Mbah Ngatijo: Ilmu untuk Sesama.

Sebuah pepatah Jawa menggambarkan betapa pentingnya ilmu/pengetahuan sebagai sesuatu yang “digembol ora mrongkol, dibuwak ora kemrosak” (ditaruh saku tidak kentara, dibuang pun tidak berbunyi). Kalimat itu menggambarkan bahwa kekayaan berupa ilmu itu lebih kekal daripada harta benda, karena ilmu tak akan bisa dirampok atau direbut. Tidak seperti harta benda, ilmu secara fisik juga susah dikenali sehingga membedakan si kaya dari si miskin tentu lebih mudah daripada membedakan seorang yang banyak ilmu atau tidak. Ilmu juga sangat praktis sehingga transfer ilmu bisa saja terjadi tanpa menarik perhatian.

Sesungguhnya, sebuah ilmu baru akan berguna jika diamalkan sehingga mampu mendatangkan manfaat bagi banyak orang. Begitulah yang diyakini oleh Mbah Ngatijo, seorang pemilik bengkel sepeda onthel yang dikenal luas oleh para onthelist Jogja.

mbah-ngatijo1

Bengkel onthel Mbah Ngatijo di Onggobayan, Jalan Wates, Jogja, sangatlah mudah dikenali, karena selalu ramai oleh pelanggan. Tak hanya orang tua, para pemuda pun akan betah berlama-lama di sana. Entah hanya melihat-lihat, membetulkan bagian sepedanya yang rusak, atau bahkan berkonsultasi tentang sepeda yang baru didapatnya. Dengan tangan terbuka Mbah Ngatijo selalu siap membagikan ilmunya.

Ilmu serta wawasan peronthelan yang dimiliki Mbah Ngatijo merupakan akumulasi dari pengalamannya selama berpuluh tahun menggeluti sepeda onthel. Mbah Ngatijo yang terlahir di Klangon, Sedayu, adalah anak keempat dari 6 bersaudara. Dalam keluarga Mbah Ngatijo, ilmu mengenai sepeda onthel ini mulanya dibawa oleh kakak iparnya yang memiliki usaha toko dan bengkel sepeda. Usaha ini memberikan inspirasi bagi almarhum Pak Sadiyo, kakak Mbah Ngatijo nomor dua yang memang memiliki bakat luar biasa dalam hal-hal yang berbau kreativitas. Justru usaha bengkel Pak Sadiyo inilah yang kemudian menjadi besar pada masanya. Rupanya, Mbah Ngatijo kecil yang saat itu mulai beranjak remaja pun memiliki ketertarikan besar terhadap dunia peronthelan ini sehingga ia pun bergabung dengan kakaknya.

Setelah bertahun-tahun belajar menangani segala permasalahan sepeda onthel di bawah arahan kakaknya, pemuda Ngatijo berniat membuka bengkel sendiri. Awalnya, Sang kakak tentu saja sangat berkeberatan. Akan tetapi, pemuda Ngatijo telah mengeraskan tekadnya. Maka, berdirilah cikal bakal bengkel Mbah Ngatijo di Onggobayan (jalan Wates), tetapi saat itu posisinya masih di utara jalan.

Mbah-Ngatijo-front2

Dari kakaknya, Mbah Ngatijo hanya dibekali satu kalimat: jujurlah melayani pelanggan! Sedangkan dari orang tuanya, Mbah Ngatijo dibekali doa restu disertai sebuah prasyarat unik: pada hari pertama membuka bengkelnya, Mbah Ngatijo harus mengitari wilayah teritorial tempatnya bekerja. Maka, dengan sepeda pinjaman dari kakaknya, ia pun bersepeda dari Sedayu-Godean-Tugu-Kamar bolah (begitu orang dahulu menyebut Malioboro), dan baru menuju bengkel barunya.

Belakangan, Mbah Ngatijo pun mengakui kearifan nilai dari ‘laku’ yang diwajibkan oleh orang tuanya ini, yaitu bahwa jika membuka usaha di suatu tempat, maka hendaknya terlebih dahulu mengenal dengan baik lingkungan tempat kita membuka usaha.

Baru setahun membuka usaha, dengan bekal ketekunan dan kejujuran, bengkel Mbah Ngatijo segera memiliki banyak pelanggan hingga sekarang. Di Onggobayan itu pulalah Mbah Ngatijo mengenal seorang gadis yang kemudian dipinangnya dan setia menemani hingga hari tuanya.

Untuk alasan praktis, bengkel Mbah Ngatijo kemudian dipindah ke rumah istrinya yang kebetulan tepat berada di pinggir jalan, yaitu di bengkel Mbah Ngatijo sekarang ini.

