Menandai 2010: Ngonthel Bersama Walikota Jogja

Ada banyak cara menandai pergantian tahun. Beberapa orang ingin merayakannya dengan pesta sebagai ungkapan rasa syukur atas apa yang telah mereka dapatkan sebagai hasil jerih-payah mereka selama setahun ini. Beberapa lagi berpesta justru untuk menyongsong tahun depan dengan penuh optimisme. Akan tetapi, ada juga yang menghayati pergantian tahun ini dengan merenung, mengheningkan cipta, berdialog langsung dengan Sang Pencipta, menyampaikan doa dan harapan agar di tahun mendatang mampu menjalankan semua kewajiban sebagai makhlukNya.

gawat juga kalau bapak2 punya sepeda macam punya sahabat JOC iniπŸ™‚

Ibarat menempuh sebuah perjalanan panjang, orang kadang merasa perlu menandai jalan yang telah dilaluinya dengan thethenger seperti patok, atau bahkan tugu. Dengan penanda ini, diharapkan semua yang didapatkan selama perjalanan akan terpetakan dengan jelas sehingga memudahkan baginya memetik buah kearifan dari semua pencapaian tersebut. Bukankah patok-patok ini juga membantu kita semua untuk terus meningkatkan kualitas hidup kita secara terukur.

31 Desember 2009 lalu, kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) menandai pergantian tahun 2009/2010 dengan mengayuh onthel kami menuju Balaikota. Sejak siang, kami terus mengamati selembar undangan untuk bersepeda tengah malam di akhir tahun bersama Walikota. Undangan itu kami terima sehari sebelumnya, saat berbagai komunitas sepeda berkumpul atas undangan Dinas Pariwisata Jogja.

pelukan hangat Pak Walikota untuk Opoto, warga yang cinta sepeda

Seperti juga teman-teman komunitas lain yang tampak bersemangat, kami pun menghadiri undangan tersebut dengan mata berbinar. Mungkin saja Pak Walikota ingin menjajagi seberapa serius warga Jogja mau bersepeda. Jadi, inilah saatnya kami unjuk sepeda.

beberapa tokoh Podjok dan sahabat dari komunitas sepeda tinggi

Ternyata kami bukan orang-orang terbaik dalam hal kedisiplinan. Setidaknya, saat kami datang, sahabat-sahabat onthelis Podjok dan JOC, serta sahabat-sahabat onthelis lain yang kami kenal sudah lebih dahulu hadir di sana, lengkap dengan kostum dan pernak-pernik yang menambah semaraknya acara ngonthel malam itu.

Hebatnya lagi, Walikota Jogja, Bapak Herry Zudianto –yang malam itu mengenakan surjan– dengan sikap kebapakan menyambut kami dengan pelukan hangat. Penampilan sederhana serta sikap egaliternya ini segera membuat kami merasa nyaman. Agaknya, kebersahajaan yang kami saksikan ini adalah salah satu wujud keseriusan beliau membenahi Jogja Berhati Nyaman, termasuk memfasilitasi para pesepeda.

ucrit, unyil, usrok, semua terhibur. juga lala. halah, sopo maneeeh iku πŸ˜€

Setelah berbagai atraksi dan hiburan musik tergelar, dalam semangat kebersamaan, Walikota melepas kami semua untuk mengayuh sepeda kami menuju monumen Serangan Oemoem 1 Maret, mengawal perjalanan beliau yang justru ada di belakang kami. Sebuah iring-iringan sepeda yang serasa tiada putusnya.

malioboro penuh pejalan kaki, termasuk yang sambil menuntun sepeda

Meskipun sepanjang rute perjalanan sudah diamankan dari kendaraan bermotor, tetapi kerumunan sepeda dan pejalan kaki malam itu sungguh padat. Bahkan, setelah melewati Malioboro, jalan praktis benar-benar macet. Kami hanya bisa merambat pelan menuntun sepeda kami. Malam itu, warga Jogja sudah berkumpul di sepanjang tepi Malioboro hingga Jalan Senopati, tempat kami kemudian berhenti. Beberapa komunitas onthel, termasuk Opoto memarkir sepeda kami di selatan jalan, duduk-duduk sambil bersilaturahmi dengan sesama komunitas sepeda.

