Ke Candisari: Soto, Bukan Foto!

Secara teknologi, bersepeda –terlebih lagi sepeda onthel—adalah sebuah kemunduran. Setelah hadirnya sepeda motor dan mobil yang mampu melaju cepat ke tempat tujuan, untuk apa sepeda onthel? Tunggu dulu. Justru dengan lajunya kecepatan itu, sesungguhnya ada yang hilang dari diri kita: detil pengamatan inderawi atas lingkungan kehidupan kita sendiri.

Berkendara dengan motor atau mobil, tanpa sadar membawa kita hanya pada satu orientasi, yaitu bagaimana caranya agar cepat sampai ke tujuan. Lalu kita akan tertantang menyalip satu demi satu kendaraan di depan kita. Padahal kendaraan di depan kan nggak ada habisnya. Begitu seterusnya hingga kita sampai di tujuan. Praktis, efisien, dan kering inspirasi! Haha… bahasanya mulai nggak netral. Tapi tujuan kami kan memang menyampaikan angle kami, para onthelist yang riang hati?

Opoto-di-jalan

Lihatlah wajah-wajah onthelist Opoto yang ceria mengayuh onthelnya Minggu, 17 Mei 2009 lalu. Mana ada orang bersepeda motor seriang ini? Hehe… ini baru tentang suasana hati. Tetapi apa sih yang lebih berharga di dunia ini selain keriangan dan kebahagiaan hati?

Sambil bersepeda, kami melihat dan merekam dengan baik ‘wajah kehidupan’ sepanjang perjalanan. Mengikuti spontanitas dan kata hati, sampailah kami di dusun Bendan, desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Dari arah Jogja-Solo, kalau dari bandara Adisucipto kira-kira cuma 4 km. Setelah ketemu masjid unik bergaya Rusia, berbeloklah ke kiri sedikit. Di sana ada sebuah candi kecil. Wah, kenapa kita selalu melihat segala sesuatu dari ukurannya ya? Apakah (menjadi) besar itu segala-galanya?

candisari-1

Denah bangunan candi Buddha yang dibangun sekitar abad 8 M (hampir bersamaan dgn candi Kalasan) ini berbentuk empat persegi panjang 17.3m x 10m dgn konstruksi bertingkat dua (mirip candi Plaosan di Prambanan), dan memiliki 3 bilik. Di dalamnya ada relung-relung, diperkirakan dahulu menjadi tempat menaruh patung Budha yang diapit bodhisatva. Mungkin dahulu juga ada lantai kayu yang memisahkan antara lantai bawah dengan lantai atas. Begitu sedikit di antara banyak keterangan yang tertulis besar-besar dan bisa dibaca siapa saja yang berkunjung ke sana. Konon pula, Candisari pada zaman dahulu merupakan Vihara Buddha, dan dipakai sebagai tempat belajar serta berguru bagi para bhiksu.

Kebetulan, teman yang paling berkompeten menerangkan bangunan bersejarah semacam ini tidak ikut ngonthel bersama kami. Meskipun begitu, tanpa penjelasan ilmiah sekalipun ternyata kami tetap bisa menikmati keindahan arsitektur kuno ini. Bagi kami, dalam ujudnya yang kecil, candi ini menyimpan keunikannya. Seluruh dinding bangunannya berhiaskan ukiran serta relief yang indah sekali.

candisari2

Kami berkeliling dan menikmati kehadiran candi, sebuah peninggalan kebudayaan lampau di tengah-tengah pemukiman penduduk masa kini. Dari sisi pengelolaan sebuah situs atau cagar budaya barangkali kurang ideal. Anehnya, kanak-kanak yang bermain bebas, sebuah keluarga yang melintas, satpam yang datang pagi-pagi untuk mulai mengemban tugas, serta senyum ibu muda yang tengah hamil, semua justru hadir melengkapi apa yang tak hanya kami lihat, melainkan juga kami rasakan sebagai sebuah keindahan. Wah, kami pun tak bisa menahan diri untuk berpose di sini.

Selepas dari candisari, kami mengayuh onthel kami ke candi Prambanan, melihat-lihat dan mengaguminya dari dekat. Di antara batu-batu candi yang berserakan di sekitar candi Sewu itu kami bahkan sempat melepas lelah, sambil mengulur khayalan masing-masing. Kami membayangkan bagaimana mengangkat batu-batu sebesar itu dan menyusunnya menjadi sebuah candi yang menawan demi membuktikan cinta kepada gadis impian, sebagaimana yang dilakukan Bandung Bondowoso bagi Si Jelita Roro Jonggrang.

