Mlinjo Wirokerten: Mencicipi Suguhan Lebaran Langsung dari Pembuatnya

Produktivitas, biasanya cenderung dilihat secara fisik-sesaat saja. Padahal, produktivitas yang berkelanjutan membutuhkan pengelolaan manajemen jangka panjang yang mensyaratkan adanya keseimbangan. Produktivitas bukan hanya menuntut kerja keras, melainkan juga tidur pulas, karena (aktivitas) tidur mampu menyegarkan kondisi fisik maupun mental, agar kita mampu beraktivitas kembali secara optimal. Jantung kehidupan pun tak hanya menuntut kita untuk menghembuskan nafas, melainkan juga menarik nafas.

Puasa, nyepi, dan banyak aktivitas lain yang sekilas cenderung lebih mengedepankan aktivitas batin daripada gerakan fisik pun, tidak bisa dikatakan sebagai momentum yang tidak produktif. Ini semacam keputusan mundur tiga langkah untuk melompat sepuluh langkah ke depan. Dengan cara pandang ini, bukankah setiap langkah mundur kita itu pun sangat produktif?

mlinjo-wirokerten-1 keceriaan pascalebaran di gerbang dusun Kepuh Kulon

Puasa yang baru saja kita jalani pun bukanlah semata-mata sebagai sebuah mekanisme untuk merepresi, menekan, atau mengebiri nafsu dan keinginan, melainkan juga sebuah proses yang memberi kesempatan untuk melihat dengan kebeningan dan keheningan mata batin, dari angle atau sudut pandang yang berbeda. Dengan pemahaman baru itu, mungkin saja kita bahkan tak lagi memprioritaskan pencapaian keinginan lama kita, karena bisa jadi kita justru akan meyakini bahwa apa yang telah kita terima selama ini sudah jauh lebih baik dan jauh lebih banyak dari apa yang tadinya dengan begitu ambisius ingin kita dapatkan.

Yah, lebaran memang selalu penuh pencerahan dan melahirkan keceriaan. Keceriaan juga kami alami pada hari Minggu, 28 September 2009 lalu, saat komunitas Opoto (Onthel Potorono) kembali ngonthel bersama pascalebaran. Meskipun beberapa teman masih terkendala dengan jadwal acara keluarga, di samping harus memulihkan akumulasi kepenatan setelah aktivitas lebaran sehingga belum bisa ikut ngonthel  pagi itu, tetapi kami tidak kehilangan keceriaan, karena pagi itu kami ditemani dua orang sahabat, yaitu Pak Teguh dari Ngoto (Bangunharjo, Sewon, Bantul), dan Pak Wahyu dari Jakarta.

Tujuan kami pagi itu adalah ke Wirokerten, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Desa yang saat ini dikenal sebagai sentra industri kecil emping mlinjo ini beberapa kali menjuarai lomba desa, baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun propinsi, bahkan juga diperhitungkan di tingkat nasional. Tempat yang kami kunjungi adalah rumah Pak Iswadi di Kepuh Kulon, RT 3 Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Di sana kami melihat bagaimana emping mlinjo –salah satu suguhan lebaran– dibuat.

mlinjo-wirokerten-2

biji mlinjo digoreng pasir,  digerus dan disangrai, hingga kemasan jadi

Menurut warga dusun ini, buah mlinjo yang baik dihasilkan dari pohon mlinjo yang tumbuh dari biji, bukan cangkokan. Serat buahnya biasanya lebih halus dan empuk saat ditumbuk. Kegiatan membuat emping mlinjo dimulai dengan memanen buah mlinjo yang sudah merah. Setelah dikupas dan dijemur hingga kering, biji mlinjo digoreng pasir agar hangat sehingga mudah digerus guna menanggalkan kulit arinya. Setelah itu, biji mlinjo yang putih bersih disangrai sampai hangat. Tujuannya agar empuk saat ditumbuk/digepengkan sesuai bentuk dan ukuran.

