Serius Bermain di Dusun Pandes

berpose di Pojok Budaya Dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul

Di zaman yang cenderung mengukur segala pencapaian dengan kaca mata fisik seperti saat ini, hidup serasa terus dilecut oleh cambuk kompetisi tanpa henti. Semua memuja kecepatan, walau tanpa kedalaman. Segala sesuatu yang dinilai lamban akan diasumsikan “tidak produktif” dan harus disingkirkan. Prestasi hanya milik orang-orang yang “serius”, bukan untuk mereka yang masih gemar “bermain-main”.

Mari kita ingat-ingat, kapan terakhir kali kita bermain? Hari Minggu lalu, mungkin? Jujur saja, dalam rangka apa kita melakukannya? Berolahraga, mengikuti trend, menjalankan program diet, atau malah pendekatan bisnis? Berbahagialah bagi yang masih leluasa mengikuti naluri bermain secara murni dan spontan.

berolah raga atau bermain?

Konon, manusia yang dinobatkan sebagai khalifah di muka bumi ini pada dasarnya adalah makhluk bermain. Manusia dipersilahkan memanfaatkan alam seisinya secara bertanggungjawab untuk mendukung kreativitasnya, termasuk dalam bermain.

Mari kita kenangkan, betapa semasa kanak-kanak dahulu proses menciptakan mainan merupakan bagian dari aktivitas bermain kita. Mengumpulkan kaleng, memilih dan membelah bambu, menggergaji kayu, serta mengangankan dan mewujudkan desain secara kreatif, semua kita lakukan dengan riang. Maka, pengalaman mengajari kita bagaimana menangani lugut (semacam rambut-rambut halus tajam pada permukaan ruas bambu), bagaimana memilih gergaji yang tepat, dan bagaimana memberikan bentuk akhir serta warna sesuai karakter yang kita inginkan pada mainan kita, dsb.

bahu-membahu membangun harmoni…

Bermain bukanlah membuang waktu secara sia-sia yang hanya akan membuat kita malas dan bodoh. Bermain justru telah membuat kita mengerti bagaimana menempatkan diri sebagai bagian dari alam yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Kita bermain bukan melulu untuk berkompetisi, melainkan juga bersama-sama melakukan orkestrasi untuk membangun harmoni.

Kenangan atas mainan masa kecil itu telah membawa kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) pada Minggu pagi, 2 Oktober 2011 itu ngonthel ke arah selatan. Kami ingin mengunjungi dusun Pandes. Sudah sejak tiga generasi lalu dusun ini dikenal sebagai tempat tinggal para pembuat mainan anak-anak yang saat ini kita sebut mainan tradisional. Perjalanan kami sempat terhenti beberapa kali karena salah satu sepeda kami ada yang bocor sehingga setiap kali harus dipompa. Beruntunglah kami segera bertemu tempat tambal ban sehingga masalah segera teratasi.

Mbah Harjo: bermain dan bekerja dalam satu tarikan nafas

Dusun Pandes Sompokan yang kami kunjungi ini berada di desa Panggungharjo, Sewon, Bantul yang lokasinya di sebelah utara desa Prancak dan di sebelah selatan desa Pelem Sewu. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah sebuah lokasi yang biasa disebut sebagai Pojok Budaya Pandes. Di sana berdiri sebuah bangunan yang sehari-hari difungsikan sebagai tempat mengajarkan program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Sejak kecil, anak-anak di dusun ini diajari untuk mengakrabi aneka mainan tradisional demi mengasah dan merangsang kreativitas mereka.

Mbah Karto: kenyang mengalami berbagai zaman

Sayang kami datang pada hari Minggu sehingga tidak sempat menyaksikan bagaimana anak-anak itu belajar. Beruntunglah kami bertemu Mas Siswoyo, salah seorang aktivis Pojok Budaya. Dengan senang hati ia berkenan mengantar kami ke rumah para sesepuh yang masih aktif membuat mainan anak-anak.

Kami berkunjung ke rumah Mbah Joyo yang kebetulan memang tengah menyelesaikan beberapa mainan anak. Di dinding telah terpajang beberapa kitiran (baling-baling) kertas bersusun dan berwarna-warni. Di dekat tempatnya duduk dan di pangkuannya tergeletak sangkar-sangkar kecil dari bambu dan beberapa patung burung kecil dari bahan lilin yang selesai dicetaknya. Dengan sabar burung-burung itu dipasangkannya di dalam setiap sangkar. Menirukan ayah dan kakek mereka, anak-anak akan menggantungkan sangkar-sangkar dengan burung di dalamnya yang mereka sebut manukan itu sebagai koleksi kesayangan.

Mbah Karto dan anak sulungnya, sama-sama sudah jadi nenek…

Di dalam rak sederhana yang terdapat di bilik bambu Mbah Harjo terlihat berbagai mainan anak termasuk othok-othok yang tinggal menunggu sentuhan akhir. Di usianya yang menginjak 80 tahunan, Mbah Harjo masih sangat cekatan menangani aneka mainan itu.

Tak jauh dari rumah Mbah Harjo adalah rumah Mbah Rejo yang bahkan pernah tampil bak selebritis ketika diundang di acara talk show sebuah stasiun tv karena kesetiaannya menangani mainan anak. Sayang kami gagal menemuinya karena Mbah Rejo sudah berangkat ke Gamping untuk menjajakan hasil karyanya. Akhirnya kami singgah di rumah Mbah Karto. Sewaktu kami datang, nenek ini tengah menyelesaikan beberapa karakter wayang, angkrek, dan payung kertas. Menurut pengakuannya, nenek tua ini sudah berusia 140 tahun, karena ia merasa sudah mengalami berbagai zaman sebagaimana diceritakannya.

pulang membawa banyak mainan

Dengan fisiknya yang renta, nenek ini masih mampu membelah bambu menjadi bilah-bilah kecil yang digunakannya sebagai gapit untuk menjepit dan menegakkan wayang serta angkrek yang dibuatnya. Itulah sebabnya, rasanya tidak ada seorang pun di antara kami yang percaya bahwa ia sudah setua itu. Tetapi, serentak kami saling berpandangan ketika mengetahui bahwa seorang nenek tua serta sudah mengalami gangguan pendengaran karena usia lanjut yang membantu Mbah Karto mewarnai wayang dan angkrek-angkreknya itu ternyata adalah anak sulungnya!

