Jajan Pasar Kauman dan Bakmi Paku: Suatu Sore di Sorga Kecil

Naluri bisnis seringkali melahirkan gagasan kreatif memanfaatkan sebuah momentum untuk mendapatkan keuntungan. Pada titik tertentu, pemanfaatan momentum besar seperti bulan Ramadhan secara berlebihan sering dikritisi sebagai komodifikasi yang dikhawatirkan akan mengganggu kekhusukan beribadah, bahkan akan mengecilkan arti kehadiran bulan suci tersebut. Di saat keimanan batin kita semestinya berkontemplasi, mengapa kalkulator duniawi kita masih juga berderak-derak?

Sebenarnya, di manakah batas ukuran berlebihan dalam konteks tersebut? Minggu, 13 September 2009 lalu ketika Komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel sore hari sambil ngabuburit, kami menyaksikan sebuah fenomena lain yang tergelar di depan kami, tepatnya di sebuah gang di wilayah Kauman, jalan KHA Dahlan, Yogyakarta.

kauman-1

menanti saat berbuka

Setiap Ramadhan tiba, sepanjang sore hingga maghrib menjelang, gang kecil itu disulap menjadi pasar sore yang menyediakan aneka jajan pasar dan berbagai lauk-pauk untuk berbuka puasa.

Uniknya, ada beberapa jenis makanan yang di luar bulan Ramadhan akan susah didapatkan. Sebut saja misalnya kicak, makanan terbuat dari ketan dan parutan kelapa muda dengan irisan buah nangka yang manis-gurih; lalu ada juga menthuk, semacam bongko daging ayam bersantan kental. Aroma daun pisang pembungkusnya menjadikan menthuk ini semakin lezat.  Kedua makanan khas tersebut banyak dicari sehingga saat kami tiba di sana hampir saja kami tidak kebagian. “Kicak biasanya hanya sempat kami gelar sebentar Mas, karena sebelum sore biasanya sudah habis”, kata seorang ibu tua yang menangkap kekecewaan kami. Dan benar saja. Selama kami di sana, beberapa pembeli selalu menanyakan jenis makanan satu ini.

kauman-2

jajanan berlimpah, pengunjung tumpah ruah

Meskipun demikian, bukan berarti makanan lain kurang diminati. Kipo, makanan terbuat dari tepung ketan berisi enten-enten (parutan kelapa muda yang dimasak dengan gula merah) yang tinggal satu-satunya, saat sedang kami tata untuk difoto, ternyata langsung diserobot oleh seorang ibu muda. Begitu juga dengan makanan lain seperti jadah manten, yaitu serupa semar mendem (lemper ketan berbalut dadar telor) yang dijepit bambu lalu dibakar, srabi bakar manis dengan campuran buah pisang, kue lumpur (kue kuning bulat berbahan tepung terigu, telor, dan santan nan manis-legit), bika, tahu bakso, risoles, sate donat dan semua jenis jajanan pasar dalam waktu singkat terbeli oleh antrian pengunjung yang terus mengalir. Rata-rata makanan itu dijual dengan harga Rp1200 hingga Rp1500.

kauman-3

kue lumpur, kicak, srabi pisang, dan aneka lauk yang selalu laris manis

Kami lihat, di sana tak ada kompetisi di antara para penjual jajanan itu. Semua menggelar dagangan dan semua percaya kepada rizki serta peruntungan masing-masing. Mereka bahkan saling bertukar uang kembalian, serta saling menawarkan dagangan tetangganya ketika mendengar ada permintaan pembeli yang tidak dapat dipenuhinya. Rupanya semua penjualan di gang ini dikelola dengan rapi oleh RT/RW setempat. Aneka jajanan murah-meriah yang melimpah itu seolah disediakan sebagai bentuk hiburan dan penyemangat menyambut momentum berbuka puasa, sebuah kemenangan kecil yang patut “dirayakan”.

Melihat banyaknya deretan penjual sepanjang gang, rasanya tidak berlebihan kalau pasar sore Kauman ini kami sebut sebagai sorganya jajan pasar. Akan tetapi, manalah ada kesempurnaan di dunia ini. Di ujung sorga yang satu ini pun, telah berbaris berjajar beberapa penjaring rizki yang menadahkan tangan, mengharapkan sebagian anggaran berbuka disedekahkan bagi mereka. Bagusnya, mereka tidak berlaku agresif sehingga mengganggu para pembeli, melainkan cukup duduk berjajar di ujung gang sambil berharap banyak pengunjung yang akan tercuri hatinya.

