sebagai senior hrs ngalah sm junior njih wkwkwkwkwk, pak rendra, tdk jd pak, amargi menurut mpu ki bagus kurniawan, porok tdk asli,kom stir tdk aslinya, tp emang burgers cagak 2, dan hrga terlalu mahal 1,7 saya sendiri br belajar sm poro senior

  37. bagus kurniawan

    Tenang Mas Billy, masih ada yg lebih istimewa byk yg ori sparepart-nya dan lokasi tidak jauh dari Kemasan, sekitar Jambidan. cuman butuh kesabaran krn tiap hari di pakai untuk mburuh tani di sawah. Monggo Bosch Pram yg jangga inggil dipun wedhar

  38. wuuiiihhhh rame banget…ketinggalan kereta iki……

  39. sayang waktu itu kita tdk ketemu

  40. I wey onthelis potorono

    Lha kapan nyoto lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s