Dari ketekunannya menangani sepeda onthel, Mbah Ngatijo mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus. Dua anak perempuannya disekolahkan hingga perguruan tinggi, sementara dua anak lelakinya, Margi dan Supri, bersikeras hanya mau sekolah sampai SMA dan STM agar bisa membantu ayahnya bekerja di bengkel. Dengan dibantu kedua anaknya ini, bisnis bengkel sepeda Mbah Ngatijo mampu bertahan dan berkembang semakin ramai.

mbah-ngatijo-2

Kembali maraknya sepeda onthel membuat nama Mbah Ngatijo semakin dikenal hingga ke lingkup nasional. Apalagi bengkel Mbah Ngatijo saat ini dijadikan sekretariat Podjok, salah satu paguyuban onthel yang ada di Yogyakarta.

Dengan pengenalan karakter atas setiap merek sepeda, bengkel Mbah Ngatijo mampu merestorasi sepeda onthel yang sudah sangat jelek sekalipun, menjadi seolah baru kembali. Jasa restorasi ini banyak sekali diminati penggemar onthel. Beberapa sepeda di komunitas Opoto (Onthel Potorono) juga merupakan hasil restorasi Mbah Ngatijo.

Restorasi yang diminta pelanggan biasanya meliputi proses perbaikan, melengkapi sparepart (bilamana perlu harus dikrom ulang), serta mengecat. Di samping mengembalikan kondisi sepeda seperti saat baru –lengkap dengan stiker serta lis-nya– bengkel Mbah Ngatijo juga bisa mengecat dengan kesan “setengah pakai”, yaitu catnya dibuat aus sehingga cat dasar/meninya kelihatan.

Hal lain yang disuka para pelanggan bengkel Mbah Ngatijo adalah, Mbah Ngatijo selalu moderat dalam menetapkan harga sepeda yang dibeli maupun dijualnya kembali. Mbah Ngatijo pantang menjual sepeda jauh di atas harga pasaran yang sebenarnya. Ia akan mengatakan kelebihan dan kekurangan sepeda yang dijualnya apa adanya dan memasang harga yang sepantasnya. Baginya, pantang menjadi pintar jika hanya untuk mengakali orang lain. Yen pinter, aja kanggo minteri liyan.

Dengan pandangannya itulah, selama tidak sedang sibuk bekerja, Mbah Ngatijo akan menjawab pertanyaan-pertanyaan pelanggan yang kadang bukan selalu mau membeli, melainkan hanya didorong keingintahuan tentang karakteristik sebuah merek sepeda. Tetapi, Mbah Ngatijo sangat enggan mengomentari sepeda milik orang lain, terlebih saat ditemui di pasar sepeda atau di bengkel/kios sepeda orang lain. Ia tidak ingin jika pendapatnya tentang sepeda tersebut –meskipun disampaikannya apa adanya– akan menyinggung perasaan orang lain. Ia akan memilih diam!

Popularitas Mbah Ngatijo di lingkungan onthelist seringkali bahkan membuatnya jengah. “Saya selalu merasa bahwa banyak orang lain di luar sana jauh lebih mumpuni, lebih tahu banyak tentang sepeda daripada saya,” katanya setiap kali disinggung tentang kepakarannya. Akan tetapi, lagi-lagi ia kembali berkeyakinan bahwa sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan sehingga memberikan manfaat, kemudahan, dan kesenangan bagi orang banyak.

Bukankah sudah banyak onthelist yang mendapatkan kemudahan dan kesenangan berkat jasa dan layanan serta wawasan dari Mbah Ngatijo? Semoga itu cukup berarti.

(wongeres).

34 responses to “Mbah Ngatijo: Ilmu untuk Sesama.

  1. mbaca tulisan-tulisan mas wongeres di blog ini, serasa lagi nangkring di gubug di ndhadhah (tepian sawah yg mepet kampung) yang dinaungi wit trembesi gede, sambil sesekali mlencung (menyambit dengan sebatang bambu pucukan spanjang 1 meteran dengan ujung terbelah untuk menjumput sekepal tanah lempung sawah) burung-burung emprit dengan gumpalan tanah liat. bukan untuk membunuh emprit, sekadar mengingatkan agar jangan terlalu banyak makan padi..
    tentrem, harmoni, tahu diri. bener komentar salah temen di blog ini: blog ini bisa bikin ketagihan..

  2. Erwin OPOTO Berkata

    Mbah Tris, Mbah Ngatijo, abis ini Mbah mana lagi hayo …?

  3. onthelpotorono

    @luruzing z
    Semula niatan kami adalah sekedar menampilkan onthel sebagai primadona. Tapi, dalam prakteknya, kok banyak saya temui nilai-nilai kearifan yang begitu menonjol dari para pencinta sepeda onthel ini sehingga mendorong saya untuk men-share juga. Semoga masih ada kaitannya.

  4. Beware OF OPOTO’s Blog Virus… :]
    Bagaikan Candu bikin nagih…

  5. onthelpotorono

    @Erwin
    Moga-moga bisa kita tampilkan para pakar serta penggiat onthel lainnya. Kemarin mau ke Mbah Wir Prambanan, tapi Mbah Wir sedang dirawat di RSI karena radang tenggorokan akut. Semoga Mbah Wir lekas sembuh.

