Bendungan Grembyangan dan Harmoni Lingkungan

berhenti setiap melihat tempat nan asri…

Minggu pagi yang cerah, saatnya kami berangkat ngonthel penuh gairah. Jika saja tidak melihat fisik kami sebagai manusia dewasa, barangkali agak sulit membedakan antara keceriaan kami saat ngonthel dengan kegembiraan kanak-kanak yang bersepeda menikmati hari libur mereka. Sama-sama spontan, sama-sama riang. Fantasi dan keinginan kami pun barangkali sama banyaknya dengan mereka. Bedanya dari kanak-kanak adalah, kami harus lebih bisa menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kami inginkan dapat kami lakukan atau kami dapatkan. Bukankah orang Jawa mengenal jurus ‘mulur-mungkret’. Kami akan mengulur cita-cita dan keinginan sepanjang memungkinkan, tetapi dengan realistis akan segera menariknya ketika membentur kenyataan yang tidak dapat ditolak. Begitulah yang kami lakukan sampai kami mendapatkan posisi paling ideal.

Contoh paling sering kami alami adalah dalam hal memilih warung saat kami merasa lapar. Kami semua serentak akan berteriak: “cari makanan yang enak!” Sementara di dalam hati kami semua juga menyertakan prasyarat: “Tapi yang harganya murah saja”. Maka silahkan tebak, bentuk ideal yang biasanya kami temukan adalah…soto!😀

bukankah kaya bumi kami ini…

Maunya, setiap Minggu pagi kami juga bisa berkumpul dan ngonthel bersama secara full team. Tetapi, kami juga harus melihat situasi. Kegemaran ngonthel kami tidak semestinya tampil sebagai egoisme yang tak bisa diganggu gugat. Kami ngonthel hanya selama tidak ada acara-acara keluarga/sosial yang lebih penting. Meskipun begitu, kami selalu saja tertawa setiap kali mendengar protes di antara kami yang disampaikan secara bercanda kepada istri tercinta: “Merokok, nggak. Selingkuh, juga nggak. Ngonthel masa nggak boleh juga?”

belajar dari alam: bahkan pisang pun pantang mati sebelum berbuah…

Minggu pagi, 26 Februari 2012 itu pun, banyak di antara kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) yang terpaksa tidak ikut ngonthel karena harus melakukan beberapa aktivitas keluarga maupun sosial sejak pagi hari. Ada yang mengantar anak ke acara sekolah, ada yang harus belanja material pagi-pagi demi cepat selesainya rumah idaman, ada pula yang membantu saudara ‘panen lele’, bahkan ada yang tak mampu bangun karena kelelahan yang sangat setelah bekerja di akhir pekan, dan sebagainya. Alhasil, hanya bertiga kami ngonthel menikmati keindahan panorama sawah, bukit, dan pohonan yang tergelar di depan kami.

hati pun lapang, selapang sawah dan hutan yang tergelar di depan

Pagi itu, karena merasa agak kesiangan, maka kami bermaksud menyusuri jalan-jalan setapak di kawasan Berbah untuk memperpendek rute menuju Bendungan Tirtorejo di dusun Grembyangan, Prambanan. Tetapi, ternyata bukan rute pendek yang kami dapatkan, melainkan rute melingkar-lingkar karena beberapa kali kami terhalang sungai dan tidak berhasil menemukan jembatan. Akhirnya, bukan saja matahari yang terasa cepat meninggi, perut pun tak mau lagi berkompromi sehingga kami memutuskan untuk langsung ke Prambanan, menikmati puncak acara ngonthel, yaitu: nyoto!

menjaga keselarasan jiwa-raga🙂

Semangkuk soto Trunojoyo dan segelas gula asem langganan kami barulah membuat perjalanan berikutnya terasa lebih nyaman. Dalam perjalanan pulang itu, sesuai rencana, kami menyempatkan singgah di Bendungan Tirtorejo yang terletak di Dusun Grembyangan, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Dari Prambanan, lokasi bendungan ini dapat dicapai lewat jalan Prambanan-Piyungan kira-kira 5 kilometer hingga sampai di pasar Gendheng. Dari pasar itu silahkan berbelok ke kanan.

