Candi Sambisari: Keindahan yang (Pernah) Terpendam

Malu bertanya sesat di jalan. Sebenarnya, kebiasaan bertanya bukan saja akan menghindarkan kita dari ketersesatan, melainkan juga akan memperkaya wawasan kita. Bukankah saat paling kreatif dari seluruh waktu hidup kita adalah ketika kita kanak-kanak, saat kita gemar bertanya?

Salah satu hal yang menyenangkan ketika kami ngonthel adalah, kami menjadi lebih bebas bertanya kepada siapa pun yang kami temui. Mengayuh sepeda pelan-pelan, berhenti sejenak untuk menanyakan arah jalan, nama kampung, bahkan sekedar berkelakar pun menjadi lumrah saja. Tidak ada yang menganggapnya aneh. Tak jarang dari obrolan semacam itu, tanpa kami sadari kami sudah bertambah pengetahuan. Tentang bertani, beternak itik, memelihara ikan, dan tentu saja informasi tentang sepeda onthel🙂.

sambisari-1suatu pagi di gerbang candi sambisari

Minggu pagi, 4 Juli 2009 komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel ke Sambisari, Purwomartani, Kalasan. Di sana ada candi yang dahulu ditemukan oleh seorang petani karena lokasinya ada di bawah petak sawah yang sedang dicangkulnya. Candi Hindu beraliran Syiwaistis yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 itu kemudian disebut Candi Sambisari. Ketika situs ini digali, ditemukan banyak benda bersejarah lainnya, seperti perhiasan, tembikar, dan lempengan emas.

Hari masih pagi ketika kami sampai di lokasi candi. Penjaga candi masih rebah-rebahan, tetapi begitu  melihat kami ia segera menghampiri. Lagi-lagi, sepeda onthel kami telah memiliki bahasa tersendiri untuk menjelaskan maksud kedatangan kami. Pembicaraan pun jadi lebih cair, dan kami diizinkan memarkir sepeda lalu berkeliling menikmati panorama Candi Sambisari dalam guyuran cahaya pagi.

sambisari-2

keindahan yang lama terpendam

Dalam tempias cahaya yang berpendaran itu kami melihat ke bawah, kira-kira enam setengah meter di bawah permukaan tanah yang kami pijak. Di sana terhampar eloknya sebuah pemandangan. Candi Sambisari berbentuk bujur sangkar 13.65m x 13.65m dengan tinggi 7.5m berdiri anggun menghadap ke barat, seolah sedang bercengkerama dengan tiga buah candi pendamping yang bersimpuh di depannya. Terpikat oleh keindahannya, kami pun mendekat ke sana.

Bangunan Candi Sambisari dikelilingi oleh pagar yang tersusun dari batu putih dengan parit di sisi luarnya. Pintu masuk ada di setiap penjuru, hanya pintu di sebelah utara tidak difungsikan. Di luar pagar ini, masih ada selapis pagar lagi yang posisinya lebih rendah dan belum selesai digali.

Segera terpikir oleh kami: jika area seluas ini sampai terpendam setinggi ini, lantas seberapa besar aliran lahar yang pernah melanda tempat ini? Sungguh sebuah fenomena alam yang dahsyat, yang mengingatkan betapa kecilnya manusia di tengah semesta.

sambisari-3

banyak misteri masih terpendam di sini

Pada bagian luar candi ini terdapat hiasan kala dengan relung-relung di bawahnya tempat menaruh patung Dewi Durga (di sisi utara), Ganesa (di sisi timur) dan Agastya (di sisi selatan). Untuk mendapatkan hasil terbaik, kita bisa memotret candi ini di sore hari. Pagi itu, saat kami memotret dari arah depan candi, kendala utamanya adalah kamera kami harus frontal menentang arah matahari.

Bagi kami, memandangi saja hasil karya ini cukuplah sudah untuk mengakui keindahannya. Jika itu belum cukup, di sekitar lokasi candi ada ruang informasi yang menyimpan foto-foto sejak situs tersebut ditemukan, lalu proses penggalian dan penyusunan kembali selama 21 tahun hingga menjadi candi utuh seperti saat ini.

Lokasi candi ini masih berdekatan dengan Candisari, hanya sekitar 12 km dari Jogja. Tepatnya 10 km ke arah Solo, lalu dari papan penunjuk arah candi masih masuk sekitar 2 km.

