Ki Ledjar Subroto, Wayang Kancil, dan Sepeda Onthel

Di masa kecil, siapa yang tak kenal dongeng Si Kancil, binatang kecil yang dengan akal dan tipu muslihatnya selalu mampu memperdaya binatang lain, termasuk Singa, Gajah, dan buaya yang jauh lebih besar dan lebih kuat darinya. Sayangnya, ada sifat negatif yang terus diingat orang, gara-gara perbuatannya mencuri ketimun milik Pak Tani. Jahatkah ia?

ngonthel juga bisa jadi pengalaman budaya…

Tidak! Jawaban mantap itu disuarakan dengan tegas oleh Ki Ledjar Subroto. Kancil, dengan tubuhnya yang mungil itu dapat dengan mudah menemukan makanan berlimpah di dalam hutan. Kancil terpaksa mencuri setelah hutan tempatnya hidup terlebih dahulu dirampok oleh manusia!

Pada Selasa malam, tanggal 17 Agustus 2010 lalu, komunitas Opoto (Onthel Potorono) berkunjung ke rumah Ki Ledjar Subroto yang kini dikenal luas sebagai dalang wayang Kancil dan wayang Perjuangan. Wayang ciptaannya telah dikoleksi oleh museum-museum ternama di dunia, antara lain di Belanda, Jerman, dan Perancis. Tak hanya itu, beberapa kali ia pun diundang memainkan wayangnya di sana.

Ki Ledjar Subroto, semangat kreatifnya terus menyala

Karena menunggu usai sholat tarawih, hari sudah agak malam ketika bersembilan kami berangkat mengayuh sepeda onthel kami dari Potorono. Jumlah kami terus bertambah setelah di jalan Kusumanegara dan di jalan Mataram bergabung para sahabat yang telah menunggu. Tanpa kami sadari, jumlah kami malam itu mencapai tujuh belas orang! Sebuah kebetulan yang semakin menggarisbawahi kesakralan 17 Agustus, hari kemerdekaan Republik Indonesia.

menciptakan karakter wayang hanya dari selembar foto

Saat kami datang, Ki Ledjar masih duduk-duduk di depan rumahnya. Ia agak surprised demi melihat kedatangan kami dalam jumlah cukup banyak. Setelah kami memarkir sepeda berderet-deret di depan rumahnya, dengan terbuka Ki Ledjar mempersilahkan kami masuk ke semua bagian rumah, termasuk studio mini tempatnya bekerja. Dengan sabar dan tetap bersemangat ia menjawab semua pertanyaan kami yang meloncat-loncat tak ubahnya pertanyaan kanak-kanak dengan seribu keingintahuan yang berputar-putar di dalam benak .

terus belajar, melacak keberadaan naskah cerita kancil

Ki Ledjar Subroto dilahirkan di desa Sepuran, Wonosobo, 73 tahun lalu. Nama kecilnya sebenarnya Djariman. Ayahnya yang asli Terban, Jogja, bekerja pada paguyuban wayang orang Ngesti Pandowo di Semarang. Terbawa oleh aktivitas ayahnya yang selalu bergelut dengan dunia kesenian, Djariman remaja pun tertarik dengan dunia seni. Ia pernah menjadi srati Ki Narto Sabdo, seorang dalang wayang purwo dan kreator gendhing Jawa yang sangat terkenal. Bahkan, Nama Ledjar itu pun didapatnya dari Ki Narto Sabdo karena penampilannya yang selalu bersemangat dan tak pernah berkeluh-kesah. Maka, nama Ledjar Subroto yang kini disandangnya itu mengandung pesan agar dalam berlaku, seseorang hendaknya selalu menjaga optimisme, tak perlu berkeluh-kesah menunjukkan beban pribadi di depan publik.