Emping berbentuk bulat kecil-kecil hanya membutuhkan 2 biji mlinjo digepengkan. Sedangkan ukuran besar berdiameter 19cm (biasanya saat digoreng akan dilipat agar bisa masuk ke stoples) membutuhkan hingga 50 biji. Sementara emping potong dengan bentuk kotak atau segitiga dihasilkan dari lembaran lebar emping yang digunting-gunting. Emping ini harus dikeringkan dulu dengan cara dijemur. Jika dikehendaki, emping tawar ini bisa diolesi bumbu dengan aneka rasa seperti gurih, atau pedas-manis, lalu dijemur lagi hingga kering sebelum akhirnya dikemas dan dipasarkan. Pak Is juga membuat emping super, yaitu emping yang ditumbuk/digepengkan di atas batu hingga sangat tipis, lalu diambil dengan cara disusuk. Karena lebih tipis, emping ini pun dijamin lebih renyah.

mlinjo-wirokerten-3

semua proses produksi cukup dilakukan di dapur bersama anak-cucu

Setiap hari, Bu Sutilah yang sudah membuat emping selama 41 tahun sejak ia berusia 15 tahun, bersama suaminya mampu  menghasilkan 5kg emping yang membutuhkan 10kg biji mlinjo. Sejauh ini, mereka tidak mengalami kesulitan dalam menjual, karena sudah ada langganan pedagang dari pasar Beringharjo yang siap membeli secara kontan. Harga jual emping bisa naik-turun mengikuti harga buah mlinjo dan situasi permintaan pasar. Saat ini, harga emping berkisar 40 ribu/kg. Harga ini termasuk tinggi karena buah mlinjo sedang tidak musim, sementara permintaan sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan lebaran.

Dalam setahun, pohon mlinjo hanya berbuah dua kali. Dengan demikian, sekali panen harus mencukupi kebutuhan selama 6 bulan. “Karena permintaan pasar sangat banyak, kami masih harus membeli buah mlinjo dari luar”, kata Pak Sunar, kepala dukuh Kepuh Kulon yang melintas di dekat rumah Pak Is dengan sepeda Teha bercat aus hitam-merah.

mlinjo-wirokerten-4disuguh minum dan makanan, masih juga dibungkuskan bekal di perjalanan

Keramahan Pak Is beserta isteri dan keluarganya benar-benar menghidupkan suasana. Kami bahkan dijamu minum teh hangat dan makanan. Saat kami pamit untuk melanjutkan perjalanan, seplastik emping yang gurih dan wajik klethik yang manis dibawakan sebagai bekal di perjalanan. Kali ini kami benar-benar berlebaran.

mlinjo-wirokerten-5

perahu naga yang siap mengantar berwisata menyusuri sungai Opak

Rupanya kami terlalu asyik ngobrol di rumah Pak Is sehingga ketika kami beranjak, hari sudah agak siang. Usai berpamitan, kami masih melanjutkan perjalanan ke selatan, melewati wilayah  Jejeran, Karangwuni, lalu naik ke Trimulyo, Jetis, Bantul.

mlinjo-wirokerten-6

sungai yang jernih, pohonan hijau, dan kehidupan yang teduh bersahaja

Kami pun menyusuri sungai Opak hingga sampai di pangkalan perahu naga. Sebenarnya kami ingin sekali mencoba perahu wisata ini, tetapi waktu sudah menjelang siang dan tenaga kami sudah banyak terkuras. Jadilah kami ngobrol saja, menikmati irama kehidupan alami sambil berfoto, sebelum akhirnya memutuskan langsung menjalani ritual standar Opoto: Nyoto.

mlinjo-wirokerten-7

jarak antara penat dan nikmat ternyata bisa sedekat ini🙂

Dalam sekejap, mangkuk-mangkuk di depan kami telah kosong. Keringat terus mengalir, baik oleh kelelahan ngonthel maupun oleh panasnya kuah soto yang segar. Kami pun segera pulang, sebelum hari benar-benar siang.

