Bersepeda di Jerman

Berikut ini adalah gambaran suasana bersepeda di Jerman yang ditulis oleh seorang sahabat dan koresponden Opoto (Onthel Potorono): Mas Farid Mustofa. Sudut pandang dari kaca mata orang Jogja yang mengaku awam tentang sepeda ini justru membuat ceritanya  begitu lucu, hidup, otentik, dan inspiratif. Semoga berkenan mengikuti ceritanya (wongeres).

***

Sebelum berangkat ke Jerman, saya tidak membayangkan akan bersepeda di sana. Apalagi mengendarainya setiap hari. Saya lebih tertarik menggunakan alat transportasi kebanggaan Jerman, yaitu trem yang kenyamanan dan keakuratan jadwalnya terkenal handal.

Setelah hampir 8 bulan tinggal di Jerman, rupanya takdir saya berkata lain. Nyatanya, baru 15 menit lalu saya memasukkan sepeda ke keller (gudang bawah tanah) setelah menempuh 10 km untuk jumatan. Ironisnya, bukan hanya seminggu sekali saya lakukan itu, tapi hampir setiap hari. Itu artinya, saya nyepeda terus!

bersepeda-di-jerman-01

di dalam kota, sepeda masih jadi primadona

Saya tinggal di Leipzig, dua jam dari Berlin. Kota komponis JS Bach, filsuf W. Leibniz, F. Nietzsche, dan penyair Goethe ini kira-kira sebesar Jogja, tapi selengang Klaten karena hanya berpenduduk 500.000 jiwa. Di kota ini berdiri universitas tertua kedua di Jerman (yang Desember nanti merayakan ultahnya ke 600), juga rumah opera Gewandhaus Orchestra yang pernah disinggahi komponis besar seperti Beethoven, Wagner, Bach, dan menjadi barometer musik klasik Eropa hingga sekarang.

Tradisi Leipzig memang kental dengan seni, kebudayaan, juga ilmu pengetahuan. Ini masih bisa dinikmati lewat bangunan-bangunan kuno yang kental dengan arsitektur indah dari Abad Tengah, Renaissance, dan Baroque. Perang memisahkan Jerman menjadi dua belahan. Tapi, tradisi Leipzig dan karakter masyarakatnya yang kuat tetap tak tergerus oleh revolusi kebudayaan komunis a la Uni Soviet. Puncaknya, 9 Oktober 1989, 70 ribu warga Leipzig turun ke jalan. Mereka meneriakkan yel-yel “We Are The People” dan mengawali revolusi damai yang kemudian menyatukan Jerman kembali, yang secara simbolis ditandai dengan robohnya tembok Berlin.

Pasca-penyatuan Jerman, pemerintah menargetkan hingga tahun 2010 eks Jerman Timur akan menyamai Jerman Barat secara fisik maupun kualitas hidup. APBN dialirkan dalam skala besar, wajah kota dibenahi, industri baru didirikan (salah satunya pabrik BMW di sebelah rumah kami), hingga pertandingan Brasil vs Belanda pada Piala Dunia lalu juga digelar di sini. Tahun 2009 ini, target telah tercapai 80 persen. Konon, pemanjaan ini sempat memicu kecemburuan sebagian warga Barat.

bersepeda-di-jerman-02

menikmati perjalanan dengan transportasi umum yang handal

Di kota tua yang bangkit dari masa kelamnya inilah saya mulai mengakrabi sepeda. Awalnya, saya dibikin takjub oleh sistem transportasi di sini. Wajar kalau Jerman menjadi tujuan belajar penataan transportasi modern. Trem dan bus kotanya handal. Lalu lintas mobil —sebagian besar produk Jerman, sebagian lagi buatan Eropa, dan sebagian kecil Jepang atau Korea— dan sepeda motor yang rata-rata 750 cc ke atas, tertata rapi. Setiap hari, dari dalam trem saya mengamati keteraturan ini hingga suatu saat saya dikejutkan oleh sesuatu yang selama ini terlewatkan: ternyata banyak orang bersepeda! Pikiran saya langsung melesat ke Jogja, ke Potorono, ke Mas Noer, sahabat tercinta yang juga bersahabat dengan sepeda. Sejak saat itu, saya makin asyik mengamati sepeda hingga nanti memutuskan beralih lebih banyak menggunakan kendaraan satu ini.

