Stadion Pacar: Bagian Kehidupan Masyarakat Bantul

Sesuatu yang simpel dan sederhana biasanya cenderung luput dari perhatian, bahkan diabaikan. Gegap gempita zaman telah membuat kita sedemikian sibuk dan melupakan sesuatu yang sederhana. Sangat sederhana sehingga cenderung tidak kita prioritaskan. Padahal, dibalik kesederhanaan itu sering kali kita temukan kearifan yang sangat vital. Rahasia maha dahsyat dari Yang Maha Pencipta.

halaman stadion yang menjadi ruang publik, termasuk publik OPOTO🙂

Berjalan kaki, misalnya, adalah sebuah aktivitas sederhana yang kita lihat sebagai sesuatu yang biasa. Tetapi, banyak pakar sudah meyakini bahwa aktivitas berjalan kaki yang sesimpel itu ternyata mengaktifkan sebuah sistem mekanisme tubuh yang luar biasa rumit. Tak hanya melenturkan otot, merangsang simpul-simpul syaraf di telapak kaki atau membakar kalori, saat kita berjalan kaki dengan gerakan kaki dan tangan yang saling bersilang bergantian itu ternyata secara simultan telah mengaktifkan sisi kiri dan kanan otak kita. Kondisi ini memungkinkan kedua sisi otak kita bersatu untuk mematahkan belenggu pikiran serta membebaskan dari stres atas trauma yang barangkali pernah kita alami. Kita pun terbebas pula dari depresi. Jadi, berjalan kaki ternyata merupakan satu mekanisme penyembuhan diri (self healing) yang sangat efektif.

Di dusun-dusun sekitar Pleret yang sering kami lalui, kami lihat banyak warga yang berusia lanjut, tetapi tampak ceria dan tetap produktif. Sampai setua itu, mereka kuat berjalan kaki atau bersepeda ke mana-mana, bahkan melakukan pekerjaan yang menuntut aktivitas fisik. Agaknya, segala aktivitas hidup yang mereka lakukan itu mampu mengoptimalkan semua fungsi anggota tubuh yang kesemuanya berpengaruh terhadap metabolisme. Itulah salah satu rahasia mereka bisa hidup sehat hingga usia lanjut meskipun tanpa pernah secara sengaja melakukan kegiatan yang disebut berolah raga.

tetap produktif: membuat keripik gadung, memecah batu, jual bensin…

Rasanya sangat berbeda dengan kita yang hidup di perkotaan, dengan kesibukan pekerjaan yang tidak begitu menuntut aktivitas fisik sehingga fungsi–fungsi tubuh kita tidak lagi berjalan secara alami. Boleh jadi, dari pagi hingga sore kita melakukan pekerjaan hanya dalam posisi duduk. Lalu mulailah terjadi ketidakseimbangan yang berpotensi mengganggu kesehatan itu. Kalau sudah begitu, kita lalu perlu berolah raga untuk mengembalikan keseimbangan demi mendapatkan kesehatan.

Kebiasaan bersepeda pun, sebagai sebuah aktivitas sederhana, terbukti cukup menggerakkan tubuh kita sehingga mampu melatih otot tungkai, lengan, perut dan punggung, di samping juga melatih jantung serta paru-paru. Bahkan, konon salah satu zat yang dihasilkan tubuh saat kita berkeringat itu mampu menciptakan eforia yang membuat seseorang merasakan kegembiraan sehingga memberikan efek menenangkan dan menenteramkan. Belum lagi kegembiraan yang timbul selama berinteraksi sedemikian guyub dengan teman-teman. Setelah bertahun-tahun kami melakukannya, efek itu kini terasa begitu nyata.

