Fenomena Kalibayem: Ketika Alam Meminta Haknya

Opoto di “telaga tiban” Kalibayem

Di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung. Dahulu, kita begitu mudah memahami dan menyetujui pepatah ini. Saat itu kita memiliki cukup kepekaan untuk menempatkan diri di tengah masyarakat. Disadari atau tidak, di zaman yang semakin mengedepankan hak daripada kewajiban ini, kepekaan mulai luntur. Perlahan kita mulai kurang menghargai keberadaan pihak lain sebagai subjek.

Kita mungkin masih suka berjabatan tangan, tetapi tidak lagi sambil memandang muka. Bahkan, kita jadi sering gegabah melegitimasi pendapat kita sendiri dengan dalih demi kebaikan dan kepentingan orang lain. Padahal, apa yang baik menurut kita belum tentu baik bagi orang lain. Maka hari ini kita menjadi terbiasa menyaksikan maksud-maksud baik saling berlaga di depan kita.

Tak hanya kepada sesama. Terhadap alam pun kita mulai bersikap sama. Padahal alam punya mekanismenya sendiri untuk menjaga keberlangsungan dirinya, jauh sebelum kita terlahir di dunia. Kita, dengan segala kepongahan sebagai subjek, seringkali justru merusak mekanisme alam.

pagi berkabut

Minggu, 20 November 2011 lalu, kami komunitas Opoto (Onthel Potorono) menyaksikan sebuah fenomena alam yang menakjubkan saat kami ngonthel mengunjungi telaga Kalibayem.

Pagi terbangun dalam balutan selimut kabut tebal. Dalam keterbatasan pandang, kami berangkat mengayuh sepeda onthel kami beriringan. Rombongan yang semula hanya berempat pun terus bertambah dengan bergabungnya teman-teman yang telah menunggu di sepanjang perjalanan. Meskipun praktis kami harus membelah kota, tetapi di Minggu sepagi itu suasana masih sangat nyaman. Apa lagi kami sengaja memilih rute agak ke pinggir. Dari Potorono kami melewati Rejowinangun, XT Square (eks terminal), Plengkung Gading, Patangpuluhan, dan langsung menuju Kalibayem.

rawa yang jadi sawah, sisa reruntuhan tanggul, dan telaga Kalibayem kini

Tempat yang kami kunjungi adalah sebuah telaga seluas tiga hektar di kawasan Sidorejo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Beberapa orang juga menyebutnya sebagai rawa Kalibayem. Saat ini, telaga Kalibayem menjadi arena memancing yang mengasyikkan bagi para penghobi. Airnya yang terhampar bening, teduh, serta tenang tampak kontras di bawah keluasan langit biru dengan hijau pepohonan menyekat di cakrawala. Beberapa keramba terlihat di sisi barat. Telaga yang indah. Tetapi yang membuat telaga ini menarik dan terkenal adalah sejarahnya.

telaga nan teduh berair tenang

Konon, dahulu kawasan ini merupakan sebuah telaga yang pada masa Hamengku Buwono VII (1890 M) dibangun menjadi bendungan yang selain sebagai segaran bagi kepentingan pesanggrahan Ambarbinangun juga dipakai untuk irigasi. Oleh pemerintah Belanda, kawasan ini kemudian diperbaiki dan dimanfaatkan untuk mengairi area pertanian serta lahan tebu di kawasan PG Madukismo. Hal ini dilakukan karena mereka kesulitan mengambil air dari Kalibedog di sebelah barat Kalibayem yang bertebing curam.

Entah bagaimana, dalam perkembangannya air telaga ini mulai menyusut menjadi rawa, sebelum kemudian berubah fungsi menjadi lahan persawahan. Hanya tersisa sebuah sungai kecil di sana. Kisah keberadaan telaga di Kalibayem pun mulai terlupakan oleh generasi muda setempat.

saluran air kini dan sisa pondasi irigasi peninggalan Belanda

Pada tanggal 27 Februari 2004, hujan turun dengan lebat disertai angin kencang sehingga menyerupai badai yang begitu menakutkan. Tetapi tak seorang pun menyangka bahwa hujan lebat dengan curah hujan sangat tinggi itu segera menaikkan debit sungai Kalibayem jauh melebihi daya tampungnya sehingga menyebabkan jebolnya 3 tanggul dan memutuskan jalan aspal yang menghubungkan dusun Sidorejo dengan dusun Sonopakis Kidul. Tak hanya itu. Kekuatan air yang begitu besar terus menekan permukaan sawah sehingga menyebabkan erosi permukaan tanah hingga amblas dan menghasilkan sebuah telaga yang begitu luas.

