Mangut Lele Bu Is: Keistimewaan dalam Kesederhanaan

Sesuatu yang istimewa tidaklah selalu terlahir dari hal-hal yang luar biasa. Kesunggguhan dan ketekunan mengeksplorasi apa yang ada terbukti seringkali mampu menghadirkan keistimewaan yang lebih alami.

mangut-01

laskar Opoto yang lapar

Minggu pagi, 16 Agustus 2009 itu komunitas Opoto (Onthel Potorono) berencana ngonthel terakhir sebelum puasa dengan penekanan lebih pada kulinernya. Sepertinya ini agak berbau romantisme karena akan meninggalkan kebiasaan makan siang hari selama sebulan.🙂 Pilihan kuliner itu jatuh pada mangut lele Bu Is di Jetis, Bantul.

Berangkat agak siang karena kami terlebih dahulu menyempatkan diri mengikuti acara jalan sehat di lingkungan RT kami, awalnya membuat sebagian dari kami ragu untuk menempuh rute yang lumayan jauh. Di tengah perjalanan sempat ada usulan untuk menangguhkan acara kuliner ini hingga habis lebaran sehingga tujuan ngonthel kami pun jadi mengambang, meskipun kami terus ngonthel ke arah Pleret. Begitu sampai Pleret, dari arah depan terdengar teriakan meminta pendapat: “Jadi, ke mana kita sebaiknya?” Dengan spontan, segera terdengar jawaban dari belakang dengan laval yang meragukan. “Man(g)uuuut!”

Teman-teman di depan seperti mendapatkan kekuatan baru. Terlihat dari kayuhan kaki mereka yang tampak semakin mantap sehingga tiada pilihan lain, rombongan di belakang pun mengikuti. Kayuhan mantap itu ternyata membawa kami ke warung mangut lele Bu Is di Kertan, Sumberagung, Jetis. Letaknya di dekat perempatan Jetis, Bantul. Rupanya, di telinga teman-teman di depan, jawaban tadi lebih terdengar sebagai “manguuuut!”

mangut-02

menu sederhana yang disajikan secara istimewa

Mangut lele adalah mangut lele: masakan ikan lele dengan kuah santan, menu biasa yang kami kenal. Tetapi, Bu Is menyajikannya secara berbeda dengan dukungan karedok, lalapan aneka daun mentah dan ketimun dengan urapan kelapa berbumbu mantap, serta lalapan daun pepaya dan buah kecipir matang dengan sambal terasi halus-kental mirip sambal petis yang pedas dan lezat. Jika kurang pedas, disediakan sepiring cabe rawit hijau yang kami sebut “mercon” karena pedasnya seolah mampu meledakkan lidah. Untunglah, sepiring besar tempe gembus, tahu, serta tahu bacem dalam potongan besar-besar siap mengobati rasa pedas dan menjadikannya tak lebih sebagai lecutan cambuk yang membuat kami menyuap semakin lahap.

Dengan kehadiran aneka lalapan yang memenuhi meja panjang di hadapan kami, prosesi menikmati mangut lele ini benar-benar menjadi sebuah ritual yang mengasyikkan. Tangan kami sibuk memilih lalapan, urapan, serta sambal, sementara lidah kami pun mengecap-ngecap sambil mata kami merem-melek menikmati lezatnya hidangan. Sesekali gurihnya kerupuk gendar dan wader goreng yang renyah menyela sebagai pelengkap rasa lain yang menambah nyamleng hidangan. Bersama hangatnya wedang uwuh, teh tubruk, dan jeruk panas yang dihidangkan, acara makan pagi menjelang siang itu pun menjadi sempurna di lidah kami.

