Fongers dan Baju Petani: Kemarin, Kini, dan Esok Hari

Awal September lalu, sebuah undangan acara unik kami terima dari sahabat-sahabat onthelis Podjok. Kami diminta bergabung di acara “Tour Obat Nyamuk”, sebuah event ngonthel tematik memperingati ulang tahun Fongers, salah satu pabrikan sepeda terkenal di Belanda. Dalam undangan itu disebutkan bahwa peserta tour diharapkan mengenakan kostum jadoel. Beruntunglah, kastup atau baju petani yang sudah menjadi salah satu ciri penampilan komunitas Opoto (Onthel Potorono) –selain kaos– itu saat ini sudah menjadi pakaian jadoel juga. Berarti kami cuma perlu menyiapkan sepeda Fongers kami saja.

Ternyata, teman yang berminat ikut cukup banyak. Oleh karena beberapa teman kami masih memerlukan baju petani, malam itu juga kami ngonthel ke rumah Pak Maryanto, seorang penjahit baju petani langganan kami di Kotagede. Eloknya, meskipun kami datang malam-malam, Pak Maryanto tidak berkeberatan membuka kembali pintu rumahnya yang semula sudah tertutup. Kami pun memilih baju dan celana sesuai ukuran sambil ngobrol berkepanjangan.

pawai-fongers-1

Pak Maryanto, penjahit kastup langganan Opoto

Malam itu Pak Maryanto bercerita, betapa masa kejayaan baju petani hasil jahitannya sekarang sudah berakhir. Dahulu, dibantu istrinya, ia bisa menjual baju petani hingga ke Ngawi, Jawa Timur. Pada masa itu, para petani masih mengenakan kastup sebagai pakaian harian, baik di ladang, di sawah, maupun di rumah. Sedangkan sekarang, kata Pak Maryanto, petani ke sawah sudah pakai celana jeans dan kaos oblong. Kastup buatannya hanya dibeli orang sebagai kostum kesenian jathilan, atau jadi souvenir semata. Dengan demikian, penjualannya sangat terbatas sehingga biaya transpor ke luar kota tidak akan tertutup. Bulan Agustus lalu dagangannya lumayan laku karena banyak digelar pentas kesenian daerah dan karnaval. Tetapi itu pun tidak terlalu banyak.

Dahulu, penjahit kastup masih merupakan profesi yang menjanjikan. Oleh sebab itu, Pak Maryanto pun bersedia meneruskan usaha warisan dari ayahnya. Tetapi sekarang, anak Pak Maryanto tidak mau lagi meneruskan profesi turun-temurun ini. Zaman sudah berubah. Banyak profesi tradisional pun nyaris punah.

pawai-fongers-2

di balik dinding kampung bermural inilah Pak Maryanto tinggal

Sebagai penjahit kastup turun-temurun, untuk membuat baju dengan ukuran khusus pun Pak Maryanto cukup memandangi sosok yang akan memakai baju itu, lalu mengukur lingkar perut dengan seutas tali ravia. Sudah. Dalam waktu singkat baju dan celana itu sudah akan siap dan enak dipakai. Hal ini, selain dimungkinkan oleh desain kastup yang memang mensyaratkan ukuran longgar agar leluasa dipakai bergerak, juga karena Pak Maryanto sudah memiliki pola ukuran sendiri yang ditandainya sebagai K (kecil), B (besar) dsb. Pola ini konon dahulu dibuat mengikuti potongan baju orang-orang Cina pendatang.

Dari sisi kualitas, Pak Maryanto menyediakan dua macam bahan kain. Satu stel kastup dengan bahan kain yang agak tebal dijualnya rata-rata Rp100 ribu dan Rp50 ribu untuk kain yang lebih tipis. Meskipun warnanya hitam pekat, kedua jenis kain ini tidak banyak luntur saat dicuci sehingga warnanya relatif awet dipakai sebagai pakaian sehari-hari. Oleh karena itu, selama ini komunitas Opoto mengenakannya tanpa takut luntur terkena keringat atau air hujan.

pawai-fongers-3

sebuah kehormatan ketika Pak Sahid dan Sekda DIY Bpk Triharjun berkenan memperhatikan CCG 60 dari kampung Potorono…

