Blangkon, Pengabdian, dan Sepeda Onthel

Salah satu yang akan muncul setiap kali membayangkan sosok orang Jawa barangkali adalah blangkonnya, yaitu penutup kepala bagi pria Jawa agar tampil lebih tampan dan rapi.

Opoters mengunjungi Mbah Ngudi Pawoko, pembuat blangkon di Bantul

Perjalanan historis blangkon bermula dari kebiasaan para pria Jawa tempo dulu mengenakan ikat kepala yang terbuka di bagian atasnya. Ketika pengaruh Islam masuk, bentuk ikat kepala pun mulai berubah. Anjuran Islam untuk menutup seluruh bagian kepala telah melahirkan udheng/iket yang lebih rapi dan mampu menyembunyikan rambut panjang mereka, tetapi cukup rumit cara mengenakannya. Sebelum menggunakan udheng/iket itu, rambut mereka terlebih dahulu harus digelung kecil atau dikuncir ke belakang. Ada yang membuat kerata basa bahwa ketika mengenakan udheng, maka seseorang harus mudheng. Artinya, setidaknya ia harus paham menakar ukuran kepalanya sendiri.

Blangkon adalah bentuk penyempurnaan dari udheng atau iket yang baru mulai dikenal pada awal abad ke-20. Konon, nama blangkon berasal dari kata blangko, karena sebagai udheng/iket instan, tanpa berbekal pengetahuan apa pun orang akan mudah mengenakannya. Sebagai produk yang hadir lebih kemudian, blangkon ternyata ikut mengadopsi bentuk gelung/kuncir yang menonjol saat orang mengenakan udheng/iket menjadi mondholan, yaitu sebuah tonjolan kecil di bagian belakang blangkon Jawa. Jadi, tentu saja tidak benar kalau dikatakan bahwa mondholan itu merepresentasikan karakter orang Jawa yang suka berbaik-baik di depan, tetapi nggrundel atau menyimpan perasaan tertentu di belakang kepalanya.

Pak Tjip & Pak Joni, meski tak ikut serta, menemani menunggu hujan reda

Minggu pagi, 9 Mei lalu, setelah bersepeda di bawah rintik hujan, komunitas Opoto (Onthel Potorono) berkesempatan mengunjungi seorang senior dalam hal pembuatan blangkon yang juga dikenal luas sebagai abdi dalem pembawa songsong (payung) pusaka keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia adalah Wedono H. Ngudi Pawoko yang selalu setia memayungi Sri Sultan Hamengku Buwono X di setiap acara ritual Keraton Jogja.

Ketika kami sampai di rumahnya di desa Garon RT 2, Panggungharjo, Sewon, Bantul (Jalan Parangtritis km 7), Mbah Ngudi Pawoko sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Meskipun Mbah Ngudi Pawoko banyak dikenal, khususnya di lingkungan keraton, tetapi perkenalan kami lebih karena sebagai sesama penyuka sepeda onthel. Kami mengenalnya sebagai Mbah Rejo (begitu nama aslinya), salah seorang yang teliti dalam mengamati dan menilai sepeda onthel. Di usianya yang menginjak 81 tahun, Mbah Rejo masih kuat mengendarai Gazelle ukuran 60 favoritnya.

bertamu menimba ilmu

Di usianya sekarang, Mbah Rejo masih produktif membuat blangkon berbagai model, baik model Mataraman (Jogja) maupun Solo. Bahkan, sesekali pernah juga orang memesan blangkon model Ciamis. Selain dari corak dan warna batiknya, perbedaan ketiga blangkon tersebut terdapat pada bentuk mondholannya. Mondholan pada blangkon Jogja berbentuk lonjong ke bawah, sedangkan blangkon Solo memiliki mondholan berbentuk bulat pipih. Sementara blangkon Ciamis yang datar di bagian belakangnya bisa dibilang tidak memiliki mondholan.

penyambutan simpatik, topiknya pun menarik

Semasa muda dahulu, sebuah blangkon yang bagus dengan 14 hingga 17 wiru (lipatan) yang rapi di kanan-kiri mampu dikerjakannya dalam waktu 3jam. Itu pun dikerjakannya hanya dengan penerangan lampu senthir (lampu minyak kecil). Sekarang, karena tenaga dan matanya sudah tidak seperti dulu lagi, menyelesaikan sebuah blangkon memerlukan waktu hingga dua hari. Mbah Rejo mengerjakan semua itu dengan bantuan isterinya, seorang pedagang pakaian yang tangguh dan mandiri semasa gadisnya.

tetap sehat dan produktif

Batik tulis kira-kira selebar 105cm x 105cm sebagai bahan kain blangkon biasanya harganya berkisar Rp100 ribu, sedangkan jasa pembuatannya dihargainya Rp60 ribu. Tetapi, beberapa pelanggannya kadang tidak lagi menghitung harga. Begitu mendapatkan blangkon cocok sesuai keinginan, kadang mereka meninggalkan sejumlah imbalan yang lebih dari cukup. Untuk semua itu, Mbah Rejo sudah bersyukur. Ternyata keterampilan yang dipelajarinya sejak remaja itu bisa terus memberikan manfaat, baik bagi dirinya beserta keluarga, maupun bagi masyarakat luas.