Prambanan

Sebagai syarat sebelum bersedia dipersunting, Roro Jonggrang memintanya membuatkan seribu candi dalam semalam. Dengan kesaktian serta bantuan para jin, syarat itu sebenarnya mampu dipenuhi, kalau saja Roro Jonggrang tidak menggunakan muslihat dengan menyuruh orang-orang kampung menumbuk padi, mengesankan bahwa pagi telah menjelang. Konon ayam pun terkecoh sehingga mereka mulai berkokok bersahutan. Konsentrasi para jin buyar, mereka lari meninggalkan pekerjaan yang nyaris selesai. Bandung Bondowoso murka, Roro Jonggrang dikutuknya menjadi patung keseribu, melengkapi 999 patung yang telah dibuatnya.

Meskipun sejak kecil berulangkali kami mendengar dongeng itu, tetapi kisahnya yang mencekam masih saja menggelayut di kepala kami, sampai bunyi kukuruyuk bersahut-sahutan membangunkan kesadaran kami. Ternyata tak cuma satu dua orang saja yang mendengar. Suara itu datang dari perut kami yang kelaparan.

Matahari mulai tinggi, kampung Potorono masih jauh nun di sana. Kami harus bergegas.

onthelist-OPOTO

Dalam perjalanan pulang, banyak tempat indah yang kami temui. Beberapa orang di depan sempat berhenti dan tergoda untuk berpose, kalau saja dari belakang tak segera terdengar teriakan bernada protes: “Heh, soto! Bukan foto!”

Maka, kami segera mencari warung soto –bukan foto, sekedar mengisi perut demi mendapatkan kembali keriangan hati kami, seperti saat berangkat tadi….

***
Teriring ucapan selamat untuk onthelist Opoto Pak Tjiptono Harjadi atas lahirnya cucunda tercinta yang diberi nama: Purnomo Darpito. Sungguh pilihan nama yang bagus. Terutama karena ada PIT-nya🙂.

Selamat datang untuk Bung Max Agung bersama Simplex seri-7 yang cantik. Salam hangat buat semua saudara sepengonthelan di mana saja.

37 responses to “Ke Candisari: Soto, Bukan Foto!

  1. Erwin Erlangga :

    Cari background soto eh.. foto baru yo.
    pantai misalnya ato kraton ato Pesawat..!!!
    Foto Taj Mahal nya mana boz ?

  2. akhirnya datang juga,,,keburu minggu lagi ya?
    Gimana boss, minggu saya dah bisa pake sepede edisi terbaru?

  3. onthelpotorono

    Mau gabung pakai Valuasnya ya? Silahkan.
    Jangan kunci stang ya Boss!!😀

  4. lha soto pas makan foto bareng-bareng kok nggak ditampilkan skalian mas….

    • onthelpotorono

      Hahaha… Mas Sulkan lucu juga. Ssstt… di Potorono, soto itu bukan makan Mas, tapi minum. Kalau makan itu misalnya ya makan es teler…🙂

  5. dedirisdiyanto

    hebat tennnnnnaaaaaaaaaannnnn ! kita bisa mendunia

  6. Erwin Erlangga :

    Welcome ” VALUAS “.
    Pasti limbuk punya tumpakane .

  7. Andy(om-nya muscat)

    Whe lha bapak2 iki..ngonthel sip tenan.kakangku (pak bambang) wae nganti kepincut ngluruk golek onthel,padahal asline wonge plg wegah olahraga lho…hahaha.. Ben tambah ngangkat mbok digawekno facebook pak Noer…mengko tak ramekne ko kene…
    Salam bwt smua tetangga

    • onthelpotorono

      Mas Andy sekarang ada di mana? Lama banget nggak ketemu. Emang di situ ada fasilitas cuti ngonthel tahunan? Ayo segera diambil aja.

  8. Kula aturaken sewu gunging panuwun ingkang tanpa pepindhan dhumateng Bapa Wongeres dalah rencang-rencang “OPOTO”, ingkang sampun kersa anampi lan nggladhi kula ing paguyuban ONTHEL POTORONO punika.

  9. walahhhhhhhhhhh pak agung ki ngendiko nganggo bahasa sansekerta barang…..
    pake bahasa prokem aja lebih sip kalee…..

    tolong pak pencerahannya buat buka situs yang ga bisa dibuka di SAUD…wakakaakakakaka.

  10. to admin :
    Sungguuuuhhhhhhhhh dab saya mohon bimbingannya…..

    to Muscat :
    lha kalau pakai bahasa prokem kan sepedane kudu mtb atau apa pak…Huuuaaaaa…haaaaaaaa….

    wis ora sah nganggo pencerahan-2 barang to , gek ndang bali wae to pak…. engko rak cerah ceria……huuuuaaaaaaaaa…hhaaaaaaa….

  11. Erwin Erlangga :

    @ Andy :
    hai,long time no see. Syukurilah bahwa sekarang ini sang brother lagi demen onthel (kl di saudi demennya ONTHA), mestinya ente juga ikutan donk,ditanggung hidupmu bakal lebih bermakna&berwarna.

    @Max’s :
    jawa abis rek, ‘SUGENG’ sembaranganne lah pokoknya. Ban sudah berhasil dikilaukan ??

