berkilau di senjakala…
Apa yang terjadi ketika bintang pujaan yang dahulu begitu populer menjadi tua? Meskipun jawabnya tentu beragam, tetapi mungkin saja semua berangkat dari fakta yang seragam: terjadinya penurunan performa, fungsi, bahkan juga nilai. Benarkah menjadi tua berarti berakhirnya segala-galanya?
Pada beberapa bangsa, sikap terhadap warga senior mungkin juga berbeda-beda. Menjadi tua bisa berarti lamban dan harus menyingkir. Menjadi tua bisa juga berarti kaya akan pengalaman sehingga harus dihormati. Seorang teman yang menyelesaikan studi di Jepang sempat bercerita bahwa jika di Jogja orang menakar usia seseorang biasanya cukup dengan melihat penampilan fisik, di Jepang orang tidak sungkan menanyakan langsung usia yang bersangkutan. Informasi akan usia itu penting dalam adat mereka karena akan menentukan panggilan yang tepat bagi setiap orang, juga menentukan siapa yang akan dilayani lebih dulu. Usia seseorang ikut menentukan posisi sosial mereka.
sisa kejayaan masa lalu itu masih ada…
Ada hal menarik ketika yang menjadi tua itu hanyalah sebuah benda bernama sepeda onthel. Selama secara mekanik ia baik-baik saja, sepeda onthel tua –produk dari masa ketika sumber daya alam masih begitu melimpah– yang dibuat dari logam pilihan bisa jadi tak kalah kuat dari produk yang lebih muda. Maka, secara fungsional, selama ia tidak pernah mengalami trauma berat seperti tertabrak atau jatuh dari ketinggian, fisik sepeda onthel tua boleh dikatakan tidak mengalami penurunan berarti. Sementara secara penampilan, sepeda onthel yang terlihat tua justru memperlihatkan keantikannya sehingga semakin membubungkan nilainya dalam konteks barang koleksi.
Lihatlah sepeda Gazelle 60 “seri-1” (enam digit) ini. Entah bagaimana penampilannya dahulu saat baru keluar dari showroom. Yang jelas, kini yang tersisa darinya hanyalah penampilan sepeda tua yang tinggi-gagah dengan cat di sekujur tubuhnya telah rontok bersama berlalunya waktu.
logo Gazelle tua pada pipa depan, spatbor depan dan spatbor belakang
Sesekali masih tertangkap kilau glamournya saat sinar matahari jatuh tepat pada bagian-bagian yang terlapis vernikel sehingga menjadikan penampilan sepeda ini berbeda dari sepeda Gazelle yang umum ditemui. Vernikel itu membalut bagian ujung dan pangkal fork depan-belakang, juga pada knee berikut setiap ujung pipa frame yang tersambung padanya, termasuk pipa depan tempat desain logo Gazelle versi tua menempel selama lebih dari 90 tahun.
Gir depan versi tua dengan huruf bertuliskan GAZELLE terpasang pada braket berukuran besar dan dilindungi oleh ketengkas verlak yang kini hanya tinggal framenya. Di kedua ujung rotel terpasang pedal bertuliskan ‘made in Germany’. Spatbornya depan-belakang menggunakan penyangga berbentuk kawat (bukan plat yang digulung seperti pipa), dijepit oleh logo spatbor yang juga versi tua.
Logo kijang sebagai ikon Gazelle terpasang gagah pada ujung spatbor depan, meskipun mungkin saja logo itu dipasang kemudian. Ikon kijang juga terdapat pada belnya. Gambar kijang tsb bukan ditempel atau embossed, melainkan ditatahkan pada kubahnya yang berbahan kuningan.
sisa-sisa vernikel yang membalut knee dan bagian ujung pipa.
Rodanya depan-belakang menggunakan velg Lepper dengan hub/as roda Gazelle yang sudah tua. Karena menggunakan struktur rem karet, maka velg depan maupun belakang terlihat mulai aus di bagian tepi. Meskipun secara umum penampilannya terlihat sangat tua, tetapi sepeda ini masih sangat nyaman dikendarai.
Ketika Jos Rietveld, Otto Beajoun, Piet Muenster, dan Theo de Kogel (tokoh-tokoh de Oudefiets dari Belanda) berkunjung ke Potorono, sepeda ini sempat direview. Mereka mengatakan bahwa sepeda ini secara umum masih memperlihatkan sebagai sepeda Gazelle versi tua yang utuh dan sulit dijumpai, bahkan di Belanda tempat pabriknya berada.
Mereka hanya memperkirakan bahwa stang yang menempel pada sepeda ini barangkali lebih muda dari sepedanya. Dasar perkiraannya adalah, stang ini masih menyisakan adanya krom, bukan vernikel. Padahal, pada saat sepeda ini diproduksi, krom Belum dikenal.
Ujung spatbor, bel tua, dan pedal Germany
Senada dengan alur pemikiran tsb, maka lampu depan Radsonne serta dinamo Bosch besar (keduanya buatan Jerman) semestinya juga tidak menempel di sana. Teknologi dinamo saat itu belum ditemukan. Semestinya, yang lebih afdol adalah lampu karbit. Stoplamp belakang tentu saja sudah benar jika menggunakan kaca/reflektor tanpa bohlam. Sementara bagasi/ boncengan, jika mau mengembalikan penampilan orisinalnya sebaiknya juga dilepas karena saat itu belum umum memasang boncengan di sepeda.