Di Pandes masih ada banyak pembuat mainan anak, baik dari generasi Mbah Joyo, Mbah Rejo, Mbah Karto, Mbah Wiyar, dll maupun dari generasi muda yang belajar dari mereka. Sayangnya, sesiang itu kami tidak mungkin menemui mereka semuanya.

melampiaskan dendam sarapan yang tertunda

Meskipun rute Potorono-Pandes berikut perkiraan waktu tempuhnya telah kami persiapkan, pada kenyataannya rute dan perkiraan waktu itu bisa berkembang secara spontan ketika bertemu hal-hal menarik. Pada siang itu misalnya kami menyempatkan berlama-lama mengamati sepeda merek President yang kami temui di perjalanan. Semua itu membuat kami pulang lebih siang. Akan tetapi, kami menikmatinya dengan senang.

Satu-satunya masalah serius justru ada pada perut kami yang hingga sesiang itu belum sarapan. Maka, sekalian agar keterlambatan sarapan ini menjadi momentum yang tidak biasa, kami membutuhkan menu lain yang lebih menantang. Kami sepakat mencoba tantangan menu Soto Kemasan di Wirokerten yang lebih dikenal sebagai Soto Pedas Kemangi!

soto pedas kemangi: bermandi peluh di warung yang teduh

Keistimewaan soto daging ini lebih pada kuahnya yang pedas karena campuran merica dan cabe rawit yang direbus lalu diuleg lembut. Setiap pelanggan datang akan ditanya dengan pertanyaan yang sama: seberapa pedas soto yang diinginkan. Jawaban atas pertanyaan itu akan berdampak pada seberapa deras peluh yang akan mengucur saat kita meninggalkan warung.

Sungguh, seharian itu kami telah puas bermain dengan serius.🙂 Bersepeda, bercanda, melihat, memainkan dan membeli aneka mainan anak-anak yang berbahan baku bambu, kayu, dan kertas seperti payung, kitiran, klonthongan, othok-othok, wayang, angkrek, bedhilan, manukan, dsb. Dan satu hal lagi: kami sudah bermain-main dengan jawaban kami kepada penjual soto Kemasan sehingga sesiang itu kami ngonthel dengan baju basah kuyup. Bukan karena ngonthel, tetapi karena kepedasan!

94 responses to “Serius Bermain di Dusun Pandes

  1. pertamax gan!

  2. Soto Kemangi Kemasan ada juga yang menyebut soto huuuhaaahh pedeeees tenan. Cukup bilang satu cekapan saja. Kampung Pandes Sekarang dikenal Kampung Mainan Tradisional

    • Betul, Mas Bagus. Nggak usah gurah sudah ndlewer semua. Haha…
      Mas, diajak pawai Burgers sama Mas Yonthit. Mau bawa koleksi baru.😀

  3. nice journey

  4. mari bapak2 membuat dan memperkenalkan mainan tradisional lg kpd anak2.. reportasenya mantab pak

  5. sebuah acara “bermain yg sangat menarik” kapan2 ikutan ah bisr bisa mersakan gemrobyos nikmatnya soto kemangi rawit songo..hehehe..salam

    • Rawitnya jangan diuleg, tapi diplastik terpisah, nanti dibawa pulang. Haha… Pak Rendra, ada undangan dari Pak Sahid untuk menikmati kuliner bakmi Mbak Atun di Kotagede lho…

  6. hidup onthel, mari lestarikan onthel

  7. Di ibaratkan sebuah musik, liputan ini sejajar dengan komposisi musik ala The Cure. Melodi dengan nada yang sederhana, harmonisasi yang dalam serta efect delay dan sustain yang panjang dan sound yang lebar serta equalisernya mantab terletak pada liputan Soto Kemangi Wirokerten.

    • Halah…halah… marai konangan. Keliatan aslinya kalau Opoto selalu gayeng setiap ketemu soto. Haha… Wah, eksplorasinya semakin dahsyat ya. Kapan-kapan gabung yuk…

  8. jadi ingat, mainan favorit saya waktu kecil adalah otok-otok dan sebuah angkrek…..sampe ada teman saya yg karena tubuhnya kecil dan posturnya tinggi maka dia dijuluki si Angkrek…sampe sekarang…..
    itu Mas Tono sedang mengamati “mangkok soto” apa “onthel Presiden” sih……hualaah benar benar lagi bermain nih mas Tono…main mata…..
    ayo ndang kita main ngonthel lagi……..salam dari DeFOC

  9. kalau denmas Rendra paling paling bermainnya GOBAG SODOR….dan saya heran kok menjelang masa balig yg kedua (?) jadinya senang main sepeda…..ada apa ini ???????? Bukannya main (mainin) Bu Dokter..???….
    Kados pundi khabaripun Denmas Rendra??…Mbok njih sami sehat??????..

  10. @Denmas Rendra….walah paling paling panjenengan mainannya “gobag sodor”…saya heran lho den…sekarang menjelang masa balig yg kedua lah kok jadi senang main sepeda…ada apa ini???
    Kados pundi Denmas khabaripun?? mbok njih sami wilujeng????

  11. loh kok ada dua…huaduh …puyeng…labtop error nih….nyuwun pangapunten njih Pakde Wongeres…ini tamu nggak diundang datang lagi
    …..

  12. Membayangkan sotonya saja bisa sambil kotos-kotos apalagi dg imbuhan “kasep le sarapan” pasti ada bonus “padharan rodo mules” hehe..
    Reportase berbobot yang memanjakan ingatan masa kecil kita. Waktu saya kecil mainan kertas ini termasuk “cukup mahal” bisanya cuma bikin mainan dari kluwing, kitiran slumpring atau bedilan kutu mlanding. Salam onthel.