Rupanya lapisan tanah rawa yang terkubur di bawah permukaan itu hanya tertidur sekian lama sebelum air dalam jumlah besar kembali menjemput dan membangunkannya. Air, pemilik lama kawasan Kalibayem kini kembali menempati posisinya. Bersamaan dengan hadirnya kembali telaga ini, akibat abrasi di lapisan bawah, sempat ditemukan kembali beberapa benda bersejarah seperti perahu, torpedo kapal, granat, dan mesiu.

pos ronda yang nyaman…

Syukurlah, meskipun beberapa di antara masyarakat setempat harus kehilangan sawah atau ladang, tetapi pada akhirnya mereka mampu menyikapi fenomena ini dengan arif. Alam tak perlu dilawan, tetapi cukup dilayani. Maka kita akan hidup selaras dan saling menguntungkan. Beberapa waktu berselang, di atas telaga ini digelar sebuah pementasan kesenian dengan memanfaatkan rakit di atasnya sebagai panggung pertunjukan.

Mengenangkan kehadiran kembali “telaga tiban” ini membuat kami termangu. Begitulah alam menjalankan mekanismenya. Agaknya kami perlu terus belajar mengakrabi tanda-tanda alam. Ketika beberapa saat kemudian kami beranjak meninggalkan kawasan Kalibayem, itu tidak semata karena matahari mulai terasa gatal di kulit, tetapi juga karena kami harus mempertimbangkan mekanisme tubuh kami yang meminta sarapan. Tepat. Yang kami pikirkan adalah soto terdekat. Pilihan soto itu ada di Soto Bu Cip Tamansari, tepatnya di Jalan Letjend S Parman 58, sebelah barat jembatan Tamansari. Warung mungil di pinggir jalan, di bawah keteduhan sebatang pohon waru sehingga orang pun mengenalinya sebagai warung soto Bu Cip Sor Waru.

soto Bu Cip Tamansari yang terkenal itu…

Sepagi itu, di dalam warung sudah penuh pelanggan sehingga kami memilih tempat duduk di depan warung. Pilihan yang tepat, karena semilir angin di pinggir jalan justru terasa segar bagi tubuh kami yang masih berkeringat, meskipun soto dan teh hangat yang kemudian dihidangkan justru membuat keringat kami kembali menitik.

Apa lagi soto kali ini tergolong istimewa. Penampilannya bersih bersahaja, mengingatkan pada masakan rumahan. Dagingnya lumayan empuk dan diiris tipis-tipis dengan cara yang benar sehingga tidak mudah terselip di celah gigi. Tak ada rasa penyedap yang berlebihan maupun aroma amis yang tidak perlu. Clear. Itulah sebabnya baru beberapa saat saja soto terhidang sudah terdengar tawaran ‘sok dermawan’ di antara kami: “Nanti ada yang mau nambah separo?”😀

soto rumahan yang digemari keluarga, termasuk keluarga onthelis

Seusai ritual nyoto, kami pun bergegas lewat Kadipaten dan langsung menyusuri jalan pulang. Satu per satu teman-teman memisahkan diri menuju rumah masing-masing sehingga saat memasuki kampung Potorono kami pun kembali berempat. Mendung mulai membayang. Sudah beberapa hari ini hujan selalu mengguyur Jogja. Ada yang bersukacita menyambutnya, ada juga yang menatapnya cemas karena khawatir membayangkan musibah yang mungkin ditimbulkannya.

Alam tampak begitu indah dan menyenangkan. Tetapi alam juga bisa begitu garang dan menyeramkan. Hanya kesediaan kita untuk menjaga keselarasan hidup bersamanya dan kepasrahan kita kepada pencipta alam seisinya yang akan memberikan perlindungan atas semua yang secara sepihak sering kita sebut: bencana alam.

***
Maturnuwun buat seluruh onthelis di mana saja berada. Suara kring…kring… dan senyum lebar Anda setiap kali kita sesama onthelis bersua di mana saja, sungguh menyejukkan hati dan menyuburkan semangat silaturahim di antara kita...

113 responses to “Fenomena Kalibayem: Ketika Alam Meminta Haknya

  1. wah cepat sekali!
    ada yg terlewat di tulisan ini. fenomena alam ikan sapu-sapu..

  2. Kalau Ikan sapu-sapu tidak akan minta jatah separo tapi utuh karena biasanya berebut makanan dengan ikan jenis nila, tawes, graskap yang biasa makan lumut di dasar sungai. Wilayah Kalibayem, Sonosewu, Sonopakis, Jomegatan, Nitiprayan, Keloran, Kemutuk hingga padokan dulunya saluran irigasinya dari Kalibayem, sayang jejak-jejak historis budaya dan peradaban saluran air sudah hilang akibat sawah berubah jadi perumahan.

  3. potorono memang tak pernah habis bikin saya ngiler untuk pulang ….

  4. Dulu telaga Kalibayem juga pernah dipakai ujicoba berbagai alat perang seperti kapal selam kecil dan torpedo yang pernah dibuat oleh pabrik baja dan senjata Waltson (Walson) yang kemudian berubah menjadi Purosani.

    • pabrik metal yg sekarang di jl wates itu? ampuh betul sampe bisa bikin kapal selam. kira2 tahun berapa itu mas?
      kalau terpedo, paling enak ditongseng..