Sehari-harinya kini, Gazelle “seri-1” yang gagah ini melewatkan masa tuanya di lingkungan kampung Potorono. Ia masih sanggup melaju, baik di jalanan aspal maupun jalan setapak, menurun maupun menanjak.
di usianya yang renta, ia masih memberikan kesenangan dan kebanggaan…
Ia mungkin tidak lagi sesempurna dahulu ketika kilau cat dan semua sparepart/aksesori orisinal masih menempel lengkap pada tubuhnya. Tetapi ia tetaplah berharga. Jika sulit menghargainya secara fisik, setidaknya “harga” itu telah menyatu dalam spirit yang terus menempel sepanjang keberadaannya. Sebab, betapa banyak manfaat, kemudahan, kesenangan, bahkan mungkin kehormatan dan kebanggaan yang telah ia berikan selama ia ada.
membilang waktu di pagi nan sendu…
Bukankah nilai tinggi tak selalu melekat pada segala yang tengah berada di puncak kesempurnaannya. Seorang anak balita, ia tetaplah akan bernilai, meskipun ia belum bisa bekerja membantu orang tuanya. Sebatang pohon gayam tak hanya bernilai hanya ketika ia sanggup mempersembahkan buahnya, karena kebermanfaatannya bukan melulu terletak pada buahnya.
Kadang, nilai dari sesuatu tak selalu diukur dari pamrih yang ingin didapatkan darinya. Kebernilaian anak-anak dan orang tua bagi kita, semua bergantung pada penghayatan pribadi kita atas makna keberadaan mereka….







ada yang kurang dari sepeda ini. aksesorisnya kurang lengkap.
arit….
@ wah… koleksi Pusaka Potorono akhirnya muncul juga, foto2 nya sangat bagus mas Wong, menambah keanggunan si “seri 1″, mskpn aslinya juga sangat indah.. ( saya sempet meliriknya saat dipajang di ruang tamu)..selamat dan salam..
@ Mas Aat.. kalau asesoris “arit” krn sangat universal dan cocok buat onthel apa aja maka mungkin mas Wong sengaja tdk menonjolkannya…hehehe
Waduh, Pak Rendra. Itu bukan dipajang diruang tamu, tapi karena rumahnya kecil, jadi lumrah-tidak lumrah hanya di situlah yang memungkinkan…
Ide Mas Aat itu bagus, karena di Potorono sepeda dengan penampilan seperti ini biasanya memang dicantholi arit untuk dibawa ke sawah. Masalahnya, kemarin nyari arit made in Holland belum ketemu…
G 1 yang gagah dan mantap, untuk G 1 sudah sangat sulit dijumpai apalagi yg original kaya sepeda koleksi Mas Nur. Selamat Mas karena jodoh maka G 1 bisa diboyong dan dikoleksi di Potorono. Kapan yo pindah ke Minggir, mimpi x
wah onthel yg sangat ngedab edabi…..hanya pedalnya kok yo “made in Garmany” , gimana to ini???? Denmas Rendra sempat melirik onthel ini, lah saya malah sempat “melototi” saat itu…tetapi malah bingung, Onthel opo ini????? Nah baru tau nih sekarang….betapa dari onthel tua benar benar terpancar ‘keindahannya” dan”kegagahannya”….selamat buat Pakde Wongeres……..
Hehe… Pak Dhe Rangga, ini sudah jadi onthel kampung. Tapi justru ini yang mahal, masih asli apa adanya, belum dikomplit-kompliti atau dicantholi arit! Haha…
@ Pak Noer, ada usul dari Pak Gono & Pak Sahid utk bikin komunitas Gazelle tua dari seri 1-5… Sy kebetulan jg diajak, meskipun pnyku G#2 dames… Ayo kapan2x touring pakai G seri tua, pasti asyik….
Mas Aat kalau cuman arit saja masih kurang. Diboncengan belakang masih dipasang kayu planthangan plus karung goni. Kalau Turi Sleman pohon gayam yang ada di pinggir Kali Bedhog biasa untuk guyang kuda lumping atau ambil dhemit jatilan
@Mas Qly, Ayo G-5 super istimewa dikeluarkan, tuh sudah ditunggu Pak Sahid dan Pak Gono…
@Mas Bagus Podjok, sudah sehat kan? Wong malah pengin segera liat Mas Bagus ngonthel pakai Burgers dames Sedayu, je! Hehe…
@Mas Bagus Kurniawan, nyimpen kayu planthangan dan bagor juga to? Pesen yang untuk FA24 ada?
@ Mas Noer, siap antar kayu/pring planthangan plus bagor dan tali siap dikirim ke Mas Aat ya. Sekalian utk golek ramban tapi bukan ramban daun kemangi soto kemasan wirokerten
oh…. ngomongin saya to…. jadi pengen malu..
Jangan bawa-bawa palu to, Mas. Wong kita lagi mbahas arit kok.
ambil gambarnya bagus sekali.Ini..Sepeda yg kutunggu penampakkannya.Ulassannya juga luarbiasa.Dapat sepedanya juga unik. Ampuh tenan panjenengan iki.wah wah
@Bosch Prambn…..saya tau yg ambil gambarnya pasti Mas Bagus Kurniawan (nggak pake Majnun)…soale beliau itu kayaknya sudah “spesialisasi”nya ambil gambar yg “gitu gitu”..kalau jaman dulu buat gambar sampul amplop….kapan yah gambar onthel jadi gambar pilihan spt di TV Metro??????