Hal pertama yang segera tertangkap adalah, orang-orang di sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dahulu saya kira mereka ini sedang terburu-buru karena mau hujan, telat, atau sebab lain. Tapi, di sini toh jarang sekali ada hujan lebat yang memaksa mereka untuk ngebut supaya tidak kuyup. Pun jarang ada orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya baru saya temukan nanti.

bersepeda-di-jerman-03

jalur sepeda, lengkap dengan traffic light yang indah dan diindahkan

Selain ngebut, kalau menurut ukuran kebiasaan saya di Jawa, mereka juga ‘kurang sopan’. Misalnya saat belok atau menyeberang, mereka sama-sekali tidak pernah menengok kanan-kiri. Anehnya, belum pernah terjadi tabrakan. Saya menduga gaya bersepeda mereka yang begitu itu terkait dengan serba teraturnya lalu lintas yang dihasilkan oleh sejenis ketaatan tingkat tinggi pada aturan dan tata krama di sini.

Kedua, berbeda dengan model bersepeda orang Belanda di Leiden dan Amsterdam yang sempat saya lihat kemarin, orang Jerman tidak biasa bersepeda secara bergerombol, rombongan, atau berdampingan. Mereka juga tidak berboncengan. Anak-anak dengan sepeda tanpa kayuhan berada di dekat ayah mereka, sedangkan anak yang lebih kecil lagi masuk ke kereta sepeda. Saya lalu teringat teman saya di lingkungan masjid, Ali namanya. Ia orang Bukittinggi yang menikahi wanita Jerman. Saat ini Ali tengah sibuk mempersiapkan sebuah perjalanan pulang ke Indonesia bersama istri dan dua anak balita mereka. Persiapan yang sangat serius, karena mereka akan menempuh perjalanan pulang itu dengan bersepeda! Menempuh jarak 11.000km, melewati 14 negara, dengan mengajak istri dan dua anak balita…!! Meskipun tidak juga paham dengan kegilaan jenis apa yang ada di kepalanya, saya diam-diam mengaguminya. Ceritanya tentang perkembangan persiapan pulang bersepeda itu selalu saja menggetarkan, membuat adrenalin mendesir-desir, dan mengalirkan kegairahan, meskipun berpuluh kali ia mengulangi ceritanya.

bersepeda-di-jerman-04

sepeda di Jerman: bagus-bagus dan dikendarai dengan kecepatan tinggi

Orang Jerman bersepeda sendirian, ngebut, dan biasanya sambil memutar musik dengan MP3 player dan sejenisnya. Kalau melihat sisi positifnya, mereka efektif dan efisien. Tapi, bagi saya yang baru pemula terjun di jalanan Jerman, saya kurang nyaman dengan semua itu. Seringkali saya dibuat terkejut saat disalib, bahkan oleh ibu-ibu dengan anjing di keranjang belakangnya. Padahal rasanya saya sudah ngebut, presneling sudah mentok hingga saya benar-benar ngos-ngosan. Saya biasanya lalu menenteramkan diri dengan menyalahkan sepeda bekas saya, atau ke diri saya sendiri yang tidak tahu cara merawatnya, atau tidak biasa bersepeda. Sebenarnya ini hanyalah alasan yang dicari-cari.

Ketiga (ini sekaligus menjelaskan mengapa mereka ngebut dan tidak saling ngobrol sambil bergerombol berjajar atau beriringan), jalur khusus sepeda di sini sudah disediakan. Warnanya merah, kira-kira lebar 2 meter, dan muluuus sekali. Berada di bahu jalan utama, track sepeda ini terpisah dari jalan untuk kursi roda dissabled person maupun pejalan kaki. Track ini juga punya traffic light sendiri, bentuknya mungil menggemaskan. Keruan saja di sini tidak pernah terjadi tabrakan, pikir saya. Di samping itu, mobil, bus, bahkan trem suka mendahulukan para pengonthel ini.