      • wongeres OPOTO

        Bwetul. Gedung Melia Purosani itu dulu miliknya wong Inggris bernama George Waltson dan dipakai oleh NV. Constructie Atelier der Vorsteladen (NV VAC). Digunakan untuk pabrik pembuat mesin kapal 115 PK bermerek “Jakidama” baru pada th 1942 (masa pendudukan Jepang). Setelah Indonesia merdeka, gedung beralih fungsi jadi Perusahaan Besi Indonesia yang memproduksi aneka senjata dari mulai pedang, mortir, karaben, revolver, hingga granat gombyok (tahu granat gombyok nggak Mas?) yang memiliki andil dalam perjuangan bangsa.
        Untuk saat itu, produknya termasuk peng-pengan. Mbah Pujo saja kalau nyari baut sadel yang patohan juga ke Waltson. Gitu ya, Mas Bagus? Hehe…

  5. Mas Bagus, jadi ikan sapu-sapu itu jatah sotonya ideal ya siji-separo ya?🙂
    Tapi kenapa di Kalibayem jumlahnya bisa sebanyak itu ya? Lagian ukurannya besar banget. Lha kalau ditaruh akuarium gek akuariumnya gedhene sakpirooo…?

  6. Iya, siji separo genah namanya saja sapu-sapu alias tukang ngeresiki. kalau digoreng ikan sapu-sapu gedhe rasanya kayak apa ya?

    • Lha di investigasi tv beberapa saat lalu, konon ada pedagang nakal di Jkt yang memaanfaatkan daging ikan sapu-sapu utk campuran siomay-nya lho. Mau nyicipin?

  7. Sempat absent di taman bermain pandes,sejenak bersyukur menikmati kalibayem dengan opoto..kring kring..semoga senantiasa sehat sehat bapak bapak opoto dan Pakdhe Nur..Salam

    • Wah, lha ini. Salam juga dari kami Mas. Kalau kring…kring-nya Mas Beni pasti aura ramah, ceria dan humorisnya langsung terasa. Haha… (bel yang humoris itu gimana ya?) 🙂

  8. katanya dagingnya sapu2 itu enak lho. lebih enak daripada lele. memang, buat pemancing, dapet sapu2 itu nggak bergengsi. makanya, kalau dapet, sering2 cuma dibanting, dianggep hama.

  9. Satu lagi situs sejarah (sejarah militer?) yang tidak banyak dikenal banyak orang berhasil diangkat Opoto. Tiang-tiang candi yang konon pernah ditemukan di daerah ini apa mungkin bisa menguak cerita yang lebih tua lagi? Terbayang berapa dalamnya danau ini untuk uji kapal selam sebelum walet spt sekarang ini nggih. Liputan menarik, sayang ra iso melu meneh.

    • Sayang anak, kalah janji ya Mas. Ya, kan masih ada satu hari Minggu lagi. Mas Aat biasanya juga siap jalan malem lho…

  10. @wah indah sekali…asyik sekali… dan bermakna sekali…reportase mas Wong kali ini ,apalagi soto Jirang ronggungnya ( siji kurang loro nanggung)..alias pas karotengah atau lebih pas disebut Porsi sapu sapu.. mhn info apa Segaran Kalibayem tsb deket dengan rumah mas Margi Kalibayem? atau sekedar kebetulan bernama sama?.. yg pasti semua yg tersaji sangat berkonotasi “mingini” dan memang demiian adanya.. Mas Wong mtr nuwun atas “pengungkapan”misteri telaga peninggalan Sultan HB VII yg telah tenggelam dan tengah mencoba lahir kembali..semoga segera lahir sempurna sehingga mampu menjadi cadangan air yg menyejukkan Jogja.. salam

    • Leres, Pak Rendra. Kalibayem ini lokasinya dekat rumah Mas Margi/Mbah Ngatijo. Lha itu di fotonya kan ada penampakan Mas Margi. Kemarin nunggang G 24-an. Soal porsi sapu-sapu itu, jangan-jangan sepulang ngonthel ada yang balik lagi untuk menuntaskan yang nanggung tadi. Haha…

  11. olala, tuas tgl. 20 November 2011 teman2 Opoto tak cari di alun2 utara gak ketemu.

  12. @halo..mas qly apa kabar?

  13. @ Mas Nur, untuk Mas Bantoro saya belum tau Piyayine yang mana, atau mungkin tau Piyayine gak tau namanya, acara di alun2 utara saya pakai G-9, Seri 5 keluarnya pas ritual tertentu, kemarin tak pakai sepedaan pas ritual Suran. he he.
    @ Pak Rendra, Puji Tuhan baik Pak, gmn kabar Pak Rendra sekeluarga. dan udah nambah apa koleksinya.

  14. Setuju Kang Bro Qly, memang sebaiknya sepeda yang memang tua jangan dipakai sehari-hari, cukup dipethethi saja di ruang tamu, dan dikendarai hanya saat event-event besar sebagai sebuah bentuk penghormatan acara.

