Mbah Tris: Tekad dan Kebersahajaan

Biasanya ada dua reaksi atas kesulitan hidup yang menimpa: menyerah, pasrah dan putus asa, atau memberontak, melawan dengan usaha keras untuk memperbaiki keadaan. Mbah Tris, pemilik bengkel dan penjual sepeda onthel di kampung kami, memilih kemungkinan kedua.

mbah-tris-011

Sejak kecil, Mbah Tris terbiasa hidup susah. Artinya, jangankan hidup berkelimpahan. Hidup pas-pasan pun susah dijangkau, karena pada masa itu kehidupan rakyat Indonesia memang jauh dari layak.

Sebagai remaja baru tumbuh, banyak keinginan dan keingintahuan berkecamuk di benak Amin, nama Mbah Tris semasa kecil. Salah satunya adalah rasa penasarannya atas sepeda onthel, sarana transportasi mewah untuk saat itu. Amin kecil memperhatikan bahwa saat itu sangat jarang –kalau tidak mau dikatakan tidak ada– bengkel sepeda, karena sepeda onthel pun masih sangat jarang, mengingat harganya yang mahal. Sepeda-sepeda itu, biarpun rantainya menyentuh ketengkas sehingga menimbulkan bunyi gesekan, tak pernah dihiraukan, karena peralatan semacam obeng pun susah ditemukan. Itu sebabnya, saat ini kadang ditemui sepeda onthel lama dengan ketengkas yang bolong, atau tangkai pedal yang aus.

Kasus-kasus semacam itu semakin mengobarkan rasa penasaran Mbah Tris kecil. Tak ada tempat bertanya sehingga satu-satunya jalan yang diinginkannya saat itu adalah membongkar sendiri sebuah sepeda, mempelajari bagaimana mekanisme sepeda itu bekerja sehingga jika ada kerusakan ia bisa memperbaikinya. Tetapi siapa yang mau sepedanya dibongkar-bongkar oleh remaja seperti dirinya?

Melalui perjuangan keras dan kesabaran bertahun-tahun, Mbah Tris kecil akhirnya kesampaian bisa membeli sebuah sepeda buatan Jerman bermerek Güricke. Meskipun sepeda bekas, tetapi sepeda ini masih berfungsi dengan baik. Maka, melalui sepeda inilah Mbah Tris kecil pertama kali menumpahkan segenap rasa penasarannya selama ini. Ia jadikan sepeda itu sebagai ajang eksperimen, mulai dari yang paling sederhana hingga yang rumit sehingga pemuda Amin mampu mengenali cara kerja bagian demi bagian terkecil dari sepeda itu. Jadilah Amin alias Mbah Tris kecil seorang ahli sepeda secara otodidak pada zamannya.

Rupanya rasa penasaran yang menggelora di dalam dadanya itu adalah sebuah kekuatan yang kemudian menuntunnya menemukan bekal dalam menjalani seluruh waktu hidupnya. Terbukti Mbah Tris mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, ayah, bahkan kini cucu dengan profesinya sebagai bengkel serta penjual sepeda onthel.

Gambaran akan betapa sayangnya ia kepada sepeda onthel akan didapatkan begitu orang mengunjungi bengkel sekaligus rumahnya yang dipenuhi sepeda. Sepeda yang sudah dirakit dipisahkan di sebuah bangunan tersendiri, sedangkan sepeda yang sejak saat dibeli belum sempat tersentuh tangan akan ditumpuk di bangunan yang lain. Mbah Tris sendiri hanya menyisakan sedikit tempat untuk ia merebahkan badan di sela-sela sepeda onthelnya.

mbah-tris-033

Bekerja sendirian, karena anaknya tidak tertarik menekuni sepeda onthel, tidak membuat Mbah Tris kesepian. Setiap hari, sejak jam setengah delapan pagi hingga menjelang senja, tamunya akan berdatangan dari segenap penjuru. Berapa pun tamu yang datang, oleh Mbah Tris akan dijamu teh tubruk yang khas dengan gula batu serta cemilan seadanya. “Saya pernah mengalami zaman yang amat susah. Susah pangan, susah sandang. Jadi, saat ini saya sudah sangat bersyukur”. Dan rasa syukur itu dibaginya kepada para tamu yang datang ke rumahnya. Tak terkecuali kepada komunitas Opoto setiap kali kami datang beramai-ramai mampir ke rumahnya. Makanan dan minum ala kadarnya akan disediakannya. Sebagai balasannya, tak jarang beberapa tamunya juga datang membawa makanan, buah-buahan, bahkan jamu, atau apa saja sebagai oleh-oleh. Mbah Tris dan istrinya menerimanya dengan tangan terbuka.

Karena banyaknya tamu yang datang melihat sepeda, maka jika menaruh minat terhadap sepeda di Bengkel Mbah Tris ini, sebaiknya segera dibayar, atau setidaknya diberi uang panjar (down payment). Masalahnya, jika tanpa ikatan pasti, Mbah Tris akan kewalahan menjawab tamu lain yang juga ingin menawar sepedanya. Meskipun hanya dengan uang panjar 100-200 ribu rupiah, Mbah Tris akan punya bukti bahwa sepedanya itu sudah laku. Dengan demikian, meskipun peminat yang datang kemudian nanti akan memaksa dengan iming-iming berapa pun, Mbah Tris tidak akan menyerahkannya.

mbah-tris-02

Di balik kebersahajaannya, tekad dan semangat yang keras sesekali masih tampak dari cara bicaranya. Tempaan kerja keras itulah yang membuat badannya yang jarang berbalut baju atau kaos itu masih kelihatan kencang berotot meskipun usianya sudah di atas 70 tahun.

