Sepeda Onthel dan Karakter Zaman

onthel-melintasSuatu hari, saya ditawari dua buah sepeda onthel. Satu bermerek Fongers, dan satu lagi Teha. Karena saya hanya perlu satu sepeda, saya bermaksud membeli sepeda Fongersnya saja, sementara satunya lagi saya tawarkan kepada seorang tetangga yang juga ingin membeli sepeda. Setelah tahu harganya, tetangga saya meminta tolong membawakan sekalian sepeda Teha tersebut untuknya. Artinya, tetangga tadi membeli sepeda tanpa melihatnya terlebih dahulu selain hanya mengandalkan kepercayaan atas cerita saya. Ketika saya tampak ragu dengan keputusannya itu, tetangga saya pun memberikan alasan singkat yang memantapkan hati saya. Katanya, semasa SD dulu setiap pagi ia berebut dengan teman-temannya untuk memarkir sepeda gurunya. Sepeda itu bermerek Teha.

Teman saya yang lain, seorang dokter, mencari-cari sepeda merek The Mister lengkap dengan sadel per telur dan boncengannya yang lebar. Konon, ibundanya dahulu –yang juga seorang dokter—pernah memiliki sepeda seperti itu.

Sementara teman saya yang lain lagi, seorang fotografer, ingin mencari sepeda Fongers PFG, sepeda yang samar-samar berada dalam ingatannya karena pernah hadir di tengah keluarga semasa kecilnya. Demikian pula dengan teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan farmasi, ia begitu penasaran melihat kembali sepeda onthel merek Hercules yang katanya dahulu pernah dimiliki keluarganya.

Daftar korelasi antara keinginan memiliki sepeda onthel dengan pengalaman masa lalu ini masih bisa diperpanjang lagi. Tetapi, secara umum sudah dapat disimpulkan bahwa saat ini romantisme bersama sepeda onthel di masa lalu merupakan salah satu motivasi yang kuat bagi seseorang untuk membelinya.

Keberadaan sepeda onthel sebagai sarana transportasi penting di masa lalu memang telah menciptakan banyak kisah. Selain meninggalkan momentum dan kenangan yang berkaitan dengan kehadirannya, mungkinkah sepeda onthel juga ikut membentuk karakter generasi di masa itu?

Jika diperhatikan, posisi sadel, stang, dan kayuhan sepeda onthel sudah didesain untuk kecepatan tertentu, kecepatan amat terbatas yang justu diyakini sebagai kecepatan ideal bagi pengendaranya untuk “merekam” kehidupan sepanjang perjalanan yang dilaluinya. Sepeda onthel adalah kendaraan yang dipakai saat manusia dahulu masih bisa menghayati irama kehidupan. Kecepatannya yang tidak secepat sepeda motor itu masih memungkinkan bagi pengendaranya untuk saling bertegur sapa, misalnya saat berpapasan atau saat melintasinya. Oleh karena itu, dahulu bel sepeda yang dipakai biasanya adalah bel yang frekuensinya lebar: cukup keras terdengar, tetapi ramah, tidak menyakitkan telinga. Berbeda dengan bel produk saat ini yang nyaring melengking menusuk telinga. Dahulu bel dipakai orang untuk menyapa dan meminta perhatian. Sekarang, bel atau klakson cenderung sebagai ungkapan kemarahan dan kekesalan.

Dengan keterbatasan kecepatannya itu, sepeda onthel tidak sampai membuat orang memaksa diri (Jawa: nyengko). Orang cuma harus menjaga tegangan antara: cukup santai untuk membuat nyaman, dan cukup cepat untuk bisa mengantar ke tempat yang diinginkan. Orang tidak perlu mengorbankan salah satu dari keduanya.