    • Tepatnya sepeda tua dan istimewa, pakai telor lima! Wah, Pak Sahid selalu hebat dan rapi kalau membuat statement. Repotnya, yang disebut sepeda itu di Potorono ya yang bisa dikendarai sehari-hari. Kalau nggak bisa namanya bangkai sepeda. Hahaha… Lha di Potorono kan nggak ada yang istimewa. Telornya paling cuma separo, itu pun dicampur kobis…😀

  15. aseeek sekalee…

    dr Potorono berapa km jaraknya om ?

  16. Ragiel Condrowongso

    Salam kenal dari Ragiel Condrowongso di Kota Hujan. Sukses selalu buat OPOTO dan seluruh punggawanya. Dengan bersepeda onthel (ber-onthelria) kita dapatkan manfaat kekeluargaan, kebersamaan, kesehatan & kegembiraan. salam buat Oom Zamnuri.

    • Terima kasih, Mas Ragiel. Salam kenal juga. Akan saya sampaikan pada Oom Zam, salah satu pengonthel setia Opoto. Selamat berhujan-ria. Hehe…

  17. bagus kurniawan

    Sudah merasakan mancing di kalibayem, cuman gak dapat ikan sapu-sapu. Akhirnya pindah mancing di tegal senggotan dapat 4 kg bawal. he he he lumayan utk makan di rumah

  18. 4 kg sak sandhale. Hehe…
    Mas Aat, Mas Bagus, jadi mau ke Kanggotan, atau nyoba jalur Wukirsari lagi? Siapkan remnya lho…

  19. @Mas Wongeres & Mas Bagus, kalo ngonthel jgn lupa pakai Burgers lho… njenengan kan juga BURDJOIS alias Burgers mania … wkwkwk… Maaf saya lagi absen ngonthel krn baru sakit hernia, dan masih terapi…

    • Duh, pantesan Mas Bagus agak kurusan. Ternyata lagi libur ngonthel. Semoga segera pulih, Mas. Minggu mungkin memang mau pakai Burgers tua. Tapi nggak istimewa banget kok. Soalnya kalau tua-istimewa dipakai abrakan harian nanti didukani Pak Sahid. Sampai jumpa Minggu Wage. Halah, masih lama. Hehe…

  20. bagus kurniawan

    siap mas noer, terserah mau jalur wukirsari pucung atau kanggotan. kita siap

  21. @ mas Bagus Pojok, semoga segera sembuh dan bisa ngonthel lagi ya..@ mas Noer..kpn tuhacara rute wukirsarinya? jgn lupa bawa rem.. dan hunting porsi sapu sapu.. dalam pada itu…

    • Pak Rendra, selama tidak ngonthel, Mas Bagus ini malah melampiaskan hasratnya dengan mborong Burgers. Hehe…

      Rute Wukirsari mungkin Minggu depan. Mas Aat baru menimbang apakah tromol Humbernya sanggup ngayahi tugas berat. Sementara Mas Bagus baru survei kuliner dengan porsi sapu-sapu.

      Perlu diingat, rute menurun tajam membutuhkan rem yang stabil. Paling aman torpedo. Tapi juga ada tanjakan ekstrem yang memaksa kita harus turun dari sepeda. Saat itu diperlukan rem tangan agar sepeda tidak menjadi beban yang selalu harus didorong tanpa istirahat. Maka, pilihan sepedanya adalah…🙂

  22. bagus kurniawan

    Rute Wukirsari bisa makan di parkiran makam imogiri dulu atau makan soto Gumyak di utara pompa bensin jejeran. Atau makan krecek di segoroyoso. Siap milih onthel yang akan dipakai rute trek tanjakan

    • Gimana Mas Aat, Mas Tono, dan teman semua, tujuan yang sama, tapi rute melingkar ke Wukirsari. Apakah masih cukup ternafkahi oleh bubur Imogiri? Boleh pilih Bu Wied pinggir kali kesukaan Pak Sahid, Bu Narti lemu parkiran, atau yang lain? Kalau soto Gumyak berarti baru bisa mampir pulangnya. Kalau krecek Segoroyoso pasti masih kepagian. Lagian apa nggak marai kelingan kompol Brooks njebibir kehujanan? Hehe… Warung sederhana juga oke, nanti pulang bawa ondhe-ondhe crispy isi kacang ijo (kebak, ora koplak)?

  23. Piyayi sing lemu, asmane Pak Max
    Lama nggak ketemu, mohon ikut menyimak

    Sayur tewel enak bumbune
    Yang namanya onthel, “nggak ada matinye”

    Ngangkat watu, mesthi kaboten
    Yen wonten- klenta klintu, nyuwun pangapunten

    Pohon yang kering, nggak terurus
    Kring kring kring….gowes terusssssssssss……..

