Pasar Pandak: Wisata Belanja Sepeda Onthel

Sebaik-baik perubahan adalah yang dapat kita kendalikan melalui sebuah perencanaan yang baik. Sedangkan sebaik-baik rencana perubahan adalah yang tidak banyak menyisakan korban. Laju modernisasi dan tuntutan pasar global merupakan salah satu kekuatan yang memicu perubahan dalam kehidupan keseharian kita. Kalau kita perhatikan, pengembangan dan perluasan kota telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat pinggiran kota, bahkan desa, termasuk mempengaruhi pola konsumsi mereka.

Aktivitas ekonomi masyarakat desa yang dahulu terpusat di pasar tradisional, kini sebagian mulai tersedot ke minimarket, supermarket, bahkan hypermarket dan mall. Pamor pasar tradisional pun terus merosot. Jika ini terus berlanjut, bukannya tidak mungkin, pasar tradisional akan punah tergerus zaman. Keriuhan pasar desa yang becek dengan baunya yang terlanjur lekat dengan kehidupan kita itu barangkali juga hanya tinggal kenangan. Oleh karena itu, masing-masing pemerintah daerah berupaya mengantisipasi agar pasar tradisional beserta para pedagang yang melakukan aktivitasnya di sana tidak menjadi korban perubahan ini.

Pandak-1

aktivitas pagi pasaran di gerbang pasar Pandak

Beruntunglah kita, para penggemar sepeda onthel, karena pasar sepeda tradisional yang biasanya menyatu dengan pasar hewan itu masih eksis hingga sekarang. Apa lagi saat ini, ketika minat orang akan sepeda onthel kembali merebak.

Lihat saja misalnya pasar Pandak di jalan raya Palbapang-Srandakan (lebih kurang 2 km barat perempatan Palbapang), Bantul, Yogyakarta yang di hari pasaran selalu ramai dikunjungi penjual maupun pembeli, sebagaimana pagi itu, saat komunitas Opoto (Onthel Potorono) main ke sana.

Di pasar Pandak ini, kami melihat banyak sepeda onthel ditata berjajar di sisi selatan, terpisah dari kambing ternak yang berada di sisi utara dan tembakau di sisi timur laut. Dilihat dari jumlah sepeda onthel yang dijual, pasar ini terbilang besar. Jenis serta merek sepedanya pun cukup bervariasi. Pagi itu kami melihat ada lebih dari seratus sepeda dari berbagai merek terkenal seperti Burgers, Batavus, Teha, Raleigh, Humber, dan tentu saja Gazelle. Sepeda jengki pun mudah didapatkan. Sejumlah sepeda jengki tampak diborong seseorang dan langsung dinaikkan ke sebuah mobil bak terbuka. Konon sepeda itu diperlukan untuk transportasi para santri di sebuah pondok.

Pandak-2

apa lagi yang lebih menggiurkan bagi onthelis selain pemandangan ini?

Begitu masuk pasar dan berjalan ke arah selatan, kita akan disambut oleh para pedagang yang kadang agak agresif menanyakan sepeda apa yang kita cari. Sebenarnya, yang banyak berkumpul di sana bukanlah melulu pedagang, melainkan juga makelar yang ikut menjajakan serta mengarahkan pilihan pembeli dengan harapan akan mendapat sedikit persen atau fee dari hasil transaksi. Mereka tak hanya menjual, tetapi juga siap membeli jika ada orang mau menjual sepedanya. Hanya saja, karena mereka membeli untuk dijual lagi, maka mereka biasanya menawar dengan harga yang cenderung sangat rendah.

Pagi itu seorang ibu membawa sepeda Batavus dames untuk dijual. Ia meminta harga Rp1,2 juta, sementara beberapa pedagang hanya menawar di kisaran Rp400 ribu. Penawaran yang jauh di bawah harapan itu membuat Si Ibu memutar langkah. Akan tetapi, sesampai di gerbang pasar ia justru bertemu seorang pengunjung pasar yang bersedia membeli dengan harga Rp800 ribu. Sepeda pun berpindah tangan.

Pandak-3

banyak penawaran, banyak pilihan

Bagi penggemar sepeda onthel, kunjungan ke pasar Pandak tentu saja menyenangkan. Kejutan menemukan sepeda yang bagus sangat terbuka, baik dari penjual sepeda di sana, maupun dari pemilik yang menjual sendiri sepedanya secara langsung. Di samping sepeda, di pasar itu juga ada klithikan. Tak kurang dari lima pedagang kami lihat menggelar klithikan sepeda seperti gir, pedal, stang, sadel, lampu, dsb. Kadang ada juga pedagang amatiran yang datang hanya menenteng sebuah asesoris onthel antik miliknya untuk dijual.

Pandak-4

segera dibeli, atau segera hilang diambil orang

Pasar Pandak mengenal dua hari pasaran, yaitu Pon dan Legi. Pon adalah pasaran untuk sapi, sedangkan Legi untuk kambing. Sementara sepeda akan selalu hadir di setiap hari pasaran, Pon maupun Legi. Sayangnya, jika harga sapi lokal sedang jatuh, pada pasaran Pon pun tak banyak sapi yang kelihatan. Praktis hanya sepeda onthel saja yang meramaikan pasar ini.

