Berakit-rakit ke Hulu, Bersenang-senang di Karawang-2.

tamu dinihari

Tukang ojek yang membawa kami itu, meskipun keduanya sepakat dalam harga, ternyata berbeda pendapat tentang rute dan cara berkendara. Seorang segera memacu motornya menembus dingin malam, seorang lagi asyik berfilosofi ekstrem bahwa yang diutamakan dalam berkendara adalah keselamatan, bukan kecepatan.

Ojek filosof itu membawa motornya pelan-pelan, menuju jalanan berbatu tanpa penerangan yang berujung pada sebuah jembatan panjang, cukup panjang untuk tidak dapat dikenali ujungnya secara kasat mata. Motor semakin pelan, bahkan hampir berhenti. Tukang ojek itu menanyakan sesuatu dengan suaranya yang kecil, nyaris parau, tetapi terdengar begitu menggelegar laksana geledek di pagi buta.

bertemu sahabat Podjok: Mas Towil, Pak Darsono, Mas Bagus, dkk.

“Pak, Bapak sudah pernah ke sini?” tanyanya. “Ini kita kan tertinggal dari teman saya. Bapak tahu jalannya nggak??” lanjutnya pula. Seluruh bulu tengkuk pun meremang demi membayangkan hal-hal negatif yang mungkin melatari pertanyaan itu. Sendirian di tempat asing, pada jam dan tempat yang tak memungkinkan orang lain lewat, apa saja bisa terjadi di sini. Anehnya, energi kepanikan itu, pada titik tertentu ternyata mampu meledakkan sebuah jawaban yang tak kalah mengejutkan: “Mas tadi katanya tahu jalan Jalitri? Ini jalan Jalitri bukan? Saya ditunggu teman-teman di Polsek! Polsek tahu nggak? Kalau nggak tahu, biar saya panggil mereka!”

Entah bagaimana gema dari jawaban itu merambat memasuki relung-relung pemikiran Sang ojek filosof, tetapi ia segera memutar arah motornya dan membawa kami ke depan Polsek Teluk Jambe. Keyakinan bahwa kami telah sampai itu bukan melulu karena melihat papan nama Polsek yang terpampang, melainkan karena di kegelapan itu kami melihat sesosok tinggi besar nan gagah tapi ramah menyambut kami. Pak Rendra!

bercengkrama di pagi bahagia

Kunjungan pada pukul 03.30 dinihari itu disambut secara istimewa. Ada makanan, minuman, tempat tidur dengan bantal berjajar rapi, dan keramahan tulus yang terasa membius untuk memejamkan mata barang sebentar sebelum adzan subuh sayup terdengar.

Pagi merekah, dan kami mendapati beberapa sahabat Podjok dari Jogja yang kami kenal juga ada di sana atas undangan yang sama. Mereka tiba semalam. Suasana menjadi sangat meriah. Kami duduk-duduk di teras depan sambil tak henti-hentinya mengagumi detil bangunan rumah kayu Jawa yang di dalamnya berjajar banyak sepeda onthel langka berbagai merek dalam kondisi sangat istimewa.

berpose di kantor pos Teluk Jambe, sebelum singgah di rumah Mbak Henny

Dengan sepeda-sepeda itu pula, selepas sarapan kami diizinkan berkeliling menikmati udara Karawang, bahkan sempat mampir ke rumah seorang kenalan yang juga menyambut kami dengan luar biasa. Lelah berkeliling, barulah kami pulang ke Jalitri, ke rumah Pak Rendra Hernawa, sebuah pribadi yang dalam pandangan kami begitu kaya dengan minat. Minat yang dilakukan dengan sabar, riang, dan telaten.

saling mensupport, untuk pekerjaan maupun klangenan

Setiba di sana, Mas Yanto dari Duren Tiga dan temannya juga bergabung bersama kami. Dalam perjalanan ke Karang Pawitan, tempat hajatan onthelis nasional yang diprakarsai oleh Kosti pengda Jabodetabekkar dan mendapat support penuh dari pemkab serta pemkot itu, Pak Rendra bahkan sempat mengajak kami ramai-ramai mampir ke kebun jagung yang pengelolaannya menjadi tanggung jawab beliau selaku pejabat yang mendapat wewenang dari tempat beliau bekerja.