seteguk es teh dan sepenggal kenangan di beringharjo

Malam semakin larut, pejalan kaki semakin menyemut, memenuhi seluruh badan jalan, berjubel dan berhimpitan, bergerak menuju pusat keramaian. Beberapa personel Opoto mulai resah, bahkan panik. Kegelisahan yang luar biasa tak dapat disembunyikan dari wajah-wajah mereka. Kami butuh ruang, kata mereka. Bukankah ini ruang? Bahkan seluas ini? Iya, tapi ini mengerikan. Kita perlu keluar dari kerumunan. Kita cari tempat yang lengang. Yang sepi!

suasana jelang tahun baru: Gedung Agung dan monumen SO 1 Maret

Situasi benar-benar menjadi tidak terkendali. Tiga orang segera mengayuh sepeda mereka ke arah jalan Kusumanegara. Beberapa yang lain menjadi ragu-ragu, tetapi jelas ingin menyusul. Akhirnya kami semua pamit dan menyusul teman-teman kami. Pembicaraan baru bisa kami lakukan setelah kami benar-benar keluar dari kerumunan. Beberapa orang tampak terengah-engah. Bukan karena mengayuh sepeda, karena kami sudah terbiasa dengan perjalanan jauh, tetapi karena membayangkan padatnya kerumunan yang baru saja kami tinggalkan.

pesta pora di warung angkringan

Akhirnya kami sepakat untuk menenangkan diri di warung angkringan nasi bakar β€˜Nganggo Suwe’ di Kotagede. Beberapa orang tampak berkumpul di sana sambil asyik menikmati aneka makanan yang ada. Bukankah ini juga kerumunan? Beberapa orang hanya tersenyum. Kalau kerumunan angkringan kan kita sudah familiar. Kerumunan hidangan ini juga malah mengasyikkan, kata mereka sambil membuka lagi sebungkus nasi bakar, menambahkan beberapa lauk seperti sate, telor puyuh, ayam bakar, oseng-oseng keong, dan entah apa lagi. Kami perlu mengganti energi yang terbuang, baik karena ngonthel, maupun karena kegelisahan berada di tengah kerumunan.

Waktu semakin mendekati tengah malam. Kami segera bergegas meninggalkan warung, mengayuh kembali sepeda kami melalui pasar Kotagede, menyeberang jalan lingkar, melewati pasar Ngipik dan terus masuk ke persawahan, menembus kegelapan malam. Angin persawahan segera menyambut kami dengan hembusan perlahan, menerpa seluruh tubuh, menyegarkan jiwa-jiwa kami. Kami menghela nafas panjang sambil terus mengayuh dalam kebisuan. Agaknya semua tengah sibuk dengan angan masing-masing. Sementara di langit, bulan bulat-bundar menerangi perjalanan kami, meskipun gugusan awan yang lewat kadang membuatnya temaram. Hanya lampu-lampu sepeda kami yang terus menari-nari di sepanjang jalan dan pematang. Pendaran cahayanya menerangi punggung-punggung di depan kami yang bergerak naik-turun mengikuti kontur jalanan.

menu jelang 2010

Kebisuan dan keheningan itu baru terpecahkan ketika terdengar suara-suara kembang api dari arah kota. Orang-orang di kampung, dewasa maupun kanak-kanak, satu per satu keluar rumah, menikmati pemandangan tak biasa ini.

Bunga api warna-warni itu bermekaran susul-menyusul menghiasi langit malam, memberikan kontras di tengah keheningan dan kegelapan tempat kami berdiri. Ada kekhusyukan, ada harapan nun jauh di depan sana. Sebaris doa meluncur di bibir kami: semoga di tahun ini kami masih diberi kesempatan dan kemampuan memperbaiki kualitas diri, memberikan kemanfaatan di tengah kebersamaan kami….

*
Komunitas Onthel Potorono menyampaikan Selamat Tahun Baru 2010 kepada semua sahabat onthelis di mana saja berada. Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan.