pantang berkeluh kesah

Dengan bekal pengetahuan yang dimiliki seputar dunia pedhalangan dan pewayangan, pada tahun 1960 Ki Ledjar ‘pulang’ ke Jogja. Karakternya yang selalu bersemangat membuatnya tak mudah menyerah. Seperti diketahui, dahulu para pembuat wayang kulit sangat bergantung pada keberadaan ancur sebagai bahan perekat dalam proses pewarnaan. Akan tetapi, demi meningkatkan permintaan pasar, pasokan ancur saat itu justru sering menghilang. Ki Ledjar pun berpikir keras agar ia tetap bisa berkreasi tanpa terpengaruh oleh kelangkaan bahan baku. Ia tertarik pada cat acrylic yang biasa digunakan mengecat tembok (outdoor). Selain warnanya cemerlang, kerataan dan ketahanannya terhadap cuaca pun memadai. Di samping itu, ketersediaannya di pasar pun selalu terjamin. Tak disangka, penemuannya ini memberikan hasil yang bagus dan diikuti oleh banyak orang di kemudian hari.

ada yang mengapresiasi karyanya dengan cara-cara tak biasa :D

Berangkat dari keprihatinannya terhadap penurunan kualitas pengajaran moral serta tradisi dari generasi ke generasi, pada tahun 1980 Ki Ledjar Subroto menciptakan wayang kancil untuk memvisualkan cerita-cerita Kancil yang diyakini sarat dengan dasar-dasar pengajaran moral dan –yang kini semakin kontekstual dengan zaman– penyadaran lingkungan. Wayang kancil itu dimainkannya sebagai pembuka pergelaran wayang purwo, sebelum anak-anak kecil dan remaja tertidur.

menyusuri kenangan dongeng kancil

Suatu hari, datang seseorang dari Belanda untuk memesan wayang darinya. Demi melihat wayang Kancil ciptaannya, orang itu sangat tertarik dan meminta dibuatkan seperangkat wayang Kancil untuk dibawa ke Belanda. Bukannya berpuas diri, pengembaraan kreativitas Ki Ledjar Subroto bahkan tak mau berhenti. Selain wayang Kancil, ia pun membuat wayang perjuangan revolusi kemerdekaan. Pada tahun 1987, untuk memperingati 200 tahun VOC, ia kembali mendapat pesanan untuk membuat wayang era Sultan Agung dan JP Coen. Tak hanya membuatkan wayangnya, pada tahun 2007-2008 Ki Ledjar Subroto bersama Nanang cucunya pun diundang mendalang di Belanda. Hebatnya, wayang sejarah kolonial versinya diterima dan diapresiasi dengan terbuka oleh orang-orang Belanda.

Bakmi Djawa 2 Djaman

Pengalaman dan pergaulan internasional Ki Ledjar pun kian meluas. Ada hal yang membuat Ki Ledjar Subroto terharu: mengapa orang-orang asing begitu mengapresiasi wayang dan memakainya sebagai media penanaman kesadaran akan sejarah bangsanya secara efektif. Sementara di Indonesia, seperti juga benda-benda di museum, wayang sering hanya diposisikan sebagai benda mati yang tidak membuat seseorang terhubung dan merasakan kemanfaatannya.

para pria punya gaya

Obrolan hangat kami baru berhenti ketika kami terpaksa pamitan, karena hari sudah terlalu malam. Ki Ledjar mengantar kami hingga ke jalan. Ia sempat memuji. Merawat sepeda onthel lama untuk berolah raga sambil menumbuhkan kecintaan kepada lingkungan termasuk budaya, menurutnya sungguh luar biasa. Sayang sepeda Gazelle heren 60 miliknya dulu sudah diberikan kepada seseorang. Kalau saja masih ada, ia mau bergabung dengan kami, kelakarnya.

ekspresi kejujuran, kejujuran ekspresi

Sesaat kemudian, bertujuhbelas kami sudah kembali beriringan menuju jalan Parangtritis + km2. Tujuan kami jelas, mencicipi “Bakmi Djawa 2 Djaman”. Jika sebelumnya kami biasa makan bakmi “Mbah Mo” yang dikelola oleh Pak Man di Manding, Bantul, maka Bakmi Djawa 2 Djaman ini dikelola oleh anak Pak Man.

tak puas jika tak menghirup udara malam

Nama “2 Djaman” itu untuk menandai generasi kedua bakmi Mbah Mo. Makna lainnya adalah, pembeli harus siap seandainya harus menunggu dua jam untuk antrenya! Kami pun tertawa, sementara Pak Man yang juga ada di sana tidak menolak gothak-gathuk ini. Apakah kami jera? Tidak. Kali ini pembelinya justru lebih betah berlama-lama. Kami baru mengayuh onthel kami, berpisah arah menuju rumah masing-masing setelah malam benar-benar larut, ketika beberapa menit lalu warung itu seharusnya sudah tutup….