Hari itu merupakan persiapan akhir penyambutan tim Museum Rekor Indonesia (MURI) sehubungan dengan pemecahan rekor sebagai jagung termanis, pola penanaman terpadat, dan jumlah biji terbanyak dalam tiap tongkolnya. Tak hanya itu, kami semua mendapat kehormatan ikut memeriahkan acara memakan jagung manis mentah secara massal. Beberapa wartawan yang ada tampak keheranan begitu melihat pejabat yang akan mereka wawancarai hadir didampingi banyak orang berkostum aneh, kostum jadoel onthelis!

memenuhi undangan Karang Pawitan

Sesampai di Karang Pawitan, sepeda para onthelis sudah ditata rapi memenuhi lapangan. Di depannya disiapkan panggung hiburan untuk menampilkan penyanyi nan cantik-cantik, juga para penari yang siap memukau hadirin lewat goyang Karawang nan khas itu. Beberapa panitia duduk berjajar, sibuk mendata peserta-peserta yang masih berdatangan. Setidaknya tercatat ada 1700 onthelis yang mendaftar. Mas Oki ketua PASAK, meskipun terlihat lelah tetap menyambut kami dengan ramah.

pemanasan sebelum ngonthel

Jika kami tiba pada Sabtu dinihari, beberapa onthelis bahkan sudah datang sejak Jumat malam. Mas Hendra cs dari POL Lampung yang pernah mampir di Potorono pun datang dengan ngonthel. Begitu juga beberapa onthelis dari tempat yang sangat jauh menyempatkan datang bersepeda, seperti dari VOC Magelang, KOBA Jakarta, juga PSB Bandung, KOBBAR Padalarang, serta SOANG Subang. Semangat mereka sebagai onthelis sudah tidak diragukan lagi.

silaturahim di dunia peronthelan

Bagian yang tak kalah menarik dalam perhelatan onthelis semacam ini adalah klithikan. Selain tempat ini menjanjikan banyak kemungkinan bagi usaha pencarian kita melengkapi sepeda klangenan, di sini juga berkumpul sahabat-sahabat dari dunia peronthelan. Siang itu, kami bertemu Pak Heru Gondang, Mas Didik klithikan onthel, Orang pinggiran, dan banyak lagi yang saling memberi informasi keberadaan sebuah suku cadang.

tiada kata terlambat, selama angkot bisa dicegat

Hadir di sebuah acara semacam ini membuat kami benar-benar merasa terhubung dan menjadi bagian dari sebuah komunitas yang tampak begitu akrab bersahabat. Perhelatan ini, misalnya, juga melibatkan banyak komunitas sebagai penanggung jawab, karena perjalanan napak tilas Karawang-Bekasi ini dibagi dalam tiga etape.

Komunitas yang bertanggung jawab di Karawang (etape-1) adalah PASAK (Paguyuban Sapedah Antiq Karawang) dan BERKO (Bersama Komunitas Ontel). Di etape-2 ada POCI (Paguyuban Onthel Cikarang), sedangkan CONTRY (Community Ontel Tridaya) bersiaga di Tambun, dan di tujuan akhir Bekasi menjadi tanggung jawab POC (Prima Ontel Club), Kombet (Komunitas Ontel Bekasi Timur), BPO (Bekasi Poenya Onthel), serta komunitas onthel Pedaringan.