  24. Alhamdulillah. Oleh-oleh dari tanah suci jebul parikan yang menyemangati kita para onthelis. Amiin. Pangandikane Pak Haji semoga diijabahi Gusti. Sugeng rawuh, PakDhe Rangga. Semoga sehat walafiat, lebih bugar dari saat berangkat…

    Mas Max semoga masih menyimax
    Sekalian menerima tantangan mendaki jalur Wukirsari. Hehe…

  25. inggih pak dhe rangga…eh …pak haji (woaduuh iso kualat dadi jambu mete ki)… kula tansah nyimak kok… menawi mboten muncul, lha menika nembe latihan gitar, dados drijinipun sami “mentheng-2” sadaya, dados kangge ngetik sok tasih pringisan… haaaa..haaaa….

  26. @om noer : wukirsari ?????? kl gak ada kendala “klasik” mesti ikut om… ini sementara saya baru latihan je, rute “potorono – Kinahrejo” ….. haaa…haaaa…… peace om..

  27. kinahrejo?….apa masih ada to Pak Max…eh Pak Agung….gimana tuh petilasannya simbah Marijan…apa juga masih layak dikunjungi dengan menggunakan onthel? seperti wktu itu OPOTO ngonthel dg goncengan penuh dg oleh oleh : sembako……..
    Pakde Wongeres…alhamdulillah kami dlm keadaan sehat sehat saja , mudah mudahan akan bisa ngonthel kembali dan akan bisa “menempuh hidup yg baru” utk menghabiskan sisa umur yang diparingi Gusti Alloh ini

  28. @pakdhe Ranggta,sugeng rawuh… apa kabar pak Kaji, semoga sehat selalu..salam

  29. mumpung wonten warnet, sugeng ndalu sedoyo sederek opoto< mugi tansah sehat sedoyo Amin.

    • Mas Faj. Wah, kok ke warnet? Lagi ada yang dilacak nih?🙂
      Alhamdulillah, kami semua sehat. Semoga Mas Faj begitu juga. Maturnuwun.

  30. Kangen nih sudah lama tidak nggowes bareng….opotoblog memang terasa hingga tetes terakhir, sampai sekarang masih sedap dinikmati ceritanya. Bravo sang moderator!

  31. @denmas Rendra….iya nih den, baru sempet “naikin Bu Haji”…setelah sekian tahun menunggu…yah semoga saja saya bisa menapaki “awet tua” kami dengan lebih bijak dan tentunya lebih tawakal njih den….tetapi saya masih nggak lupa (dan terus) akan nggak bosen untuk mengonthel kok….he he he he….ngonthel is life-part…gitu kata Mas Thukul

  32. loh…pada kemana nih ????????????

    • Lagi pada kepincut Ayu Ting Ting, Pak Dhe Haji. Ke mana…? Ke mana…?😀

      • Pada nunggu hujan..semire ra garing2…..trus kapan ngonthelnya ya?

      • wongeres OPOTO

        Haha… kita pakai “jurus satu jari” Mas, langsung garing tanpa dijemur-jemur. Hasilnya juga kalis dengan air hujan. Paling Humbernya Mas Aat cuma agak ngembun. Hahaha…

  33. wah sudah ada tantangan dari Mas Bantoro nich? Minggu Tanggal 25 Desember bisa diagendakan. Atau Minggu Tanggal 1 Januari 2012 pas pasaran Minggu Wage, bisa ke pasarn Tunjung Wagenan di kafe?

  34. Aduh komennya asyik banget ,pingin sekali bisa ketemu pakar sepeda tua Jogya.Apalagi bisa ikut sepedaan bersama ibu Rendra dan ibu Sahid. Kapan ya? Rumah saya di dekat candiBorobudur .Kalau ngontel Ya jauh banget he he.

    • Mmm… yang tua sepedanya atau… ??$%#!🙂 Hehe… salam kenal, Ibu Era. Iya, di Jogja masih banyak sesepuh pakar sepeda. Meskipun belum sepuh, “orang dekat”-nya Bu Sahid juga seorang pakar sepeda onthel yang tidak diragukan lagi. Borobudur? Masih jauhan Karawang, kan? Bu Rendra saja bisa tuh. Silahkan diatur agar trio Srikandi onthel kita bisa bergabung…

      Salam hangat dari kampung Potorono.

    • @Era Love…….hwaduh selamat bergabung dg OPOTO “kelas jauh” nih….Trio Srikandi apa Trio Macan (Manusia Cantik) sih ya namanya ??????Benar lho Mbak/Mbok Era , ikut sepedaan bersama Wong Opoto kita bisa benar benar bisa merasakan “sensasinya” ngonthel…..hwalah kalau Borobudur kan deket tho Mbak? Sepeda naikin mobil dulu ke Potorono….baru deh , dari Potorono digoes bareng……….wis enggal di goesssssss…..mumpung lagi gratisan….nanti dapat bonus lagi……..soto khas buat obat pegel linu……….sumonggo…….di ajak sisan “sisihane”……
      @Den Mas Sahid….kados pundi pawartanipun? Mbok njih sami sugeng to??? Wah sudah pudar nih topo bratane…..tentunya udah bertambah “kasektene” njih…………..Apa sudah bertambah menjadi S4….he he he he……..

