Onthel dan Upacara: Antara Nasionalisme, Sensasi, dan Simpati.

Selama ini, komunitas sepeda onthel sering dipandang ‘aneh’ dan nyleneh karena sepeda serta kostum jadulnya yang anakronistik, tidak sesuai dengan keadaan zamannya. Bagaimana pula jika komunitas-komunitas sepeda onthel itu berkumpul dan melakukan upacara bendera dengan cara khas mereka? Komentar orang bisa berbeda-beda. Menarik, aneh, dan ada pula yang menyebutnya hanya sensasi semata. Apa yang mereka cari?

upacara-1

komunitas Opoto siap mengikuti upacara

Alangkah senangnya kami, komunitas Opoto (Onthel Potorono), jika kebiasaan ngonthel kami selama ini dimaknai (salah satunya) sebagai bentuk kontribusi kami terhadap penyadaran akan perlunya sebuah upaya menjaga (syukur meningkatkan) kualitas lingkungan hidup kita. Artinya, putaran roda sepeda kami antara lain memang digerakkan oleh kecintaan kami terhadap (masa depan) tanah ini, karena di tanah tumpah darah ini kami juga akan menitipkan anak-anak serta generasi penerus kami. Anak-anak Indonesia.

Setidaknya, apa yang kami lakukan cukup membuktikan bahwa kami masih punya pilihan untuk ikut menentukan lingkungan masa depan seperti apa yang kelak akan kita wariskan. Kadang sepercik ‘heroisme’ ini sempat mewarnai angan-angan kami. Hari gini, di tengah keterbatasan yang ada, apa yang bisa kami lakukan untuk Indonesia? Dalam konteks ini, ngonthel lalu menjadi sesuatu yang ‘penting’ dalam rutinitas kehidupan kami. Apa yang kami lakukan kemudian, antara lain dengan memilih rute yang menarik serta tempat-tempat tujuan yang menginspirasi, bolehlah dibilang sebagai upaya menambahkan bobot kontribusi kami. Jika orang —terutama sahabat onthelis—senang dengan apa yang kami lakukan, kami sudah sangat berbahagia.

upacara-2

gladi bersih menjelang upacara dimulai

Kamis, 13 Agustus 2009 lalu, kami ngonthel malam hari dan bergabung dengan sahabat-sahabat Podjok sambil makan bakmi di depan kantor Pos Pleret. Pada kesempatan itu, mereka mengundang komunitas Opoto untuk ikut bersama-sama mengikuti upacara bendera khas onthelist pada Senin, 17 Agustus 2009 di Beteng Vredeburg. Secara sederhana, dalam benak kami, upacara bendera pada peringatan HUT RI ke-64 ini bukankah juga merupakan salah satu ungkapan cinta kita terhadap bangsa dan negara? Oleh karena itu, kami menyambutnya dengan baik. Ini adalah bentuk lain dari ungkapan rasa cinta kami kepada Indonesia.

upacara-3

semua petugas upacara sudah siap di tempat

Maka, Senin pagi itu kami berangkat menuju Beteng Vredeburg. Layaknya menghadiri sebuah resepsi, persiapan yang kami lakukan ternyata membutuhkan waktu lebih banyak sehingga tahu-tahu kami hanya punya sisa waktu kurang dari setengah jam sudah harus sampai di tujuan. Syukurlah, sesuai yang tertulis di undangan, pkl 07.00 wib kami sudah sampai di depan Vredeburg. Tentu saja dengan badan mandi keringat dan lidah hampir terjulur😀

upacara-4

pagar betis onthelis

Upacara pun segera dimulai. Beberapa wartawan dan fotografer tampak sibuk mencari angle terbaik agar bisa mengabadikan moment-moment menarik yang tidak pernah ditemukan pada lazimnya upacara bendera.