Untuk melihat pasar Pandak pada puncak keramaiannya, orang akan datang pada hari pasaran Legi. Mereka akan datang sedini mungkin, karena tidak seperti pasar sepeda di Godean atau Barongan, misalnya, pada pasaran Legi pedagang sudah mulai berdatangan sejak pagi-pagi sekali. Datanglah pukul 06.30 WIB. Sambil menunggu pasar ramai, kita bisa sarapan nasi rames dan ketan-tempe di dalam pasar atau sekedar menghirup teh panas untuk menghangatkan badan. Jika datang agak siang, maka barang-barang klithikan yang bagus biasanya sudah dibeli orang.

Pandak-5

ada juga yang bingung: sepeda dulu, atau kambing dulu?🙂

Jika sepeda yang ada di sana tidak juga menarik minat kita, jangan dulu kecewa. Tunggu saja beberapa saat. Sebab, biasanya jika kita terlihat mencari “barang bagus”, para pedagang dan makelar itu akan siap menginformasikan serta mengantar kita ke rumah-rumah para penjual sepeda di sekitar Pandak. Koleksi penjual rumahan ini biasanya lebih utuh dan terawat. Istilahnya “kari mancal” (tinggal mengayuh) saja. Oleh karena itu, harganya pun biasanya relatif lebih mahal.

Pandak-6

sepulang dari pasar, selalu ada penampilan dan kegembiraan baru

Bagi masyarakat Bantul, khususnya sekitar Pandak, agaknya pasar Pandak hingga saat ini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Orang pun datang dari berbagai penjuru untuk menjual dan membeli ternak atau sepeda. Beberapa di antara mereka tampak membelanjakan sebagian keuntungan penjualan ternak atau sepeda untuk membeli tembakau dengan aroma sesuai selera mereka. Beberapa lagi menyempatkan bercukur di pinggir jalan, persis di depan pasar tersebut.

Sepagian mengamati segala kegiatan di pasar Pandak serasa mengenali kembali irama kehidupan masyarakat desa yang wajar dan sederhana. Mereka menjual, membeli, dan melakukan hal-hal yang mereka butuhkan untuk kehidupan mereka dengan secukupnya. Sikap ini barangkali menjadi tidak sesederhana seperti kelihatannya jika mengingat betapa kita yang hidup di kota kadang bahkan tidak mampu untuk mengatakan: cukup.

(wongeres)

77 responses to “Pasar Pandak: Wisata Belanja Sepeda Onthel

  1. terharu…. hik…hikk…😥 sebuah pemandangan yang hampir tidak dijumpai lagi di KOTA…. siiip dach….

  2. Daripada bingung milih kambing atau onthel, cukur gundhul dulu aja. Haha…

  3. Komunitas Opoto menyampaikan Selamat berbahagia kepada Mas Tono dan Mbak Shanty atas lahirnya puteri pertama nan cantik. Semoga semakin melengkapi kebahagiaan keluarga.

  4. wah mbok ya kalo jln2 ke Pandak bilang2 to mas biar saya bisa ikut touring dengan opoto…hehehehe…sepertinya menyenangkan sekali….kapan opoto ada ngonthel bareng buka puasa mas wong….salam onthel…
    -bejo-

    • Weleh, Mas Bejo mau cari apa lagi? Ini kan sekaligus memenuhi permintaan Pak Sahid tempo hari agar Opoto meliput pasar-pasar onthel. Ngonthel buka puasa? Lha ini malah rencana mau ikutan gabung acara Podjok “tour obat nyamuk”. Ikut hadirkah?

  5. Mas-mas pecinta ontel se indonesia salam kenal semuanya.
    Membaca ulasan blog panjenengan ini sungguh ada sedikit penghiburan dalam diri saya… hampir 20 tahun saya bekerja,berkutat di pasar-pasar tradisional seperti ini dan di usia saya yang menjelang pensuiun ini saya semakin merasakan keberadaan pasar tradisional makin sepi, tidak terurus, kotor dan kumuh…
    Dahulu pasar tradisional memiliki arti penting bagi masyarakat sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi kerakyatan. Karakter khas dari pasar tradisional adalah sistem perdagangan dengan memakai pola harga luncur, tawar-menawar untuk mencapai kesepakatan harga. Dengan pola hubungan ekonomi ini maka interaksi sosial terjalin akrab antara penjual dan pembeli. Sosialitas pun terbangun dalam masyarakat lewat kegiatan ekonomi. Dalam pemikiran demikian maka pasar tradisional merupakan aset daerah sekaligus perekat hubungan sosial dalam masyarakat. Sehingga runtuhnya pasar tradisional sebetulnya meruntuhkan bangunan social, ekonomi kerakyatan itu sendiri dan bisa jadi merembet pada pudarnya sosialitas masyarakat.
    Maaf ini hanya suatu ungkapan keprihatinan saya mas, dan mohon diskusi,masukan atau saran dari teman-teman pecinta ontel ….

  6. Ini bukan hanya reportase yang memikat. Tetapi ekpresi jeritan seorang “pejuang ekonomi kerakyatan” yang nyata.

    Kekacauan pola pikir para pengambil kebijakan negeri ini, menyebabkan kehilangan nalar mereka yang mengggusur nilai-nilai dan kedaulatan ekonomi “wong cilik”. Berdasarkan survei, setiap tahun 7 pasar tradisional mati, karena para predator asing diperlsilakan dengan tangan terbuka oleh para penggede negeri ini memasuki kampung-kampung kita.