Kalau Pak Dhe Wongeres spesialisasinya memang “bersilat kata” sehingga yg mbaca bisa “klepek klepek”………wah tenan njih Bosch……
jan benar benar “pendekar tanpa nama” alias Bubeng Tayhiap ngendikane Kho Ping Ho……
Saya beri tahu sebuah fakta yang mencengangkan dunia persilatan. Semua foto itu Pak Nur yang motret!
Jadi, istilahnya apa pendekar yang menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi, 2 ilmu sekaligus?
Lha Sunan Kalibayem kemawon kesengsem kalian Adipati Opoto ingkang jejuluk Wongeres,Weleeh weleeh
@Mas Aat……oh gitu to mas……..wah ndak nyangka tuh kalo Pak Dhe Wongeres juga jago “ngintip” njih……..kalau di dunia persilatan paling nggak dia itu = Suma Han, pendekar super sakti , yg kalo pibu ndak pernah kalah tuh……..pantesan hasil jepretannya ….very very interesting
….sangat menarik mripat…………pak Harto bilang : teruskennnnnnnnnn
Horee… foto saya dipuji. Ing atase! Haha… Pak Dhe Rangga, berarti nggak sia-sia to, saya runtang-runtung sama Mas Aat.
Weleh…weleh… Jangan salah lho. Sisi lain pribadi Pak Pram juga seorang paparazzi yang ke mana-mana selalu membawa kamera. Rak inggih makaten, Pak Pram? Nuwun sewu menawi leres!
Mas Noer y ,mbah Ngatijo dapat gazelle istimewa tapi gazellenya manja banget,sedang masuk angin barangkali ,minta digosok gosok pakai minyak kayu putih.Panjenengan kan paling jago menaklukkan mbah ee. siapa tau bisa jadi pasangan si seri 1. Kan kalau si seri satu masih ganteng mesti di jodohkan seri 11 yg kinyis2,
Yang terlewat ngintik wajah Gus Wong .Jadi nanti kalau ketemu dijalan pasti lupa. Mekaten dimas.
Wah, padahal saya ini begini-begini kan dikenal luas sebagai seorang yang tidak terkenal…
Wah, ayo ditiliki wae?
Mohon info Kang Noer, G1 dibuat kisaran tahun berapa yach, terima kasih
Nah, ini dia kemunculan perdana di 2012 ya, Mas Dhony? Selalu sehat-ceria, kan? Semoga. G-1 ini produksi sebelum tahun 1920 Mas. Sudah Opa-opa banget…
@Pak Pram dan Mas Bagus, sepertinya si dames kinyis-kinyis itu agak lebih tua. Seri-10. Dahulu, di awal-awal kiprah Opoto, harga sepeda Gazelle itu setiap satu serinya satu juta. Jadi seri-9 pasarannya 9 juta, seri-11 ya seharga 11 juta. Tapi sekarang patokannya sudah berubah. Padahal saya baru bersiap-siap memborong seri-1 yang mestinya 1 jutaan atau seri-2 dua jutaan. Haha… dasar belum beruntung!
he he memang belum kelas gazelle tromol ireng sama tromol putih belum paham.Belum lagi harganya tambah ora mudeng.
Pak Pram, semua juga tahu kok bedanya Pak Pram dengan saya. Saya ‘sangat mudheng’ harga sepeda sehingga kalau mau beli itu nawarnya muntar-muntir dulu. Kalau Pak Pram kan ‘nggak mudheng’ alias nggak mau tahu. Berapapun kalau suka, ambil! Hehehe…
Waduhh blaik . Saya salah masuk perguruantinggi peronthellan.Sudah keluar uangkuliah mahal ,ambil jurusan tidak pupuler. Njur kepiye iki????
Orang besar belum tentu populer. Yang populer juga belum tentu orang besar. Lha Pak Pram ini kan agak ‘nyele’: seorang besar yang juga populer tapi sibuk berlindung di balik kamuflase. Haha… ya tetap keconangan! Lariiiii…!!
Begitu indah, bersepeda diantara hamparan sawah. Bersyukur menikmati harmoni alam tiada tara. Subhanallah!
Maturnuwun, Mas Lutfi. Memang itulah yang selama ini menjadikan kami semua merasa kaya dan ingin berbagi. Jadi, ceritanya, sudah jadi meng-order dudukan lampu buat Si Cantik Humber ya Mas?
Kalau nggak salah, saya pernah diberi kesempatan mencicipi sensasi G1 ini. Memang ruarrrr biasaaaa…ditambah setting stang yg tinggi, terasa gagah dan mantap.
Leres, Mas Bantoro. Ini sepeda tua yang dulu itu. Lha kapan ini pengobat rindu ngonthel bersama lagi? Semoga Opoto masih terjadwalkan di kesempatan mendatang nggih…
Nuwun sewu pakdhe nur…
Punapa G1 menika saget dpun mahar i?…
Kawula kok remen pak..
pm via email punopo prayogi nggih.?.
Mas Tresna, sewu duka, G-1 punika saestu namung paringan saking sesepuh. Pramila nadyan wujudipun namung kados makaten, namung mujudaken endahing amanat ingkang tanpo upami. Mugi mboten ndadosaken gerahing penggalih Panjenengan nggih…
Salam onthel.