33 responses to “Menandai 2010: Ngonthel Bersama Walikota Jogja

  1. wah pertama maneh!….
    itulah bedanya tahun baru di yk, semua ada…baru kali ini ada kemacetan karena sepeda..dan opoto terlibat di dalamnya.

  2. Dan baru nyadar bahwa kita ternyata pada megap-megap di tengah keramaian! Haha… yo wislah, balik kampung maneh…πŸ™‚

  3. Mas Noer.

    Lagi-lagi saya membaca sebuah biografi tokoh publik lokal yang membumi. Cermin kepemimpinan yang penuh harapan.

    Berkat komunitas Opotho dan blongnya ini, pemimpin lokal ini sudah mengglobal. Bahwa kisah-kisah yang oleh banyak orang diaanggap “kecil” sesungguhnya tidaklah sepele. Bahkan penting. Justru ini muncul di tengah keringnya ide-ide dari para pemimpin publik kita untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri mereka — entah dalam kapasitas tugas sebagai pelayan publik maupun agenda pribadi yang sesungguhnya juga sangat sah dan halal.

    Melalui panjenengan, saya ingin nitip salam buat Walikota Jogja, Bapak Herry Zudianto. Salam dari kampung Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

    Semoga suatu saat bisa main ke sini, dan mengajak Walikota atau Pejabat Publik di sini ngontel seperti yang di Jogja.

    Nah, ini hebatnya lagi. Kesimpulan saya setelah membaca tulisan ini juga jadi bingung. Saya bertanya: sebetulnya yang jadi pemimpin ini siapa ya?

    Antara si Onthelis bloger ini dengan Pak Wali itu, kok dua-duanya PEMIMPIN.

    Salam
    AA

    • Mas Anab, sebagai walikota, Pak Herry Zudianto ini merupakan salah satu figur pemimpin yang merakyat. Di kalangan onthelis Jogja, rasanya kehadiran beliau telah memberikan angin segar.

      Soal kepemimpinan, kalau Mas Anab sempat bergaul dengan para Opoters mungkin akan lebih heran lagi. Soalnya, di sini semua orang adalah pemimpin! Hehe… Pemimpin itu amanah lho, bukan anugerah. Kadang yang lagi kejatah jadi pemimpin harus menentukan rute perjalanan yang menarik, dan wajib melintasi warung soto yang enak dan murah. Lha. Repot, kan?πŸ™‚

      • Mas Noer,

        Kalimat penjenengan itu adalah “bahasa rakyat dusun Potorono” dalam menerjemahkan kalimat indah nan abadi sejak 1300 tahun lalu, di jaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang saya peroleh dari seorang kyai ndeso di pinggiran kali kumuh di Solo.

        Ketika pemimpin sejati ini dipercaya memimpin, dia berbicara langsung di depan rakyatnya begini:

        “Wahai manusia (tidak mengatakan wahai orang-orang Islam)… Aku telah terpilih menjadi pemimpin kalian dan BUKANLAH AKU YANG TERBAIK DIANTARA KALIAN. Jika aku salah MAKA LURUSKANLAH. Namun JIKA AKU BENAR IKUTILAH”.

        Bahasa aslinya demikian:
        “Ayyuhan-naas. Qod wulliitu fiikum. Walastu bikhoirikum. Wa in asa’tu faqowwimuunii. Wa in ahsantu fat-tabi’uunii…”.

        Setelah pidato. Tiba-tiba majulah salah seorang rakyat dan lantang berbicara:

        “Wahai Umar, kalau kau kelak tidak benar (menghianati rakyat), maka pedangku inilah yang akan meluruskan mu”.

        Sang khalifah hanya tersenyum teduh.

        Dalam catatan sejarah, sampai akhirnya hayatnya pemimpin sejati ini tidak pernah merasakan sedikitpun cemoohan apalagi goresan pedang dari rakyatnya yang ingin mengadili jika salah.

        Dia tetap dikenang, dan dicintai sampai hari ini. (Kemarin saya baca berita ada seorang pemimpin negara yang dilempar batu hingga rahangnya retak karena suka melakukan skandal).

        Saya yakin, itu tidak akan terjadi di negeri ini.