    • Wah, kemunculan Mas Bantoro membuat kami semua berlega hati. Kemarin kami sempat mengkhawatirkan situasi yang ada. Syukurlah.

      Kami pulang juga mborong bedhilan lho. Sesampai di rumah saya isi dengan bubur kertas koran trus disodhok ke ujung bedhilan. Lalu diisi satu lagi. Begitu didorong, isi yang diujung akan melesat dengan bunyi letupan. Filosofi ini sangat cocok dengan teman kami yang mengamalkan ilmu bedhilan: setiap kali atas habis diisi sarapan, bawah otomatis harus keluar. Entah apakah juga disertai letupan! Hahahaha…

  13. lho mas Wong,kapan njih ada`undangan mba atun ngemie di pak Sahid? semoga tdk bareng acara Solo, kebetulan sy sdh dpt penginepan dan kendaraan…hehehe..@ mas Rangga alhamd sehat2 saja; apa kbr mas..dolanan saya wkt kecil malah mobil2an dari lempung, dan bedilan carang pring pakai amunisi buah dlewak…

    • Informasi dari Pak Sahid itu baru berupa Pemberitahuan kok. Alias baru ngiming-ngimingi. Haha… Ke Solo berburu sadel retak bertuliskan ENR nggih…🙂

  14. OPOTO WAduh kapan yo iso klintong-klintong mubeng ndeso

    ikut aaah

  15. @Mas Dedi….bener lho Mas…yen iso melu klintong klintong ngonthel bersama OPOTO niscaya akan bener benar bisa merasakan “sensasi”nya naik onthel…ayo ikutan mumpung ada wisata onthel yang gratisan (HARI INI GRATIS, BESOK BAYAR)…dan ditambah lagi bonus dahar soto sak kenyange…..he he he he…..tenan lho Mas , aku juga pernah nglintong bareng OPOTO lho…..

    • Jangan panggil Mas Tono kalau tidak bisa menyediakan rute-rute baru yang eksotis. Sumangga Pak Dhe Rangga Tohjaya berkenan mencoba rute baru lebih dulu.🙂

  16. Salam kenal pak Wongeres…….

    Cerita yang menarik pak, namun sayangnya, mengapa pak Noer tak tanya pada warga desa itu tentang alasan berdirinya Pojok Budaya Pandes, apakah ini perlawanan mereka terhadap ketidak pedulian pemerintah daerah setempat tentang kondisi sosial dan pendidikan warga sehingga didirikan lah Pojok Budaya tersebut. Ini yg pertama.

    Yang kedua, apakah Opoto benar-benar memiliki spirit yg ditunjukan para warga lanjut usia (lansia), walau sudah renta, mereka tetap memiliki semangat untuk tetap berkarya. Apakah Opoto selalu tetap ngonthel saat lanjut usia, hahahaahaa. Kalau saya lihat Opoto itu spiritnya muncul bila ada warung soto yg nampaknya layak untuk disinggahi. Heheheheee…..spiritnya patut dipertanyakan nih…kesimpulannya Opoto itu suka bermain dikala beronthel bersama, namun serius saat berburu onthel dan soto…

  17. Salam kenal juga, Ki Goro-goro.

    Wah, itu dia salah satu hal yang sebenarnya membuat agak kecewa. Pojok Budaya Pandes itu berdiri atas prakarsa tokoh pemuda setempat bernama Mas Wahyudi. Saya pernah membaca liputannya di Kompas. Sepertinya ada beberapa stimulus berkaitan hal tsb, seperti: keresahan akan punahnya warisan budaya lokal, peluang meningkatkan kemandirian sosial-ekonomi, bahkan kira-kira dalam bahasa dahsyatnya, dengan mengakrabi kembali nilai lokalitas ini Pojok Budaya ingin berkelit dari gempuran kapitalisasi pendidikan! Sayang sekali, meski sudah janjian kami tidak berhasil menemui Mas Wahyudi. Semoga lain kali…

    Untuk pertanyaan kedua… Haha… Kalau soal berkarya, tentu kami akan terus berkarya hingga renta (amien). Soalnya, kami masih termasuk golongan “yen ora obah ora mamah”. Tapi kalau soal ngonthel, semoga masih kuat saja. Lha generasi kita sekarang ini kan kendalanya macem-macem. Yang asam urat, encok, dsb. Hehe… Apa lagi kalau sotonya pakai gajih/lemak. Pulang ngonthel bukannya bak-buk malah bisa nombok kolesterol. Ini serius lho😀

  18. Yang bikin sedih sekaligus ironis adalah mengapa yaa hasil kerajinan mainan tradisional yg dibikin oleh para lansia ini dihargai murah. Harga mainannya kalau tak salah berkisar seribu hingga dua ribu rupiah. Padahal membikinnya itu tak mudah dan makan waktu lama. Tak sampai disitu, bikinnya pun melibatkan hati dan ketekunan yg tinggi. Ditambah lagi para perajin mainan tradisional ini tak segan-segan berjalan kaki perpuluh-puluh meter jauhnya untuk menjajakan dagangannya. Itu pun tak semuanya laku terjual karena anak-anak sekarang lebih suka mainan modern. yang mau beli biasanya alasannya karena murah, padahal si anak tak tahu apa nama permaianan jadul itu. Kelak bila tak ada regenarasi dan perhatian, mainan tradisional ini akan hilang ditelan zaman. Ini yang ketiga pak Wongeres.