aneka gaya dan penampilan

Siang itu, bersama Mas Wiku putra bungsunya, Ibu dr Henny Rendra bertekad akan mendampingi rombongan. Bukan dari atas ambulance yang sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, tetapi ikut berbaur ngonthel bersama. Sebelumnya, beliau kembali memanjakan kami dengan menu makan siang yang nyamleng dan cocok untuk lidah orang Jogja. Makan siang bersama para sahabat dalam suasana akrab seperti ini sungguh sebuah kenyamanan yang sepadan dengan perjuangan kami untuk sampai di sini. Kenyamanan itu pula yang membuat kami terlambat.

aneka ekspresi kegembiraan

Saat kami datang, rombongan sudah diberangkatkan sehubungan dengan acara mendadak dari Bapak Bupati yang melepas rombongan. Untunglah Pak Rendra berpikir tangkas. Sepeda kami masukkan ke dalam angkot, dengan instruksi khusus mengejar rombongan!

Oleh karena temanya napak tilas, maka perjalanan yang harus ditempuh para onthelis pun bukan lagi perjalanan bernyaman-nyaman di tengah indahnya panorama alam. Karawang-Bekasi kini telah menjelma sebagai kawasan industri dengan lalu-lintas kendaraan angkutan yang begitu padat.

nikmatnya menyelesaikan tantangan

Selain oleh semangat napak tilas, para onthelis melakukan perjalanan ini dengan kegairahan tinggi menaklukkan tantangan, menorehkan kenangan, sambil memaknai arti persahabatan, sesuatu yang membuat kami tak pernah menyesal datang ke Karawang!

*
Terima kasih tak terhingga untuk Pak Rendra Hernawa beserta Ibu dr Henny Rendra, dan Mas Wiku atas sambutan yang hangat. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan.

Salam hangat selalu untuk teman-teman Podjok Jogja dan buat Mas Yanto atas kebersamaannya.

Terima kasih juga buat Mbak Henny (yang ini bukan Bu Rendra) dan keluarga.

Salut buat panitia NTKB. Khusus buat Mas Oki, maju teruuus!

57 responses to “Berakit-rakit ke Hulu, Bersenang-senang di Karawang-2.

  1. Tiada kata yang terindah, selain kita bisa bersilaturahim, berjabat tangan, bertatap muka, bertegur sapa.

    Sangat lah merindukan kebersamaan dimana pun kita berada,,

    salam OPOTO,
    salam Pak Noer

    • Terimakasih banyak, Mas Oki. Salut untuk pengorbanan dan keterbukaan Mas Oki dan teman semua di Karawang dalam menerima ribuan tamu onthelis dari seluruh pelosok negeri, termasuk Potorono.🙂

  2. Wah.. mas Noer.. saya yg sangat berterima kasih atas kerawuhan penjenengan dan kerabat pojok Mas Towil cs dan juga mas Giyanto Durti wartawan real estate.. kami sekeluarga mhn maaf krn tdk bs optimal dlm penyambutan.. dan hanya sangat ala kadarnya.. bahkan Mas Noer “terpaksa” harus istirahat diatas sehelai tikar di beranda…hehehe
    Ohya mas Noer anak saya Wiku Soma seneng banget fotonya ” nampang” di blog OPOTO katanya salam buat om Noer..

    • onthelpotorono

      Kami yang berterima kasih karena Pak Rendra sekeluarga sudah mewadahi kebersamaan kami semua.

      Mas Wiku, salut. Semuda itu sudah punya “gaya”. Hehe… sukses selalu.

      Pak Dhe Yanto, di mana gerangan ya? Semoga sehat-saja…

  3. keterlambatan dalam hal penyampaian kata kami adalah bukan kesengajaan tapii menunggu hari yang tepat untuk mengucapkan MATUR NUWUN yang tiada tara kepada sang penulis yang pasti pak HERNAWA RENDRA dan ibu mas wiku juga,
    semua kami dapatkan semua telah di berikan kami yang belum bisa membalas yang terbaik tapi jika sempat ke jogja pasti ngonthel bareng yang kami suguhkan..kulineran pasti.
    nuwun jagung jagungnya maanis banget semanis penyambutannya…dan terimakasih kepada panitia yang solid dan apik dalam banyak hal terus berpacu terus kita saling belajar
    salam onthel salam podjok jogja

    • onthelpotorono

      Kisah jagung manis itu juga penuh kenangan. Saya Minggu pagi masih di Bekasi ditelepon dari rumah: konon Pak Darsono Podjok berbaik hati membawakannya ke rumah, jadi orang rumah pun tahu rasa ajaib ‘buah jagung’ itu. Maturnuwun Pak Dar, Mas Towil, dan teman-teman Podjok.

