Monumen Ngoto: Memaknai Sebuah Kepahlawanan

Apa beda antara pahlawan dan bukan pahlawan? Ada banyak jawaban, dari yang lucu, asal, bahkan konyol hingga yang serius, rumit, dan belum tentu benar! Haha… Kata Iwan Simatupang (novel Merahnya Merah), kalau kita berani memperjuangkan sesuatu karena sudah tahu bahwa kita pasti menang, itu bukan sikap pahlawan.

Nah, kalau kita setuju dengan pendapat itu, maka seorang pahlawan mestinya selalu berani menegakkan keyakinan, meskipun resiko yang harus dihadapinya sangat tinggi, termasuk jika harus nyawa sekalipun taruhannya. Lha tapi, selama ini kalau kami mau melakukan sesuatu dengan ‘mati-matian’ itu justru supaya tidak mati lho, bukan karena kami berani mati!๐Ÿ™‚

Berarti, kepahlawanan itu soal sikap yang diyakini selama hayat dikandung badan. Kami bayangkan, kalau kehidupan seorang pahlawan sejati itu kita ibaratkan film atau gambar bergerak, maka mau dipotong, di-pause, atau stop di bagian mana pun akan selalu memperlihatkan adegan yang menunjukkan sikap kepahlawanan itu.

Ngoto-1

replika Dakota VT-CLA yang jatuh di Ngoto

Kami berpikir tentang kepahlawanan bukan karena ini hari pahlawan, tapi karena terinspirasi acara ngonthel Opoto pada Minggu, 7 Juni kemarin ke Monumen Ngoto, sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang perjuangan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Sikap kepahlawanan telah ditunjukkan oleh para perintis angkatan udara kita. Pada tgl 29 Juli 1947, para penerbang muda pimpinan A Adisucipto, didampingi penembak udara masing-masing siap melakukan tugas penyerangan ke markas Belanda di Semarang, Ambarawa, Salatiga dengan menggunakan pesawat peningalan Jepang. Setelah diperbaiki selama seharรญ penuh, pesawat rusak itu langsung diberangkatkan tanpa melalui uji terbang terlebih dahulu, meskipun konon tanpa dilengkapi lampu penerangan dan radio komunikasi. Mereka hanya membawa lampu senter!

Ngoto-2

Sekarang menjadi Monumen Perjuangan TNI-AU

Penyerangan dengan tiga pesawat itu berhasil gemilang dan mampu memberikan efek psikologis terhadap tentara Belanda. Di samping itu, dunia internasional juga mencatat bahwa Republik Indonesia masih ada. Akan tetapi, sore harinya, pesawat Dakota VT-CLA milik seorang India yang membawa sumbangan obat-obatan untuk Palang Merah Indonesia dari Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh dua pesawat pemburu P-40 Kitty Hawk milik Belanda. Pesawat Dakota itu jatuh di dusun Ngoto, desa Bangunharjo, kecamatan Sewon, Bantul. Beberapa awak pesawat dan penumpangnya gugur, termasuk Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Udara Prof Dr Abdurachman Saleh, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo Wirjokusumo. Hanya Abdulgani Handonotjokro yang selamat.

Ngoto-3

Untuk mengenang jasa mereka yang gugur dalam peristiwa jatuhnya pesawat Dakota dan juga sebagai penghormatan bagi para perintis AURI itu, dibangunlah Monumen Ngoto. Di tempat ini juga disemayamkan jasad Komodor Muda Agustinus Adisutjipo beserta istri serta Komodor Udara Prof Dr Abduracman Saleh beserta istri.

Menghayati arti kepahlawanan, bagi kita para onthelist tentu sangat perlu. Jadi, selain suka mengenakan baju pejuang, nilai perjuangan juga harus ada di dada kita dong. Bahkan beberapa dari kami yang suka diolok-olok sebagai โ€˜bangsawanโ€™ (bangsane tangi awan) pun tak mau lagi jadi pahlawan kesiangan.