  35. Waduh, “orang dekat”-nya Bu Sahid itu sebetulnya tidak ahli, hanya hapalan otak-atik mathuk, yang kadang-kadang keliru juga. Koleksi sepeda juga ngawur, semuanya dicat ulang he..he..he…

    Yang lebih pakar adalah Pak Ngatijo, Pak Margi, Pak Margono, Pak Yudi Kasim, Pak Wongeres dan jajaran Direksi Klithikan.

    “Yang lebih pakar adalah Pak Ngatijo, Pak Margi, Pak Margono, Pak Yudi Kasim, Pak Wongeres dan jajaran Direksi Klithikan.”

    • Alhamdulillah, Pak Sahid berkenan muncul juga. Kemarin-kemarin, setidaknya kami masih bisa ketemu Pak Doktor kita ini di akhir Minggu. Sekarang, setiap weekend, kapabilitas beliau dibutuhkan di tempat lain, jadi kehilangan akses… Padahal pengin lihat jenis kelamin stang Burgersnya, eh, sampai kini terbang entah ke mana…😦

  36. semoga ada acara ngowes bareng tahun baru d opoto ?

  37. Kang Wongeres, setang Burgers sudah terbang ke Solo. Padahal penginnya sebetulnya bisa disimpan di Ndalem Burgerdiningrat Desa Potorono.

    pak Nur, akhir-akhir ini saya weekend kadang-kadang masih kerja, maklum buruh njih, cari tambahan uang untuk bauar SPP anak-anak.

    Tanggal 13 Januari, saya rencana mau Tour Onthel Heritage ke puncak acara Saparan yakni ritual Nyebar Apem di Jatinom Klaten, sumanggah kalau kang Wongeres kersa tindak, disana ada rumah keluarga Ndalem Reksodirjan yang bisa digunakan untuk tetirah. Cukup stratejik karena gunungan biasanya disimpan semalam di Ndalem tersebut.

  38. wah…tawaran yg sangat menarik dr pak Sahid, apa msh menerima anggota OPOTO dan PODJOK klas jauh njih? hehehe..-monggo mas Noer di rahabi tawaran meniko

    • Sumanggah menawi Kaka Prabu Rendra kersa hangrawuhi. Kula biasanipun ugi mboten saged murugi, hananging menika kaleresan taksih sasi prei wonten kampus. Dados kaleres saged nderek nyengkuyung.

  39. Membaca komentar teman2 yang ngangkring di OPOTO bikin adem dan tentrem. Selamat Tahun Baru kagem Pak Noer dan keluarga besar Potorono, senantiasa berlimpah nikmat sehat dan diberkahi segala kebaikan dari Allah SWT. Allohumma Amin

    • Selamat Tahun Baru juga, Mas Aan. Sesama penunggang sepeda kembara semoga selalu sehat. Amiin. 2012 Sudah nyusun rute baru? Hehe… Salam hangat selalu.

  40. Wah sepedaku juga tak cet merah cantik sekali.Baca coment pak Sahid kok ada nada minor sama sepeda cetcetan. He he mesti belajar mengenal sepedatua nih. Mbah Ngatijo mestinya pakarnya ya?’Mohon info alamatnya?

    • Halo Era Love, saya juga ada beberapa sepeda cat ulang karena pertimbangan cat asli sudah mbladus habis dan berkarat. Jadi daripada nanti dibilangin “kemproh” oleh Kang Wongeres, maka saya cat ulang saja he..he..he..sepeda jadi cantik kemilau.

    • Mbak Era, alamat dan liputan tentang beberapa pakar onthel silahkan dilihat di halaman “berbagi”. Lha kalau pas tidur di rumah Eyang Jogja kan onthelnya tinggal milih ya Mbak?🙂

  41. Terimakasih Mas Rendra Selamat Tahun Baru, semoga tambah sukses. Saya lagi jauh dari rumah sedang momong boss Pura.. Mohon bimbingan cara internetan he he. Salam perkenalan pada semua pencinta ontel.

  42. Mas Nur Selamat Tahun Baru pingin ke Potorono belum tahu jalan kapan 2 mau kesana .

    • Wah, maturnuwun sanget. Akhirnya tokoh kita kersa paring pangandikan di blog angkringan ini. Selamat Tahun Baru, semoga kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan senantiasa dilimpahkan pada kita semua. Amiin.
      Nuwun sewu, Potorono belum sempat digambar di peta dunia, jadi Pak Pram layak kesasar. Tapi kalau Berlin, Roma, Athena, Amsterdam yang ada di peta pasti sudah hapal! Haha… Kira-kira oleh-oleh dari jalan-jalan nanti Gazelle atau Bentley ya?🙂

      • Waduh lha muter2nya cuma dari Magelang sampai kalibayem terus ke srandakan mampir mbah Seno lihat proses pembuatan Gazellembantul, ya oleh2nya geplak.Kalau berkenan tak kirim ke potorono he he.

