Mbah Pudjo Sadel: Saya Menjual Orang!

Apa yang paling menentukan kenyamanan saat mengendarai sebuah sepeda onthel? Jawaban atas pertanyaan ini barangkali masih bisa beragam. Mbah Pudjo Hartono (76 tahun) yang tinggal di dusun Gading, Donokerto, Turi, Sleman, Jogja, memilih salah satu dari beberapa jawaban yang ada: sadel!

sadel: salah satu kunci kenyamanan ngonthel

Berdasarkan pilihan jawaban itu pula Mbah Pudjo menjalankan profesinya. Lebih dari 60 tahun ia menekuni kegemarannya sejak kecil, yaitu memperbaiki sadel-sadel yang rusak. Dengan jam terbang selama itu, ia bahkan hapal jenis-jenis sadel dari berbagai merek sepeda onthel yang beredar di Indonesia. Meskipun begitu, setiap akan menjawab pertanyaan seputar sadel ia masih merendah dengan mengatakan bahwa ia akan menjawab dan melayani permintaan “sakgadug kulo” (semampu saya).

Mbah Pudjo dilahirkan di Srandakan pada tahun 1934. Pada usia 9 tahun, ia pindah ke Notoprajan, Jogja. Sepeda onthel sebagai sarana transportasi yang sangat vital pada saat itu segera menarik minatnya. Terutama sadel itulah yang menjadi fokus perhatiannya. Maka, setelah mahir menyetel dan memperbaiki sadel, dengan tekad bulat ia membuka usaha perbaikan sadel di jalan H Agus Salim, di depan nDalem Notoprajan.

Filosofi Mbah Pudjo tentang sadel sangat unik, yaitu bagaimana membuat sadel itu tampak keras ketika dilihat, tetapi terasa empuk saat diduduki. Untuk mewujudkan prinsipnya tersebut, Mbah Pudjo hanya percaya pada rangka sadel lama yang terbukti kokoh. Sedangkan untuk kulitnya, ia hanya mau menggunakan kulit sapi pilihan. “Kulit lembu setunggal, biasanipun namung kulo pendhet kangge 6 sadel” (kulit seekor sapi biasanya hanya saya ambil untuk 6 sadel saja), katanya. Itu bisa terjadi karena Mbah Pudjo hanya mau bagian tepong/pantatnya saja. Di bagian itu, kulitnya lebih tebal dan ketebalannya pun rata.

berlebaran ke rumah Mbah Pudjo Sadel

Pelanggan biasanya datang kepada Mbah Pudjo dengan berbagai permintaan, mulai sekedar meluruskan kerangka dan mengencangkan tarikan kulitnya, mengganti kulit baru, memperbaiki kulit asli/lama yang sobek dengan cara merangkapkan kulit baru (di-press) di bagian dalamnya, hingga merekonstruksi sebuah sadel agar sesuai bawaan original merek sepedanya.

Dengan kemampuannya itu, Mbah Pudjo saat itu segera dikenal luas sebagai spesialis sadel. Pelanggannya tak hanya datang dari seluruh penjuru Jogja, melainkan juga dari Magelang, bahkan Semarang. Beberapa orang pun mulai memanggilnya Pak Pudjo Sadel! Setelah berpuluh tahun tinggal di Jogja, pada tahun 1986 Mbah Pudjo pindah ke dusun Gading, Donotirto, Turi, Sleman, desa tempat asal istrinya. Di desa itulah kami berkunjung selepas Idul Fitri 1431 H, beberapa hari lalu.

Di usia yang tidak muda lagi, Mbah Pudjo masih terus menangani perbaikan sadel. Nyatanya, beberapa pelanggan pun tetap mencarinya untuk memesan sadel-sadel yang berkualitas baik. Mbah Pudjo mengerjakan semua itu di halaman rumahnya yang setiap saat siap disulap menjadi bengkel. Bahkan, jika hari hujan, ia cukup mengerjakannya di dalam rumah saja. Seperti sore itu, saat kami datang dengan badan kuyup karena hujan, Mbah Pudjo tengah berbincang di dalam rumah. Seorang Kyai setempat baru saja menitipkan sebuah sadel untuk diperbaiki. Melihat kami datang, Mbah Pudjo segera menyambut dan mengajak kami  bergabung.

kaya pengalaman dan tak pelit berbagi wawasan

Berdasarkan pengamatannya atas berbagai sepeda sejak zaman Jepang, Mbah Pudjo masih terkesan bagaimana dahulu sepeda Humber dan Raleigh tampil begitu gagah dengan sadel Tery yang lebar. Sementara sadel Simplex Cycloide heren pun tampil kokoh dengan baut ganda yang mengunci 4 kawat rangka (yang menghubungkan antara per depan dengan per belakang) pada ancernya. Ia juga menunjukkan sebuah sadel Fongers yang bahkan hanya menggunakan dua kawat rangka. Dengan cepat pula ia mampu mengenali sadel sepeda Batavus, antara lain hanya dari bautnya yang dipasang terbalik. Begitu juga dengan rangka sepeda Gazelle, baik yang tua, dengan baut dobel di gelung/per depannya, maupun versi yang lebih muda dengan satu baut saja.

Di tengah hujan yang makin lebat, tiba-tiba listrik pun padam. Meskipun begitu, dalam keremangan sore mendung itu kami tetap asyik berbincang. Aroma tanah dan udara lembab terasa semakin menyergap. Angin dingin sesekali berhembus, ditingkahi berisik air hujan di kebun salak samping rumah. Sementara di meja telah terhidang segelas teh panas, enting-enting kacang yang lezat dalam bungkus kertas minyak warna-warni, bolu, dan aneka kue kampung yang ngangeni. Rasanya kami tak ingin beranjak dari suasana ini.

Sambil mengepulkan asap tembakau “thing we” alias nglinthing dhewe (diracik dan digulung sendiri), Mbah Pudjo bercerita bahwa selama menjalankan profesi mereparasi sadel itu, ia pernah mengalami sebuah peristiwa unik. Suatu hari, ia kedatangan seseorang yang memintanya mereparasi sebuah sadel. Bersama sadel itu masih terbawa pula ancernya.  Ancer adalah pipa yang menjadi dudukan sadel. Setelah orang itu pergi, sebelum mereparasi, Mbah Pudjo melepaskan ancer dari sadelnya. Di dalam pipa ancer itu terdapat segulungan kertas yang ternyata selembar kuitansi pembelian sepeda. Ada sepercik bekas darah menodai kuitansi tersebut.

dunia Mbah Pudjo kini: sadel, salak, dan ayam bangkok…

Tak berapa lama, datanglah pelanggan lain. Setelah mengobrol beberapa lama, pelanggan itu merasa tertarik dengan kuitansi bernoda darah tersebut. Ia hapal betul dengan kuitansi sepeda miliknya, apa lagi dengan adanya bekas darah itu. Sepeda itu hilang dicuri orang! Akhirnya, pelanggan itu datang lagi saat sadel itu dijanjikan akan diambil. Singkat cerita, pelanggan itu akhirnya bisa mendapatkan kembali sepeda miliknya.

Setelah lama mengobrol, hujan pun mereda, menyisakan rintik yang seakan belum puas mencurahkan seluruh gumpalan awan di atasnya. Sebelum hal itu terjadi, dengan berat hati kami bermohon diri sambil berjanji suatu hari akan kembali melanjutkan obrolan hangat yang tak hanya mengasyikkan, tetapi juga menambah wawasan kami. Mbah Pudjo mengantarkan kami hingga di halaman depan rumahnya.

Sebelum kami benar-benar beranjak, sempat kami sampaikan niatan untuk membagi kisah Pak Pudjo kepada teman-teman sesama penggemar sepeda onthel. Pak Pudjo tertawa sambil mengulangi perkataannya: “Sumangga menawi badhe pinarak, kulo ladosi sakgadug kulo…” (silahkan kalau mau mampir, akan saya layani semampu saya). Terima kasih, Mbah Pudjo. Kami sampaikan pula salam Mbah Pudjo untuk pembaca blog Opoto (Onthel Potorono) dan seluruh penggemar sepeda onthel di mana saja berada.

tamu-tamu yang kuyup dan kusut

Sebentar kemudian kami sudah menyelinap di jalanan kecil, di antara kebun salak. Bau asap rokok thing we dan canda Mbah Pudjo masih belum mau hilang dari ingatan. Juga ketika setengah berbisik ia mengatakan: “Namung, sadel damelan kulo awis lho Mas. Awit kulo mboten namung sadean sadel. Kulo sadean tiyang. Nggih sing namine Pudjo niki” (hanya saja sadel buatan saya mahal lho Mas. Karena saya bukan cuma menjual sadel. Saya menjual orang. Ya yang namanya Pudjo ini!). Agaknya Mbah Pudjo sedang membisikkan semacam garansi, bahwa dia tidak ingin mengecewakan pelanggan yang memang membutuhkan sadel yang tepat dan berkualitas untuk sepeda kesayangan….

**
Terima kasih buat Mbah Pudjo yang sudah menyambut kami dengan hangat. Mas Tono, Mas Bagus Kurniawan, sungguh sebuah perjalanan basah yang mengesankan. Cenil hangatnya juga enak ya :-)

About these ads

210 responses to “Mbah Pudjo Sadel: Saya Menjual Orang!

  1. Alhamdulillah masih ada “manusia langka” diseputar onthel ya Pak De.
    Memang banyak jenis sadel sepeda yg produksi baru dan kelihatannya indah dan empuk dipakai……tetapi (buat kami) memakai sadel yg kuno, elek dan sudah sobek sobek yg dipasang pada sepeda “lawas” kami kayaknya punya PD sendiri, kebanggaan dan “harga diri” gitu lho, apalagi bisa direparasi sama Mbah Pudjo…..pastinya kami lebih berkharisma dan merasakan empuknya dan nyamannya beronthel (huaduh nyombong dikit nih)…..tetapi sayang ahlinya sadel terlalu jauh buat kami.
    Tetapi referensi ini sangat berguna bagi kami…..matur nuwun….kesetiaan mbah Pudj0 pada profesinya perlu diberi apresiasi yg tinggi spt halnya Mbah Ngatidjo…..Ngatidjo onthel….setuju?

    • Kangmas Heri, apa kabar?

      Beberapa jenis sadel memang mengandalkan regangan kulit tebal pada per baja untuk menyangga berat badan pengendara. Rasanya lebih alami. Konon, sadel kulit yang berkualitas itu jika kita pakai sejak baru, maka akan ‘mencetak’ sesuai anatomi bagian tubuh kita sehingga familiar di badan dan nyaman. Model sadel lain ada yang hanya melapisi plat, kayu, atau per dengan busa/spon yang dibungkus kulit tipis. Memang empuk, tetapi beberapa orang merasa konsep ini kurang ‘alami’.

      Lha, kalau soal karisma dan harga diri itu silahkan tanya pada rumput yang bergoyang. Haha…

  2. @ ternyata masih ada lagi seorang empu di tlatah Jogja.. setelah pakar sepeda, blangkon,wayang..dan kini sadel.. sebuah profesi yg memerlukan “ketabahan”,kesetiaan dan kekuatan mental yg luar biasa mengingat perjalanan waktu yg di retas mbah Pudjo telah begitu panjang.. tks Mas noer atas kisahnya.. sebagaimana mbah Pudjo sadel..mas Noerpun telah menjadi mas Noer Opoto..hehehe. semoga beliau segera mengangkat seorang murid sebelum segalanya berlalu… salam

    • Pak Rendra, jika sebuah profesi, kebiasaan, atau hobby itu kita jalani dengan senang hati, maka julukan yang mengaitkan nama kita dengan profesi, kebiasaan, atau hoby itu juga akan nyaman saja terdengar. Bukankah begitu, Pak Rendra Alap-alap Onthel? :D :D

  3. Mbah Pudjo sadel, Mbah Pudjo Gading adalah teman enak untuk diajak berdiskusi dan berbagai ilmu segala macam yang berkaitan dunia onthel.

  4. Salam kenal teman-teman ……

    @ Pak Opoto
    Informasi yang sangat berguna bagi pecinta sepeda toea. Tapi kok tak ada informasi tentang kisaran harga sedel keluaran pak Pudjo.

    @ Pak Heri
    KEBANGGAAN dan HARGA DIRI
    Kata –kata yang teramat berat untuk diucapkan pak, bila kita melihat kondisi bangsa ini. Maaf ini di luar dunia onthel loh pak. Lebih bijak bila kita bersikap sewajarnya….jangan sampai sifat feodal warisan penjajah tetap terpelihara.

    @ Pak Rendra
    Pak, menurut saya semuanya memang telah berlalu. Coba perhatikan saat ini banyak orang asing telah banyak mengambil alih budaya dan seni bangsa ini. Banyak dalang asing bermunculan, seni gamelan pun para bule mau belajar, beberapa seni dan budaya diambang kemusnahan seperti seni Ronggeng Indramayu yang kian tergerus oleh organ tunggal. Batik Purbalingga pun terancam punah, tanpa adanya regenerasi.
    Sementara apa yang dilakukan oleh generasi muda. Mereka lebih suka budaya asing seperti ngedence, dugem, disco, dan lainnya. Mereka lebih kenal Madona ketimbang Waljinah, lebih kenal Superboy ketimbang Gatot kaca. Boro-boro kenal fongers BB, mereka lebih kenal HP BB (Black Bery).
    Apa yang dilakukan pemerintah? Bila seni budaya Indonesia diambil bangsa lain baru tergopoh-gopoh bak kebakaran jenggot. Sungguh ironis…….

    • Bang Cimplek Cikluit :-) salam kenal juga.

      Iya ya. Setahu saya Mbah Pudjo hanya membagi tingkat keseriusan penanganan sadel yang meliputi kualitas kulit, kualitas rangka, dan orisinalitas desain sadelnya ke dalam 3 tingkatan: kelas ringan, sedang, dan berat. Ketika saya sampaikan kalau saya ingin punya sadel dengan dua kawat rangka untuk sepeda Fongers dames, itu termasuk kelas apa? Mbah Pudjo langsung menjawab: beraaat! Hehe… Dan itu pasti di atas kelas sedang. Mungkin 400rb ke atas. Itu pun kalau Mbah Pudjo sudah nemu rangkanya. Ah, tapi kira-kira kan masih harga (onthelis) Jogja :-)

      Kehormatan juga sekarang siap dijual lho Bang Cimplek. Mereka biasanya menjajakannya dengan mendesah dan berbisik: “kehormatan Mas, kehormatan… berminat?” :D

      Di era global, kontak dengan dunia luar sepertinya tidak dapat dielakkan lagi. Yang diperlukan adalah kesiapan kita untuk menjadi subjek (bukan objek) setiap kali kontak itu terjadi. Konon, Ian Livingstone, yang menggagas games Tomb Raider itu kemarin terpesona pada Borobudur, sampai pengin membuat games dengan latar belakang candi nan megah itu. Kalau itu terjadi, apakah kita akan menyerahkan diri bulat-bulat untuk dieksploitasi semata, atau malah bisa memanfaatkannya sebagai momentum guna memperkenalkan kekayaan budaya kita? Sekali lagi itu bergantung pada kesiapan kita.

  5. Pak Nur, mbah Pudjo cuma terima reparasi atau produksi sadel baru juga?

    • Mas Heru, lebaran ke mana?

      Selain mereparasi berbagai kasus kerusakan sadel sepeda onthel, Mbah Pudjo hanya menyetel sadel dengan bahan rangka yang dia punya. Apakah itu termasuk memproduksi? Di Jogja ada beberapa spesialis sadel. Mbah Pudjo termasuk yang cukup serius. Artinya, yang siap menggaransi keawetan dan kesesuaiannya.