    Andai Prof Mubyarto masih sugeng….

    Sudahlah tidak usah berandai-andai, ini sudah ada penerusnya bernama Wongeres!

  7. Pasar Pandak
    Bantul Yogyakarta

    surganya ” Klithikan Onthel”
    apa aja ada….!!!!

    • Mas Muhdie, ada nggak yang di pasar Pandak nggak ada? Kalau nggak ada, nggak komplit dong?😀

      Salam canda dari kampung Potorono.

  8. Wah pada berburu ke pasar pandak juga……pada berburu gir fongers dan simplex….hehehehe

    • Sebenarnya ya nggak berniat berburu Mas. Lha tapi menunggu seseorang yang katanya mau bertamu sambil bawa obat nyamuk nyatanya nggak datang-datang? Hahaha…

  9. onderdil semakin diperebutkan…….selamat berburu……..

  10. mari lestarikan sgl sesuatu yg bersifat tradisional spt ini. Warisan budaya yg sngt brharga utk generasi penerus.

  11. saya pernah denger dari mbah putri waktu kecil… “mengko ana pasar ilang kumandange’ ono tong biso ngomong” “jagate kalung rante.
    nah sekarang kan sudah mulai pasar ilang kumandange, wong tetuku pada bisu…..
    tapi syukur di tengah persawahan daerah mBantul masih ditemukan interaksi aktif antar penjual dan pembeli sepeda ontel…..
    —– tulisannya semakin ngayemke.—-

  12. Ini nanti kalau sudah genap setahun, sesungguhnya sudah bisa diterbitkan menjadi sebuah buku tipis yang mengulas sepeda onthel dari sisi lain. Semoga he..he..he..

  13. Apa yang sudah dipaparkan om Warsidi dan om Anab Afifi adalah benar adanya… Sebenarnya upaya-upaya kearah penyelamatan pasar tradisional telah banyak dilakukan oleh pemerintah dengan adanya program revitalisasi pasar tradisional dan juga adanya pembentukan Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (ASPARINDO), namun sejauh ini tidak memberikan manfaat yang optimal.
    Menurut beberapa pakar ekonomi kita, Pasar tradisonal mempunyai peran penting sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi daerah karena melibatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
    Sayangnya, meski memiliki peran dan kontribusi signifikan, kondisi pasar tradisional kini tidak terlalu menggembirakan, untuk tidak dikatakan semakin memburuk, Parahnya lagi, tekanan persaingan terbesar bagi pasar tradisional justru datang dari minimarket yang berlokasi dekat permukiman. Kondisi ini membuat pasar tradisional terpukul dan sebagian malah mulai terancam bangkrut. Tanpa ada perubahan signifikan, pasar tradisional dipastikan akan semakin tersingkir.
    Permasalahan mendasar pasar tradisional adalah lemahnya pengelolaan dan manajemen yang membuat perkembangannya sangat lambat. dua masalah penting terkait hal ini, yakni anggaran dan kewenangan. Peremajaan bangunan, misalnya, sering terkendala anggaran dan pengalihan aset yang harus mendapat persetujuan dari pemerintah daerah dan DPRD.
    Selain itu, dibutuhkan pula reorganisasi dan reformasi SDM di tubuh pengelola pasar tradisional. BUMD pengelola pasar tradisional selama ini lebih banyak dipimpin oleh orang-orang non bisnis yang tidak memiliki kualifikasi dan naluri “entrepreneur-ship” yang memadai. Pengelola pasar juga banyak terbelenggu oleh cara-cara kerja lama yang tradisional, inefisien, dan tidak produktif.

    Dengan demikian, menurut saya program revitalisasi pasar tradisional yang kita lakukan lebih dititik beratkan dalam penciptaan daya saing pasar tradisional itu sendiri untuk melahirkan “trading belt corridors”, melalui penciptaan lapangan kerja, mempromosikan komoditas unggulan daerah, dan pada gilirannya akan meningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
    Matur nuwun. Semoga bermanfaat….

  14. om warsidi, dalam hal ini mungkin Om sahid lebih jitu analisisnya…. karena beliau ini ahlinya masalah perekonomian… monggo om sahid.. matur nuwun.

  15. Ya ini ulasan wongeres yang agak sistemik….Kalo bicara tentang ekonomi kerakyatan

  16. biasanya tidak lepas dari UMKM, pasar tradisional, petani gurem, buruh dan lain lain kaum marginal baik secara ekonomis maupun politis. Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya dan mereka akan menyesuaikan dan mengelolanya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun, atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, serta peluang pasar. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. Memiliki modal yang besar, mempunyai akses pasar yang luas, menguasai usaha dari hulu ke hilir, menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. Atau dengan kata lain, usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan.
    Kita tidak bisa mendikotomikan ekonomi kerakyatan, atau ekonomi pancasila dengan sistem lainnya apakah liberal, pasar atau lainnya. Semua kembali kepada kemauan pemerintah untuk memberdayakan setiap potensi ekonomi warga negara dan memfilter semua yang dari luar..kita tahu terakhir ini negara sudah terperangkap pangan, suatu ironi.
    Harus diakui, kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masih didominasi industri besar. Paling tidak industri atau ekonomi rakyat mempunyai daya tahan dan survivalitas yang baik.
    Setidaknya opoto sudah mulai mendukung ekonomi jenis ini, kita belum pernah ngontel sambil mampir mall, tapi ke pasar tradisional, kuliner rakyat juga menyasar ke desa desa sehingga tahu kondisi dan potensi rakyat kebanyakan. Membangun ekonomi kerakyatan tidak perlu slogan dan 3 SKS di kelas tapi lebih pada tindakan dan policy..mereka adalah sektor yang harus diproteksi dan didukung lepas dari perdebatan liberalisasi karena jelas pasar tradisional tidak bisa berhadapan dengan hypermarket.