Sepeda onthel juga senantiasa mengingatkan generasi dahulu akan keseimbangan arti tanjakan dan turunan, antara berkah dan cobaan, antara saat santai dan saat bekerja lebih keras. Kesadaran ini mengajari orang bersyukur di saat diberi kemudahan, dan bersabar di masa-masa sulit. Pada tanjakan terjal kadang orang harus turun dari sepeda, giliran pengendara yang harus mendorong sepedanya. Keakraban hubungan manusia dengan sepedanya sebagai sarana yang memudahkan pencapaian tujuannya akan menumbuhkan kepekaan terhadap semua yang dimiliki, yang pada saatnya juga mengasah kepekaan terhadap sesama. Siapa tahu?

(wongeres).

27 responses to “Sepeda Onthel dan Karakter Zaman

  1. he..he..
    akhirnya dibikin juga weblog ini.
    dikasih links pak, biar fungsi weblog ini lebih optimal yakni sebagai simpul penghubung dari berbagai orang yang berminat pada sepeda onthel.
    salam hangat!

  2. onthelpotorono

    Sayangnya salah satu personil Opoto malah kabur ke Jepang. Tetaplah terkoneksi, bro! Sepeda Hunter boleh diupload ya. Hehe… Kapan pulang nanti Pak Anto bawa saja sepeda Jepang yang bisa dilipat, buat menambah kekayaan koleksi Opoto.
    Salam!

  3. Wah menarik juga untuk ukuran pemula hehhe
    Hari minggu aku jangan ditinggal lagi ya?

  4. onthelpotorono

    Memang pemula. Ya ngonthelnya, ya ngeblognya. Hehe… ini masih terus dicoba bongkar-pasang. Minggu ada undangan “touring Jogja-Klaten” dari teman-teman Podjok lho. Pada mau gabung nggak?

  5. jaman saya kecil dulu, almarhum bapak memakai sepeda “tentara” yang biasa dipake untuk patroli, dan saya mboncengnya di galangan.. bukan di belakang…. dan ada bunyi yang khas bila bapak saya datang…. kleng— klengg … klengg… remnya gak ada hanya ditarik pedalnya kebelakang….
    aku memaren pulang tapi tak cari sudah ngilang… gak terlihat batangnya lagi…. sedih aku …. tapi aku tetep berusaha nyari sepeda itu….

  6. onthelpotorono

    Berarti pakai rem torpedo ya. Kalau di Potorono, ada sepeda dengan tulisan ‘Polisi’ di batangan besinya.

  7. wah wah wah….selamat telah tayang. gudlak deh ,
    hemmmm berkarya terus …..yukkkk gairahkan jogja kita.

  8. onthelpotorono

    Halah Kang WC masih kampanye juga. Nomor jadi ya? Haha… tq kunjungannya.

  9. blog onthel yang sungguh mengharukan…tapi buat nambah semangat!

  10. onthelpotorono

    Selamat datang di gubug kami, Kang Sekjen. Semoga tak cuma larut dalam keharuan masa lalu, sebaliknya kita bisa berkontribusi bagi lingkungan ya. Meski berangkat dari lingkungan kecil kami…

  11. wah jadi semangat nich, untuk ambil sepeda…
    kl sepeda udah tak ambil, boleh gabung to pak?
    selamat dan sukses buat komunitas OPOTO.

    • onthelpotorono

      Dur… eh, Simplex keramat itu ya? Ayo, kendarai saja dari rumah, kami menjemput rame-rame di Prambanan atau Gondang. OK? Sekalian mampir nengokin Mbah Wir.

  12. waaahhh tambah oke saja penampilan blog onthelnya mas….gambarnya bagus-bagus dan teksnya renyah bangetz….salam jogja mania…

    • onthelpotorono

      Tq sudah berkunjung Mas. Butuh banyak masukan agar blog ini bisa lebih diterima secara luas….

  13. kalo sepeda jengki boleh masuk blog ini ga juragan….he he he…

    • onthelpotorono

      Di adegan ketoprak itu, kalo tokohnya mati di ujung keris bertuah kan keren, daripada cuma dicekik. Bersepeda juga kalo pake onthel klasik nan langka kan lebih afdol. Hahahaha… (ini tadi udah jawab pertanyaannya belum ya?)