About these ads

66 responses to “Ki Ledjar Subroto, Wayang Kancil, dan Sepeda Onthel

  1. @satu lagi seorang maestro telah diperkenalkan oleh sahabat OPOTO… sungguh sangat inspiratif. tks banget informasi berharganya..salam kenal buat Ki Lejar Subroto..

    • Pak Rendra, sekali-sekali acara onthelis bisa juga lho mengundang beliau. Mari kita dengar kembali dongeng Kancil seperti masa kecil dulu. Saya yakin, perspektif kita dalam memahami dongeng tsb sekarang pasti akan lain. Kita akan mengakui bahwa seperti juga cerita rakyat, dongeng Kancil bukanlah melulu untuk kanak-kanak. Koruptor yang kalau ditegur malah melotot, disidang terus berkilah itu misalnya, siapa tahu ketika ‘dijewer’ dengan cerita Kancil malah terketuk…

      Tapi jangan balik ditanya: lha onthelis kan bukan koruptor? Haha…

  2. wdwwwww ngk ikut hikhikhikhik3

  3. semoga karya dan pagelaran wayang kancil dapat menggugah dan mengetuk hati yang paling dalam bagi kita semua untuk menjaga keseimbangan alam yang mulai goyah.

  4. kancil lawan harimau, kancil lawan buaya, kancil mencuri timun pak tani….

    dongeng “sederhana ” yang dulu biasa diceritakan oleh para orangtua kita sbg pengantar tidur, dan diakhir cerita disambung dengan nasehat2 disesuaikan dengan kebandelan kita…he he he

    makasih om Nur… :D

  5. heri agusti - DeFOC

    Wayang Kancil? Wah ,….Cerita Kancil yg cerdik sangat populer waktu saya masih kecil, sebelum tidur Eyang Kakung selalu menceritakannya dengan “dirubung” cucu cucunya termasuk saya. Falsafahnya : menghadapi hidup, seseorang tidak mesti harus menggunakan “okol” (tenaga), tetapi pergunakanlah “akal” (cara yg cerdik). Akal yg cerdik akan mengalahkan segalanya , termasuk memecahkan masalah dg bijak. Benar begitu Pak De Wongeres? Ki Lejar pernah menjadi SRATInya Ki Narto Sabdo, kalau srati itu apa ya Pak De, nggak ada dalam Kamus Poerwodarminto yg saya punya. Lah kalau melihat penampilan fisik dari Ki Lejar saya ingat Mas Yok Koeswoyo Koes Plus, saya pernah sowan ke tempat beliau,,,,,benar benar hidupnya mengabdi kpd seni…dan tentunya sebagai profesi yg menjanjikan………iso sugih dan beramal…..saya mau tuh….he he he he

  6. sempat melihat pentas wayang kancil di TVRI Yogyakarta dan Surabaya ( th 80 an ), agak lucu melihat tokoh hewan hewan bisa melakukan aktivitas seperti manusia, dan yang lebih menyenangkan ceritanya jadi mudah diterima anak-anak.sayang kenapa tidak ada wayang kancil di perpustakaan sekolah dasar ataupun TK. sangatlah mudah bagi guru untuk mendapatkan perhatian siswa, mengiring pemikiran pada cerita yang ditampilkan, sayang media yang bagus ini kurang dimanfaatkan u kemajuan bangsa ini, semoga malaysa membuat klaim wayang ini dari malay agar semua baru melek.

  7. @mas Faj…bener saya setuju banget…daripada dengerin Upin Ipin yg bahasanya malah ” merusak” bahasa indonesia yg dengan susah payah diajarkan kepada anak anak kita oleh para guru…
    @ mas Heri…Srati yg dimaksud mas Noer sepertinya kiasan lho…bukan arti sebenarnya…kan Ki Narto bukan Gajah…hehehe… mungkin maksudnya pernah jadi “asisten”nya KI Narto sang Empu pedalangan…
    @mas WC …ntar anak2 mau didongengin apa hayo….kapten Shubasa?…..