tetap mandiri hingga usia sangat lanjut

Hidup lebih bugar, lebih sehat, dan lebih gembira adalah salah satu alasan yang memotivasi kebiasaan ngonthel kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono), seperti yang kami lakukan pada Minggu pagi, 29 November lalu, saat kami ngonthel bersama ke stadion Sultan Agung di desa Pacar, Sewon, Bantul. Stadion yang diresmikan tahun 2007 oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X ini kami lihat sudah semakin sempurna. Konon, pada tahap penyempurnaan kali ini telah disiapkan anggaran sebesar 15 miliar yang diambilkan dari dana APBD. Penyempurnaan itu terutama meliputi pembangunan tribun sebelah barat dan penerangan stadion yang ditargetkan selesai pada tahun 2010.

lintas generasi: dari yang suka manjat hingga yang suka rebahan…

Sejauh penglihatan kami, kehadiran stadion ini mendapatkan respon sangat baik dari masyarakat Bantul. Bukan saja karena stadionnya akan mewadahi dan menggembleng potensi putera-puteri Bantul untuk berprestasi di bidang olah raga, bahkan halamannya pun telah menjadi ruang publik yang menyenangkan. Terbukti, pagi ketika kami sampai di sana telah banyak orang dari berbagai kelompok usia berkumpul dan melakukan aktivitas olah raga sesuai selera. Mulai yang berjalan kaki dan berlari kecil mengitari stadion, bersepeda, bermain tenis, basket hingga sepak bola dan berkuda di track yang tersedia, semua dilakukan dengan gembira. Rupanya, kesadaran masyarakat sekitar terhadap pentingnya berolah raga sebagai pengganti atas berkurangnya aktivitas fisik mereka pun sudah tertanam. Selain berolah raga, orang juga memanfaatkan stadion itu sebagai tempat rekreasi, karena keramaian yang ada telah dimanfaatkan oleh beberapa pedagang makanan dan minuman untuk mendapatkan penghasilan.

arena serba guna, salah arah dan salah jalur, foto bersama Mas Habib

Stadion Sultan Agung, yang merupakan kandang Persiba Bantul, telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bantul. Saat gempa dahsyat melanda Jogja tahun 2006 lalu misalnya, di tengah kesulitan yang ada, masyarakat sekitar banyak yang berlindung di stadion dan memanfaatkannya sebagai tempat mandi dan mencuci. Meskipun pengelolaan stadion ini kelak akan diserahkan kepada pihak swasta, alangkah senangnya jika keberadaannya akan terus memberikan kemanfaatan serta menjadi kebanggaan masyarakat Bantul dalam arti setulusnya, bukan justru menjadi sesuatu yang asing dan membentengi diri secara berlebihan.

terus berbenah mencapai kesempurnaan

Pagi itu, ada sebuah kejutan. Setelah sebelumnya kami bertemu dengan Mas Habib yang di blog ini biasa memakai nickname ‘Wong Ndranksan”, di stadion itu pula kami bertemu dengan Mas Bejo (BErnama JOni), sahabat onthelis kaliber nasional (karena asli Solo, bekerja di Cimahi, dan beristrikan wanita Jogja.🙂 ) yang sempat janjian untuk ngonthel bareng. Maka jadilah Mas Joni bergabung bersama kami melewati Jejeran, Pleret, lalu nyoto di sana, sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang melewati sawah-sawah, jembatan, dan jalanan desa sambil terus bercerita. Cerita itu belum lagi putus ketika perjalanan telah berakhir di kampung kami, Potorono. Anak-anak segera berlari menyambut ayahnya yang kelelahan tetapi tetap menyunggingkan kegembiraan.

tak hanya ikut ngonthel, Mas Bejo pun sempat mampir ke pos OPOTO

Tamu istimewa itu hanya kami sambut dengan kesederhanaan, karena itulah ‘kemewahan’ yang kami miliki. Untunglah, Mas Joni juga seorang yang lugas dan bersahaja sehingga kami tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa akrab dengannya. Momentum kecil semacam ini semoga saja menjadi sebentuk amal yang makin memperluas pergaulan dan wawasan kami.

Hari ternyata telah beranjak siang ketika terdengar deringan dari ponsel Mas Joni. Agaknya pertemuan harus diakhiri, karena Mas Joni harus berbagi waktu dengan keluarga tercinta.