      • onthelpotorono

        Maturnuwun, Mas Anab. Semoga sikap itu selalu mampu kami tauladani.

  4. walikota Jogja dan wali opoto sama sama hebat.. salam

    • Itulah hebatnya Pak Walikota, bisa membuat warganya tidak minder ketika berdekatan dengan beliau.

      Waduh, Pak Rendra kok tumben komentarnya buru-buru ya. Pasti mau nyamperin stang BB nih…πŸ™‚

  5. temen2 kok tumben ora NYOTO… tp malah ngangkring..hehehe

  6. Kang Wongeres…terima kasih banyak…potret Kerabat Podjok sudah ikutan dimuat he..he..he..

    • Wah, iya Pak Sahid, malah belum minta ijin ya. Kalau tidak menampilkan para tokoh ini bisa-bisa kuwalat nanti. Hehe…

  7. seperti membaca cerita naga sasra dan sabuk inten kalau membaca repotase teman-teman opoto, mohon maaf tahun baru terpaksa tidak bisa menikmati kota jogja tercinta krn musti segera ke jakarta.

    • Ck…ck..ck… Begitu matahari 2010 terbit langsung dapet job ya Mas Faj. Alhamdulillah, kami ikut senang. Sebentar lagi bisa nambah nih koleksi onthelπŸ™‚

  8. wah..wah..wah.. perjalanan yg mengasyikkan di saat yang khusus, pasti menjadi memori yang indah untuk diceritakan ke anak cucu kelak tentang bagaimana bertemu pemimpin daerah, bersepeda ditengah malam pada tahun baruan plus menikmati nasi bakar angkringan … nyammm, yang saya salut kepada Opoto adalah anggotanya masih mau ngontel hampir setiap minggu padahal rutenya juga bukan jarak dekat, selamat tahun baru 2010 dan sukses selalu untuk Opoto.

    • Iya, Mas Dhony. Yang sebenarnya adalah, di luar yang tiap Minggu pagi itu, teman-teman masih suka pada ngajakin ngonthel malam. Biasanya kalau lagi pada kelaparan. Hehe…

      • andai saya tinggal di Potorono mungkin bawaanya heppi terus kali ya, lha piye …. ada banyak teman di Potorono yang terus semangat ngontel, ini berkondisi terbalik dengan saya, saat ini banyak teman ontelis rungkut surabaya yang pada “mrotoli”, selain itu tetangga rumah lebih memilih MTB, walhasil setiap ada event funbike cuman saya yang pakai sepeda kuno didaerah saya.

      • onthelpotorono

        Kenapa tidak, Mas Dhony? Potorono masih banyak rumah kosong lho. Haha…

        Sebenarnya sepeda apa pun baik saja asal sesuai penggunaannya. Kalau bagi yang sudah tidak muda lagi sih, bukan lagi untuk olah raga prestasi, kata para pakar kesehatan lebih baik yang posisi stangnya tidak membungkuk. Sepeda onthel kuno, salah satunya. Apalagi pernak-pernik hobby yang satu ini begitu mengasyikkan. Kalau hasilnya bagus, moga saja tetangga juga lama-lama jadi pengin.

        Ngomong-ngomong, tetangga saya juga ada yang mulai lebih sering pegang kanebo daripada gombal-semir. Hahaha…πŸ˜€

  9. Sebuah cerita yang cukup menyentuh kita penggemar onthel pada umumnya, di saat semua orang berkumpul dalam hingar bingar tahun baru kita onthelis lebih baik menyendiri untuk lebih memaknai apa arti pergantian tahun dengan tetap ngonthel dan bersatu dengan alam yang sunyi. Indah sekali selamat untuk Potorono yang mempunyai onthelis2 sejati semoga tambah jaya di kemudian hari amien

    • Wah, sebenarnya itu persoalan lain. Lha kami ini ternyata pada phobia dengan kerumunan yang luar biasa dahsyat itu. Hehe… (hayo teman-teman pada ngaku)πŸ˜€