Ayah Mbah Rejo dahulu adalah seorang penjahit terkenal yang antara lain juga menjahit iket. Tetapi, keterampilan Mbah Rejo dalam membuat blangkon justru didapatnya dengan belajar dari Pak Jendi, seorang abdi dalem yang juga dikenal dengan nama Lukito Pangarso. Mbah Rejo tidak menyimpan sendiri pengetahuannya. Terbukti banyak sudah orang belajar darinya. Dalam mengajari, Mbah Rejo tidak pernah memaksa, karena ketekunan dan ketelitian berlatihlah yang akan menentukan kemudian. Di lingkungan keluarganya sendiri, justru hanya seorang anak menantunya yang berminat mempelajari keterampilan ini.

Mbah Rejo, Gazelle, blangkon Mataraman dan blangkon wulung Solo

Bagi Mbah Rejo, keterampilan membuat blangkon ini adalah berkah. Keterampilan inilah yang telah membawanya ke dalam lingkungan keraton, bahkan hingga ke lingkaran terdekat dari raja. Ia telah mengabdi sejak sebagai bekel sepuh, lurah, lalu wedono. Tugasnya sebagai pembawa payung pusaka keraton bukanlah tugas yang sederhana. Untuk mengemban tugas ini, seseorang harus bersedia melakukan tirakat, sebuah laku prihatin untuk membersihkan diri lahir-batin.

sepeda onthel dan bahasa kasih

Di luar pengabdiannya di lingkungan keraton, Mbah Rejo tetap bebas mengekspresikan kegemarannya terhadap sepeda onthel. Beberapa sepeda Gazelle dengan kondisi sangat prima hingga ke detail bagian serta aksesorisnya disimpannya baik-baik. Opoters yang berkunjung pagi itu serasa betah berlama-lama karena banyaknya topik dan pengetahuan yang bisa kami pelajari dari Mbah Rejo atau Mbah H. Ngudi Pawoko. Satu-satunya alasan kami untuk kemudian beranjak pamit adalah karena adanya tuntutan lahir yang tidak kalah penting, yaitu nyoto. Maka, kami pun mohon diri sambil berjanji suatu saat akan datang bertamu lagi.

hidup adalah mengisi waktu dari saat nyoto ke saat nyoto berikutnya :D

Sesaat kemudian, kami telah duduk berkumpul, membicarakan semua yang telah kami saksikan sepagi itu sambil menikmati semangkuk soto Jawa dan teh hangat. Inilah saat-saat yang khas dan menyenangkan. Mas Syafaat, sahabat onthelis dari Janti yang pagi itu ikut bergabung dengan kami pun begitu lebur menikmati kekraban suasana.

Usai menghabiskan semangkuk soto, kami kembali mengayuh sepeda onthel kami dan berpisah jalan di kawasan Wiyoro. Di jalan pulang itu kami sempat berkejaran dengan hujan yang hingga bulan Mei ini belum juga puas melepas kerinduannya mencumbu bumi.

About these ads

74 responses to “Blangkon, Pengabdian, dan Sepeda Onthel

  1. tambah lagi ilmu dari “onthel hunter” dan” knowledge hunter” sang OPOTER. matur nuwun OPOTER………..gapai terus kelestarian onthel dan onthelis, kelestarian soto dan sotois.
    Salam dari DeFOC…….

    • onthelpotorono

      Menambah wawasan itu salah satu motivasi kami, Mas Heri. Kalau soto itu salah satu pelampiasan naluri. Haha…

      Salam juga dari kampung Potorono.

  2. @ dlm tiap reportase selalu kaya informasi,sederhana dan khas OPOTO…
    mas apa bisa kami pesen blangkon wulung model Solo ke Mbah Ngudi Pawoko ya, seandainya memungkinkan kami akan sangat senang dan bangga mengoleksi karya sang mestro blangkon Jogja yg misuwur…
    …. sotonya..hemmmm… salam dari karawang..