Upacara para onthelis ini mirip upacara gelar pasukan. Bedanya, kami tidak menyanding kuda tunggangan atau kendaraan tempur, melainkan berdiri di sebelah onthel kami tercinta. Mas Towil yang pagi itu bertindak sebagai inspektur upacara, baik saat menuju mimbar maupun ketika memeriksa barisan, tidak berjalan kaki, tetapi mengendarai sepeda onthel yang disiapkan oleh petugas. Meskipun berbeda, upacara ini tetap mengacu kepada susunan acara pada upacara resmi sehingga secara umum mudah kami ikuti hingga paripurna.

upacara-5

tertib mengikuti protokoler

Upacara kreasi kerabat Podjok ini jelas berpotensi mengundang sensasi. Tugas kita kemudian adalah menjaga dan memastikan agar sensasi yang muncul adalah sensasi yang menumbuhkan simpati. Oleh sebab itu, sejak sebelum upacara dimulai, Pak Didi sebagai Komandan upacara dengan garang mengingatkan bahwa saat pengibaran bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan merupakan saat sakral yang semestinya kita ikuti dengan khidmat.

upacara-6

berfoto seusai upacara bersama Mas Bejo dan Mas Bagus Majenun🙂

Karena kesibukan yang ada, komunitas Opoto hanya diwakili oleh 4 orang dengan seragam kastub petani hitam-hitam lengkap dengan caping di kepala. Terpikir oleh kami saat itu untuk mengenakan kostum seragam secara lebih rapi dan santun. Bagaimanapun, upacara bendera, terlebih memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan, tentu tidak semestinya menjadi ajang dagelan bagi kita. Kita bisa mengenakan kostum apa saja yang sekiranya menarik pada saat kita pawai seusai upacara. Tetapi, saat upacara, kita adalah pribadi-pribadi warga negara Republik Indonesia yang semestinya menaruh hormat kepada negara, kepada para pendahulu yang telah berjuang menjaga kedaulatan, kepada bumi yang kita pijak dan airnya kita minum setiap hari.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-64. Merdeka!!!

**
Beberapa foto menarik dalam event ini dapat dilihat di sini.

***
Terima kasih sahabat-sahabat Podjok karena telah menyertakan kami dalam upacara ini. Gebleg, tempe santan, pisang dan kacang rebusnya terasa akrab di perut kami.

Terimakasih juga untuk Mas Bagus Majenun, Mas Bejo, Pak Tarto, dan onthelis semua. Kebersamaan yang ada setiap kali berbagai komunitas onthel bertemu, selalu menjadi kebahagiaan tersendiri.

46 responses to “Onthel dan Upacara: Antara Nasionalisme, Sensasi, dan Simpati.

  1. MERDEKA !!!
    Mau urun rembug..klo bisa upacara bendera bukan hanya setiap tgl 17 Agustus saja..tapi jg banyak hari lain yg bersejarah sepanjang tahun..bagaimana??
    salut buat rekan2 panitia dan rekan2 onthelis semua..
    btw salam buat danton yg pake clana pendek..sexy bro! (sikile ky sulak hehehe..)

    HIDUP NGONTHEL..!!!
    MERDEKA BUNG!!!

  2. Mas Noer, Nggak nyangka kita bisa bertemu di Vredeburg, sebuah kenangan tersendiri. News Foto dan Video bisa dilihat di www@detik.com. MetroTV, Trans TV, Indosiar, Global juga meliput sehingga teman-teman Onthelis di Indonesia bisa menyaksikan acara yang menarik.

  3. Sesuatu yang memang telah lama saya tunggu mas nur, ritual upacara 17 Agustus ala Podjok memang menjadi acara yang sangat menarik buat saya saya khususnya dan kerabat Podjok pada umumnya. Acara tersebut menjadi lebih menarik dengan bertemunya para onthelist yang berlainan daerah, termasuk saya bisa bertemu dengan Mas Nur sang Dino yang eksotik…hehehehehehe….tetapi sayang belum sempat ngobrol panjang lebar waktu itu, mungkin lain waktu Mas. Setelah saya cari2 cukup lama di depan gedung agung ga nemu sampai akhirnya pak sahid ngajak saya untuk beranjak setelah bunyi sirine tepat jam 10.00, akhirnya perjalanan saya lanjutkan untuk mengakhiri acara hari itu…karena malamnya saya harus pulang ke bandung lageee…hehehehe…..
    salam onthel
    -bejo-

    • Iya Mas. Semoga ada kesempatan lebih longgar biar bisa ngobrol banyak. Lha biarpun tinggal di Bandung, Mas Bejo sepertinya sering ke Jogja, kan? Kita ngonthel bareng saja nanti ya.