      • Lebaran di jakarta aja pak nur, gak jadi pulang kampung
        berarti reparasi dan semiproduksi ya he he he (mboh istilah yg tepat apa ini..he he he)

        kalo ada acara onthel, kayaknya seru juga kalo mengundang mbah Pudjo untuk mendemokan keahliannya…biar onthelis ngerti bagaimana proses pengerjaan bikin sadel termasuk cara perawatannya…

        titip salam utk mbah Pudjo :D :D

      • wongeres OPOTO

        Wah, ide cemerlang itu Mas. Untuk pemasangan kulit baru biasanya cukup dicelupin air dulu. Lalu untuk kulit bekas dan berusia tua, sebelum dibentuk ulang harus direndem dulu barang seminggu-dua minggu. Artinya, Mas Heru mesti siapin tenda-tenda buat nginep sampai demonya kelar! Haha…

  6. @ salam Kenal bang Cimplek Neo…hehehe.. memang betul semua telah berlalu… semua telah tergadai..tapi tetap belum selesai..alias masih ada harapan. dunia yg sepertinya tanpa batas lagi dalam pergaulann memang sering membuat kerancuan yg menyesatkan dan bahkan membingungkan, budaya siapa menjadi budaya siapa,milik siapa kini milik siapa,karya siapa dan sebentar lagi jadi karya siapa , krn dengan sedikt merubah bentukpun seseorg menjadi boleh mengaku berhak atas sesuatu yg mirip dgn hak org lain sebelumnya.. nah ini tentu yg bikin pusing. Setuju dengan pendapat Gus Wong diatas kayaknya yg lebih penting sat ini adalah menyiapkan diri sehebat munkin agar tetap bisa jadi “pemain”, bukan menjadi yg ” dipermainkan”… wah ruwet iki.hihihi.. tapi bagaimanapun spirit bang Cimplek utk “menggetuni” fenomena yg terjadi sat ini tetap masih diperlukan, terutama dlm upaya mempertahankan diri supaya tetap dpt menjadi “pemain” ..salam
    @mas WC piye kabare to…

  7. @ Mas Wongers,
    Ada juga yg bilang ada maestro sadel di daerah Bantul…
    Oh ya, selamat, akhirnya G1 jadi tambahan koleksi masterpiece di museum onthel POTORONO…. kapan diliput mas?

  8. @Bang Cimplek, salam kenal bang….yang kami maksudkan disini KEBANGGAAN dan HARGA DIRI adalah : kami benar benar merasa BANGGA bisa bersepeda memakai sepeda onthel tua yg juga sadelnya masih orisinil tua ( tdk seperti sadel spd jaman sekarang yg muaaaahal dan belum tentu nyaman bagi kami)……, nah tentang HARGA DIRI, saya pribadi tidah merasa RENDAH walaupun ngonthel dg sepeda yg jelek, karatan dan sadelnya robek robek (yg dianggap mereka yg belum tahu spd onthel sepertinya : menjijikan memalukan dan gengsi…..nora dll.) ….gitu lho Bang Cimplek dan dg kerendahan hati kami mohon kpd panjenengan mengenai pernyataan saya JANGAN dilihat dari “diluar
    dunia onthel” ………matur nuwun, mohon maaf njih…….mari kita akrabi onthel dengan CINTA….seperti ngendikane Pak De Wongeres pada waktu pertemuan dg kerabat Podjok disebuah Benteng di Jogya….sekali lagi…..mohon maaf……

  9. @ms Wong…..julukanku kok “kalahan ” banget to…teganya…teganya…teganya… bukankah Alap alap jalatunda asistene Tohpati Macan Kepatihan selalu kalah kalau bertempur…bahkan sama Agung Sedayu saat masih culun aja kalah je… dalam pada itu mendingan jadi Ki Sumangkar mas… agak menangan dikit..hihihi

  10. @mas Durti cimplek neo..apa kabar…hahaha

  11. heri agusti DeFOC

    Ha Ha Ha Ha…….buat Den Mas Rendra mendingan dijuluki Swandaru Geni aja Pak De……….cocok, si raja makan nan gagah perkasa……nggak kalah seperti Elang Perkasa membelah kali code…..he he he he……lah Untara (Mas Erwin) kemana sekarang kok nggak pernah kelihatan …..udah bosan ngonthel yah?

    • Wah, lha Pak Rendra itu kalau soal makan sudah nggak nanya apa menunya, tapi apa merek sepedanya, seberapa langka, dan seberapa istimewa kondisinya. Makanya ya kembali ke julukan lama tadi. Hehe…

  12. @
    “Kesiapan kita sebagai subjek bukan objek”, kata bang Opoto
    Atau “mempersiapkan diri sebagai pemain bukan yang dipermainkan” imbuh bang Rendra

    Abang2 ku, apakah selama ini kita merasa siap? Ataukah apakah selama ini kita meresa sebagai pemain? Sudah banyak bukti-bukti jika kita ini belum siap loh bang Opoto. Kita ini masih saja dipermainkan loh bang Rendra. Tentunya hal ini masih bersifat debatable (masih bisa diperdebatkan).

    Bang Rendra siapa ya mas Durti itu, saya tak kenal, hahahahahaa…..

    @ Abang Heri
    Nah ini perbedaan antara ngonthel sebagai gaya hidup (life style) dengan ngonthel sebagai penyambung hidup (ojek onthel).
    Mereka (ojek onthel) yang kebanyakan orang yang mengalami himpitan ekonomi yang teramat berat, bangga karena dapat membantu orang lain sampai ketujuan. Mereka juga punya harga diri karena dalam mencari nafkah tidak merugikan orang lain (berbuat kriminal misalnya).
    Sedangkan ngonthel sebagai gaya hidup, silahkan bang Heri tafsirkan sendiri. Yang jadi pertanyaan saya disini bang Heri, apakah memang benar sepeda onthel yang digunakan betul menjijikan, memalukan, atau norak. Bukan kebalikannya bang Heri, onthelnya bagus, mahal, maupun langka meskipun terlihat karatan, kotor, dan lain-lain. Ini juga debatable loh bang
    Alangkah baiknya kita ini bersikap wajar dan tetap rendah hati bang Heri. Maaf bila ada kata yang kurang berkenan…..

    “Kerendahan hati adalah lawan dari kesombongan, kesombongan adalah pantangan bagi pemimpin maupun siapa saja”

  13. kalau saya ngonthel karena ingin bersenang-senang dan ingin sehat. itu saja. sing penting tertib…

  14. heri agusti - DeFOC

    hualah….Bang Cimplek nih saya jadi semakin bingung menyikapi “testimoni” panjenengan, kalau saya sebenarnya dari dulu s/d sekarang bersikap rendah hati ( yg sejatinya memang saya orang rendahan), dan memang sikap” sombong” tetap saya berusaha menjauhi , adapun sikap “nyombong” (sombong bohong bohongan ) hanyalah karena saya memang seorang “anak TK” yg baru belajar tentang onthel……jadi saya sangat berterima kasih sekali atas “wejangan” Bang Cimplek…..Tentang sepeda yg saya punya baru 50 sepeda ( 4 diantaranya Gazele) ,itupun baru sepeda murahan , dan insya Alloh saya akan tetap rendah hati spt nasihat abang…………….By the way………Bang Cimplek…..tentang Batik Purbalingga apakah keberadaannya : memang ada? Krn kebetulan saya juga orang dari daerah sono (ngulon dikit lah), yg saya tahu ada batik Banyumas…..apakah Batik Purbalingga juga termasuk bagian dari Batik Banyumas….tentunya yg perlu dilestarikan?

  15. Wah, berarti kata kuncinya adalah:
    kesiapan – menjadi subjek/pemain – kerendahhatian.

    Dalam kasus kontak dengan negara tetangga, misalnya. Apakah sebaiknya kita menunggu untuk siap dulu, baru jawab? Terus, kalau sudah terjadi kontak, apakah sebaiknya kita jadi subjek dengan resiko terkesan ‘pede atau bahkan agak sombong’ atau sebaiknya tetap mengutamakan sikap rendah hati dengan resiko dicibir dan makin dipermainkan di muka internasional, hayo? Haha…

  16. Akhirnya, ……. sriwing-sriwing kemrungu panglompatane Kidang Mas ing kiwo tengene uwit-witan ing alas kang isih gung liwang-liwung kebak sato kewan, jalma teka jalma pati.

  17. heri agusti - DeFOC

    @Pak De Wongeres,………memang kami masih perlu ingat pitutur dari Bapak Soeharto (Mantan Presiden RI, alm.) yang diantaranya : sugih tanpa banda, nglurug tanpa bala, dan menang tanpa ngasorake………….piye iki?……mestinya kami harus bisa……..semoga……ga ga ga ga ga

  18. Waaah kok jadi bingung bang, yaa udaah saja, pokoknya kita tetap onthelis walaupun beda pendapat. Sekaligus saya mengkritik abangku Heri dan abangku Rendra. Kok bisa-bisanya putra tlatah Banyumasan tak kenal daerahnya.
    Tentang batik tulis khas Purbalingga coba saja jalan-jalan ke desa Dagan, desa Limbasari, desa Majapura, desa Karang Tahu, Kecamatan Bojongsari. Sayangnya pamor batik ini kian meredup seiring dengan makin berjibunnya fashion modern, dan juga batik ini tak digarap secara profesional. Selain itu regenerasinya pun tak ada, pelaku batik tulis khas purbalingga ini didominasi wanita lanjut usia. Sementara generasi muda sebagai pewaris budaya tak mau menekuni warisan adiluhung ini.
    Makanya Abangku Heri dan abangku Rendra sebagai putra asli banyumasan sesekali tengok dong tlatah Banyumasan. Di kawasan ini sebenarnya banyak maestro penjaga kelestarian budaya adiluhung kita. Sayangnya semua ini tak terekpose ke luar atau kitanya ini yang tak peduli. Tahunya hanya tlatah Jogja dan sekitarnya. Ironis tidak yaaaa…hehehehee

    Begini abang2 ku, saya pernah ngobrol dengan seorang pengusaha properti. Beliu seorang keturunan China tapi sangat peduli dengan kebudayaan bangsa ini. Beliu sering megajak putra-putranya jalan-jalan ke berbagai daerah di Indonesia. Satu tujuan pengusaha ini agar putra-putranya lebih mengenal seni dan budaya serta karakter warga daerah yang dikunjungi, sehingga bila kelak mereka besar dapat menghargai budaya bangsanya. Coba bandingkan dengan kita bang, boro-boro anak-anak mau berkunjung ke musium mendingan ke mal. Jangankan mau belajar budaya sendiri mendingan dugem di diskotik…..abang2 ku apakah ini dibilang kita siap, apakah ini dibilang kita pemain. Jangan-jangan kita jadi korban kesiapan dan permainan itu. Silahkan interpretasikan sendiri…..

  19. Beda pendapat dan tetap berkenan menyampaikan itulah yang akan membuat kita maju dan ‘hidup’, Bang Cikluit. Makanya senang sekali kalau blog angkringan ini jadi gayeng karena ada banyak pemikiran. Tetapi, menurut saya kok sejauh ini persepsi kita tentang persentuhan dengan dunia luar itu masih sama. Intinya kan, kita perlu menumbuhkan rasa handarbeni (memiliki) agar juga mau hangrungkebi dalam rangka melindungi milik kita ini. Dan itu harus disiapkan dari sekarang (mestinya malah dari kemarin dulu). Soalnya, pilihan ketiga setelah menjadi subjek atau objek adalah: punah! :-(

    Batik Purbalingga? Cerita dong, Bang. Motifnya seperti apa, semangat/warnanya bagaimana. Siapa tahu kita jadi tertarik untuk menambahkan koleksi batik kita, biar nggak monoton. Sayang jaraknya terlalu jauh untuk dijangkau oleh onthel para Opoters…

  20. heri agusti DeFOC

    @buat sedulur sedulurku semua, pitutur dari Mbah Soeharto referensinya saya dapatkan dari buku berjudul INSTROPEKSI yg ditulis oleh Jendral (Purn.) Harseno, mantan ajudan beliau………isinya memang mirip/sama dg pitutur pitutur lisan yg pernah saya dengar dari eyang eyang yg kini telah tiada……..nJawani tenan……menurut diriku lho…..he he he he he

  21. Wah, angkringannya akan tambah rame kalau Pak Sahid bersedia berbagi cerita tentang pengalaman beliau menjadi Baron Scheber di panggung ketoprak Humor kemarin. Meskipun usianya masih muda, kethoprak kan budaya kita juga, jadi perlu dijaga keberadaannya… Bagaimana, Pak Sahid?

  22. @hehehe mas Cimplek atau mas Durti ,rasanya sy sih belum pernah bilang kalau saya tdk tau ada batik Purbalinggaan alias Braling… bahkan batik Bojongsari yg memang hampir punah pernah diulas tuntas di Kompas thn lalu ( sy lupa tgl), bahkan pula di JCC awal taun ini ada pameran kerajinan nasional dan batik Banyumasan termasuk yg dari Bojongsari dapat dua stand yg cukup rame… jadi Insyaallah sy sih sebagai anak kelahiran banyumas msh cukup kenal dengan hal2 yg berbau Banyumas.. ( mskpn sy juga salut angkat jempol dengan putra mantu wong Braling yg telah cukup memahami budaya khas Braling…hehehe),namun menurut sy sih kita tdk boleh “merem” thd budaya dan nilai2 positip yg ada di daerah lain… Indonesia kan sangat luas dan kaya.. mungkin sekedar utk tau budaya dan tata nilai yg ada di Nusantarapun seumur hidup gak bakal cukup apalagi kalau hrs memahami… wah sampai trondol juga angel…hehehe…
    oke mas Cimplek ,matur nuwun kritiknya, insyaallah akan sangat bermanfaat buat saya khususnya dan kita semua, mari kita saling asah dan asih agar hati kit lebih landhep… jangan bosan bosan mengkritik yo mas..krn itu menunjukan adanya kepedulian dan persahabatan…
    Oya.. mas Baron Skeber kok belum ndongeng nih pementasannya yg di FE UGM kemarin..kemana ya beliau.. padahal di FB cukup ramai ft2 nya, bahkan ide ketoprak Onthel katanya akan segera di gelar tinggal menunggu naskah dan penyutradaraan dr mas Wong OPOTO katanya…hehehe..

  23. Mas : lakon Bedahing Alas Wedi sampun purna. Tawanan Londo Jerman ingkang nami Tuan Goricke utawi Solingen ? sampun kecepeng lan dipun boyong ngilen ngadep tuan Gupernemen.
    Omong-omong soal batik Banyumasan, Kutoarjan, Purworejan, Kebumen ada kemiripan motifnya dan cenderung motif Mataram lawas dengan warna gelap. Bahkan ada motif yang sangat langka motif Diponegaran yang berkembang saat Java Oorlog (Perang Jawa) sekarang motif ini masih bisa di cari di Pasar Kutoarjo dan Purworejo. Sangat langka. Sumangga dipun onceki

    • wah menarik itu batik khas kota kecil yang batik kurang muncul. kalau ada achlinya, kapan2 kita hunting, saya mau ikut, asalkan pas selo. ora mesti tuku siiih.. paling tidak lihat barangnya.

      • wongeres OPOTO

        Ya paling tidak beli seukuran iket kepala, ada? Diponegaran, motifnya gambar apa ya? Minggu aja, trus mampir Kutoarjo dulu. Siapa tahu nyandhung porok pfg. Tapi Mas Aat ngajaknya pasti malem ya? :D

  24. @ Ternyata bang Rendra tak lupa kampung halaman beserta seluk beluknya. Abang Wongeres soal motif batik khas Purbalingga mungkin bisa tanya bang Rendra….hehehehe. @ Abangku Heri , masih banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Mereka (ojek onthel) ngonthel bermandikan keringat karena himpitan ekonomi. Sedangkan kita bang, ngonthel hanya untuk senang-senang, hobi, kesehatan, dan lainnya. Kita merasa terdongkrak harga diri tatkala onthel kita berpenampilan orisinil, karatan, kotor, lusuh, atau sobek sana sini. Pun kita akan lebih bangga ketika memiliki puluhan onthel keluaran eropa beserta yang kian susah didapat. Bedakan bang, blas ga nyambung kan. Ini cerminan kondisi bangsa kita. Menurut saya, lebih baik kita merasa bangga dan punya harga diri karena mencontohkan cara menghargai alam dengan menggunakan sepeda yang bebas polusi.