    • onthelpotorono

      Wah, model gagakan. Misterius. Angker! Haha… Akan kami sampaikan, Pak Rendra. Tentu bisa. Berapa ukurannya?

  3. @ wah bener nh mas Noer…kepala saya ukuran kopiah nomor 6 agak kecil..makanya isi kepalanya juga kecil..hehehehe.. mtr nuwun lho.. kalau warna yg agak cerah tapi model gagakan apa mungkin mas…

  4. @ mas Heru..apanya yg siip…hehehe..apa kbr mas…udah berhasil sebagai calyah lum…

  5. Belum habis tuh ide menulisnya…..bisa juga blangkon jadi fitur opoters tapi tanpa jambul

    • onthelpotorono

      Lho. Emang ada? Punya jin, kali?

      • @Kang Arsya : memang Kang Noer pinter mencari bahan cerita yg memang menarik menjadi cerita yg lebih menarik lagi, kalo di Jogja melihat blangkon memang sdh pemandangan sehari-hari, tapi siapa yg mau melihat lebih kedalam lagi mengenai pembuatan Blangkon, Batik bahkan Servis khusus sepeda ontel ? nah. karena itu cerita Kang Noer selalu ditunggu pembaca setianya termasuk saya :-)

  6. Wah, gazellenya Mbah Rejo bikin ngiler … apalagi lihat foto yang lagi nyoto … jadi tambah ngiler ..he..he..he.. ditunggu cerita berikutnya Kang Noer, tetap jaya Opoto

    • onthelpotorono

      Lha mangga Mas Dhony, mau kita anter nglamar Gazelle-nya Mbah Rejo, atau kita temani nyoto? Hehe…

      • nyoto ? nyammm … pancen soto itu makanan rakyat yg murah meriah … saya memang tertarik Gazellenya Mbah Rejo, tapi belum ada kekuatan melamar … BTW, Kang Towil juga nggak bisa hadir di event Malang Tempo Doeloe … :-(

  7. @ mas Noer, wah asyik juga sowan ke tempat mbah Rejo … Sambil belajar bikin blangkon, sembari menikmati Gazelle sang maestro blangkon yaa….
    @ Pak Rendra, mau pesen blangkon apa Gazelle… ha3x…

    • onthelpotorono

      Wah, bisa jadi salah satu impian tuh Mas Bagus: naik Gazelle yang kinyis-kinyis, sambil mengenakan blangkon karya Mbah Rejo. Wih…

      Tanggal 6 siap mancal Mas? Lha kami sampai tempat startnya saja PP sudah 35 km!

  8. Cocok yang Wulung sajake Gus, mahkota alami saya sudah agak colorpul,tapi nomernya gimanna ya gus rend and Gus Wong. Sotone dipincuk bocor mboten nggih mas? Ingkang sampun ngagem wulung, Swandaru geni nopo Agung Sedayu, Denmas?

  9. Erwin Erlngga

    Baleni yo… aku yo kepingen ke situ je…

  10. heri agusti DeFOC

    @mas Erwin nggak melu to ?
    Sudah bosen naik sepeda yo mas?
    @mas Sogok Onthong : kayaknya yg pakai blangkon Wulung itu lho…..Mahesa Jenar waktu masih digambar oleh Kentarjo (Naga Sasra dan Sabuk Inten)…….sekarang mau diwariskan kepada Pak Rendra , sekalian ajian Sosro Birowo kareben ngontelnya…….mak nyus…ha ha ha ha

  11. Ki Juru Warto

    @ Wongeres

    Menjadi seorang abdi dalem keraton seperti Mbah Rejo merupakan pengabdian sukarela dan tanpa pamrih. Butuh ketenangan serta kesiapan batin untuk menjaga dan melestarikan (nguri-uri) budaya ditengah tuntutan hidup saat ini yang serba benda….

    @ Pak Rendra

    Jenengan nek ngagem blangkon, pestine katon koyo Ndoro Bei….hehehe…

    • onthelpotorono

      Blangkon dan onthel juga cuma benda kok. Ini maksudnya, kalau Karawang sudah madeg pandhita dan meninggalkan yang serba benda kan bisa dilungsur ke Potorono. Haha…

  12. blangkon dan gazelle suatu simbol jogja yang khas, semoga tetap lestari. amin.