Usai menyelesaikan ritual favorit ini, kami pun menuju dapur, mencari sumber pencipta kelezatan yang barusan kami rasakan. Kami menemukan Bu Ari Siswanto, pemilik warung ini. Lalu siapa Bu Is? Bu Is adalah nama mertua Bu Ari yang merintis usaha warung ini sejak tahun 1979. Dahulu, sebelum suaminya meninggal, Bu Is membuka warung malam hari dan menyediakan banyak menu, termasuk mie godhog. Belakangan, hanya mangut lele dan ayam saja yang dipertahankan di warung Bu Is yang buka dari pkl 08.00 hingga pkl 21.00 WIB ini.

mangut-03

pelukan Bu Is untuk Bu Ari, menantunya

Karena usianya tak lagi muda, Bu Is menyerahkan pengelolaan warung ini kepada Bu Ari, istri dari anak sulungnya. Meskipun hanya anak menantu, keakraban hubungan Bu Is dengan Bu Ari tampak seperti hubungan ibu dan anak kandung. Ketika kami meminta foto, dengan penuh kasih Bu Is memeluk anak menantu yang sekaligus menjadi penerus usaha warungnya itu. Seperti banyak dialami masyarakat Bantul, cobaan berat pernah menimpa keluarga Bu Is dan warungnya ini saat gempa besar melanda Jogja. Warung pun tutup berbulan-bulan. Saat ini, warung sudah dibangun kembali sehingga lebih kokoh dan rapi. Selama kami di sana, banyak keluarga dan pelanggan yang kami perhatikan datang dari berbagai kalangan. Mereka tampak begitu menikmati hidangan. Agaknya nama Bu Is memang sudah menjadi kependekan dari Is(timewa)🙂

Perut kami sekarang kenyang. Tertebus sudah rasa lelah setelah mengayuh cukup jauh sambil mengusir keraguan yang sempat membayang. Kami sudah menemukan apa yang menjadi keinginan kami: kuliner menjelang puasa yang sederhana tetapi istimewa.

mangut-04

ngonthel jelang HUT kemerdekaan RI

Kami mengayuh pulang dalam suasana kemeriahan peringatan 17-an. Bendera dan umbul-umbul jalan berkibar di kanan kiri, tertiup angin siang yang menampar-nampar muka kami. Sementara matahari siang dan jalanan panjang mulai memeras keringat dari badan. Wahai, beginilah hidup. Sebentar susah, sebentar senang. Sebentar kenyang, sebentar lapar. Tetapi hidup adalah ikhtiar. Adalah pilihan. Seperti pilihan kami ketika memutuskan untuk berhenti saat kami melihat penjual es dawet dengan gerobak sorongnya yang diparkir di bawah pepohonan rindang.

mangut-05

es dawet DPR (di bawah pohon rindang)

Tak ada seorang pun yang tak setuju. Mangkuk-mangkuk dawet segera dipesan dan segera pula dihabiskan. Dalam semilir angin di bawah rindang pepohonan, es dawet itu begitu cepat memulihkan kebugaran kami. Maka, sebelum kebugaran berubah menjadi kemalasan, kami kembali mengayuh sepeda onthel kami. Kali ini tanpa berhenti, karena keluarga di rumah sudah menanti.

***

Mohon maaf jika ‘timing’ liputan ngonthel ini kurang tepat: cerita kuliner di bulan puasa. Sejatinya liputan ini akan kami upload minggu lalu, tetapi mengingat aktualitas momentum, liputan upacara bendera bersama sahabat Podjok kami dahulukan.

33 responses to “Mangut Lele Bu Is: Keistimewaan dalam Kesederhanaan

  1. Pak Sahid, Pak Darsono, dan Mas Margi

    Wah, karena durasi acara jalan sehat di RT tidak bisa kami prediksi, kami tidak jadi mengontak Panjenengan. Sebenarnya kami ingin sekali mengajak serta lho. Tapi ya inilah menu sederhana khas Opoto🙂

  2. Lagi – lagi absen, ra tertib…!

    • Biarpun ora tertib, tapi kan konsisten. Buktinya kemarin anjangsana ke bengkel Mbah Tris juga konsisten nggak ikut lagi kan? Lagi nyiapin obat nyamuknya ya? Hahaha…

  3. @ om erwin
    dimaklumi cak…. lagi kena wabah flu….

