Gudheg Pawon: Kejarlah Gudheg, Walau Sampai ke Dapur!

Jika kita berkeliling ke kampung-kampung di Jogja, akan kita jumpai banyak pohon nangka, bahan baku sayur gudheg yang terkenal sebagai salah satu trade mark kuliner dari Jogja itu. Sebenarnya mana yang lebih dahulu hadir di Jogja: keberadaan pohon nangka, atau sayur gudheg? Mempertanyakan keduanya sama saja mempertanyakan mana yang lebih dahulu ada: kreativitas mengolah peluang atau nasib baik?

Pengalaman komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel malam di Angkringan Nganggo Suwe ternyata membuka semakin banyak tantangan untuk mencoba kuliner malam Jogja yang ajaib. Sabtu malam tgl 8 Agustus lalu kami kembali ngonthel malam hari. Kali ini kami sengaja mau mencicipi Gudheg Pawon di jalan Janturan, Jogja. Arahnya dari pertigaan toko Pamela Kusumanegara menuju ke selatan.

gudheg-pawon-1

dengan semangat perjuangan, opoters memburu gudheg tengah malam

Bagaimana tidak ajaib. Warung gudheg satu ini mulai buka pada pukul 23.15 WIB, saat orang umumnya sedang lelap berselimutkan mimpi indah. Sudah begitu, apa yang disebut warung itu sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada adalah sebuah dapur renta berukuran 4m x 6m yang setiap malam diserbu antrian panjang hingga ke halaman. Pembeli dilayani di dapur itu, persis di dekat pawon (tungku) tempat nasi ditanak dan gudheg dimasak, lengkap dengan aroma asap dari kayu yang terbakar.

Selain orang-orang yang memang kelaparan di tengah malam, sebagian pembeli masuk ke dalam antrian karena didorong oleh rasa penasaran, seperti yang malam itu dialami serombongan keluarga dari Bandung. Sebagian lagi karena rasa kangen terhadap aroma dapur tradisional tempo dulu. Bau kayu terbakar dan nasi mengepul itu bisa membangkitkan memorabilia masa kecil dahulu, saat menunggui Bunda memasak di dapur. Sebuah kesempatan yang mahal. Sebagian lagi karena hasrat yang serakah seperti kami: mengobati rasa lapar setelah ngonthel, memuaskan rasa penasaran, dan sekaligus menikmati kenangan di dapur Bunda.🙂

gudheg-pawon2

inilah pawon alias dapur paling terkenal di Jogja itu.

Mbah Prapto Widarso putri, perintis usaha ini sejak muda di tahun 1950-an setiap pagi berjualan gudheg di dekat hotel Panorama. Titik balik usahanya baru terjadi pada kisaran 1983, saat issue Petrus (penembak misterius) merebak di Jogja ketika angka kriminalitas di Jogja dipandang sangat tinggi. Saat itu, banyak pelanggan yang kelaparan selama berjaga di malam hari dan tidak sabar menunggu Mbah Prapto membuka warungnya di pagi hari. Mereka mau makan saat itu juga, dan langsung di dapur tempat Mbah Prapto memasak. Barangkali terpikir oleh Mbah Prapto bahwa tujuan membuka warung adalah mencari pembeli, sementara sekarang pembelinya sudah datang sendiri ke dapur. Kenapa tidak? Sejak saat itulah Mbah Prapto cukup berjualan dari dapur rumahnya sendiri sehingga masakan gudhegnya kemudian dikenal sebagai Gudheg Pawon.

gudheg-pawon3

dapur mulai diserbu pembeli, kesibukan segera dimulai

Lagi-lagi, secara tidak sengaja situasi telah mengantarkan Mbah Prapto pada differensiasi yang justru membuat usahanya meraih sukses. Kesuksesan ini, antara lain terlihat dari rumah Mbah Prapto yang sekarang dibangun bagus. Dari keseluruhan bangunan rumahnya, hanya bangunan dapur sajalah yang dilestarikan seperti adanya. Barangkali sebagai pangeling-eling (pengingat) atau semacam kesadaran menjaga asset yang telah membuatnya meraih sukses.

gudheg-pawon4

menu sederhana inilah yang selalu dinanti pembeli

Gudheg Pawon termasuk penganut aliran gudheg basah dengan krecek pedasnya yang berkuah. Aneka lauk bisa dipilih, mulai dari telur, daging ayam, juga jerohan. Beberapa orang dari luar Jogja yang tidak begitu tahan dengan rasa manis yang biasanya ada pada gudheg kering, mungkin akan lebih suka gudheg ini. Apalagi jika dinikmati dalam suasana dapur. Agaknya memang harus lahir kata mutiara dari tempat ini: “Nikmatilah gudheg selagi mengepul”. Artinya? Lakukan sesuatu pada momentum paling tepat!😀

gudheg-pawon5

cepat makan, cepat pula lupakan🙂

Malam itu, ada banyak kejutan yang kami alami. Beberapa kerabat Podjok seperti Pak Darsono yang rumahnya tak jauh dari sana, juga Mas Margi dkk sudah menunggu kami di Gudheg Pawon. Mereka membawa sepeda yang bagus-bagus sehingga kami tak berhenti mengaguminya. Setelah berbincang panjang-lebar, dalam kebersamaan itu, tentu saja acara makan kami pun menjadi lebih lahap.