  4. Wah pancen beda…kalau sastrawan yang meliput…gaya bahasanya lebih humanis he..he..he..dibanding kalau ekonom yang lebih terbiasa lugas dan minimalis he..he..he…

    Kehadiran Opoto yang meskipun hanya separuh kekuatan, cukup membuat suasana benteng vredeburg lebih seru. Paling tidak ada Onthelis yang mewakili sosok petani…bagian dari rakyat Indonesia yang juga tidak kecil jasanya sewaktu perang kemerdekaan…karena para pejuang Indonesia sepenuhnya menggantungkan ransum harian dari belas kasihan rakyat petani pedesaan yang dilewati dalam long march atau patroli.

    Sejujurnya, upacara di Vredeburg kemarin adalah yang terbaik dari seri upacara ala onthelis yang digelar Podjok dalam 3 tahun terakhir ini. Insya Alloh tahun depan kita akan hadirkan beberapa inovasi lagi seperti mengundang choir untuk lagu-lagu kebangsaan dan membentuk pasukan tambur-terompet guna mengiringi prosesi upacara. Nuwun.

    • Pak Sahid, kalau cerita detil perjalanan kami ke Vredeburg juga diulas akan lebih humanis lagi. Ada yang kesiangan karena tirakatan sampai menjelang pagi. Ada yang pagi-pagi harus berebut baju kusir dengan adiknya. Ada yang sudah merancang sejak jauh hari untuk ikut upacara tetapi batal gara-gara anak-istri pada meriang. Ada lagi yang harus ngonthel mboncengin istri nguber angkot pagi-pagi. Mana jalanan nanjak. Haha… Makanya kalau saya bilang lidah hampir terjulur itu tidak berlebihan.😀

      Kami mendukung upaya penyempurnaan terus-terus yang dilakukan teman-teman, Pak Sahid. Dengan begitu, sisi khidmatnya kita dapat, sisi sensasinya juga mengundang simpati.

  5. ngenes rasane ati ku iki rek. Jauh2 hr sdh pengeeeen bngt ikut upacara ini,tp takdir brkt lain. Yg tjd mlh 1rmh sakit smua. Ahhh..maafkan diri ini INDONESIAKU. Jayalah sll komunitas Onthel ini.

    • Yo wis, jangan ngenes. Nanti ikut kembul bujana andrawina nggak? Suka-suka sambil midanget campursari. Pak Agung, Pak Joni, Mas Tono pada dapet undangan. Perlu pake baju batik? Saya punyanya batik gambar Bob Marley, je. Boleh?🙂

  6. Saya merasakan lebih Heroik menyimak upacara hari kemerdekaan yg dilakukan teman2 Podjok dan komunitas onthel lainnya di Verdeburg. Karena setelah itu saya mengikuti detik-detik proklamasi di Gedung Agung justru terasa ampang. Nggak nyangka bisa temu teman-teman Opoto Mas Noer dkk. Viva Onthelis Indonesia

    • Sesuatu yang berbeda memang lebih memberi sensasi. Tetapi, karena ini masalah upacara bendera ya semoga kita nggak terlena untuk sekedar/waton berbeda. Pak Didi bisa marah🙂

      Surprised Mas, bisa ketemu Mas Bagus. Kapan ada waktu, kita ngobrol lebih lama ya.

