5 Dekade Menjajakan Kesederhanaan

Setelah sejak sore hujan seperti tak sabar lagi menjejakkan kaki-kakinya di kampung kami, semalam curahan airnya benar-benar tak dapat dibendung lagi. Suaranya yang khas terus berderai-derai di atap rumah kami. Bau tanah basah menguapkan kembali aroma masa lalu yang mengendap dalam selimut mimpi indah kami.

Tapi hujan ini sungguh baik hati. Menjelang pagi, demi melihat kami bersiap ngonthel, mereka berlalu entah ke mana. Sejak kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono) menyiapkan sepeda hingga mengayuhnya bersama-sama ke arah Imogiri, hujan hanya menyisakan mendung tipis yang terus menaungi kami. Sesekali, gerimis kecil masih turun menyapa. Kami menanggapinya dengan riang, karena perjalanan justru menjadi tak begitu melelahkan.

semangat ngonthel terus dipompakan, melintasi genangan sepanjang jalan

Minggu pagi, 22 November 2009 itu kami berniat melepas kerinduan kami akan jalanan yang teduh berliku di Imogiri. Juga kerinduan pada wedang uwuh yang hangat, demi menghangatkan pagi yang beku oleh hujan semalaman. Air masih tergenang di sepanjang jalan. Ketika genangan air itu membasahi roda, beberapa sepeda kami yang menggunakan rem karet mulai terkendala. Maka, demi keamanan perjalanan, kami menghindari rute Wukirsari yang berbukit, karena rem karet yang basah sebaiknya tidak direkomendasikan melintasi turunan yang curam. Kami lebih memilih jalanan datar, melewati jalan-jalan setapak di perkampungan yang membawa kami ke Jalan Imogiri.

Hari masih pagi ketika kami melewati area pasar lama Imogiri. Tak jauh dari pasar lama itu –di kiri jalan menuju makam Imogiri– terdapat sebuah Warung Makan Sederhana, tempat kami kemudian berhenti dan memarkir sepeda kami di terasnya. Mbah Warto (78 tahun), pemilik warung itu segera menyambut kami dengan hangat. Benar saja. Kami datang terlalu pagi. Setidaknya untuk memesan soto, menu favorit kami. Soto itu belum masak!😦

mengabadikan kesederhanaan di dinding hati pelanggan

Sepertinya, warung ini begitu dicintai oleh pelanggannya. Sepagi itu, beberapa pelanggan datang-pergi, menikmati segelas teh nasgitel (panas, legi, kenthel: panas, manis, dan kental) bersama gurihnya mendoan, jadah tempe, sukun goreng, ubi jalar goreng, dan aneka makanan yang tersedia. Mungkin baru kami yang memesan sarapan sepagi itu. Mbah Warto putri dan anak-anaknya membiarkan Mbah Warto sendiri yang melayani kami. “Biar takarannya semua sama”, kata mereka menjelaskan sambil tertawa. Barangkali karena melihat kami berseragam, maka mereka lalu berpikir bahwa tentu dalam segala hal kami ingin disamakan. Haha…

Meskipun nasi ramesnya enak, tetapi menu itu agaknya masih terlalu berat untuk dinikmati sepagi itu. Oleh karena itu, kami pun menikmatinya perlahan sambil diselingi obrolan sana-sini. Apalagi banyaknya makanan yang tersedia –gurih maupun manis– semua benar-benar menggoda selera, menyela-nyela di antara sarapan kami.

menakar porsi dari ukuran perut pembeli😀

Sebagaimana tertulis di dinding warungnya, Mbah Warto memulai usaha warungnya ini sejak tahun 1958, saat anak sulungnya masih sangat kecil. Kondisi warung rintisan saat itu, sepertinya lebih menyiratkan tekad baja Pak Warto: tempatnya di tepi Sungai Celeng, menempel di emperan/teras dan hanya berdindingkan sehelai kepang (anyaman bambu). Di bagian depan warung itu terbentang sebuah spanduk (katakanlah begitu) terbuat dari kain Macao (seperti kain mori putih, tetapi lebih kasar dan tebal oleh tepung kanji). Di atasnya tertulis nama “Warung Sederhana” dalam tinta merah menyala. Benar-benar merah, karena Mbah Warto menulisnya dengan cairan Yodium alias obat merah.

kepuasan yang sederhana

“Saya benar-benar memulai usaha ini dengan memanfaatkan apa yang ada, dan saya sungguh hanya menginginkan sesuatu yang prasojo (sederhana). Itulah sebabnya saya memberi nama warung saya ini Warung Sederhana”, kata Mbah Warto menerangkan.