gudheg-pawon6

teh nasgitel: ada yang sudah diminum separo, ada yang tinggal separo

Satu-satunya hal yang kami sayangkan adalah, di Gudheg Pawon itu duit yang kami bawa jauh-jauh dari Potorono ternyata tidak laku! Ketika kami mau membayar, duit kami ditolak. Gara-garanya, Pak Darsono dan Mas Margi sudah mendahului mentraktir kami semua. Duh, terima kasih sahabat. Kami tak hanya tersanjung, tapi juga beruntung. Semoga kami memiliki kesempatan membalas kebaikan ini.

gudheg-pawon7

ngobrol tentang onthel di teras Mbah Prapto.

Asal tahu saja, kebaikan sahabat-sahabat kami itu terus kami rasakan sepanjang perjalanan pulang, karena di dini hari yang dingin itu badan kami masih cukup hangat untuk terus mengayuh sampai memasuki kampung Potorono yang tengah berhias diri menyongsong ulang tahun kemerdekaan bangsa ini.

***
Terima kasih buat Pak Darsono, Mas Margi, Mas Ananta, dan Mas Ganjar. Semua yang kami terima malam itu sungguh membuat kami benar-benar merasa ‘kaya’ dalam hidup ini.

30 responses to “Gudheg Pawon: Kejarlah Gudheg, Walau Sampai ke Dapur!

  1. hmmmmmmmm…yummyyyy… 🙂

  2. Salam jumpa kembali dari”KONTJI” Komunitas Onthel Tjiledoeg, pada episode Gudeg Pawon kali ini, mengingatkan saya akan kampung halamanku di Boyolali. Mungkin sepenggal cerita yang disuguhkan oleh rekan OPOTO hampir sama, cuma beda lokasi dan jenis menu, kalau di tempat saya ada menu yang namanya Sambel Lhetok, menu terbuat dari tahu dan tempe yang sudah dihancurkan atau istilah tempe bosok, dicampur dengan bubur atau nasi. Pemilik kedai tersebut sudah turun-temurun bernama “Mbok Merto” letaknya persis di samping terminal sunggingan Boyolali, penasaran dengan sambel tumpang / sambel lethok? silahkan berkunjung ke Boyolali.

    • Wah, sambel tumpang itu salah satu menu favorit keluarga saya lho, karena ayah saya juga asli Boyolali. Konon, sambel tumpang itu juga merupakan resep masakan Jawa yang sudah sangat tua. Hmmm… jadi kangen🙂

      Salam dari kampung Potorono untuk sahabat-sahabat KONTJI.

  3. Matur nuwun pak darsono, mas margi, mas Ganjar dan mas Ananto atas semuanya, pengalaman, ilmu dan wawasan panjenengan yang kami terima malam itu, sebuah pembelajaran yang sangat berharga, khususnya bagi saya yang baru saja mengenal dan belajar “onthel”….

  4. salam buat KONTJI, salam dan terima ksh buat Mas Margi Dkk.
    Kembali Opoto
    Menyehatkan jiwa. Dan menentramkan tidur malam. (krn perut kenyang)

  5. Mas Margi dan Pak Sahid,
    kami mengundang kapan saja selain malam Jumat kalau masih penasaran bareng-bareng menyusuri jalan pedesaan di malam hari dengan selingan bakmi letheg pasar Plered. Tentu sebelum Ramadhan, karena selama bulan puasa bakminya tutup.

  6. Ngabehi Sak Loring Pasar

    Jiwa petualangan Opoto memang hebat, ra mung petilasan, pasar dan alam pedesaan yang disambangi . Delengen, bengi-bengi wae blasukan tekan pawone Mbah Prapto. Dho ngelih sajake bapak-bapak kuwi yooo…

    • Kita mencari momentum, Pak Dhe Bei. Ngonthel ngos-ngosan di dingin malam, menunggu antrian, itu semua menjadi bumbu penyedap yang membuat gudhegnya makin lezat. Hehe…

  7. @ Wongeres
    Untuk minggu ini, nuwun sewu, kebetulan sudah diagendakan Malam Jumat, karena judulnya “Jurit Malam Kuliner”, jadi biar tambah serem dan seru he..he..he..
    Tujuannya ke Bakmi Jawa Kantor Pos Pleret, kalau yang Pasar Pleret biasanya tutup.
    Sumanggah kalau bisa bergabung menikmati jalanan off road khas pedesaan yang gelap gulita dan tidak beraspal. Nuwun.

  8. ganti menu ?

  9. mas sahid apa tidak ngeri ada gendruwo ?