  8. Wah, kenangan masa kecil yang indah. Ya itu yang dimaksudkan oleh Ki Ledjar. Mendongeng, menjelaskan pesan moralnya, merupakan proses peletakan fondasi moral bagi generasi penerus yang sekarang sudah jarang dilakukan.

    Setahu saya, srati itu yang melayani dalang. Srati juga berarti penggembala. Kan ada istilah: “wong siji kae angel sratenane”. Teman saya dulu suka melayani ayahnya mendalang. Ketika ayahnya sudah mulai suluk sambil meminta wayang, teman saya ragu, wayang mana yang diminta disiapkan. Terpaksa dia teriak: “Pak, ini Pak?” Lha ayahnya yang lagi tanggung kok ya mau menjawab pertanyaan anaknya: “Eee… bumi gonjang-ganjing… haiyo Leee…” Hahaha…

    Benar juga, Kangmas Heri. Sosok dan rambutnya Mirip Yok Koeswoyo. Suka ngoesplus juga ya?

  9. di jaman yg serba maju ini orang sok pada kesusu(tergesa-gesa) contohya kalau kita mau menyeberang jalan saja kadang susah,pengendara bukanya memperlambat kendaraanya tapi malah tancap gas dan kurang roso (rasa) atau kurang saling menghormati sesama. nah disinilah ki Ledjar mau menyampaikan pesan Sosial,kemanusian dan keTuhanan dan yang penting juga adalah…Moral yang kini sudah mulai pudar , serta bisa mencintai Alam Lingkungan yang sebenarnya sangat..Indah itu yang kini juga telah banyak dirusak oleh manusia dengan sadar ataupun tidak,sehingga BUMI jadi sering Gonjang-Ganjing ,keBANJIRan kadang keKERINGan bahkan kePANASan. setidaknya dengan mengOnthel kita bisa mengurangi Polusi dan hidup Sehat serta punya Rasa (Roso) buat sesama dan Alam sekitar.

  10. Omong-omong tentang wayang, saya cukup prihatin dengan kondisi museum wayang di Jalan Wonosari. Seharusnya ada mekanisme pendanaan dari Pemda /Negara untuk museum-museum swasta sebagai bagian dari apresiasi daerah/nasional terhadap kekayaan budaya Indonesia. Lebih sulit membangun museum dari nol dibanding turut merawat museum yang sudah ada. Memelihara properti heritage seyogyanya menjadi sebuah sistem, bukan sekedar spontanitas sesaat setelah ada resiko diaku-aku tetangga bonek Malingsia.

    • Mengelola museum di Indonesia saat ini memang serba salah, Pak Sahid. Dana pengelolaan sangat tidak memadai, pengunjung yang datang sangat sedikit, sementara menggunakan sponsor pun setau saya tidak diperkenankan. Ada ide?

  11. @ iya betul mas Noer n pak sahid..rasanya miris kalau lihat kondisi musium2 kita… kalau mau rame dikunjungi bisa aja kunjungan ke musium jadi pelajaran wajib bagi siswa SD sd SMU… atau kalau perlu bagi wahasiswa ana nilai SKSnya…hehehe

  12. Kalau menggunakan terminologi bisnis, museum-museum harus diperlakukan sebagai “cost centre”…artinya mereka tidak harus untung, tapi juga tidak boleh mati. Memang idealnya museum jangan hanya jadi sebatas galeri, tetapi harus mampu menjadi learning centre dan sekaligus juga entertainment centre.
    Museum di luar negeri yang sudah advanced, selain souvenir shop yang megah, biasanya ada cafe museum yang nyaman, sehingga pengunjung betah berkunjung. Kemudian layanan informasi sejarah juga sangat detil baik hardcopy maupun audio.
    Kalaupun Pemerintah mengaku tidak ada dana karena lebih suka memberi subsidi BBM daripada subsidi museum, maka menjadi tanggungjawab masyarakat kita sendiri untuk berinisiatif mendonasi museum. Misalnya Ki Wongeres cs. mendonasi museum wayang karena lokasinya yang paling dekat he..he..he… Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga warisan leluhur…