    Yang keempat, ketika menaiki onthel untuk bermain jelajah ndeso milangkori berpuluh-puluh kilometer, apakah Opoto melibatkan hati atau hanya sensasi belaka. Apakah barangkali berolahraga, mengikuti trend, menjalankan program diet, atau malah pendekatan bisnis, heheheee ini kata sampeyan lho pak. Bahkan ada yg ingin ikutan merasakan gembrobyos nikmatnya soto pedes kemangi yang huuaahhhh……hehehehee

    • Hehe… itu salah satu yang saya maksud dengan ukuran fisik, Ki Goro-goro. Kami sering menemui adanya hikmah lain yang tak terukur oleh ukuran fisik kita semata. Justru di tengah gempuran “mainan modern” (mainan zaman sekarang tetapi membuat anak jadi malas dan bodoh itu bisa dikatakan modern nggak ya?) nenek-nenek sepuh di Pandes itu akan sangat bersenang hati setiap kali karyanya dibeli. Dan, meskipun harga mainannya cuma dijual seribu-dua ribu, tetapi mungkin itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Buktinya mereka bisa tetap sehat sampai setua itu. Di tempat lain, tidak sedikit orang berpenghasilan banyak dan sebanyak itu pula harus dibelanjakan untuk membeli obat bagi dirinya. Jangan-jangan, justru karena harus berjalan jauh setiap hari itulah yang menjadikan kesehatan mereka tetap prima hingga usia tua. Wallahu alam.

      Yang keempat (halah. ini kok malah seperti berhadapan dengan dewan etik onthelis. Haha…) sudah lima tahun kami ngonthel minimal setiap Minggu pagi. Yen ora ati paitane, njur opo, hayo? Juga ing atase di Jakarta, di Karawang, di Depok semua dhaharan sarwa cemepak, kok mau nyoba soto kampung huah..huah… itu kan cuma menuruti hati? Apa lagi sambil pul-kumpul, silaturahim, olah raganya otomatis juga masuk (dietnya nggak masuk ya? kan nyoto?), bisnis kalau ada yang mau kasih ya alhamdulillah. Hahaha…

  19. halo mas Wong, salam kenal .. saya kok merasa seger dan seneng kalau baca liputan sedulur OPOTO dalam mengisi waktu luangnya dengan aktivitas “ngonthel”nya, banyak informasi yg selama kurang mendapat”perhatian” ,tp lewat perjalanan OPOTO justru menjadi lebih terkuak..
    mas Goro goro, rasanya saya masih agak hapal dengan pilihan kata kata penjenengan dalam berkomentar yg slalu bergaya “njujug” itu, dan “pancingan agresif” yg selama ini jadi ciri khas sahabatku yang satu ini… hehehe..apakbr mas…lama tdk muncul…

  20. @Anab Afifi…iya pak Anab, main main jadi serius nih kayaknya…kalau harga mainan dipertanyakan : kok mahal? Mestinya pola pikir kita harus mencermati : mengapa mainan impor yg relatif murah dan kwalitasnya “lumayan” banyak menbanjiri Indonesia. Tengok juga nih akir akir ini seperti Kentang dan barang sembako juga kita impor?????sementara barang barang tsb dinegara kita “tidak kekurangan….hayooooo-ada apa ini? Sampai sampai Ayu Tingting bertanya : kemana.. kemana.. kemana??? Kemana lagi harus bertanya atau ngapain sih kita bertanya???? Walaupun sebenarnya “kayaknya” kita juga sudah tau…….ha ha ha ha ha……yok ngonthel lagi.untuk mencari “seneng”…………………………….

    • Ki Rangga, dari sisi lain itu sebuah fenomena juga. Kenyataannya kita masih lebih suka mengkonsumsi produk asing. Dan perilaku seperti itu tak harus berkenaan dengan kualitas produknya. Misalnya dahulu banyak yang kecele jauh-jauh membeli sepatu dari Italy tapi ternyata diekspor dari Cibaduyut. Para peneliti di IPB pun membaca fenomena tsb dan menggunakan sebagai dasar strategi pemasaran produk temuan mereka. Maka, kita rame-rame mengkonsumsi pepaya California dan pepaya Hawaii yang ternyata hasil karya lokal. Mereka bilang, kalau diberi nama lokal mungkin sambutan masyarakat tidak seantusias itu. Hehe.. gimana, coba?

  21. top markotop 😀😀

  22. @ Salam kenal juga pak Galih Asem, hehehee. Memang perlu pancingan yg agresif pak galih asem tenan. Soalnya, reportasenya pak Wongeres itu sangat cantik dan menarik. Pun begitu obrolan (komentar) teman-taman yg sebenarnya bisa dijadikan ajang membuka wawasan maupun informasi yg menarik. Namun sayang banyak yg terlewatkan. Misalnya ketika mas Aat berkata bahwa sepeda terbaik menurut Jos Rietveld adalah Golden Sunbeam, Fongers, Simplex, lalu Gazelle. Bahkan pak Wongeres sampai berkata mari kita bahas umpan dari mas Aat, eeh ternyata tak ada pembahasan secuil pun. Sebenarnya kita dapat kejar-kejar itu pak DR. Sahid sebagai narasumbernya.

    Lalu reportase : Puasa, Ngonthel, Kegembiraan Hati. Sangat menarik untuk diobrolkan misalnya tentang angkringan sebagai ciri khas Jogjakarta. Sayang terlewatkan…

    Banyak yg menarik kok komentar sedulur semuanya pak Galih Asem. Misalnya, Kampung Pandes Sekarang dikenal Kampung Mainan Tradisional. Bisa dilihat dari sisi sejarahnya, masa jayanya, pengarajinnya, hingga serbuan mainan modern…..dll…sayang kalau terlewatkan, jadi perlu pancingan atau umpan.

    @ hehehe pak wongeres, baru kenal kok, dah kirim salam tempel tuh…..hihihihihii

  23. Pak Wongeres fenomena suka akan produk asing (terkenal), oleh sebagian masyarakat kita itu nampaknya bukan hanya sekedar kebutuhan, namun juga gaya hidup tersendiri. Aneh memang yang berbau asing nampaknya lebih menjual dan menarik minat orang….Apalagi banyak produk-produk impor (buah, garam, sayuran, mainan, dsb) dengan harga murah yang membanjiri pasar kita, padahal produk tersebut mampu diproduksi sendiri. Lalu apa peran pemerintah yaaa….