Wiji uwit damar, Gazelle seri Siji wis ono sing arep Nglamar. Uwit Damar kembrukan Pring, sing arep dilamar untunge ora muring-muring. Ngombe seprit tekan kalasan, sing duwe pit wasis ing alasan. Sugeng pasedherekan
@Gus Wong : jiaaaaaaaann……..elok teniinnnnnn…
@Mas Bagus : tekan kalasan ngiras soto-sak wekasan ngumbah moto, mangan soto sambele trasi-sanadyan tuwo gazelle cen nggegirisi…..
Wah leres mas Suga, banyak yang kepincut
@ leres sanget pangandikanipun mas Noer.. G1 meniko saestu paringan saking sesepuh..milo saking meniko sagedipun pindah “amanah” nggih namung saged mawi diparingaken kalih tiyang ingkang langkung sepuh tinimbang mas Noer.alhamdulillah kulo sakelangkung langkung sepuh tinimbang mas Noer…hehehehe..
Setuju Pak Rendra, sepeda G1 Potorono dioper ke Kerawang, kemudian sepeda G11 Kerawang dioper ke Golo. Pak Rendra terlalu senior kalau mengendarai G11. Nah njih mekaten tho Pak Nur kaliyan Pak Rendra he..he..he..
@ hahahaha..pak Sahid….lho kok kados komidi putar sekatenan….muteeeer wae ora bar bar…
Haha… lha malah jelas banget saya yang bakal bar-baran…
Ya…Gus Wong pikantuk Gazelle transport saking Golo…..kadose gumathuk…..
Wahaha… jadi saya ketiban nggenjot paling berat ya, apa lagi kalau harus mboncengin Mas Suga yang lagi bawa kompor pertamax!
Fokus bdikannya,energi hijau sawah yang membangkitkan aura G1..mantap kalau Pakdhe Nur sudah punya cerita baru..mengunjungi lagi suhu suhu sepeda tua..ah pingin sekali pulang ke jogja
Semoga ngangkring di blog ini setidaknya bisa mengobati kerinduan Mas Beni… ihik…
hati2 pak sepedanya kecemplung kolam,sadel bisa jadi sambel krecek hehehe…
Mas Yox baru nglakoni apa to, perasaan kok sudah jarang banget ketemu… Itu bukan kolam lho Mas, tapi sawah. Lucunya, ketika kami kesana esok harinya, jebul sudah rapi tertanami bibit padi!
Wah kharismamu ruarbiasaa. Beberapa hari yg lalu aku kedatangan tamu seorang tentara pakai mobil bagus,didalamnya tergeletak sepeda gazelle seri 5.Sekilas terpikir Bapak tentara ini kok tidak sayang mobil.”Nek jok mobile suwek njur kepiye” Bapak ini ternyata penggila gazelle.Ceritanya muter2 balik lagi ya gazelle lagi. Singkat kata bapak kita ini butuh klem tromol belakang orisinil, lha kebetulan saya ada,Rayuan pulau kelapa merdu mendayu dayu.Lha saya ini belum terbiasa bakulan ,yo ra kodal he he.Akhirnya klem dipinjam untuk dibuat duplikatnya. Tadi pagi saya ketemu bapak ini dijalan ,beliau berpakaian dinas gagah sekali mau berangkat kantor.Setelah ngobrol ngalor ngidul beliau mengeluarkan klem gazelle dari kantong baju yg diatasnya ada lambang tanda jasa beliau selama bertugas membela negara. Wah wah dikantong lainnya bukan peluru M16.pasti “gotri gazelle sing orisinil nil” Ha Ha.Klem dikembalikan padaku tapi dengan sangat menyesal klem kembali ke habitatnya diantara barang karatan di gudang.Kalau yang mengulas cerita ini jagoan dari Potorono pasti dramatis sekali, . GAZELLE GAZELLE GAZELLE .marakke ra iso turu
Pak Pram, wah, sungguh sebuah cerita yang menarik. Jadi teringat seorang komandan yang gugur di perang Malvinas: di kedua saku bajunya masing-masing ditemukan kitab suci dan novel Shakespeare. Kami juga pernah melihat ruang direksi sebuah BUMN yang dipenuhi replika sepeda. Tidak usah jauh-jauh, di FEB UGM juga ada seorang doktor yang meja kerjanya dihiasi replika sepeda onthel. Entah ya kalau di kopi klothok…
ha ha trims mas nur pagi pagi sdh merepotkan panjenengan, G 1 dirantai dengan gawangan cendela ?
Wadhuh! Saya yang mohon maaf karena tidak bisa menyambut sebagaimana mestinya, karena pagi-pagi sudah harus berangkat njagong manten Mas. Dirantai? Hehe…cuma supaya tidak ambruk…
@ wah mas Pram seru juga ya info pak Tentara…. sy juga punya temen petinggi POLRI yg bener@ : gila” Gazelle di jkt.. beliau mengoleksi semua varian Gazelle dr seri satu sampai seri terakhir ..termasuk new Gazelle.. sebenarnya di gudangnya juga tersimpan berbagai varian FG dr H sampai BB..tapi konon disentuhpun enggak… yg di elus2 hanya Gazelle saja… Gazelle memang memikat dan mentul2 kata beliau….. ( kecuali buat mas Suga sama Dimas Arema Voice…heheheheh)..piss
Kangmas Rendra ,saya sekarang mulai kedanan rondo burgers,sing gulune dowo,ireng teyengen meleng meleng trend pedalaman Afrika,Jadi tidak pusing cari tas Louis Vitton jam Hermes.kosmetik Chanel.Wis pokoke wudho’dadi ora perlu ragad rojobrono cukup rojokoyo ben iso manak pirang2.Sudah merasa tua mas sudah tidak mampu ngladeni Nyai Gazalle .Nyawang karo ngelek idu wae wis marem , he he
WARNING!
