Kendaraan Tradisional: Mengakrabi Sunyi, Memperkaya Hati

Menurut kesaksian orang-orang tua, kehidupan di bumi ini dahulu tidaklah segaduh sekarang ini. Konon, di tengah keheningan malam hingga dini hari, dahulu mereka bisa mendengar ‘kegaduhan’ yang dipercaya sebagai suara aktivitas manusia dari belahan bumi yang lain, yang saat itu tengah mengalami siang hari. Benar atau tidak, begitulah yang mereka yakini.

mengunjungi Pak Paidi dan Pak Jiono, pembuat kereta kuda

Dahulu, kendaraan bermotor boleh dibilang belum ada. Industri rumahan masih dikerjakan secara manual atau dengan bantuan tenaga binatang. Aktivitas malam hari pun sangat terbatas sehingga pukul 21.30 sudah masuk wayah sepi wong. Artinya, pada jam-jam tersebut orang sudah jarang yang berkeliaran. Oleh karena itu, sebuah pergelaran wayang kulit akan menjadi saat istimewa dan suara gamelannya akan terdengar ngaluk-aluk hingga ke pelosok dusun. Bahkan, menurut cerita, setiap kali gamelan Keraton Jogja yang bernama Kyai Guntur Madu ditabuh sebagai bagian dari prosesi perayaan Sekaten, masyarakat di lereng Merapi saat itu pun akan mendengarnya, lalu berduyun-duyun mendatangi keramaian yang ada.

Sekarang dunia sudah sedemikian gaduh, bahkan bising. Kebisingan pun menjadi gaya hidup kita sehari-hari. Orang begitu masuk rumah langsung menyalakan televisi. Masuk mobil langsung memutar CD. Menganggur sebentar saja langsung menelepon teman. Bahkan saat bersepeda atau berjalan kaki pun orang sambil mendengarkan lagu dengan earphone. Padahal, rasanya kita perlu sesekali mendengar suara alam, bahkan suara keheningan, karena kepekaan, kearifan, biasanya lebih mudah kita temukan di keheningan.

kereta kuda setelah dicat dan diperbaiki

Itulah sebabnya Minggu pagi, 20 Desember 2009 lalu komunitas Opoto (Onthel Potorono) berangkat ngonthel pagi-pagi, saat hari masih sunyi dan udara masih bersih. Sepeda onthel, atau apalagi dokar dan andong yang tidak bermesin sebenarnya bukannya tidak meninggalkan bunyi sama sekali. Akan tetapi, bunyi yang dihasilkan oleh transportasi tradisional ini rasanya begitu berirama dan selaras dengan alam.

Di Jogja, transportasi tradisional masih banyak digunakan. Bahkan, saat ini masih saja bermunculan pengguna baru transportasi tersebut, meskipun dengan motif penggunaan yang agak berbeda. Sepeda onthel misalnya, selain di pedesaan masih sangat banyak ditemui, di perkotaan pun kembali banyak digemari dengan motif agak berbeda,  antara lain karena kesadaran berkait isu lingkungan.

proses pembuatan kereta di bengkel Pak Paidi

Begitu juga dengan andong. Pelanggan andong pun bukan melulu pengguna lama seperti para penjual sayur di pasar yang hingga kini setia menggunakannya, melainkan juga para pelancong yang ingin bernostalgia. Belakangan, kereta yang ditarik 4 hingga 6 kuda  juga banyak dipesan sebagai klangenan pribadi maupun sebagai ikon pada acara tertentu, misalnya dikeluarkan saat kirab hari jadi sebuah kota, dsb. Jika satu dua bengkel sepeda onthel saat ini masih bisa ditemui, lalu di mana bengkel dan pembuat andong serta kereta kuda yang masih tersisa?