Meskipun matahari sudah mulai menyilaukan mata, begitu meninggalkan Sambisari, kami masih mengayuh onthel kami ke arah Maguwo. Di sepanjang perjalanan, kami banyak berhenti setiap kali melihat hal-hal yang menarik perhatian kami, antara lain ketika bertemu seorang kakek yang tengah asyik memberi makan di kolam pembibitan ikannya, lalu juga di tugu bola, dan di stadion Maguwoharjo.

sambisari-4

bumi, air, dan udara menunggu kita bertanya

Dibandingkan jika kami hanya menjejak selimut dan bangun di siang hari, dengan mengayuh onthel Minggu pagi itu kami sudah mendapatkan banyak hal: badan yang bugar, kebersamaan dengan teman-teman, wawasan serta pengenalan lingkungan, dan, yang paling penting, mengasah kebiasaan kami untuk banyak bertanya yang berarti mengasah kembali kreativitas kami sebagaimana saat kami kanak-kanak. Banyak bertanya, bebas mengekspresikan diri tanpa takut melakukan kesalahan.

sambisari-5

semua tentang keriangan kreatif, bukan tentang usia🙂

Tanpa terkecuali, kami pun saling bertanya, di mana kami bisa menemukan warung soto. Didorong oleh gairah kreativitas yang membuncah, meskipun kali ini kami tidak menemukan soto, kami segera menentukan pilihan berbeda, yaitu sup ayam yang segar. Cukup segar untuk semakin membangkitkan jiwa kanak-kanak di dalam diri kami, karena itulah sumber kreativitas yang tak selayaknya kami biarkan semakin terpendam dalam-dalam.

72 responses to “Candi Sambisari: Keindahan yang (Pernah) Terpendam

  1. wowww………indah sekali foto foto, rute yg dipilih dan tentu saja reportasenya yg sangat khas kyai Semar,,,,,,,,,,, tks sahabat…. cerita ini selain telah memperkaya informasi juga menyegarkan jiwa…. salam dr karawang

  2. Wah ternyata kita tlisiban dengan Opoto, Kerabat Podjok minggu legi kemarin juga muhibah ke Pasar Prambanan lewar Berbah dan Piyungan.

    • onthelpotorono

      Maaf Pak Sahid. Ini reportase ngonthel tgl 4 Juli. Kami ngonthel lagi Sabtu malam tgl 10, lalu Minggu pagi tgl 11 saat teman-teman Podjok ke Pasar Legi, kami malah menyusuri rute perburuan Den Mas Rendra di Kutoarjo, Purworejo dan sekitarnya. Tapi ajian yang berbeda, hasilnya kok ya tetep beda🙂

  3. segeeeeeeeer sumyah, hallelepah-halelepah pangananku iwak entah, what a wonderful view! Khas Kyai Ron Teki tangguh Senopaten, manis lan seger!

    maturnuwun sanget!

  4. ayo bikin world naked bike rider skala kecil, pasti rame trus dibalangi boto..kesambet sing mbaurekso candi ha..ha..

    • onthelpotorono

      Wah, lha kalau itu namanya nekad bike rider. Hehe… Kalau toh berani, kita butuh backing seorang pembesar, Den Mas. Biar kita nggak minder dengan londo-londo nekad itu😀

      Punya kenalan pembesar?

      • kalo pembesar di potorono kan sudah ada???bukannya pak agung max juga udah berbadan besar dan lebarrrrrr….

      • onthelpotorono

        Bukan pembesar itu. Ini pembesar khusus, supaya nggak minder sama bule. Semacam Mak Erot kali, ya?😀

  5. Weleh … weleh …. jadi ke Kutoarjo tho. kok bawa onderdilnya gak suruh bawa aku kalau naik Pramek. masih nyari gear Mercy ya dan udah dapat belum.

    • onthelpotorono

      Selain onthel, ternyata banyak hal yang ingin kita lihat dan nikmati: soto stasiun Purworejo, lompong, pohon-pohon kelapa yang bercabang banyak di Grabag, dsb.

      Gir mercynya malah masih dipinjam yang punya Mas. Hehe…

  6. Potorono emang TOP,gak da basinya.liputan perjalanan onthelis Potorono yang d upload,slalu seger2. terasa mengguyur relung hati yang gersang dan dahaga akan suasana yang asri,sejuk dan menyegarkan.

    salam onthel

    • onthelpotorono

      Terima kasih. Keindahan yang ada di sekeliling kita memang sering terabaikan. Dengan onthel, kita jadi punya lebih banyak waktu untuk memperhatikan kehadirannya.