Acara yang ditunggu pun tiba. Minggu sore, 6 September 2009, menepati janji kami untuk hadir, kami ngonthel ke kantor pos. Sesampai di sana, teman-teman Podjok sudah menata sepeda mereka –sebagian besar bermerek Fongers– rapi berjajar di sepanjang trotoar. Agaknya kami terlambat. Kami pun ikut menata sepeda kami di deretan belakang.

pawai-fongers-4

DZ 1922 dan BB 1926, dua sejoli koleksi Pak Sahid yang menarik perhatian

Setelah kami beramah-tamah dengan sahabat-sahabat onthelis, tak berapa lama Mas Towil memberikan sambutan yang segera diikuti dengan acara ngonthel bersama. Acara menjadi lebih meriah karena ternyata Pak Triharjun, Sekda Propinsi DIY berkenan hadir dan ikut mengayuh Fongers HF kesayangan beliau.

pawai-fongers-5

serasa sebuah keluarga

pawai-fongers-6

menikmati segarnya udara sore

Berada di kerumunan sekian banyak sepeda Fongers, kami serasa hidup kembali di zaman ketika sepeda Fongers masih menjadi kendaraan favorit yang prestisius.

Saat teknologi transportasi ringan belum berkembang seperti sekarang, sepeda Fongers merupakan salah satu sarana transportasi penting yang sangat diperlukan. Akan tetapi, dengan adanya kendaraan bermotor yang semakin terjangkau, sepeda pun dilupakan. Sepeda tak lagi dipakai sebagai sarana transportasi harian, melainkan hanya dipakai pada event tertentu seperti pawai sore itu. Selebihnya, sepeda Fongers hanya menjadi pelengkap koleksi para kolektor.

pawai-fongers-7

berbuka di dapur sambal, Opoto pilih terus memperpendek jarak pulang

Agaknya, nasib sepeda Fongers pun tak ubahnya seperti kastup, baju petani kami. Beberapa orang mungkin masih membelinya, tetapi tak lagi memperlakukan sesuai fungsi primernya.

Di dunia ini sungguh tak ada sesuatu yang abadi. Segala yang kemarin begitu diinginkan untuk digapai, belum tentu hari ini masih dipakai. Semua yang hari ini kita pakai, belum tentu besok masih kita hargai.

pawai-fongers-8

berbuka bakso balungan gedongkuning, habitat kami selain warung soto🙂

Dan sore itu, kami mengenakan kastup, mengendarai sepeda Fongers, bagaikan orang-orang naif yang nekat bertahan dari putaran zaman. Untuk apa? Setidaknya untuk meneguhkan hati kami agar tak silau oleh zaman. Tak terlalu terpukau oleh apa yang sedang berkilau, dan tak begitu saja membuang apa yang mulai temaram. Sebagaimana semua hal memiliki kesempatan berkontribusi pada zamannya, kami pun mesti memanfaatkan momentum kami. Semoga kami sempat, sebelum kesempatan benar-benar lenyap.

*
Terima kasih buat sahabat-sahabat Podjok atas keterbukaannya melibatkan kami dari Potorono dalam acara ngonthel ini. Semoga kebersamaan ini terus terpelihara.

52 responses to “Fongers dan Baju Petani: Kemarin, Kini, dan Esok Hari

  1. sangat mengesankan, indah dan lugu…. andai bisa bergabung..
    salam dr karawang

    • Ini hanya acara nostalgia masa lalu. Tasikmalaya adalah masa kini yang jelas lebih butuh kehadiran Pak Rendra. Besok semoga masih banyak waktu untuk kebersamaan kita.

      Salam tulus dari kampung Potorono.

  2. Dari mata turun ke hati…dari baju kastup turun ke bakso balungan……mau?

    • Wah, Pak Sahid ini curang. Lha saya nggak dapet gambar Panjenengan, malah saya yang kejepret. Hehe…

      Pertimbangan kami untuk lanjut hingga ke bakso balungan itu, selain memperpendek jarak pulang, di depannya ada masjid, dan di bakso balungan itu ada tv sehingga kami bisa mengontrol kalau motoGP sudah mulai🙂

  3. Asik sekali kelihatannya

  4. Kalau posting reportase mengenai sepeda fongers tanpa memajang potret sosok seorang Wongeres salah-salah saya bisa kualat he..he..he.. Karena Kang Nureska adalah salahsatu tokoh pemerhati sepeda Fongers di Jogja selain Bung Niko. Jadi memajang potret Beliau ini akan melengkapi kisah kasih sepeda Fongers di Jogja.