Rasa penasaran kami itu telah membawa kaki kami mengayuh sepeda onthel kami hingga ke dusun Jetis, desa Patalan, kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta. Di desa yang hening itu kami mampir ke rumah Pak Paidi (52 tahun), seorang pembuat kereta kuda dan andong yang telah menjalani profesi tersebut secara turun–temurun. Mbah Pawirorejo, kakeknya, dahulu adalah seorang pembuat kereta di Timuran. Kepandaian kakeknya itulah yang kemudian diwarisi oleh ayahnya, seorang abdi dalem Keraton Ngayogyakarta yang mendapat anugerah gelar Mas Bekel Joyodiharjo. Kini, sebagai generasi ketiga, Pak Paidi juga tercatat sebagai abdi dalem Keraton dengan gelar nama Lurah Rotopawiro.

Pak Paidi alias Lurah Rotopawiro dan “three mas kusir”

Di rumah berhalaman luas dengan area bengkel di salah satu sudutnya itu Pak Paidi bekerja dibantu keempat saudaranya yang kesemuanya laki-laki, yaitu Pak Sugeng, Pak Sumardi, Pak Sugiman, dan Pak Jiono. Saat Opoto ke sana, Pak Paidi telah selesai merestorasi sebuah kereta pribadi, mulai dari mengganti roda hingga mengecat bodinya. Sementara di bengkel, sebuah pesanan pembuatan kereta baru tengah dikerjakan. Di sudut halaman lain, sebuah andong juga menanti direparasi.

yang mana tuan rumahnya, coba?

Untuk membuat kereta baru, Pak Paidi membutuhkan waktu lebih kurang 4 bulan. Sedangkan kalau hanya merestorasi, waktu yang diperlukan akan lebih singkat. Kereta-kereta pesanan itu biasanya hanya mengacu kepada model kereta koleksi keraton, hanya detailnya biasanya disesuaikan selera pemesan. Model yang paling banyak dijadikan acuan adalah kereta Kyai Jongwiyat dan Kyai Wiwanaputro.

Sebelum memulai pembuatan kereta, Pak Paidi akan melakukan selamatan sekedarnya dengan menyediakan pisang raja. “Itu hanya ungkapan doa kepada Yang Kuasa, mohon agar kendaraan ini nantinya bisa dimanfaatkan dengan baik, dan semua perjalanannya kelak dapat ditempuh dengan selamat”, jelas Pak Paidi.

menyimak suara alam

Ketika kami mendesak, apakah pernah bersentuhan dengan hal-hal aneh selama menangani kereta-kereta tersebut, Pak Paidi akhirnya mengakui bahwa sepanjang pengalamannya, ketika sebuah kereta selesai dibuat, biasanya selalu ada unsur lain yang bergabung dengannya. Ketika ia mereparasi andong pun pernah mengalami kesulitan yang semestinya secara nalar tidak perlu terjadi. Misalnya, ada pijakan kaki dari besi yang bengkok dan begitu sulit diluruskan. Lama-lama Pak Paidi pun mahfum dan menemukan cara menanganinya. “Bahkan dari warna besinya saja lama-lama saya bisa membedakan kalau ada hal yang tidak sewajarnya”, katanya pula.

Hal paling aneh yang pernah dialaminya adalah ketika secara misterius ia kehilangan dua sekrup saat sedang mereparasi sebuah kereta. Sekrup itu memang kemudian digantinya. Tetapi, ibunyalah yang memberitahu bahwa dua sekrup itu agaknya sengaja ingin tinggal, karena menurut ibunya sejak saat itu ada dua bayangan yang sering melintas dalam pandangannya.

last but not least: nyoto!