  4. Ndalem Rendraningratan memang benar-benar klasik, antik dan menawan… tinggal dilengkapi dengan dayang-dayang cantik he..he..he..

    • Mohon doakan Pak Sahid, semoga kami mendapat kesempatan berkunjung ke ndalem2 yang lain, tak harus di luar kota, tapi dengan koleksi-koleksi yang juga ngedab-edabi…🙂

  5. Erwin Erlangga

    Ehmmm.. baru ini liat Wongeres pake celana panjang.. 😆

  6. @ kebalik pak Sahid..adanya jadul ,tanpa pakem dan asal asalan….tapi kalau dayang dayang cantik…ehmmm…boljug tuh…hehehe.. andai sweefiets yg du Golodiningratan ada di krwg pasti tambah adem….hehehe
    @ mas Erwin.. mas Wong.. dari datang udah bercelana kok dalam berkelana..

  7. Bagus Kurniawan

    Angkat jempol dan topi buat Mas Noer yang sudah keroyo-royo tindak menyang Kerawang untuk bertemu Pak Rendra the oribikes. he he he. salam Onthel untuk pesaduluruan

    • onthelpotorono

      Sebenarnya ya nggak sampai keroyo-royo. Itu cuma karena minimnya jam terbang, kali ya. Mas Bagus, lha kita sendiri kapan sempat ngonthel barengnya?

  8. Sungguh suatu keajaiban dan anugerah yg tdk terkirakan, bisa silaturahmi dgn sedulur dari Karawang di Ndalem Rendran… Apalagi ada sedulur OPOTO (mas Nur) yg selalu indah dlm tulisan dan lisan…
    Juga selamat buat panitia Karawang-Bekasi, acara yg tdk hanya bermuatan historis & heroik, namun juga sehat & nikmat…
    Semoga kita bisa bersua kembali di acara onthel yg lain utk bisa bersulaturahmi lagi…

  9. Bagus Kurniawan

    Mas Noer, saya manut, minggu besok juga boleh nanti dikabari mau kemana, saya ngikut saja rutenya

  10. @ Butuh waktu yang panjang untuk bertemu dengan Den Mase Rendra, Wongeres Opoto, dan sahabat Podjok. Dari sekedar ngobrol di blog Opoto hingga bersua dengan sahabat yang luar biasa ini. Terimakasih sahabat…

    Ngonthel dari Karawang ke Bekasi memang perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Butuh stamina yang bagus dan sering latihan ngonthel, agar tak jatuh sakit karena kelelahan.

    Salam dan hormat saya tuk Den Mase Rendra dan keluarga, Pak e Tole Wongeres dan Potorononya, Serta Mas Towil dan Podjoknya.

    Neng Bekasi numpak onthel, Duh aku tengel-tengel….hehehehe

    • onthelpotorono

      Salut untuk Den Mas Durti. Sudah jauh-jauh datang, tekadnya ya harus ngonthel! Bahwa setelahnya lalu butuh istirahat untuk memulihkan stamina, itu perkara lain. Haha…

      Perkara itu akan kami ceritakan di cerita petualangan Opoto berikutnya setelah ini. Jangan kapok, Pak Dhe!

  11. nentremke ati…hangat dan bersahaja…
    tapi saya masih penasaran dengan “tetangga”nya mas rendra ini yang konon juga “ngedap-edapi” kok ga diupload to mas nur…xixixi, mas towil nyesel je,, hehehe….btw jeng henny iku sopo to mas…??