    Munkin kita dapat belajar dari para nenek-nenek dari desa Pandes ini. Di tengah kesulitan yang menghadang dan serbuan mainan modern, mereka tetap tegak berdiri. Itulah spirit yang menyala dengan menyumbangkan kreativitas mereka miliki selama hayat masih dikandung badan. Inilah salah satu keistimewaan masyarakat Yogyakarta yang belum tentu dimiliki oleh pemerintahan pusat.

    Lalu bagaimana dengan orang yang lebih suka menjenguk daerah tetangga ketimbang tlatahnya sendiri, padahal daerah asalnya tak kalah hebatnya. Mungkin ini gaya hidup juga yaaa, hihihihihi pisss yaa…..

  24. gara gara Ki Goro Goro, muncul lagi para pakar onthel tersembunyi….ayo Ki buat terus Opini opini yg bisa menggelitik para “intelektual onthel” untuk “buka mulut” di angkringan ini.
    Kalau tentang onthel “Sunbaen” (bhs kampung saya = cium saja) yg orang Londo bilang : sepeda terbaik…..menurut catatannya Mas Aat…kayaknya memang belum banyak dibahas…..gimana nih Denmas Rendra…kepriben kiye…….
    saya juga pingin “dengerin” nih apa kata mereka………

    • Iya itu, Pak Dhe Rangga. Banyak onthelis (ber/ter)sembunyi…
      Kalau soal Sunbeam, sebenarnya ada banyak pendekar yang suka berkelebat di angkringan ini pasti bisa memberikan pencerahan. Lha tapi beliau-beliau itu kan anging-anginan. Kalau ada sajennya, lha baru mungkin berkenan hinggap sebentar. Sayangnya di Potorono tidak ada Golden Sunbeam untuk diposting. Ada juga Sunbeam torpedo 24 milik Mas Tono…

  25. mas Goro goro..bagaimana dengan fenomena banyaknya org lebih tergila gila dengan sepeda gunung ketimbang sepeda onthel?, lalubagaimana pula bayak masyarakat kita yg meninggalkan rumah kayu dengan arsitektur Jawa yg anggun dan berpindah ke rumah bergaya ” import”? ( saya belum pernah lihat ada developer yg memasarkan sebuah komplek perumahan dengan bangunan bergaya arsitektur lokal).. pertanyaannya..siapa mendidik siapa, siapa mempengaruhi siapa, lalu siapa yg salah…kalau ada…hehehe

    • Wah…wah… ide bisnis pun bisa didapatkan di mana saja, termasuk di saat “bermain di blog angkringan”😀 Ayo Mas Yanto segera disounding ide brilliant dari pribadi pilih tanding satu ini: bikin komplek perumahan atau cluster dengan konsep kampung tempo doeloe. Jawa, Betawi, Bali dsb. Dahsyaaaat! fasilitas publiknya ada pendapa kayu di sana. Saya kira untuk saat ini sudah banyak peminat yang siap indent. Mas Yonthit mau urun gambar dan siteplannya?

  26. Blog yang super keren……pedhes, asin,legi lan kecute kringet yang ngonthel bercampur baur….tak ada lawan!

  27. @ mas Wong..kacamata aja ada yg bi fokus kok… jadi malah makin bagus kalau fokusnya lebar, atau malah multifokus…hehehe

  28. bagus kurniawan

    Nek tumbase gandheng mboten borongan lho?

  29. mas Bagus..gimana pesenan burgers wandu 60 an ,apa sdh ada pandangan yg komplit pakai telor..hehehe.. ke Solo kan mas<<saya berangkat bsk pagi..salam

  30. bagus kurniawan

    Sudah ada incengan Pak, meski setang dan gir sudah lepas. Cuman pemilik belum mau melepas, harus rajin di silaturahmi. Saya datang ke Solo tapi hari Minggunya. Sabtu masih ada kegiatan yg tdk bisa di tinggal

  31. he he senang bisa baca tulisan teman teman opoto : seriuslah untuk serius nyoto pedes ?

  32. halo mas Bgus sy cari2 minggu gaketemu ya di Solo, sy malah ketemu mas Qly spoor dan nyonya.. acar cukup gayeng..

  33. Iya Pak Rendra, kayaknya tlisipan, pagi-siang, saya juga tidak banyak ketemu teman selain para bakul onthel prambanan-Klaten-Solo dan para klithiker gank-nya Pak Harun Cs

  34. Mbah Nolo Klabang

    Pak Galih Asem

    Namanya aja developer yg lagi jual rumah ya banyak caranya untuk melihat peluang pasar. Sedari model rumah minimalis modern, mediterania hingga klasik tradisional yaa tersedia pak G. Asem, hehehehee. Kan bisnis rumah itu beresiko tinggi, makanya developer dituntut punya daya kreatif dan pandai membaca tren di masyarakat. Pengembang pun menempuh segala cara untuk mendongkrak penjualan. Salah satunya menghadirkan perumahan yg mengusung tema atau ciri khas tertentu, sedari tema Eropa, Jepang, Cina, Amerika hingga Nusantara, bahkan tema Religius. Yaa namanya aja bisnis, ujung-ujungnya profit alias keuntungan.

    Pak G. Asem, salah satu contoh perumahan yg ngusung tema klasik tradisional itu ada di Taman Kenari Nusantara dan Griya Nusantara (di kawasan Cibubur). Perumahan ini mengusung konsep rumah nusantara, sedari arsitektur Jawa, Bali, Hingga Makasar. Lalu cluster Kintamani di perumahan Bukit Sentul. Segmen pasar yg dibidik memang bagi mereka yg suka nuansa klasik tradisional.

    Namun, saat ini yg banyak digemari masyarakat adalah perumahan yg bertema global, karena kecenderungan masyarakat kita yg suka tema-tema luar negeri. Hal ini tak lepas dari sikap masyarakat kita yg masih mabuk dengan yg namanya luar negeri, khususnya rumah bergaya arsitektur Eropa banyak diminati ketimbang gaya etnik tradisional……padahal orang luar negeri justru suka rumah bertema klasik tradisional….hayooo siapa mempengaruhi siapa, juga siapa yg salah…..?