Melihat cara pembuatan kereta itu, agaknya tak berbeda dengan pekerjaan seorang empu dalam membuat keris. Dibutuhkan niat yang kuat, konsentrasi, dan juga doa untuk menghasilkan sebuah masterpiece. Sentuhan-sentuhan sangat personal itulah yang membedakannya dari produk massal. Sentuhan personal itu pula yang dirindukan orang sehingga mau membayar mahal untuk mendapatkan sebuah kereta kuda. Di rumah itu, sentuhan keramahan yang sangat personal juga kami rasakan saat ibunda Pak Paidi menyuguhkan kue dan teh nasgithel yang menyegarkan.

cepat habiskan, cepat lupakan. masih banyak soto di arah pulang🙂

Sungguh semua sangat berarti bagi kami, karena setelah itu kami segera pamit melanjutkan perjalanan pulang yang jauh, sebelum kami menyelesaikan ritual akhir perjalanan ini: nyoto. Gurihnya kuah soto Lamongan di jalan Veteran itu pun masih terasa ketika kami mengayuh lagi pulang ke kampung Potorono, saat hari sudah sangat siang dan bumi sudah kembali gaduh, kembali bising.

64 responses to “Kendaraan Tradisional: Mengakrabi Sunyi, Memperkaya Hati

  1. wah kehormatan bisa ngomentari pertama kali. tumben bos ga panjang ceritanya….itu sebagai sisa sejarah yang mesti dilestarikan, ada berapa orang dengan keahlian seperti itu. Bagaimana pula mereka bisa bertahan, ketika semua pemda sudah memesan. Maka hari itu juga merupakan hari yang spesial, kunjungan yang monumental juga kaki yang pegal.

  2. Sudah panjang lho. Fotonya aja kali yang dikit (karena digabung-gabung). Kalau dipanjangin nanti masuknya ke cerita misteri. hehe…

    Di wilayah Jogja, sepertinya masih ada beberapa pembuat kereta. Ada yang menerima reparasi andong seperti Pak Paidi, ada juga yang khusus membuat kereta antik, bahkan punya korespondensi dengan para pakar kereta di eropa.

  3. fotonya kurang banyak om nur….
    😀

  4. POTORONO….memang selalu tampil beda dan khas, membuat dunia peronthelan ini ada sesuatu yang selalu dinantikan. Kali ini berkisah tentang masa lalu, seperti yang kita jumpai saat ini, dimana-mana macet, bising, sibuk, bahkan ruang untuk bergerakpun rasanya hampir sulit kija jumpai. Alam sudah begitu cape dan letih menahan beban berat isine donyo, isine mung sarwo lethek lan kebak ing samubarang reged. Ayo podho tangi nyeyuwun mring kang Moho Suci amprih bumi pertiwi iki ora nangis ing sak dawane wengi…ayo mumpung kabeh durung kebacut muspro amemangun karyo nak tyas ing sasomo….!

    • Wah, betul sekali, Pak Prayogo. Tiada kata terlambat untuk segala kebaikan. Tak hanya ikhtiar dan upaya kita lakukan, doa pun kita panjatkan. Semoga semua baik adanya.

  5. @ sangat menarik mas Wong… di era org2 pada sibuk membicarakan balap F1, ternyata para kampiun kendaraan raja2 jaman dulu masih tetep setia dengan pekerjaannya.. saluuut buat ki Lurah Rotopawiro dan ki Lurah Wongeresningratan…
    salam dari Krawang..

  6. Numpang lewat nich! N lam knal aja para pakar perkeretaan! Mg sukses slalu!

  7. Asyik sekali, dengan semua yang serba natural : ya sepedannya, alamnya, obyeknya………..Pokoknya Sippppp deh………….

  8. Bagus banget kisahnya, sy baru tahu tentang pembuatan andong, masih banyak yang bisa diceritakan Opoto dimasa yang akan datang, selain itu sy juga baru tahu bahwa selain seragam kaos ternyata ada seragam yang lain : selebor belakang dengan cat putih, dan yang pasti Soto lamongan pancen uenak, apalagi ditambah poya … nyammm, sukses buat Opoto, ditunggu selalu kisahnya

    • Selebor seragam? Iya, ya. Namanya juga SELEra BORongan. Hehe… Pa Kabar Mas Dhony?

      Salam hangat selalu.