Dalam rangka mengejar lampu hijau, saya pernah ngebut di belakang mobil yang akan berbelok. Perhitungan saya, begitu mobil itu selesai berbelok, jalan di depan saya akan terbuka, dan tepat pada saat itu saya akan lewat. Timing yang pas, pikir saya. Tapi, ternyata mobil itu malah berhenti, memberi kesempatan saya lewat lebih dulu… Begitu pula kalau kita hobi memotong jalan, ngebut waton, atau agak ugal-ugalan, tetap saja mereka akan memberikan jalan. Biasanya, polisilah yang akan menangani semua itu dengan tilang. Denda tergantung besar kecilnya kesalahan, yaitu berkisar antara 20-30 euro (450 ribu rupiah). Itu setara harga sepeda bekas saya.

Keempat, bentuk sepeda dan pakaian pengendaranya. Mulanya saya tidak begitu ngeh. Tapi, ketika saya kemarin ke Belanda, barulah saya menyadari perbedaannya. Sepeda Jerman (sejauh yang saya lihat di kota ini) modelnya relatif modern dan kental dengan sentuhan teknologi. Saya tidak tahu apakah istilah ini tepat. Maksud saya, bentuk rata-rata sepeda Jerman ini tidak seperti sepeda Belanda yang familiar di tanah air, yang merbawani, eksotik, dan ngangeni, seperti yang pernah dimiliki kakek saya, atau teman-teman OPOTO.

bersepeda-di-jerman-05

parkir sepeda tersedia di mana-mana

Kesan saya, sepeda Jerman itu canggih, simpel, kuat, dan ‘sedikit congkak’. Tipenya kebanyakan seperti sepeda gunung atau sepeda balap. Ada juga sepeda dewasa yang tidak memiliki kayuhan, tapi lentur, mirip mototrail yang dipakai menapaki batu-batu terjal. Ibu-ibu dan orang tua pun beda lagi sepedanya. Jenisnya seperti sepeda perempuan dengan rangka utama sebesar lengan orang dewasa, bukan lengkung seperti umumnya sepeda perempuan atau  jengki di Jogja, tapi kebanyakan berbentuk “S”: dari stang menurun landai mengikuti bentuk roda depan, lalu mendatar bertemu rangka vertikal tempat sadel, di titik tuas gir depan. Dengan begitu, ruang antara sadel dan stang terkesan lebar. Ada pula sepeda untuk penyandang keterbatasan tubuh yang dikayuh menggunakan tangan. Yang agak aneh lagi adalah sepeda roda empat yang dikendarai sambil tiduran. Malah ada jenis sepeda bertenaga baterai yang dikendarai seorang tua bahkan hampir renta. Saya tidak tahu apakah jenis ini masih bisa disebut sepeda atau bukan.

bersepeda-di-jerman-06

di parkiran outdoor, jurus melindungi sadelnya masih sama dengan kita

Saya sungguh awam soal sepeda sehingga tidak bisa mendeskripsikan dan mengklasifikasikannya dengan baik. Sepeda saya sendiri entah jenis apa. Kalau jengki, kok sebesar sepeda laki-laki yang dhalangannya melintang itu. Kalau perempuan kok dhalangannya tidak lengkung. Tapi kalau menilik sistem transmisinya yang canggih dan halus, ini jelas sepeda sport. Balap atau gunung. Cuma… kok bentuknya jengki? Mungkin ini sepeda wandu.

bersepeda-di-jerman-07

bentuk-bentuk sepeda Jerman yang unik

Tentang pakaian. Meski tidak semua, orang di Jerman kebanyakan bersepeda dengan mengenakan pakaian ‘resmi’: helm, kacamata, sarung tangan, kaos dan celana ketat. Sebuah pemandangan yang hanya sekali saja saya saksikan di Amsterdam. Dahulu, di Jalan Kaliurang, Jogja, kadang saya lihat penyepeda dengan kostum seperti ini. Belakangan saya tahu, mereka ini atlet sepeda DIY yang sedang berlatih di tanjakan Kaliurang. Model pakaian resmi semacam ini juga berlaku di kalangan pengendara sepeda motor yang rata-rata besar-besar. Jadi, baik yang mengendarai sepeda maupun sepeda motor, wujud dan tampilan mereka semua seperti pembalap. Sudah begitu, mereka mengendarainya dengan sangat kencang. Sampai kadang saya berpikir, apakah mereka ini orang-orang yang sedang dalam perjalanan jauh, atau para atlet yang sedang latihan, ataukah orang biasa yang keluar khusus hanya untuk bersepeda? Soalnya, kalau untuk ke kantor atau ke rumah teman, rasanya pakaian seperti itu tentu tidak nyaman dikenakan.