**
Terima kasih kami sampaikan kepada Mas Bejo alias Mas Joni karena telah berkenan ngonthel bareng, bahkan singgah sebentar di Potorono. Semoga masih banyak kesempatan untuk melanjutkan bincang-bincang.

Salam buat Mas Habib (Wong Ndranksan) yang tanpa sengaja sempat bertemu di stadion Pacar.

Tq Mas Setiyadi, atas sharing info bukunya. Detail kajian tentang manfaat berjalan kaki, salah satunya ditulis oleh Thom Hartmann dalam buku ‘Terapi Jalan Kaki’, penerbit Serambi.

40 responses to “Stadion Pacar: Bagian Kehidupan Masyarakat Bantul

  1. Pertamax
    bar stadion bal balan arep meng endi maning?
    Tambah 1 lg pengetahuan dr OPOTO
    Waktu di solo aq lihat om nur tp gak berani mendekat, soalnya priyayi banget.

    • Haha… iya nih Mas Djalud, memang banyak yang pada ragu-ragu sama saya: ini mambu priyayi atau priyayi mambu? Hahaha…

      Duh, hilang deh satu kesempatan mengenal Mas Djalud lebih jauh…😦

  2. Stadion “Sultan Agung” ??????😕
    om noer tu..mbok jangan gitu ach… cukup “agung” saja lah…haaaaaaa…haaaaaa…🙂

  3. kalau tak salah kita punya hormon indomorfin yang terletak di atas hidung kita, yang akan membuat kita merasa nyaman. Hormon ini dapat di pacu keluar dengan aktivitas yang dilakukan selama kurang lebih 30 menit ber aktivitas yang kontinu dan intensitas sedang : seperti jogging ringan, ngonthel dilanjutkan makan soto. semoga teman-teman opoto sering merasakan ini walaupun kadang kurang di sadarinya.
    U stadion biasanya akan menjadi pasar tiban saat hari minggu atau libur lainnya. ini musti diantisipasi oleh pengelola atau sekalian di perbolehkan asal tertib dan bersih.

    • Nah, betul itu yang dikatakan Mas Faj. Tapi ada lagi lho. Konon, cinta itu juga bisa terjadi karena pertukaran sinyal bau. Kalau dasarnya jodoh, bau khas dari lawan jenis akan membuat seseorang justru merasa nyaman. Jadi, kasus Mas Bejo misalnya, bisa jadi waktu Mas Bejo sudah balik ke Cimahi, istri tercinta akan menciumi kaos Gazelle bekas dipakai suaminya ngonthel kemarin sebagai pengobat kangen yang menenteramkan.😀

      Rencana, pengelolaan stadion akan ditawarkan kepada pihak swasta. Itulah yang kami pikirkan: kira-kira bagaimana ya bentuk pengelolaan yang ideal agar masyarakat sekitar bisa menerima kehadiran stadion sebesar itu sebagai bagian yang memberi kemanfaatan optimal bagi kehidupan mereka?

  4. wah terima kasih mas nur atas sambutan yang luar biasa itu…saya sangat terkesan dan ingin terus kembali ngonthel bareng Opoto…maaf ya mas gara2 nunggu saya akhirnya perjalanan tidak dilanjutkan ke perahu naga…hehehe…next holiday saya pasti kabari lagi kalau pas ke Jogja, salam onthel…nuwun
    -bejo-

  5. @mas nur
    wah mas kalau kaos gazelle yg kemarin udah dicuci dicuci pake detergen dan digosok pake bel Gazelle mas…wah ambune jan nggilani..hahahaha…bukan obat kangen tapi malah sakit perut mas…sayang kemarin saya masih belum berkesempatan nyobain si Dino mas…next time..

    • Mas Bejo, kita kemarin foto di stadionnya salah posisi. Matahari di belakang terlalu terik. Alhasil, muka kita gelap semua. Haha… Padahal crossframenya keren, je.