      Terima kasih doanya. Sukses juga buat Mas Wahyu ya…

  10. Selamat tahun baru buat Mas Nur & semua rekan2x OPOTO.
    Senang sekali kita bisa bertahun baru bersama dgn Pak Wali/Wawali, Dandim, Pemkot dan semua komunitas sepeda yg ada di Jogja, serta masayarakat umum.
    Semoga tahun 2010 sbg awal kebangkitan kembalinya sepeda sbg alat transportasi utk segala aktivitas di Kota Jogja.
    Bravo sepeda onthel & SEGO SEGAWE…
    Mari kita tularkan virus onthel di segala penjuru dunia…

  11. Senang sekali rasanya bisa ketemu utk bertahun baru dgn Mas Nur dan semua rekan2x dari OPOTO, dlm rangka menyambut thn baru di pusat kota Jogja (km 0). Bangga dan kesan yg sangat mendalam manakala bersepeda bersama Pak Wali/Wawali, Dandim dan semua komunitas sepeda di kota Jogja.
    Semoga thn 2010 akan semakin bnyk masyarakat yg menggunakan sepeda utk berbagai aktivitas. Bravo sepeda, bravo SEGOSEGAWE…

  12. Mas Bagus, kami juga selalu senang setiap kali ada kesempatan kumpul-kumpul. Wacana kita waktu bersama Bu Lia di Dinas Pariwisata untuk bikin acara rutin ngumpul lintas komunitas itu mungkin baik diwujudkan ya.

  13. Memang, memang Opoters Phobia dengan keramaian.
    Ku bener2 sumpek pol pada waktu itu. ditambah lagi pada waktu macet di Malboro tangan ku kecepit rem, garesku kejedut jagang, dan ban roda depan melesek gara2 keunduran onthel lain.
    Tapi Btw ya asyik aza lah buat pengalaman.

    @Dhony
    Monggo mampir ke Potorono.

    • Matur nuwun undangannya Kang Erwin, saya memang pingin banget silaturahim ke Potorono sambil celingak celinguk maybe ada rumah idaman yg bisa diharapkan jd tempat pensiun kelak … :-)) habisnya saya merasa kesepian ditengah keramaian

  14. Iya tuh, malah traumanya sampai sekarang, masih pada belum nongol. Apa perlu dikompres kanebo ya?πŸ˜€

    • Wah, Kang Nur nyemoni … untung bukan saya yg di maksud … he..he..he.. ngapunten sak derenge

      • onthelpotorono

        Itu beneran lho. Untung nggak sampai teriak histeris. Padahal persiapannya “direwangi turu ora bisa mangan, mangan ora bisa turu…”

  15. Akhirnya dari jauh kami ucapkan “Sugeng Warso Enggal 2010 mugi gampil ingkang sarwo ginayuh”. Kali ini bahasanya sangat religius, runut, dan sangat menarik alur ceritanya. Gak usah panjang lebar commentnya yang jelas jadi kepingin ketemu sama warga OPOTO! ada rencana hadir diacara Bandung Lautan Asmara…E..e salah ngapunten Lautan Onthel!

  16. Sugeng warsa enggal, Pak Prayogo. Matur nuwun. Ini baru mau dibahas dengan teman-teman, apakah pada bisa hadir di acara onthel yang pasti menarik ini.

  17. Sugeng tepang Pakde/Paklik/Mas…
    Komunitas yg luar biasa…
    Tiap pulang ke Jogja, saya selalu meluangkan waktu tuk pit2an menyisiri pinggiran Jogja terutama mbantul..
    dulu saya pernah berpapasan dengan komunitas ini..muantabbb…!!
    btw, gmn yach cara join-nya.mungkinbesok pas ke jogja bisa join ngonthel bareng! hehehe…
    nuwun

    • Salam kenal juga, Mas Shariv. Komunitas ini memang muantaf karena di dalamnya banyak pria berbobot alias agak-agak kelebihan berat badan. Haha… Tapi yang penting kayuhannya tetap jos, kan?πŸ™‚

      Kami biasa ngepos di Puri Potorono Asri, jalan Wonosari km 8,2 (masuknya pas dekat servis dinamo), di rumah Mas Tono (08122719111).

  18. OK Om,,,,
    besok, aq kalo ke jogja ikutan ngonthel bareng yach,….πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s