  13. heri agusti - DeFOC

    Museum, identik dengan sejarah. Bung Karno pernah “bersabda” : Jangan sekali kali meninggalkan sejarah (JASMERAH)….lah ini “kita” malah kurang perhatian kepada museum, mungkin yg paling bagus utk lebih mendekatkan diri kpd museum/sejarah adalah pendapat dari Denmas Rendra , menggiring para pelajar/mahasiswa (yg sesuai dg disiplin ilmunya)utk “dekat” dg museum dikaitkan dg tugas tugas belajar dan mengajarnya…….Ngomong ngomong …..dimana sih keberadaannya museum sepeda di Indonesia ini ya? Apa sudah ada? pingin ngeliat nih……dimana ya? Mohon pencerahannya….matur nuwun…

    • Wacana mewajibkan pelajar mengunjungi museum belum lama pernah digulirkan, tetapi lalu ada persoalan baru, baik di pihak sekolah maupun pihak museum. Jika kunjungan itu harus membayar, berarti beban orang tua murid akan bertambah. Jika tidak membayar, berarti tidak memberi solusi bagi museum.

      Sebenarnya ada dua hal lagi yang berkaitan dengan karakter bangsa kita:

      Pertama, ‘museum’ yang mensyaratkan ruangan khusus dengan perlakuan dan perawatan atas benda-benda kuno berbiaya mahal itu belum kita kenal betul dalam peradaban kita. Daripada memasukkannya ke museum, kita lebih suka memodifikasi warisan lama agar masih bisa bertahan untuk kita gunakan/manfaatkan untuk kehidupan sekarang, meskipun pemanfaatannya tidak sesuai lagi dengan fungsi awalnya. Lihat saja pemanfaatan gebyok, lesung, dsb.

      Kedua, kita kurang mampu menghayati relevansi benda-benda tsb dengan kehidupan kita saat ini. Seperti kata Ki Ledjar, koleksi museum cenderung diperlakukan sebagai benda mati yang tidak bicara apa-apa, ditempatkan dalam ruangan yang ‘diwingitkan’ sehingga sepi pengunjung. Mohon maaf, bukankah hal ini juga ikut berkontribusi dalam musibah pencurian benda purbakala?

      Menghargai sebenarnya tidak harus dengan mensakralkan atau mewingitkan sehingga justru menjadi benda/area mati. Beberapa teman sepertinya mulai berpikir bagaimana lebih menghidupkan kawasan Jogja nol kilometer tanpa harus menghilangkan atau meremehkan nilai historisnya.

      Pak Sahid, teman-teman Podjok, JOC, PORY dll adakah ide untuk hal ini?

    • Kangmas Heri, ada sahabat onthelis Jogja yang sebenarnya memiliki materi sangat memadai untuk mengisi sebuah museum onthel. Banyak hal sedang dipikirkan, karena kalau nasibnya hanya akan seperti museum yang sepi pengunjung sementara koleksinya terus dicuri orang, untuk apa?

  14. Matur nuwun untuk OPOTO yang telah mengajak kita untuk menelusuri jejak sejarah & budaya .persahabatan Dua komunitas yang sangat akrab, semoga kekal hingga nanti….amin..kami tunggu ajakan penelusuran jejak selanjutnya
    …semangat Onthelis sejati tiada henti.

    • Sami-sami, Pak Tarto. Terima kasih juga sudah kersa bergabung malam itu. Banyak tempat yang wajib kita kunjungi untuk pembelajaran bersama, juga masih banyak bakmi yang mengundang selera. Hehe…

  15. Itu koleksi Pak Wongeres sudah bisa untuk bikin museum sepeda lho…he..he..he..dengar-dengar sampai dititipkan ke rumah tetangga segala saking banyaknya he..he..he..

    Populerisasi museum memang perlu “marketing event”….membikin acara-acara thematik di museum bisa membuat museum kembali ramai dikunjungi…contoh sederhana seperti yang sudah dilakukan Podjok dengan menggelar Djokdja Onthel Carnival 2010 di Benteng Vredeburg mampu menarik ratusan onthelis dari seluruh penjuru nusantara hadir di Benteng Vredeburg…sekarang tinggal cari EO yang piawai dan donatur yang kaya…

    • Di Karawang mestinya juga sudah bisa berdiri sebuah museum sepeda bernama “joglo onthel”. Bagaimana di Depok? Hehe…

  16. @mas Noer…saya setuju kalau yg di jogja bernama ” nggolo Onthel Musium”… apalagi dilengkapi koleksi Potorono…kalau di karawang blm layak mas… btw sy td kirim MMS mhn komentarnya. salam..