Begitulah sekilas pengamatan saya atas perilaku bersepeda di Jerman. Mungkin kelak, ketika saya semakin memahami dunia persepedaan, khususnya di Jerman, saya bisa mendeskripsikan dengan lebih baik.

Salam dan selamat bersepeda.

Leipzig, 31 Juli 2009.

***
Terima kasih Mas Farid. Cerita yang inspiratif. Semoga editingnya tidak mengganggu ya. Cerita tentang Bersepeda di Belanda akan kami upload juga setelah tulisan ini agar memperkaya wawasan kita semua. Salam dari Kampung Potorono. Salam kami juga untuk Mbak Uyun, Laily, Haydar, dan juga Nada.

54 responses to “Bersepeda di Jerman

  1. sebuah kisah yg keren mas, sangat menarik dan tentu inspiratif… sy menunggu seri bersepeda di belanda yg sepedanya konon mirip dengan keseharian milik kita.. mas Nur tka, mas Farid, salam kenal dari karawang.

  2. Terimakasih dan salam kenal juga Mas Rendra. Saya sering baca komentar njenengan..
    Mas Nur, salam kembali dari istri dan anak-anak. Katanya pada malu fotonya dipasang🙂. Ditunggu ke sini rame-rame. Jangan lupa bawa gitar dan SOTO..Bakso lebih-lebih, sangat boleh..Gudeg juga (Gudeg Tedjowulan)..

    • Hehe… foto tremnya kan nggak hidup kalau tanpa ada penumpangnya. Kalau soto, di Jerman saya meragukan keberadaannya. Tapi gitar, apa buatan sana tidak lebih canggih dari gitar saya? Saya lama nggak ke gudeg itu. Beliau sepertinya saat ini makin sibuk ya.

      • Soto jelas lewat Mas. Di sini jadi benda gaib🙂.
        Tentang gitar, suatu ketika saya tersesat di toko musik model larang.
        “Maaf, saya ingin gitar yang pualing murah” Pegawai masuk ke gudang, keluar dengan gitar bungkus plastik mblawus2.
        Tak coba-coba. Tak lilang-liling.
        Ealah..made in Indonesia!.
        Wah.

        iya barangkali Beliau sibuk. saya putus kontak sudah lama.

  3. mtr nuwun mas Farid, saya tunggu dongeng sepeda selanjutnya lho…. btw penjenengan msh di Jerman to… selamat ya ,as..tp ojo lali kondur..hehehe.. salam sukses..

  4. ya mas Rendra, doakan lancar dan segera kembali ke yogja. jd pingin ikut ngonthel bareng teman2 di sini..ke situs2 budaya..terus nyoto..

  5. Wah informasi bagus nih, suatu inputan ttg bentuk sepeda yg belum banyak beredar di Indonesia, kalau Mas Farid tidak keberatan mohon foto sepeda tanpa kayuhan dan sepeda roda empat, yang pasti bersepeda itu sehat, sayangnya disana tidak ada soto … ha..ha..ha.. mohon maaf teman-teman Opoto.

    • Pa kabar, Mas Doni. Sudah saya tambah lagi foto sepedanya. Berbagai jenis sepeda juga ada di Belanda. Nanti di liputan berikutnya.

      Mas Farid, foto2nya perlu ditambah tuh. Tapi sekarang salju sudah turun ya? Wah, enaknya nyoto aja. Haha…

    • Salam kenal Mas Dony. Iya e di sini tak ada soto Mas..Belum pada tahu kalau bersepeda itu lauknya soto.
      Benar kata Mas Nur, sekarang suhu mendekati 0. Ngidu..klothak langsung es🙂. Sepeda dan pengendaranya mulai jarang. Hanya ada satu dua. Di puncak dingin sampai -29 c seperti tahun lalu dan salju setinggi betis, para pengonthel benar-benar lenyap. Mungkin ceritanya akan lain kalau ada…soto!