  17. @Pak Dhe Warsidi, Bung Max, Pak Lik Aula.

    Suatu siang, seorang teman mampir di sebuah warung di jalan Parangtritis. Sambil menunggu makanan yang dipesannya, dia mencicipi beberapa lauk seperti tempe dan tahu goreng yang ditaruh di sebuah piring. Enak. Makanya dia pun mengambil lagi sepotong tempe goreng.

    Tahu-tahu, nenek pemilik warung itu menegur: “Lhooo… jangan digado. Itu tempe untuk lauk makan”. Tentu saja teman saya bingung. Bukankah ini dijual? Mau digado, dipakai lauk, atau dibungkus dibawa pulang, selama dia mau membayarnya, bukankah tidak ada masalah?

    Ternyata Si Nenek berpikir lain. Dia tidak mau para langganan setia yang akan segera datang mendapati lauk makan siang mereka sudah ludes.

    Saya tahu, secara teori bisnis, tindakan Si Nenek itu konyol. Tetapi bukankah ini justru menunjukkan kesadaran Si Nenek akan sustainabilitas, keberlanjutan usaha? Dia memikirkan dengan empati pelanggan setia yang selama ini memberinya mata pencaharian. Dia lebih memilih yang sedikit, tetapi terus berlanjut, daripada penjualan mendadak dalam jumlah banyak, tetapi berpotensi merusak hubungan dengan pelanggan yang telah dibangunnya dalam waktu lama.

    Si Nenek itu berjualan untuk mendapatkan hasil secukupnya, sebanyak yang dibutuhkannya. Lebih dari itu adalah kemewahan, bahkan mungkin keserakahan. Sebuah konsep yang tidak pernah ada di benaknya.

  18. @maspailul

    Saya agak merinding membaca sinyalemen Pak Dhe Warsidi bahwa runtuhnya pasar tradisional berarti runtuhnya bangunan sosial ekonomi kerakyatan yang bisa jadi merembet pada pudarnya sosialitas masyarakat kita.

    Apalagi ditambah cerita dari Eyang Puteri itu. Wah, aktivitas ekonomi sebagai sandaran bagi pemenuhan kebutuhan hidup tentu saja sangat mempengaruhi kehidupan dan peradaban kita.

    Kalau begitu, tentu tak cukup bagi kita menyandarkan kebijakan pengelolaan ekonomi hanya pada teori bisnis yang diimpor dari negeri antah-berantah sehingga tidak memiliki konteks dengan masyarakat dan kehidupan kita.

  19. Wah materi diskusinya berat-berat jadi mirip seminar he..he..he..

    Kang Nur, jangan lupa tulisan-tulisan di blog opoto ini di beri keterangan copy right wongers (c) 2009, sekedar berjaga-jaga supaya tidak ikut-ikutan menjadi kekayaan asli Indonesia ke-23 yang akan diklaim Pemerintah Malaysia ha..ha..ha..

    • Iya nih Pak Sahid, lebih berat daripada ngonthel nanjak di Wukirsari, Imogiri. Hehe…

      Lha mbok kersa medhar sabdo tentang ekonomi kerakyatan ini agar menjadi lebih ringan buat kami semua. Sumangga.

      Soal hak cipta Opoto, kalau ditukar Siti Nurhaliza untuk menghibur onthelis semua selepas pawai obat nyamuk, mau nggak ya? Hahaha…

  20. “Boss” Aula, juga Bung Max’s,
    saya yang awam ini lagi-lagi masih bingung campur was-was. Jika pasar tradisional (sebagai representasi ekonomi kerakyatan) menjadi tidak becek, teratur rapi bak supermarket, wangi, murah karena biaya pemeliharaan relatif lebih rendah daripada mall, misalnya, sehingga pembeli berjubel, transaksi meningkat, apa ini tidak akan menarik minat investor pemodal besar?

    Analogi sederhana saya, ketika telor dari bebek liar terbukti menarik minat pasar sehingga harganya melambung, kita kan lalu membuat lahan khusus untuk “meliarkan” bebek kita. Maka membanjirlah telor bebek “liar”.

    Kalau kita mengabaikan esensi ekonomi rakyat dalam jalinan hubungan yang luas seperti disinggung Pak Dhe Warsidi di atas, dan hanya melihat pasar tradisional dari mistar ekonomi modern (kapitalis?), apakah juga tidak akan melahirkan ekonomi “rakyat”?

    Jadi, sebenarnya ekonomi kerakyatan itu yang melibatkan rakyat banyak sebagai pemain, yang memenuhi kebutuhan rakyat banyak, atau kedua-duanya? Singkatnya, yang menempatkan rakyat sebagai subjek, objek, atau malah pelengkap penderita?