  6. Bersepeda memang banyak manfaat, bisa tambah teman, tambah wawasan, tambah kenyang (soalnya habis nyoto ), kayaknya diBantul / Jogja ada banyak tempat yang bisa dikunjungi ya ? sukses selalu OPOTO

  7. Ehmmm….. LANJUTKAN !!!

  8. wah ternyata mas Agung sdh kagungan stadion agung…selamat ya mas…..hehehe..
    mas Nur kata ” soto” pasti gak pernah absen dr reportase OPOTO…. dhuh jadi penasaran se “maknyuss” opoto gurihnya…hehehe
    salam dr karawang.

    • Pak Rendra, kemarin Mas Agung terpaksa buka kartu sama Mas Bejo. Ceritanya, dulu ketika di Potorono pada seneng badminton, ada pengeluaran khusus buat beli shuttlecock. Sekarang, dana itu dipindahkan ke acara ngonthel. Jadi, sebisa mungkin nggak ada peningkatan budget. Dengan menu soto itu, ternyata malah turah. Lha tapi untuk onderdil onthelnya? Ya harus ada dana taktis! Haha…

  9. Memang bung Max’s tiada duanya. Selain punya si Bella juga punya stadion agung. Tapi stadion agungnya pakai las gak yaa… hehehe..

    Sudah selesai tirakatnya yaa Pak Kyai Rendra, kok baru nongol. Dapat wangsit apa gerangan wahai kyai Rendra..hahaha

  10. Menyelami kehidupan pedesaan bisa menyadarkan kita bahwa sebetulnya kita sudah diberi rejeki sangat banyak oleh Tuhan…yang kadang-kadang tidak disadari benar, sehingga kita menjadi terlalu larut dengan kesibukan kerja yang memang tidak akan pernah selesai demi mengejar ukuran-ukuran produktivitas yang dapat menjauhkan kita dari nilai kesederhanaan dan sikap mensukuri rahmat dan berkah Tuhan.

  11. Kita beruntung memiliki tokoh-tokoh lokal hebat seperti Pak Triharjun dan Pak Herry Zudianto yang memberi teladan langsung bahwa kehormatan seseorang bukan atas dasar kendaraan yang ditunggangi. Kita justru semakin hormat kepada Beliau berdua atas nilai-nilaikesederhanaan nyata yang ditunjukkan dengan lebih banyak bersepeda dibanding naik mobil dinas mewah. Sungguh fenomena langka di jaman seperti sekarang ini.

    • Dan jangan lupa satu lagi: Pak Dr Sahid Nugroho yang bersepeda ke mana-mana bersama keluarga sambil menebar virus onthel. Haha… Salut Pak Sahid🙂

  12. Dan satu lagi : Prof Wongeres yang selalu memberi dongeng, informasi dan petuah tentang kehidupan. Sungguh humanis prof Wong…hehehe

    “Uhuk…uhuk…uhuk… di mana kacamata saya ya?” 🙂

  13. Saya jadi lebih yakin bila seorang Wongeres merupakan orang yang memiliki kelebihan. Bagaimana tidak, kaca matanya saja lupa ada di mana. Inilah ciri-ciri priyayi yang humanis…hahahaha….

  14. Ada lagi…humoris dan berkumis tipis..heheheheee..

    • Pak Dhe Bei.
      Kalau ciri priyayi saya kurang paham. Tapi kalau ciri jenius jelas hanya ada tiga (yang ketiga ini yang paling penting), yaitu:
      pertama, suka humor;
      kedua, kadang suka lupa juga;
      ketiga, ee… waduh apa ya? Wah, lupa nih 😀 😀

  15. @mas nur
    wow iya mas salah posisi..wakakakakak..gpp lagian itu juga lagi kucel2nya habis sprint, wah biasa aj mas nur..biar ga banyak yg tahu malahan kalau ga kefoto crossnya..hehehehe
    @mas rendra
    wah mas kapan tindak Jogja lagi kita ngonthel bareng Opoto terus nyoto mas…
    @mas agung
    walah iya-e kemarin ternyata mas agung buka kedok cerita kalau ternyata urunan buat beli kock badminton dialihkan untuk nyoto… malah ditraktir je…nuwun yo mas…
    -bejo-

  16. Stok lama bos, minggu ini rencana kemana?

    • Wah, lha ini baru Minggu kemarin, je. Minggu ini, setelah DL 2012 terus ngonthel pendek saja karena pada mau ke Sragen, mantenannya keluarga Opoto. Setuju?