Sederhana tidaklah sama dengan waton (asal saja). ‘Kesederhanaan’ Mbah Warto ternyata mampu membuat warungnya yang semula hanya menjual es gosrok dan es kopyor bertahan lebih dari 50 tahun hingga menjadi sebesar dan selengkap sekarang ini. Kesederhanaan juga telah mengantarkan kelima anak Mbah Warto menyelesaikan sekolah dan berkeluarga. Dan pagi itu, kesederhanaan telah membulatkan keinginan kami mengayuh sepeda sejauh ini untuk duduk dan sarapan di sana.

Mbah Warto putri dan sebagian makanan khas sederhana

Minggu pagi kali ini kami harus menyaksikan kekuatan dari sebuah kesederhanaan. Ini menarik. Bagi kami, makna kata sederhana itu rasanya memang kami temukan di sini. Meskipun makanan dan camilannya sangat banyak, tetapi menu yang tersedia di warung ini hanya ada tiga: soto, rames, dan bubur kacang hijau. Menu apa pun yang kita pilih akan membuat kita kenyang, puas, tanpa berlebihan. Demikian juga harganya. Pas. Inikah ukuran kesederhanaan yang ditawarkan Mbah Warto selama lima dekade?

mirip sepeda pelanggan-pelanggannya lima dekade lalu🙂

Seseorang mungkin saja memandang keberlanjutan usaha Mbah Warto ini justru dengan nada sinis, misalnya karena selama lima dekade tetap sederhana tanpa mampu membuka cabang dan memperluas pangsa pasar. Tetapi, seperti ditekankan Mbah Warto, kesederhanaan bahkan sudah diniatkannya sejak awal ia memulai usahanya. Ia lebih memilih sebuah kemanfaatan yang berumur panjang.

Mbah Warto tidak tertarik pada sebuah pertumbuhan cepat mengikuti deret hitung matematis. Seperti layaknya hukum yang berlaku pada semua makhluk hidup, pertumbuhan yang sangat cepat biasanya justru terjadi pada organisma yang berumur pendek. Begitu pula sebaliknya.

melintas di depan pasar baru Imogiri

Hari itu, siang hanya terdeteksi di ujung jarum jam, karena kami tak mampu mengenali kehadirannya lewat terangnya hari. Langit tetap mendung, tanah tetap basah. Tetapi kami kenyang sekarang. Obrolan dengan Mbah Warto juga sempat memberikan inspirasi, menjadi bahan perenungan sepanjang perjalanan pulang. Perjalanan yang sederhana.

Kebersahajaan benar-benar membuat perjalanan kami begitu nyaman. Arti sebuah pertemanan kembali menjadi begitu menonjol dalam perjalanan seperti ini. Kami akan menunggu jika ada teman yang tertinggal di belakang, apa pun alasannya. Ada yang ingin berlama-lama memandangi air sungai, ada yang buang air kecil, atau ada yang mengajak foto bersama. Semua kami lakukan begitu saja, lepas dan spontan.

spontan dan sederhana

Beruntunglah, alam dan lingkungan pedesaan yang kami lalui masih sangat memungkinkan untuk itu. Jika saja semua wilayah di bumi ini harus berlomba adu cepat secara linear, mengganti semua peradaban lama yang lugu dengan yang baru, membangun dusun dan pedesaan menjadi metropolitan, tentu kami tak bisa lagi menikmati perjalanan seindah ini.