    Ini mumpung sahabat onthelis kita satu ini berkenan bicara ekonomi. Kapan-kapan kita bahas Valuas lagi.😀

  21. 25 th yang lalu ada setiap 35 hari sekali saat yang ditunggu tunggu ada : yaitu pasaran pas hari minggu pasaran kliwon, jalan 3 kilo juga dilakukan yang penting bisa ke pasar jambon hanya untuk sekedar beli dawet seharga 50 rupiah atau tongseng 250 rupiah, salah satu kenangan manis saat kecil, apakah anak-anaku nanti masih bisa menikmati momen yang sama ?

    • Waduh, kok onthelis biasanya punya tipikal yang sama ya: penuh perhatian pada hal-hal hingga detail, suka mat-matan, dan agak romantis. Seperti Mas Faj juga. Haha…

  22. Sekali kali rada serius…..ehm…
    Kalo kapitalis pada mau ikut nimbrung ke ekonomi kerakyatan bagus juga, berarti disitu ada gula. cuman…harus diatur. kalo mereka masuk invest bangunan pasar tapi tidak menghilangkan substansi pasar tradisional akn bagus seperti yang banyak dilakukan pemda2 sekarang. Tujuannya agar pasar tradisional juga nyaman tidak lantas sama dengan mall or minim minimarket, tapi tetep ada tawar menawar, pedagang gelar dadakan, pokoke yang berubah sarpasnya aja…itu juga kembali ke governmentnya. harus ada revitalisasi bukan replace, opo kuwi.
    Tapi sudah ah ngemeng ngemengnya, ntar opoto bisa hilang jati dirinya hehe…kita sebagai konsumen juga harus mendukung ekonomi rakyat, jalan2 n shoping ke mall musti dikurangi hehehe biar fair ga cuma ngomporin pak Bupati…wassalam

    • Tidak apa-apa onthelis sekali-sekali berhenti agak lama untuk memahami apa yang dilihatnya. Hehe…

      Masih ramainya pasar Pandak sebenarnya membuktikan bahwa sepeda onthel masih merupakan barang yang diminati pembeli dan banyak menciptakan transaksi sehingga layak difasilitasi. Di pasar Tunjung (jalan Menteri Supeno) Jogja, pasar sepedanya sudah dibangun bagus dan tingkat pula. Di Pugeran juga masih ramai. Semoga di pasar baru Imogiri sepeda onthel juga segera mendapatkan areal khusus. Soalnya selama ini para pedagang sepeda hanya berkeliaran tanpa tempat yang jelas. Beberapa waktu lalu mereka berinisiatif membuat tenda sementara. Kapan-kapan kita liput juga sambil nyruput teh nasgithel di sana.

  23. lha kl mau ke imogiri sambil nyruput ginasthel, berarti setelah lebaran ya om wong?????😆 khan pasar sepedanya siang dan ini masih puasa…. apa pakai ajian “mbayangke” aja nyruputnya…. haaaaa..haaaa…🙂

    • Dan pasar sepedanya mulai ramainya jam 10. Trus kalau puasa mau sampai rumah jam berapa, hayo? Byuh byuhh… Lha niyat jadi pemean?😀

  24. Ngabehi Sak Loring Pasar

    Teman-teman semuanya :

    Tentang makin tergerusnya pasar tradisional ini, saya mau melihatnya dari sisi Bisnis Properti

    Pertumbuhan bisnis properti yang pesat belakangan ini memang tak lepas dari tingginya pertumbuhan subsektor properti komersial, seperti pusat perbelanjaan atau shoping mall, dan trade center. Hal ini memang sejalan dengan perkembangan perekonomian Indonesia pasca krisis yang lebih banyak didorong oleh pertumbuhan konsumsi ketimbang investasi, pariwisata atau ekspor.

    Pasca kerusuhan massal 1998, sektor ekspor, investasi, dan pariwisata praktis limpuh. penyebabnya selain merosotnya daya saing produk-produk Indonesia di pasar dunia, juga ekonomi Indonesia masih diselimuti momok berupa high cost economy (perekonomian biaya tinggi), belum lagi kepastian hukum yang belum berjalan dengan baik. Ditambah lagi euforia reformasi yang terkesan kebablasan di arus bawah.

    Sektor ekspor dan pariwisata kita memang pernah bagus, tapi setelah dilanda krisis ekonomi dan peristiwa bom Bali dan JW Marriot, kedua sektor ini makin terpuruk. Arus penanaman modal (domestik maupun asing), hingga kini belum bisa diandalkan. Hanya modal dalam negeri yang masih lumayan, terutama disebabkan oleh penurunan tingkat suku bunga. Akibatnya investasi didominasi oleh sektor-sektor properti

    Kuatnya keyakinan para pengembang bahwa sektor konsumsi seperti properti menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi kedepanya membuat para pengembang berlomba-lomba membangun pusat perbelanjaan seperti mal dan trade center.