      Tetap sehat, tetap semangat.

  7. kyai Brongot..aku setuju ayo nek wani…… golar galer koyo telo…nggilani..hihihi….
    mas Wong…bagaimana kalau seluruh rute ngonthel di kawasan candi di Jogja solo kita bakukan utk jd rute tahunan onthelis Indonesia ,pasti sangat menarik ….sekaligus juga jual obyek wisata sekalian “nguri uri” krya agung leluhur kita dimasa lalu…atau kita sekalian ” jual rute” ke wisman….hehehe.salam taklim

  8. den bagus PODJOK

    @zadel retak,
    Saya setuju kalau rute jogja-solo (JOGLO) bisa mnjd rute tahunan othelis nusantara.
    Bbpr minggu yg lalu kami sudah rundingan dgn Mas Dian dkk dari SOLO utk menjajagi kemungkinan jalur JOGLO sbg rute onthel.
    Barangkali kita perlu berkolaborasi bilamana memang kita sepakati.
    @ Onthel Potorono,
    Wah, liputannya selalu ngangeni.
    Selain gaya bahasanya khas & cantik, foto2x nya sangat indah… Salam dari kami…kapan2x ngonthel bareng yok mas…

  9. onthelpotorono

    Teman semua,
    di satu sisi, keinginan serta energi untuk mempertahankan dan membangun apa yang ada kita pelihara, di sisi lain pengrusakan dan pemusnahan masih saja terjadi. Pagi tadi “bencana” (?) itu terjadi di Jakarta…

  10. demi bumi dan langit…..terkutuklah mrk yg mengaku mahluk Tuhan namun tak punya nurani……
    ya Allah mohon cucilah hati dan otak mereka………

  11. @ Wongeres
    Kang Nur alias Kyai Slamet, mohon informasi, apakah kalau bawa sepeda naik Pramex harus ada ijin khusus, atau bagaimana. Soalnya ada rencana Kerabat Podjok mau muhibah ke Solo, berangkat ngonthel tapi pulangnya rencana nyepur. Nuwun.

    • Pak Sahid,
      Mas Qly Spooor yang mbahureksa stasiun Tugu pernah bilang: boleh saja naik sepeda di atas Pramex, asal sepedanya dikasih pesawat heli, trus melintas di atas Pramex. Itu artinya, kita tidak boleh membawa serta sepeda kita saat naik Pramex. Jadi, pilihannya hanya naik kereta barang/ekonomi, atau bawa mobil pickup. Tapi Opoto juga bersedia saja menerima hibah sepeda kerabat Podjok yang pulang dari muhibah kok. Pasti jadi musibah ya🙂

  12. ERWIN eRLANGGA

    huahaha.. eyang tjip tak hentinya berpose extreem.
    Aku dimana saat itu ? ini tempat belum pernah ku kunjungi, ternyata sangat indah, Pokoknya opoto kudu kesana lagi menemaniku.
    Gudeg Pawon piyeee… ???

  13. onthelpotorono

    @Pak Sahid
    Ke Solonya Minggu pagi, trus nginap saja di Solo, biar sempat berkeliling ke klithikan Solo. Senin pagi baru pulang (kan libur). Pasti puas. Hehe…

  14. Sebetulnya kalau Pemkot Solo dan Pemkot Jogja bisa kompak tentu bisa minta fasilitas khusus untuk paket wisata sepeda Jogja-Solo kepada PT. KAI.

    Pengalaman sewaktu di Belanda dulu, biasanya di area pintu masuk gerbong ada ruang kosong sekitar 2,5 meter kali selebar gerbong yang diperuntukkan bagi penumpang kereta dengan sepeda.

    Kita mau kok membayar lebih mahal. Semoga Pak Qly Spoor bisa meneruskan ide ini ke CEO PT. KAI. Wah pasti seru kalau ada fasilitas kereta sepeda. Nah “ilmu mantheng” mulai mode on.

  15. Salam Kenal

    Saya setuju dengan usul Mas Sahid agar sepeda bisa dibawa bersama naik kereta, setahu saya di Cirebon dengan tujuan Jakarta pernah saya tanyakan di dua stasiun jawabannya sama tidak bisa, kalau mau sepedanya dipaketkan pakai kereta barang terpisah dengan pemiliknya.