kauman-4

knockin’ on heaven’s door

Maghrib pun tiba. Kami membatalkan puasa dengan meminum sebotol jus jambu biji merah yang segar. Sebagian teman memilih stup jambu beraroma daun sereh sambil menggigit sepotong kue kicak, sebelum acara berbuka yang sesungguhnya kami rayakan di warung bakmi Pak Rebo di jalan Brigjen Katamso, lebih kurang 100m di sebelah utara Pojok Beteng Wetan (sebelah SDN Kintelan). Tentu saja setelah kami melakukan shalat maghrib di masjid terdekat.

kauman-5

tempat yang bersih, sebersih penampilan bakminya

Bakmi Pak Rebo ini adalah varian bakmi Jawa yang berpenampilan bersih, karena tidak menggunakan kecap sedikit pun. Kecap berbagai rasa disediakan sebagai sesuatu yang opsional di luar bakmi yang disajikan. Kuah bakmi rebusnya sangat kental dengan telor bebek yang semakin menghadirkan rasa khas bakmi Jawa yang kuat. Uniknya, jika kita memesan bakmi di sini untuk dibawa pulang, maka bungkus kertasnya tidak akan menggunakan lidi atau stapler sebagai pengunci, melainkan menggunakan paku reng baru. Itulah sebabnya bakmi Pak Rebo juga dikenal luas sebagai bakmi paku.

Dahulu, Pak Rebo berjualan bakmi di tenda depan SD Kintelan. Tapi, semenjak Pak Rebo tiada, isteri Pak Rebo melanjutkan usaha ini dan sedikit menggeser lokasi jualan di sebuah bangunan permanen. Dibantu beberapa orang, Bu Rebo melayani para pelanggan berbagai kalangan yang terlanjur cocok dengan citarasa bakmi paku.

Dengan harga seporsi di atas Rp10 ribu, bakmi Pak Rebo sebenarnya tidaklah terlalu murah. Setidaknya untuk ukuran komunitas Opoto🙂 Selain keunikan penampilan dan rasanya, tempatnya yang luas dan bersih barangkali juga merupakan daya tarik lain bagi pelanggan. Hal ini menjadi penting, karena kadang jika antrian panjang, pembeli harus menunggu relatif lama karena bakmi di sini dimasak seporsi demi seporsi. Tetapi, sekali lagi, bukankah rasa lapar yang timbul selama menunggu itu merupakan bumbu masak paling lezat?

kauman-6

tak lupa membungkus untuk keluarga, selagi pakunya masih ada

Sesaat setelah rasa kenyang sedikit mengendap, kami kembali mengayuh onthel kami menuju Kotagede, Ngipik, dan sampailah kami ke kampung Potorono. Kami yang menjalankan puasa pun segera membersihkan diri, lalu menyusul tetangga-tetangga yang sudah bersiap menuju masjid. Malam itu badan kami terasa bugar. Keriangan setelah memanjakan lidah saling mencicipi aneka jajan pasar dan menikmati gurihnya bakmi paku sungguh menjadikan sebuah perayaan kecil yang sempurna atas kemenangan kami berpuasa sehari itu. “Sorga“ ternyata tak jauh-jauh dari jangkauan.🙂

***

Komunitas Onthel Potorono (OPOTO)
menyampaikan

“Selamat Idul Fitri 1430 H”
Minal Aidin Walfaizin
Mohon Maaf Lahir Batin
.

24 responses to “Jajan Pasar Kauman dan Bakmi Paku: Suatu Sore di Sorga Kecil

  1. Atas nama keluarga besar
    ” Classic Onthel Club ”
    Tangerang – Banten

    dan crew redaksi
    http://www.onthelclassic.wordpress.com

    mengucapkan

    Mohon MAAP Lahir dan Bathin
    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H

  2. bakmi jawanya kok ngga di foto pak ? 😀

    • Iya tuh. Langsung tandas. Bahkan sekedar untuk difoto pun pada enggan berbagi. Ada sih, tapi itu, masih dibungkus. Weleh… weleh…😀

  3. Itoe Bakmi Pak Rebo memang berasa lezat. Bakmi langganan saja sedjak kecil doeloe, karna roemah orangtua hanja 150 meter dari sitoe.
    Bakmi Pak Rebo masih satoe sepergoeroean dengan Bakmi Pak Mo Manding Bantoel. Dua waroeng bakmi hebat di kota ini.

    • Hehe… kemarin kami juga sambil rasan-rasan: kalau ada Pak Sahid, bakmi ini mungkin akan diberi label 1e soort A. Haha…

      Penampilan bakmi Pak Rebo yang terlalu “pucat” mungkin meragukan sebagian orang. Apa lagi bakmi gorengnya. Harus ada penjelasan. Kalau bakmi Mbah Mo, sepertinya daging ayamnya lebih ‘jor-joran’ 🙂

  4. Tiada gembira yang menggelora, tiada senang yang mengangkasa, selain kita telah kembali pada fitrah dan ampunanNya. Taqaballahu mina wa minkum, selamat idul fitri 1429 H, minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin..