***
Banyak terima kasih kami sampaikan kepada Pak Wahyu dan Pak Teguh. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyambutan kami. Semoga kesahajaan ini tetap akan dikenang sebagai pengalaman yang indah.

44 responses to “Mlinjo Wirokerten: Mencicipi Suguhan Lebaran Langsung dari Pembuatnya

  1. Speechless. Tak bisa berkata-kata lagi. Rasanya kebahagaiaan lebaran bersama emping itu begitu dalam sehingga melupakan “penyakit asam urat” yang bisa kambuh akibat nikmatnya biji melinjo itu.

    • Mas Anab, emping mlinjo ini –biasanya bersama kacang bawang– selalu hadir di hari lebaran, menjadi penyeimbang bagi makanan ringan lain yang manis-manis. Tetapi kami menyaksikan secara khusus dari dekat bagaimana membuatnya ya baru kemarin itu. Sekarang jadi ada semacam apresiasi lebih pada makanan satu ini. Lagian, kalau hari Minggu apa asam uratnya juga bekerja?😀

  2. perjalanan yang indah dan mengharu biru diselingi keramahan penduduk yang masih terjaga dan tidak terkikis jaman……

    • Betul, Mas Bejo. Sebenarnya banyak yang kami lihat sepanjang perjalanan. Banyak warga dusun yang sudah sepuh-sepuh tapi masih guyub dan ceria berkumpul di gardu sudut desa, ada juga tempat pembuatan arang tradisional. Wah, kapan-kapan kita samperin lagi. Semoga saat itu Mas Bejo ada bersama kita🙂

  3. matur nuwun pak… kami telah dimanjakan pak nur dan rekan rekan oppoters….. kangen dan kecanduan ngepit bareng……. kapan lagi ya pak….

    • Inggih Pak Wahyu, tepatnya setelah sadelnya dibetulin ya. Mohon maaf, pasti agak keras untuk ngonthel sejauh itu. Hehe…

  4. sungguh acara “ngonthel” yang indah oeiiiii….. waaah…sayang banget saya gak bisa ikut….😥

    @ pak wahyu dan pak teguh
    selamat datang pak di potorono dan salam kenal dari saya, mohon maaf kemarin tidak bisa ikut menemani, semoga lain waktu tidak kapok berkunjung lagi ke dusun kami….matur nuwun.

  5. meski kemarin pake acara kesleo gara2 blm terbiasa onthel terpedo (bener nulisnya?), tapi saya ga (akan) kapok nderek ngepit malih…
    maturnuwun, penerimaan teman2 OPOTO yg begitu semanak, nyedulur. meski kami berdua dg pak wahyu cuma bondho awak thok, tidak bawa onthel sendiri.. lha rung nduwe je.. tapi virus ngothelnya ketoke wis tekan ati..🙂
    maturnuwun juga diberi kesempatan motret onthel2 koleksi nDalem OPOTO Potoranan yg begitu eksotis..

    • Fotonya pasti bagus-bagus ya. Pak Wahyu juga banyak motret lho. Termasuk motret tukang pijat dadakan dengan pasien korban torpedo itu. Hehe… Wah, mestinya ada safety riding.

  6. Seperti biasanya, selalu ada reportase yang sangat humanis…khas alumni sastra UGM he..he..he..

    • Wah, Pak Sahid, mohon maaf belum sowan ke nDalem Sahid Nugrahan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat. Mumpung masih Syawal🙂

  7. Wah nanti saya kuwalat lho Kang Nur…Panjenengan langkung senior…he..he..he..

    Opoto mau ke event solo atau semarang? Kerabat Podjok mungkin juga sebagian ke solo dan sebagian ke semarang, dua-duanya sama-sama asyik dan menarik…

    Saya sendiri ke Solo karena sekalian liburan keluarga…

  8. krn banyak yg hrs diopeni sudah cukup lama sy tdk menikmati ” sejuk segernya” repertase mas Nur… emping mlinjo yg sangat menakutkan bagi pemelihara asam urat ternyata bisa dikemas menjadi wejangan yg indah… apalagi sejak diketahui bahwa tiap hr minggu asam urat tidak muncul…hehehe.nuwun
    salam hangat dari karawang.