  13. @ gus Othong dan mas Bei…. nek nganggo blangkon wulung tapi jiane lembu sekilan mathuk mboten nggih…hehehe..
    @ mas Durti…ndoro bei kurang sajen ya…ahaha

  14. @mas Faj, simbol Jogya Blangkon dan gazelle.
    lha mestine simbol OPOTO yo sadel dan soto gitu lho…..ha ha ha ha
    @Pak Rendra, blangkon wulung , ajian Lembu Sekilan? Uahhh itu mestinya Yg pake Pasingsingan palsu……Pasingsingan soko Kerawang sing titihane Batavus ….he he he he

    • onthelpotorono

      Sadel di logo Opoto itu sendirian karena ditinggal penunggangnya nyoto kok Mas…

      Kalau Batavusnya Heren-65, baru butuh singsing-singsingan segala… :-)

  15. mas heri agusti, tanpa mengesampingkan sepeda dari england banyak kaos oleh oleh dari yk gambar orang memakai blangkon dan sepeda kebetulan setiap sudut pasar sepeda di yk kalau ngomongkan spd G tak ada habisnya dan harga yang wah. tindak indramayu mas ? semoga selalu sehat selalu. amin

  16. @mas Heri..sy malah belum mat je sama sepeda Batavus…hehehe
    @mas Noer..gmana kemarin konsernya?..sukses kan… salam

    • onthelpotorono

      Alhamdulillah, konser sukses. Penggemar berdatangan dari Semarang, Jember, Sangatta, Bali, bahkan Vietnam, memadati 600 kursi plus lesehan di depan dan belakang. Ada 900-an penonton. Hebatnya, tak hanya orang tua, anak muda pun banyak, dan hapal liriknya!

      Lunas sudah semua jerih payah. Haha…

  17. Selamat dan sukses Pak De.
    @Mas Faj, aduh ternyata aku belum bisa ikut ngontel ke Indramayu, masih sibuk dg mencari sesuap emas dan segenggam berlian, tetapi dari DeFOC ada yg mau ngontel sebanyak 20 orang
    ( team Dek Indra) , ngontel DEpoK-INDRAmayu dipimpin langsung oleh Sang Komandan DeFOC, om Nungki
    @Pak Rendra, Batavus mestinya ada logonya huruf B, gitu kan ya Pak De Wongeres?
    Gimana kalau Batvusku dituker Junkernya Pak Rendra….he he he he…..kalau udah bosen

  18. Ki Juru Warto

    @ Pak e Tole Wong

    Selamat atas jerih payahnya…..semoga sukses selalu….

    @ Den Mas Rendra

    Looh kok kurang sajen kepripun Den Mase?…Sampeyan nek ngagem blangkon terus numpak onthel katon koyo ndro bei…lagi keliling Karawang…hehehe…

    Sing ngonthel ndoro bei…sing ngiring poro menteri….cik cik kring…cik cik kring…

  19. @mas Noer…wah selamat mas…semoga segera ada konser Leo di jkt ya….
    @ma Heri… junckerku elek kok..mbladhus banget…lagian ukuran 22..
    @mas Durti… di krawangb ga ada ndoro bei… adanya…mang cecep atau haji engkus…hehehe

  20. onthelpotorono

    Matur nuwun. Berkat support dan doa teman-teman, acara konser berjalan dengan sukses. Konser itu juga banyak mempertemukan sahabat-sahabat sesama penggemar yang lama terpisah. Terlihat beberapa orang saling berpelukan bahagia di sana-sini.

    Jakarta? Tunggu tanggal mainnya, Pak Rendra.

  21. berkarya dan berkaryalah…….
    berkarya iku migunani kagem sedaya, begitu ngendikane den bagus podjok…….inggih to mas Towil?

  22. Ki Juru Warto

    berkarya nek korupsi njeh boten migunani to mas.

    Malah korupsi niko nyilakani kagem sedoyo……

    • onthelpotorono

      Kalau itu kan di luar jalur. Gunanya bisa saja untuk dijadikan musuh bersama, misalnya. Haha…

  23. @ada juga korupsi yg migunani lho mas… korupsi terhadap sifat malas,iri dengki,fitnah, nggresulo,kikir, curang…dll..semua bisa kita korupsi agar sifat2 itu bisa berkurang…wuakakakakk..maksa deh..

  24. Ki Juru Warto

    @ Lah nek sing dikorupsi sifat-sifat niku, opo yo ada jaminan kalau korupsi sing merugikan dapat terkikis juga Den Mase….?

    Saya itu sangat mangkel lohh Den Mase, kita-kita ini kan bayar pajak, SPT misalnya, loh kok dikorupsi, opo ra mangkel. Sepertinya korupsi ini tak pernah berhenti.

    “Sudah terlalu banyak korupsi yang menguras uang rakyat terjadi di negeri ini, baik yang melibat institusi, perorangan, dan lainnya.