53 responses to “5 Dekade Menjajakan Kesederhanaan

  1. mantap om noer…sayang yach!!!! saya gak bisa ikut ngonthel…
    buat pak dhe yahya : semangatnya bisa di contoh nich….. hayo…pilih mana pakdhe jeep apa ontheeeeel ?????? haaa..haaa

  2. Kesederhanaan alami yang langka saya temui saat ini Pak e Tole Wong.

    Liputan Opoto yang memunculkan alam pedesaan nan asri ini yang mengobati rasa rindu kampung halaman.

    Apakah keindahan pedesaan ini akan mampu bertahan lama yaa Pak e Tole ?

    Mengingat Jogjakarta merupakan pilihan favorit sebagai tempat hunian. Hal inilah yang ditanggap oleh banyak pengembang untuk melakukan ekspansi bisnis propertinya. Nah, bila nafsu ekspansi para pengembang ke Jogjakarta ini merajalela, mungkin keindahan dan kesederhanaan alami ini tinggal kenangan

    • Pak Dhe Ngabehi.

      Memang di sini ada gejala yang kontradiktif. Ibarat kita suka bunga, ungkapan suka kita terhadapnya bukan dengan memberi pupuk agar makin subur, melainkan justru dengan memetiknya sehingga membuatnya layu dalam beberapa saat saja.

      Seperti kata Mahatma Gandhi, bumi ini pasti sanggup memenuhi kebutuhan pangan seluruh manusia penghuninya, tetapi tidak untuk keserakahannya.

  3. maaf mas2 dah lama gak muncul br dandani omah je. heeeee…mas wong& maxs agung seng sabar yo mas.

    • Hai! Mas Margi…

      Wah, sajak nyengkut tenan. Lha kemarin ke Solo saja juga nggak ikut ngonthel. Kami sampai nggak berani ngganggu. Hehe… Sudah rapi Mas, showroomnya?🙂

  4. @p’ margi
    sante ae pak sing penting iyup2ane dadi dhisik..

  5. Walaupun sederhana yang penting tetap ada semangat untuk bersepeda .pagi yang mendung tidak menyurutkan niat untuk tetap ngonthel malah terasa sejuk segar dan ga kepanasan. sambil mencoba sepeda RUDGE jengki yang saya dapatkan seminggu lalu disebelah barat jembatan yang kita lalui itu , cukup lumayan ( nyaman).

  6. kesederhanaan dalam segala unsur kehidupan membawa sebuah kebersahajaan yang menyenangkan…seperti sesederhana mengayuh onthel menikmati alam dan makanan yang sederhana tetapi sangat “ngangeni”…saya sewaktu2 pengen ikut ngonthel bareng temen2 Opoto..sepertinya perjalanan2 yang telah dilakukan sangat dramatis…insya Allah lebaran haji ini saya di Jogja mas nur…kalau diberi kesempatan saya ingin ngonthel bareng Opoto..heheheh..nuwun

    • Semoga ada waktu cukup untuk ketemu ya Mas. Yang penting kan ketemu dulu. Kalau hujan ya cari eyub2an, minum wedang uwuh sambil ngrasani sepeda. Hehe…

  7. ‘sederhana’ aja ada yg perutnya sampe full loaded. Sampe2 kesulitan dlm mengonthel.

    @margi.
    Hallo, kpn jalan bareng lg.
    @ agung max.
    Absen 2 periode loh. Awas, gajihnya tambah numpuk loh!

    • Haha… Pak Marno termasuk yang menganggap nasi rames terlalu berat untuk sarapan. Padahal sotonya baru masak justru setelah agak siang. Wah, dasar soto minded!🙂

  8. @ Pak e Tole Wongeres

    Merubah dusun atau pedesaan menjadi metropolitan mungkin saja bisa terjadi. Contoh kasusnya banyak, salah satunya bisa kita lihat di Bogor, Jawa Barat.

    Bogor yang tadinya oleh kolonial Belanda dijadikan pusat penelitian botani dan pertanian itu, kini lebih dikenal sebagai kawasan hunian. Perkembangan kawasan kota Bogor saat ini bukan mengarah pada kota besar tetapi lebih mengarah ke kota metropolitan. Akibatnya banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi di wilayah ini. Kawasan yang tadinya hijau dan asri kini berubah menjadi kawasan hunian baru.