  10. Ayo shbt2OPOTO kt kuliner brg2 biar tmbh gayeng., menikmati suasana mlm hari dg lampu2 spd onthel kt. MERDEKAAAAAAAA

  11. @ Faj
    Di Podjok ada beberapa anggota yang ahli “dunia lain” he..he..he.. dan tentu saja sebelum berangkat kita berdoa agar selalu dalam lindungan Tuhan. Ada resep menarik, sebaiknya jangan pakai perfume, karena akan mengundang “pembonceng gelap” he..he..he..

  12. gambare kok koyo wong njagong tho?
    aku ga melu sih, sopo sing nambah?

  13. Huebat rekan2 OPOTO …lanjutkan kreatifitasnya

  14. mas sahid, matur nuwun mas resepnya akan tak coba tak pakai parfum, tapi nanti jajan angkringan sing ngedoli karo tutup irung ha ha. HUT obatnyamuk pripun mas kelamjutanipun ?

  15. @ Faj
    Touring Obat Nyamuk, 99% akan dilaksanakan pada Hari Minggu 6 September 2009 sekalian buka bersama, semua sepeda boleh ikut namun kalau kebetulan memiliki sepeda Fongers dianjurkan untuk dikendarai biar seru he..he..he..Kalau saya kangen lihat CCG milik Kang Nur yang kinclong itu he..he..he..

    • Di Potorono sudah ada lebih dari 4 Fongers, Pak Sahid. Termasuk PFG Mas Erwin yang berjodoh dengan milik Pak Hendro itu. Jadi, setidaknya dari OPOTO ada yang bisa mewakili. Ini kalau staminanya memungkinkan. Soalnya kan pas laper2nya. Hehe…

      Kalau ultah mercy kapan ya Pak Sahid? Di Potorono juga ada 4, rencana mau diseragamkan, belnya dilas ke stang semua! Hahaha…

  16. Tour Simplex juga diyakini bakal seru karena di Jogja selain juga banyak penggemarnya, merek sepeda ini cukup merakyat sebagaimana Fongers.

    Masalah puasa, justru semakin banyak tekanan, semakin besar pahalanya he..he..he..

    Tour Obat Nyamuk akan diawali dari Kantor Pos kemudian keliling pusat kota dan ditutup buka bersama di Angkringan Jamu Raminten Kotabaru. Ditunggu partisipasi semua pecinta Fongers di Jogja. Nuwun.

  17. Wah bakal seru Pak Sahid. Semoga bisa ikut. Upacara 17 Agustusan jadi dimana Pak Sahid? Nanti biar aku soundingkan ke teman-teman yg lain.

  18. @ Bagusmajenun

    Kang Bagus, kemarin baru confirm, upacara bendera 64 tahun Indonesia Merdeka ala onthelis akan diadakan di Benteng Vredeburg, Senin 17 Agustus 2009 jam 7.00 WIB.

    Seusai upacara, ada jamuan makanan khas jaman perjuangan 45 dan doorprize kaos onthel, tas sepeda, dan onderdil langka.

    Setelah itu konvoi keliling pusat kota sambil nunggu waktu detik-detik proklamasi di depan Gedung Agung. Biasanya kita akan salvo bel mengiringi sirine gaug kumpeni di atas pasar beringharjo.

    Yuk kita bisa hadir untuk rasa kebanggaan dan spirit kebangsaan sebagai rakyat republiken. Merdeka!

    • Pak Sahid, kalau boleh usul sih, durasi upacara khusus onthelist ini ditradisikan saja nggak usah lama-lama. Yang penting khidmat, lalu kita punya waktu panjang untuk bersilaturahmi mumpung kumpul sahabat-sahabat onthelist.

      Jika dipastikan waktu upacaranya singkat, mungkin akan lebih banyak teman yang bisa ikut, karena pagi tgl 17 itu mestinya masing-masing banyak acara, baik di tempat kerja maupun di kampung. Nuwun.

  19. Gudeg….nyam..nyammm….

  20. Gudeg PAWON emang enak ..Tenan, apalagi ditraktir pak Darsono (malam itu) wah trimakasih sekali lagi sy ucapkan, mungkin sering2 lebih bagus ha..ha.. setelah kemaren malem kuliner di bakmi pleret bersama rekan2 dari * PODJOK*rencana selanjutnya kemana lagi ni kita? apa menuruti saran dari pak Darsono yaitu..BAKMI KOTA GEDE yuuk kapan Monggo ?!

    • Gawat juga nih, kalau acaranya kuliner terus. Bisa-bisa, kalau pengonthelnya jadi makin gemuk, roda onthel kita harus diganti jari-jari 24 depan-belakang . Hehe…

      Biar seimbang antara asupan makanan dan energi yang dipakai, kita ngonthel jauh ke pantai Depok atau Pandansimo, baru nyari ikan di sana. Siap nggak?

  21. @ Wongeres
    Benar Pak, belajar dari pengalaman tahun lalu dimana sampai ada GR dua kali sebelum upacara resmi, kali ini tidak akan ada GR, tetapi langsung sekali jadi. Supaya tidak kesiangan dan partisipan tidak bosan. Diperkirakan dari upacara sampai pembagian doorprize hanya perlu maksimal 60 menit, setelah itu acara bebas. Nuwun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s