Perhatian…perhatian! Diingatkan kepada para kadang onthelis yang sedang dalam proses menawar sepeda Burgers dames, harap menyegerakan proses negosiasinya sebelum Burgers lenyap dari pasaran…
Nasib nasib Yen wis tuo arep golek rondo ndeso nggo konco glenak glenik wae kok digol goli.
@Gus Rendra : ……wah lha juk di kroyok iki….he..he..
@ft2 G 1 nya mas Noer sdh jadi gambar utama Wira Wiri Naik Sepeda…selamaat..
Jadi malu, wong bukan 100% orisinilan, je… Yang hebat itu para komentator terbanyak di Wira-wiri…
bener khan, gambar yg apik terpilih menjadi “sampul amplop” sepeda onthel……..wah dapat “award” nih Pak dhe Wong
Selamat njih………..
Wah…wah….
Lha yen kula ngguguk ra meneng2…punopo tambane pakdhe nur?….
Yen Fongers-e Om suga ki jan-jane alamate ngendi to?….
Malang opo New Yorkarto?…Kok angel temen dipethuk’i…..
Om suga CCG ne ampun patang puluh ah….patang ewu kemawon pripun????…..hehe
Lha yen G11 e adipati tlatah karawang menika kados pundi nggih rupane…Punopo ayu nopo bagus?….
Prayogi kagem ngonthel rute Plered-Wukirsari-Imogiri, mangke dhahar bubur sayur krecek wonten wandenipun Bu Wied. Ngunjukipun wedang uwuh. Kondur sayah kalajeng petekan lan ngunjuk beras kencur. Oalah, wongayuuu… jujur balungku, tentrem uripku… Haha…
@ Su Tresna :…….aku neng kene…he..he…nek arep neng malang yo…sampean takon wong rombeng–> menggo ngerti kabeh kok….jok kuatir he..he…
Lha nek neng New Yorkarto yo mung nyok nyok….nyok sesasi pisan…nyok seminggu pisan …he..he…nek CCG ne niku mung kilon kok dab…he..he…
Pakdhe Nur…Lha pripun bikres cgak 3 nipun…Punopo saged di-share saham ipun?
Om suga..lha yen bikres ingkang taksih kinyis2 kados rambut diminyai urang aring punika punopo taksih ready stock?..
Badhe nyambut mbok menawi jodo..Hehe
Kesimpulannya Gazelle nipun mboten dipun sade Mas?
Hayyah. Mboten, Dimas. Mundhak kuwalat dadi jambu mete…
glek..
Mas Joni, pa kabar? Kok kaya Jaka Tarub ngintip bidadari…
Yo iki . . . kapan aku iso nglencer nang Potorono kepanggih sareng Empu – empu sepeda ingkang winasis . . . . . . . matur nuwun
Pak Subandi, di Potorono, khususnya tempat kami tinggal, belum ada empu onthel lho, apalagi yang winasis… nuwun.
Assalamu’alaikum mas….
Wa alaikum salam, Mas Yon. Lha kok nyalawadi… Itu Pak Sahid sudah paring warta. Nyai Gazelle seri 6 mestinya terbilang langka, apa lagi seperti punya Mas Yon itu…
Di kalangan pandemen sepeda Gazelle Jogja memang sudah mulai ada gerakan untuk merawat gazelle seri tua yang banyak terlantar atau terlupakan karena kemilau dari adik-adiknya yang lebih populer seperti seri 5, 9, 10 dan 11.
Ada teman onthelis Jogja bahkan punya Gazelle yang unik, yakni dengan badan Inggris namun itu adalah sepeda orisinil Gazelle yang diproduksi di pabrikan Inggris. Sesuai catatan sejarah, duo pendiri Gazelle yakni Kolling dan Arentsen baru memproduksi sendiri mulai tahun 1902. Sebelum tahun itu mereka impor sepeda dari Inggris dan kemudian dilabeli merek Gazelle.
Pasti Bapak-Bapak semua jadi penasaran he..he..he..seperti apakah itu Gazelle Inggrisan. Saya akan coba tulis dalam sebuah artikel pendek secepatnya.
Pak Noereska sepertinya salah cerita. Teman saya yang dosen UGM tersebut, sekarang ini tidak hanya memajang replika sepeda, tetapi justru Sepeda Pos Falter malah diparkir manis di kantornya.
Naaa… terima kasih atas update yang disampaikan oleh Pak Sahid. Bahkan tempat parkir khusus sepeda pun sudah tersedia di sana. Semoga menginspirasi tokoh-tokoh panutan lainnya agar bersepeda menjadi semakin membudaya (Pak Sahid, kata Bu Sri Adiningsih: ide bagus, tapi untuk wanita masih agak repot mencari solusi terkait masalah keringat dan make up! Ayo, Pak Sahid ada solusinya? Hehe…).