    Mengapa kini banyak pengembang demikian menggebu-gebu masuk subsektor properti ritel ini :

    Pertama, tingkat keuntungan yang diperoleh pengembang dari bisnis properti ritel ini, memang sangat menjanjikan.
    Kedua, setelah diperkenalkannya sistem strata title atas unit properti, para pengembang bisa menjual putus seluruh unit properti komersial yang dibangunnya. Dengan sistem ini, para pengembang dapat mempercepat perputaran arus dananya, dalam sebuah pengembangan proyek properti komersial.
    Ketiga, fenomena makin banyaknya pusat perbelanjaan modern itu berawal dari semakin terkonsentrasinya aktivitas belanja dari keluarga-keluarga yang selama ini menghuni sejumlah kawasan hunian baru yang digarap oleh pengembang.
    Keempat, adanya pergeseran pola dan gaya belanja masyarakat dari pasar tradisional ke pusat perbelanjaan modern yang aman, nyaman, dan sebagai sarana rekreasi keluarga. Alhasil, jika kemudian merebak gaya konsumerisme baru. Fenomena inilah yang ditangkap oleh pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan baru : menempelkan aspek life style dalam gaya berbelanja atau mengkomsumsi barang. Adanya otonomi daerah turut mempercepat pergeseran gaya hidup itu dengan tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan modern di kota-kota besar.
    Kelima, atas desakan Dana Moneter Internasional (IMF), yang menyediakan dana pinjaman untuk memperkuat cadangan devisa yang sempat keropos, ada klausal agar Indonesia membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya peritel asing. Akhirnya masuklah peritel raksasa kelas dunia, seperti Carefour, Giant, Makro, Metro dan lain-lain.
    Keenam, para pengembang besar mengetahui betul bahwa potensi dana yang dimiliki para pedagang UKM cukup besar. Para pengembang menghitung-hitung perputaran dana para pengusaha UKM itu tak akan berkembang bila hanya berdagang di satu lokasi. Pun, pengembang sangat yakin bahwa para pejabat tinggi, anggota DPR, bupati/walikota yang pada masa sebelum krisis aktif bermain properti atau membeli properti. Demikian juga banyak pejabat saat ini yang memiliki dana cash yang jumlahnya cukup besar untuk diputar dalam bisnis properti

    • Analisis yang sangat bagus, Pak Dhe Bei.

      Duh, semakin terbayang betapa beratnya perjuangan pasar tradisional ke depan. Semoga pemerintah kita tidak terlena dalam euforia menggeber pertumbuhan ekonomi semata tanpa memperhatikan distribusi atau pemerataan untuk seluruh rakyatnya.

      Pencapaian ekonomi bangsa ini bukan seperti panjat pinang yang cukup diwakili oleh satu orang di puncak tertinggi sementara ada yang terinjak-injak menjadi dasar panjatan. Kalau tim panjat pinang sih pasti akan membagi rata hasil pencapaian mereka. Lha kalau Si kaya apa ya mau membagi rata hartanya kepada Si Miskin?

  25. Ngabehi Sak Loring Pasar

    @ Pak e Tole Wongeres

    Nah, pada bulan suci ramadhan ini kesempatan bagi Si kaya yang ingin menyedekahkan sebagian hartanya.

  26. Yuk kita kembangkan Onthelpreneurship saja, karena hobby sepeda onthel ternyata mulai banyak menciptakan bisnis-bisnis baru.

    Ada banyak webstore maupun showroom onthel bermunculan, banyak pengrajin tas yang mulai rutin memproduksi tas rangka, tas sadel dll, tidak kalah pengrajin logam juga aktif memproduksi standar sepeda dan beberapa materi restorasi, produsen kaos onthel juga ikut menikmati berkah rejeki dari hobby ini,dan tidak ketinggalan bisnis di main stream seperti bengkel sepeda dan klithikan.

    Jadi sungguh luarbiasa memang multiplier efek dari sisi ekonomi yang muncul karena semaraknya hobby ini di Indonesia.

  27. @ Wongeres

    Sementara ini seperti itu, kumpul di depan Kantor Pos Besar Yogya Hari Minggu 6 September Jam 16.30 tepat.

    Nanti sore saya baru mau rapat dengan tim panitia untuk mendesain acara lebih lanjut. Insya Alloh nanti malam sudah ada posting undangan resmi ke semua blog komunitas di Jogja & Sekitarnya.

  28. onthel rabuk yuswo

    Pak Nur kalo di pasar Pandak selain Belanja Onthel … cari Sapi juga Ok …. persiapan Qurban … SAluuuuuuuuuuuuuuut ….

  29. dhuh diskusi yg bernas dan bermutu… sunguh ajaib, kecerdasan dan kesadaran ini kok munculnya di komunitas onthel…. seandainya bs di tebar dihadapan para pengelola negeri ini barangkali lumayan terasa sebagai rambu pengingat….
    sementara ini senyatanya kita masih saja menjadi saksi setia terhadap kanibalisme dan pembunuhan terhadap pasar2 tradisional oleh para ” kapitalis” sejati yg sedang terus berlangsung dengan hikmat diseluruh pelosok negeri dibawah senyuman dan tepuk tangan para pengelola negeri..
    sebenarnya mungkin kita juga ikut sedikit berdosa krn telah dengan rame2 ikut juga memilih bahkan mungkin tanpa reserve menyediakan para pengelola ini kursi yg empuk..
    cilakanya kok tidaka ada seorangpun wakil rakyat kita yg tergerak hatinya untuk……..
    mas Wongeres, sarujuk dgn saran Mas sahid, munkin perlu segera disarikan diskusi2 ” liar ” namun bernas yg selalu saja muncul di blok ini utk segera diverifikasi sesuai topik msg.. an bila perlu di ” email” kepada yg berwajib…. siapa tau beliau2 “kroso” atas kegemasan kita bhw memang ada yg salah selama ini….
    termasuk babagan panganan jangan sampai ketinggalan ketinggalan mas.. krn bagi saya itulah yg paling menarik utk di bahas….hehehe…
    salam taklim.