  25. Bang Cimplek, ngomong-ngomong, ‘senang’ itu konotasinya beda lho Bang dengan ‘senang-senang’. Lagian, senang, riang, itu juga bagus, bahkan penting. Kalau seorang tukang ojek sepeda sudah nggak senang naik sepeda, bisa-bisa nggerundel terus sepanjang perjalanan. Hehe…

    Saya ingat ketika kakak perempuan saya berniat menjadi guru, Bapak alm saya mendukung sambil mengingatkan: seseorang yang mau mengajar karena menyukai profesi guru itu insya Allah hasilnya akan lebih bagus daripada jika ia mengajar karena keterpaksaan alias tidak ada job lain.

    Maka, mari kita cintai apa pun profesi kita. Insya Allah barokah. Keberartian hidup tidak melulu diukur dari jenis pekerjaan dan ‘stratifikasi sosial’ atau apalah namanya. Bukankah begitu? Saya ingat sewaktu di acara DOC tempo hari, seorang tukang foto sibuk memperhatikan wajah ratusan orang yang lalu-lalang. Di tangannya tergenggam beberapa foto ukuran besar (10R), termasuk foto barengnya Bang Cimplek, Pak Rendra, Mas Heri Agusti, juga Pak Joni Opoto. Raut mukanya sumringah ketika mengenali wajah Pak Joni. Apa lagi setelah Pak Joni membelinya. Sungguh profesi yang menantang. Tapi dia melakukannya dengan senang.

  26. @Bang Cimplek ….hal yg sangat membanggakan bagi saya adalah tatkala saya bisa menaiki sepeda tua saya ( yg keadaannya amburadul)dgn perasaan hati yg senang, dg memakai
    kostum jadul, yang kebanyakan orang belum tentu bisa melakukannya’.Saya nggak berpikir tentang menghargai alam, bebas polusi, sepeda apa yg saya pakai, berapa dan apa saja sepeda yg saya punya .Dan apakah dimata “seseorang” keadaan spt ini berkesan “sombong”? Tidak ada niatan utk bersombong pada diriku Bang Cimplek …..sungguh.
    Dan mengenai saya tidak kenal dg daerah asal saya (pwt) khususnya tentang batik Purbalingga, memang benar adanya, krn setamat SMA th.l970 saya melanjutkan kuliah di Jkt ( 40 thn meninggalkan kampung halaman ) jadi yah ….mohon dimaklumi. Dan saat ini saya sedang nyantrik (menimba ilmu) tentang sepeda kepada pakar pakar sepeda yg menurut saya banyak bermukim di Jogya (kota sepeda. dulu)…….gitu ya Bang ….mohon dimaklumi diriku yg bodoh ini……….nuwun.

    • Hahaha… Mas Heri kena pancingannya Bang Cimplek! Iya tuh, Mas Herinya apes tenan. Lha wong cuma mau ‘menyombongkan’ sepeda jadul dan sadel bodhol saja kok ya diundhat-undhat sampai panjaaang. Sementara sama yang kerjaannya nilep duit rakyat, kita mungkin kalau ketemu malah cium tangan! Hwadoooh!! :D :D

  27. Duh, gara-gara provokasi Bang Cimplek, jadi terpikir kembali tema kesenjangan ini. Sebagai seorang yang serba sedikit mengerti betapa seriusnya efek pengrusakan alam yang bisa terjadi, selama ini saya merasa gemas dengan penebangan hutan secara liar yang dilakukan orang-orang di sekitar hutan. Suatu hari, dengan caranya, seorang teman menunjukkan betapa orang-orang ini tidak punya pilihan lain untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Artinya, mereka lakukan itu demi mempertahankan kelangsungan hidup, bukan demi keserakahan. Pikiran saya lalu tidak lagi hitam-putih dan sesederhana seperti sebelumnya. PR bangsa kita ternyata terlalu banyak. Semua berjalin dan berpilin…. :-(

  28. @ Abangku Wongeres & Abangku Heri
    Hahaha bang Wongeres banget ono-ono wae. Biar gamblang maksud saya, begini ceritanya :
    Saat pulang kampung pas lebaran kemarin, saya selalu ngonthel bila jalan-jalan menikmati suasana alam desa. Lalu ada seorang ibu bertanya “Mas masih senang naik sepeda kenapa tak naik motor seperti yang lainnya. Mas sepedanya kok sudah karatan tur wis ireng, po ra isin, wong kota kok pite koyo ngono”, berkesan menyindir
    Jawab saya, “Bu selain sehat, saya tak mau menambah lagi polusi yang mencemari udara di desa ibu bila saya pakai motor. Saya mau mencontoh kan agar anak-anak muda terlebih anak SMA agar tak gengsi bersepeda saat ke sekolah, agar anak ibu atau yang lain tak merengek-rengek minta dibelikan motor”. Kesannya bangga yang elegan gitu lohh bang
    Coba bila saya menjawa, “Bu saya bangga bisa naik sepeda yang langka dan tua loh, biar karatan karo ireng, amburadul maning tapi banyak dicari orang. Bu saya masih punya beberapa sepeda tua lainnya yang belum tentu ibu dengan mudah mendapatkannya”. Nah ini yang berkesan bangga arogan…..
    Bang Heri ini hanya obrolan angkringan jangan sampai disimpan di onthel panjenengan yaaa, hehehe.
    Bang Wongeres, begitulah jadinya bila pejabat-pejabat kita memiliki mental yang korup dan tamak. Jangan heran bang, bila pengrusakan hutan kian menjadi-jadi.

  29. boleh nimbrung dikit nggih.
    selama saya ngangkring di sini, kok saya tidak merasa ada yang nyombong ya. karena saya tau ini adalah angkringan pecinta onthel, sehingga bahasannya tentang onthel yang lebih advance dibanding obrolan di angkringan sebelah. semua yang mengangkat kelebihan onthel yang dimiliki sendiri atau orang lain saya anggap pembelajaran buat bersama. bukan untuk nyombong.
    jangan2, saya yang terlalu pemula dan naif ya….

  30. @ Abang Aat

    Abang Aat tak ada maksud saya mengatakan ada yang congkak apalagi menuduhnya. Maksud saya agar obrolan angkringan ini tambah gayeng dan tidak mboseni, atau datar-datar saja. Itu pun disesuaikan dengan tema yang sedang diobrolkan. Contohnya, bang Rendra mengangkat “semuanya telah berlalu” kemudian saya angkat tentang tergerusnya budaya kita seperti batik purbalingga. Kemudian bang Heri mengangkat rasa banggga dan harga diri, Lalu saya kaitkan dengan kebanggaan antara ojek onthel dan onthelis. Oh nyatanya beda, juga kebanggaan bang Heri naik onthel dengan kebanggan saya naik onthel beda juga. Mungkin beda juga dengan bang Wongeres, bang Aat, atau lainnya. Lalu bagaimana bila kata kebanggaan dan harga diri itu dikaitkan dengan kondisi bangsa ini. Tema yang di usung bang Wongeres seperti sadel mbah juga bisa diperdalam seperti bagaimana dengan harganya, apa saja jenis atau kelasnya, sadel ini cocok sepeda yang seperti apa, bagaimana keunggulannya dan perawatannya. Lalu bang Wongeres mengangkat tema kerusakan alam dan penebangan hutan. Ini pun bisa kita telusuri mengapa orang banyak menebang hutan karena ingin mempertahankan hidup, apa faktornya. Atau juga kita lihat dari sisi penataan ruang yang buruk sehingga berdampak bagi kehidupan sosial, ekonomi, lingkungan, prasarana, dan pemerintahan.

    Begitu juga bang Bagusmajenun yang mengatakan “mbah pudjo sadel adalah teman enak untuk diajak berdiskusi dan berbagi ilmu tentang onthel”. Sebenarnya bisa diobrolkan mengapa mbah Pudjo enak diajak diskusi tentang onthel. Kenapa profesi reparasi sadel hanya ditekuni orang yang sudah tua seperti mbah Pudjo, bagaimana regenerasinya. Kemudian bang Bagusmajenun juga menyinggung soal Goricke dan Solingen yang notabene sepeda Jerman bisa kita obrolkan apa saja sih keunggulan sepeda Jerman, bagaimana sejarahnya. Lalu ada kata-kata “Sing penting tertib” bisa kita obrolkan apakah selama ini kita ngonthel rame-rame di jalan raya menggangu penggunaan jalan lainnya. Bagaimana keadaan jalur khusus sepeda di jogja yang kelihatan sepi sepeda hanya sepeda motor yang berseliweran, atau yang lain-lainnya.

    Jadi obrolan kita tak hanya onthel melulu bang. Terkadang kita ngobrol onthel yang dibalut dengan budaya, sejarah, wisata kuliner, alam desa,sosial, patriotisme atau kepahlawanan, dan lain-lain. Bisa juga piurrrr onthel. “Yang penting tak keluar pakem yaitu dunia onthel dan tetekbengeknya”. Waaah sok tahu, padahal ga tahu apa-apa, naïf ga yaa saya ini, hehehhee. Kata naïf juga bisa kita jadikan bahan obrolan loh…, maafkan saya bila terkadang obrolan saya kurang berkenan

  31. Ada Bang Cimplek…maka muncul juga Kang Watavus…dan nanti menyusul Cak Kazelle… Pokoknya sekarang kalau ada urusan apa saja…harus pakai semboyan 3P = Profit, People & Planet…kita jangan cuma cari “untung”, tapi juga kudu memanusiakan “orang” dan jaga kelestarian “lingkungan hidup”. Piye setuju?

    • Hwaduh, lha ini nanti sama Bang Cimplek topiknya bisa dibawa ke Good Corporate Onthelnement segala. Haha… Wis, pokoke memayu hayuning bawono. Lha Mas Bhoenix-nya mana ini? :D

  32. waduh mau koment takut tak nyambung, pokoknya semua membuat persaudaraan makin nyaman ikut saja.

  33. saya ikut /nderek saja yang penting kita tetap rukun dan happy . untuk info mas Erwin ga pernah nongol dikarenakan beliau lagi di rmh sakit sudah 3hari ini karna panas mungkin terkena DB. termasuk anaknya juga . moga cepat sembuh ya mas .(beliau dan keluarganya sekarang ada di rumah sakit Angkatan Udara ) BLOK. O

    • Mas Tono, menghadapi kejelian teman-teman semacam Bang Cimplek, kita mesti hati-hati lho kalau menggunakan istilah. Kalau keseringan pakai istilah happy takutnya dipanggil Mister h***y. Hehe… gaswat.

      Saya terlambat memantau keberadaan Mas Erwin. Semoga dia nggak betah di RS. Moga-moga cepat sembuh agar bisa segera kita paksa pulang :D

  34. @Mas Tono….saya ikut mendoakan semoga Mas Erwin (dan putranya) cepat sembuh dari sakitnya, shg saya akan bisa melihat lagi (tentunya melalui blog OPOTO,krn saya belum sempat ketemu tatap muka)Mas
    Erwin turut ngontel bebarengan bersama keluarga besar OPOTO……saya melihat Mas Erwin seperti sosok Untara dlm Api Dibukit Menoreh atau Jaka Soka dalam Nagasasra Sabuk Intennya SH Mintarja yg yg kalau lagi bertempur jarang kalah…….kalahnya cuman sama Rara Wilis…..jangan spt Den Mas Rendra yg didapuk (oleh Pak De Wongeres) menjadi “wong sing kalahan terus)…….ha ha ha ha …..nyuwun ngapunten sedikit bernostalgia
    dg bacaan favorit saya waktu nayorono dulu…..sekali lagi salam saya buat Mas Erwin, semoga lekas sembuh…….nuwun.

  35. @ ikut mendoakan semoga Mas Erwin dan klg yg tengah sakit segera diangkat penyakitnya…shg dpt ikut “ngonthel lagi di blog ini…
    @ bang Cimplek juru warto… sy kebetulan lg di semarang..kemarin sore di pinggir jalanan depan hotel tempat menginap ,sy ngobrol dgn seorang kakek pemungut/pemulung botol minuman kemasan yg bertaburan diseputaran simpang lima, beliau memakai sepeda jengki merk simking yg sangat terawat, diboncengannya kiri dan kanan tergantung dua karung goni berisi ” buruannya” hari itu… teryata beliau mengaku meimiliki sepeda simking itu sejak thn 74 dan dirawat dengan sangat baik dan penuh cinta sampai hari ini, tyerbukti dari warna birunya yg masih sangat terang dan kroomnyapun masih sangat layak…. beliau mengaku sangat bangga dengan sepedanya… dan bahkan bangga dengan profesinya yg sekarang yg katanya selain dpt menyambung hidupnya juga merasa berperan membersihkan sampah plastik di sekitar simpang lima…. nah cerita simpel ini menurut sy juga berisi tentang ” kebanggaan” dan kesetiaan thd sepeda dan profesinya yg kelihatannya sangat disyukuri dan dinikmati oleh sang kakek…. dan saya jadi inget nasihat ayahanda mas Wongeres terhadap putrinya… salam

  36. Wah ,,,Den Mas Rendra lagi di Semarang njih ? Kalau di daerah Semarang janganlah Den Mas berburu onthel, soale daerah Semarang udah pernah menjadi “ladang perburuan onthel” itu piyayi dari Kudus atau Rembang dan bukanlah disini memang daerah “jajahan” beliau “njajah deso milang kota”?
    Wis to pokoke yang namanya onthel lawas di Semarang paling paling tinggal sisa sisa laskar Pajang”””’………….selamat dan sukses buat Den Mas Rendra……ngonthel ra ngonthel…..mangan…he he he he

  37. Kalau kebetulan ada yang terkena DB, kalau percaya khasiat obat china, bisa menggunakan sebagai berikut:
    - Pin Tze Huang untuk mengobati peradangan
    - Tan Kwe Gin untuk tambah darah

    Pin Tze Huang dijual dalam bentuk paket dosisnya menyesuaikan umu pasien.
    Semoga bermanfaat. Nuwun.

  38. Mas Nur, kurang lebih 2 (dua) bulan yang lalu saya juga kerumahnya Mbah Pudjo, di dalam rumah banyak koleksi Sepeda, diantaranya Simplex, Gazelle Jengki, Fongres Gapit, Humber, Buergres dll. kok gak pada ditampilkan. Matur nuwun

  39. Wah, benar Mas. Ada 5 sepeda kesayangan Mbah Pudjo (tepatnya Gazelle jengki, Fongers gapit, Simplex Cycloide belum komplit, Gazelle seri 9, dan kalau tidak salah Gazelle entah seri berapa), tapi nggak boleh dibeli. Sesuai janji, saya hanya punya lisensi untuk bercerita tentang sadelnya, sedangkan 5 sepeda itu sama sekali tidak boleh dirembug! Haha…

  40. Untung aku sempat dikasih lihat 2 Gazelle seri 9 dan 11 ukuran 24 milik Mbah Pudjo yang disimpan di kamarnya. Saya diperbolehkan pegang dan ngelapi. Tidak ada yang pernah tahu kapan 2 sepeda itu di keluarkan hanya sekesar di isis atau diangin-anginkan. Itu termasuk pusaka.

  41. wah…ini lagi. onthel sebagai pusaka… kategori baru yang baru saya ketahui.

  42. Waaah ini ada hal yang bisa diprovokasi.
    Sory bang Heri, abang saya provokasi lagi tentang “Pitutur Bapak Suharto”
    - Apakah masih relevan dengan keadaan sekarang (orde reformasi).
    - Jadi cocok dong dengan jiwa abang.
    - Apakah abang bisa di bilang orangnya Suharto, belum tentukan.
    - Apakah abang tergolong onthelis yang KKN (Kono Kene Ngonthel).
    Abang-abang sekalian, juga ada hal yang saya provokasi yaitu “onthel sebagai pusaka”
    Singkat saja, sangat panjang jika dijelaskan
    Bila onthel dianggap sebagai pusaka akan muncul :
    - Klenik berujung jamasan.
    - Sakral/Kramat/wingit berujung pencurian, penipuan dan rekayasa onthel.
    - Gaya hidup berujung klangenan, harga jadi mahal, dan perburuan.
    - Latah berujung ikut-ikutan.
    Maaf bila ada yang kurang berkenan. Ditunggu komennya dan jangan takut komen.
    Hoooiiiii abang Rendra, onthel abang ada yang jadi pusaka tidaaaaaak…..hihihiihhiii.