    • Haha… Sugeng pepangguhan malih, Pak Rendra. Kalau hari Minggu, metabolisme tubuh relatif akan lebih baik karena ngonthel itu. Makanya, sepeda sebaiknya jangan ditimbun, tapi dikendarai😀

  9. habis ngepit terus nyoto diwuri remukan emping tambah lalapan kemangi…. kok ya enak tenan ya…. se x lagi matur suwun ontelis opoters yang semedulur…..

  10. Saya baru dapat wangsit hari minggu lalu ada priyayi penggemar onthel kelas berat dari daerah jawa barat sedang tetirah di Jogja…he..he..he..

  11. @pak sahid
    priyayi itu pastinya bukan saya to pak sahid hehehehehe…..yang pasti beliau ini sedang ketinggalan kereta yang memaksa menyempatkan diri untuk ngonthel di ndalem onthel kali progo….wah pak sahid ini bener2 waskita….

  12. @pak nur
    dengan senang hati dan suka cita pak nur apabila saya bisa berkesempatan napak tilas perjalanan ngonthel bareng opoters….

  13. Sahabat semua, akibat gempa di Padang ternyata banyak jatuh korban. Konon energi gempanya 30 x lipat gempa Jogja. Semoga kita semua diberi kekuatan fisik, mental, maupun iman untuk menghadapi semua ujian dariNya.

  14. Sekedar tips. Sejak gempa 2006, saya mengganti sistem kunci pintu rumah dengan model grendel. Dengan demikian bilamana sewaktu-waktu terjadi gempa, baik orangtua dan anak kecil bisa lebih cepat keluar rumah. Hal yang sulit dilakukan bilamana menggunakan model kunci biasa, pasti lebih rumit untuk membuka pintu.

  15. Hidup menjadi lebih menakutkan ya. Kita butuh “sandaran” yang lebih kokoh. Tetapi upaya seperti dilakukan Pak Sahid tentu perlu juga.

    Penginnya sih bikin rumah yang konstruksinya sudah mempertimbangkan adanya potensi gempa sehingga lebih nyaman menghuninya. Selebihnya baru kita berserah diri. Kalau Rumah Pak Sahid kan sudah terbukti relatif aman dari goyangan gempa.

  16. Kita mesti berjuang memerangi diri
    Bercermin dan banyaklah bercermin
    Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
    Berusahalah agar Dia tersenyum…

  17. Satu lagi suasana desa yang ijo royo royo, guyup dan indah untuk dinikmati bagi kami yang sudah terbiasa “dipaksa” dengan segala sesuatu yang serba instan.
    Maturnuwun Pak Nur dan rekan rekan OPOTO atas reportasenya yang terus terang selalu membuat saya jadi ketagihan untuk mengikuti kisah2 selanjutnya he he dan jangan bosan2 untuk membagikan kepada kami yang selalu haus dan rindu akan suasana desa.
    DiTjimahi sini juga ijo royo2 pak tapi sama ransel, topi dan baju tentara he he maturnuwun sanget

  18. ikut prihatin dengan saudara kita di Sumbar…
    Pak Sahid lan mas Nur,nyuwun agungin pangaksami dene minggu kapengker dalem sowan dateng tlatah ngajojokarto namung dereng saged sowan amargi cupeting wekdal, gadhah lodhang sakedhik sampun telas kangge ningali bodholan wonten sedayu ugi sowan penjenenganipun ketua PODJOK…
    sanget getun manah kulo namung dos pundi malih, mugi2 mbenjang saged pinanggihan wonten acara sanesipun..nuwun..
    @ wong Agung Maxs…… apa kabar bro, saya selalu harus menyapa penjenengan karena takut….
    takut setang saya di las ke bell…………. wuakakak…ampuuun…