  6. Mbah Ngatijo memang baik loh…waktu mampir ke bengkelnya malah diajarin bedain boncengan propeller yang ori dan yang ga ori, sayang ga bisa lama…..nanti kalo dinas ke jogja lagi deh….

  7. halo wongeres…ini ada usulan,gimana kalo spare partnya humber yang bisa bunyi cik..cik..cik..beberapa bagian kita buat di mesin bubut…ini biar ga mrucat..mrucut terus. sebab seiring berjalannya waktu, gear yang bagian dalam bisa aus juga. mohon tanggapannya.Salam OPOTERS….

  8. @adit KOTA
    Begitulah Mbah Ngatijo yang kami kenal…

    @muscat
    biasanya, part yang aus memang bisa kita las trus dibubut lagi. Tapi sifatnya hanya sementara, karena tingkat kekerasan materialnya nggak sekuat aslinya. Kalau bisa bikin semuanya sekalian, tentu saya pun mau nitip juga. Hahaha…

    • mungkin juga tingkat kekerasanya beda….
      apalagi kalo sepeda tua itu besinya dipegang rasane anyep…mak nyessssssssssss……….he he he

      • onthelpotorono

        Hahaha… iya, harusnya itu ditulis ya. Menurut Mbah Tris, membedakan sepeda lama dari yang buatan baru itu, kalau dipegang besinya terasa anyep ning ati (sejuk/adem di hati). Gubrak!😀

  9. maaf kalo gak salah di dekat opoters kan byk ter-onggok besi tua bekas mobil2 tua yg udah pensiun.
    saya jamin ada beberapa komponen yg bisa olah (dibubut).

  10. bagusmajenun

    Kalau Mbah Santosa pasti kutunggu ceritanya. Ada lagi Mbah Man di Kepek, Timbulharjo Sewon. Dia juga oke pengetahuan dan kisah hidupnya untuk sepeda lawasan. Salam kenal Pak Moderator

    • onthelpotorono

      Salam kenal juga Pak (?) Bagus (tanpa majenun ah :-)) Iya, kami senang kalau bisa memperluas wawasan, kenal dengan para pemerhati dan perawat onthel.

  11. Ping-balik: Batavus 24: Kesederhanaan Si Kumbang Jantan « Onthel Melintas Zaman

  12. ha….. skrg spd sdh si tangan kan mas

  13. hehehehe……

  14. tempatnya dmn to?=)

    • Mas Dhani sudah sampai Onggobayan (jalan Wates) belum? Bengkel Mbah Ngatijo ada di seberang bengkel Yamaha. Eh, salah ding. Justru bengkel Yamaha itu yang letaknya ada di seberang bengkel Mbah Ngatijo😀

  15. Wah blm maz..
    Bsok mgkn abiz kuliah..
    Sya bk blog njenengan kq jd pgn tw n pny onthel y mz?he2
    mkany pgn maen k t4 mbah ngatidjo..

    Btw klo kumpul dmn maz,saya rmhny dprambanan..

  16. Wah, lha. Punya onthel itu perlu itu Mas Dhani. Buat mengasah onthelpreunership, misalnya🙂

    Kami biasa kumpul di puri potorono asri, jalan wonosari km 8,2.

  17. hahag betul mas..
    tp belum kesampean..
    oia mas saya udah tw daerah potorono,,barusan lewat..he3

    • Lha yang dicari Mas Dhani kelas kolektor kali ya… Tapi bisa dimulai dari bell-nya dulu. Repotnya kalau bellnya dilas ke stang ya berarti harus mulai dari bell dan stang sekaligus.

      Itulah masalahnya. Bagi orang Jowinangun maupun Piyungan, Potorono itu sering dibilang “kelewatan”😀

      • Hahag btl mz kl gt taknyicil stang dl x y..he2
        knp g banny dl aj?:)
        gkq maz biasa aj,yg ptg enak dlhat n nyman dnaeki..kyk istri..he2

        mxude klwatn gmn maz?

      • onthelpotorono

        Ya memang kelewatan aja Mas, gak mampir, karena bukan tujuan🙂

  18. fongers Holl H hitam kesayangan akan selalu mengingatkan kabaikan mas margi dan mbah ngatijo, semoga mereka selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.Amin.

  19. itu yang telah lama tak idam-idamkan, ngonthel dengan teman-teman opoto, kesempatan belum ada juga, semoga lain waktu bisa tercapai. semoga.

  20. Ping-balik: Gazelle X-Frame ‘seri-10′: Keindahan yang Tak Biasa | Onthel Melintas Zaman

  21. moga-moga mbah ngatijo sehat selalu……………..

  22. I LikE mBaH nGAtiJo………….. piNteR nDAndAnI pIeTT……………..

  23. Ping-balik: Ontel Menyatukan Banyak Perbedaan: Ketika Jos Rietveld Ngonthel Bersama Opoto | Onthel Melintas Zaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s