    @ om wongeres
    lha dalaaah… “soto” nya mana?…. haaa..haaaa…😆

    • Flu apa “flu”?🙂

      Sebenarnya kalau kangen soto bisa spontanitas lho. Habis pada taraweh, misalnya. Dari pos Opoto langsung pancal. Kalau mau porsi lebih besar ya bakmi godhog. Apalagi kalau bakmi koki. Byuh! Muscat sudah nanyain terus tuh. Hehe…

  4. Wah asyik juga nih.
    Mestinya ada juga liputan kuliner utk buka puasa atau sahur,pasti seru lho…

    • Iya Mas Bagus. Sesekali aja sih kali bisa. Sambil pawai obat nyamuk, misalnya🙂

      Masalahnya, momentum buka puasa dan sahur tentu masih lebih asik dinikmati bersama orang-orang tercinta di rumah. Kecuali kalau sekeluarga mau ngonthel semua. Ini salah satu kemewahan yang dimiliki oleh doktor onthel kita Pak Sahid Nugroho. Hehe….

  5. mas wong…kebayangnya lazaaaaat dan nikmat banget deh… coba kalau ada cerita resepnya pasti jd hidangan vavorit berbuka nanti…. rahasia persahaan …hehehehe

  6. Bravo onthelis OPOTO wah wisata kuliner terus ini selamat menjalankan ibadah puasa …

    • Terima kasih Mas Samy. Habis kita biasanya lebih suka buka bersama daripada puasa bersama. Hehe… Kalau bulan puasa begini wisata kulinernya enaknya naik kereta aja kali ya, biar nggak lemes.🙂

  7. @ Wongeres

    Ooh sungguh tidak menjadi masalah Pak, pada waktu minggu pagi tersebut, kami juga akhirnya meliburkan diri dari acara ngonthel bersama, karena harus konsentrasi persiapan upacara bendera di benteng vredeburg. Nuwun.

  8. Gak ada masalah antara liputan dan moment Ramandhan, tapi jujur aja waktu artikel ini ku baca gurungku naik turun alias kemecer, justru inilah info yang selalu aku tunggu. Teman OPOTO selalu menyuguhkan waroeng favorit, kan bosen juga kalo yang dilihat di waroeng onthel kan hanya, Bestik Gazelle, Urap Fonger, Sambel Goreng Simplek,Kolak Bugers, Rempeyek Humber Dll. Tapi kalo OPOTO dah hunting pasti kita jadi ikut pusing! Sukseslah buat OPOTO Semoga kedepan bisa lebih memberikan informasi yang lebih membangun di luar Onthel, namun tetap tidak bisa lepas dari dunia Onthel!

    • Hmmm… kami memang banyak kemauan. Mudah-mudahan juga punya kemampuan serta kesempatan untuk mewujudkan sesuai yang Mas Prayogo harapkan. Terima kasih atas support Anda.

  9. Kayaknya Warung es Dawet yg di Jl Banguntapan (Potorono)-Pleret memang mengundang selera untuk mampir saat puasa atau cari es dawet jepara di Sarlegi Kotagede, juga mak nyessss

    • Wah, pengamatan Mas Bagus benar-benar jeli dan terlatih. Berdua dengan Pak Sahid bisa membuat Pak Bondan Winarno was-was😀

  10. Blog Opoto memang memberi warna beda, rajin meliput bengkel sepeda legendaris, warung makan fenomenal dan obyek wisata di seputaran DIY.

    Sekedar usulan, the next topic yang mungkin juga menarik untuk diliput adalah profil pasar-pasar sepeda dan klithikan yang juga tersebar di seluruh DIY dan sekitarnya, mulai dari Pasar Pandhak, Pasar Jambon, Pasar Prambanan, Pasar Godean,dst. Untuk yang “dunia lain”, bisa juga tokoh-tokoh seni budaya di DIY.

  11. waduh ini baru muncul lagi ?? Tooooop untuk mangut lele bu Is manttttaaaaap
    ini punya usul karena kita baru ibadah gimana kalau jalan malamnya di tempat-tempat religi ya seperti madjid Agung kauman, masjid Panembahan Kotagede, atau manalah yang ada sejarah penyebaran agama di jawa WALI SONGO
    Ini usul matur nuwun

    • Iya, silumannya baru muncul lagi. Namanya juga siluman, jadi keluarnya pakai “wayahan”.