Menyusuri jalanan menurun dan berbatu-batu, kami pun segera sampai di Bendungan Tirtorejo. Bendungan sebesar itu ternyata dibiarkan tanpa penjaga. Sebuah bangunan tua yang semula dihuni petugas jaga, kini dibiarkan terbengkalai sehingga kotor dan rusak. Sebuah portal menghalang di pintu masuk, mungkin antara lain dimaksudkan agar tempat yang asri ini tidak disalahgunakan oleh pasangan yang tengah kasmaran. Oleh rasa penasaran, kami pun mengangkat sepeda kami dan membawa masuk ke area bendungan.

penampilan baru bendungan Grembyangan

Ajaib. Penampilan bendungan ini nyata telah berubah dibandingkan yang kami lihat terakhir kali. Enceng gondok yang dahulu menutup hampir seluruh permukaan airnya, kini tak ada lagi. Pasca erupsi Merapi, bendungan yang berada di hilir kali Opak itu sekarang terkesan bersih dan luas dengan limpasan pasir hingga ke tepian. Airnya mengalir tenang, lalu berkumpul membentuk air terjun yang lebar dengan percikan buihnya yang putih bersih, kontras dengan kebiruan langit dan hijau pepohonan di sepanjang tepian sungai.

Beberapa pintu air bercat biru yang kami temui tidak memiliki roda yang biasanya berfungsi untuk membuka dan menutup pintu air tersebut. Entah disimpan, atau hilang dicuri orang. Bendungan di hilir sungai sebesar dan sederas ini tentu memiliki fungsi penting dalam mengendalikan banjir, terlebih pasca erupsi Merapi, saat hujan menggelontorkan lahar dingin yang dahsyat.

Meskipun siang mulai terik, tetapi suasana di Bendungan Grembyangan tetap saja sejuk. Perut kami masih terasa kenyang sehingga rasanya masih ingin beristirahat menikmati suasana alam yang asri. Semilir angin terus membelai seluruh tubuh kami, ditingkah suara air yang terasa semakin melenakan. Justru ketika itulah kami menyadari bahwa kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang. Semakin lama beristirahat berarti semakin terik matahari memanggang punggung sepanjang perjalanan kami.

sunyi yang indah

Sekali lagi, kami tak bisa menuruti semua keinginan kami. Senyaman apa pun suasana yang kami rasakan saat ini, kami harus bisa bilang cukup, kalau tak mau perjalanan pulang menjadi semakin berat. Maka, dengan agak malas kami pun beranjak meninggalkan bendungan Tirtorejo di Grembyangan.

Di tengah perjalanan, seseorang sempat menyapa kami dan mempersilahkan untuk mengunjungi pasar Berbah, karena di sana baru saja dirintis adanya pasar sepeda onthel. Oleh rasa penasaran, tak hanya berjanji, kami pun mengunjungi pasar Berbah siang itu juga. Benar saja. Beberapa sepeda seperti Humber, Raleigh, Teha, ditata berjajar untuk mendapatkan pembeli. Sayang hari terlalu siang sehingga kami tak dapat berlama-lama dan memutuskan segera pulang.

hidup adalah juga tentang membendung dan menyalurkan keinginan…

Hidup bagi kami rasanya juga seperti bendungan yang harus pandai-pandai menyimpan dan menyalurkan segala persoalan, termasuk keinginan-keinginan kami secara bijak. Jika semua keinginan kami paksakan untuk dilampiaskan, maka bukannya tak mungkin bahwa kami akan melanggar dan merubuhkan semua tatanan moral dan sosial. Sementara jika semua kami simpan sendiri tanpa ada tempat berbagi, barangkali bendungan itulah yang akan jebol karenanya. Maka biarlah kami terus memegang jurus sederhana ini: mulur dan mungkret untuk mendapatkan kesesuaian harmoni dalam kehidupan kami.