    Sementara awalnya konsep cluster ini berkembang di Amerika pada dekade 1970-an dg tujuan agar orang bisa berinteraksi sosial dengan sesamanya. Tapi di Indonesia cluster itu justru menjadi penyekat interaksi sosial tersebut. Penghuni rumah cluster ini yg tetap saja eksklusif tak jauh beda dengan pola para penghuni apartemen mewah yg minim interaksi sosial dengan tetangga sebelah rumah. Hayooo siapa yg salah orangnya atau konsepnya.

    • Mbah Nolo, developer kreatif pasti nggak akan kehabisan jurus. Kalau bikin rumah dengan model kebanyakan, dibilang itu yang lagi trend, cocok untuk pribadi dinamis. Kalau bikin sedikit unit dengan tema khas, dibilang itu hunian eksklusif, pas untuk pribadi matang. Harganya malah lebih mahal to? Seperti memasarkan sepeda lipat dan sepeda onthel. Masing-masing ada konteksnya. Hehe…

      Siapa tahu sepeda onthel dari Potorono justru bisa laku lebih mahal karena sepedanya khas, asli milik orang kampung, sehari-hari dipakai ya seperti itu, bukan seperti sepeda para kolektor yang sudah tidak natural karena sudah melalui proses dikomplit-kompliti! Hahaha…😀 😀

  35. Mantep tenan ulasan-nya Mbah Nolo Klabang………..siippp.

  36. Lintang Panjer Sore

    Membaca blog ini selalu bikin seger( apalagi setelah nonton talk show yang tambah bikin mumet), kayak sayur asem disiang hari yang terik…….betul fatwa Pak Haji Sadel, melebar tapi tidak kehilangan fokus, tentang sepeda, penunggang sepeda,jalanan sepeda dan bensin soto khas bahan bakar pengendara sepeda, bahkan sering membagi ilmu hidup supaya terus bisa bersepeda….! Kayaknya departemen pariwisata plus dikbudnya DIY harus meng-endorse Gus Wong dengan Ilmu Sluman slumun slamet ini heeeee….ciatttt…

  37. Ehm… Syukurlah kalau istilahnya Haji Sadel “multifokus” atau pangandikan Kyai Lintang “melebar tapi tidak kehilangan fokus” itu sah adanya. Soalnya banyak juga priyagung yang ahli dan besus mematut onthel-onthel ajaib sekarang melebar menjadi seorang yang piawai merancang kandang onthel dan pemiliknya. Rak inggih makaten to, Mas Suga? Bisa saja nanti ada pesanan Bale Burgers atau Wisma Fongers dengan type serta varian seri-H, seri-K, CCG, BB. Hehe… mantaksap!

    • Kulo nggih sarujuk pangandikan Kyai Lintang “melebar tapi tidak kehilangan fokus”. Karena yg melebar “masih bisa” disamarkan/dibiaskan–> dibuat seolah2 atau mendekati bentuk/ujud asal/aslinya.

  38. @ Ki Wongeres, seandainya atau semisalnya onthel potorono lebih laku dan mahal karena punya ciri khas apa adanya asli milik wong ndeso berarti onthel milik kolektor macam pak Galih Asem itu udah ndak natural lagi dan biasanya memang dikompliti tetek bengeknya, hahahahaaa, ojo nesu lho pak…hanya bercanda….

    @ Pak Suga, ulasan itu hanya untuk menginformasikan ke Pak Galih Asem asal Karawang yg ternyata orangnya gak fokus, taunya hanya : Cikampek-Karawang, atau Karawang-Jogja-Solo-Semarang, hihihihihihihi…pissss ya Pak Rendra…Nah, saya belum pernah lihat developer yg memasarkan bale Burgers, wisma Fongers, rumah tipe Gazelle, maupun cluster Simplex Cycloide atau Simplex Neo..lho pak Rendra dari Karawang…

  39. Selamat berakhir pekan, selamat merayakan Idul Adha.

    Khusus buat sesepuh sekaligus sahabat kita Bpk Heri Agusti yang tengah menjalankan ibadah haji di tanah suci, semoga sehat selamat hingga tiba kembali di tanah pengonthelan dan menjadi Haji mabrur. Amin.

    Te… sate…!

  40. semoga pak Heri “rangga Tohjaya”agusti,selalu diberi keselamatan,kelancaran dlm ibadah dan mabrur..
    @ gus Lintang,apa kabar,lama tdk jumpa..semoga sehat selal@ mas Yanto Durti…kuwi ngrembug opo to..ora mudeng ki..

  41. @ Buat Ki Rangga Tohjaya semoga jadi Haji yang mabrur, amin..

    @ Aku yo ora mudeng blas sing dirembug kuwi je pak Rend….

  42. Alhamdulillah sehat,pak Zadel!
    Goro-goro…Pripun to niki Gus Zadel kalian Gus Wong, Indonesia wonten goro-goro lha ingkang ungguling jurit poro Butho lan Duratmuko? wuoooo ladah Bujlang bojleng iblis lanang…

  43. Menunggu kabar (lagi) dari Mas Bantoro…

  44. @ Pak Noer, Alhamdulillah masih dalam lindungan-Nya, Insya Allah minggu depan sudah balik kandang lagi (..dan ngonthel lagi). Versi media, suasananya memang “radi nguwatosaken”, di lapangan masih cukup kondusif kok, semoga selanjutnya lebih baik. Matur suwun sudah “njawil” saya…jan wis kangen jogja tenan ki. Salam onthel selalu.

    @Pakde Rangga…sak konduripun mugi kaparingan Haji mabrur, amin.

  45. Syukurlah. Wah, jadi nggak sabar. Semoga bisa segera ketemu dan kumpul ngonthel lagi dalam keadaan sehat bugar dan prima segalanya…

    • Moga2 bisa gabung opoto nggih Pak, lha wong 2 hari minggu kok sudah dibooking sama anak wedok buat ‘ngancani’ Funbike Padmanaba (hehe selingkuh mtb.com).