    Banyak yang berkedok atas nama pembangunan, kepentingan umum, dan yang lebih ironisnya lagi atas nama rakyat.

  25. @bener mas Durti… terus piye carane ngilangke… mari kita mualai dari awake dewe aja mas…hehehe.. apa didoain aja biar mereka masuk neraka ya…

  26. heri agusti DeFOC

    hualah……wis to gak usah mikirin korupsi…..puyeng, ben wae iku”hablum min Alloh” kata pak ustad……diluar jalur “kita”, pokoke
    gimana nih “onthel ditinjau dari berbagai aspek”
    masuk jalur merah lagi : obrolan angkringan…..siapa tahu bisa dijadikan “pra konggres sepeda” di jakarta nanti,……..opo yo migunani? he he he he

  27. Kembali ke laptop saja he..he..he..

  28. @ sekali sekali boleh dong…bikin sub topik lain … minimal sebagai penyegaran buat kita agar gak mblenger berkutat di satu kotak saja….. mumpung mas wong ngijinkan ” tembok”nya buat ngerumpi….. rak ngaten tok sederek ?…. hehehehe..pisss…

  29. kren mas postingan nya

    oea mau nanya klo d jogja sndiri apa d pake untk solat spt peci /kopiah mas hehehehe

    salam knl ya mas hehehe

    • onthelpotorono

      Salam kenal juga, Mas Alan.

      Bukannya kalo lagi sholat itu pake blangkon jadi batal, Mas? Masa sih, misalnya lagi dapet 1 rakaat trus tiba-tiba ambil blangkon dan dipakai. Batal, kan? :D

      Beberapa orang merasa lebih afdol kalo lagi sujud itu seluruh jidatnya bisa menempel di lantai. Kalo pakai blangkon, sebagian jidat ketutup. Kalo agak dipelorotin, mondholannya mentok di tengkuk. Hehe… Ya tentu bisa, tapi Mbah Rejo sendiri juga pakainya kopiah biasa tuh…

      Tq ya, sudah berkunjung.

  30. onthelpotorono

    Lha laptopnya Pak Sahid itu isinya mulai data survei kepuasan pelanggan, profil foto model yang cantik-cantik, jaringan klithikan Belanda, hingga daftar bengkel onthel di Bantul ada semua kok. Pokoknya komplit! Hehe…

  31. @ satu lagi mas Wong…dilaptopnya pak sahid juga ada data lengkap kuliner di Jogja… khususnya bakmi nyemek nyamleng….. ( kalau yg ini setuju kembali ke lptop)…hehehehe.. apa kbr pak Sahid..

  32. Oh Gt hehehehe unik juga ya mas hehehe

    kunjung balik ya mas hehehe salam kenal ^_^

  33. heri agusti DeFOC

    @mas Alan : panjenengan udah punya onthel apa belum? Kalau udah punya, ayolah coba di onthel, semoga bisa menikmati dunia onthel he he he he
    @Pak Sahid : ngaturi pirso, bilih onthelipun sederek Mas Gunadi , Gazelle 2009 udah jadi “onthel pajangan” , diplototi dari sore sampe lingsir wengi, nganti lali kapan ngeloni permaisurinya……he he he he salam dari Mas Gunadi

  34. @ mas Heri…G anyar to…wahhh… mantaff..

  35. heri agusti DeFOC

    inggih pak Rendra, kagunganipun Mas Gunadi, sekarang jadi maskotnya DeFOC, ngendikane beliau referensinya dari piyayi Jogya, siapa lagi kalau bukan Denmas Sahid Nugroho “empunya ” onthel he he he he bukan Empu Gandring

  36. @oh leres menawi produk enggal pak Sahid memang saged menyediakan… kulo dereng nate ningali tp mesti kinclong sanget…. sy lihat penjenengan ngagem blangkon njih.. kados ki Demang Sangkalputung lho… btw sy juga sedang pesen blangkon kaliyan mas Noer….hehehe

  37. @Pak Rendra,………betul..betul..betul…..biar kelihatan “nJawani” ben mirip Ki Sarayuda Demang Sangkal Putung…….sayang Roro Wilis nggak mau dipek bojo.
    Wah kalau blangkon bikinan Mbah Rejo pancen mantep tenan kayaknya,……masih dalam angan angan, mau cari di Depok/Jakarta ada nggak ya Pak De Wong…….pesen lewat Pak De takut ngrepoti gitu loh Pak Rendra, yo wis pokoke udah dapat informasinya….matur nuwun kagem sedoyo.