  43. heri agusti - DeFOC

    @Bang Cimplek yg saya hormati, yang saya sayangi………sebaiknya abang jangan menjadi “provokator” , soalnya konotasi provokator menimbulkan image yg negatif pada jaman sekarang lho bang. Terus mengenai ungkapan “Jadi cocok dong dengan jiwa abang “, tidak usahlah abang menilai jiwa saya, kalau abang merasa belum menjadi “ahli jiwa” ………….maaf ya bang, karena saya ikut nimbrung dalam blog ini tujuan saya hanyalah ingin menambah wawasan tentang onthel dan ingin menambah paseduluran, tentunya kalaupun abang punya niatan seperti saya, sebaiknya janganlah menambah “tidak enak hati ” pada diri saya.
    Ingat : hablum minnanas haruslah dengan CARA, sekali lagi CARA yang enak atau mengenakkan perasaan orang lain…………nuwun.

  44. Bang Cimplek dan Mas Heri, saya ada cerita lucu. Ini sungguh terjadi pada teman saya. Suatu hari, teman saya naik sepeda motor membawa sebuah gendang untuk melengkapi perkusi. Di traffic light motornya mogok. Setelah agak menepi, sambil memeluk gendang, ia terus menstarter motornya. Tapi, sampai lampu hijau menyala pun motornya masih ngadat. Di belakangnya, sebuah mobil terus-menerus membunyikan klakson. Tiba-tiba teman saya menaruh gendangnya di trotoar, lalu ia berjalan mendatangi sopir mobil tadi. Dia ketuk jendela, lalu ketika jendela terbuka, ia pun bilang: “(Saiki gantian, Mas: Sampeyan sing nyelah, aku sing nglakson! (sekarang gantian, Mas: kamu yang menstarter, saya yang membunyikan klakson!)”. Si Mas yang sempat tegang jadi terkejut, tapi lalu tersipu.

    Lewat teguran konyol itu ternyata teman saya berhasil mengoreksi sebuah sikap yang sebenarnya jauh lebih konyol, tetapi sekarang lazim dilakukan. Motor mogok itu bukan kemauan teman saya. Ia pun berusaha keras untuk menyalakan mesin motornya. Kalau saja Si Mas tadi mau turun dan membantu mendorong, barangkali masalah akan selesai. Tapi ia bisanya cuma mengklakson yang malah hanya menambah kepanikan. Ia menikmati perasaan bersalah orang lain tanpa mau memberi solusi.

    Nah, tapi ini juga jangan pada marah lho ya. Sambil bercanda kita juga bisa belajar dari kisah konyol ini. Pendek kata, kita bertukar posisi sewaktu-waktu. Siapa yang bikin statement, siapa pula yang mengkritik. Kalau hanya mengkritik, tentu semua bisa, kan? Hehe… Pis dong ah!

  45. @ lah mas wong jangan buka kartu dong jadi isin aku…… wong yg bawa kendang dan motore mogok itu saya je mas….sementara yg main klakson sak enake dewe saat itu aku kenal banget orangnya…. krn dia juga saya mas…heheheh…
    sungguh cerita yg segar … apalagi kalau kita rajin minum jamu….lho..opo hubungane….!!!

    • Lho. Jangan-jangan cerita ini biasa dibawakan tukang jamu ya? Haha… tambah nggladrah!

      Tapi bener, lho. Masih dalam suasana bulan Syawal, biar gojegan ini tidak kontraproduktif, ayo diperkaya angle-nya. Jangan monoton. Bertukar peran, berbagi pengalaman, tanpa pretensi lain selain menghidupkan dan menghangatkan tali silaturahmi. Saya pribadi sekali lagi mohon maaf jika selama ini dalam membawa diri saya sempat membuat teman semua kurang berkenan….

  46. Mas Noer ini cerita lucu, tapi mengajarkan kita untuk tetap urip sing tepa-tepa alias tepa selira. Tidak sumangkean, jumawa adigang- adigung adiguna tapi bukan Sutowo

  47. @ Pak Noer, Pak Rendra, pak Heri, Pak Tono, Bung Max,s dan lain-lain

    Sebenarnya tak ada maksud saya untuk membuat kegaduhan, ini sebenarnya hanya job-job obrolan dan kebetulan pak Heri mengangkat tentang pak Harto dan buku INSTROPEKSI yang dtulis pak Harseno. Ini menurut saya menarik untuk dibedah, tapi kok ditanggapi pak Heri dengan serius.

    Saya jadi takut nih, jangan-jangan pak Noer, pak Redra, pak Tono, dan lainnya bila diudet-udet obrolannya (statement) jadi emosi alias nesu. Wahhh gawat nihhh, padahal ini hanya trik-trik agar obrolan tambah gayeng dan diskusi bisa jalan dan nyambung.

    Berikut contoh pengalaman yang saya dapat.
    Saya pernah ngobrol seorang manager pemasaran sebuah real estate dikawasan Tangerang.
    Begini ceritanya :

    Si manager :
    “Bang Cimplek, perumahan berkelas real estate ini sangat mudah dijangkau dari Jakarta hanya butuh 10 hingga 15 menit, karena banyak aksesnya. Selain itu, perumahan kami banyak fasilitas yang memadai yang memudahkan penghuni untuk beraktivitas”. Si manager bercerita muluk-muluk. Padahal menurut pantauan saya perumahan ini tergolong jauh dan belum selesai seluruhnya.
    Lalu saya tanya : “ Pak Jakarta kan macet, apalagi perumahan ini terbilang jauh kok bisa hanya ditempuh 10 menit. Apalagi tak ada akses jalan tol tambah lama dong bila ke Jakarta. Kasihan konsumen bila tak sesuai dengan kenyataan”.
    Si manager pun marah dengan nada sinis dia menjawab :
    “Anda ini mau wawancara atau investigasi”. Waaah gawat nih

    Contoh lainnya dengan seorang direktur pemasaran sebuah apartemen dikawasan Jakarta Utara.
    Si direktur :
    “Pak Cimplek, apartemen ini berkelas lho dan lokasinya sangat strategis, dan bebas banjir. Fasilitasnya pun bintang lima”.
    Saya tanya : “loh apartemen ini kan kelas menengah, unit-unit apartemenya pun tipenya kecil-kecil. Apa benar kelas bintang lima”.
    Ternyata si direktur tak marah, sambil tersenyum ia menjawab : “hahahaa, pak cimplek ini kan strategi pemasaran. Bagaimana cara yang kita lakukan agar konsumen tertarik. Si direktur pun bercerita tentang ilmu marketing properti pada saya….Wowwww.
    Memang butuh kearifan dalam menjawab persoalan. Bila emosi yang dikedepankan, ia akan menutup akal, nurani, debat, bahkan demokrasi.

    Bapak Noer bila job-job obrolan yang saya lontarkan mengganggu persatuan, paseduluran, tak mengenakan hati, sok tahu, sok adigang adigung adiguna, semangkean, dan kerjanya hanya mengkritik. “Saya sebagai anak muda yang baru kenal sedikit onthel dan onthelisnya siap undur diri dari blog ini….”

  48. Memang sebaiknya kalau mau nimbrung di sebuah Blog, ibarat seni musik, kita harus ikuti aliran musik yang sudah ada. Atmosfir diskusi yang berkembang di Blog Opoto ini sebetulnya mirip-mirip musik Karawitan Jawa, jadi kalau terus dicampur dengan gaya Hip Hop atau Rap memang jadi terdengar tidak harmoni. ..he..he..he..

    Gaya diskusi di Opoto selama ini bermodel “nyamleng” atau “nglaras”, semua mengalir santai tanpa prasangka, jadi nggak bisa terus dimodel gaya diskusi ilmiah yang cenderung tajam dan beradu argumen untuk mencari siapa yang paling benar secara relatif. Wis pokoke sluman…slumun…slamet…ngluruk tanpa bala…menang tanpa ngasorake…

  49. Lha. Rak tenan. Bisa-bisa malah Bang Cimplek nih yang potensial jadi mutung. Hayo, ngaku! :D Padahal saya baru usul gantian posisi. Belum sampai gantian beneran. Emang enak, nyetarter motor sambil meluk gendang? Masih diklakson2 lagi. Hehe…

    Lha padahal saya setuju banget kata-kata Mas Cimplek: Butuh kearifan dalam menjawab persoalan. Bila emosi yang dikedepankan, ia akan menutup akal, nurani, debat, bahkan demokrasi. Ayo dong, buktikan. Bareng-bareng belajar arif. Bukan malah antikritik dan mutung! Haha… (guyon lho Mas).

    Tapi, setuju juga bahwa secemerlang apa pun sebuah kritik, ia butuh saat dan cara yang tepat untuk menyampaikan. Jika tidak, akan kontraproduktif. Sayang, kan? Padahal jelas sudah bahwa niatan kita semua ini baik: mengakrabkan silaturahmi dan menghidupkan pikir. Makanya, sebaiknya kita tambahkan juga: mengasah rasa.

    Kalau saya perhatikan, yang biasa kita lakukan di angkringan ini kan melempar opini. Sasarannya ya umum. Siapa saja bisa merasa tergelitik, tersipu, sokur lalu mau mengoreksi diri. Kalau kritik kan rasanya lebih tertuju pada seseorang. Itu pun –meskipun setiap orang boleh menggunakan hak jawab– semestinya tetap mempertimbangkan asas praduga tak bersalah. Kritik tidak sama dengan penghakiman. Sistem pembuktian terbalik itu apakah demokratis? Sorry lho, kalau saya ambil contoh ringan: misalnya kita mengkritik Pak Rendra tidak kenal budaya asal leluhur beliau. Padahal, justru yang orang tahu, beliau ini punya kepedulian sangat besar terhadap budaya masyarakat, tak hanya Banyumas, tapi juga Nusantara. Untung, sedikit banyak beliau berkenan menggunakan hak jawab. Kalau tidak, kita sudah berbuat tidak fair.

    Ayo dong, Bang Cimplek mungkin malah bisa membuatkan semacam ‘aturan main’ seperti apa sebaiknya bagi kita di sini supaya suasana dan pembicaraan tidak stag, tapi harmonisasi juga terjaga?

  50. srawung di dunia maya itu memang agak beda dengan dunia nyata. konteksnya sering gak pas dari yang dimaksud. makanya, perlu tambahan wisdom dari biasanya.
    di dunia maya, kita bisa bertemu siapa saja dan sangat cepat merasa akrab. di sini manusia juga lebih egaliter. gak ada yang lebih tinggi pangkatnya. kecuali moderator…hehehe.
    saya yang sepedanya baru satu, itu pun warisan bapak bbrp bulan lalu, merasa berani ngoceh di angkringan ini, bersanding dengan bapak2 lain yang sepedanya puluhan dan colector item semua. beda kalau ketemu di dunia nyata, mungkin saya cuma berani mojok, ndredeg sambil gujengan sepeda saya karena minder.
    satu yang pasti, di dunia maya itu sangat demokratis dan berlaku wisdom of crowd. gak ada satu pun yang berhak melarang, menyuruh dan menentukan orang lain. semua bebas melakukan apapun. kalau ada yang melanggar, pasti akan berlaku wisdom of crowd. ramai-ramai akan mengoreksinya. kalau masih melanggar juga, pasti akan ditinggalkan orang2. mungkin salah satu bentuknya block as spam..kalau di twiter bentuknya unfollow.
    intinya, tak ada satu orang pun yang punya otoritas menentukan orang lain harus bagaimana, melainkan bersama2.
    miripnya dengan dunia nyata sih…
    Bang Cimplek, jangan mundur dong… ndak wagu.

  51. @..wah tambah gayeng nih…asyik dan mesra tapi juga lucu…alisa gado gado..barangkali aneka rasa inilah yg membuat blog OPOTO menjadi sangat mbetahi atau membuat kita krasan… irama langgamnya yg mencuplik mas Batavus “nyamleng” memang seringkali menimbulkan banyak inspirasi..halo bang Cimplek piye kabare.. saya kok malah seneng lho dengan gaya “ngangkring” bang cimolek yg sedikit lugas namun pas.. jadi sedikit memberi warna yg dinamis pd “langgam nyamleng” yg selama ini sdh “mengalir”.. barangkali malah akan lebih seru kalau adalagi dulur2 lain yg kerso memberi warna lagi..misalnya ndangdut atau rock n roll, wis pokoke biar tambah gayeng surayeng…hehehehe… namun menurut sy sih siapapun bebas saja keluar masuk blog ini tiap saat kan mas Noer?.. lha namanya juga angkringan je… kalau bang Cimplek mau ethok2 pamit mundur ya bakalan tdk ada yg mampu mencegahnya… nyumangaaken saja mas..tapi tolong sepeninggal bang Cimplek nanti saudara lawas saya yakni ki Juru warto alias mas Durti harus sering ngangkring lho…hahahaha… salam damai..
    @ mas Noer harap diralat masalah budaya mbanyumasan sy baru kenal sedikiiit banget…apalagi budaya Nusantara yg sak hohah..wah blm ngerti sama sekali… krn hanya dpt sedikiiit wkt kita di SMP to…hehehe… lanjuuuuutttt!!!

  52. Justru yang membuat orang suka menyimak Blog Opoto adalah suasana “nyamleng” dan “nglaras” itu…berbagai masukan dan kritikan disampaikan secara simbolis sesuai adat budaya Jawa…lha kalau kemasukan gaya diskusi modern ala Hip Hop dan Rap, nanti nggak ada bedanya dengan blog lainnya…boring!

    Bagi orang Jawa pendekatan “esem bupati”sudah lebih dari cukup, tidak perlu pakai gaya “bala dupak” atau “sikut mantri”…Kualitas diskusi dikembangkan bukan dengan adu argumen tapi dengan perluasan cakupan. Kita sudah bosan dan jenuh dengan perdebatan yang sering muncul di media, jadi mestinya Blog Opoto ini bisa jadi oase…salam sluman slumun slamet…

  53. @kang Watavus..hehehehe…sarujuuk… “esem bupati” kini sdh sangat langka di praktekkan di jaman kolobendu….

  54. Gini kang watavus non panthek, bukanya saya tak tahu cara ngeblog. Maksud hati ingin membalut (kolaborasi) musik karawitan jawa dengan musik dangdut, pop, hip hop, rap, bahkan rock, agar musik yang nyamleng nan ngalaras bikin ngantuk itu tampil lebih bergairah, rancak, dan asyik. Tujuannya agar pandenger yang non nyamleng ini ikut bisa menikmati alunan karawitan jawa dengan tampilan modern. Lagu-lagu yang diusung pun tak jauh dari tema lagu-lagu karawitan jawa. Sound sistemnya pun tak begitu berteknologi tinggi (ilmiah). Hanya mini compo dan listriknya pun dari aki kecil tanpa embel-embel karaoke (adu argumen). Pun tak ada equalizer untuk mengatur bas dan trible (mencari siapa yang benar secara relatif) Eehhh ternyata tak nyambung, sehingga harmoninya kacau. Akibatnya penggemar musik nyamleng, ngalaras, dan santai itu jadi pada ngedumel, pakai marah lagi. Memang sulit menggugah kemapanan dan kenyamanan orang. Jadi kesimpulannya perlu musisi handal yang mampu membuat kolaborasi musik tradisional dan modern tampil jadi harmonis. Siapa yaa orangnya.