49 responses to “Bendungan Grembyangan dan Harmoni Lingkungan

  1. Paling suka dengan kata-kata dibawah ini:

    Hidup bagi kami rasanya juga seperti bendungan yang harus pandai-pandai menyimpan dan menyalurkan segala persoalan, termasuk keinginan-keinginan kami secara bijak.

    • wongeres OPOTO

      Blog angkringan ini juga serasa pintu air tempat berbagi cerita lho Mas. Ngomong-ngomong, kapan ini melakukan ekspedisi ngonthel bersama? Hehe…
      Salam hangat selalu dari kampung Potorono.

  2. @ walaupun cuma trio onthelis,tetap saja masih bisa disebut bahwa peserta yg ikut mencapai 30% anggota asli OPOTO,dan kali inipun sungguh sebuah pelampiasan “hasrat” yg menyegarkan jiwa, … pemandangan hijau, harum tanah basah, kucuran keringat dan dipuncaki dengan sebuah ritual “orgasme” bernama nyoto… dhuh betapa beruntungnya sahabat OPOTO yg senantiasa bisa melakukan aktifitas “mulur mungkret” seperti ini..salam ingin..

    • wongeres OPOTO

      Haha… bahasanya tingkat tinggi, alias bahasa ingin🙂 Lha sumangga, apakah perlu disiapkan ubarampe ngonthel di Potorono nitih BB-60 dengan pengawalan minimal 50% personil Opoto?😀

  3. bagus kurniawan

    bar ngonthel arep nyabrang kali atau golek pasir kali opak mas?

  4. Mbah Nolo Klabang

    Petualangan Opoto yang tetap ngangeni amergo jlajah dalan-dalan padesan sing edi peni kuwi…Oh atiku ra sabar pingin bali deso….

  5. wongeres OPOTO

    Mbah Nolo, apa kabar? Memang benar, berkarya itu kewajiban, bali ndeso itu pilihan. Wis, manut Enny Sagita wae: melu mulih ning ndesa, ngewangi nggawe bata, menek klapa nyeblok…?? Assololee!! Haha…

  6. Totok Adiyarto

    Melihat Mas Noer duduk di “kursi” yg diapit 2 pohon di tepi sawah menguning, langsung terbawa segala rasa ke sana… Namun, memang bbrp keinginan & persoalan hrs “dibendung”… dan semua itu tersalurkan scr harmonis melalui sebuah bendungan yg bernama: “Onthel Melintas Zaman”…

  7. wongeres OPOTO

    Hahaha… tapi jangan lagi sambil bawa plinthengan lho Mas. Hari itu, karena cuma bertiga, kami ngonthel sebebasnya. Singgah di mana suka, dan berfoto-ria. Mas Aat sampai bilang: lha hari ini kita kok malah ngartis, sibuk fota-foto melulu? Ya sabar dulu, tak cuma foto, nanti kita pasti juga nyoto.

  8. Totok Adiyarto

    He3x….justru foto dan nyoto-nya itu yg ngangeni Mas… Selalu ditunggu kisah selanjutnya..terutama edisi ngonthel malam.. Salam katur para sederek Opoto…

  9. @ bar Assololee langsung medley Iwak Peyek…hohohoho.. nikmatnya hidup…

  10. “Sawahe jembar – jembar . . . . . . . .
    “Parine lemu – lemu . . . . . . . . . . . . . .
    “Rakyate ayem tentrem . . . . . . . . . .
    “Onthelepun mantep banget . . . . . . . . . .
    “Tulisanipun apik tenan . .. .. . . . . . . . . . .

    • wongeres OPOTO

      Wah, senangnya kalau semua pada ceria, ura-ura parisuka (ora ketang nem sasi. hehe…). Sumangga pun dugekaken. Icik-icik… ehm!