    • Haha… sekali lagi kami ini cuma saksi atas apa yang kami lihat di sekitar kami. Tapi seorang sahabat malah berkomentar: komunitas Opoto memang nggak perlu berguru kepada teori di buku-buku. Bergurulah pada pengalaman dan realitas yang kami temui sepanjang perjalanan kami.

  30. mas Sahid.. rencana tour obat nyamuk apa melibatkan model jepretan penjenengan?.. kalau iya barangkali sy akan berusaha sekuat tebaga utk berkunjung ke jogja,… tp nyuwun ngampil BB 60 penjenengan yg baru…. hehehe.. ( arep nembung kyai kanjeng DZ kok belum masuk Suro…hehehe)

  31. @zadelretak

    Waduh Den ZadelRetak…BB60 baru saja selesai di-tune up di bengkel Margono, kok kabarnya sudah sampai kemana-mana padahal belum digendhong lho (Mbah Surip, 2009) he..he..he..

    • Pak Sahid, janganlah menyembunyikan keindahan🙂

      Rencana saya juga tidak akan membawa Si BB. Soalnya kalau kami ngonthel Potorono-kantor pos PP tentu otomatis Si BB (Bau Badan) sudah mulai muncul sendiri.

  32. wah mas Sahid piye to.. lha dunia onthel kan sangat jembar tapi sekaligus sangat sempit… jadi saat penjenengan tindak sedayu jam tiga sore kemarin utk ngecek tune up an si BB lsg kabarnya tersiar sampai kegubuk saya….hehehe..

    Oya mas Wong kalau kita semua cuma berdiam diri sebagai saksi atas apa yg bergulir “miring “disekitar kita dan kita ga berbuat apa apa ,,, padahal mskpn sangat kecil kita ada kesempatan apa ya tdk ” berdosa” to mas….. hehehe
    bukankah saat kita tengah berguru dan mampu menyerap pesan yg ada dari alam dan realitas sejatinya kita sedang mendapat tugas untuk menjaganya to….. laik malah maido.. nyuwun gunging pangaksomo mas Wong atas kecublukan sy… yg bisanya cuma gemeees terhadap realita yg ada…. nuwun pencerahannya mas…. jgn lupa tgl 6 jangan bawa BB tapi bawa CCG aja….. ( Cakep Cekali dan Gaya )..

    • Den Mas Zadel,
      kami menyadari bahwa apa yang kami lihat dan rasakan adalah buah dari banyak faktor yang saling berjalin sedemikian kompleks sehingga di luar kapasitas serta wewenang kami untuk ikut menanganinya.

      Beruntunglah kami apabila para sahabat kemudian berkenan memberikan pencerahan dengan mengurai serba sedikit serta menjelaskan duduk persoalan dalam bahasa yang kami pahami. Siapa tahu ada yang bisa kami lakukan sesuai porsi kami. Kalau semua pihak menghendaki perbaikan dengan melakukan perubahan sikap serta perilaku sesuai porsi tadi, tentu tak ada yang tak mungkin untuk bisa kita capai.

      Kalau berbuat di luar porsi kami, bisa-bisa kami akan menjadi seorang yang “rumangsa bisa ning ora bisa rumangsa”🙂

  33. Dalam rangka memberi apresiasi terhadap para penggemar sepeda Fongers di Jogja dan sekitarnya, bertepatan dengan hari ulang tahun ke 113 Pabrikan Fongers (NV De Groninger Rijwielenfabriek A. Fongers) yang jatuh pada tanggal 1 September lalu, Podjok menyelenggarakan Toer Obat Njamoek pada Hari Minggu 6 September 2009.

    Podjok secara resmi mengundang sahabat-sahabat onthelis Opoto untuk berkenan turut hadir memeriahkan acara. Tour ini bisa diikuti oleh siapa saja dengan merek sepeda onthel apa saja, namun bagi yang kebetulan memiliki koleksi Fongers, sangat diharapkan untuk dibawa guna menjadi bahan referensi bagi para pemerhatinya. Materi acara adalah sebagai berikut:

    1. Acara akan diadakan mulai jam 16.oo WIB di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta dengan pameran jalanan.

    2. Kemudian tepat pukul 16.30 WIB, rombongan akan start konvoi kampanye bersepeda di seputaran pusat kota Yogyakarta dengan rute: Kantor Pos-Jl. P. Senopati-Jl. Mataram-Kotabaru-Bunderan UGM-Perempatan POM Bensin Sagan-Jl. Prof. Yohannes-Perempatan Galeria-Jl.Dr. Soetomo-Jalan Layang Lempuyangan-Jl. Baciro.

    3. Diperkirakan jam 17.15 sampai di warung makan Depot Sambal, 100 meter sebelah timur Markas Brimob Baciro untuk acara berbuka bersama (mohon maaf, model “yarwe”)

    4. Acara ramah-tamah dan pengundian doorprize hadiah kaos Fongers dari sponsor.

    Stop global warming with less carbon life style…mau?

    • Wah, ini ngabuburit ala onthelis yang asik. Insya Allah komunitas Opoto bisa ikut meramaikan. Bagaimana dengan kostumnya, Pak Sahid? Jadul atau Fongers mania?

