Tag Archives: potorono

Candi Sojiwan: Perwujudan Cinta yang Mengatasi Perbedaan

Opoto di candi Sojiwan

Cinta berkali-kali terbukti mampu mengatasi perbedaan. Bukan hanya cinta dan perbedaan pada suami-istri, tetapi juga cinta dan penghargaan atas perbedaan latar belakang, selera, serta pemikiran dalam satu komunitas. Lebih luas lagi, cinta pada Sang Pencipta akan mampu memelihara perdamaian semesta.

Minggu pagi 15 Juli 2012, ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel ke utara, perwujudan cinta yang mengatasi perbedaan itu kembali kami temukan di kompleks candi Sojiwan. Ngonthel pada pekan terakhir sebelum Ramadhan menjadikan perjalanan pagi itu terasa sedikit sentimentil. Justru karena kami sengaja meluangkan waktu untuk perjalanan kali ini, maka meskipun hanya berlima, perjalanan kami begitu santai dan tanpa beban. Dengan banyaknya alternatif jalan yang bisa kami lalui, rute perjalanan Potorono-Prambanan yang sudah kami tempuh entah sudah berapa puluh kali itu nyatanya masih mampu memberikan pengalaman perjalanan yang selalu berbeda. Baca lebih lanjut

Sega Nggeneng, Sepeda Onthel, dan Anomali Teori

dapur Mbah Martodiryo: kepulan asapnya dirindukan banyak orang

Teori marketing modern selalu mengajarkan kunci sukses bisnis: lokasi, lokasi, lokasi! Tapi para leluhur kita dahulu  pun tak putus mewanti-wanti: jangan pernah melupakan apa yang menjadi asal-muasal kesuksesanmu. Maka, para penganut bisnis modern pun sibuk berburu lokasi strategis, sementara pengusaha tradisional tetap merawat asset lama mereka.

Kami tidak sedang mempertentangkan antara teori bisnis rasional dengan kearifan tradisional, tetapi hanya mau memberikan sebuah pengantar bagi sebuah pengalaman unik ketika kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) sengaja ngonthel ke kawasan Karanggeneng pada Minggu pagi, 29 April 2012 lalu. Baca lebih lanjut

Djokdja Onthel Carnival dan Kekuatan Cinta.

Kalau hati senang, semua yang dilakukan akan terasa ringan. Demi sebuah cinta, energi yang terhimpun untuk mewujudkannya pun bisa sedemikian dahsyatnya. Senang, cinta, riang, bahagia, merupakan kekayaan yang tiada terhingga. Dengannya seseorang akan memperoleh obat atas segala derita. Dengannya pula, banyak hal yang sepertinya mustahil menjadi tak lagi musykil.

putri-putri domas menebar pesona, menabur harum cinta kita semua

Dalam legenda dan sejarah, kekuatan cinta yang mendalam itu mampu menghadirkan Candi Sewu yang indah serta mewujudkan Taj Mahal yang megah. Candi sewu konon dibangun oleh Bandung Bondowoso untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang sebagai syarat atas kesediaannya untuk dipersunting, sementara Taj Mahal dibangun oleh Kaisar Shah Jahan sebagai perwujudan cintanya atas Mumtaz Mahal, istrinya yang meninggal saat melahirkan anak ke-14.

Baca lebih lanjut

Sekaten, Setelah Lampu Padam.