  38. Ki Juru Warto

    @ Benar Den Mase Rendra, buat penyegaran ben ra bosen…Sesekali dong kita lihat keluar. Sambil ngelus-ngelus onthel kita juga melongok keadaan atau berita-berita yang lagi hangat. Seperti korupsi yang kian menjadi-jadi, rencana pencabutan BBM bersubsidi untuk sepeda motor, rusaknya lingkungan dan pemanasan global, hilangnya ruang terbuka hijau untuk kawasan hunian, kebrutalan israel, semakin merosotnya moral, kemiskinan, bencana dan lain-lain.

    Jika kita lebih teliti sepeda onthel pun tak jauh dari korupsi. Karena semakin langka dan harga yang selangit, banyak oknum yang merekayasa sepeda tua ini. Hanya karena rupiah, mereka sudah tertutup hati nuraninya untuk menipu…

    Jadi bukan saya bermaksud keluar pakem ngonthel, boleh dong kita nengok keluar, agar kita lebih mengerti, memahami, dan waspada serta hati-hati. Jangan kita seperti katak dalam tempurung lohhh. Jangan kita berseragam pejuang atau jadul (demang, marsose, dan lainnya) dengan onthelnya tapi sikapnya feodal. Tak mau tau sekeliling kita…yang penting asyik…

  39. heri agusti DeFOC

    @@Ki Juru Warto : mengutip “testimoni” panjenengan, -Berkarya nanging nggak korupsi itu memang migunani tenan ya Ki Juru,-Korupsi yang berkedok Rakyat ( bukan “konser Rakyat” lho ya) itu memang sangat ironis.
    Tetapi semoga saja nggak terjadi pada sedulur sedulur kita ya Ki Juru. Dan semoga pula tidak ada yang “tersungging” atas “testimoni ” Ki Juru.
    Nuwun.

  40. Ki Juru Warto

    Saya tambahkan Mas Heri. Jika kita perhatikan tulisan-tulisan dalam blog Opoto ini sebenarnya tak melulu onthel. Wongeres telah mengkolaborasikan antara sepeda onthel dengan lingkungan contohnya : Puncak Kegilaan Ngonthel, Mengalir ke Bukit Boko, TPA Piyungan : Memburu Keindahan di Lautan Sampah. Onthel dan Patriotisme/Kepahlawanan, seperti : Onthel dan Upacara : Antara Nasionalisme, Sensasi, dan Simpati, Monumen Ngoto : Memaknai Sebuah Kepahlawanan. Onthel dan Interaksi Sosial seperti dalam Onthel, Melebarkan Dunia Tegur Sapa. Onthel dan Peninggalan Sejarah, contohnya Candi Sambi Sari : Keindahan Yang (pernah) Terpendam, Situs : Jejak Kecil Peradapan Masa Lalu. Dan yang tak ketinggalan adalah onthel dan wisata kuliner, salah satu contohnya adalah Gudeg Pawon : Kejarlah Gudeg Walau Sampai ke Dapur.
    Hal-hal inilah yang membedakan antara blog Opoto dengan blog onthel lainnya. Tulisan-tulisan yang disajikan oleh Wongeres sangat humanitis sehingga menarik untuk dibaca sampai tuntas. Coba jika kita membaca tulisan Wongeres ini, seakan kita juga ikut berpetualang dengan Opoto. Alhasil, kita selalu menunggu tulisan pengalaman Bapak asal Potorono ini berikutnya. Opo maneh nek bar ngonthel mampir neng warung soto, wahhh jan marai kepingin.
    Jadi kesimpulan saya, selain melihat onthel, blog Opoto juga melongok hal lainnya seperti lingkungan, sejarah, seni budaya, pahlawan, profesi, kuliner., dan lainya. Jadi kita sebagai pembaca tak mudah bosan. Coba bayangkan seandainya melulu berkutat dengan sepeda onthel. Akan terlihat kaku seperti besi tua. Meskipun besi itu telah dipoles sani-sini tetap saja dingin.
    Salut dengan Pak e Tole Wongeres yang dengan ikhlas dan setia memberikan pengalaman-pengalamannya kepada pembaca.

    Benerkan Den Mase Rendra, Bersatu Melawan Korupsi…Merdeka, Merdeka, Merdeka.

  41. heri agusti DeFOC

    Injih Ki Juru, matur nuwun atas wejanganipun.
    Pokoke, onthel kita tetap bisa sebagai penunjang untuk kita tetap sehat lahir bathin dan tercapai kebahagiaan dunia lan akhirat nggih lan tetep bisa menjalin silaturahmi yg harmonis sesama onthelis……..semoga.