  5. oooh.. dik fongers sungguh cantik nian kau…. kapan ya aku memilikimu?????

  6. Boleh pak kastupnya di kirim ke KEBUMEN! Kan udah bekas.
    Opoto pancen ora ana matine, apa maning nek maca tulisane.
    Pokoke mantep banget, yakin lah sumpah.

    • Haha… mau berapa koli? Pak Maryanto suami-istri masih sanggup lembur untuk memenuhi kuota pesanan dari Kebumen.

      Tulisan tentu memiliki keterbatasan untuk menggambarkan kegembiraan dan kebersamaan. Semoga memadai sekedar sebagai reportase bagi yang kemarin tak sempat hadir.

      Salam dari kampung Potorono.

  7. baju kastup …. aku njur kelingan naliko bapaku isih sugeng saben isuk manggul pacul lewat galengan menyang sawah duh …. duh … duh rasane nangis jroning ati opo maneh mirsani pak maryanto aku kelingan sih sing wis sedo … boleh dong baju kastupnya di Balikpapan tidak ada lho

    • Semoga air mata Ki Wignyo adalah air mata syukur karena merasa beruntung telah mengalami masa-masa itu, mendapatkan banyak tauladan dari ayahanda yang menjadikan Ki Wignyo seperti sekarang ini.

      Silahkan diborong kastup buatan Pak Maryanto. Komunitas Opoto tak hanya memakainya saat ngonthel, tapi juga saat kami di rumah. Ronda, ngobrol di pos, dan saat ngisik-isik sepeda.

  8. Nah itu Kang Nur…ada peluang bisnis utuk Opoto jadi authorized online dealer untuk produk kastup pak maryanto he..he..he..

    Toko surjan di dalam Makam Kotagedhe juga keren lho…mutu bahan dan jahitan menurut saya juga sangat pantas untuk diliput oleh Tim Reporter Blog Opoto.

    Acara-acara Podjok selalu terbuka untuk umum, tidak harus mendaftar resmi jadi anggota, yang penting cinta dan punya sepeda onthel…langsung join di acara…mau?

    • tahun ini kapan ada acara ontel nasional di jogja lagi pak sahid ? tetap bln November kah ?

      • Mas Heru…tahun ini Podjok tidak menyelenggarakan acara nasional karena pertimbangan situasi resesi ekonomi. Kita hanya akan ikut meramaikan acara Jogja Bike Week Festival 2009 yang rencana akan digelar bulan Oktober mendatang. Detil acara…coming soon.

  9. Mudah-mudahan persahabatan antara Podjok dan Opoto bisa menjadi model interaksi komunitas sepeda onthel di tingkat regional. Kita bisa saling mendukung dan mengisi secara alami tanpa SOP yang complicated he..he..he… Semoga JOC dan PORY bisa segera menyusul bergabung dalam jejaring yang indah ini…

  10. foto no.1 & 3 ada yg narsis pol. PD dengan rambut yg warna hitamnya baru mulai tumbuh🙂

    Mr.Max Agung mau Fongers ?? selesaikan dulu PR nya yg laen ya..!!!

    Bener P.Sahid. komunitas onthel sdh semestinya ya seperti ini , tanpa SOP yg ruwet, tanpa melihat faktor laen yg bikin ***** , yg penting kan saling mendukung dan mengisi dengan persahabatan yg erat.

  11. Fongers Opoto pada pake karet bunder Puteh ya …ehmmmmm

  12. Mas Noor, liputannya jan mantap tenan. Benar-benar banyak Fongersaurus yang bangkit lagi. Sayang belum bisa bergabung, lain kali kalau ada waktu bisa bertemu dan ngonthel bersama.

    • Terima kasih, Mas Bagus. Maksudnya memang buat ngomporin Mas Bagus agar menyempatkan bergabung di kesempatan mendatang. Hehe…

  13. Ketika sepenggal syair yang di lantunkan oleh Bung Iwan Fals, …Kemesraan ini janganlah cepat berlalu…kemesraan ini ingin kukenang selalu, hatiku damai, jiwaku tentram disampingmu. Rasanya pas untuk mengungkapkan betapa kebersamaan yang konon memiliki arti tersendiri bagi kita yang mengalami saat-saat seperti yang terjadi pada 6 september 2009, meski kami tidak bisa berada diantara barisan fonger tapi kami merasakan betapa keinginan itu menyatu diantara deru dan debu. Selamat atas terselenggarnya acara “Tour Obat Nyamuk” Kami berharap semoga Jogyakarta bebas demam berdarah….Sungkem kagem ingkang winantu ing pakurmatan! SALAM DARI KONTJI

    • Wah, Pak Prayogo ternyata seorang lembut hati yang bisa mengapresiasi syair dan puisi. Dari Chairil Anwar hingga Iwan Fals semua dihayati dengan baik.