  19. Wah, Mas Rendra kadosipun sampun mboten sabar kaliyan titihanipun. Kadosipun Griya Marganan kedah dipun pasangi CCTV. Sugeng Riyadi njih Mas Rendra, kala wonten kilen kok yo tlisiban

  20. mas Bagus,dhawah sami sami njih,sedoyo kalepatan nywun pangapunten…… leres mas ketingalipun panci sampun dipun pasang CCTV… lah sinten mawon ingkang dumugi Bengkel Marganan kok tansah konangan penjenengan je..hehehe..salam

  21. @ om rendra + Onthelister’s
    “Kulo, Sakeluargo ngaturaken Sugeng Riyadi 1 Syawal 1430 H. Bingahing manah awit Gusti sampun hangganjar kamenangan, lumebet dateng dinten ingkang fitri. Nyuwun pangapunten sedoyo lepat lan kekhilafan. Sumirat tejo tumlawung ing qolbu, ngagungaken asmaning Gusti Kang Moho Suci
    ambekas sukerto jroning rogo dadi yuwono semu kebak ing cahyo…

    Kabarnya baik-2 dan sehat-2 selalu … untuk belnya masih dengan “gagah perkasa” menempel di stang om …. haaaa..haaa…

  22. sugeng riyadi kagem sedoyo sedere`k opoto, nyuwun pangapunten sedoyo lepat. nungsung werto nyoto nipun kirang pelaporanipun ha ha.

    • Sami-sami Mas Faj. Klenta-klentuning atur nyuwun pangaksami. Nyotonya kelewat heboh untuk dilaporkan secara detil. Ada yang lungguh jegrang, ote-ote, gobyos-gobyos. Hehe…

  23. Perjuangan abis untuk bisa menampilkan komen saya disini kali ini. sudah 3x saya menulis panjang lebar tapi entah mengapa mesti kog Gagal terus. ini yg ke4 kalinya nek gagal maneh yo wes Mboh…

    Pengalaman baru kembali ku dapatkan kali ini, tentang proses pembuatan emping tentunya.
    Kepada ke 2 Guest Star kita , saya minta maaf kalau dlm perjalanan pulang kemaren kami (baca: saya) ngonthelnya jan mempeng abis ( sampe2 diwarnai dgn senggolan dgn Raleigh P.Adi) dikejar janji sih pak. bahkan saat tiba dimarkas pun sy sampe tdk sempat nguntapke.
    Empingkupun yg bermotif “Segitiga Berenda” itupun blm sempet ku proses lbh lanjut.
    2 minggu kedepan sy jg bakal Absen, ada Duty Call from Family… *gantian dgn Mr.Agung Max*.

  24. walaa walla ojo banter-banter bosss sampai2 pitku dterjang. paling2 kesusu pulang njaluk jatah masalae …hii ojo ngeres, maksudku jatah emping yang dibeli pengen ngerasakke kremess -kremes pedas asin mantap tenan kok yo….buat komandan onthel potorono ojo banter2 kalau naik sepeda mesakke koncone ditinggal sing alon2 wae ben ketok kompak…wisss sikkk yooo…

    • Hehe… Pak Adi sama Pak Erwin kan sama-sama mau pulang cepet. Dilarang saling mendahului. Mestinya saling meninggalkan. Haha…

      Sorry, pas funbike kemarin saya memang ngebut mendampingi Bung Max’s untuk sampai di barisan terdepan. Mangsut hati supaya sampai finish. Ternyata? Tet tooot… waktu bagi beliau untuk mengantar Ibu mertua ke stasiun sudah tiba. Alhasil saya sendirian. Ngomong2, di antara kita semua hanya ada dua orang yang tetap bugar sampai akhir. Apa rahasianya ya???😀

  25. sederek potorono menopo bade ngrawuhi acara SOLO…menawi kepareng badhe nderek gabung….
    salam

  26. Pak Rendra sampai jumpa di Solo. Kalau event sepeda tidak kerawuhan priyayi Karawang ini pasti kurang meriah. Saya bahkan sudah booking penginapan sejak 2 minggu lalu, pokokmen mantap. Insya Alloh siap berangkat.