  42. Ki Juru Warto

    Mas Heri ini hanya sekedar diskusi kok, ga ada maksud menyungging apalagi melirik.hehehe.

    Setuju mas, tetap bisa menjalin silaturahmi nan harmonis. Lahir dan Bathin. Sambil mengingat kata-kata Almarhum Bang Ben (Benyamin S), agar kita selalu menolak korupsi. Coba simak dan renungkan syair lagunya yang berjudul “Jangan Begitu”

    Kalau begitu aku tak mau. Jangan begitu aku yang malu.
    Kalau begini aku tak sudi. Jangan begini aku tak jadi.
    Jangan begitu, jangan begini. Semua itu bisa terjadi
    Resikonya berat sekali. Hotel prodeo alias bui.

    Aduh ampun Gusti
    Aduh ampun Eyang
    Aduh ampun Papi
    Saya disuruh korupsi

    Punya pacar gila sekali
    Menyuruh saya jadi pencuri

    Lebih baik menjadi kuli
    Biar kerjanya setengah mati
    Dari pada harus korupsi
    Tidur tak nyenyak gundah sekali.

    Kalau begitu aku tak mau. Jangan begitu aku yang malu.
    Kalau begini aku tak sudi. Jangan begini aku tak jadi.
    Jangan begutu, jangan begini. Semua itu bisa terjadi
    Resikonya berat sekali. Hotel prodeo alias bui.

    • onthelpotorono

      Haha… gara-gara takut korupsi waktu, dua kunjungan Opoters sampai belum sempat ditulis :-(

      Jadi ingat waktu kecil, kalau lagi nonton layar tancep, favoritnya ya film jadul Benyamin S. Saat itu, perasaan yang namanya Ida Royani itu cantiik sekali. Apa lagi kalau pas digodain sama Bang Ben:

      paling enak kelape puan
      diserut-serut jadi es kopyor
      paling nggak enak jadi prempuan
      tue sedikit badannye kendor…

      Hehe… Selera zaman terus berubah, tapi selera korup juga makin bertambah…. :D

  43. mohon komentar anda sekalian untuk sepeda saya klik SEPEDA ONTHEL JENGKI

  44. @ wah seneng banget kalau para empu sudah angkat bicara.. mentes, padat tp tdk meninggalkan selera guyonan… ki juru, mas heri dan ki lurah Opoto… saluut..
    kalau syair lagu betawi yg ini pasti ga ada yg suka..” eh itu ada ape kok rame bang.. ade jande di uber uber dude…. hehehe… ngawur kan…

  45. @Den Mas Rendra, aku belum sampe tataran Empu lho, aku baru jadi bocah TK yg masih ingin tahu tentang Onthel dan belajar banyak dari panjenengan kabeh yg aku anggap sebagai kamus dan direktorinya onthel gitu lho.
    Ade jande diuber dude…….ngawuuuuur, ada lagi yg lebih ngawur : ade Juncker diuber uber Pak De Wongeres……ati ati lho Pak De ..ingat istri.. jangan ngurangi uang belanja ……ha ha ha ha ha

  46. Ki Juru Warto

    @ Ki Lurah Opoto, Den Mas Rendra, dan Pak Heri….dll

    Waktu saya ikutan ngonthel Napak Tilas Kerawang-Bekasi sempat bertanya-tanya dengan dua orang peserta. Satu orang berpakaian Jaksa dan satunya lagi berpakaian Pejuang 45.
    Saat istirahat di perbatasan Karawang Bekasi entah daerah mana, saya bertanya pada peserta yang berpakaian jaksa ini. Kenapa pilih pakaian jaksa dengan berkalung spanduk kecil bertulis KPK dan onthelnya pun dipasangi spanduk dari kertas bertulis Harta Rakyat. Pria muda berkaian jaksa itu menjawab : Sebagai anak bangsa, saya peduli dengan nasib bangsa ini. Kenapa bangsa kita yang telah lebih 60-an tahun merdeka masih banyak yang miskin, karena harta yang sebenarnya untuk kesejahteraan rakyat banyak yang dikorupsi untuk memperkaya diri. Sebagai orang muda, dengan ikutan acara Napak Tilas ini ingin menunjukan pada masyarakat dan memberi dukungan pada KPK untuk tidak lelah melawan korupsi. “Kita kan orang kecil, dengan sarana onthel inilah yang dapat saya lakukan untuk memerangi korupsi demi keadilan dan kesejahteraan bangsa ini,” jelasnya. Saluuuuutttttt. Pas dengan kostum yang digunakannya.
    Saat tiba di Bekasi, setelah makan malam, saya ngobrol dengan peserta berpakaian Pejuang 45. Bapak berpakaian pejuang ini selalu bercerita tentang seputar onthel. Dengan lancarnya dia menyebutkan merek-merek onthel terkenal dengan berbagai keunggulannya. Sepertinya bapak ini hafal di luar kepala tentang onthel. Saat saya tanya, bapak tau tentang sejarah pertempuran di karawang dan Bekasi. Bapak ini menggelengkan kepala. Lalu saya tanya, manfaat apa yang dapat bapak ambil dari acara napak tilas ini. “Saya ingin mengetes onthel saya, apakah masih enak dipakai dan juga kekuatan sepeda onthel saya,” katanya. Waahh cocok tidak ya dengan kostumnya.