  12. kring kring kring………….masih enak disimak, dan masih migunani { kata mas towil Podjok }
    yg spt Werkudoro pegang jagung itu Mas Rendra to,…kalo mahe kostum jerman ……..huaduh ….Hitler is comeback
    jan tenan lho mas, nyuwun ngapunten

  13. untuk den mas bejo…mbandung juga kota penuh kenangan,
    itu tetangga sebelah mas, jadi ndak usah khawatir dalam banyak hal hehehehe satu hal wae tetep migunani kagem sedaya.
    untuk wongeres hmmm sampai ku di tilpon yaaaa ini pak jika sebuah perjalanan panjang nan indah penuh warna warni kayak lampu kota hmmmm

  14. bener mas nur, jawabane mas towil tetep misterius…hahahaha…tetep ngeda-ngedapi tenan….
    -bejo-

  15. @mas Heri..hitler kok mangane mendoan sama sroto kecik sokaraja…hehehe

  16. Lha wong kumisnya lebih lebat, seleranya juga lebih komplit plit…🙂

  17. om jhoni bejo tenan massss ku kekerawang tak salah pilih jan dapat yang manis manis kayak tebu ,antepeng kalbu..kemanisan bisa di setel sesui selera yang ada padu padankan imanjinasi y tinggi setinggi awan walau kadang gelap kadang biru kadang mendung,itulah pertanda alam semesta kita jalani saja

  18. @mas Wong …sesama pekumis dilarang saling mendahului….tunggal guru ojo ngganggu…wuakakakak…

  19. Kalau melihat postur badan, Pak Rendra mungkin lebih cocok jadi Stalin daripada Hitler…sepertinya belum ada onthelis pakai kostum Rusia…tinggal kumisnya dipanjangin sedikit biar bisa “mlengkuwer”..he..he..he..

  20. @ pak Sahid…kalau ada kostumnya boljug tuh…hehehe… talin gosong boleh kan….

  21. Sendika dawuh Kamerad Rendra…he..he..he..

  22. @ mhn doannya semoga banjir karawang segera surut..sementara 8000 rmh terendam dan ribuan pengungsi kekurangan bahan makana dan pakaian bekas.. puluhan onthelis Pasak da Berko juga terendam..

  23. onthelpotorono

    Kami semua ikut prihatin atas musibah banjir kiriman yang melanda Karawang, konon akibat dibukanya pintu air Jatiluhur. Apa pun penyebabnya, semoga banjir Karawang segera surut, dan antisipasi ke depan bisa dilakukan.

    Pak Rendra, kabarnya Masjid Puri Teluk Jambe juga mulai tergenang? Bagaimana situasi persisnya?

  24. @mas Noer..bener mesjid raya puri telukjambe sebagai posko ungsian berisi 400 KK saat ini masih dikepung air..konon waduk jatiluhur sdh siaga 1 dan alt pembuangan hanya lewat citarum saja krn kalau lewat kalimalang bs berdampak ke jkt…?????
    Mentari dilangit cerlang emerlang tapi ironisnya air melimpah hingga keatap rumah… konon DAS Citarum memang kodisinya terburuk di Indonesia akibat penggundulan hutan yg semena mena..
    saat ini kondisi pengungsi sangat memprihatinkan krn memang tdk ada harta yg bs diselamatkan… apalagi kondisi anak anak… matur nuwun doa dan suportnya .salam dai Karawang.