Di samping mengurus puluhan sepeda onthel, Mbah Tris juga memelihara burung puter, tekukur, dan perkutut sebagai sampingan. Kadang ada saja tamunya yang selain peminat sepeda onthel juga penggemar burung sehingga sambil membeli sepeda onthel juga membawa pulang burung klangenan. Sepeda onthel dan burung klangenan itulah yang mengisi kehidupannya saat ini, sebuah kehidupan yang tenang dan bersahaja.

(wongeres).

18 responses to “Mbah Tris: Tekad dan Kebersahajaan

  1. boleh tanya alamat mbah tris
    terimakasih

  2. onthelpotorono

    Salam kenal, Bpk/Mas Agung.
    Mbah Tris tinggal bertetangga desa dengan kami di Banguntapan, Bantul. Desanya Jambidan. Boleh tahu Anda tinggal di mana?

  3. Kapan-kapan saya mau sowan ke Mbah Tris, siapa tahu ketemu sama rekan-rekan OPOTO ….he..he..

    Salam.-

  4. onthelpotorono

    Silahkan Ki Demang. Atau dibalik, ke Potorono dulu, lalu ngonthel ke tempat Mbah Tris. Hehehe…

  5. Karo nggone mas marsudiyono ngendine dab..

  6. Kalau Boleh Tahu tempat Mbah Tris dengan perempatan Buk Dhuwur Jl Banguntapan-Pleret ke selatan berapa ratus meter atau dari balai desa Jambidan sebelah mana. Terimakasih

    • onthelpotorono

      Mas Bagus Kurniawan, paling mudah kalau dari jembatan besar Jambidan (sungai opak?) ke barat sedikit, ada pertigaan. Tanya saja bengkel Mbah Tris (depan swalayan Raihan).

  7. Rozee "WOC" pasuruan

    Assalamualaikum..

    Salam onthel…..

    Hehehehe saya datang lagi mas…. tadinya hanya sekedar baca2 tentang profil MBAH TRIS terus saya jadi tertarik nih mas… soalnya di tempat saya ada seseorang yang mirip bgt dengan beliau… Namanya MBAH WARNO… beliau juga “masternya” Sepeda ontel seperti halnya MBAH TRIS…. hampir semua ontelis di daerah saya tau tentang beliau. Mungkin orang seperti beliau berdua sudah jarang… orang yang tidak pernah mau meninggalkan sejarah meskipun sekarang sudah jamanya speda motor tapi beliau berdua masih setia dengan sepeda onthel tua yang penuh dengan sejarah….

    oh iya mas kalo mau berbagi/ngobrol2 dengan mas-mas OPOTO di halaman mana ?? apa di halaman “berbagi” itu mas ? soalnya aku masih bingung nih… hehehehe.

    Salam..

  8. Wa alaikum salam. Salam onthel juga dari kami.

    Cak Rozee, pakar sepeda mungkin bukan hanya mereka. Dahulu ada banyak ahli mereparasi sepeda onthel. Hanya saja, ketika sepeda onthel mulai ditinggalkan seiring menjamurnya sepeda motor, maka sebagian (besar) dari mereka terpaksa berpindah profesi, bengkel dan peralatan terlanjur dijual. Sekarang, saat sepeda onthel marak lagi, para pakar yang tetap bertahan di jalurnya inilah yang lalu merasakan berkahnya.

    Blog ini terbuka untuk diskusi (ya di kolom komentar ini saja) ngalor-ngidul yang ada relevansinya dengan onthel lengkap dengan latar belakang sosial-historis, kultur, perkembangan bisnis dan apa saja yang kita saksikan selama perjalanan ngonthel. Kami akan senang ngobrol panjang lebar agar kegiatan ngonthel ini bisa benar-benar barokah, merawat kebugaran, menambah teman dan wawasan.

  9. wah,,boleh juga ini sebagai referensi.. kemarin saya baru beli sepeda onthel.. impian saya sejak zaman kuliah dulu..tapi kondisinya masih kurang bagus..di tempat Mbah Tris bisa service juga kan? atau kalau pas di sana nemu yang bagus dan enak dipakai ya tukar tambah hehe..
    oiya, saya eko, sekarang domisili jakarta, tapi tiap 2-3 minggu sekali pulang ke jogja, ke daerah moyudan..

    • Salam kenal, Mas Eko. Kok njanur gunung… eh, nggak ding. Hehe… Selamat sudah mendapatkan sepeda baru. Ikut anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) kah? 🙂

      • Betul sekali Pak, kok tau saya member tetap PJKA? hehe..
        Saya kemarin belinya asal beli aja (gak liat merknya atau yang lain-lainnya), karena udah pengin daru sejak kuliah dulu.. pas udah beli baru baca2 blog ini, dan baru tau juga kalau sepeda saya Simplex..tapi masih belum tau yang jenis apa..

  10. Rmhny mbah wir tu dmn?
    Dr kids fun?

    • wongeres OPOTO

      Mas Dhani, Mbah Wir sudah tiada. Sekarang diteruskan putranya, namanya Pak Kelik. Bengkel/showroomnya masih di dekat pasar Prambanan, dekat rel KA.

  11. Ping-balik: Gazelle X-Frame ‘seri-10′: Keindahan yang Tak Biasa | Onthel Melintas Zaman

  12. Galih Fongers KONCI-C

    jadi pengen main ke rumah mbah tris…..!!! tapi salam za

  13. Mas Janur Gunung, eh Mas Eko, selamat ya atas Simplexnya, kalau tahu a member of PJKA, bolehkah aku nitip Fongers Torpedo, atau yang ada aja asal Fongers, nanti ngonthel bareng di Jakarta, kabari aku di 08179180218

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s