      Salam kami dari kampung Potorono….

  14. Pak Sahid & Mas Erwin,
    rasanya sahabat-sahabat JOC dan PORY tentu juga mau membuka diri untuk sebuah kebersamaan semacam ini. Tidak harus ketika Podjok yang punya acara, kita pun siap bergabung di acara-acara JOC dan PORY yang bersifat umum, bukan acara intern mereka. Saya pernah ngobrol dengan Mas Gondhez JOC dan saling berjanji kapan-kapan ngonthel bareng. Tentu menyenangkan sekali.

  15. Sakjane yo kemropok atine, madhep mantep wis ati krentek lan mantep melu Tour Obat Njamoek, pit’e yo wis semandhing lan siap. Jebule, Ada panggilan tugas lain tilik sedulur kadhang kulon. he he he

  16. itu ngonthel kapan? 17an? wah nuansanya berbeda.biasanya ga merah ya oren…

    • Halah. Dibilangin juga…
      Selama ini kita kan fleksibel. Ada yang belum punya kastup, kita beli rame-rame. Mau buka, kita tentukan tempat berbuka. Nggak mau ketinggalan motoGP, kita cari tv. Semua kita dapatkan. Enak to? Mantep to? Hehe…

  17. mas Nur apa ada kastup yg ga item…. ( takut btambah item….hehehe)
    mas CCG nya kelihatannya enak banget ya gowesannya… >> ngarep mode on..
    salam tulus dr karawang…
    mas Maxs…. piye kabare dab..

  18. Pak Rendra…
    Wah ini…ajian ngrogoh onthel dari Kerawang sudah di mode on…he..he…he..

    Tapi kalau sudah rejeki-nya pasti suatu ketika akan ada boyongan CCG ke Kerawang, seperti kasus BB60 dari Dusun Golo yang datangnya juga tidak disangka-sangka…modalnya cuma aji mantheng ala “the secret”. Alhamdulillah.

  19. @ Wongeres
    Kang Nur…saya sebetulnya juga sudah mulai akrab dengan Mas Gondhez…tapi saya malah kurang tahu kalau beliau JOC.

    Kemarin sewaktu PORY punya acara launching, Podjok juga full team inti ikut hadir memeriahkan.

  20. wah pak Sahid kok lsg nembak to, bisa badar ajian saya …hehehe.. kayaknya kalau buta mas Nur jurus ” the Secret” mboten mempan pak, lha mas Nur itu termasuk piyayi yg penuh ” secret” je… piss mas..

    • Haha… makanya setiap kali driver taxi nanya tujuan saya mau ke mana, saya selalu jawab: “sssstt… rahasia!”😀

      Pak Rendra, coba perhatikan, siapa saja yang tertarik dengan BB dan DZ dalam foto di atas? Nah, Pak Rendra bisa minta beliau-beliau itu untuk nangkepin satu lagi yang semacam itu. Syukur kalau malah ya memang itu! Haha…

  21. Pak Sahid, sesama pencinta onthel pasti sudah sering ketemu. Dan, siapa yang tak kenal Pak Doktor onthel Sahid Nugroho? Haha…

    Setiap komunitas onthel biasanya punya style atau “lageyan” masing-masing. Tidak apa-apa. Itu malah akan memperkaya. Yang penting kita saling terbuka mendukung program/acara kita sejauh jumbuh alias sinkron dengan misi kita masing-masing. Bagaimana?

  22. @ Rendra & Wongeres

    Pak Rendra & Kang Nur… sebetulnya masih banyak koleksi Fongers di Belanda dengan status kondisi seperti DZ 1922 di atas, namun harus bersabar juga menunggu sang kolektor bosan atau butuh uang.