    Wongeres dari potorono, bukanya saya menghakimi seseorang, bukan menolak asas praduga tak bersalah, apalagi mengenyampingkan sistem pembuktian terbalik. Saya tegaskan sekali lagi satu tujuan saya, sederhana sekali kok, agar obrolan di blog ini lebih gayeng meskipun terkadang terkesan sok tahu, keluar dari angle, ada yang bilang embel-embel ilmiah, tajam, adu argumen dan sebagainya. Ehhh ternyata ada yang emosi. Saat bung Max’s sering nongol di blog ini, beliau pernah saya goyang habis-habisan tentang jagun ianfu. Tapi toh bang Max’s tak emosi, ia menjawab secara elegan dan gamblang. Tapi belakangan ini banyak yang gampang emosi (marah). Jadi saya takut dan berpikir seribu kali untuk nongol di blog ini guna melontarkan trik-trik gayengan obrolan khas opoto yang dibilang nyamleng dan ngalaras itu…Saya tak siap kok bila ada yang marah hihihihihihi……karena kita memang bangsa pemarah…loh gitu aja kok marah, loh gitu aja kok keki….dangdutan contoh kolaborasi.

  55. Saya masih menunggu kemunculan Cak Kaselle karo Mas Bhoenix kok belum keluar-keluar ya…bisa juga Ndoro Hamber atau Den Sunbimo…Pokoknya seru ini mulai banyak Blogger Imajinatif he..he..he..

  56. Sakjane ungguling budaya kuwi ya ning watak “mapan”. Budaya nek digawe nge-pop brubah-brubah ya bakale kelangan roh sucine, ora duwe ciri maneh. Gazelle seri 1 saka Kalibayem (nyuwun sewu nyindir) diwenehi tromol shimano tambahi mesin potong rumput pancen mlayune dadi nggegilani, ning terus kelangan praja…
    Wong Jawa pancen samadya…ngobrol nyamleng-nglaras wis cukup…kumpul konco gegojegan ngeblog wis marahi ati bungah. Blog iki apike dinggo kendhel wae…mampir ngombe…ora malah mampir padu he..he..he..

  57. ada kalanya kita kita pingin ngonthel. ada kalanya pingin down hill, ada kalanya pingin fixie.
    bagi yang memang tujuannya ngonthel, pasti nggak suka kalo lagi enak2nya ngonthel di tengah sawah disuruh down hill-an. lha wong tujuannya memang pingin nyantai sambil menikmati romantisme. bukannya dia anti down hill, tapi memang ketika sedang ngonthel, nggak mau diajak downhill.
    kalau mau ngajak diskusi yang bikin lebih hidup blog ini, menurut saya sangat bisa sekali bahkan di antara para nyamlenger yang sangat mengagungkan harmoni. tentang apa saja bisa. selama masih di koridor adu pemikiran. cuma ada satu area yang gak bisa. kepribadian. dimana pun gak ada yang suka kepribadianya diganggu.
    IMHO ya..

  58. @ sugeng enjing kagem sedoyo sederek “ngankring” , biasanya ma Wong kalau akhir pekan gini sdh nyiapken rute “nglaras roso” ala OPOTO njih?.. bsk kemana rutenya mas?.. semoga ada lagi reportase merak ati yg bakal segera disuguhkan sebagai menu utama pekan ini… sekaligus mengeti “kesaktian Pancasila “.. dan semoga memang masih atau tambah sakti..
    @ saya kok kangen lho sama mas Simplexia alias Mas Maxs.. apa kabar mas… apa sdh tdk kerso dahar di angkringan ini lagi? atau lagi diet mas? hehehehe..salam

    • Pak Rendra, rasanya hingga minggu kali ini pun Opoters belum bisa ngumpul dan ngonthel. Mas Tono sedang menjamu keluarga dari Belanda. Mas Erwin meskipun sudah boleh pulang ke rumah, tapi masih masa pemulihan. Pak Joni mau pemanasan ngonthel sendiri dulu. Lainnya masih syawalan babak akhir. :-(

      Pancasila itu bukannya ibarat sepeda onthel? Berkilau atau tidaknya sangat bergantung pada seberapa peduli kita dalam merawatnya. Kalau kita berharap Pancasila masih punya kesaktian, maka artinya kita berharap bangsa Indonesia masih memandang penting nilai-nilai yang ada di dalamnya sehingga mau mengamalkan dalam kehidupan dan pergaulan keseharian mereka.

      Masalahnya, kita sering tergoda oleh nilai-nilai dari luar yang diklaim sebagai tata-nilai universal, padahal berjuta pamrih sudah direkatkan padanya sehingga begitu kita menelannya bulat-bulat, maka pihak yang memegang detonatornya hanya tinggal memencetnya saja untuk menghancurkan kita.

      Tanpa bermaksud mengalihkan persoalan (karena sebenarnya saya pribadi kurang suka lari dari masalah sebelum semua terjelaskan: ibarat nonton film dari awal hingga akhir tapi pas endingnya malah pergi sehingga tidak menangkap pesan moralnya), topik kita bersama kemarin itu menarik lho: bagaimana mengantisipasi globalisasi sebagai sebuah keniscayaan?

      Kasusnya, misalnya: pada langgam gamelan agaknya kita sudah bosan karena monoton dan nggak ada klimaksnya. Sekarang orang bule pada belajar nggamel. Lalu kelak kita akan kebakaran jenggot karena merasa kecurian. Itu kan, topik bersama kita? Bang Cimplek memandang kita tidak (akan pernah?) siap menjadi subjek dalam persinggungan itu. Saya kemarin itu sebenarnya sedang menunggu kelanjutan alur pemikiran Bang Cimplek yang menarik. Yaitu, lalu apa yang mestinya kita lakukan? Mengisolasi diri?

  59. @ om Rendra : heleeeh.. om rendra tu senengnya “nyrempet-2″ lho… kabar kulo baik-2 om… harapan kami om rendra sekeluarga juga baik dan sehat-2 selalu… tenaang om.. saya mesti selalu mampir di angkringan ini kok om…selalu mengikuti menu-menunya… cm kemarin waktu mampir ndilalah menunya berat-2 om… :-) haaa..haaaa..

  60. @ om noer : selamat …. atas bertambahnya satu lagi koleksi benda pusakanya…. waduuuuh.. marahi “kemecer” ki… haaaaa..haaaa……

  61. Kirain kalau kelas berat itu menunya juga mesti berat. :-)
    Pusaka? Param kali? Haha…

  62. Wongeres yang lagi naik watavus sambil makan kue humbergers…hehehe, cara Esem bupati, waah, kalau saya lebih pilih tekadnya kebo bangah, yang bikin orang jengah, hihihihihi…..atau pronocitro yang macari anaknya bupati yang bikin bupatinya kelabakan, eeh marah. Bagaimana jika orang-orang macam aryo penangsang, syeh siti jenar, kebo marcuet, atau ronggolawe ikutan ngobrol di angkringan ini……”rawe-rawe rantas malang-malang putung. Mau bikin obrolan lebih rame , lohhh akhirnya hatinya mutung”
    ungguling budaya ono ning watak mapan ini, kalau dirubah nanti hilang roh sucinya, hilang cirine, dan tetek + bengeknya, ( Nah kalau tetek itu bisa jadi obrolan hangat, tapi kalau bengek itu penyakit). Tapi kalau banyak yang ga kenal, banyak ditinggalin anak muda sebagai generasi penerusnya, buat apa. Contohnya gini loh kang watavus asal potorono, ada seni wayang kulit mau ditambahi unsur-unsur modern, kemudian timbul pro dan kontra. Ada yang bilang wah nanti hilang cirinya, hilang keasliannya, dan lainnya. Timbulnya pro kontra ini apa akhirnya, anak-anak sekarang tak kenal kumbo karno. Kresno, janoko, puntodewo, dan lain-lainnya. “Boro-boro nonton wayang kulit mending nonton sinetron”. Yang nonton wayang kulit hanya orang-orang tua. Misal lagi, lagu jawa yang dipadukan teknologi modern nyatanya tampil lebih menarik seperti campursari, anak muda pun banyak yang suka. Coba bandingkan bila klenengan, wahhhh anaknya mudanya bisa pada lari semuanya. Juga ketoprak humor tampil lebih gayengkan. Bagaimana musium yang selalu sepi lalu ada usulan sebaiknya dipadukan dengan infotemen yang terbilang modern. Kita tak perlu apreori terhadap perubahan yang menuju ke arah yang lebih baik…..tergantung bagaimana kita menyikapinya (nun nyewu ini bukan diskusi ilmiah lohhh, bukan adu argumen, jangan salah sangka dong uuhhh)
    Gazelle seri 1 ditambah tromol shimano, mesine potong rumput karo bensine petramax, ono klaksone. Tambah rem cakram. Dadi ngobrole nyamleng lan nglaras neng duwe greget tanpa lepas kendali (ini maksud saya loh wongeres yang lagi ngelapin watavusnya). Nek ngeblog njur diklakson banter ojo mrengut karo nesu njur ngajak padu mengko tak paring sengsu karo buah mengkudu.
    Sing penting ngobrole nyamleng, nglaras, opo maneh wetenge wis warek, waah bakal tambah gayeng…..karo rame.
    Apa yang akan kita lakukan apakah mengisolasi diri atau mungkin buka-bukaan? Sebenarnya akan saya kaitkan dengan kepemilikan properti asing di Indonesia. Tapi saya no komen aja kang watavus. Pancasila ibarat sepeda onthel waah tema menarik nih, padahal keberadaan pancasila masih dipermasalahkan, gimana dengan onthel. Tapi sekali lagi saya no komen aja. Apa ga sebaiknya ke onthel aja kang……kalau macem-macem ntar ndak salah persepsi (mutung dong aahhh)

    Bang Aat
    Bang Aat, plisss dong aahh, jangan bawa nama pribadi, trik obrolan saya sifatnya bikin rame tak ada maksud nyinggung pribadi untuk kepentingan pribadi, tergantung kita menyikapinya kok bang.
    Begini bang aat, gimana misalnya bila kita ngonthel sambil santai di tengah sawah sambil mengenang hal yang romantis, tiba-tiba ada segerombolan konvoi motor jadul lalu disapa dan diajak ngobrol tentang hal di luar onthel, gimana sikap kita. Apakah kita menolaknya, “Maaf saya lagi onthel nih tak mau soal lainnya titik”. Si motor jadul pun berpikiran nih orang sombong dan eksklusif banget. Untuk menghindari prasangka buruk ini maka kita harus punya trik-trik tertentu dong. Menurut saya (nun nyewu mas, bukan bermaksud menggurui apalagi sok tahu) kita tak perlu menolak ajakan ngobrolnya. Obrolannya pun bisa onthel yang dibumbui motor jadul atau motor jadul dibumbui onthel ama tetek dan bengeknya, hehehehe….saling kasih informasi jadi sip kan…
    Bang Aat kalau koridor busway Jakarta saya hafal, tapi kalau koridor tranjogja tak tahu, apalagi koridor blog opoto blas ra ngerti. Bila nyasar-nyasar dikit wajar kan…. perlu diberi petunjuk jalan. Kalau belum-belum sudah dicurigai semangkean, tidak tepo seliro, nggladrah tekan endi-endi, sok ahli jiwa, bikin gaduh, adigung adiguna sutowo hihihi, dan …gawatnya ada yang nesu, lahhh ya saya jadi wegah ngobrol lagi dong aaahhh, bukannya antikritik. Lhohhh kok tambah nggladrah, piye ki bang Aat….Balik ke onthel aja dong bang Aat…..hehehehee. Slumat slumut sing penting slamet, rag awe kisruh…piissss bang.

    • Duh, Mas Cimplek, kok jadi begini? Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan setelah membaca serentetan gugatan yang Mas Yanto tuliskan.

      1) Saya sedih, karena kesan saya Mas Yanto membabibuta dengan menembakkan tuduhan yang tidak jelas ke banyak orang, negative thinking, dan under estimate. Sebenarnya ini ada apa, Mas? Jadi, selama ini kita kadang ketemuan, ngonthel bareng, foto bareng, itu atas nama apa ya?

      2) Mas Yanto mengutip nama tokoh-tokoh (mengidentifikasikan diri?) yang memperjuangkan dan menegakkan kebenaran yang mereka yakini. Terlepas dari perbedaan temperamen yang ada, Mereka itu semua mampu mempresentasikan sikap mereka secara runtut dengan landasan fakta yang jelas. Sejarah mencatat itu semua. Sementara Mas Yanto hanya menggugat sesuatu yang tidak jelas dan menolak untuk menjelaskan awal mula duduk perkaranya. Lalu, bagaimana kita bisa mengklarifikasi semua ini? Atau Mas Yanto memang sengaja tidak ingin ini jadi clear? Lalu ada agenda apa sebenarnya?

      3) Mas Yanto sekarang ini terlalu sensitif ketika menerima perkataan orang yang belum tentu ditujukan kepada Mas Yanto, tapi sangat tidak peka ketika menyampaikan kepada orang lain. Maka, Mas Bagus, Mas Aat, dll ikut jadi korban kemarahan Mas Yanto.

      4) Mas Yanto bahkan tidak tahu bahwa Kang Watavus itu bukan saya. Mas Bagus dan Mas Aat itu rumahnya juga jauh dari Potorono.

      5) Kalau Mas Yanto mau melihat dengan arif, cobalah Mas Yanto cetak semua pembicaraan kita di halaman ini secara komplit dan kronologis, lalu berikan kepada seseorang yang paling Mas Yanto hormati. Mintalah pendapatnya. Semoga akan ada pencerahan. Kami tunggu senyum persahabatan dan sapa yang menyejukkan dari Mas Yanto, seperti yang selama ini kami kenal. Nuwun.

  63. Ngonthel sendiri saja mas noer atau saya temani, kalau minggu rute saya selalu ke selatan kalau pas tidak ada barengan acara keluarga. Kapan-kapan kita ke Sudimoro Timbulharjo lihat org buat gula batu, biar nge Teh-nya nyamleng dengan nasgithelnya

  64. Yuk konco-konco jape methe sa-Jogja siap-siap nyengkuyung Acara Harmonight sing digagas Dinas Pariwisata Pemkot Jogja…Acarane yoiku pagelaran seni budaya Jawa saka dalan Malioboro tekan Alun-Alun Lor dina Sabtu 16 Oktober 2010. Sepeda lan kostum disiapke…cah-cah onthel Jogja kudu ngethok kabeh men gayeng…

  65. @….hahahaha… kang Watavus ayo kita triwikromo nyengkuyung Harmonight pesta budaya jawa yg pasti akan sangat romantis…tapi…hiks..jadi sedih kalau mengingat jarak fisik saya dengan malioboro..dhuh..dhuh.. ora bakal nggaduk..padahal sudah membayangkan kenyamlengan ngonthel malam di jogja bersama sahabat2 Podjok dan OPOTO ,dengan guyon maton yg sarat makna..yg biasanya diakhiri dengan menyantap bakmi Jowo sorsawo… pasti akan sangat nylekamin.. andai saya nduwe ajian sepi angin..hehehe

    • Waduh, lha kalau benar-benar sepi angin nanti malah sumuk. Lalu enaknya ya nggowes kereta angin, biar dapet angin, asal nggak sampai masuk angin (lha kok malah pada jadi angin-anginan gini ya?) :-)

  66. Kang Rendra…salam kenal disik …ya nyuwun donga pangestune wae…muga-muga acarane wangun. Konco-konco onthel kene wis mulai dikoordinir, muga-muga ora udan.

    Kang Wongeres…santai wae Dab, rasah melu padudon…menang ora kondhang, kalah wirang…mengko nak bosen dewe…

  67. @ om wongeres : kring..kring… kring…kring…kring…kring…nyuwun sewu…permisi.. ada informasi bengkel yang bisa nglepas bel nggak ya?? ….heee..heeee… :-)

    • Bell sudah ngglundhung, Boss! Potorono masih surplus dan kebanjiran bel kodhok, lampu karbit, juga lampu ting! :D

  68. @kang Watavus…oya ngapunten lali durung kenalan ding…hehehe..jadi merasa SDSA ki… iyo dab mugo2 jogja terang golentrang ora udan…

    @mas Maxs… wit mbiyen kok masih setia nggulowentah bell wae to…….kriiiing…kriiing…. ( di krawang ada lho bengkel Meduro spesialis nyopot bell, stang,pelek,…bahkan sekalian potong frame lho…. hehehehe)..