  12. wahahahahahahahaha…nek iki aku ngekek tenan dab pas mangan awan…sampek koncoku bule2 podo noleh kabeh…..what’s going on??? jare…hee,,,….tolong kasih tahu ama juragan ya…..bentar lagi ” Si HUMMER” ku siap di cengklak….dudu HUMBER lho…he eh ehe he he eh

  13. Erwin Erlangga

    Wayahe ganti oli nampaknya.

  14. wah foto2nya apik tenan iki ,sampai2 salah satu foto di candi ngambilnya sampai ndelosor turu neng lemah he..3x. yah walaupun ngepitnya agak capek kita selalu ceria kok. untuk mas Muscat gek ndang mulih biar bs bergabung ngonthel lagi,ning ojo lali nggowo unta eh maksudku…KURMA Arab Daaab

  15. @ ass.-mas Potorono
    saya jadi meri, kok njenengan sedoyo dikasih tempat yang kaya gitu..duhh..candi abad 8, plaosan, prambanan…oksotisss pollll, bisa jadi turis setiap hari, saya ingat ada ahli duwung,Alm pak Harsrinuksmo di Manisrenggo. Njenengan sedoyo gak akan pernah kekurangan background..lha tempatnya kaya gitu….kok apik eram…salam hormat saya.

  16. BACKGROUND CANDI ABAD 8………..SAYA GAK BISA NGOMONG APA-APA!!!!!!!!!!!

    CANDISARI…….PHOTO NO.2 BAGUSSS !
    Sering2 main kesana pak, lha saya mesti ngabisin fulus berapa untuk lihat Candisari itu, dket sama Prambanan Mas Wong, Mas Erwin?

  17. onthelpotorono

    Jogja kan ke mana-mana deket, Mas. Dari sisi jarak maupun waktu. Matahari pun di sini beredar lebih lambat 🙂

  18. Erwin Erlangga

    Mas Branjangkawat,
    soal habis fulus berapa itu relatif, tapi kenikmatannya itu yang alternatif (loh ??) Monggo mas datang aja kesini kl pas weekend, ga usah bawa pit,pake onthel kita aja disini. Insya Allah anda akan merasakan sensasi yang berbeda.
    To: OPOTERS
    kalau pas ada tamu mau ngikut ngonthel, ojo podo dadi “BANGSAWAN” ye !!
    (nyemoni awake dw,yo ra po-opo he3x.)

  19. Pak Erwin,

    maturnembah nuwun tawarane, biar gak Bangsawan, jejeran semar, kondur mawon…alahh..ngerjani sing liyo maneh..hi..hi..ora turu sampe esok

  20. onthelpotorono

    Jadi inget waktu sekolah, kalo nonton film horror erotis lokal, begitu tokoh Pak Haji keluar, penonton di belakang berdiri semua. Katanya: “Wis, bali. Bali! Pak Haji wis metu!”

    Dan, mak gruduuuug… serombongan besar pada keluar, karena adegan berikutnya adalah tinggal adegan insyaf-insyafan. Jiaaan… nakale ora ilok! Mudah-mudahan sekarang pada insyaf beneran😀

  21. ono wae mas Wong iki…ah dadi isin aku….masio ngene isih tedas mangan ijo-ijoan hi..i.i tapi sak pulu’an wis nggloso sampe isuk. Semaput lan klenger.

  22. Jadi inget kalau liat 3GP lokal ,kalau udah langsung aja shutdown,pet..pet..pet (mateni lampu2) krek..krek…kleg (kunci pintu2) trus damai ahhhhh…
    Ini Intermezo aja loh sodare2. Dan bukan pengalaman pribadi, tapi pengalaman orang lain.😀

  23. Wheeee lha dalah…. om erwin ki, malah wis mraktek-ake to……makan-e dadi kaum “Bangsawan” (bongso tangi awan)… mbok digawe ojo terlalu damai-damai banget ach… ben iso tangi esuk…he..he..

  24. wah do neng prambanan ra crito crito to nak, ngertio tak kon mampir nanggonku……uhuk……3x. nyepeda sepanjang proliman emang enak apa lagi ada warung kecil di proliman yang jadi tempat ngumpulnya blantik dan penggemar sepeda…uhuk…3x

  25. Weee… Mbah Roko sehat? Matur nuwun sampun pinarak. Alangkah kayanya kami kalau Mbah Roko mau kasih pencerahan tentang apa pun di sini. Tapi jangan soal obat batuk nggih Mbah. Bakal pada gak percaya, wong batuknya Mbah Roko sendiri nggak sembuh-sembuh gitu lho. Haha… bercanda lho Mbah…🙂

  26. Ping-balik: Candi Sambisari: Keindahan yang (Pernah) Terpendam « Onthel Melintas Zaman

  27. mantaf benget..foto, alur cerita yang enak dibaca dan mudah dimengerti, salam kenal pak dari saya : jana- BOC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s