Ngoto-4

semua parkir di tempat biasa, kecuali… lihat! ada yang merasa VVIP๐Ÿ™‚

Sepulang dari Ngoto, tujuan berikutnya tentu saja soto. Kami mengayuh sepeda dengan gagah. Apalagi warna kaos kami juga lebih merah. Kepahlawanan adalah tentang sikap, tentang konsistensi. Jika kami konsisten mencintai sepeda onthel, layakkah kami menyebut diri kami sebagai pahlawan onthel? Sebentar. Pahlawan juga harus rela berkorban demi kepentingan orang banyak. Apakah yang bisa diberikan oleh sepeda onthel bagi orang banyak?

Menyusuri jalan Imogiri, dengan heroik kami terus mengayuh menahan lapar, walau di kanan-kiri jalan warung-warung soto dan sate klathak banyak tergelar. Sesampai di Plered, barulah kami kembali โ€˜membumiโ€™. Kami mengisi perut dengan soto kegemaran kami, sebelum mengayuh kembali menuju kampung kami, Potorono. Di benak kami, banyak gagasan tentang sepeda onthel berputar-putar tak selesai….

referensi lain:
http://www.tni-au.mil.id/content.asp?contentid=4538

38 responses to “Monumen Ngoto: Memaknai Sebuah Kepahlawanan

  1. keren dab, sumpah keren. Dengan kaos “baru” itu, sungguh indah sawanganne.
    ‘Beliau’ memang paling bisa memposisikan diri…(VVIP).๐Ÿ˜•

  2. setelah ngoto…soto…..ngaso……memang enak tenan dab….tapi rasa2ne kok ada yg beda ya sotone??? ga koyo biasane……gmn kalo minggu depan kita ke arah utara???? biar suasana route bervariasi gt loooohhhh…….

  3. ke utara…oke, ke barat…dadi, ke selatan…gak masalah, ke timur…. siap… yang penting “ngonthel jalan teruuuuuuuuuus”….

  4. wuuuiiiiih… fotonya keren abiiiis dabbbbb!!!!!!!!
    om wongeres iki memang jago cari “angle” yang pas..
    pak dhe benny : diajak dong om rangganya….
    om Adi & om Dedy kemana aja nich gak nongol-nongol????

  5. Lounching..

    J U A L barang-barang

    Spare Part & Aksesoris Onthel

    klik dan kunjungi di :

    http://www.klithikanonthel.wordpress.com

    • onthelpotorono

      Keren Mas. Tapi kalau nggak keberatan, kasih dong profil Anda biar sahabat-sahabat onthelist lebih mantaf meminta rekomendasi Anda.

  6. wah kostum yg cakep mas……… opomaneh nek foto suasana ” meyerbu” soto klangenan juga di posting..pasti sangat mengesan bagi yg mampir ke web ini…hehehe..salam dari kota Karawang buat sederek OPOTO.. terutama mas Nur…

    • Tq Pak Rendra. Yang membuat masakan jadi enak itu bukan cuma bumbu masak, tapi juga rasa lapar sehabis ngonthel kali ya. Hehe… Salam dari Potorono.

  7. kaos barunya bagus ,tambah merah & tambah berani… maksudnya berani
    ngonthel kemana aja ke segala arah gitu lho. para bapak2 yang laenya(khususnya yg udah punya sepeda) ayo ikut gabung biar lebih rame dan meriah

  8. Kalau pesawat rongsokan saja bisa mengalahkan musuh, itu bukti dari sikap kstaria, keyakinan dan kepahlawanan para pemuda saat itu.

    Hla sekarang, kenapa ya.. kok pesawat-pesawat militer kita pada jatuh bukan karena perang? Malah juga ditambah diolok-olok oleh tetangga dengan pesawat tempur mereka yang gress.. sak enake dhewe melenggang di atas Ambalat.

  9. lha ya itu bung anab… seandainya saja semua orang itu jujur (baca:tiadak korupsi), sudah berapa skuadron saja kita bisa beli pesawat baru…

  10. Selamat datang di habitat ndeso ini, Mas Anab.

    Wah, pertanyaan sederhana, tapi jawabannya bisa bermacam-macam: Kalau pesawatnya rongsokan, target kita gak muluk-muluk. Nah, begitu pesawatnya bagus, estimasi kita juga naik. Tapi, semoga kita gak kehabisan stok pahlawan ya. Atau, jangan2, artinya kita perlu menaikkan anggaran belanja untuk pertahanan? Hayo, siapa yang setujuuu?