      • Matur nuwun, Alhamdulillah kabar kami baik, semakin membaca kisah perjalanan Opoto semakin penasaran untuk kisah berikutnya, tetap semangat berbagi pengalaman, salam kenal untuk teman2 Opoto

  9. Setengah Tiang…

    Di penghujung tahun 2009 ini kita kehilangan seorang tokoh yang sangat pemberani. Tak hanya berani menghadapi hidup, tetapi juga mati. Ia menyuarakan kebenaran di hatinya, terus memberikan yang terbaik dari kemampuan yang dianugerahkan kepadanya, tetap dalam kepasrahan luar biasa atas kekuasaan Yang Maha Pencipta. Kepasrahan yang membuatnya senantiasa riang, tiada pernah cemas dan takut. Ia adalah rahmat bagi bumi dengan segala perbedaan di atasnya.

    Doa kami panjatkan agar dilapangkan jalan kepulangannya menuju kebahagiaan abadi di sisi Sang Khalik. Semoga kita mewarisi semangat, kesungguhan, kejujuran, dan optimisme yang telah ditunjukkannya sebagai tauladan kita untuk melanjutkan kehidupan di hari-hari mendatang.

    Selamat jalan Gus Dur. Semoga Allah menganugerahkan padamu khusnul khotimah.
    Amien.

  10. @Dhony
    salam kenal jg cak dr kita disini.

    @Rendra
    Padahal pak, kl udah musim F1 ato GP berlangsung, jadwal ngonthelpun disesuaikan dgn jam tayangan balapan tsb.😆

    Onthel’ku jg sering bunyi2 sendiri loh kl lupa gak tak mandiin+pijat refleksi. lampunya jg sok urip dewe. ternyata setelah kuselidiki semua itu adalah kelakuannya Den Bagus Tikus sialan…

    RIP Gus Dur.
    satu dari tokoh idolaku telah tiada. hiks..hiks..
    Beliau adalah teman waktu di pondok dulu…

    • Kang Erwin, salam kenal juga dari Surabaya … kl ke Surabaya, mampirlah minggu pagi di Taman Bungkul, banyak teman2 ontelis berkumpul🙂

  11. Ternyata di Jetis Bantul masih banyak bisa mereparasi andong dan membuat kereta antik. Saya kira hanya ada di Tamanan Banguntapan dan Sewon saja yang masih tersisa. Ternyata masih ada lagi, Viva Bantul

  12. Pak….soto nya 1, minumnya es teh manis ya…he..he..

  13. @ mas Erwin< Mas Dhony, mas Bagus…apa kabar..

  14. to tmn opoto mohon maaf niat u ikut ngonthel bareng baru sebatas niat, karena keterbatasan waktu dll, padahal sudah sampai ngipik, karena terburu buru langsung bablas kerumah mbah di krasaan, semoga lain kesempatan keinginan bisa tercapai, SUNGENG WARSA ENGGAL MUGI-MUGI WARSA 2010 SEDOYO SEDHEREK OPOTO TANSAH SEHAT, AMIN

  15. @ Mr.Rendra
    Just fine sir. cuman batuk aja neh ga sembuh2. Pdhl udah sering tak pake ngonthel malem loh..🙂

    @Mas.Dhony
    Siap … nanti nek pas mudik insyllh tak mampir.
    sy tinggal di bendul merisi mas.

  16. Apa kabar teman-teman? Pak Rendra, masih butuh Stang BB, tidak? Itu ada barang di Muntilan. Biar BB-nya yang dirumah stangnya lebih kenceng tidak oglak-aglik

    • Mas Bagus, lama nggak nongol. Apa kabar? Selamat tahun baru.

      Iya tuh, Pak Rendra ambil saja, biar mantap bin stabil. Nah, yang patah dilempar saja ke Potorono. Hehe…

  17. Bagus Kurniawan

    Mas Noer, Met tahun Baru juga, kabar saya baik, Siap ngonthel lagi ini Mas, Lama tugas di Betawi, sudah kangen ngonthel lagi.