  17. Ayo Maneh ..!!

    • Boss, perasaan sekarang kok muahal kata-kata ya. Biasane clekopane ruame kok kemarin itu anteng, malah asik sms-an. Lagi banyak job atau kejar setoran lebaran ya? :D

  18. Salut & kagum dgn wayang kancil hasil tulisan OPOTERS… Semoga ada regenerasi utk melestarikan “wayang kancil” hasil karya maestro Ki Ledjar Subroto…
    @ Wongeres, kalau saya siap menampung sepeda-nya bila semua tetangganya sudah penuh sesak buat naruh koleksinya,ha3x…
    @ Pak Rendra, saya pikir di “Ndalem Joglo Karawang” sudah layak sbg museum onthel, dgn koleksi sepeda yg masterpiece & collectible item…

  19. Pokoknya seneng…karena sudah banyak kepedulian para pahlawan heritage untuk turut menyelamatkan sepeda onthel dari gilasan jaman…mulai sabang sampai merauke semua kompak menjadikan sepeda onthel menjadi benda berharga kembali…merubah seonggok rongsokan sepeda penuh karat menjadi sebuah sepeda indah yang enak dipandang adalah sebuah proses cipta, rasa, karsa dan karya yang luarbiasa…

    • Kalau masih ada seonggok rongsokan Fongeras HZ yang tidak berharga, bolehlah saya saja yang menjadikannya indah kembali, Pak Sahid. :D

  20. @ Ki Wongeres
    Fongers tipe BB, BD, CCG, BDG, HZ dan DZ sudah semakin langka…perlu prihatin puasa 40 hari untuk mendapatkannya he..he..he..

  21. Pak Sahid, lha ini puasanya kan sudah dapat 21 hari. Makanya teman-teman pada nggethu, madhep mantep kejar setoran, baik setoran dunia maupun akhirat.

    Selamat mempersiapkan lebaran. Jangan lupa sisihkan sedikit THR untuk melengkapi onderdil onthel kita :D

  22. Ada enggak ya, yang mau infaq onderdil dan asesoris onthel?

    • Oh, langsung Mas Bagus. Nggak usah nunggu teman, silahkan menginfaqkan onderdil ke Potorono. Saya lagi butuh persneleng bumbungan :D :D

  23. @ saya juga lagi butuh lampu dan bell burgers..monggo sapa aja yg mau infak akan diterima dgn senang hati…hahahaha

  24. @ Pak Rendra…bel Burgers lumayan langka sebagaimana bel Fongers…saya prediksi kalau kondisinya A atau B bisa sekitar Rp 1,5 bahkan lebih kalau ketemu kolektor top…

  25. Mas Noer : Perseneleng Bumbungan 3 speed, stang Fongers PFG, Bel Burgers, Lampu dan Dinamo Burgers. Ayo hunting ke Pasar Bekonang Sabtu kliwon besok

  26. @pak Sahid…iya barang tsb memang langka..sy pengin dpt yg hrg terjakau mskpn kondisi C hehehehe..padahal pitnya blm punya.. apa kbr pak?

  27. @ Pak Rendra…saya dulu pernah hunting burgers pastur tapi belum beruntung. Mungkin bisa dimulai dari bel-nya dulu he…he..he..

  28. @kalau penjenengan kerso maringi koleksinipun pasti kulo tampi pak.. namung maharipun kls C mawon..hehehe

  29. walah poro priyayi engkang minulyo sampun ” berburu” apa saya bisa kebagean ya ?

  30. humbermania defoc 0905

    suwun banget temen2 opoto mengangkat tulisan ini.Wayang kancil,wayang suket,wayang pasir atau wayang apapun juga,barangkali merupakan pendobrakan kemapanan tradisi yang mungkin melanggar”pakem”.Tapi itulah Ki lejar mengajarkan kita menerima dan memahami perbedaan dengan indah,amin.