  46. @ Ki Lintang leres sanget….Nuswantoro bakale terus gonjang-ganjing sebabe akeh pejabat penting sih doyan maling……

    “Agenda rapat digawe, nyang-nyangan meneh isine, Kowe sing neng pusat, kowe sing neng daerah tingkahe podo wae. Rakyate isone hamungnyawang wae”…..

    • Lha, maksudnya gimana, Ki? Apa rakyat perlu diberdayakan supaya punya bargaining untuk ikutan nganyang? Bisa saja diatur, tapi nanti untuk agenda proyek yang anggarannya lebih gede. Halah…🙂

      Wah, yo wis, nglaras Soimah wae:
      “mbok yo eling jaman mbiyen, nalika isih dho kere: ngeterke aku, nunggoni sandhalku. Huuu… ngono kok ngguaya!!!”

  47. 3-4 weeks without ngonthel, my body is not delicious. semoga minggu depan cerah nggih sedulur sedaya..

  48. Nuwun inggih Ki…, poro demang tansah me-rapat-kan hasil meeting minggu kemaren, sambil nylindat nylindhit untuk mencari saat yang PRAYOGO untuk sekedar NGENTHIT,Kata ” Apel Malang” dijadikan tumbal untuk sebuah kamuflase keinginan hewani bersayap seribu!
    Duh Gusti…. nayokoprojo dados duratmuko,duratmuko dados nayokoprojo,poro pandhito kathah ingkang murang toto dados srananing penguwoso.
    Rukun agawe santoso congkrah agawe bubrah, Penguwoso,pendhito,jogoboyo manunggal kaliyan bandit,kecu,copet,,rampok,begal njarah rayah Memayu hayuning Bawono?
    Tegal Kurusetro adalah tempat yang paling aman dan damai,tidak akan ada Barotoyudho Joyobinangun, Kebenaran( pandowo) sudah bersepakat dengan Kemungkaran ( kurowo) untuk berkolaborasi demi MEMAYU HAYUNING BAWONO, Gatotkaca satu rumah dengan Adipati Basukarno, Burisrowo ke mall dengan Sencaki, Kartomarmo dan Joyojothro bersama Abimanyu makan bersama di lesehan malioboro……..
    Duh Gusti, nyuwun ngapunten sedoyo kalepatan…..

  49. @ Waaah mantep bener ulasan Ki Lintang,…

    “ono-ono wae tingkahe poro pemimpin, ono sing macake dermawan, punokawan, lan begawan. Ono sing koyo artis dadakan, ono sing nunggang organisasi, PKK lan kelompok tani. Ono sing sregep nyumbang mesjid, duit setan duit demit. Gelem sedekah yen arep munggah, bareng wis munggah kakehan polah. Seneng mitnah, seneng maling, blas ra pantes dadi pemimpin”

    @ Lha niku lho Ki Wongeres, rakyat dianggep penting lan diberdayakan niku kan pas pemilu, sak banjure sing dipilih yoo do lali janji-janjine.

    “Opo lali jaman pemilu, kowe janji mikir aku. Bareng wis entuk bangku, rakyat jerit kowe ora krungu, hee opo bisu, lho malah nesu, lho malah turu, lha malah deleng sing saru, byuh,byuh malah dadi kecu..Orek-orek dulur, iki komentar rodo mbeling, ora nglarang, yoo ora meling”….

    @ takseh mendingan mas aat, hamung awake pegel lan linu, lha kulo mikir pun setahun luwih nglengkapi frame fongers wae ra klakon-klakon, nganti pikirane nglambrang tekan ngendi-ngendi. Awake panas adem yen ndeleng gir obat nyamuk sing neng ngarep moto,hehehehheee.

    “Huuaaduuh simbok tulung tukokno onderdil kuwi. Jeneng gir obat nyamuk sing larang ora eram”….

  50. …Prabu Suyudono dalah Ratu telu’an Prabu Kotak muko, Patih Trigantalpati, pandhito Durno, jogoboyo, gegedhug Kecu, Copet samio kembol bojono ondrowino midangetaken gamelan ingkang suantene brengengeng koyo kepake tawon Gong, sedoyo kolowau sampun mboten mireng kawulo alit wetenge luwe nangis melong-melong…wauto……Koloyugo period is started anyway!

  51. @ gus Lintang.. dasare wis mlebu jaman Kolo Bendu, akeh wong kang kelangan keblat srudak sruduk waton suloyo, koyo solahe Catur wanoro rukem kakehan ngombe arak mbekonang, dasare yo tansah salah mongso salah fengsui.. kudune mongso Pancuran mas sumawur tapi kedadeyan banjir bandang awujud banyu,dur angkoro,paten pinaten, srengkalan lan ugo fitnah , isih lumayan nonton lakon belgeduwel bleh utowo lakon Calon arang dadi noto tanah Jowo… nadyan ngrusak pakem tapi isih biso gawe gemuyu, lha nek dipikir timbang ati loro, malah bener pangandikane mas Durti..incang inceng Obat nyamuk kanggo nglengkapi pit.. syukur2 tetep iso nggowes senajan mben sepasar sepisan.. idep idep nglalekno kahanan lan ngobati sumuking ati…rak ngono to Gus.. salam

  52. @ Ki Lintang Panjer Sore

    Iki uneg-uneg jeroning sanubari. Wis sungsang akal lan budi…
    Soyo kekes tangis kawulo. Njerito wis tanpo guno…..
    Rep lumawan ning tanpo doyo. Bisane mung kari ndungo….
    Udan tangis saben dino bongso iki. Dosa opo disapu lindu tsunami.
    Marangdene ora eling malah dadi. Luwih becik nuswantoro roto bumi….
    Wis kebacut wani dosa. Wani nantang Gusti. Dumeh duwe kuasa lan telik sandi…..