Yang bisa jawab ya para atllet putri aerobic. Kalau Pak Sahid kan akhli Teh. Jangan2 malah disarankan wedak an cem ceman teh Bandulan. He he he. Mas Noer Nyuwun pamit sak wetawis bade kesah Jajah deso milang kori.
Wah, Pak Pram njajah desa mana ini ya… Jangan-jangan oleh-olehnya Raleigh Singapore gulu pendek buatan lokal.
Nyuwun pangapunten Denmas Sahid…….
Ada lagi seorang manusia yg selalu markir sepeda onthelnya di parkiran (motor) di kantornya di Perpustakaan Ui Depok (yg katanya Gedung Perpustakaan yg terbesar di dunia, luas bangunannya, bukan koleksinya lho)….cuman yg diparkir onthel tua, karatan….Batavus dames…..yg kata orang ….”last choise” bagi para kolektor onthel……..yah onthel tsb sbg kendaraan pribadi bagi pemiliknya yg rumahnya nggak terlalu jauh dar tempatnya ngantor……….pingin tau??????????? Tunggu setelah pesan pesan berikut ini…….he he he hei
Lho. Jadi Pak Haji masih nitih Nyai Batavus, to? Hebat! Kesetiaan dan kesederhanaan yang perlu diapresiasi. Ayo, jangan sampai malu dengan Pak Jokowi. Hehe…
Injih Pakde….tetapi “Pak Haji” ada kalau lagi pas di mushola aja lho Pakdhe……..dia bangga dg onthelnya dan bangga dg nyentriknya ( nyender tiang listrik)……….dan apakah ini juga suatu “kesombongan????????” cuek saja…… yg penting ati seneng …dan….nggak merasa mengganggu orang lain………..
E e kangmas Rangga, Perkembangan terbaru Batavus sedang diburu pencinta leher jenjang. Kalau parkir mohon dirantai .Seusia kita kalau kehilangan kekasih.”keloro loro lho?
@ Mas Wongeres
Nah inggih pun leres, tiang winasis yoo … mboten ngaku, kados ilmu pantun makin berisi makin merunduk . . . . matur nuwun Mas.
Kangge sederek Potorono mugi -mugi ginanjar kawilujengan sedoyo, amiin.
Mboten makaten, Pak Subandi. Teman-teman Opoto ini kalau merunduk biasanya ya pas ancang-ancang mau menerkam onthel di gudang yang teronggok tak bertuan. Hehe…
@P’Nur
nambah serem aja koleksinya pak
saya baru nun jauh di pedalaman ina timur hehehe..jd ya mangap klo jarang muncul
Sepeda yang unik,gagah juga anggun dengan environment yang indah. Salute buat pak Noer.
halo pak Tono apa kabar? salam
Apa kabar Mas Tono dan Pak Rendra, mudah2 an masih ingat.
halo mas Qly spoor..tentu masih ingat dong…alhamd saya sehat, semoga penjenengan demikian pula,,gimana kabar G5 pusakanya nya..mbok didaftarke ke mas Wong ben unggah to mas buat belajar..salam
@ Pak Rendra
weleh weleh, untuk G 5 punyaku punyae cah Ndeso gak ada yang istimewa dan masih banyak di pasaran, masih kalah jauh dengan koleksi kagungane Priyayi Karawang dan koleksi Ndalem Golo.
Apalagi kalau G koleksi Priyayi Karawang dan koleksi Ndalem Golo didaftarke ke Mas Wong dan di unggah, tambah betah aq di web nya Mas Wong
@ Mas Nur
ada usulan untuk dibentuk komunitas G tua (1-5), dan usul saya kalau udah terbentuk, yg jadi Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Pengurus lain merangkap anggota yg punya G tertua dan punya Web ini. aq ikut jadi endel.
Salam kembali kagem pak Rendra dan pak Harjo , kabar baik dan sehat selalu .koleksinya pada pada nambah terus dan tambah bagus -bagus ini pak ?
saya blm pernah lihat nomor seri sepeda Gazelle tua yg 4 digit kecuali miliknya p. Gono, Wirosaban itu…
@ Qlyy
Mas Harjo, lha itu sudah masuk pasal pemlekothoan lho. Hehe… Lagian, siapa bilang sepeda saya tertua? Jogja masih banyak G-1 dengan tipe dan kondisi beraneka. Waktu kita ketemu di bengkel itu, ada juga to?
@kang Djono KONIS
Nusantara, termasuk Jogja memang surganya onthel. Beruntungnya kita bisa mengapresiasi koleksi sedulur-sedulur yang luar biasa.
Perkembangan komunitas sepedaonthel ke depan mungkin akan lebih bermuara ke komunitas merek sepeda sebagaimana saat ini lumrah terjadi pada komunitas otomotif. Bukan berarti ada niatan untuk lebih eksklusif, tapi didasarkan pada kebutuhan alami untuk saling belajar dalam memahami sebuah merek sepeda dan saling berbagi simpanan onderdil. Sehingga kegiatannya akan lebih akademik dibandingkan dengan praktek-praktek event yang selama ini terjadi.