  6. makin menarik dan menggemaskan baca blognya opoto…. sangat inspiratif!

    oia, ada cerita tentang Pak Ali dari bukit tinggi nda?

    • Nah, tuh. Rupanya ada yang adrenalinnya terpacu juga nih….

      Mas Farid! Cerita perjalanan Pak Ali nanti di-up date ya!!

    • Salam kenal Kang Sekjen.
      Pak Ali akan ambil rute Eropa Timur. Dari Jerman ke Ceko, Slovakia, Hungaria, Rumania. Trus belok kanan melintasi negri2 bekas Soviet. Di perbatasan Mongol dan China 3 sepedanya akan belok kanan, ke bawah mengarah Miyanmar, Tailand, Malaysia, singapura, Riau, dan akhirnya..Padang&Bukittinggi. Kami akan cari sponsor , hubungi TV swasta, dsb. Tapi, Tuhan berkehendak lain: Istri Pak Ali hamil..Trakhir ketemu dia cerita gempa di kotanya. Saya tidak sampai hati menanyakan rencana bersepada. Yang jelas, mereka akan pulang, tapi saya kira tidak jadi nyepeda…
      Begitulah Mas Nur updatenya..

  7. soto samapai jerman ? cerita yang akan menarik mas .

    • Sudah hampir sampai Mas Faj.
      Daging siap. Hanya kurang brambang, bawang, jinten, lada, cengkeh, kunyit, jahe, tauge, daun bawang, seledri, jeruk nipis, kecap, sambal, dan kerupuk…

  8. Pokoke kalo OPOTO up load cerita tentang sepeda, mripatku langsung melek ra iso turu. Salam kenal buat Mas Farid” teriring doa semoga cepat selesai tugasnya dan jangan lupa bagi-bagi ilmunya, wah…nanti kalau Pak Ali dah sampai kampung bisa masuk kategori orang paling paling nekat sedunia….sungkem kagem Wongeres! critane uapik banget , kapan ya kita punya line sepeda seperti Jerman? Mimpi kali yeeeee!

    • Pak Prayogo, jalur sepeda sepertinya akan menjadi sebuah keniscayaan. Harus ada!

      Diberlakukannya UU no 22 tahun 2009, mungkin saja akan menjadi titik balik bagi etika berkendara masyarakat kita. Apalagi jika angkutan umum sudah dibenahi. Sepeda akan menjadi pilihan rasional. Lalu kita akan mengucek-ngucek mata sambil tak percaya: Lho. Bukan mimpi to? Hahaha… Semoga.

    • salam kenal Mas Prayoga. terimakasih sekali doanya..amiin ya robal alamin.
      nuwun2.

  9. wah… gambar dari om farid sepeda yang ada di jerman bagus-bagus yach…. makasih om farid dan salam kenal.

    @ om wongeres & om rendra
    coba perhatiin om !!! gambar terakhir….sepeda warna hijau yang ada keranjang belakang.. belnya warna “pink” lho… feminim banget oiiiii….seandainya dijodohkan dengan bel saya kira-2 gimana yach????🙂

  10. mas Farid mhn info apa di jerman msh kelihatan dijalanan sepeda onthel kuno seperti yg ada disini?… foto sepeda diatas sangat modern dan cakep2, warnanyapun sangat berani… rasanya nek ditumpaki mas Maxs gak “mecing “deh….hehehe.. lebih pas dgn si bellas…piss
    @ mas Prayogo,mas Faj dan mas Dony..apa kbr..

    • saya belum pernah lihat Mas. Makanya saya bilang sepeda Jerman ‘congkak’. Bahkan yang rusak sekalipun, ilang sadel atau roda dan tergolek di pinggir jalan, tetap kelihatan jejaknya bukan sepada kuno.
      di tulisan saya ttg sepeda Belanda yg akan dimuat Mas Nur nanti, baru terlihat model sepeda yang mirip2 dengan punya kita yang eksotik itu.

  11. Terima kasih untuk Mas Farid dan Teman2 Opoto, makin banyak foto model sepeda makin menambah wawasan, cuman di Surabaya saya belum melihat sepeda dgn body spt di Jerman, Untuk Teman2 Opoto saya terima kasih sekali informasi kulinernya.