      Usulan bagus, layak dipertimbangkan kalau teman-teman setuju. Tapi ya mesti ada kulinernya. Soto Kudus depan UIN?🙂

  12. @ Wongeres
    Wah lama-lama Blog Opoto malah bisa jadi majalah sepeda lho Kang Nur. Ini tinggal dikembangkan artikelnya dan dicetak he..he..he..

    Kerabat Podjok masih penasaran ingin sweeping kuliner malam di wilayah seputaran Jalan Wonosari dan sekitarnya, mungkin Opoto sebagai “penguasa wilayah peronthelan” daerah Timur bisa memberi informasi. Apakah ada bakmi jawa atau angkringan atau apapun yang mak nyuss di daerah Pasar Piyungan. Mohon informasinya. Nuwun.

  13. op02_KOTA Daeng

    Wah seru juga nih acara wisata kulinernya bu Is..
    salam Onthel KOTA Daeng mas🙂

  14. Salam onthel selalu.

    Bangunlah jiwamu!
    Bangunlah betismu!😀

  15. Kalo dibuat Majalah mungkin kesan yang kita tangkap akan berubah jadi komersil, setuju kalo liputan OPOTO ya ben apaadanya dan tidak mengurangi isi dari apa yang disampaikan oleh team researchnya….Nuwun sewu beda usulane!

  16. @ om dedi R & Om wongeres
    Saya setuju om dedi…. untuk kuliner khas bulan puasa, misalnya fenomena warung dadakan di seputar kampung kauman dengan menu khas kue “kicak”nya, khan warung-2 tsb hanya ada pada saat bulan Ramadhan saja.

    • Hmm… jadi kalau puasa kita terus-terusin kulinernya ya. Trus, kalau THR sudah turun, kita ke pasar sepeda? Lha harga onthel ikutan naik nggak ya kalau lebaran? Hehe…

      Wah, selamat datang Fongers BB 65 yang gagah. Koleksi Opoto semakin keren. Hehehe…

  17. teman-teman opoto yang kreatif, kalaupun sudah ada pendapat yang sama minta maaf, untuk acara ngonthel dan kuliner mohon bisa mencantumkan alamat jelas tanpa tendesi promosi untuk gantian pas kita lagi ke jogja bisa ikut menikmati tanpa tersesat sekaligus boleh dong reuni menikmati masakan kota kita tercinta. thank teman-teman opoto laporannya, kita tunggu terus.

  18. Iya Mas Faj. Tempat-tempat yang kami tulis ini memang semacam rekomendasi, betapapun subjektifnya selera kami. Setidaknya tentu ada sisi menarik yang ingin kami bagi, sebagaimana tampak pada foto yang kami tampilkan. Ke depan, alamat (tepatnya petunjuk arah kali ya?) akan kami sertakan.

    Khusus warung Bu Is ini, dari jln Imogiri Barat silahkan ke selatan +/- 4km sampai ketemu perempatan bangjo Jetis. Nah, 3 rumah di utara bangjo yang menghadap ke barat itulah warung Bu Is.

  19. Hilangnya kebiasaan makan siang itu, bisa diganti dengan ngonthel menjelang sahur. Keliling kota, lalu ditutup sahur bareng yang pasti gayeng. Kan enak toh.. lapar habis ngontel sahurnya pasti sangat bermakna.

  20. Waaah…mana itu ya…Mangut Bu Is ?
    padahal saya sering ke Bantul…perlu dicoba setelah lebaran ini.
    Btw…selamat untuk komunitas Opoto…tetap konsisten…Ngepit…sehat…sambil seneng seneng…

    • Waduh, apa Bunda Dyah kersa dhahar mangut ya. Tapi memang enak kok, terutama karena lalapannya yang berlimpah. Terima kasih atas support Bunda untuk Opoto.

  21. ikan lele bu is ini sebenarnya kayak gimana? ada ciri2 khas gak!!
    kalau ngmg2 soal ikan, sebenarnya ikan apa yang special sekali ? unik .. menurut anda?
    hmm… thx ..^^.. ak sedang penelitian soal ikan .. tolong di bahas thx..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s