  11. Mbah Nolo Klabang

    @ Pak Noer

    Kabarnya baik-baik saja. Pak Noer di zaman sekarang banyak manusia yang sangat suka melampiaskan hawa nafsunya. Tak peduli berbuatannya itu melanggar norma sosial atau tidak. Pun, karena ketamakan manusia, tatanan norma dan sosial mampu rubuh berserakan. Hal inilah yang membuat keharmonisan hidup, alam, dan budaya semakin tergerus zaman. Kerusakan lingkungan, anarkisme, korupsi, lunturnya budaya, memudarnya kesetiakawanan sosial dan keserakahan adalah buktinya. Kini kata harmoni dan penyegaran jiwa itu hanya sekedar kiasan belaka bak pajangan nan menawan.

    Adoh nyawang biru lazuardi. Naliko kapanyak segoro.
    Ati ora sronto, pingin bali deso. Telung windu lawase aku ngemboro.
    Dalan cilik-cilik, asem gedhe-gedhe. Opo isih koyo biyen kae.
    Emane bareng tekan omah, kabeh wis podho owah, sawah wis dadi omah.
    Wewangunan sinawang larang rasane tanpo kamanungsan. Ora ono siso crito kepungkur.
    Kari siji ing pojok ndeso. Wit gayam sing mangklung ing sendang.
    Dadi petilasan adat deso nyadran. Tak dekepe wedi kelangan.

    • wongeres OPOTO

      Mbah Nolo, pohon gayam sudah mulai dibudidayakan. Jadi genderuwonya bisa ikut senang. Lha mana genderuwonya? Sing ndhekep wit gayam mangklung sendhang kae? Bukaaaaan!😀

  12. om noer jurus ” mulur mungkret” sama nggak dengan jurus ” surung Nglunthung, Dudut Katut”…. haaaa…haaaaa…

  13. Kok malah jadi mirip legenda Three Musketeers dari Paris…he..he..he..

  14. @ mas Aat mirip d Arthagnan…..

  15. wongeres OPOTO

    Soto untuk semua, semua untuk soto. Kumisnya Mas Aat d Arthagnan sengaja tidak dipanjangkan, biar mudah untuk nguyub soto😀

  16. like it.

  17. piet van gombong

    Salam kenal, kapan ada acara bersepeda lagi boleh saya ikut meramaikan?, selama ini jika pulang ke jogja hari minggu selalu ngonthel sendirian spt “The Lone Rider” dlm komik lucky luke. Adakah nomer yg bisa dihubungi jika saya mau ikut ngonthel bareng?. Matur nuwun

    • wongeres OPOTO

      Salam kenal juga. Setiap Minggu pagi kami ngonthel kok. Meskipun hanya keliling desa. Silahkan kalau suatu saat mau gabung. Tapi harap maklum. Kalau Lucky Luke bisa menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri, kami biasanya jauh lebih cepat lapar dibanding bayangan kami😀

      Nomor kontak kami ada di halaman info. Biasanya, Mas Tono yang merancang rute. Karena Mas Tono tidak ikut ke Grembyangan, makanya kami nyasar-nyasar….

  18. Pakdhe Noer…njenengan kok pinter yen damel tulisan pak…
    Punopo lulusan sarjana jurnalistik nopo nate magang dados wartawan?

    • wongeres OPOTO

      Saya dulu mantan penulis yang terpinggirkan setelah adanya komputerisasi. Tepatnya saya penulis ijazah yang tidak laku setelah ada printer🙂

  19. Dam untuk pengairan juga made in Holland ya Gus Wong? Kayak Gazelle seri 1 itu hehehe,,

  20. I'wey Onthelist

    Sayang ga bisa ikut gabung waktu itu….. heheh, next time bs ikut dilanjut petualangannya….