Pak Sahid, kemarin saat ngobrol dengan teman-teman di Potorono, kami malah sempat berpikir: setelah onthel digemari dan komunitas banyak tumbuh seperti sekarang ini, semestinya ada banyak hal yang terus bisa kita lakukan secara berkelanjutan. Meluas, mendalam, membubung, atau apa. Kalau tidak ada tantangan baru lagi, barangkali beberapa komunitas akan mulai kurang greget. Sepertinya harus ada motivator untuk hal ini. Kita kan tidak mungkin hidup hanya untuk mengulang-ulang hingga titik tak berujung…. Mohon maaf, ini sekedar pemikiran di lingkup kampung yang siapa tahu bisa diterjemahkan secara lebih gamblang oleh para cendekionthel seperti Pak Sahid.
Kang Bro Nureska, prediksi saya memang lebih ke internal komunitas. Kalau untuk kegiatan ke arah eksternal, semestinya banyak yang bisa dilakukan. Saya melihat 3 domain yang bisa dimasuki. Pertama, domain pengabdian masyarakat seperti misalnya melakukan kampanye aksi-aksi hijau (karnaval budaya bersepeda, tanam pohon, pelestarian budaya). Kedua, domain bisnis pariwisata sebagaimana yang sudah dilakukan secara hampir sempurna oleh Towilfiets yakni mengadakan wisata bersepeda. Ketiga, domain kebijakan publik yaitu memperjuangkan jalur sepeda, tempat parkir sepeda, dan car free day.
Di Jogja, semestinya kita harus mengejar ketertinggalan dari kota lain dimana kita tidak punya area Car Free Day yang l;ebih rutin. CFD yang digelar tiap Jumat malam setiap minggu terakhir per bulan tidaklah cukup untuk menjadi media inkubasi minat bersepeda. Masalah lainnya adalah ada oknum tukang parkir yang sering menomerduakan pengendara sepeda yang ingin parkir.
Intinya, Pak Sahid, bagaimana mengajak sedulur-sedulur onthelis untuk terus maju dan dalam kontribusi sejauh itu harus diyakinkan bahwa onthelis masih tetap sebagai subjek atas apa yang mereka perjuangkan. Makaten….
@ barangkali kegiatan bersepeda/ngonthel bisa dijadikan “budaya” atau “idiologi” sebagaimana dikota kota datar di Jawa tempo dulu…krn setelah itu pasti segala dampak positif dan manfaat “ikutan” lainnya akan didapatkan pula, soal besarnya adalah bagaimanakah cara “mengidiologikan” aktifitas bersepeda., sehingga semua org berpendapat bahwa bersepeda adalah sebuah kegiatan yg bermartabat,berguna dan bahkan berpahala…wahh…
Cocok kang mas Rendra salah satu idenya resi Wong berkenan menampung cerita /pengalaman pengontel dan menuliskan dalam karya yg indah hingga terjawab pertanyaan mengapa orang bisa “gemblong /kedanan ” onthel Karena beliau yg jagoan ngracik tulisan.(arep nulis dewe ora iso).Harapannya bisa menarik orang ikut ngontel Kalau aku cuma bisa bikin judul “LAMBAT ITU NIKMAT” titik
Menarik, Pak Rendra. Itu namanya ngelmu ‘jumbuh’ ya. Semua kepentingan bertemu secara sinkron dalam satu aktivitas: ngonthel. Ini kalau Pak Sahid pasti juga langsung bisa dibeberkan secara clear. Thes… thes…thes!
@ mas Pram, lambat itu nikmat… wah saya setujuuu…krn hidup yg selalu mendewakan kecepatan kadang sungguh sangat meletihkan njih … kita butuh “break” , karena bisa mat matan… alon alon ben “barange “awet.. hehehe
Mas Rendra &Gus Wong. Saya betul2 merasakan semua manusia mendewakan kecepatan .Mereka sudah tidak berfikir lagi “kecepatan menguras energi bumi” Kemarin saya di desa A sekarang sudah di desa B .Pada jaman mbah saya diperlukan waktu tempuh berhari hari.Bahkan belum lama ini saya memecahkan rekor, dari rumah di Kudus masuk rumah di Jakarta Pusat,dalam waktu 2 jam 26 menit 4 detik. .Karena sering menjadi manusia cepat jadi merindukan lambat Rekor saya lambat dari rumah Magelang ngontel pakai burgers sampai rumah semarang 7 jam lebih Tapi kenangannya, melekat di hati .Oleh karena itu saya merasa kendaraan paling hebat didunia ya pit burgers dames.Akibatnya ya jadi edan 0nthel.He he sekedar ceritera asal usul
Pak Pram dan Pak Rendra, jadi ingat, sejak remaja dulu saya sering bikin jengkel orang karena sering bilang: kalau masih bisa berjalan, kenapa mesti berlari? Bukannya default takdir kita berjalan, bukan berlari. Haha…
Idealnya sih kadang cepat, kadang lambat sesuai kebutuhan. Biar tidak monoton dan sekali-sekali ada klimaksnya juga. Hehe…
boss boss besar, ketua besar n juragan besar sedang asyik bergunjing kawulo alit tak menyimak aja xixi………
Ah den bagus Dieng bisa aja? kan cuma Bosch pelem kalah sama Bosch kendit kagungane.
Pak Pram, lha kok Bosch pelem. Dames lebih cocok Bosch bluluk atau Bosch lombok. Haha..
Boss Dieng, apa kabar? Sedang buka lahan di mana lagi? Artinya, kawasan mana lagi yang Gazellenya bakal lenyap…
Di Potorono, semua memang Boss. Terutama kalau lagi di parkiran motor. “Jangan kunci stang, ya Boss!”