    Sehabis lebaran, ada rencana touring ke Museum Gula Gondang Baru Klaten sekalian nengok warung klithikan Pak Harun yang baru saja buka di depan pabrik.
    Arsitektur perumahan mandor-mandor tebu Belanda disana juga keren untuk dipotret.
    Sumanggah kalau Opoters mau ikut bergabung menjajal kedigdayaan fisik onthel dan onthelisnya he..he..he..

    • Tepatnya tanggal berapa acara Gondang Baru itu Pak Sahid? Semoga masih ada sisa THR untuk bekal ke klithikan Pak Harun. Hehe…

  23. Kang Nur, ini detilnya masih menunggu perencanaan lebih lanjut, tetapi waktunya diperkirakan sekitar pertengahan oktober. Berangkat seperti biasa pagi jam 6.00 dikawal mobil perbekalan di belakang konvoi, sekaligus menjaga risiko arus kendaraan dari belakang. Nuwun.

  24. mas Nur…. kalau DZ dan BB ndalem Sahid Nugrahan bakalan sangat susah nangkepnya…. meskipun segala jaya kawijayan dan ajian dikerahkan..jd ya tdk pernah berani mimpi lagi….hehehe..
    Mas Max, apa kbr.. apa masih sibuk ” ngelas”…hihihi

  25. Pak Rendra, di Kotagedhe masih banyak BB orisinilan yang tersimpan baik sebagai pusaka keluarga. Suatu ketika pasti ada yang dilepas.

  26. Om Rendra… kabar baik-2 dan sehat selalu om, untuk bel-nya, masih tegar dan berwibawa om (terpasang dengan kekuatan penuh)…. hik..hik..

    Om Sahid… kalau ada info di ktgedhe masih bisa dijumpai banyak seri BB, waaah “priyayi kerawang” siap-2 mempraktekkan ajian “tumpes kelor” nich….. haa..haaa… peace om rendra…

  27. Mas Rendra, kalau masih butuh BB 60 tidak hanya ada di Kotagede, silakan datang ke tempat para mantan juragan batik di Tirtodipuran. Terus ada lagi di Kolsani Jl Abu Bakar Ali, BB dan DZ tergantung di atas ruang pemyimpanan sepeda. Kalau saya masih menunggu wangsit ini

    • Iya, Mas bagus. Untuk sementara biarlah beliau duduk manis sambil menunggu paket obat nyamuk nan cantik. Sayang Pak Posnya juga butuh lebaran, jadi sanggupnya sowan ke Karawang tentu setelah lebaran. Hehe…

  28. ….pa Sahid mas Bagus, mtr nuwun infonya, siapa tau ketiban rejekinya, sy juga masih nunggu wangsit je mas>> bagi2 info lho mas, alap alap Potorono sudah siap mengepakkan sayapnya…hehehe..
    Mas Wong… wah jan piyayi kok ngerti sak durunge winarah… gawat..
    @ mas Maxs, selamat berburu ke Kotagede, saya denger juga ada BB 60 yg stangnya di las ke bel lho…hihihi..piss
    salam hangat dr karawang

  29. Nah itu ternyata masih banyak obat nyamuk di kawasan kota tua Jogja, sekarang tinggal menunggu tumuruning wahyu fongers. Amien.

  30. Waduh mas Nur, mohon maaf saya tidak dapat bersama dengan semua rekan, lain kali ikut ah.. ah selamat yah

  31. hmmmm…berbuka berbareng satu rasa hobbi menjadi bagian tersendiri dari eloknya bulan penuh segalanya ini,
    matur nuwun opoto matur nuwun,
    ternyata balungan juga menjadi favorite kita semua hehehehe.
    podjok segera open house bareng disalah satu kerabat podjok.
    salam kami salam kita.

  32. @ om rendra
    haaaaa…haaaa.. belnya sudah dilepas kok om rendra, cuma sekarang gantian framenya yang dilas ke tiang listrik.. faktor keamanan katanya… haaaaa..haaaaa…

  33. Fongres berkumpul?”
    hebat tenan….

  34. Ini baru Ontelis yang sejati………
    kalo bisa diperjelas gambar foto fongers yang diatas antara bb atau hz…..trimakasih…

  35. Sebagai orang jawa ibarat kata ojo lali karo jowone. Banyak jasa nya sepeda onthel saat itu. Untuk mergawe dan anjangsana. Kalau jaman sekarang disarankan untuk bike to work. Maka sudah sepantasnya onthel harus terus di lestarikan. Salut !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s