  14. Erwin OPOTO BerUjar :

    @ Mr.MAXAGUNG

    segera direalisaikan saja rencana pengambilan pit nya pak, Insyaallah kami akan menjemput dengan senang hati. Welcome to OPOTO Commuity.
    Rasakan sensasinya, PLOOONG !!!

  15. Dengan keterbatasan kecepatannya itu, sepeda onthel tidak sampai membuat orang memaksa diri (Jawa: nyengko). Orang cuma harus menjaga tegangan antara: cukup santai untuk membuat nyaman, dan cukup cepat untuk bisa mengantar ke tempat yang diinginkan=> luar biasa,saya browsing untuk mencari cara agar sepeda onthel saya bisa tambah laju, maunya saya, groupset diganti punyae MTB (entah bisa,entah tidak) , tetapi tulisan ini malah menyadarkan saya, bahwa pendesain sepeda onthel memiliki filosofi tertentu dalam mewujudkan kreasinya. Jadi saya berfikir lebih baik kembalikan sepeda onthel sesuai peruntukkannya yaitu menikmati irama dan harmoni di sekitar kita.

    • onthelpotorono

      Iya, Pak Edy. Idealnya memang kita punya beberapa sepeda yang bisa kita pergunakan sesuai peruntukan/kebutuhannya. Tapi, kalau maunya menempuh jarak jauh secara cepat, bukannya sudah ada motor/mobil?🙂

  16. Barkah Apriyanto

    saya mau mencari lambang sepeda saya yang mermerk TEHA ………
    Mnta tlg kalo ada informasinya bisa sy dapatkan di mn ????????
    terima kasih banyak …………..

  17. Barkah Apriyanto

    no Tlp saya 08127107949 sy mnta tlg dng bpk dan mas2 untuk info lambang merk TEHA kl ada tlg info ke sy …….. terima aksih banyak …..

  18. Romantisme masa lalu sering membawa kita untuk dinikmati dimasa kini, meski suasana tidak akan sama tetapi makna dan filosofi yang terkadung didalamnya tetap akan menjadi anutan sampai kapan pun zaman berjalan. Filosofi keseimbangan hidup dalam mengayuh onthel adalah topik menarik dalam tulisan ini. Begitu pula fanatisme seseorang terhadap suatu merk akan terekam dalam memori untuk memiliki sesuatu barang karena berkaitan dengan brand image seseorang

    • wongeres OPOTO

      Benar, Mas. Biarlah kenangan itu tetap hijau dalam kebiruan usia. Tapi kehijauan juga bisa kita upayakan di kehidupan kita sekarang kok. Setidaknya bisa kita mulai dari lingkungan terkecil kita sendiri serupa kampung Potorono ini🙂

  19. UNDANGAN
    Dalam rangka hari Jadi KOTA BLITAR ke—109, Pemerintah Kota Blitar bekerjasama dengan KOSTI Blitar dan Piet Djadoel Blitar mengadakan TEMOE ONTHEL NASIONAL 2015.
    Event tersebut diadakan pada: Hari/tanggal : SABTU—MINGGU, 25—26 April 2015.
    Dengan agenda utama: Temoe Kangen Onthelis Nusantara & Relly Piet Onthel menyusuri tempat Wisata di KOTA BLITAR.
    Selain agenda tersebut juga ada: BURSA SEPEDA ; KLITHIKAN & BURSA BATU PERMATA/BATU AKIK.
    Maka Panitia mengundang PARA ONTHELIS SE NUSANTARA dan juga PARA KLITHIKAN se NUSANTARA.
    Untuk peserta relly disediakan hadiah Utama 2 (dua) unit Sepeda Motor, Sepeda Pancal dan masih banyak Door Prize. PESERTA TIDAK DIPUNGUT BIAYA alias GRATIS.
    Ayo buruan DAFTAR mulai sekarang. DAFTAR lewat SMS dengan ketik NAMA CLUB (spasi) ASAL KOTA (spasi) JUMLAH PESERTA. Ke 081233970309 atau ke 082233710007

  20. wongeres OPOTO

    Terima kasih atas undangan ini. Acara menarik, diperkaya bursa batu akik🙂 Silahkan teman semua untuk berkemas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s