    Matur nuwun Mas

  16. mana ini anggota OPOTO kok ga kasih komentar and ijo2nya???? mana bung Max/////

  17. Iya, ini Opoters lagi pada ke mana ya. Sebentar pada sms dari Klaten, sebentar lagi dari Kasongan, Bantul, wah… beta sendirian di sini😦

  18. kemana rencana besok pagi???? oya ada yang punya facebook ga ya??? atau tetep mengikuti hal2 yang sifatnya klasik dan mistik???maksudnya langsung door to door gt loh langsung ketemu ga usah facebook2an.

  19. bung Agund max ini lama ga nongol apa udah habis kecapnya??? wakakakakaka

  20. @ om muscat & om wongeres
    Maaf… maaf… baru “ngejar setoran” nich…maksude setoran cyclo-nya..he..he..he..🙂
    habis keburu kepingin “nggenjot” sich , bos …

  21. om wongeres yen senin pagi kita “ngonthel” kira-2 afdol nggak yach!!!!!
    masalahnya hari minggu ada acara ke semarang je, jadi hari minggu-nya ABSEN nich.. ihik..ihik..😥

  22. wahhhh jd pengen ikutan touring lg nih.

  23. @Subandi
    Setuju Pak , nanti kita akan riil mengajukan surat permohonan resmi atas nama komunitas sepeda di Jogja-Solo yang bersedia mendukung Program Kereta Wisata Sepeda Jogja-Solo. Saya pikir sepanjang sepedanya bersih dan tidak bawa “kronjot” atau barang dagangan pasar, mestinya tidak ada risiko apapun yang ditanggung PT. KAI. Dan kita bersedia bayar lebih mahal. Yuk mulai kita pikir bareng-bareng. Nuwun.

  24. Setuju Denmas zadel, gimana kalo yang celaka keluarganya yang ngebom ya, kadangkala harus kita balikin ke diri kita, yen ora gelem dicatoni , ojo nyatoni, nggih to Kyai Zadel ?

    pripun Gus Wong, monnggo to berfatwa.

    turut prihatin.

  25. Gus Zadel, jangan bawa telo pohong….tapi telo sambung( telo mukibat-red) pasti keminderan Gus Wong teratasi, dan jangan bawa telo gendruwo hua..ha..ha..mendem…musuhe….
    JOGLO pake rute OPOTO pasti sip( lewat situs-situs itu lho….) tour de France lewaaaaat, mripat lan paru-paru seger, tapi kenthol mbledhos ,jadikan JOGJA-SOLO on fiets by Zadelretak ..hee..he…

  26. mas Brongot iso wae nek guyonan, koyo segoro..ora ono asate..hehehe..iku lho sedulur2 kita lagi serius masalah sepda naik sepur………. kalau bs terlaksana kan enak, berarti semua rute sepur bs bawa sepeda…. saya dukung mas Sahid, mas bandi… bialamana perlu buat proposal lsg aja ke Dirut PT.KAI di Bandung…….. sumonggo..

  27. O ya mas Brongot kalau ada sahabat dari BOM Kaltim mau konsul tentang pit G mhn dibantu njih< sy rekomendasikan dua nama yaitu Pak Royo dan penjenengan, sahabat kita namanya Mas Ahmad lg kebingungan masalah sepeda G nya.. nuwun

  28. Ngabehi Sak Loring Pasar

    @ Pak e Tole Wongeres

    Selama masih ada rasa ketidakadilan, kesewenang-wenangan, diskriminasi, penjajahan, dan penganiayaan yang dilakukan oleh dunia barat terhadap kaum Muslimin di Palestina, Afganistan, Irak, dan belahan dunia lainnya, teror bom akan terus berlanjut.

    Mengapa kelompok teroris pimpinan Nurdin N. Top yang notabene orang Malaysia melakukan aksi terornya di Indonesia, bukan di negara asalnya yaitu Malaysia, padahal di sana simbol-simbol barat lebih banyak ketimbang di Indonesia.