  43. @wah mas Pram rupanya lagi keliling sama pak YB to, selamat “momong” ya mas Pram semoga sehat dan happy selalu..salam buat pak YB.. sdh kangen sama kopi klotok nih mas…hehehehe..salam ..
    @ pak sahid memang bukan aliran “tetanus” kok, tp aliran bersih kinclong..

  44. Terimakasih pakSahid ,punya selera sama.”cik cik cik” meling2.

  45. @Mbak Era Love, seandainya ada nada minor pun bukannya malah akan mempercantik komposisi musik onthelis? Haha… Asal jangan minor semua. Nanti jadi mellow melulu dan nggowesnya ikutan letoy 😀

    @Pak Sahid, CCG saya kan jadi berkilau karena direstorasi oleh tangan yang tepat. Beda ukuran kekemprohan saya dengan Pak Sahid adalah: ketika Pak Sahid sudah ogah memandang, saya masih mau mengelusnya. Hehe…

    @Pak Rendra, setahu saya dari dahulu Pak Sahid memang priayi yang selalu rapi dan steril. Tapi steril ternyata juga masih bisa sangar. Ketika saya konfirmasikan ke Bu Sahid, jawabnya: lha itu memang “sisi lain” Pak Sahid!🙂

  46. Belum ada rute baru Pak Noer, setidak-tidaknya napak tilas rute dari Pangsar Besar OPOTO saja🙂

  47. Musik sepeda ontel mulai ketemu nadanya nih?@Mbak Era saya setuju kalausesepedanya abang kempling tur “cik cik cik” biar orang seneng liat sepedanya ora mung sing ngontel..Kelihatan harmonis gitu lhoh. He he biar sepeda ontel juga dilirik putri 2 ngajodjokarto.Coba buka http://www.gazellebicycles.com.au. ada video “kakung putri walondo sami remen numpak ontel”

    • Pak Pram, lha di video itu suasananya Potorono banget lho. Jalanan aspal halus, pepohonan hijau, onthelis yang selalu ceria… Bedanya, saya perhatikan rata-rata sepeda mereka bikinan lokal. Kalau Opoto kan sepedanya impor! 😀 😀

      • Lha itu yang bikin Horegg . Karena kita berimajinasi Jjaman semono olehe nggawe piye kok nganti saiki isih merak ati ,nganti arep numpakki wae eman2 tur le nggoworene mbiyen ki piye?.Karena itu artikel opoto bernilai plus plus plus dibanding mereka yg setiap hari bersepeda.pakai sepeda lokal lagi.

  48. @ Para Onthelis Ingkang Minulya
    Saat ini karena sepeda dengan cat orisinilan sudah semakin tak terjangkau lagi, maka sepeda dengan cat ulang juga mulai diburu dan mampu laku tinggi. Ada teman yang mampu menjual sepeda G9 restorasi dengan harga 15 jt. Sejarah serupa yang pernah terjadi di motor antik akhirnya terjadi juga di sepeda antik. Jadi memang beruntung bilamana dulu sudah mulai mengumpulkan sepeda saat masih murah-murah, sekarang benar-benar jadi tabungan nyata. Masih ingat dulu tahun 2007-2008, Kang Wongeres sudah mborongi Fongers dan Burgers selagi orang-orang masih sibuk berburu Gazelle dan Simplex.

    • Wah wah memang pakar ekonomi perlu kita simak wawasannya.Y ang pasti sepedatua terselamatkan dari peleburan besi .Muncul kembali sebagai ontel kenangan. membangkitkan fantasi jaman.kejayaannya dan mengilhami generasi muda yg mau mencoba sepedatua bahwa “LAMBAT ITU NIKMAT’ maturnuwun Pak Sahid

      • Waduh Kang Bro Bosch Prambanan, yang pakar itu sebetulnya Kang Wongeres, saya ini biasanya hanya othak-athik mathuk atau asal tebak saja. Beliau kalau melakukan analisis juga dikaitkan dengan aspek antropologi, jadi benar-benar inspiring. Saya suka dengan semboyan sampeyan yakni “Lambat Itu Nikmat”, pas banget untuk konteks Onthelis.

      • Saya banyak belajar dari karyatulis tentang ontel dari panjenengan lho? Lhawong tidak ada acuan pasti jane sing apik ki piye?Ngendikane mas Noer memang benar nada musiknya mesti indah biar semua pingin mendengarkan. Bravo ontelmania

      • wongeres OPOTO

        Hebat. Jargonnya Pak Pram kira-kira: “Slowdown, Baby!” 🙂

  49. Saya memperkirakan sepeda Batavus akan naik daun seiring dengan habisnya sepeda Burgers. Sepeda Jerman dan Inggris juga mulai perlahan merayap naik meskipun hanya orang di daerah-daerah tertentu saja yang suka.