    Mas wongeres… InsyaAllah saya ingin mampir ke Opoto saat Ekspedisi Safety Riding.. JKT-SOLO 20-26 Okt 2009 semoga berkenan…

  5. Setuju Kang Nur, Bakmi Pak Rebo kalau dianalogikan dengan sepeda Fongers adalah memang setara dengan seri BB, kemudian Bakmi Mbah Mo dulunya memang sama-sama seri BB, tetapi sekarang sepeninggal Mbah Mo, status rasanya turun menjadi CCG he..he..he..

  6. hayoooo… pilih bakmi apa soto????????😆

  7. @ Max

    Warung Podjok Ayam/Ikan Bakar di Jambidan menarik juga lho untuk disambangi. Rabu sore kemarin sebagian Kerabat Podjok buka bersama di Warung Podjok tersebut. Murah dan lezat he..he..he..

    Pulangnya lewat jalan tembus di “daerah kekuasaan” Opoto, njedul di samping Kid Fun Jl. Wonosari. Seru juga waktu itu karena angin malam berhembus cukup keras sekali sehingga sampai mematikan lampu minyak. Nuwun.

  8. @ om sahid
    benar om sahid… harga dan masakan ayam / ikan bakarnya benar-2 special….warung ayam bakar dan ikan bakar “mas yanto”, disana itu buka jam 5 sore setiap harinya, cuma terkadang jam 7 atau jam 8 malam udah kehabisan untuk menu specialnya (ayam & lele bakar)…. memang ada sich menu2 yang lainnya, cuma menurut saya kurang begitu nyooos….🙂

  9. Selamat dan sukses selalu untuk kawan-kawan Onthel di sana.

    KAMI KELUARGA BESAR “BUBUHAN ONTHEL MAHAKAM” (BOM) SAMARINDA MENGUCAPKAN :

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1430 H

    MINAL ‘IADIN WAL FAIZIN

    MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

    kepada kawan-kawan onthelis dimanapun berada, teman-teman komunitas sepeda lainnya. Semoga persahabatan kita tetap terjalin dengan baik. Amien….

  10. kami atas nama mbah ngatidjo mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDHUL FITRI MOHON MAAF LAHIR BATHIN.
    wah sebulan gak ngonthel nih, yooook ngonthel lg.

  11. Sahabat-sahabat Opoto yangv berlebaran, mindal aidzin wal faidzin.

    @ Margi
    Jumat malam kita mulai lagi Jurit Malam untuk sweeping kuliner lezat.

  12. MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR BATIN, KAGEM SEDHEREK-SEDHEREK OPOTON LAN PENDHEMEN ONTHEL SAK NUSANTARA, 1 SYAWAL 1430 H. (BAGUS MAJENUN)

  13. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H mohon maaf lahir dan batin untuk semua Opoters….
    @pak sahid
    iya pak sahid waktu itu anginya cukup kencang sehingga memaksa saya untuk menggunakan selimut ninja hehehe….mohon maaf juga kemarin saya ‘mudik’ ke Bandung tidak sowan dulu…
    @mas nur
    kapan2 mbok saya diajak menikmati bakmi pak rebo…hehehehehe

  14. @ Bejo
    Ada 3 target kuliner baru kategori TOP MAK NYUSS di Bantul sudah masuk radar he..he..he.. segera akan disweeping mulai minggu ini.

  15. Onthel Balikpapan Mania ( Obama ) mengucapkan selamat Hari Raya Idhul Fitri 1430 H , Mohon maaf Lahir dan Bathin …………. Salam Obama
    mohon contek peson Opoto siapa tahu akhir tahun saya mudik

  16. taqabbalallahu minna wa minkum….kapan opoters mo syawalan?

  17. Pak Sahid, Pak Rendra, Mas Margi & keluarga Mbah Ngatijo, Mas Bagus K, Mas Bejo, Ki Wignyo, dan semua sahabat ontelis di mana saja berada.

    Sekali lagi mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan sekecil apapun yang barangkali pernah kami lakukan.

    Kepada sahabat yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, semoga puasa kita diterima. Amin.

  18. indonesia memang punya banyak budaya jadi nya banyak juga makanan khas yang bisa kita nikmati, tapi sayang nya hal ini kurang di kembangkan…
    blog ini bisa jadi sarana pengembangan budaya bagus sekali..^^.. keep going..

  19. Ping-balik: Menikmati Bakmi Jawa Pak Rebo Kintelan « Wisata Kuliner Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s