  12. OPOTO,,,oyeee,,
    cerita nya takjub,,mas Farid,,saya dulu juga di jerman,,( jl JEndral sudiRMAN )..hiks,,
    mantabzzz,,,
    salam

    • Mas Oki, emang di jalan itu banyak klithikan? Kan setau saya di mana ada klithikan, di situ Mas Oki muncul. Hehehe…

      Mungkin Karawang memang gudangnya klithikan mania ya. Buktinya, begitu di Solo ada event, yang lagi tugas lapangan pun bisa dipas-pasin ke sana. Siapa hayo? Haha…

  13. Haahahahahhaahaha Pak Wongers bisa aja,,,kalo itu mah orang karawang yang berkumis tipis,,mirip gatot gaca,,siapa hayoooo,,

    sehat pak?,,
    maaf waktu di solo,,kurang begitu PD saya ketemu bapak,,jadi salting,,hiks

  14. apa kabar Kang okidikarawangm,,?saya gumleng ilining warih,,wakakakakakakakk

  15. Ga ada yang make onthel ya?

  16. Waduh…dadi Kaji aku…ha..ha..damang Gus Okidikelantan?

    Gus Sunu mannna?

  17. Damang Pak Haji ,,,aduh kuaaaanggeeeennn banget degh,,,kapan ya saya sowan ?,,

  18. halaah mas Wong…….. iso wae nek ngarang..hehehe.. mas udah ada diskon CD Mas Leo Imam Sukarno belum?.. larange pol je,padahal penggemar berat>>>hiks..hiks..
    @ kyai warih alias ron genduru kok gak nate ngetok to yo..nek topo broto umume yo mung 40 dino..lha iki kok wis setahun..jangan2 sudah dapat wahyu cakranngrat atau kyai sabuk inten….

  19. di negara maju aja masih memilih sepeda sepeda sebagai alat transportasi sehari hari yang justru terlihat “indah dan di indahkan”
    tapi kebalikan dengan masayarakat awam di negara kita yang justru memandang rendah sepeda.
    harus nya kita bisa belajar dan menerapkan hal yang positif, selain hemat biaya kita juga dapat sehatnya.setidaknya kita bisa memulai dengan diri kita sendiri sebagai para pecinta sepeda onthel dan berharap akan menulari orang orang di sekitar kita.

    • Setuju. Bersepeda semestinya tidak kita tinggalkan hanya karena sudah ada sepeda motor. Selama masih ada silet, kita nggak usah nyukur kumis pakai parang. Haha..

      Apa kabar Sukoharjo? Salam hangat dari kampung Potorono.

  20. Dapet goncengan reyot Gus Zadel, dapat wahyu makutoromo ha..ha..lihat gambar candinya Gus Wong jadi semangat lagi, lha orang tua kalau kerja kan perlu stimulan hik..hik..

    Gus Oki sehat, saya lagi pingin Inggrisan euy…tak berdikotomi inggris londo ha..ha..ha..

  21. Nuwun sewu, nyambet matur sekedap…badhe nderek woro-woro…

    Mulai Sabtu 7 November s.d. Minggu 15 November 2009, Podjok menggelar pameran sepeda onthel pada event Jogja Fair di Gedung JEC Yogyakarta. Sepeda-sepeda masterpiece yang digelar adalah sepeda BSA Paratroops, sepeda gardan, sepeda Swiss Army dan banyak sepeda impor build-up dari Belanda. Nuwun.

    • Wah, pantesan Pak Sahid beberapa hari menghilang tanpa berita. Ternyata sedang menyiapkan pameran bersama teman-teman Podjok. Semalam Pak Darsono, Pak Tarto, dan Pak Cahyo juga cerita tentang kesibukan Pak Sahid. Semoga sukses, Pak Sahid.

      Besuk kalau perlu studi komparasi sepeda Inggris-Londo, ini sudah ada pakarnya lho…🙂

  22. wah kalo di jerman kagak sampe dapat sepeda antiknya amatlah rugi.!!!!!!

    • iya Pak De, ini sudah nyari2 gak ketemu..belum sampai antik sudah lenyap hehe.