    • Agak menyesal juga, waktu saya dapat Rudge Limited, saya juga melihat sepeda Styer Austria yang antik. Sayang dompet sudah lengket. Haha…

  50. @ Den mas Sahid kalau soal ” berburu onthel” sepengetahuan saya di Indonesia ya tdk ada yg “sewasis “mas Pram..hehehe..tp secara pribadi sy seneng sekali krn dengan demikian speda2 tua( terutama dames simplex) tdk
    bakalan bisa lari ke luar negeri, krn semua sdh di karantina di ndalem Magelangan.. mas Pram kapan rencana lounching musium onthelnya, jgn lupa ngabari kami kami mas.. salam.

    • Bukan hanya dames lho. Semua yang elok ada. Cycloide orisinil nil! Bahkan yang luput dari perhatian seperti Dunelt pun wonten! Jaaaan…🙂

    • Maturnuwun, kangmas Gemon ojo di umpak yen sundul malah benjut aku.Lha masih Junior ya mesti sowan2 dulu to ?Kalau sepeda yg hebat2 tidak punya mas, Cuma punya karep .ee kalau ada pariwisata sepedatua kan mengingatkan kalau Yogya pernah menjadi kota sepeda yg terkenal seluruh Indonesia.Monggo disengkuyung kersane Pemda Yogya yg sudah peduli dengan sepeda.

  51. Ooh Kang Bro Bosch Pramb itu Pak Pramono njih? Apa khabar Bapak? Sudah lama tidak ngonthel barengan. Kalau kebetulan punya koleksi Simplex Dames, biasanya jadi was-was kalau ketemu Beliau ini he..he..he..

    • Njih Kangmas memang senang sama yg dames2 sing ayu2 ning yen wis ono singnduwe yo mung nyawang wae.Sugeng sonten kangmas Sahid Kalau ada acara sepedaan mohon info,asal jangan sabtu minggu karena pulang ke semarang tengok rumah.

  52. Kasinggihan Pak Pramono. Kebetulan teman-teman Podjok ada rencana mau touring ke Magelang dalam waktu dekat ini. Model minus one he..he..he.. yakni berangkat naik truk dan bis, kemudian pulang Jogja ngonthel. Ini baru cari waktu yang tepat karena masih sering hujan angin. Kalau berkenan nanti pas wisata kota, rombongan bisa mampir sejenak ke rumah Bapak.

  53. Bermula dari ketertarikan pada judul Fenomena Kalibayem (nyunting pembukaan Pak Yudhi Kasim) terus belajar internetan supaya kenal Opoto kelompok “nyele” he he positip lho mas Noer . Saya petani di desa Kanigoro dusun Mendak Gunungkidul tepatnya pantai Ngrenehan..Punya gegayuhan pingin menghijaukan tanah tandus di Yogyakarta inilah lah jatidiri saya ((lha wis konangan.yo ngaku wae).Kebetulan cocok dengan wawasan lingkungan gaya Yogya di Opoto. Ayo Mas Noer bikin terus artikelnya.

  54. @ mas Pram punya gegayuhan luhur, monggo sami nyengkuyung… semoga jogja kembali hijau royo royo.. selamat mas Pram..salam

  55. tambah lagi konco angkringan….tentunya akan lebih gayeng njih Den …….lingkungan sehat,Indonesia sehat……….salam

  56. Denmas Pram……..hualah, kawulo puniko saking komunitas OPOTO, namung “kelas jauh”…………Yogya?…….jauh dimata dekat di onthel……….he he he….nyuwun pangapunten………dalem injih termasuk manusia langka ingkang nembe sinau dumateng poro pakar onthel ingkang wonten projo Ngayogyakarto………..salam kagem Pakde Wongeres.njih…….

    • we lha dalahh mondolanne ? saya kira dekat2 gembirolloko.Saya mau sowan belajar ilmu kejawen. Sekalian mau bernostalgia kenangan ngepit mangkat sekolah rame2. Kira2 kangmas Tohjaya kan unda undi seangkatan saya.

  57. bagus kurniawan

    Mas Noer, mana crita lainnya lagi. Salam semuanya

  58. apa kabar pak nur?……

    • wongeres OPOTO

      Wah, Pak Wahyu. Pangestunipun, sehat. Mohon maaf kemarin telepon tidak terangkat. Kami dalam perjalanan. Begitu saya telepon balik sudah susah. Tenggelam di hingar-bingar acara nggih? Masih semangat motret dan ngonthel? Semoga. Hehe…

  59. Liputan menarik … Kalibayem, deket gudang kami😀 Terus berbagi..

  60. Tutur tulisnya sangat mengalir dan bercita rasa tinggi, “very mature”. Terima kasih untuk pencerahan baru bagi saya yang muda dan masih harus belajar banyak hal. Saya terlahir di Ambarketawang, Gamping tapi belum pernah mengunjungi tempat ini. Salam.

  61. Haduh, citarasa kampung kali ya Mas. Hehe… syukur kalau bisa diterima. Kapan ini “anak yang hilang” mau hinggap lagi barang sekejap di Ambarketawang?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s