    Menurut saya :
    1. di Indonesia penjagaannya begitu longgar, dan kurang ketat seperti di Malaysia. Longgarnya penjagaan seperti di perbatasan misalnya, membuat para teroris ini leluasa bergerak dari satu daerah ke daerah lain.
    2. Kondisi di Indonesia sangat memungkinkan bagi para teroris untuk melakukan aksi biadapnya. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa ulama yang membenarkan aksi jihad yang dilakukan para teroris ini, bahkan ada yang melindunginya. Sedang di Malaysia para teroris ini sudah dianggap musuh bersama baik pemerintah maupun masyarakatnya, sehingga tak ada tempat bagi para drakula haus darah ini.
    3. Pelaku bom bunuh diri ini kebanyakan pemuda bangsa kita sendiri yang rata-rata berekonomi lemah. Jadi bila kemiskinan tumbuh subur di Indonesia, sangatlah mudah bagi Nurdin N Top dan anak buahnya merekrut pemuda-pemuda bangsa Indonesia untuk melakukan jihad yang salah ini. Sedang di Malaysia masyarakatnya lebih sejahtera dibanding masyarakat Indoneia, sehingga dari segi pendidikan, masyarakat Malaysia lebih tinggi.

    Yang menjadi pertanyaan saya :
    – Siapa yang diuntungkan oleh aksi bom di Jakarta ini? (MU main di Malyasia dua kali looh)
    – Nurdin N Top tak melakukan aksinya di negaranya saja yaa, kok justru di Indonesia yang miskin ini?

  29. halo mas Ngabehi,lama gak muncul kemana aja nih……. dua pertanyaan terakhir penjenengan sangat menggelitik….sy mensinyalir alasan tsb sudah agak lama mas…………. coba deh buka blog ” dont visit indonsial…yg di kelola saudara kita di malay, kemudian program ” trully asia.” yg di canangkan mereka sudah lama dan habis dana triliunan ringit termasuk akupasi simpadan ligitan utk dijadikan Hawaiinya Malay..tp msh tetap kalah dengan pesona Bali , menara kembar yg jadi ikon Narsisisme negeri jiran tp ternyata warganya lebih suka belanja di Mangga dua dan pasar baru Bandung………. pikiran jelek saya kok jadi gamblang menengarai jawaban atas pertanyaan…mengapa mas Nurdin Top tdk mau meledakkan kota kota di Malay……… jangan 2 memang disengaja mengangkat isu terorisme semata mata sebagai kedok memuluskan strategi ” dagang” mereka bekerja sama dg “agen” asing yg menjadi kroninya…. kalau ini benar…alangkah menjijikannya…., dan kalau kita cermati memang fenomena ini muncul hampir berbarengan dengan isu simpadan ligitan,trully asia,ambalat, termasuk pendakuan thd batik, keris,wayang, reog,lagu2 …dll yg sifatnya sangat menyentuh rasa kedaulatan berbangsa yg dilancarkan dengan sangat sistemik…….. sehingga pertanyaan yg lebih besar adalah…. ada apa dibalik semua ini…
    barangkali penjenengan ada data atau info akurat yg bs di share disini sekedar utk selingan ringan diantara diskusi tentang onthel……. hehehe..sumonggo… ( kompor Mode ” on”…)..salam

  30. halo mas Ngabehi,lama gak muncul kemana aja nih……. dua pertanyaan terakhir penjenengan sangat menggelitik….sy mensinyalir alasan tsb sudah agak lama mas…………. coba deh buka blog ” dont visit indonsial…yg di kelola saudara kita di malay, kemudian program ” trully asia.” yg di canangkan mereka sudah lama dan habis dana triliunan ringit termasuk okupasi pulau simpadan dan ligitan utk dijadikan Hawaiinya Malay..tp msh tetap kalah dengan pesona Bali , menara kembar yg jadi ikon Narsisisme negeri jiran tp ternyata warganya lebih suka belanja di Mangga dua dan pasar baru Bandung………. pikiran jelek saya kok jadi gamblang menengarai jawaban atas pertanyaan…mengapa mas Nurdin Top tdk mau meledakkan kota kota di Malay……… jangan 2 memang disengaja mengangkat isu terorisme semata mata sebagai kedok memuluskan strategi ” dagang” mereka bekerja sama dg “agen” asing yg menjadi kroninya…. kalau ini benar…alangkah menjijikannya…., dan kalau kita cermati memang fenomena ini muncul hampir berbarengan dengan isu simpadan ligitan,trully asia,ambalat, termasuk pendakuan thd batik, keris,wayang, reog,lagu2 …dll yg sifatnya sangat menyentuh rasa kedaulatan berbangsa yg semuanya dilancarkan dengan sangat sistematis…….. sehingga muncul pertanyaan yg lebih besar adalah…. ada apa dibalik semua ini…
    barangkali penjenengan ada data atau info akurat yg bs di share disini sekedar utk selingan ringan diantara diskusi tentang onthel……. hehehe..sumonggo… ( kompor Mode ” on”…)..salam

  31. @ Wongeres

    Kem-ba-li ke onthel …

    Kang Nur, kamis malam lusa Kerabat Podjok mau expedisi kuliner ke bakmi letheg Pasar Pleret, sumanggah kalau rekan-rekan Opoto mau bergabung…Kita ada parade lampu dari minyak, karbit, dinamo dan baterei. Nuwun.