    • wongeres OPOTO

      Nah, ini dia yang ditunggu. Minggu nanti jalan? Mas Irwan dapat salam dari Pak Dhe Herry tuh…

      • I'wey Onthelist

        Iya Pak Noer, Salam lag buat Pak dhe Herry, Pak rendra, dan Pak gun, kapan2 bisa ngontel bareng di Jogja…. kan rame… sambil cari Soto NgUnik, cuma bukan Sungeb lho….waakakak

  21. Salam kagem sederek2 sedaya, pangapunten menawi dalem hilang dari peredaran sebentar. Ada pendekar berwatak jahat penyebab demam dan pusing2 yang harus dilawan.
    Ada oleh2 apa ini, dari Purwokerto? Gelo sekali gak bisa ikut kemarin.

    • I'wey Onthelist

      Lha makanya lain kali ngikut aja mas….. biar dapet oleh2nya banyak… hehehehe, kapan nih ngontel lagi ….

  22. kasinggihan Gus Wong, lha negri kita_pun sudah dikendalikan tanpa stir hahahaa kalau saya istilahkan lepas tangan , tapi kalau ada pranduman proyek…cekat ceket koyo manuk sikatan nyamber walang sangit ahahahaha…prabu Duryudono lenggah siniwoko kaadep kaliyan Haryo Suman dari balitar,kartomarmo ,citrakso citraksi dan Lesmono mondrokumoro..ah Inonesapuraku ketaman pagebluk!

  23. Mbah Nolo Klabang

    @ byuh byuh Ki Lintang, niku lho sing diarani keprabon (pimpinan) tanpo wahyu (visioner), lha dadine pemerintahane sak enake edele dewe….Lho nek onthel tanpo stir yooo sing numpak bingung, biso biso ciloko..nyemplung bendungan Grembyangan..hehehehe….

    @ mas Aat nek masalah oleh-oleh saking Purwokerto mestinya pak Rendra….yang tepat ditagih oleh-olehnya…..hehehe

  24. Salam saking Papua pak Noer lan rencang2 Opoto….marai kangen. Kalih minggu kepengker saya sowan ke pos radi kawanen, sampun kepancal..alhasil namung saget klintong2 ngonthel piyambak menikmati persawahan Kalitirto.

    • wongeres OPOTO

      Walah… lha kok ya nggak pakai kontak-kontak lho… marai gela. Sudah beberapa kali kami rasani, gek apa ya sudah lupa dengan onthelnya….

  25. senengnya bisa membaca tulisan mas nur dan menyimak komentar poro sederek sedoyo, monggo sami di lanjut.

  26. kali ini ada narsisnya… nyemplak di pohon…

    • wongeres OPOTO

      Huahaha… aslinya haus, ngejar-ngejar dua orang yang ngonthel dengan lajunya. Mana warung masih jauh nun di Prambanan sana😦

  27. @ ada pendapat bahwa onthel yg bagus adalah onthel yg bisa di tunggangi dengan “los stang”, berarti kesimbangan onthel itu sempurna.. bener2 auto pilot… tdk butuh stang..tapi jgn coba2 lepas stang kalau “sepeda ” kita setelannya belum sempurna..apalagi kalau ksimbangan pengendaranya juga kurang baik….di Negeri Kurawa konon baik raja maupun punggawa dan bahkan rakyatnya tdk punya ” keseimbangan” yg bagus, shg msh butuh stang… sebaliknya negri Amarta meskipun rajanya pergi bertapa seratus hari negerinya tetap berjalan normal..raja hampir2 hanya berfungsi sbg simbol saja, system sdh jalan … itu kata ki dalang Kyai Lintang lho…hehehe

  28. mas nur, itu juga salah satu keinginan saya ngowes bareng teman teman opoto, semoga lain waktu kesampaian, amin.

  29. boleh tahu lokasi jembatan kuning yang ada di foto

  30. kira2 per4an kidsfun, ke utara 1-2 km-an ada perempatan kecil. kalau kekanan ke jalan tengah sawah, kalau ke kiri menuju kampung dan jembatan kuning itu. btw ini jembatan kecil kok, jauh lebih kecil dari jembatan gantung di jl imogiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s