      Lalu, untuk pengamanan parkir, perlukah kita berjaga bergantian?

  34. Den Baguse "Beny"

    @ mas Sartono: Selamat ya… atas kelahiran Baby pertamanya…..
    kapan sukurannya…..
    semoga jadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, bangsa dan negara amin.

  35. Pak Sahid dan Bung Wongeres, mohon maaf besok Minggu belum bisa hadir krn ada tugas kantor di Tasikmalaya dan Ciamis, padahal sudah saya siapkan utk ikut Tour Obat Nyamuk-nya.

  36. khusus boss, ada MOTOGP sore itu lho!

  37. Iya, kalo rame rame gitu kan biasanya molor. ntar ga kebagian start gitu. tambah seru soale, 250 apalagi GP

  38. Semoga startnya jam 19.00. Bukanya secukupnya, trus dilanjut di rumah. Mas Tono ikut nggak ya? Biar bawa TV phone untuk kontrol.

  39. @ Wongeres
    Benar Pak, kostumnya jadoel seperti biasanya. Kemudian untuk parkir, nanti kita lihat situasi, kalau memang perlu dijaga akan kita jaga bergiliran. Nuwun.

  40. @ Bagus Majenun

    Mas Bagus, next time kita tunggu kehadirannya di Thematic Tour berikutnya. Nuwun.

  41. KEREN liputannya!..cuma berakibat semakin banyak ja pemburu kesana..,barang semakin langka..,harga semakin melejit naik..,tapi klo memang sudah rizkinya gak akan kemana,he..,

  42. wah selamat buat sahabat PODJOK dan OPOTO utk acara Tour Obnyam nya yg pasti gayeng.. maksud hati ingin bergabung apa daya obat nyamuknya masih dlm proses finishing… tp memang kebetulan hrs ke Cianjur utk tugas sosial, sekalai lagi selamat< Mas Sahid jgn lupa jepretannya di " share"..mas Wong pasti nitih CCG nya nkih..
    salam dr karawang

    • Pak Rendra, saya juga nunggu hasil jepretan beliau satu ini. Kemarin beliau sempat kena batunya. Pas lagi manjat-manjat tiang segala demi mendapatkan angle ideal, eh, malah dijepretin banyak orang. Kesempatan langka melihat beliau manjat tiang, kan? Haha…

  43. Wah pasti heboh ya mas Wong, boleh dong pak Sahid yg lg manjat tiang…pasti sangat langka.. Kirim ya mas ke fb sayaM nuwun

    • Ada tiga fotografer yang membidik beliau saat sedang “krekelan”. Saya tidak ikut njepret. Pertama, takut kualat, kedua, di depan saya ada Bu Sahid yang mengawasi. Bukankah soal kebiasaan beliau panjat-memanjat itu semestinya cukup Bu Sahid saja yang tahu?😀

  44. Om Rendra dan om Wongeres
    kira-kira ada acara parade sepeda onthel unik gak yach??? biar buat “ayem-ayem” ati nich, sebelum dapat setang cyclo-nya…he..he..😆

  45. ojok abot2 opo’o rek tulisan nya.
    Peace…;-)
    Muscaaatt…masuk aja, dah sepi kog..

  46. Apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada Opoters yang telah ikut hadir memeriahkan acara Toer Obat Njamoek 2009. Dino CCG klangenan Kang Nur terlihat gagah dan anggun.

    Bener, kadang-kadang saya jadi korban paparazzi he..he..he..

  47. mas wong nek ga ada fotone..yo critane wae sing komplit piye mas heheheh..
    mas Max…. kontes sepeda unik sepertinya tdk menerima peserta yg belnya di las ke stang je.. maaf mas…hahahaha…pisss..

  48. @ om rendra
    haaaaaaa…haaaaaa….walaaaaah… apes…apes…

  49. Pak Rendra, kemarin saya motret juga, sekedar gambaran suasananya. Nanti saya cari yang layak diupload.

    Sepeda cycloide unik milik Opoto itu bukan belnya yang dilas ke stang kok. Tapi stangnya yang dilas ke bel. Jadi mestinya tetep boleh tampil to😀

  50. Wa….duh aku jadi teringat kampungku di Magelang Kota kecil Muntilan nan sejuk sesejuk hati onthelis sekalian , mudah mudahan setelah pensiun aku bisa pulang kampung trus dagang sepeda ………kayaknya kok asyik , salam kenal buat Opoto dari Obama Balikpapan

  51. Salam kenal juga, Ki Wignyo. Salam hangat juga dari kampung Potorono buat sahabat-sahabat di Obama Balikpapan. Balikpapan-Muntilan? Jauh ya…

  52. Salam kenal kembali,,,,,,,,, Balikpapan – Muntilan yo adoh banget nanging isih tetap satu NKRI dan sing penting isih ono sepeda Onthel ………….. ngluru upo neng tanah seberang artikel Opoto gawe kangen kampung ……… salam onthel dan met menjalankan ibadah puasa

  53. Stangnya di Las ke Bel…😆😆😆😆
    masih belum abis ini topik…

  54. wah acara Tour Obat Nymukny pasti meriah & seru banget nih ,sayang saya ga bisa ikut karena barusan kelahiran anak yg pertama. @ pak Beny terimakasih ucapan ” Selamatnya” . Pasar Pandak emang..unik tradisional.

  55. eH heem…………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s