He he kreatip tenan boss Wong.Saya naik onthel sandal jepit kaos mambu juga dibentak “boss jangan parkir disitu.” Betulkan jaman edan kawuloaliiiiit i kalau dibentak “bosss” ngelus dodo ora sido nesu. Salam hangat buat Denmas NurDieng.Ayo ikut bikin komen onthel,jprihatin ndak usah ngurusin Angelangel indah masuk bui.
Boss bisa masuk bui. Tapi di Bui juga bisa jadi boss lho. Istilah senior kita JE Sahetapy: power by remote controll… Wah, kita bangsa yang canggih ya…
sugeng pepanggihan… om noer, om rendra, pak dhe rangga tuwin para priyagung onthel.. mangertos sepedanipun om wong, dados enget menawi kula nggih nggadahi sepeda inkang saperlu dipun ruwat malih….wah dadi isin je, nduwe sepeda ra dirumat….
Simplex…Simplex… juga Cyclo rem karet, kapan dikau boleh diupload…
Wah ndadak ngudal udal lemari nang semarang
@ mas Max, terutama sadele kudu di rumat…hehehe
Sadumuk bokong sanyari sadel. Bokonge cilik sadhele ngumplik, Bokonge omber, sadhele njeber!
waduhhh.. ngrumat bel kemawon ngantos nangis ngguguk, mboten beres-2…heee..heee..
Sadelipun dipun pepe, supados mboten dados krecek Nggrasa
Mas Bagus, atau kita berburu krecek Nggrasa saja, nanti dijemur biar jadi sadel? Kan lebih mudah. Hehe…
malah dadi krecek fermentasi..
rasane njur kepiye krecek fermentasi mas Aat? apa kaya tape made in sumber berbah
@ mas Aat, nek sadele mengandung alkohol mengko “haram” tumpakane lho..
Kagem Mas Rendra, Alkohol meniko haram lamun didahar, nek sadele mengandung alkohol nopo mboten tambi kuat ngonthellepun, rak mekaten to Mas . . . . . . . . . . . . . . matur nuwun
Nuwun sewu, Pak Bandi. ‘mengandung’ punika basa Jawinipun ‘hanggarbini’ punapa nggih?
Wah …jadi ngguya ngguyu.lan cengar cengir dewe nih menyimak poro winasis ngudar kawruh…..tetapi memang akhirnya bermuara ke onthel onthel juga njjih Den….ha ha ha ha ….gitu mungkin “keajaiban” onthel yang sama sama membuat wacana kita tambah “aneh”…..??????????
Onthel is ekselen…..wah pake inggris British nih…………..
@pak Bandi leres sanget, menawi sadelipun ‘hanggarbeni” alkohol panci saget marahi kiyat ngonthelipun , menopomalih sadel kagunganipun mas Max…( wiss..sansoyo ndadi ki..hehehe)
Wah Den Mas Rendra…punopo injih asring “hanggarbeni” sang permaisurinipun?…Dados permaisurinipun termasuk jenis ingkang pundi njih? Gazelle punopo Brook njih ………ha ha ha ha ….salam kagem Bu Dokter njih Den………..wah jan …..kalau lagi nyepeda bareng …..koyodene Mimi lan Mintuno…….menawi Adipati Wongeres lan sisihane nyepeda bareng , persis koyo Mimi lan Migoreng……..nyuwun pangapunten…………..
Haha… ini dia “Pendekar Tiga Nama” sudah muncul. Bu Rendra jelas Gazelle mania. “Keng garwo”-nya saja yang kheki kalau dituduh ikut-ikutan sehingga banting stir pilih jalur “randha Burgers”, meskipun di sana juga dikembari oleh Pak Bosch Pram.
Nuwun sewu Mas Wongeres, meniko sanes “mengandung” jabang bayi ? ..
Punten Mas sejatine kulo meniko basa Jawinipun masih sinau (masih TK), ben saged nyambung milet ngobrol teng angkringan ngriki, matur nuwun.
Nyuwun pangapunten, Pak Bandi. Punika sedaya namung gojeg, minangka jampi sayah. Mugi mboten ndadosaken gerahing penggalih…
Tanda tanda jaman, Ngatos2 bu yen mremen mremen golek rondho kembang “jewer kupinge”
Pak Noer bertangan dingin apa yang disentuh pasti menjadi diinginkan banyak orang, pertama kali melihat kondisi sepedanya masih acak adul dan sekarang sudah di level top performance.
Dan untungnya sepeda koleksi Pak Noer tidak seperti pemain bola yang suatu saat minta di transfer ke klub lain
Kulonuwun Kangmas Noer sekalian konco2 onthelpotorono nderek langkung,punopo pikantuk mampir?
Para Kadhang ingkang minulya. Mugi-mugi panjenengan sedaya saged sami tindak Acara Parade Onthel Satria KOSTI Banyumas wonten ing GOR Satria Purwokerto Sabtu-Minggu 7-8 April 2012. Sampun dangu mboten wonten acara onthel nasional, dadosipun mugi-mugi gayeng menawi sedaya sami rawuh. Pak Nureska ditengga rawuhipun nitih turangga pusaka Fongers CCG.
Pulang kampung nih….nostalgia mendoan….dan soto Sokaraja……yang suka “ritual soto” monggo kula derekaken…….
monggo dipun acarani makempal wonten Puertoriko (purwokerto)