Tuhan menciptakan siang agar kita bekerja, dan menciptakan malam agar kita beristirahat. Artinya, sebenarnya kita sudah punya tuntunan bagaimana menjalani hidup dengan mempertimbangkan aspek keseimbangan.

nampang di Sayidan

Meskipun begitu, ada beberapa di antara kita yang justru rela melakukan kebiasaan sebaliknya demi berjalannya kehidupan: bekerja keras hingga larut malam, dan beristirahat hingga menjelang siang. Sabtu kali ini pun agaknya banyak di antara kami yang bekerja sampai larut sehingga menuntut istirahat yang cukup. Terbukti, pada Minggu pagi, 24 Januari 2010 lalu banyak di antara kami yang belum juga menampakkan diri, meskipun hari telah beranjak pagi. Baca lebih lanjut

Humber BZ Dames: Kilau Sang Primadona

Ketika kita memandang pergerakan waktu itu berjalan linear, maka kita akan mengandaikan bagaimana kita berangkat dari awal, menuju ke tengah, lalu sampai pada akhir. Tetapi, di sisi lain, ternyata waktu juga membawa banyak hal berjalan sirkuler membentuk sebuah perputaran terus-menerus.

Humber BZ dames, mantan primadona…

Salah satunya, kita pun melihat desain sebagai bagian dari mode –-termasuk mode pakaian, rumah, dan kendaraan– yang terus berputar. Apa yang dahulu menjadi tren, sebentar kemudian akan usang, tetapi kelak suatu saat akan kembali lagi menjadi tren yang digandrungi. Begitu pula dengan sepeda onthel, meskipun sebagai tren saat ini penyambutnya masih terbatas pada lingkungan tertentu saja. Baca lebih lanjut

Candi Banyunibo dan Candi Barong: Keindahan Belum Berakhir

Awal atau akhir? Mana yang lebih penting untuk menilai reputasi seseorang, bahkan suatu bangsa? Dari lingkungan seperti apa ia berasal, atau dari apa yang akhirnya mampu dilakukannya bagi kemaslahatan umat?

Sebuah temuan menarik barangkali akan sedikit mengejutkan kita, bahkan juga bangsa-bangsa di luar sana, khususnya jika harus menilai reputasi sebuah bangsa bernama Indonesia. Alkisah, seorang profesor asal Brazil bernama Arysio N. dos Santos dalam bukunya yang menggemparkan: “Atlantis -The Lost Continents Finally Found” membuktikan teorinya bahwa benua Atlantis yang dihuni oleh suatu bangsa berperadaban sangat tinggi dengan alamnya yang kaya-raya dan elok-permai laksana surga –sebagaimana disebutkan oleh Plato 2500 tahun lalu– itu lokasinya ternyata adalah di Indonesia!

banyunibo-barong-1

Candi Banyunibo dan Candi Barong, karya leluhur di masa lalu

Diceritakan oleh Plato bahwa Atlantis merupakan negara makmur yang bermandikan matahari sepanjang waktu. Penduduknya menguasai pelayaran dan perdagangan, memahami ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, maju dalam berkesenian (tari, teater, musik) dan olah raga. Dalam kisah yang selama ini lebih dipahami sebagai mitos itu, konon benua yang hilang sejak lebih kurang 11.600 tahun lalu itu disebabkan karena penduduknya menjadi begitu ambisius sehingga membuat “para dewa murka”.

Baca lebih lanjut

Gua Jepang, Rumah Domes, dan Kerinduan Manusia Gua

Kekuatan alam yang dahsyat, tak seharusnya dihadapi secara frontal. Usaha menandinginya hanya akan berakhir dengan kesia-siaan. Kira-kira begitulah pelajaran yang diyakini oleh manusia-manusia sebelum kita dahulu. Oleh karena itu, mereka kemudian lebih memilih bersahabat dan beradaptasi dengan alam. Teriknya matahari, derasnya hujan, serta dinginnya terpaan angin, disiasati oleh mereka dengan berlindung di dalam gua-gua hasil bentukan alam.

manusia-gua-1

wajah-wajah merindu

Setelah manusia kemudian mengenal konsep rumah, keberadaan gua tetaplah menarik bagi mereka. Buktinya, bahkan setelah mengenal peradaban sepeda onthel pun, kerinduan itu masih ada. Makanya, ketika komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel di hari libur Senin pagi, 20 Juli 2009 lalu, tujuannya adalah ke Gua Jepang di Berbah, Sleman. 🙂

Baca lebih lanjut