  11. Aku pengen komen bab ini sebetulnya, tapi ga berani, takut piye2.

  12. Whaduhh…,
    yang sering ngebikin seragam pejuang harus baca nich… he.he,/

  13. Ada yang..
    lagi
    naksir
    MANOHARA nich

  14. apa kbr mas Wong, dunia onthel ternyata sama dgn komunitas angkringan ya, kita sangat merdeka ngomong dan diskas apa aja………. tdk terbatas pada bahasan teknis peronthelan yg suwe2 juga membosankan… ayo mas kita manfaatkan forum ini utk berbagi info.. insyaallah berguna bagi kita, minimal meningkatkan kepekaan sosial kita…….hehehe… jd boleh ngritik opo wae….. go a head….. salam kompak…

    • Kabar baik, Mas Zadel. Apalagi kalau pagi-pagi ada support seperti ini. Matur nuwun.

      Beginilah obrolan kampung(an) Mas. Kadang kami sok peka, bukan karena mumpuni, melainkan karena posisi kami yang berjarak dari persoalan sesungguhnya. Makanya kadang bahkan sampai bisa ‘ngrasani’ presiden segala. Haha…

  15. yach… ngobrol yang Simplex-simplex aja lah, ga usah yang berat2. mengko ndak mumet.๐Ÿ˜†

  16. setuju om erwin… kalau yang diangkat sing simplex-2 saja yo ringan, cuma kalau yang diangkat simplex sak sing numpaki yo mesti gebreeees-gebreeees…haaa.haaaaa….

  17. mas Erwin mas maxs sugeng tetepangan…… saya setuju kita ngomong yg simplex2 saja………. semua kita bikin sipmlex saja, kayaknya hidup akan jadi lebih ringan dan lebih happy… bener juga mas.. salam

  18. salam kenal juga om zadelretak….

    akuuur mas… setuujuuuuuu….. pokoknya happy teruuuus yaach…. sampai happy new year 2010…haaaaaa..haaaaa

  19. wow….keren2 yah opoto nih….
    evan mau nabung aaaha…biar bisa gabung….yes3..

  20. Lanjutkan ngonthelnya,lebih cepat lebih baik…….. tapi ingat onthel adalah termasuk transportasi utk kelancaran ekonomi rakyat……….hehehehe

    • onthelpotorono

      Weleh-weleh, kampanye kok borongan? Hahaha… tq komentarnya. Intinya, kebersamaan memang bikin kita hangat. Salam.

  21. TO : EVAN blok E
    Ayo…
    Tak “Catat” loh ujarmu.
    Minggu besok kowe tak bangunin pokoknya.
    pit ?? terserah tinggal pilih mau pake yang mana.
    ok Opoters ?? WELCOME.

  22. Setuju dengan Mas Zadelretak, hidup udah ruwet saatnya utk berpikir yang simplex2 aja. Ora usah sing ruwet,mbulet,abot, dll. ๐Ÿ˜› ๐Ÿ˜‰

    • onthelpotorono

      Bung Max itu mikir nglengkapin Simplex-nya aja sampai bruwet, je…

      • sebenarnya sich gak “bruwet” sing mikir nglengkapin-nya om noer, tapi “bruwet” yang njawab pertanyaan simbok-e di rumah…. hii..hiii..

      • onthelpotorono

        Pasti Bunda Max baca blog ini sambil cemberut. Lha ‘dituduh’ bikin bruwet!๐Ÿ˜€

  23. ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† :mgreen: huahahaha….
    ini salah satu romantika onthelis mungkin.

  24. wis..wis…wis … yen simboke tangi..gawat kiiii….huaaaaa..haaaaa…

  25. Kereeen Mas….komunitas sepeda onthel…kisah-kisahnya menarik dan segar…inspiratif….tulis terus mas….memberi ilham seperti ini lebih berarti sekalipun tanpa balas jaza…..makasih…aku pasti sering kunjungi Blog ini. Walaikumsalam….

  26. Ping-balik: Dakota VT-CLA 29 Juli 1947 | SALAM GOWES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s