    • Syukurlah. Mas Bagus, beberapa minggu lalu saya mampir bengkel Mbah Wir. Sekarang Pak Kelik yang meneruskan. Sudah pernah mampir?

  18. Mas Noer, saya sudah sekali mampir ke sana dan sempat ketemu mas Kelik, kalau main ke rumah di seletan rel sering sekalian silaturahmi sama anaknya Mbah Wir, Mas Budi.

  19. mas bagus ..kalau masih ori sy mau mas< gmana kontaknya..saya di 081382747979. sy tunggu mas.nuwun

  20. Aku cek dulu mas ke yang punya, masih ada nggak, krn kemarin sudah byk yang menawar. Setang itu sembelihan Fongers BB 60 yang frame-nya di potong jadi 55, jadinya dijual pretelan. Nanti aku hubungi lagi, matur nuwun

    • Wah, seminggu sebelum tahun Baru, di pasar Prambanan saya juga ketemu teman, dan kami membicarakan BB 60 yang dipotong jadi 55 itu. Tapi waktu itu sepedanya belum disembelih. Mungkinkah kita membicarakan sepeda yang sama ya Mas? Coba ikut nanyain ah, siapa tahu bisa dapet protholan stang ex penggedhe Karawang. Hehe…

    • Ternyata bukan yang di Muntilan. Dan stangnya pun sudah diganti Chair. Semoga saja Mas Bagus nggak telat. Sluman-slumun-slamet…

  21. Mas Noer, ternyata Mas Rendra belum jodohnya, sudah kutanyakan sama yang punya, barangnya sudah laku alias keduluan sama orang, tinggal kerangka saja, itupun oleh yang punya belum akan dijual

  22. @ mas Bagus n mas Nur..katanya stang lari ke smg tapi tak oyak ke fongersmania di smg kok ga ada yg ngaku yo…. jangan@ malah menggok ke ki lurahe POTORONO…hahaha

  23. Mas Rendra, sabar saja, pasti akan keluar lagi pretelan Fongers BB, saya juga masih menunggu ini, sekarang sudah keluar Fongers HF-60 dari pemiliknya.

    • Wah…wah… kadya orong-orong dibanyoni, Fongers-Fongers istimewa terus bermunculan. Dan alap-alapnya pun sudah siaga menangkapnya: hap!

      HF-60nya yang keluaran sebelum 1930 atau generasi 1955 ya Mas? Kalau yang tua ‘kasta’nya masih di bawah HZ, tapi yang muda setara HZ. Tapi saat ini sepertinya asal 60 sudah membuat orang menelan liur. Hehe…

  24. HF 60 nya memang keluaran th 1955, tp bisa ngiler kalau memang lengkap dan ori semuanya

    • Kami ikut berdoa semoga berjodoh dengan Mas Bagus. Ayo Mas, nanti segera direyen bareng Opoto sambil ndongeng sepanjang perjalanan🙂

  25. Mas Noer, saya sudah siap mancal lagi, dirumah sudah siap H-55 yang siap on the road. kapan-kapan mancal bebarengan ini

    • Wah, hebat. Rupanya kita punya kendaraan yang sama. Akhir-akhir ini saya ke mana-mana bawa H-55 jlitheng🙂 Siaaaap…

  26. wah pesta fongers nih..selamat ya teman teman… jang lupa di lap setelah di ” tumpaki”..
    @ mas Max kok ilang yo..

  27. @wiih……………. berarti simplex ajaibnya mas Max udh ga keso dilap gombal dong…. atau …

  28. Tadi saya ikut jamasan kereta pusaka Kraton Yogyakarta, sisa air jamasan saya pakai njamasi 3 sepeda dirumah biar keluar pamornya. Sayang nggak dapat lorodan kain mori yg dipakai njamasi kereta Kanjeng Nyai Jimat. Biar gagah seperti punya Mas Noer dan Pak Rendra…

  29. @ om rendra & Om Wong
    nggak ngilang ooom….. ini baru madik-madik ke bengkel …. siapa tahu nemuin setang BB…he..he..😀, sekalian ngganti pedal nich om , kemarin waktu sepedaan hari minggu ama temen OPOTo dikerjain habis-habisn ama pedal…

    • Iya. Kemarin memang tragedi gombal semir. Eh, pedal. Mosok sepeda Simplex dan Batavus kok pedalnya pada mrotholi. Apa itu bentuk protes karena merasa lama diabaikan ya? Hehe… Lha nanti lama-lama bisa kepleset jadi Onthel Protholono. Gaswat!