  69. Kang Rendra suk nek pas dolan Jogja woro-woro wae mengko iso kenalan langsung…krungu-krungu sampeyan iki kolektor bonafit ya…dadi cocok nek ketemu ambek bakul klithikan kaya aku…

  70. @halaaah bonafide opone to kang… mung sak dremo klangenan wae kok..prinsipku sih nambah konco yo nambah dulur mesti okeh apike timabang rugine…..lah nek ora keberatan sejatine asmo penjenengan sinten kang… nek nganggo nickname ngene njur marahi binun pas kopdar…hehehe

  71. @ om rendra : walah om rendra tu “ana-ana wae”…. kalau cuma potong frame aja gak usah smp krawang om… toko besi sebelah jual graji 2000 perak kok… beli satu udah bisa “ngrantasi” om…. haaaaa..haaaaaa

  72. Kang Rendra…ho..ho..ho…mengko bakale nek pas ketemuan tak jawil, aku wis weruh potrete sampeyan ning blog podjok. Saiki sementara nganggo jeneng Watavus disik…soale lagi nunggu konco-konco Bhoenix, Kaselle, Hamber & Sunbimo, kok durung pada methu?

  73. @kang watavus..njih sendiko dhawuh..

  74. ada satu kata dari comment-nya pak rendra yang menarik perhatian saya.
    nylekamin…
    apa ini artinya? kapan dan dimana saja kata ini dipake?
    buat saya, kata yang misterius, mengejutkan dan enak di mulut.
    nylekamin bgt lah!

  75. Kang Wongeres…nyuwun samudra pangaksami, aku ning ngeblog nganggo basa Jawa terus tur ngoko. Iki ya tujuane dinggo nguri-nguri budaya…nek ning ngoko tujuane men luwih akrab…tur malah isa luwih internasional soale wong suriname isane ya mung basa ngoko.

    Blog Opoto sing pancen njawani iki kethoke ya ora aneh nek para blogger-e bebasan Jawa. Malah suwe-suwe dadi luwih antik he..he..he..kethoke jarang lho Blog sing isine budaya jawa terus ngobrole uga basa Jawa. Iki duduk ethnocentric lho, tapi pancen nguri-nguri budaya kuwi carane mung siji yaiku diamalke men ora ilang.

  76. @mas Aat…we lha pengamat bahasa langka to nih..hihihi..njih mas , kata “nylekamin” pas kalau digunakan utk mengungkapkan kenikmatan rasa makanan atau minuman atau musik yg sangat enak,resep dan menghanyutkan.. ” nylekamin” . contohnya “… jan gending kutut manggung nek di rungokna karo ngumbe wedang jahe..jan rasane kok nylekamiin bangeet..”…heheheh. kata2 ini sering dipakai kaum jelata pinggiran .. kata yg berasal dari bhs asli banyumasan … sebuah bahasa yg konon merupakan sisa sisa bahasa jawa kuno di tlatah Jawi ( krn ada ilmuwan yg menyebut bhs Jawi kuno sama dgn bhs “mbanyumasan” sebelum “berakulturasi” dengan bhs Kawi dan sansekerta yg banyak dikembangkan oleh keraon keraton di Jawa sejak masuknya Hindu..konon).. oya ada lagi mas kata2 yg juga menggambarkan enaknya makanan maupun musik atau gending..yaitu ” blegetaget”. contoh..” wah jan kendangane mas Aat kalau ngendangi gending eling eling jan mblegetaget temenan…”.. atau “.. jangan lodehe blegetaget banget lho..”.. halaaah…ning ojo percoyo ding mas..ini hanya pengamatan sy yg tdk bisa dipertanggung jawabkan secara “ngilmiyah”…

  77. @ mas Aat..ada lagi nih ..” jogetane ronggeng kali pucung jan “mleketer” pisan…”…wakakakak,,

  78. @ Kang Rendra…berarti tembung “nylekamin” kuwi cedhak-cedhak artine karo “nglaras”…matur nuwun kawruhe Kang…

    Nek bebasan Jawi kuno kethoke akeh dipengaruhi basa Sansekerta…Sing radha unik uga basa Jawa Kratonan…Kraton Solo lan Jogja duwe basa dewe-dewe…misale nek nyebut “sampeyan”…Ndoro Solo mesti ngendika “Nda-ndalem”, nek Ndoro Jogja “Nan-ndalem”…Ana website migati budaya jawa, arane http://www.ki-demang.com ..coba ditiliki dijamin nylekamin ho..ho..ho..

  79. ha ha ha ha ha ha…………kalau denger : nylekamin, mbleketaket (nggak pakai g) dan mleketer …..huaduh saya jadi ngguyu dewe(cengar cengir) koyo wong gendeng….lucu..lucu..walaupun enyong juga berasal dari ndeso sana, tetapi ada lagi ungkapan yg nggak bisa diganti dg bhs indonesia, apalagi inggris : ngoyos, hayo apa itu, misalnya ungkapan : lagi udan udan ana wong numpak pit ngoyos……..hayo siapa bisa? Ada lagi nama anggota tubuh yang satu kata, tidak bisa diterjemahkan : bam…….bener nggak? he he he he

    • Kalau anggota tubuh yang hanya satu kata sebenarnya masih ada, tapi nggak enak nyebutnya. Nama itu juga yang mengilhami penamaan benang putih ukuran besar yang digulung sedemikian rupa, namanya benang … Juga jambu dersana nan putih kemerahan sebagai jambu… :D

  80. @mas Ranga…nek bhsne mas Noer bukan “ngoyos”tp nglebus…. adalagi lho yg bhs indonesia juga susah dicari yg pas..” kedagar dagar”, kunduran trek, menek kethekel thekel, “ngebrok”, sayur tegean…dll…hahahaha…maaf ada yg saruu mas Wong…..

  81. ha ha ha ha ha……….kalau denger in kata kata ini pada jaman dulu belumlucu,
    ternyata memang saya rasakan saat ini bhs Bms cukup aneh dan lucu yah……pantesan orang Bms banyak yg jadi pelawak………kedagar dagar…nganti tiba….gentawil gek……semua ini nggak ada di Kamus besar bhs Indonesia…….udah lah kita kembali ke benang merah lagi……mulut saya udah capek untuk nyengir

  82. Walah njur kelingan dagelane Peyang Penjol?

  83. ternyata sama2 jawanya, ekspresinya beda jauh juga. menurut saya, bahasa jawa itu secara diksinya banyak yang eksprsif. kadang-kadang saya bisa menangkap arti dari sebuah kata yag baru saya dengar dengan menggunakan rasa. tapi untuk nylekamin dan blegetaget, saya gagal…

    adakah yang bisa menjelaskan, kenapa bahasa banyumasan cukup beda jauh dengan bahasa jawa jogja, baik secara diksi, lafal dan dialeknya.
    saya pesimis bisa mengerti pembicaraan orang banyumas kalo sedang ngobrol kata per kata. apakah hal itu juga berlaku sebaliknya bagi warga banyumas thdp obrolannya orang jogja? padahal secara geografis, jaraknya tidak jauh. sya justru lebih dekat dgn bahasa jawa timur mataraman dibanding dgn bahasa banyumasan.

    • Mas Aat, rasa penasaran yang sama pernah saya rasakan, sampai seorang teman menjelaskan kepada saya.

      Dahulu, yang namanya perkotaan justru dibangun berdekatan dengan aliran sungai, karena transportasi utama kita juga lewat air. Maka, kebudayaan pun terdistribusikan melalui aliran sungai, bukan berdasarkan letak geografis dengan akses jalan darat yang kita bayangkan sekarang ini.

      Perbedaan dialek itu bisa dijelaskan dengan melihat peta pembagian wilayah yang ada, yaitu Bangkulon (Serayu), Bangawan (Sala), dan Bangwetan (Brantas). Awan itu artinya ‘tengah’, tapi sekarang kita malah menyebutnya Bangawan Solo. Orang-orang di aliran sungai yang sama memiliki kemiripan dialek yang menunjukkan dari bang mana dia berasal.

      Wah, ini Mas Bagus Majenun atau mungkin juga Mas Juru Warto barangkali bisa bercerita lebih rinci…

      • Amat sangat menarik.
        Di Kompas, saya pernah baca pemetaan jawa timur berdasarkan kebudayaan. Mataraman, Surabaya, Tapal kuda, Osing/Banyuwangi dan Madura. Nek ra kleru….
        Nah, ini ada hubungannya dengan aliran sungai, atau juga kombinasi dengan perkembangan kota pantai?
        Ada yang bisa memetakan Jawa Tengah berdasarkan budaya?
        Nuwun sakderengipun.
        BTW, nanti malem ngonthel malem, pak?

  84. Kang Wongeres, mengko bengi ana acara Ngepit Bengi dinggo kabeh komunitas speda ning Jogja, mangayubagyo ulangtahun Kutha Jogja, kumpul ning Tugu jam 22.00-23.30…Cah-cah Opoto melok apa ora?

  85. humbermania defoc 0905

    katur mbah Pujo,njenengan luwar biasa.Untuk sebuah profesi yang hanya “utak-atik sadel fiets” ,mugi2 pinaringan kesehatan lan kekiatan.Katur mas wongeres,njenengan pikantuk salam saking rencang kawulo,Ir mahatmanto dosen di dutawacana,yg skr ngangsu kawruh di jepang,yg tinggal di potorono.Mas wongeres punopo wonten profil fbnya,sy hari budi,suwun

    • Mas Hari, apa kabar? Kok baru muncul lagi. Mas Mahatmanto itu posisinya komplit lho bagi saya: tetangga, teman ronda, teman diskusi, kuliner, nyanyi Leo Kristi-an, guru sejarah, konsultan arsitektur, dan buanyak lagi. Hehe… salam juga dari Potorono. FB-nya Mas Anto? Kalau saya tidak punya Mas, adanya BB-55 :-)

  86. Hmm… Kok belum ada yang cerita tentang acara ngonthel di Tugu ya? Opoters absen. Batuk, pilek, DB, nganter tamu, dll. Kang Watavus ngonthel ora ya?

  87. @ sedikit tentang sejarah bhs banyumas dan wong banyumas yg disarikan dr beberapa sumber..
    bahasa Banyumasan konon dikembangkan bersamaan dengan berdirinya kerajaan Galuh Purba di kaki gunung Slamet pada kira kira abad I M yg merupakan kerajaan tertua di Jawa Tengah, kerajaan Galuh Purba berdiri hingga abad ke 6 M dengan nama yg berbeda-beda krn lokasi yg selalu berpindah tapi tetap di seputaran Gunung Slamet ,ibukota yg sangat terkenal adalah Medang Kamulyan yg situsnya hingga kini blm diketahui secara pasti.. Kerajaan Galuh Purba menurun pengaruhnya dengan lahirnya dinasti Syaelendra di jateng yg msh keturunan dr salah satu raja dinasti Galuh, akhirnya kerajaan Galuh purba pindah ke Kawali daerah Garut (jabar)dengan nama Galuh Kawali yg selanjutnya berkembang menjadi kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran di Jabar, adapun sebagian keturunan Galuh Purba pada masa raja Galuh Kalingga akhirnya mendirikan kerajaan Kalingga di daerah Jateng.. namun hub kerajan Galuh Kawali dan Kalingga tetap harmonis yg menurunkan dinasti Sanjaya dan selanjutnya menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa.
    dlm bukunya “a critical survey of studies on the languages of java and madura” Uhlenbeck mengatakan bhw bhs jawa dibagi dlm wilayah :
    - jawa bagian kulon (banyumas hingga banten)
    - jawa bagian tengah (jogja,solo,semarang)
    - jawa bagian timur (jatim)
    bhs Galuh Purba berkembang dan digunakan di daerah jawa bagian kulon
    yg saat ini dikenal sebagai dialek mbanyumasan dan cirebonan, adalah merupakan warisan peradaban bahasa yg sdh sangat tua, jauh sebelum kerajaan Mataram islam berdiri..
    pada jaman kerajaan Mataram, wilayah kadipaten Banyumas merupakan wilayah kekuasaan Mataram dengan otonomi khusus shg pd saat itu Mataram menyebutnya sebagai “macanegara Kulon”.
    dialek banyumas yg selalu menggunakan konsonan “a” ( misal : sega) bukan “sego” atau pengucapan secara penuh terhadap akhiran huruf mati ” kepenak” bukan kepena”.. menyebabkan dialek tsb disebut dialek “ngapak ngapak”
    salah satu ciri ketuaan bhs tsb adlh digunakannya aksara jawa asli ” hanacaraka” bukan ” honocoroko”, bahkan sebenarnya di Jogja juga msh di beberapa tempat menggunakan aksara jawa asli, misalnya di pasar” beringharja”.. bukan “beringharjo” dll
    namun sangat disayangkan bhw bhs dan dialek banyumas yg merupkan salah satu kekayaan bahasa kita sdh di ambang kepunahan krn generasi muda Banyumas lebih menyukai bhs indonesia gaul atau bhs jawa wetanan (bandhekan) yg dinilai lebih modern atau lebih terhormat…
    salam

  88. Pak Rendra, bahasa Jawa gagrag anyar yang notabene ‘bikinan baru’ berkembang, salah satunya mengikuti munculnya kelas-kelas sosial baru. Seorang tokoh ‘Jawa kulon’ pernah mengatakan pada saya bahwa beliau begitu bangga pada Jawa masa lalu, yang bahasanya egaliter, yang karya candinya menjadi salah satu keajaiban dunia.

    Masalahnya, seperti Pak Rendra sebutkan, generasi penerus menginginkan bahasa yang lebih ‘trendy’ sehingga membuat mereka tampak lebih (maaf) ‘beradab’. Ini juga terjadi pada anak-anak muda dari Jawa (Tengah) yang mati-matian menghilangkan logat medhoknya agar bahasa Indonesia mereka terdengar lebih ‘nJakarta’. Lalu logat bahasa Inggrisnya pun belakangan dibikin lebih ‘ngAmerika’.

    Sedemikian kuatnya pengaruh pusat (pemerintahan, bisnis, peradaban, trend) mempengaruhi bahasa kita. Anak-anak kita tidak lagi tahu apa itu ‘kluwung’, ‘candikala’, dsb. Idiom, pepatah pun dilupakan. Padahal ada banyak hikmah dan kearifan yang terakumulasi di dalamnya. Kelak, ketika kita hanya mau mengenal bahasa orang lain, kita harus merangkak dari nol lagi. Jadilah binatang tahan pukul, manusia tahan kias. Hehe… Apa ya nganti mangkono?

    • Saya yang kelahiran 1978 sangat merasakan apa yang disampaikan Pak Nur. Barangkali untuk angkatan di atas saya cukup PD dengan akar kulturnya sendiri, sedangkan angkatan saya tidak begitu keadaannya. Kami adalah angkatan transisi yang sedang mencari kesetimbangan karena sebuah fenomena bernama globalisasi. Kami menyaksikan lahirnya internet dan ternganga2 dibuatnya. Kami yang masih labil tiba-tiba mendapati pergaulan yang maha luas di hadapan kami, sedangkan kami masih belum kuat berpijak. Apapun yang dari luar negeri bagus, apapun yang dari jakarta keren. Dengarkan saja radio2 anak muda di daerah. Host-nya kebanyakan menggunakan bahasa Jakarta. Biar keren.
      Buat saya pribadi, cukup ada perjuangan untuk tidak malu untuk mengakui sebagai orang jawa. Cukup punya keberanian bahwa ketika orang bilang bahasa indonesia saya medok, saya tidak mleret justru bangga.
      Saya percaya angkatan di bawah saya sudah beda konstelasinya. Mereka sudah tidak gagap lagi terhadap globalisasi. Semoga saja arahnya justru ke arah lokalisasi…loh..maksudnya budaya lokal….