    • Mungkin, Mas Farid mikirnya: buat apa sepeda lokal Jerman? Pasti lebih berharga sepeda impor. Dari Indonesia, misalnya. Hehe…

      • Hehe..Betul, Pak Onthelpotorono. Sepeda Jerman di sini kesanku susah “diantikkan”. Prejengannya tidak menyiratkan masa lampau, tdk kuasa mengungkit kenangan, lebih2 keharuan hehe.
        Sepeda Belanda nanti, baruu greget itu nampak. Insyaallah kalau suhu bersahabat musim dingin nanti kami akan ke Praha, Ceko. Mugo2 ana sepeda metu tur beda.

  23. baik pak rendra, semoga proyek renovasi sepeda pak rendra cepat selesai dan aku bisa segera meniru .

  24. Waduh, postingan bersepeda di Belanda agak terlambat ya. Sabaaaar… Kejar setoran dulu. Hehe…

    @Pak Rendra
    CD 10 album yang dihasilkan lewat perjalanan menyusuri setiap jengkal bumi nusantara selama 30 tahun itu harganya masih jauh lebih murah dari ‘cuma’ stang BB lho. Tapi kalau stangnya harus diprioritaskan dulu, yang patah saja dihadiahkan ke saya juga boleh. Haha… (lebih baik patah stang dari pada patah hati).

  25. Jadi……lebih baik dilas biar tidak patah…. haaaaa…haaaaaa……🙂

  26. Gus Wong, memang kita sudahi saja dikotomi Inggris-Londo, jadi inget analisa pakar politik CSIS mengenai dikotomi Militer dan Sipil, sipil yang militeristik atau Militer yang sipil…nah kata sifatnya jadi runyam..he..he..

    • Iya. Sipil yang militeris(tik) saja bisa berbahaya. Lha kalau militer yang sipil…, rumah sakit bisa penuh sesak. Haha…

      Kalau konteksnya untuk kedaulatan, sipil-militer bisa komplementer. Itu kalau dalam pewayangan apa mirip Prabu Baladewa ya? Tangane ngantemi, sikile nyadhuki, cangkeme misuhi…😀

      Tapi pit Inggris-Londo kan opsional saja, wong sebetulnya kita hanya butuh satu tunggangan kok.

  27. mas Genduru n mas Wong…. biar bener@ komplementer bagaimana kalau BB nya mas Wong pakai stang Humber dan sadel Brooks serta velk dunlop……. ( stang sing lawas dilintirke ke krw aja waton jangan dilas ke bell…… hehehe)

  28. Ha..ha..tambah runyam ini, pasti Pak Zadel pingin ngimport dan Gus Wong agak males bikin packing list-nya ini he..he..maaf bukan optional, sing saya tumpaki ama yang dicangking boleh dinego …heh..heh..ada yang lagi merestorasi Meiji ini…

    • Kyai Branjang, masih bisa dilengkapi itu Baladewanya: tangane ngantemi, sikile nyadhuki, cangkeme misuhi, dhalange ngompori, sing nggamel nyoraki! Lha yang diadhepi apa nggak namanya apes tenan. Entek ngamek, kurang golek. Hahaha…

      Lha negonya itu bagiannya sipil…🙂

  29. Saya mungsuh sinden-e mawon Kyai-ne ,..he..he..uler kambang mbakyu…tarik.

  30. nek kyai Genduru senenge lancaran waru doyong dhawah gending carangan kethek peper…….. wah tayuban tenan ki…..dadi kelingan jaman sing ora ora.. tariiik mbak yu…hehehehe

  31. Malem Jumat enggak bisa tidur. Daripada suntuk mendingan blogwalking aja deh. Nyari ilmu baru dan nyari sahabat baru. Salam kenal aja dari saya. klo mau berkunjung balik ke blog saya, cuma kata terima kasih yang dapat saya sampaikan. Ijin menyimak isi artikelnya dan ijin komentar ya gan….

    Wah baca tulisannya jadi pengen naik sepeda lagi nih ke tempat kerja. Tapi lucu enggak ya klo Wiro Sableng naik sepeda… walaupun tanpa kapak 212 …🙂

  32. senang sekali loh jika bisa mengonthel bareng di bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s