  32. Ngabehi Sak Loring Pasar

    @Zadelretak

    Kembali ke aksi teroris

    Halo juga mas Zadel, kita tak bermaksud mendiskreditkan Malaysia yaa.

    Mengapa mas Nurdin ngeTop sulit ditangkap oleh kepolisian RI ?

    Pengamat terorisme asal Australia, Sydney Jones, menjelaskan bahwa Nurdin ngeTop ini masih dilindungi oleh jaringanya. Jaringan ini melakukannya dengan ikhlas, bahkan mau membiayainya.
    Selain memiliki jaringan yang masih kuat, pria asal Malaysia ini dalam melakukan aksi terornya berdasar pengalamannya di lapangan. Seperti menggunakan bom mobil, seperti bom Bali satu, lalu bom tas (bom bunuh diri) seperti peristiwa bom Bali dua, dan JW Mariot 2004 dan bom baru-baru ini. Nurdin ngeTop selalu melakukan dengan cara melalui kurir. Antara kurir yang satu dengan yang lain tidak saling mengenal, sehingga sangat sulit dilacak.

    Menurut saya sih ini mungkin skenario AS dan antek-anteknya termasuk Malaysia untuk membuat Indonesia tidak aman, dan semakin terpuruk di dunia internasional.

    Yang saya sayagkan mas Zadel, banyak pemimpin kita yang saling tuding, yang membuat masyarakat kita menjadi gamang dan resah.

    Entah kapan, saya yakin suatu saat biang kerok asal Malaysia akan tertangkap jua. Ada peribahasa sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga.

  33. blarak sineret

    @ Kyai Brongot

    Kok hafal betul jenis-jenis telo. Telomoyo aja yang belum ya. Lha gembili, utri, kaerut dsb mana?

  34. blarak sineret

    @Pak Dhe Bei dan Denmas Zadel

    Spekulasi masalah satu ini kok jadi kompleks dan tidak selalu saling berhubungan ya. Bagi orang kampung seperti saya, ini membingungkan dan karenanya kami butuh pegangan.

    Artinya, sebenarnya wong cilik ini kan butuh seorang pemimpin yang bernalar wening, arif, sabar, tapi juga gagah, berani, dan berwibawa, serta terampil mengatasi persoalan negara. Kami butuh arahan untuk menghadapi semua yang terjadi tapi tanpa bisa kami mengerti ini, agar kami bisa berkontribusi bagi tercapainya stabilitas keamanan bangsa ini.

    Lageyan atau perilaku orang di kampung saja juga sudah berubah. Sekarang maunya pada hidup eksklusif dengan keluarga masing-masing tanpa mau srawung dengan tetangga. Tegur-sapa dengan siapa yang berpapasan sudah tidak berlaku. Lha kita kan jadi nggak tahu, yang barusan lewat itu tetangga atau teroris. Meskipun sepertinya sepele, hal semacam ini ikut menyumbang situasi yang kondusif bagi mereka, kan?

  35. blukang semendhe :-)

    @Pak Sahid

    Terima kasih Pak Sahid, kami informasikan kepada teman-teman. Semoga waktunya cukup untuk sekedar memberi kesempatan virus flu Opoters pada lari. Hehe…

  36. Ngabehi Sak Loring Pasar

    @ Ki Blarak Sineret

    Memang setelah terjadinya ledakan bom di Jakarta kemarin, banyak opini atau spekulasi yang bermunculan. Opini-opini terkadang membuat masyarakat jadi bingung.

    Kita percaya pada pemerintah, pasti akan membrantas aksi biadab para teroris ini. Dan kita percaya bahwa kepolisian cepat atau lambat akan menangkap pelaku-pelaku pemboman itu.

    Nah, sebagai warga negara yang baik seharusnya kita turut membantu aparat untuk menangani masalah teroris ini. Seperti peran rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) yang harus makin ditingkatkan, sistem keamanan lingkungan ( Siskamling), ronda, dan lain-lain.