  89. Kang Wongeres…acarane ngonthel bengi minangka tanggap warsa kutha Jogja bener-bener apik tenan…rugi Kang nek wingi ora teka…pokokmen gayeng lan simpel khas Jogja…Tugune dadi panggung pentas seni…

    • Waaa… lha direwangi nyapih anak-bojo merga gebras-gebres, bareng waras sethithik arep njranthal ngonthel bengi. Kamangka isuk uthuk-uthuk kudu glidhig… Hik…

      • Kang Watavus

        Kang Wongeres …suk tanggal 16 Oktober ditunggu lho rawuhe ning acara Jogja Harmonight…pas banget kanggo cah-cah Opoto sing hobby-ne onthel wisata budaya…

  90. @penjenengan leres mas Wong bhspun sdh mulai” tergerus”, barangkali program muatan lokal khususnya bhs daerah yg menjadi kurikulum SD,SMP harus di “pertegas” dan di “perwajib” sampai bener2 menjadi bhs keseharian shg akan mampu bertahan, bahkan di perguruan tinggi juga hrs ada fakultas bhs bhs daerah yg dibakukan.. ( mungkin saat ini hanya ada di kampus2 di jawa itupun dengan jml mhs y minoritas) sebab bhs Indonesia dan Bhs asing secara otomatis pasti akan mereka ( baca anak2) kuasai krn perkembangan jaman.. sudah saatnya generasi kita dan seterusnya diajarkan untuk lebih mencintai “kekayaan budaya ” yg kita punya dan hrs menjadi program negara..
    kenapa kita tdk bs seperti jepang yg bangga dengan bhs dan huruf hiragananya, atau di Cina, Arab, rusia,india , korea dan bahkan thailand… nyatanya dengan tetap menggunakan bahasa dan huruf milik nya merekapun bisa menjadi negara maju yg berkepribadian…

  91. Wah…Den Mas Rendra ini ……….ternyata …..oh ternyata…..juaranya Indonesia got talen tahun seventian (bukan Inggris NgAmerika……cuman Inggris lidah mendoan)…..jan Den Mas Rendra ini memang “teyengan” banget koh ya,…..soal onthel, ayo….soal sejarah, ayo juga……..soal duit, lebih ayo( kalau saya cuman bisa : how tu get mach manei, gimana mencari duit yg banyak, buat beli klitikan)…….ha ha ha ha cuman guyon lho Den………dilarang nesu………Nah sekarang Pak De Wongeres yang cuman Sastro Sarjono (nganggo paska nggak ya?) jangan sekali sekali dahar “sayur kentong” (enyong mbacanya “sayur kentang”) he he he he he…….. selamat ngonthel bengi, jangan lupa onthelnya pake sentir yah………….

  92. Salam kenal buat seluruh anggota OPOTO, Om Wongeres dkk, saya baru di dunia ngonthel, kebetulan domisili di seputaran JEC, maaf kalau pareng kapan2 bisa ikut ngrusuhi nggowes sareng, saya pakai humber elek2an, salam bantoro.

  93. Salam kenal juga, Mas Bantoro. JEC, Janti, Gedongkuning dekat dengan kami. Bahkan Wates, Sleman, Depok, Karawang, dan semua sahabat onthelis di mana pun berada selalu dekaaat di hati. :-)

    Senang sekali bisa ngonthel dan ngobrol dengan banyak sahabat. Mari silahkan, Mas Bantoro. Jangan lupa bawa Humber (cuma ‘elek-elekan’ kan berarti ‘ora elek tenanan’. Hehe…) Salam hangat dari Potorono.

  94. @mas Rangga Tohjaya kalau di serial cersilnya SH.Mintarja berubah jadi Tohpati ( bukan gitaris pacar KD lho) atau Macan Kepatihan muridnya Ki Mentahun ..yg kalau berantem menangan banget… !! hehehe… kiye sampeyan keliru kang.. nyong soal sejarah ora ngerti apa apa wong crita diatas juga cuma ambil dr artikel je… ngertine inyong ya mung sekitar cara menggoreng mendoan sing enak, utawa nggoreng demplo dan dage sing gurih…utawa gawe tegean bayem sing seger….hehehe…
    @mas Wong…”buruan” katanya sdh di mas Bagus tp mnurut beliau msh banyak hal yg hrs di stel dan di sulami… nyuwun sewu bade ngrepoti penjenengan nderek dijampeni supados rodo” kempling”..hihihi.. ngapunten mas nderek “ngenger” dados wargo Potorono rumiyin…. salam

    • Semua yang berbau Tohtohan alias judi itu dilarang lho. Lebih baik belajar, baca-baca bukunya Tohaputra. Kalau laper, sambil ngemil getuk Tohirin juga boleh. Perjuangan hidup memang harus dibelani Tohpati, atau kata lainnya yang juga serem: Tohnyawa. Jangan memalukan, karena setiap orang sudah punya tanda lahir, misalnya Tohbokong. Paling tidak, kalau cuma saktlenik namanya Tohilolot. Halah. Toh ini cuma bercanda :D

      Pak Rendra, Mas Bagus hari ini plesir sambil gathering 3 hari di Jakarta. Sepulang wisata banjir nanti bawa duit sakgepok buat beli klithikan. Hasil buruannya sudah saya pantau. Juga ini sudah saya siapkan dari silet sampai gobang untuk me-make over (yang terakhir itu kalau ada Mas Aat pasti kebacanya “rondho kempling”!) Hehe…

  95. @wah mas Bagus semalam sy tilp kok ga crita kalau mau ke DKI mas.. padahal hr ini sy banyak wkt je buat ketemu beliau.. bab “buruan” njih nyumanggaaken di make over sampai rondhone kempling tenan.. ben banyak yg pangling …hehehe. mtr nuwun sak derengipun..

  96. Kemarin saya test ride, Mrs Devi-nya memang ada beberapa hal yang harus dipekonah dan disrati oleh Mas Noer. Setelan genjotan perlu di setel ulang oleh Mbah Tris atau Mbah Ngatidjo, sumangga kula manut kemawon, Mas Noer. Pas test ride saya sempat distop seseorang warga Baciro dan dialem sepedanya ayu, Mas. Terus saya jawab, “lha inggih meniko saged jaipongan goyang Kerawang, megal-megol.’

  97. @mas Bagus…hahahaha…negal megol koyo menthok ya.. selamat jalan ke negeri jiran mas, semoga sukses..

  98. @Kang Watavus
    Kok saya kesulitan mencari tahu rundown acara dan keterlibatan komunitas onthel pada gelar acara Harmonight ya? Teman-teman Podjok sepertinya juga belum pada tahu. Malah beberapa teman sudah mulai siap untuk touring Minggu paginya.

  99. @Om Wongeres, matur nuwun nggih kepareng boleh gabung walaupun pemula, saya mengikuti via blog panjenengan ini dulu, siapa tahu pas ada acara bisa kepareng nderek. Saya persisnya di utara JEC seputaran barat akakom.
    @Mas Aat, Menarik sekali undangannya, nyuwun duko kalau sampai tgl 22 okt masih glidik ke luar kota, mudah2an setelah itu siap titikromo nderek nggowes.

  100. Kang Wongeres…aku ya sakjane ya mung krungon-krungon durung ngerti tenan kepriye mengko tenane soale aku mung komunitas kampung…sak ngertiku komunitas speda Jogja arep melu ngrameke…

  101. Lha. Jebul malah pada brangkat ke Surabaya…

  102. @Bantoro,….Kisanak Bantoro…selain dengan”seluruh anggota OPOTO” aku boleh kenal juga nggak sama panjenengan……he he he he…nyrandu nih ye…..tenane lho mas…..yen iso nyepeda bareng OPOTO syarate cuman satu …kudu doyan dahar “soto”…(gitu apa ya?) ….lha nek ra doyan…..mesti kudu nggawa konsumsi dewe soko ngomah…..siap? …semoga dengan ngonthel bareng akan menemukan “indahnya kebersamaan” seperti lagunya Tety Kadi “TANPAMU” (lagu jadul)…pernah denger nggak? Hayo cintailah sepeda kita……monggo mas.

  103. @Pak Rangga, la ya boleh sekali to kenalannya Pak..hehe…..salam kenal kembali lan keoareng nderek ngangsu kawruh, menawi soal “nyoto menyoto” kasinggihan pancen kalebet makanan kesukaan kulo kok Pak.
    Dengan membaca blok ini saja saya sudah merasa ikut mat-matan, nglaras ati lan rumaos ketemu sedulur, wis pokoke mbantullll bangeeeeett….sungkem.

  104. @mas Rangga “heri agusti” Tohjaya.. apa kabar, penjenengan tindak Surabaya kan… btw tgl 21 sy ada kerjaan di Purwakerta bisa rekomen tempat klithikan di Pwt ga mas…hehehe. salam
    @ mas Bantoro, saya juga nderek tepangan lho, nambah konco nambah sedulur nambah rejeki…salam

  105. @Den Mas Rendra….yg saya tahu di Pwt tempat jual onthel lawas ya di Pasar Manis itu lho , ada lagi di sebelah wetan sana Pasar Sokaraja dekat pbrk gula yg ada rel keretanya (bbrp tahun yg lalu saya pernah kesana) Saya memang ada acara ke Surabaya tetapi menghadiri perkawinan ponakan di Jl Pabrik Kulit depan Komdak , harinya berdekatan dg acara Onthel di Sbaya, kalau MEMUNGKINKAN akan ikut meramaikan acara onthel tsb, kalau temen temen dari DeFOC ada 15 orang yg akan berangkat ke Sbaya………nuwun.

  106. @ Pak Rendra, salam kenal kembali pak, amin atas doanya.

  107. @katur sedaya….Alhamdulillah,sudah tidak nggronjal lagi,bisa nglaras lagi…kapuk mulai bisa dilepas lagi (mboten amargi *****en lho m.Wong)….he..he..pisssss

  108. @m.Noor…nyuwun agenging pangapunten,tempo hari sdh sama m.Nug,ngancani beliau ke Wates sampe sore,trus masing2 ada acara lain juga,InsyaAllah lain hari saya akan sowan ngangsu kawruh…
    beberapa hari ga’buka ngikuti Opoto,sempat “gayeng” angkringannya ya mas..??..he..he..salam dari Gambiran

    • Oh, pasti diajak berburu ke Wates ini… iya Mas, ini meskipun belum sempat ganti lakon, semoga pada nggak canggung untuk ngangkring. Nanti begitu ada waktu untuk duduk agak lama akan kita gelar cerita baru.

  109. humbermania defoc 0905

    sugeng enjing mas noor wongeres (menawi mboten klentu),saya ngiri dengan Yogya dan suasananya,yogya dan event2nya.Lha di Depok ini malah hingar bingar mau pilkada,diseantero kota tanpa kecuali diseseli gambar wong nganggo kupluk diembel-embeli janji surga.(sabtu ini 16 okt pilkada),pak walkot in-cumbent nyalon lagi.Meski kita mangkal di depan ktr wal-kot tapi ya belum pernah “sharing” dengan temen2.”Bali wae nang yogya po yo”,salam katur rencang2 opoto

    • Haha… tapi itu bukan gambar saya kan, Mas Hari? Kupluk saya kan kupluk dugem, jadi janjinya ya masih seputar kenikmatan kadonyan/duniawi, seperti: nikmatnya ngonthel di Minggu pagi :D

  110. wah, kalo walikota sini justru ikut ngonthel… bersyukur punya walikota yang pro sepeda. sayang sudah tak bisa dipilih lagi..
    btw, neng kene intuk ngomong politik ra yo?

    • Lha itu barusan Mas Aat ngomong p-o-l-i-t-i-k. Selama tidak mendiskreditkan seseorang, entuk wae yuk, kan onthel juga perlu diakomodasikan dalam kebijakan publik. Siapa tahu ada kandidat walikota semacam Mas Hari yang mau memahami kepentingan onthelis… :-)

  111. Wah …Kangmas Hari iki wis bosen ngonthel di DeFOC to? Hualah…paling paling ke Jogya cuman mau nariki uang kontrakan yah? Kapan bosen jadi Juragan Kos kosan? Apa mungkin mau melarikan diri dari pencalonan Wali Kota Depok hayo? Kangmas Hari Budi kan juga Calon Walikota Depok dari Partai onthel DeFOC to…..biar onthelis Defoc tambah sejahtera……..Lha kalau Kangmas Hari Budi ke Jogya, yang mau nraktir mangan Sego Pecel siapa hayo…..Buat Pak De Wongeres …….mohon dingendikani yen Kangmas Hari ke Jogya jangan lama lama…karena kami sangat membutuhkan beliau………”kalau nggak ada lu, nggak rame” kata Bang Ben……..he he he he

    • Lha kok ndadak repot lho. Lain kali kalau Mas Hari ke Jogja silahkan dikuntit saja, biar beliau nraktir perjalanan Depok-Jogja PP plus sarapan SGPC Bu Wiryo. Mayar, kan?

  112. @ halaah malah mas Noer kok njur ngendiko ” saru” to.. moso pake tembung.. ntit …segala..hehehehe

  113. Menawi sampun telas wedanganipun sumangga dipun joki malih saking teko utawi poci. Teh gula batu, le ngoceh wis akeh, suguhan liyane kok durung metu. ngangyong, gembili, tela nipun saweg dipun goreng lan dipun godhog kalian mas juru masak

    • Dulu, jaman jadul, kalau ada teman lagi ngapel, kitanya lewat-lewat depan rumah sambil nyanyi-nyanyi nyemoni. Lagunya begini:

      kok kwat swie sam pe kyu tan po gwan… 2x
      kok kwat swie sam pe kyu tan po so gwan
      kok kuwat suwi tanpo suguhan!

      Hehe… dulu proses jadian itu begitu sakralnya ya. Sekarang semalem nembak dua kali juga mungkin. Wah…

  114. Sugeng siang, saya kok nggak bosen2nya untuk sekedar “mampir” blognya Pak Noer Wongeres ini, sambil nunggu2 liputan terbaru kok belum muncul2, nglaras ati sambil nyruput kopi kenthel. Saya nikmati sambil nyawang puncak Jayawijaya di depan kantor di Papua. Rasanya Jogja begitu deket saja setelah mbaca rerasan panjenengan sedoyo. Salam saking Papua, mugi2 tgl 24 dan 31 Okt pas balik jogja, kalau pas ada acara ngonthel kepareng bisa nderek, kebetulan pas nggak “mburuh macul” di tgl tsb…salam kenal untuk pak Hari DeFoc, pak Bagusmajenun, pak Yonthit…sungkem ugi kagem sedoyo wargo OPOTO..monggo.

  115. @ Kang Wongeres
    Nek matja tetembungane kontjo-kontjo ning blog iki…akeh sing ngarani blog iki kaja angkringan…dadine aku ja mung usul, pije nek blog opoto dirubah wae judule dadi ANGKRINGAN ONTHEL: Obrolan Mengenai Sepeda & Kehidupan”…dudu maneh “ONTHEL MELINTAS ZAMAN: Sepeda Onthel Dalam Kehidupan Kami”.