  31. @humbermania defoc,hwalah…..jangan jangan piyayi yogya satu ini juga mantan dalang nggih? paling nggak DALANG JEMBLUNG dari Banyumas yg kalau lagi ndalang iringane pakai bunyi bunyian mulut spt musik akapela atau musik nasyid……he he he he …blang gentak tung ting tung….gong……hayo pernah denger nggak….cukup
    mengundang senyum ditengah dakwah agama yg serius……..

  32. Wayang Mbah Ledjar dan wayang Pucung Imogiri sudah, tinggal tinggal wayang kulit Tamansari dan Gendeng Bangunjiwo

  33. SEGENAP KELUARGA ONTHEL POTORONO
    MENGUCAPKAN SELAMAT IDUL FITRI 1431 H
    MINAL AIDIN WALFAIZIN
    MOHON MAAF LAHIR BATIN

  34. heri agusti - DeFOC

    buat semua kerabat onthelis yg telah mengisi blog OPOTO, saya mengucapkan mohon maaf LAHIR DULUAN buat yg lebih muda dari saya, dan yg lebih tuaan dikit dari saya , mohon maaf LAHIR BELAKANGAN…..kalau tentang kesalahan saya kepada panjenengan sedoyo, sudah tentu saya juga mohon dibukakan pintu maaf yg selebar lebarnya….semoga amal ibadah puasa kita mendapaat pahala yg berlimpah
    dari Gusti Alloh…dan kita menjadi manusia yg fitri utk menjalankan sisa hidup kita di alam yg fana ini….dan semoga kita semua menjadi manusia yg mendapat kebahagiaan di dunia dan di alam keabadian nanti….amin amin amin

  35. wahai saudaraku, berbahagialah orang orang yg beriman yg bisa menjalankan ibadah saum dg ikhlas, karena ada hadis yg mengatakan : surga menunggumu wahai orang yg beriman yg menjalankan ibadah saum dg ikhlas karena Alloh taala.
    tetapi jangan pernah merasa bosan untuk onthel……….njih to Pak De.

  36. Kapan Ngothel bareng-bareng lagi Boss?

  37. oh Tuhan…
    kemana saja aku?
    Untuk semua anggota Opoto, Pak Nur, Pak Tono dkk, untuk semua salah, khilaf, ngrushi, ngrepoti, mohon maaf yang sebesar2nya. Terima kasih untuk kesempatan boleh numpang ngonthel.
    Untuk bapak2 lain yang baru bertemu di angkringannya Opotho ini, Pak Sahid, Pak Rendra, Pak Heri, Pak bagus dll, kalau ada salah tulis atau komentar, mohon maaf yang sebesar2nya.
    Lamkompak selalu.

  38. @ kepada semua pengunjung dan pelanggan angkringan OPOTO saya mohon maaf lahir batin bila selama bergaul telah dengan sengaja maupun tdk telah membuat kesalahan… semoga di hari fitri ini semua kembali ke titik nol…amiin
    @ kepada mas Noer dan klg sy telah banyak ngrepoti..secara khusus menghaturkan permohonan maaf lahir dan batin semoga di “lembaran” baru nanti segalanya jadi lebih cerah dan sukses.. salam..
    @mas Aat… sakonduripun njih..nuwun..

  39. @mas Aat, podo podo njih mas, kulo injih nyuwun gunging pangapunten
    Buat Denmas Rendra, kami juga mohon maaf yg sebesar besarnya atas kesalahan ataupun kehilafan kami selama ini….disertai doa semoga keluarga Denmas Rendra senantiasa mendapatkan rahmat dan karuniaNYA yg berlimpah dari Gusti Alloh yg maha welas.

  40. walau terlambat dengan tulus, kami mohon mohon maaf atas kesalahan kami, baik yang disengaja maupun tidak.
    terima kasih untuk mas tono akhirnya kita bertemu di potorono.