  17. @mas Bei..apa kbar..lama ga dengar komentarnya jd kangen, tirakat saya sdh selesai mas bei krn digugah pak Sahid sama kring2 an…heheheh
    @ mas Bejo..ja saya pengine pol ngonthel bareng sederek OPOTO tpbelum ada kesempatan mas, untung aja Prof Wong masih rajin berbagi cerita..rasanya seperti ikut ngonthel..cuma yg blm bisa ya itu..membyangkan lezatnya soto OPOTO mas….
    @ wah jebule mas Maxs itu aylet badminton to… pasti masuk klas berat seperti saya…hahahaha..piss mas

  18. @Om Rendra & om ngabehi
    mboten namung stadion kemawon kok.. malah blek krupuk “agung” ugi wonten…haaa..haaa….

    lha milih yang paling aman cuma jadi atlet badminton kok om rendra, kl jd atlet basket atau spk bola, ntar malah dikejar-2, dikira bola… mau jadi atlet renang mesti gak boleh.. lha lumba2 kok lawan orang…haaaa..haaa…

  19. mas maxs…atlet badminton spesialis main dobel to…hehehe…hayo ngakuu..wong saya juga gitu je.

    • Kalau badminton masih sering single, Pak Rendra. Tapi kalau nyuci mobil, saya perhatikan selalu double. Kanan pegang kanebo, kiri pegang asep. Nggak tahu, itu. Onthelis kok nggak insyaf-insyaf🙂

      Kalau saya dulu sukanya voli. Tapi makin ke sini ya lebih banyak mengandalkan tipuan: keliatannya mau mumbul, jebul ndhoprok. Keliatannya masuk, jebul keluar. Lha lama-lama ya diapali. Hehe…

  20. hahaha…jadi kalau mau keluar tandanya ndhoprok, atau ndhoprok pertanda udh keluar ya mas wong…..( mas mbok saya di sms alamat penjenengan ya, siapa tau pas lewat bs mampir .nuwun).salam

  21. saya di 081382747979..nuwun

    • Wah, kalau nunggu lewat rasanya nggak mungkin, Pak Rendra. Soalnya bukan di pinggir jalan protokol. Jadi ya harus diniatkan njujug. Haha… (maksa). Saya tunggu lho.

      Alamat ngumpul kami sehari-hari di Potorono Asri, Jalan Wonosari km 8.2. Nuwun.

  22. njih mtr nuwun mas Wong<salam kagem sedoyo kerabat OPOTO

  23. @mas rendra
    memang sedikit sulit mas utk menemukan markas opoto mengingat plang penunjuknya terletak di dalam tidak di pinggir jalan…saya saj kalau kesana sendiri pasti agak kesulitan..tapi untungnya kmr bertemu dulu di stadion pacara hehehehe…
    -bejo-

    • Lha, petunjuknya kan malah jadi jelas to Mas: pokoknya jalan masuk yang gak ada petunjuknya itulah markas Opoto! Hehehe…

  24. hahahaha iya mas nur..
    btw mas nur sepertinya saya akan long holiday di Jogja akhir desember ini…saya akan ikut ngonthel bareng Opoto lagi ya mas..boleh to..??seneng je mas hehehehe….
    -bejo-

  25. Wah…senang sekali ketemu lagi dg Opoto…smoga terus maju. Hidup Opoto!!
    mungkin tanpa sengaja kita akan sering ketemu he he…

  26. guyub, rukun,ngontel bareng,nyoto bareng, rasanan bareng , sehat bareng…………, tanggalkan dasi , status sosial dan semua ada dalam onthelis sejati OPOTO…………hwaduh nikmatnya hidup didunia ini ki sanak……….aku jadi pingin nih……..-agusti-DeFOC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s