    Dulu kota Bogor dijuluki sebagai kota hujan, kini julukan tersebut tak berlaku lagi. Soalnya, saat ini warga Bogor mulai mengeluh kepanasan karena suhu yang meningkat. Udara tak lagi bersih karena polusi udara dan makin berkurangnya ruang terbuka hijau, yang berganti dengan pusat perbelanjaan, mal dan ruko di setiap pojok kota. Bogor kini pun berjuluk sebagai kota sejuta angkot dan kota mal.

    Bagaimana dengan Jogjakarta ? Jogja telah kehilangan julukan sebagai kota sepeda. Mungkin kah julukan sebagai kota budaya juga akan ikut hilang. Bila iya, sungguh ironis.

    Harapan saya, semoga Jogjakarta tidak kehilangan jati dirinya. Jogja tetap akan sebagai kota budaya. Berbudaya baik lahir dan batin, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanuasiaan.

    Pak e Tole Wongeres, apakah harapan saya ini tinggal harapan saja. Sebab, gaya hidup metropolitan sudah ada di masyarakat Jogjakarta. Seperti pepatah “Katerak Lakuning Zaman” Di mana peradapan lama yang lugu dilibas oleh hal yang baru.

    • Padahal ‘lugu’ itu adalah sebuah kristalisasi, buah dari pencarian melalui laku yang tidak ringan. Seperti ‘sederhana’ yang diyakini Mbah Warto itu ya. Hehe…

      Kata seorang teman yang pakar lingkungan: jika keseimbangannya terusik, maka alam akan mencari keseimbangan baru. Apakah kita sekarang ini telah bersiap menghadapi segala konsekuensinya ya?

  9. tempo hari udah deket Potorono aja malah ngga bisa mampir……… 😦

  10. Wah kok malah mejeng deweann….foto buat cover buku opotho ga dipasang om? gelap hasilnya?
    kalo minggu2 depan cuaca masih seperti itu mesti cari trayek yang lebih jauh lagi

    • Halah. Cover blocknote-nya itu bukannya gambar munyuk?😀 Ini juga aneh. Kalau hujan malah suruh bikin rute lebih jauh. Byuh. Lha iya kalau hujannya masih toleran. Kalau nggak? Nanti masuk angin lagi, kerokan lagi, nggak ronda lagi…?

  11. mas nur…hehehe iya mas yg ptg ketemu dan ngonthel dulu kalau hujan malah tambah seru mas…kalau boleh minta contact person-nya mas nur…nanti tak hub. kalau dah di Jogja..btw iya salut buat mas Towil dan jadi artis ne..hisk..ini link-nya mas http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/14/06034192/Ayo.Ngonthel.Sama.Towil

  12. Alamatnya di mana mas Wong, sungguh hebat pemilihan jalur ngonthelnya salluuuutt

    • Wah, nuwun sudah mampir Mas. Alamat pos Opoto? Di desa Potorono, jalan Wonosari km 8.2 di lingkungan perum potas (potorono asri). Kalau dari arah Prambanan setelah Jogja tv…

  13. Duh tulisane marai terharu, Mas..
    Ngonthel guyub bareng-bareng, alam desa asri, dan nyoto (di tengah hingar bingarnya hidup yang kadang tidak jelas kemana arahnya) seperti ini, sungguh bukan sederhana tapi kemewahan tiada tara. Ia karunia tak ternilai, yang bukan saja menjadikan perut kenyang, hati lapang, pikirian tenang, namun juga rasa syukur betapa Dia telah berkenan menjadikan hal2 biasa itu demikian indah dan bermakna bagi kita. Nuwun Gusti.

    • Kami juga bersyukur atas semua karunia ini, Mas Farid. Kami bukan menolak kemajuan. Hanya saja, alangkah bijaknya jika semua bentuk kemajuan itu ukurannya adalah kemaslahatan bersama seluruh penghuni bumi ini.