    @ Ki Luk Pitu saking Karawang, bab meniko mung pitutur sing rodo nyingkur manungso sing ngrusak tatanan kamanungsan…..heheheee.. ..Karo nginceng onderdilan pit onthel sing larange ra eram, yo ora ono salahe pisan pindho ngerti kahanan polah obahe bumi nuswantoro lan manungsane…..mekaten kan dulur….tinimbang mikir pit onthele sing aran Fongers ora biso dibangun, hehehehehe walah kok diwalik…

  53. Kasinggihan dhawuh Ki Luk kaliyan Ki Goro,..
    Poro buto rasekso sampun mbedah Negoro
    ,Dosomuko ,Duryudono,Bomonarokosuro,Kongsodewo sampun ungguling yudho..
    Puntodewo,Bethoro Kresno,Werkudoro nglempreg tanpo doyo
    Poro Satrio awatak buto dadi panguwoso negoro…

  54. Dhorodhogdhog… Jebul dhalange podho ndhelik ning kene.😀
    Sumangga cancut tali kot… eh, taliwanda. Onthel ginenjot, kadang rinangkul, klithikan sinamber amrih nuwuhaken semangat, daya-daya hanetepi jejibahaning ngagesang hangrungkebi bumi pertiwi. Sadumuk bathuk sanyari bumi. Ayo! Ayo! Waeooo! Bersama pasti menang, Indonesia pasti bisa! Halah… Jamane kabeh sarwo campursuh. Kabeh amung dadi srono. Opo wae ditekadi amrih kaleksanan opo kang dadi karepe. Sowan ngobrol ngethupruk sewengi muput karena mau nembung setopannya Simbah. Hahaha…

    Tetap semangat, Sedulur. Sajake poro satriyo memang baru pada mabuk eforia zaman baru sehingga kurang permana. Idhep-idhep menjalani hukuman akibat kalah janji dan kalah judi. Semoga kalabendu ini segera mengantarkan kita kepada kalasuba. Kapankah itu? Kalau gir obat nyamuk sudah murah lagi.😀 😀

  55. Mbah Nolo Klabang

    Maling-maling dulur angel nyekele. Wong sing nyekel kancane pakne
    Diamplopi ewuh atine. Timbang bingung dulur tampani wae…
    Maling-maling dulur liwat rekening. Luwih aman rekening ponakan….
    Sekali nyikat nganti milyaran. Sopo nuntut dulur dibayar sisan….

    “Byuh byuh byuh tinimbang gresulo dulur yoo podho mancal pit nyang potorono. Jo lali dulur mampir ning angkringan opoto”….

    Wayah esuk mruput sing adem kekes…
    Lho, kae wongeres lagi numpak pit aran fongers..
    Genjotane katon enting mak klenyes…
    Weleh weleh..kringete nganti mancur deres…
    Awake katon seger ra lemes….

    Kring kring neng nong….
    Berkone antik kabalut kinclong…
    Sing ndeleng nganti ndomblang-ndomblong…
    Lah sing ngepit ngumbar esem ndoro pamong….
    Bareng tak parani, lah dalah giginya ompong…..

  56. air dari pegunungan salju pun keruh sudah
    Para cerdik cendikia yang berbalut baju khirqa ketulusan pun pasrah
    Lebih parah dari Skeptisisme Hujjatul Islam di masjid Ummawi nan sunyi
    Semalas burung-burung yang enggan terbang mencari Simurgh di bukit ke Tujuh
    Adakah Kebaikan pernah menang melawan Keburukan ?
    Atau adakah cerita-cerita usang lain lagi ?
    Belilah seribu jubah untuk serigala jantan nan perkasa
    Pangkaslah taringnya………sudahkah dia jadi SATRIA?
    jadilah Bulbul pencinta mawar
    atau menjadi Merak pecinta Pintu Gerbang Kebesaran
    Dan, lalu……………
    tak jadikah Attar menulis karenamu…..?

  57. @…. years come and go…but to day is special day.. 2011.2011..dooble match…. it happens only once in a lifetime, so I wish you a good health, wealth and luck…
    .

  58. aminnnn……sehat,slamet berkah….optimis sekaligus prihatin ya Gus Luk….Ngalengkodirojo ya kayak gini ini hihihiii

  59. @ ngalengkodirojo jaman Dosomuko merger karao Kurowo jaman Duryodono … dua D.. sempurnalah sudah segala jenis “kebobrokan”… ( bergaya melamun sambil menunggu ratu adil)..

  60. Pakdhe…sepertinya asyik sekali “dolan-dolan”nya… Tapi kok pakdhe-pakdhe semua, ya… Mbokdhe-nya ndak ada, gitu? Kalo ada saya pingin ikut, hehehe…. Diampiri di Tamanan ya, Pakdhe…. Eh, tapi saya ndakpunya onthel juga, ding… cuma pit mini, hehehe…..

    • Walah, lha “Nak Nurul” ini kok malah nanyain mbok dhe? Kok ikut-ikutan trend para artis brondong yang menyukai tante/mbok dhe. Haha… (tapi perlu dipertimbangkan, kali ya? Hehe…). Baiklah, kalau pakai pit (bukan cut) mini nanti disamperin di Tamanan Kanakan-kanakan yaaa…😀

  61. g lewat kepek ya?

  62. ya memang aku rindu riang gembira dalam kebersahajaan dan keramahan dan keakraban persaudaraan saling asah asih asuh seperti yang tersurat dan tersirat dipedalaman Ngayojokarto Hadiningrat ini. (email : syariefuddien@gmail.com )

    • Salam kenal, Pak Uddien. Semoga kerinduannya bisa diekspresikan di lingkungan tempat tinggal sekarang ya. Bergaul dan bersosialisasi dengan tulus, bukan saling memasang kuda-kuda atas kecurigaan di antara tetangga. Bukankah semestinya kita saling meninggikan harkat kemanusiaan kita di tengah sesama. Begitulah pesan orang tua dahulu…🙂

  63. wah wah wah, alam pedesaan memang bikin ngiler siapapun yang rindu kedamaian dalam kerukunan yang diberkahi Allah dan RasulNYA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s