  41. @mas Heri mas Faj..njih sakonduripun kulo njih nuwun gunging pangaksomo sedoyo kalepatan..salam

  42. Kagem Para Sedherek Sedanten, Ngaturaken Sugeng Riyadi. Iwak Sepat Kecemplung Santen Menawi Wonten Lepat Kawulo Nyuwun Pangapunten

  43. Konjuk para sederek Blogger. Kula saha brayat ugi nderek ngaturaken Sugeng Riyadi 1431 H, nyuwun pangapunten menawi wonten lepat kaliyan khilaf nalikanipun gumujengan wonten blog Opoto ingkang saestu ngedap-ngedapi menika. Nuwun. SN.

  44. Yang singkat itu
    “WAKTU”
    Yang dekat itu
    “MAUT”
    Yang barat itu
    “AMANAH”
    Yang sulit itu
    “IKHLAS”
    Yang mudah itu
    “BERBUAT DOSA”
    Namun…
    Yang paling indah itu jika kita mau dan bisa
    “SALING MEMAAFKAN”
    MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
    MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN (Juru Warto & Keluarga)

  45. @Ki Juru Warto, masih ada lagi :
    Yang enak itu
    “NGONTHEL”…….
    Lah emang sih yg paling indah adalah ” SALING MEMAAFKAN”……..utk itu kami Heri Agusti juga mohon dimaafkan atas kesalahan dan kekhilafan kami yg telah kami perbuat kepada panjenengan selama ini…..semoga “persaudaraan yg hakiki” (slogan DeFOC) diantara kita tetap terjalin…kami sangat merindukan ungkapan ungkapan hati dari Kangmas Ki Juru Warto di blog angkringan ini……nuwun

  46. Duh…duh… mohon maaf, bakul angkringannya malah baru nongol. Sekali lagi, saya atas nama pribadi maupun komunitas Onthel Potorono memohon maaf seandainya ada ucapan maupun tindakan yang barangkali membuat teman-teman, pengunjung angkringan, serta para pinisepuh kurang berkenan.

    Silahkan berdiskusi lagi, jangan sungkan berbagi komentar dan informasi.

    Khusus buat Mas Aat dan keluarga, kami menyampaikan selamat atas kelahiran putri kedua. Semoga semakin melengkapi kebahagiaan keluarga.

    Salam onthel, salam persahabatan abadi…!

  47. Teman-teman Opoto, ayo ambil lap dan semir, siapkan sepeda onthel kita. Hujan boleh turun, tapi semangat ngonthel tak akan terbendung.

    Minggu lalu saya ngonthel berdua Mas Zamnuri ke Imogiri. Di tengah jalan ketemu Pak Daryanta dan disusul teman-teman Podjok yang ternyata ada agenda Syawalan di warung pecel Bu Wied. Sayangnya dengan Pak Sahid kami malah belum ketemu. Pak Sahid, apa kabar? Baru siap-siap menjamu tamu ya? Semoga sukses.

  48. Ki Ageng Wongeres, minggu lalu ndilalah barengan dengan syawalan komunitas leluhur di Jatinom Klaten, jadi terpaksa bagi-bagi…saya hanya melepas start sobat-sobat Podjok dari rumah Golo, terus bablas Klaten…

  49. heri agusti - DeFOC

    Buat Mas Aat, salam kenal yo dari saya Heri Agusti – DeFOC, juga saya ucapkan selamat berbahagia dg kelahiran putri keduanya (tentunya dari istri pertamanya yo Mas?) Soale aku tahu bahwa Mas Aat punya istri kedua , yaitu itu lho yg suka dilus lus yen wayah bengi…………onthel, hayo siapkan semir dan lap……bikin indah dan nyaman istri kedua kita…..he he he he…nyuwun ngapunten nggih ……….ojo nesu….ojo bosen ngonthel….
    besok ngobrol lagi …..nunggu “pancingan” dari Ki Ageng Wongeres ….
    Halo Pak De Wongeres…..habis lebaran , keluarga pada sehat semua kan Pak De ? Salam buat kerabat OPOTO ….mari turun gunung lagi menebar virus onthel…………

    • Salam Pak Heri Agusti.
      Maturnuwun atas ucapannya. Ini kekahannya mau diantar ke depok? lewat Pos ya…
      Memang kemarin ada masalah dengan semir dan lap. Malem2, rekane mau nyemir dan ngelap istri kedua, malah kleru istri pertama….
      Salam buat rakyat Depok dari rakyat Depok Sleman!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s