  27. wah mas Sahid ….. justru acara baru akan meriah kalau tokoh PODJOK ( yg raja kuliner)dan OPOTO sami rawuh….. bukan krn klithikan atau ngonthelnya…tapi diskusi kulinernya yg pasti dijamin heboh…hehehe.. Insyaallah mas Sahid..mudahan kita bs ketemuan di event tsb.
    salam dr karawang..

  28. Pak Rendra berikut ini database kuliner yang enak di Solo, hasil survei pribadi selama 2 tahun terakhir ini:

    1. Nasi Liwet
    – Grade A: Yu Sani Solo Baru
    – Grade B: Loji Wetan
    – Grade C: Bu Wongso Lemu Keprabon

    2. Timlo
    – Grade A: Timlo Sastro – Pasar Gedhe
    – Grade A: Timlo Pasar Triwindu

    3. Bakso:
    – Grade A: Bakso Kalilarang (Yg Pinggir Jalan
    Besar)
    – Grade B: Bakso Alex (Hotel Novotel ke
    utara)
    – Grade C: Bakso Putra Remaja

    4. Soto Sapi:
    – Grade A: Soto Kartosuro
    – Grade B: Soto Triwindu

    5. Soto Ayam:
    – Grade B: Soto Kurnia Kawatan
    – Grade B: Soto Solo Jalan Veteran

    6. Kuliner Unik:
    – Bakmi Ketoprak Kartopuran
    – Garangasem Kartosuro
    – Soto Gerabah J. Dr. Soepomo
    – Dawet selasih Mangkuyudan
    – Sate Ayam Nonongan
    – Angkringan Mas Jack
    – Ayam Bakar Jl. Slamet Riyadi – Purwosari
    – Warung Masja (Masakan Jawa) Mbaron

    Semoga bermanfaat untuk rujukan selama berwisata sepeda di Solo nanti. Nuwun.

  29. Mas Rendra ke Solo sekalian ngereyen titihan ndalem ingkang enggal saking ndalem Marganan? Mengke kepanggih wonten Solo, njih?

  30. matur nuwun pak Sahid info berharganya.. ( benar2 raja kuliner)..mudah2an saya dpt mencicipi yg grade A semua..hehehe..
    @ mas Bagus..ketingalipun kulo mboten mbekto pit amargi cekap tebih je, sekeco nyewo kemawon… sugeng pinanggihan wonten solo mas.salam

  31. Numpang tanya alamat opoto sekalian contek person , aku duwe konco nang jogja kepengin sowan ke Opoto , jarene omahe jedak ……………. suwun mas

  32. @Ki Wignyo dan Kang Sekjen

    Pos tempat ngumpulnya Opoters ada di Puri Potorono Asri B-8, jalan Wonosari KM 8,2.
    Kalau lagi sepi bisa kontak Mas Tono di
    08122719111.

  33. waduh… kalau saja rumahku sekitar jogja… tak belani ikut ke solo…. ya salam saja untuk sederek opotersss… semoga sukses milangkori di tralah surakarta….

  34. kok petualangan kita mendaki gunung belum muncul bos…hiii jangan lupa cewek kenalan dimasukkan sekalian biar pak tono kelingan terus… gpp kan buat cuci mata..besuk bawa sandal lagi …utk.petilasan tapi sandalnya yang bagus ya…..biar lariss…wiiiis yooo komandan

    • Weleh weleh… nanti kalau sudah sempat mindahin fotonya ya. Tadi pagi ada yang lewat depan rumah sambil celingukan nyari-nyari saya. Kira-kira mau membuktikan bahwa setelah pendakian itu paginya masih kuat jalan. Hahaha…

  35. Bapak-bapak, oleh-oleh Empingnya sudah saya goreng dan siap untuk dicicipi bagi yang ga takut asam urat. dan stoknya masih banyak kok.
    untuk Event di Solo mungkin kita bisa Minggu nya atau nanti kita bisa diskusi lagi,Nuwun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s