    Aku kapan kae weruh Kang Wongeres numpak Gazelle seri 1…wah heibat nemen, isa enthuk sepeda Gazelle paling tuwa…

  116. @ senthir lengo potro, ngademke pikir nang angkring OPOTO….hehehe.. monggo kilurah dilanjut le masak masak, poro pelanggan wis do ngantri…

  117. humbermania defoc 0905

    @Pakdhe Heri Agusti : ganti nama kok ndak pakai jenang abang-putih.@Mas Noor ,mas rendra,mas Bantoro :Meski Ktp saya tertulis domisili Depok,hati masih terpaut Yogya/Solo,nggak ada pikiran “nglalekke”.Lha kalo seandainya saya jadi adipati di Depok,rak yo malahan ndak bisa cengengesan di blog ini. Dan lagi saya ndak hapal2 lagunya Sang Adipati (yg jadi materi pertanyaan test masuk), he3

  118. humbermania defoc 0905

    @Mas Noor,blog njenengan ciamik,apa njenengan esuk-awan-bengi “ngekepi” laptop. Blog ini jadi istri keberapa, jangan spt do’i yang semilyar ummat. “Entuk gulone nglalekke godong katese”

    • Bukan laptop, Mas Hari. Nanti ndhak dikira nyaingi sedulur satu yang ajiannya laptop itu. Ini pakai komunikator jadoel. Karena kecil, jadi bisa sambil ngekep yang lain. Godhong katese didulitke gula: lebih manis tanpa harus kehilangan khasiatnya! Hehe…

  119. @buat Pak De wongeres…..saran dari Kang Watavus perlu dipertimbangkan, tetapi judul ONTHEL MELINTAS ZAMAN tetap dipertahankan (trade mark je !), mungkin judul diatas bisa ditambah “anak judul” , misalnya : angkringan onthel atau onthel dalam kehidupan kami atau yg lainnya….bukankah Pak De setiap membuat “had out : adventure of ngonthel selalu/sering ditambahkan dengan “anak judul”? Ini juga sekadar saran atau usulan lho Pak De…….maksudnya agar lebih indah gitu lho….dan lebih dikenal dan lebih dicintai….karena ada yg ngendiko bhw dlm beberapa aspek kehidupan : cinta akan bisa mengalahkan segalanya….hualah sok tahu nih saya…..
    @Mas Bantoro….di Papua masih banyak orang yg naik sepeda nggak? Wah nggak ngebayangin loh saya gimana baunya SADEL sepeda setelah kita naikin sambil memakai koteka…..wis jan ….iso semaput nih…
    @lih sedulur yg lain pada kemana…sepi…udah pada ke Surabaya yah?………nyusul ahhhhhhhhhhhhhhh
    t

  120. @Rangga Tohjaya…di Papua sepeda jg byk pakdhe,tapi klo di Jawa bolongan dikulit sadel ada 3,kecil-kecil (buat jalan angin mungkin)…klo di Papua,lobange cuma 1,tapi gede..mbuh nggo dalan apa..??…salam kenal pakdhe

    • Mas Yon, selain per/rangka, kunci kenyamanan sadel ya pada kulitnya. Apa hubungan kulit dengan lubang besar tadi ya? Kalau di kedokteran, spesialis kulit itu hubungannya ya sama… :-)

  121. Konjuk Para Sederek Opoters…
    Salah satu hasil Munas KOSTI di Surabaya kemarin, Jogja ditunjuk sebagai lokasi Konggress KOSTI pada bulan Februari 2011. Jadi sepertinya perlu ada kolaborasi antara JOC, Podjok, Opoto, Pory dan lainnya sebagai komunitas sepeda onthel terkemuka di Jogja…
    Mohon saran dan masukan lebih lanjut untuk disampaikan ke Pak Towil dan Pak Didi…

    • Horee… artinya para Opoters pun bisa bertemu sahabat onthelis dari seluruh penjuru Nusantara (waduh, kok egois ya? Hehe…). Salut!

      Pak Sahid, ini masakan angkringannya baru setengah mateng. Mohon ijin, bolehkah cerita Panjenengan tentang Abbeyfiets saat di teras ndalem Sahid Nugrahan dulu ikut kami jadikan referensi? Biar angkringannya lebih semarak… :-)

  122. @asyiiik.ada alasan kejogja lagii.. kepada sederek onthelis Jogja selamat menjadi tuan rumah.. semoga sukses..

  123. Abbey Fiets adalah sebuah artefak dari spiritual bicycle, karena pada masa kedinasannya dulu digunakan untuk tugas mulia penyebaran agama. Sumanggah Ki Ageng Wongeres, tapi saya hanya jurus pengawuran saja lho, jadi mohon dikoreksi kalau salah.
    Saya punya sepeda eks-pastur tetapi bukan abbey fiets…yang ternyata memberi pengalaman unik. Ketika saya memulai proses restorasi, kok hampir semua onderdil orisinil-nya berdatangan sendiri secara tidak sengaja dan semua dengan kondisi NOS atau A. Benar-benar luar biasa, saya hanya berpikir ini mungkin atas karunia atau berkat Tuhan karena sepeda itu dulunya banyak dipakai untuk beribadah…Wallahualam.

  124. @ wah pak Sahid..kulo sampun pensiun..sampun ketelasan pelor je..hehehe..
    berarti sepeda “relegi” pak Sahid yg telah selesai restorasi bisa dipajang saat konggres nanti pak biar semua tau betapa unik proses “menghidupkannya” lagi.. salam

    • Waduh Pak Rendra…kalau kultur sepedaonthel di Indonesia, sepeda restorasi biasanya tidak direken…jadi malu-maluin kalau dipamerkan…he..he..he..

      Kalau pelornya habis langsung cetak sendiri tho Pak…wong tiap hari ngadep mesin-nya he..he..he…

  125. Wah, kalau sebelumnya transportfiets lebih banyak memuat hal keduniawian, sekarang sudah beranjak ke priesterijwiel yang lebih dekat dengan religiositas. Hmmm… fenomena apa ini ya?

    • Di Indonesia, transportfiets tidak semujur di negeri asalnya belanda. Tidak banyak orang yang suka. Hal ini bisa dimaklumi karena ibarat naik truk kok dipakai clubbing atau piknik, jelas dijamin tidak nyaman. Desain transport memang lebih mengutamakan stabilitas saat membawa beban berat, jadi pada posisi kosong beban, juga tetap terasa kaku-kaku gimana gitu he..he..he.. Yang jelas harga transportfiets di belanda relatif mahal, jauh di atas semua sepeda ngetop di Indonesia (basis harga belanda lho), kecuali Fongers 1920-an kebawah, BSA airborne dan Simplex Zweefiets.

      Hal sebaliknya, Priesterrijwiel justru sangat didewakan di Indonesia. Saya lihat ada dua varian frame yakni varian abbey fiets dan special dames fiets. Untuk abbey fiets hampir semua merek memproduksi seperti yang paling tersohor yakni varian gazelle 9X. Untuk yang special dames fiets, di Indonesia sudah ditemukan Burgers Pastur, Simplex dan Gazelle. Dua yang terakhir tersimpan baik di Surabaya, sedangkan Burgers Pastur populasinya relatif lebih banyak. Yang sekarang mulai turun pamor adalah Gazelle 9X karena banyak dibuat replika-nya secara sempurna oleh maestro-maestro sepeda lokal.

      Jadi sebagai saran, kalau ada sepeda transport sebaiknya dibeli saja, karena lama-lama orang Indonesia akan sadar bahwa harga internasional-nya memang mahal. Fenomena yang terjadi juga sekarang ini dengan sepeda Fongers. Harga sepeda Fongers PFG saja saat ini sudah mendekati atau sekitar 10 juta padahal 3 tahun lalu maksimal hanya 5 juta itupun sudah komplit orisinil. Dunia sepeda memang dinamis banget…

  126. humbermania defoc 0905

    @Mas sahid,matur nuwun opininya,kemarin ada temen yg pernah “nge-idol” onthel sudah beralih pikiran ke seli atau sepeda gunung lainnya,bahkan sempat ngeledekin ” Wis tuwo kuwi wis gak jaman har,nggo nanjak sitik pedalmu copot” (saya ya nyengir saja,he3).Ternyata kepuasan batin ndak bisa dihitung secara matematis,ok salam dari depok.

  127. humbermania defoc 0905

    sugeng siang Mas Bantoro,njenengan bibar tindak saking papua,sekedar mengamati koteka atau Pelaksana Teknis bantuan bencana wasior. Riwayat persepedaan di Papua mungkin banyak di pedalaman (adanya misionaris2 brkl), lha kalo penduduk aslinya kayaknya nggak, sy blm pernah lifat foto jadulnya. Ngasto dimana mas di yogya

  128. @ Pak Hari DEFOC 0905
    Setuju Bapak, Holland bicycle memang bukan untuk naik gunung. Sepeda itu lahir di negeri dengan topografi datar, sehingga secara alami tidak dirancang untuk down hill atau cross country.
    Saya pernah beli sepeda MTB, Hybrid dan seli modern, tetapi setelah 3 bulan kok malah dongkrok nggak pernah dipakai lagi karena bosan rasanya. Ada kenikmatan dan suasana hati yang berbeda ketika naik sepeda onthel apapun mereknya. Sepeda onthel memang tua , tetapi yang klasik itu asyik. Setuju?

  129. Pak Hari dan Pak Sahid,
    Di Jakarta bahkan sudah pernah digelar seminar tentang olahraga sepeda. Kalau disimpulkan, untuk usia yang tidak muda lagi sebaiknya tidak mengendarai sepeda yang dirancang untuk olahraga prestasi (harus tahu diri. hehe…). Paling ideal justru naik sepeda onthel yang nyaman dipakai touring. Posisi stang tidak membungkuk sehingga aman untuk tulang punggung dan kedua lengan tidak menyangga beban berlebihan.

  130. humbermania defoc 0905

    suwun mas sahid dan mas noor atas dorongan moralnya,kalau ada iklan sepeda onthel baru,jargonnya mas noor leres sanget……,sehingga aman untuk tulang punggung….Asal jangan diembel-embeli “Untuk menyamankan tulang punggung dan menguatkan stamina dengkul,rajin2lah ngunjuk jamu kuat lelaki etc etc”,he3.Apa yogya masih aman2 saja,mengingat status merapi siaga 3,jangan lupa fongersnya disimpen di loteng,salam unt temen2 yogya

  131. kalo betulin sadel biayanya berapa ya mas, ganti kulit sadel baru

    • Mas Andre ayo langsung gaul saja dengan para peminat sepeda onthel. Hampir semua bengkel yang biasa menangani sepeda onthel bisa mengganti/menyetel kulit baru. Barangkali mulai 50rb-an ada Mas. Tergantung kualitas kulit dan tingkat kesulitannya.

  132. Pak nur mw tanya apa bengkel sadelnya mbah pudjo masih buka sekarang ini? pacsa merapi punya gawe. saya mw servis sadel. suwun

    • Mas Billy, Mbah Pudjo memang sempat menyingkir beberapa saat, tapi sekarang sudah pulang ke rumahnya dan kembali beraktivitas. Ketemu Februari ya Mas? Pasero brangkat semua ke Jogja?

  133. Mbah Pudjo sadel, sudah beraktifitas lagi di rumahnya di Gading Turi Sleman. Sekarang baru banyak ngantres servis sadel… hayo siapa mau ngantre

  134. insya 4JJI pak nur. semoga ada longgar waktu dan dana hehe

  135. Mbah Pudjo Sadel telah sowan marak ingkang Gusti Akrya Jagad, hari Rabu 25 Juli 2012, dalam usia 79. Kini penerusnya putranya yang telah dapat “sadel piturun” Mas Pujiharto…Salam

    • Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
      Kami atas nama komunitas Opoto menyampaikan ikut berbelasungkawa. Semoga semua amal kebaikan almarhum diterima oleh Yang Maha Pencipta dan diampuni segala dosanya.

      Kami sama sekali tidak mendengar berita ini sebelumnya. Maturnuwun awit informasinipun, Mas Tedy.

  136. wah infrmsi yang sangat membantu bagi pencinta ontel pemula,,,,,cuma bagi saya ada pertanyaan,,,kenapa lebih banyak di temukan sepeda keluaran england di banding holland,,,padahal holland di indonesia lebih lama di banding england,,,???mohon penjelasan dari rekan2 onthelis

    • Mas Heldyan, saya kurang tahu persisnya distribusi penjualan merek-merek sepeda Belanda dan Inggris. Sepertinya merek favorit di setiap daerah berbeda-beda, bergantung banyak faktor seperti kontur/kondisi jalan, daya beli, dsb. Di Bantul saya banyak melihat merek-merek Holland seperti Gazelle, Batavus, Burgers, Fongers, Simplex, Magneet, Juncker, Teha, Hartog, dsb daripada sepeda England yang lebih banyak dikuasai produk dari Raleigh industries (Humber, Raleigh, Rudge) selain Phillips yang juga banyak di sini. Apakah Mas Heldyan punya perspektif lain memandang hal tsb? Ayo dishare saja biar bisa jadi bahan diskusi di angkringan onthel ini Mas. Sumangga…

  137. Sepeda Belanda tidak beredar lagi pada tahun 60-an. Sedangkan sepeda Inggris spt Humber, Raleigh, Phillips sampai tahun 80-an masih banyak beredar di Indonesia krn importir dari Singapore masih menyuplai sehingga sempat dikenal Humber, Raleigh Singapura (bukan singe cet). Sedangkan dari sisi harga, sepeda Inggris (Phillips?)lebih terjangkau dibanding sepeda belanda. Dengan demikian di kalangan petani pedesaan lebih byk ditemukan sepeda merk Philips daripada mereka beli spd onthel Phoenix RRT (Cina) yg mulai byk masuk ke Indonesia.

    • Beberapa kolektor memberikan pengecualian pada sepeda Raleigh Singapore ya Mas. Kebetulan juga memang ada perbedaan signifikan pada produk ini dibanding produk ‘asli’ England. Jangankan begitu ya. Dalam hal apresiasi onthelis, sepeda Holland yang jelas sama-sama asli Gazelle pun yang seri muda tidak seberuntung seri-1 sampai seri-11.
      Selain Raleigh Singapore, sepeda lokal yang berkiblat pada sepeda Inggris pun rasanya lebih banyak. Yang terkenal bagus dan kuat misalnya produknya RM.

      Mas Bagus, terima kasih banget, sudah di Madinah kok ya masih sempat ngangkring sebagai tombo kangen kita semua. Semoga semua tugas dan kewajiban di sana dapat ditunaikan dengan lancar. Nanti pulang kita keliling pakai sepeda Juncker kembar ya. Semoga nanti ada priayi Karawang dan Garut yang kersa gabung. Haha…

  138. Siap Mas, untuk obat rindu teman-teman onthelis. Siap setelah Burgers tour, nanti akhir tahun 2012 tour de Juncker. Sekalian nanti Juncker Karawang bisa masuk Yogya, siapa tahu yang punya kersa. Di Madinah banyak sepeda transport palang double made in China merk Phoenixs yang dipakai warga Madinah dan Pakistan untuk berdagang.

  139. mas Bagus,sy doakan semoga ibadahnya lancar dan semua tugas peliputan sukses, si Juncker army uk 22 siap dikirim ke Jogja, krn buat sy terlalu rendah tumpakane….( seneng numpak sing duwur duwur mas, lebih sensqasional….)

    • Wah, komentar priayi satu ini agak multi-interpretable. Hehe… Saya malah lagi menikmati Burgers sport yang pendek, cekli, tapi gesit. Juga Juncker army pendek-pideksa dengan warna hijau luwuk! (Mas Bagus, urusan tinggi-pendek dan semua kenyamanan duniawi ini kita bahas nanti setelah menuntaskan tugas dan kewajiban) :-)

      Pak Rendra, nuwun sewu, lama tidak berkabar. Saya standby kok belum dikontak ya? Selama ini Opoto ngonthel terus lho, tapi belum sempat membaginya di blog.

  140. siap mas Noer, saya selesaikan tugasnya dulu, baru nanti di bulan desember ngonthel bersama sama Burgers Sports nan gesit dan trengginas

  141. bapak bapak onthelis, tolong bantu saya,
    saya punya onthel phoenix 26” (jengki) heren tapi setangnya model yang menggunakan rem seling,
    anehnya pada frame samping bawah emblem terdapat lubang seperti di sepeda sepeda onthel untuk rem jenis onthel, aslinya setang seperti onthel atau seperti yang menggunakan rem seling., tolong kalau ada fotonya di upload ya……..

  142. “Mbah Pudjo Sadel: Saya Menjual Orang! | Onthel Melintas Zaman” ended up being a good article and thus
    I actually ended up being very glad to locate the blog.

    Thank you-Ted

  143. What’s up, just wanted to tell you, I liked this article. It was practical. Keep on posting!

  144. I stumbled on your site on http://onthelpotorono.
    wordpress.com/2010/09/24/mbah-pudjo-sadel-saya-menjual-orang/ and I’m very thankful I have. It’s like you read my mind.
    You come across as knowing a great deal regarding this, like you authored a textbook on it or something.
    While I think some extra media like some pics or a couple of videos, this will be a fantastic resource.

    I will most definitely return.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s