  14. @ om Ngabehi loring pasar
    Julukan Yogyakarta sebagai “kota budaya” akan sirna dan kekawatiran-2 panjenengan menurut saya hanya tinggal menunggu waktu saja…. Ada fakta menarik, Siapa yang mengira bangunan Keraton Yogyakarta tidak termasuk bangunan cagar budaya yang dilindungi undang-undang? Padahal keraton adalah salah satu aset kebudayaan dan pariwisata di Yogyakarta. Tapi itulah yang terjadi. Dari ratusan bangunan cagar budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta, hanya 28 bangunan yang ditetapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sebagai bangunan cagar budaya. “Keraton Yogyakarta tidak masuk,”
    Tak aneh bila bangunan Gandok Tengen, yang dibangun pada abad ke-19, dipapras dinding belakangnya dan kini bak gubuk yang menempel di bangunan mewah Ambarrukmo Plaza setelah Hotel Ambarrukmo tutup warung. Padahal bangunan semacam Gandok Tengen, yang merupakan bagian dari Pasanggrahan Ambarrukmo, masuk kategori bangunan cagar budaya yang wajib dilindungi Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992. Sebelumnya, Gandok Kiwo dibongkar saat Hotel Ambarrukmo dibangun pada 1964.
    Gandok Tengen dan Gandok Kiwo hanya satu contoh rusaknya banyak bangunan pusaka di Yogyakarta akibat kepentingan ekonomi, baik lewat praktek penjualan maupun perombakan bentuk aslinya. Pada gilirannya, bangunan cagar budaya itu berubah fungsi, dari bangunan hunian menjadi tempat kegiatan ekonomi, “Alasan yang sering dipakai untuk mengalihfungsikan bangunan cagar budaya” .
    Lihat saja rumah milik dr Sunardi di Jalan Dr Soetomo yang diubah menjadi Rumah Mode, atau Toko Buku Gramedia yang dulunya merupakan rumah dr Sudomo. Begitu juga nasib rumah berarsitektur Tiongkok yang kini berubah menjadi pusat belanja Ramayana yang berada di kawasan Malioboro.
    Jadi kekawatiran om ngabehi kelihatannya tidaklah berlebihan…. jika suatu saat Yogyakarta tidaklah disebut sebagai “kota budaya”… Relakah kita?????

    Bangunan cagar budaya di Yogyakarta berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI No. PM.25/PW.007/MKP/2007:

    1. Candi Barong–Sambirejo, Prambanan, Sleman
    2. Candi Sari–Tirtomartani, Kalasan, Sleman
    3. Masjid Mataram Kuno, Kotagede–Banguntapan, Bantul
    4. Masjid Sulthoni dan Makam Nitikan–Nitikan, Kota Yogyakarta
    5. Klentheng Buddha Prabha Gondomanan–Prawirodirjan, Kota Yogyakarta
    6. Gereja Katolik Santo Yusuf Bintaran–Bintaran, Kota Yogyakarta
    7. Gereja Protestan “Marga Mulya”
    8. Pendapa Agung Taman Siswa–Mergangsan, Kota Yogyakarta
    9. Gedung SMK II–Jetis, Kota Yogyakarta
    10. SMP BOPKRI 1 Yogyakarta–Tegalpanggung, Kota Yogyakarta
    11. Gedung SMP BOPKRI 2–Bintaran, Kota Yogyakarta
    12. Gedung SMA BOPKRI 1 Yogyakarta–Kotabaru, Kota Yogyakarta
    13. Gedung SMP Negeri 8 Yogyakarta–Terban, Kota Yogyakarta
    14. Gedung SD Ngupasan 1 dan 2 Yogyakarta–Jalan Reksobayan, Kota Yogyakarta
    15. Gedung SD Ungaran 1–Kotabaru, Kota Yogyakarta
    16. Stasiun KA Tugu–Sosromenduran, Kota Yogyakarta
    17. Tugu Yogyakarta–Gowongan, Kota Yogyakarta
    18. Hotel Toegoe–Kleringan, Jetis, Kota Yogyakarta
    19. RS Mata “dr Yap”–Terban, Kota Yogyakarta
    20. Pesanggrahan Ambarrukmo–Catur Tunggal, Depok, Sleman
    21. Dalem Joyodipuran–Keparakan, Kota Yogyakarta
    22. PD Tarumartani (Pabrik Cerutu)–Baciro, Kota Yogyakarta
    23. Gedung Manulife Financial–Sosromenduran, Kota Yogyakarta
    24. Gedung Badan Perpustakaan Daerah–Kotabaru, Kota Yogyakarta
    25. Gedung Nasional Perpustakaan Provinsi–Sosromenduran, Kota Yogyakarta
    26. Apotik Kimia Farma Cabang Yogyakarta I–Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta
    27. Apotik Kimia Farma Cabang Yogyakarta II–Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta
    28. Taman Wijya Brata (Makam Ki Hadjar dan Nyi Hadjar Dewantara)–Umbulharjo, Kota Yogyakakarta