  7. @ om wongeres
    kalau panjenengan seumpama “ngonthel” sambil mboncengin “MERIAM JAGUR” ke wonosari, kira-2 panjenengan sanggup enggak ?…🙂 ya itulah yang saya rasakan pagi itu… teman-2 ngonthel-e pada buuuuanter-2 selak kesusu, ditambahi masih disuruh mboncengin simbok-e, gek jalannya nanjak sisan… komplit dach…😆

    • Lho. Katanya pakem sepeda saya itu tanpa boncengan? Tapi kalau MERIAM Bellina ya mungkin masih perlu dipertimbangkan. Digolekke propeller atau dibopong di depan. Hahaha…

  8. kalo yang ikut lebih banyak akan semakin seru upacarany, emangnya pada kemana opoters? aku kan dah absent upacara di kampung halaman hehe..
    terus rencana ngonthel bulan puasa piye? plus kuliner lebih baik kan banyak yang jualan takjilan jadi deh ngabuburit…
    wongeres kok beritanya ini rada irit? karena orangnya juga b4, hehehe

    • Yang lain sudah KO karena semalaman mabuk “pesta tirakatan” Haha…

      Selama Ramadhan kita rencana ngonthel Minggu sore, pas sampai rumah pas buka seperti tahun-tahun lalu. Tapi Eyang Cip kok tadi pagi malah usul ngonthelnya sampai buka nyoto di jalan. Cuma ya nyotonya yang sekiranya sudah dekat dengan rumah. Ada ide?

      • wah kalo bukanya di jalan kasihan yang dirumah. sebenarnya kalopun ngonthel minggu pagi seperti biasa aku masih sanggup2 aja….wong dah biasa hehe..cuman mungkin rutenya aja diperpendek jam 8 dah nyampe rumah terus tidur lagi..indifferent kan?

  9. Perjuangan dari max’s memang patut diacongi jempol. Sekarang beliau tengah menikmati KEMERDEKAAN . paling tidak ya 10 hari lah…,
    bar kuwi yo nggosok jobin maneh.🙂

  10. campiiiiing yuuuuk…………..!!!!!!!!!😆
    udah terbukti nich, “survival” selama 10 hari ….haaaa…..haaaaaa….

  11. @Acha & Max’s

    Ada lho yang nggak bisa ikutan upacara hanya gara-gara alergi sama warna hitam. Lha kalau mau bikin kastub sendiri yang warna kuning atau doreng ya silahkan saja, ya to?🙂

  12. Yang kemarin terlewatkan untuk ikut upacara bendera, bisa mengobati rasa kecewanya dengan mengikuti Tour Obat Nyamuk pada Hari Minggu 6 Sepetember 2009 jam 16.30…

    Tour ini adalah touring sepeda onthel dalam kota, sambil nanti berbuka bersama untuk meng-apresiasi para penggemar sepeda Fongers. Peserta touring tidak harus naik sepeda fongers, jadi semuanya boleh ikut, yang penting happy. Detil acara…coming soon.

  13. Mudah-mudahan Si Dino CCG klangenan Kang Nur bisa dibawa ke acara itu untuk disandingkan bersama CCG klangenan milik Kang Ucok he..he..he..

    Omong-omong sepeda milik Dimas Bejo itu ternyata seri BD tahun 1950-an, varian cukup langka selain seri BDG.

  14. Komunitas Opoto mohon maaf lahir batin jika selama berinteraksi dengan sahabat onthelis di mana pun berada pernah berbuat kesalahan.

    Selamat berpuasa untuk sahabat-sahabat yang menjalankan ibadah Ramadhan.

  15. segenap sahabat OPOTO dan pengunjung blog ini sy juga mohon maaf lahir batin, selamat menunaikan ibadah puasa, semoga puasa kita nanti diterima olehNYA. amin.
    salam dr karawang

  16. @ pak sahid….
    tour obat nyamuk???
    penasaran!!!!!!! kita cek dulu kalender…..