  30. @ mas bagus..kalau ada acara menggagahi saya ikutan dong…ahaha
    @ alhamdulillah mas Max masih “eksis” kirain sudah protholono… lama ga baca orasi ilmiah mas Max jd kangen juga lho..
    @ mas Nur dan prokontjo sami tindak Bandung to, atau ke Karawang saja tgl 20 feb.. acara tour napak tilas karawang bekasi?.. kami tunggu lho.. salam

  31. Mas Rendra, acara nggagahi desa milangkori, alias blusukan di desa dimulai lagi.
    Mas Noer : Itu tandanya protes yang di isik-isik bukan hanya stang dan sadel tapi juga pedalnya.

  32. @ om noer
    walah… “onthel protholono”… mesti pesen nya gir cycloid…. he..he….

    @ om rendra
    tenang om… dik “bella” masih perkasa… om rendra perlu setang khan… hee..heee

    @ om Bagus
    sebenarnya udah di isik-2 komplit om… memang dasar “pedalnya” yang protes.. maunya diisik-2 terus, gak mau “dipancal”.. haaa…haaa…

  33. Onthel Protolono… hahaha…
    Sampai sekarang pun blm sempet ku perbaiki.
    poor my batavus.

  34. opotorono selalu menyajikan hal yg “opo tumon”, enak kanggo ceritanan ing patemon, nderek tepang kemawon, kulo niki inggih soko ngayojokarto sebelah kulon.
    brafo potorono, salam paseduluran dari Agusti
    DeFOC

    • Salam kenal juga ya. Nggak taunya masih ‘tunggal awu’ juga to

      Salam hangat dari kampung opo tumon. Eh, Potorono😀

  35. weleh weleh weleh
    ndak taunya opoto iku ada srikandinya to pak de? ayu kinyis kinyis ndak pake kumissssssss
    kuat nggak tuh ngontelnya?

    • Lho. Jangan-jangan ada penampakan Srikandi penunggu kereta? Pas di sini yang ikut pria-pria tulen lho (meskipun tanpa kumis). Hahaha…

  36. iku lho pak de, foto kenya ayu kinyis kinyis sing ngagem jarik numpak pit ontel

  37. oh ya…nyuwun pangapunten
    mungkin aku salah pencet
    ……..nuwun

    • Kenya ayunya ada kok Mas. Tapi ngumpet di halaman info. Hehe… Bukan hanya cantik, tapi juga prasaja. Setuju, kan?🙂

  38. lha iku pak de. aku kelingan karo putuku : cah enom jarang sing nduwe klangenan numpak “pit tuo”……..selamat buat opotorono, lestarikan ontel kita.

    • Cucu, ya? Uhuk… uhuk…. 🙂
      Wolak-waliking jaman. Cah enom justru mulai gandrung kearifan masa lalu, termasuk pit onthel.

      Terima kasih atas supportnya.

  39. pak kalo mau pesan andong untuk pengadaan kendaraan wisata di samosir bisa tidak pak? gambar dan spek nya bisa saya hub ke mana? kalo bisa saya juga mau tanya kuda untuk penarik andong nya. jumlah kuda yang mau saya pesan 18 terlatih dan 22 pemula, spek tinggi kuda 120-150 cm

    • Coba besuk ada waktu biar kami tanyakan ke Pak Lurah Rotopawiro. Selanjutnya silahkan tinggalkan alamat email/telp. Akan kami kontak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s