  15. Saya senang baca kisah Opoto, baik cerita perjalanan maupun kulinernya, saya mendapat beberapa keuntungan info berkat tulisan-tulisan Opoto sebelumnya, maju terus Opoto.

    • Terima kasih atas apresiasinya, Mas Dhony. Kami akan maju terus. Terutama yang pakai rem torpedo. Hehe… bercanda Mas.

  16. sederhana = ketinggalan jaman = tak bisa bikin kaya. Oh hebatnya kapitalis.Djogja Bukan kota kapitalis ? ( semoga tetap menjadi berhati nyaman )

  17. nuansa yang sangat sederhana tercermin dari para punggawa OPOTO,,takjub,,sesederhna warung nya,,heheheh salut,
    Jogja berjaya,,

    • Kami ini dari lahir ‘prejengan’ alias performance-nya udah gitu, Mas Oki. Mungkin perlu beberapa tahap ‘make-over’ biar nggak sesederhana sekarang. Haha… tq…tq…

  18. wah, karbon paparazi neh gw…
    Mr.Max kumat !!!!
    ehmm…. bekas hotel Ambarukmo itu bs dimasuki gak ya..??
    kale2 kita kunjungi yg syerem2 gt.

    • Untung cuma yang keliatan kepalanya doang yang diupload …🙂

      Bekas hotel? Bekas mess karyawan di bagian belakangnya saja malah sudah jadi townhouse mewah kok. Berminat? Yang serem paling harganya😀

  19. Nyammm….bisa pesen 1 porsi ga?

  20. Menurut saya, sebenarnya kesederhanaan yang ditunjukkan oleh temen2 opoto dan perjalanan ngonthel yg juga sederhana, menu makan kegemaran yang mungkin menurut sebagian orang sederhana yaitu ‘soto’ merupakan sebagian kecil dari bentuk apresiasi atas begitu banyaknya kederhanaan dalam “alam ndonya” ini.
    Mengenal Opoto lebih dekat ternyata bisa menjadi stimulus untuk bisa memaknai hidup ini lebih sederhana, tidak ngoyo, membumi, apa adanya, guyub, rukun tetapi tetap mempunyai pandangan dan pemikiran yang maju.
    Saya bener2 terkesan dan menyenangkan bisa bertemu ngonthel bareng Opoto hari minggu kemarin melewati jalan desa dengan suasana yng sangat sulit ditemukan saat ini di kota2 besar. Jalan yang dilalui berubah-ubah dari jalan aspal yang mulus bak puteri keraton sampai melewati persawahan yang hijau diringi gemericik air kali yang jernih, bahkan melewati jalanan offroad yang becek, naik jembatan yang tinggi dan sempit akhirnya tembus di pusat pembuat bata merah, tapi untungnya udah nyoto duluan hehehe…wah…rute yang dilalui memang hebat…kalau saya tahu rutenya seperti itu mungkin saya ga akan pake ‘sepeda’ yang tinggi itu hiks….
    Sambil tetap mengayuh sepeda dan memandang keindahan alam sekitar tak lupa diiringi dengan obrolan2 yang ringan tapi sangat dalam…sampai akhirnya perjalanan diakhiri di markas Opoto…
    Thanks to Opoters :
    Mas nur..sayang ya mas pembicaraan itu belum selesai, sepertinya bisa berjam2 kita ngobrol hehehe…nanti lain waktu kita lanjut kembali, tapi mengenai “sikap” itu saya tunggu hasilnya aj ya mas…hhehe
    Mas tono..wah koleksi sepeda mantap mas…masih ada satu sepeda yang harus dicari identitasnya tuh…makasih udah mau nungguin saya cukup lama di stadion…
    Pak cip..lucu tenan..dapat salam pak dari mbak nunuk ditunggu kapan mampir nyoto lagi..
    Mas erwin..wah anaknya lucu2 je mas…
    Pak Joni..wah kita namanya sama ya pak..hehehe
    dan terima kasih saya untuk semua Opoters yang tidak saya sebutkan satu persatu atas penyambutan yang hangat dan bersahabat…okh ya satu lagi..tak tunggu liputan yang kemarin..nuwun
    salam onthel
    -bejo-