  25. Kami di Jogja turut prihatin…semoga banjir lekas usai…Saya heran mengapa Indonesia selalu mengalami hal demikian, selalu harus terjadi bencana dulu baru orang mulai sadar bahwa kelestarian dan keanekaragaman lingkungan hidup harus dijaga…Dan ini terjadi setiap tahun…

  26. turut prihatin dan semoga banjir cepat surut serta semoga pemerintah daerah setempat bisa cepat cepat mengatasi musibah ini

  27. Mas Rendra dkk semua, kasus meluapnya waduk Jatiluhur mirip kejadian tahun 2008 saat luapan banjir Bengawan Solo mulai dari wilayah Solo sampai Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik akibat dibuka pintu air dengan alasan dinding waduk sudah tidak kuat lagi. Memang waduk sudah tua dan pasti banyak endapan, seharusnya kalau mau dibuka harus koordinasi daerah yang mau dilewati sungai Citarum tp petugas waduk diam saja akibatnya daerah hilir seperti Kerawang kebanjiran. Ayo kita bantu saudara kita yg terkena bencana. Cancut Tali Wanda, ayo ndang kerja bantu tenaga yang bisa

    • onthelpotorono

      Iya Mas Bagus. Dalam banyak hal kita sering tidak mau belajar dan mengambil hikmah dari pengalaman orang lain. Kita sepertinya hanya mau percaya pada pengalaman sendiri. Itu pun harus beberapa kali untuk kasus yang sama, sampai kita yakin betul. Dan ketika kita yakin itu, keadaan sudah begitu parah sehingga semakin sulit dikendalikan.

  28. @ leres pak Sahid ,mas Bagus dan mas Wong…. sayangnya pengalihan fungsi hutan lindung di hulu Citarum menjadi kebun strawberry dan villa sampai saat ini msh berlangsung….dan tidak ada tindakan tegas dr yg berwenang.. tobaat tenan.. padahal kalau waduk Cirata.. Jatiluhur jebol seluruh kota jabar dan jakarta akan terekena dampaknya…. apa perlu ada gerakan class action oleh penduduk hilir yg kebanjiran kepada negara ya…hehehe

  29. Pak Rendra, saya setuju lakukan clas action dengan alasan pemerintah lalai. Dulu waktu Bengawan Solo meluap, yg disalahkan Kesbanglinmas msg2 Pemkab, apa nggak konyol, mrk hanya memitigasi bencana dan melakukan preventif. Th kemarin pas acara ktr di sktr Purwakarta dekat waduk memang ada pengalihan fungsi hutan. Saya jg kenal salah satu pengelola waduk jatiluhur yg kebetulan asalnya org yogya, memang tdk bisa berbuat byk ketika dinas kehutanan dan pemkab memperbolehkan alih fungsi lahan. Padahal namanya waduk itu bangunan mati.

  30. @nah itulah mas Bagus…salah satu contoh betapa carut marutnya pengelolaan lahan dan hutan kita… para pakar memprediksi bahwa pulau Jawa ahun 2016 akan kehilangan sumber air tanah krn menipisnya populasi pepohonan.. saat ini menurut data hutan di Jawa hanya tersisa 22% ( idealnya minimal 30 %).. artinya selama 5 thn ini kita harus menanam 2 milyar pohon utk mencapai batas minimal… kalau tdk ada gerakan hijau di Jawa maka bs dipastikan anak cucu kita akan import air minum dari luar jawa atau minum air laut sulingan… sementara Jawa siap2 jadi padang rumput gersang yg slalu kebanjiran di musim hutan…. nightmare…..

  31. Beberapa pakar sejarah Ind, 20 th lalu sudah bicara kalau Pulau Jawa akan jadi Pulau Kota. Ternyata perkiraan mereka benar, sepanjang Pantura sudah tidak ada sawah, tegalan atak tambak lagi, Yg ada sawah dadi omah. Rumah sudah sambung-menyambung berderet-deret sepanjang jalan. Di Yogya juga seperti itu, dulu sepanjang Jl Solo sampai Klaten, Jl Wates sampai Sedayu, UGM sampai Kaliurang ada banyak sawah, sekarang sawah dipangan omah.