    Benar yang dikatakan Ki Blarak Sineret, masyarakat kita, baik yang ada di kota maupun kampung sudah berubah. Maunya hidup eksklusif dengan keluargabnya saja, tak mau kenal tetangga, tak saling tegur sapa. Celah inilah yang kemudian digunakan para pelaku teroris bersembunyi.

    Nah mungkin dengan onthel ini, kita dan masyarakat lainnya bisa saling tegur sapa (Onthel, Melebarkan Dunia Tegur Sapa), sehingga kita semakin kenal dengan orang lain, tetangga lain, tetangga desa sebelah, dan sebagainya. Onthel dan tegur sapa ini mungkin bisa kita manfaatkan untuk mengantisipasi keberadaan pelaku kejahatan ini. Mohon kritisinya

  37. @ Blukang Sumende

    Sumanggah Pak, kalau positif bergabung, nanti bisa ketemu rombongan di depan Markas Brimob lagi. Saya juga habis recovery dari flu, selain obat flu dan batuk china, saya minum jinten hitam dicampur madu, cukup terasa mempercepat kesembuhan. Nuwun.

  38. tambah kopi Jambe campur madu dan cengkeh…djamin joss mas Sahid ( ramuan rahasia nenek moyang)..

    • Lalu diminum bersama sebutir bodrex? Hahaha…
      Matur nuwun lho resepnya. Ayo pada dicoba. Ha, nyari jambe, jinten hitam…

  39. @ Om Sahid & om wongeres

    beberapa hari ini saya perhatikan, beberapa ruas jalan di wilayah “kota” yogya, ditambahi garis marka jalan warna kuning, kurang lebih selebar 2 meter dari bahu jalan. apa betul njih… itu yang dimaksud dengan jalur sepeda ?

    matur nuwun.

    • Iya, Dimas Max’s. Kok sajak nyengkut ya. Dan mobil bak terbuka dengan segebog papan penunjuk jalur alternatif bersepeda tampak berkeliling, lalu tiba-tiba di seantero Jogja sudah terpasang papan tsb. Bagaimana kalau kita coba jalur alternatif ini?

  40. Weleh weleh, jalur alternatif sepeda di kota Yk sebagian kecil udah saya lewati pakai onthel, Sabtu kemarin.
    @ Sahidnugroho
    Salam kenal
    Gagasan/usulan Kereta Wisata Sepeda Jogja-Solo. saya juga setuju dan mendukung. Untuk Kereta Pramex saat ini sangat sulit untuk terwujud mengingat rangkaian gerbongnya sangat terbatas dan kalau bawa sepeda menggangu kenyamanan penumpang yang lain apalagi kalau hari libur. Hari jumat, sabtu dan minggu kalau ada permintaan banyak/lihat situasi dan kondisi ada tambahan rangkaian Kereta Pramex untuk kelas Exsekutif pakai rangkaian Kereta Argo.
    Maaf saya di PT KA cuma Qly je, jadi gak punya wewenang dan akan saya sampaikan ke managemen.
    Di Sedayu saya lihat ada Sepeda Gazelle Transport , he he he
    Nuwun.

  41. @ om wongeres
    cocok dan cocok banget om….. lha kapan je??? he..hee.hee..🙂

  42. @ Zadel Retax
    Terima kasih atas jamunya…Cuaca cukup “tricky” kadang panas kadang dingin, jadi perlu extra hati-hati…

    @ Max
    Sepertinya demikian, warna kuning cukup jelas terlihat, mudah-mudahan diikuti dengan devider biar lebih aman.

    @ Qly Spoor
    Sugeng tepangan Pak, lho kok touringnya sampai Sedayu Pak he..he..he..

    Beres Pak, nanti Podjok coba lobby Pak Walikota dulu, karena kalau yang mengusulkan Beliau ke Direktur PT. KAI pasti beda hasilnya he..he..he..