    • Mas Bejo, begitulah para Opoters. Insya Allah semua terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi. Lha daripada bingung mencari-cari apa yang sekiranya layak ditutupi. Haha…

      Liputan stadion sudah diposting…

  21. Wah sampeyan betul2 “bejo” mas bisa ngonthel bareng dengan rekan2 OPOTO he he, ditunggu terus liputanya yang selalu ngangeni kita semua…

  22. @ Mas super BEJO🙂
    tks atas apresiasinya terhadap kaum Opoto ini. Itulah kita dengan segala ke’Bhineka tunggal ika’ annya.
    Sayangnya kemaren matahari keburu bersinar dgn teriknya , sehingga acara yg tlh disusun oleh Tim ‘8’ gagal utk dieksekusi….
    Datanglah lg kapan2… semoga mendapatkan pengalaman yg ‘berbeda’ lagi.

    That’s a nice CrossFrame Dab…!!!

  23. @budak Tjimahi
    berarti sampeyan tinggal di cimahi to mas…??gabung sama temen2 KONTJI ga..kebetulan saya juga tinggal di cipageran..hehe..bener pengalaman yang mengasikan..coba aj mas kalau main ke jogja kontak temen2 opoto.
    @erwin
    iya mas erwin saya seneng banget lho bisa ngonthel bareng temen2 opoto, maaf lho mas gara2 saya dtg terlambat rencana tim “8” gagal ga jadi ke perahu naga..hehehehe…lain kali saya pasti kontak lebih awal biar ga ganggu acara yang sudah disusun…hiks..

    “Thanks Dab…”

  24. @ BEJO
    it’s ok. masih banyak kesempatan laen ok.
    Piye Opoters..??? (ojok turu tok ae rek, nulis napa ?!)

  25. @ Bejo
    Walah2 mas jebule tonggo dewe to…?!! he he Saya tinggal dileuwigajah, belakang kerkoff. saya memang gabung diKONTJI mas.. tapi malu ga bisa aktif karena tuntutan perut he he dan saya selalu mengikuti liputan teman2 OPOTO yang membuat suasana hati dan pikiran jadi adem……….
    Salam

  26. terimakasih atas artikel dan tulisanny tentang warung sederhana. cuma pengen ralat,yang punya warung namanya mbah warto bukan mbah wardo. makasih… bsok mampir lagi iah…hehehehehe

    • Wah, matur nuwun, Bu Cik sudah kerso mampir. Mohon maaf atas kesalahan penulisan nama ini. Ralat segera kami aplikasikan. Tentu kapan-kapan kami mampir lagi (hmm… langsung lapar nih)🙂

  27. lagi lagi dapat pelajaran baru
    seperti tukang cendol yg nggak mau
    cendolnya dibeli semua/diborong, karena takut langganannya kecewa tidak kebagian

  28. kesedarhanaan dan “kemewahan” ada pada OPOTO dan masyarakat sekitarnya

    • Iya. Kan orang itu ‘sawang-sinawang’. Rumput di rumah tetangga selalu lebih hijau. Siapa tahu, kesederhanaan Opoto bisa terlihat mewah bagi tetangga (hehe… ngarep banget ya…)

  29. semangat jogja….!!

  30. bener-bener orang jogja nich….

  31. permisi, saya mau tanya. kalau saya mewawancarai tentang komunitas opoto untuk majalah sekolah boleh tidak?
    yang di kontak siapa ya?
    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s