  32. @ mas Bgus… padahal wong ngomah mangane soko sawah…. nek sawah dipangan omah njur tutuge piye to…. ” amenangi jaman edan yen ora melu edan ora keduman… bejo bejane wong lali esih lewih bejo wong kang edan” …..nek ngono… hehehehe…wis jan ora nggenah…. ki Ronggowarsito lan Joyoboyo pancen jalmo linuwih….

  33. Leres, ramalanipun RNg Ronggowarsito dan jangka Jayabaya. Dalam perputaran roda sejarah, sak meniko taksih jaman kalabendhu. Sak begja, wong lali, isih begja wong edan ning kuwasa.

    Yang menarik teman saya di Belanda sekarang justru menganut Agami Jawi dgn memakai kita Jawa Kuno berbahasa Kawi zaman Jayaboyo. Justru di Indonesia malah tidak ada pengikutnya

  34. @ sebetulnya di Jawa pesisiran selatan dari tlatah madiun sampai cilacap msh banyak mas penganut agami jawi.. tapi saat jaman ORBA dulu kan semua dilarang… akhirnya ya pelan pelan punah…lho kok malah ngrembug agama to mas…hehehe
    btw penjenengan domisili jogja atau bantul mas..

  35. Saya tinggal di Yogya. He he he, Betul, malah ndladrah, tapi itulah menariknya Agami Jawi itu, saya 2 th lalu sempat bertemu tokoh agami Jawi di Leiden, ternyata asli Kediri, Jawa Timur. Dia sempat menemukan beberapa salinan kitab asli yg tersimpan di Univ Leiden. Terus dari penelusuran folklore (cerita rakyat) di wil pesisir selatan, Wonogiri, Gunung Kidul sampai Cilacap ada byk cerita yg menggambarkan kisah pelarian org-org Hindu Majapahitan krn serangan Islam. Ini Just Intermezzo

  36. @ intermezo perlu kok mas biar ga spaning…hehehe… minggu lalu sy sempat mondar mandir bantul jogja lho..tp tdk sempat kontak temen2…. acara Jogja Onthel juli ya mas..salam

  37. Kasinggihan, Mas Rendra. Kita tunggu kerawuhanipun. Bulan Juli ada banyak event di Yogyakarta, mulai acara teman-teman Podjok, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) hingga Muktamar Muhammadiyah plus liburan sekolah yg membuat Yogya bulan Juni-Juli hotel full booked.

  38. onthelpotorono

    Pak Rendra, itulah yang kira-kira akan membuat betah ngobrol dengan Mas Bagus yang sok majenun ini. Mau ngalor, ngidul, ngetan, atau ngulon Mas Bagus siap menemani dengan aneka cerita dan paparan fakta. Ada fotonya, lagi. Termasuk soal agama ageming aji itu ya Mas Bagus?

    Mas Bagus termasuk yang harus hadir 22 Mei nanti di TBY (concert hall). Konser Rakyat Leo Kristi.

  39. Batul, Mas Noer. Kita sudah kangen sama konsernya Leo Kristi, terakhir nonton tahun 2000 di Purnabudaya.

  40. Kok ga ketemu DAS Citarumnya Bos? Kayaknya acara Ok juga tuh. Langssung ketemu channelnya

  41. selamat dam sukses atas perjalanan sang komandan potorono dkk..menjelajah karawang plussss goyanganya hiii.hiii……

  42. Ping-balik: Sepeda Onthel adalah alat transportasi ? « Darmawan Blog

  43. @wah sekarang onthel fungsinya banyak banget pak.. sebagai alat transportasi, sebagai penyalur hobi dan klangenan,sebagai hiasan dan pajangan,sebagai alat ngumpul dan silaturahmi sesama penggemar dan komunitas, yg idealis ya sebagai alat dan sarana kampanye penyelamatan lingkungan ( mskpn kecil),bahkan ada yg memanfaatkan utk lahan bisnis…pokoke wis seabeg deh…hehehe… semuanya tergantung kita..

  44. Ping-balik: Sepeda Onthel adalah alat transportasi ? | Darmawan Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s