  43. Kapan mau ngonthel tengah malam lagi? ke Imogiri sekalian cari sesuatu hehe

  44. onthelpotorono

    @Mas Margi

    Nanti kalau kami punya rute menarik, kami kabari, biar bisa siap-siap tidur sore.🙂 Pake Gazelle dames lagi? Sepertinya itu kan andalan untuk rute jauh ya? Hehe…

  45. dhuh rencananya ” ngileri” tenan…ikuuuuuuuuutttttttt dong mas…

  46. Den Baguse "Beny"

    but, yo tenan…e… nek ngonthel malem itu asyik buanget! ride in the night. Yo kapan lagi yo.. yo..
    aku pasti melu… hehehehehe…

    • ‘Ngonthel malem’ itu maksudnya ‘naik onthel malem-malem’ seperti kemarin, gitu? Biar persepsinya sama.😀

      Lha jinten hitam di pasar tradisional malah sudah nggak ada, je. Mesti nyari di supermarket atau sinshe. Apalagi bikin kopi jahe. Wuah! Jadi, sisa-sisa batuk-pileknya ya masih nempel. Padahal nanti malam ada undangan menarik dari Pak Sahid. Piye, jal?

  47. Den Baguse "Beny"

    sepertinya pemkot jogja sdh mulai peduli dgn para onthel. sekarang dimana-mana sdh dipasang rambu jalur alternatif utk sepeda. boleh jg tuh kita coba

  48. ” ngonthel malam ” yg pakai jinten ireng dan kopi jambe kan gak perlu ngajak mas Sahid to mas Wong………..dwe an wae mosok gak wani hehehe…. kalau yg ” ngonthel malam malam memang hrs rame rame an jamunya cukup semangkuk soto atau bakmi aja… salam

  49. Touring sesungguhnya selain untuk olahraga, juga sebagai bagian dari proses pengenalan karakter sepeda yang kita miliki. Saya yakin onthelis yang hobby touring, akan semakin mencintai sepedanya dan memahami aplikasi terbaik dari sepeda bersangkutan.

    Touring malam, sesungguhnya lebih berorientasi pada pemuasan emotional value. Ada sensasi yang berbeda saat kita menyisir jalan pedesaan yang gelap dan sunyi. Sensasi ini sangat menghibur dan menyegarkan pikiran setelah rutinitas seharian. Nuwun.

  50. setuju mas Sahid, saya mendapatkan sesuatu ” rasa” yg sangat berbeda ketika dibanding touring siang… minggu lalu sy berdua istri sengaja ngonthel malam malam ( baca:naik sepeda) menyusuri pinggiran kota berbekal lampu sentolop pekerja tambang yg dipasang di kepala … ( maklum dinamo masih mati )…. ternyata suasana pemandangan siang yg biasanya sangat panas, kumuh dan semrawut ternyata di malam hari suasana sangat berubah… menjadi lebih terasa indah dan adem…
    @ mas Wong.. memang sejujurnya diem diem sy sdh minum ramuan leluhur sebelum berangkat… akibatnya mas… ngonthel malam tahap keduanya…wahhh…sungguh mantap dan nglenyer serasa perbaduan naik Gazelle ,fongers, batavus, simplex dan humber… secara berbarengan…hehehe…

  51. bagus banget,…pasti perjalanan yang menyenagkan sekali,…bicara masalah candi, saya pernah dengar untuk candi borobudur yang sekarang ada adalah masih berupa pucuknya jadi masih ada lagi bawahnya dan tentu pasti lebih besar dari yang sekarang…….

    • onthelpotorono

      Kebersamaan selama ngonthel selalu menyenangkan, Kang Jana. Candi Borobudur? Iya, masih ada satu lantai lagi, dan sudah pernah digali sebagian, hanya untuk difoto saja. Jangan segan berkunjung untuk berdiskusi tentang apa saja dan memberikan masukan ya.🙂

      Salam hangat dari kampung Potorono.

  52. @ Sahidnugroho
    Gagasan/usulan Kereta Wisata Sepeda Jogja-Solo. udah saya sampaikan ke Kepala Setasiun Lempuyangan, dan info yang saya dapat boleh tapi dengan Kereta Sritanjung berangkat dari Setasiun Lempuyangan ± jam 07.30 WIB dan turun di Setasiun Purwosari. Pulang juga dengan Kereta Sritanjung dari Setasiun Purwosari jam ± 20.40 WIB
    Trim

  53. @ Qly Spoor

    Matur sembah nuwun informasinya, berarti sekarang sudah bisa dirancang Touring Jogja-Solo dengan bersepeda. Saya lihat jadwalnya juga fleksibel. Sip margosip, top markotop.

  54. mas 2 di tunggu kehadirannya pd kegiatan mbandung lautan onthel tgl 30-31 januari 2010

  55. wah ini deket tempat kos + kampus saya. ga mampir candi gebang sekalian nih. kan di belakang stadion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s