    Mungkin lagu ini dapat menjadi renungan….

    ANAK BEKASI

    Tengah malam ku tinggalkan Jatinegara
    Kusandang bedil bersama kawan sekampungku
    Dalam malam kegelapan
    Kami menuju Bekasi
    Menuju ke garis perbatasan.

    Di kota
    Mereka berpesta murbai
    Di Bekasi
    Kami pesta peluru

    Dimanakah letak keadilan
    Anak Bekasi yang kau lupakan (Alfian)

    • onthelpotorono

      Ki Juru, kadang sebuah gagasan kan harus melewati beberapa tahapan sebelum menjadi matang dan siap action. Mungkin baju pejuangnya sudah jadi, tapi sepeda dan penunggangnya masih perlu diuji. Kalau terbukti semua siap, jalan deh kampanyenya… :-)

  47. heri agusti - DeFOC

    Wah, Ki Juru ternyata sempat mewawancarai peserta “karnaval”(?) yg pake kostum pejuang mestinya juga harus benar benar menghayati kostum yg dipakai, dan mengetahui “tetek bengek” yg melatar belakangi apa yg sedang dilakukan, tidak sekedar ikut ikutan ngontel,….ini lho Ki Juru yg harus dicermati tentang : onthel ditinjau dari berbagai aspek spt yg sering ditulis oleh Pak De Wongeres….nuwun.

    • onthelpotorono

      Mas Heri, sebenarnya sudah lama saya ingin berbagi tugas. Sejujurnya saya kurang suka bagian “bengek”nya. Tertarik? :D

  48. ada yang cuci gudang neh? :-)

    • onthelpotorono

      Mau nawarin sabunnya ya Mas? Biar liciiin… Hehe… Mas Yox, itu ada sahabat yang butuh komplitan Burgers, juga velg kronprinz, kali bisa dibantu?

  49. @Pak Nur
    sabun mandi ato cuci baju pak? hahaha..TOP BGT Pak!! velg krin kron ada 1 pasang tp uda msk museum pakuncen hehe..komplitan burgers nanti bs dibantu pak,tp pelan2 hrs dgn perasaan :-) maksute alon2 waton kelakon ya.emang butuh apa aja pak?

  50. teman2 onthel opoto,sy membutuhkan blangkon dan kostum jawa seperti baju luriknya,celana hitam+baju hitam (katanya kostum penjual sate) adakah yg bisa kasih info untuk penjualnya?mohon bantuannya,suwun.

    • wongeres OPOTO

      Mas Adi, surjan lurik dan blangkonnya, juga kastup (pakaian petani hitam-hitam mirip baju silat) masih banyak di Jogja. Tinggal tergantung peruntukannya. Versi murah-meriah saya lihat dijual di pasar Beringharjo. Kalau mau yang kualitasnya bagus ya mesti pesan khusus ke pembuatnya. Kapan ke Jogja bisa saja kami bantu mendapatkannya. Nomor kontak Opoto ada di halaman profil.

  51. Saya sangat senang dengan pernyataan Mbah pujo,yang paling nyaman naik sepeda adalah tergantung sadelnya.
    walaupun sepedanya tidak berkelas jikalau sadelnya memakai sadel terry yang emmmmmpuk nyaman rasanya karna kelimanya GAZELLE saya pakai sadel terry sehingga sangat nyaman rasanya,memang betul kata Mbah
    Pujo. Pak Komang Arya. B A L I.

    • Wah, ada Terry mania rupanya. Memang benar, di atas sadel Terry yang baik serasa duduk di kursi yang nyaman. Hehe…

  52. salam kenal Mas Adi, apik topinya….kebetulan saat ini saya sedang membuat tulisan tentang Blangkon Jogja utuk study saya, mungkin Mas Adi punya referensi buku2 yang mendukung? Matur nuwun sebelumnya

    Andree (ad3_sj410@yahoo.com)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s