  17. eeehhhhmmmmm dari rotel depan ya pak???? fongers punya…
    hehehe..jadi ingat logo SOLO, kita ngambil dari rotel fongers yang diutak atik…

    kita tunggu info lanjutnya….
    Salam, buat semua onthelis Jogja dari Solo…

  18. “jadi kangen Jogja… ”

    sms yang sama di sent ke beberapa teman di Jogja

  19. @ Rendra
    @ Dian SOLO
    Pak Rendra & Mas Dian, yuk muhibah ke Jogja untuk meramaikan Tour Obat Nyamuk 6 September 2009 jam 16.30-18.30 …acaranya sebetulnya sederhana saja yakni:

    1. Pameran Jalanan
    Mengenali karakteristik sepeda fongers dari pameran jalanan yang terjadi di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta ketika para penggemar fongers membawa koleksi Fongers-nya.
    2. Buka Bersama
    Ngonthel bersama ke warung yang klasik tapi asyik dan lezat untuk berbuka bersama dengan diselingi diskusi santai mengenai sepeda Fongers.
    3. Doorprize
    Undian doorprize segala sesuatu souvenir yang berbau Fongers.
    4. Bubaran.

  20. onthel rabuk yuswo

    Selamat Datang Bulan suci & agung, dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf apabila ada kesalahan semoga puasa Kita semua membawa rakmat & berkat dunia & akhirat

    “Keluarga Paguyuban Onthel Rabuk Yuswo Mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa”

    • Terima kasih, sahabat PORY. Sama-sama. Amien.

      Sayang waktu upacara di Vredeburg ini kita belum sempat ngobrol. Semoga di lain kesempatan.

  21. wah ….mas Sahid..saya kepengin banget iukutan lho ,p sepertinya agak sulit waktunya..sy doakan semoga acaranya sukses…. amin
    @ mas Dian apa kbr SOLO…
    salam dr Karawang

  22. Pak Sahid, bagaimana kira-kira tanggapan Kerabat Podjok atas usulan Mas Yox tentang upacara bendera?

  23. @ Wongeres

    Sebetulnya ideal kalau setiap hari nasional yang berhubungan dengan spirit kebangsaan dan nasionalisme bisa kita apresiasi dengan suatu kegiatan baik itu berupa upacara atau acara tertentu. Namun yang menjadi kendala serius adalah masalah pendanaan dan kepanitiaan, sehingga selama ini cukup selektif hanya untuk event-event yang fenomenal saja seperti SO 1 Maret dan 17 Agustus. Seperti acara kemarin di Vredeburg sepenuhnya dibiayai sendiri dari kas podjok dan dana sumbangan pribadi.

    Padahal banyak sekali hari nasional yang juga menarik seperti Hari Kartini, Hari Kebangkitan Nasional, HUT Jogja, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Pahlawan, kalau ada sponsor pasti kita siap untuk bercipta-rasa-karsa-karya menciptakan momen yang indah. Nuwun.

  24. Wah…wah. ini nasionalisme onthelis namanya. Siap grakk.

    • Kapan itu jam 2 pagi saya nonton metro tv, ada Sampeyan terkantuk-kantuk diwawancarai. Lha coba wawancaranya sambil ngonthel. Pasti hilang ngantuknya.

  25. Woalah., Fongers ya di Sedayu Yogya barat itu punya Mas Rendra, terus yang Gruno punya siapa Mas Noer?

  26. wah..mas Wong kok panggraitane ampuh tenan kok ngerti sedayu mbarang…hehehe.. sepertinya mas Margono ga sanggup kok mas. nek di sengkakke total. garapane ting tlenik akeh banget.. tapi kalau tgl 6 sept ada sahabat opoto yg kerso test drive nyumanggaaken lho… tinggal kompromi sama mas Margono saja… salam

  27. mas Bagus.. apa kbr..perburuan di Grobogan kayaknya kurang sukses njih…hehehe
    sudah siap tgl 6 september to mas Bagus…
    salam dr karawang

  28. 6 September mengonthel dgn sepeda seadanya dulu. Di Grobogan nggak sukses, Mas. Tapi lumayan utk pencerahan. Aku ngantri habis lebaran saja, ke Sedayu-nya.

  29. op02_KOTA Daeng

    Merdeeeeeeekaaa…!!!
    Bangkitlah Bangsaku…
    Bangkitlah Negeriku…
    Hidup Indonesia…
    Hidup Onthel…

  30. saya sebagai ank muda,ikut brpatisipasi dengan komunitas sepeda ontel indonesia, bravo sepeda ontel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s