Gua Jepang, Rumah Domes, dan Kerinduan Manusia Gua

Kekuatan alam yang dahsyat, tak seharusnya dihadapi secara frontal. Usaha menandinginya hanya akan berakhir dengan kesia-siaan. Kira-kira begitulah pelajaran yang diyakini oleh manusia-manusia sebelum kita dahulu. Oleh karena itu, mereka kemudian lebih memilih bersahabat dan beradaptasi dengan alam. Teriknya matahari, derasnya hujan, serta dinginnya terpaan angin, disiasati oleh mereka dengan berlindung di dalam gua-gua hasil bentukan alam.

manusia-gua-1

wajah-wajah merindu

Setelah manusia kemudian mengenal konsep rumah, keberadaan gua tetaplah menarik bagi mereka. Buktinya, bahkan setelah mengenal peradaban sepeda onthel pun, kerinduan itu masih ada. Makanya, ketika komunitas Opoto (Onthel Potorono) ngonthel di hari libur Senin pagi, 20 Juli 2009 lalu, tujuannya adalah ke Gua Jepang di Berbah, Sleman. :-)

Dalam perjalanan pagi itu, yang pertama kami temui justru Gua Sentono. Gua buatan di wilayah Jogotirto, Berbah, Sleman ini bukan merupakan tempat berlindung, melainkan sebagai tempat pemujaan. Wujudnya sendiri merupakan bukit cadas yang digali membentuk tiga lubang menyerupai gua kecil yang berjajar menghadap ke barat. Pada masing-masing dinding gua dipahatkan relief-relief, dan di tengah ruangan terdapat pahatan monolit lingga-yoni.

manusia-gua-2relief dan monolit lingga-yoni di gua sentono

Di gua ini kami tidak begitu lama, karena segera bergeser menuju Gua Jepang di dukuh Blambangan, desa Nogotirto, masih di Berbah, Sleman. Gua ini juga dibuat dengan menggali bukit padas menjadi tiga terowongan yang saling terhubung. Begitu masuk ke dalam, ruangannya ternyata cukup luas sehingga kami bisa berjalan-jalan dengan leluasa.

manusia-gua-3selamat datang di gua jepang: green green moss of cave-house.

Gua ini konon dahulu menjadi tempat berlindung, sekaligus tempat pengintaian bagi tentara Jepang. Dari atas bukit tempat gua ini berada, mereka bisa memantau setiap pergerakan yang mencurigakan di bawah sana. Di dalam gua, kami menemukan blok semen dengan beberapa besi cor yang ditanam berjajar secara vertikal di kedua tepinya. Ketika kami tanyakan kepada penduduk yang lewat, katanya dahulu itu untuk mengikat ‘bom yang ada baling-balingnya’. Entah bom apa yang dimaksudkannya.

manusia-gua-4 mulut gua, pengikat bom, dan lorong penghubung

Lingkungan tempat gua ini berada selalu ramai oleh kanak-kanak, karena halamannya yang luas berpasir terasa nyaman sebagai tempat bermain, meskipun bagian dalam gua tetap saja menyeramkan: gelap dan banyak dihuni kelelawar.

manusia-gua-5

gua jepang, gua-gua lain di kawasan itu, dan para pemburu gua

Sebenarnya, setelah melepas kerinduan kepada gua-gua, kami bermaksud melepas kerinduan kami yang lain: nyoto. Tetapi, di tengah perjalanan pulang kami justru tertarik oleh papan petunjuk menuju lokasi rumah domes yang hanya berjarak 2 km lagi.

manusia-gua-6ngonthel ke negeri dongeng

Keputusan kami ternyata tidak mengecewakan, karena pemandangan unik segera kami dapatkan. Di perkampungan domes New Nglepen itu kami melihat rumah-rumah putih berbentuk kubah atau setengah bola berjajar rapi menempati setiap blok. Rasanya seperti menyaksikan rumah Iglo orang-orang Eskimo. Tetapi warga di sekitar menyebutnya sebagai rumah Teletubbies.

manusia-gua-7rumah domes yang mirip rumah teletubbies

Penghuni rumah domes ini semula adalah warga dusun Nglepen, kawasan perbukitan yang luluh lantak karena tanah hunian mereka amblas membentuk jurang seluas 300m x 15m dengan kedalaman 7 m setelah diguncang gempa Jogja 27 Mei 2006 lalu. Pemerintah kabupaten Sleman kemudian merelokasi mereka ke tanah kas desa seluas 2,8 ha di dusun Sengir, Prambanan, Sleman. Meskipun berada di desa Sengir, pemukiman baru ini kemudian disebut New Nglepen.

Proyek relokasi 32 KK warga Nglepen ini mendapat bantuan dari Wango (World Association of NGO’s) dengan donatur tunggal dari Dubai bernama Mohammed Ali Alabar, dibantu oleh DFTW (Domes for The World) LSM, South Industries Inc, dan Mr Rick Crandall sebagai Arsitek rumah domes.

manusia-gua-8ruang depan, dapur, dan kamar tidur. ruang santai ada di lantai atas.

Bangunan unik ini dibangun dengan cara cukup simpel. Sebagai acuan cetakan bentuk bangunan, ditiuplah sebuah balon berbentuk kubah yang telah disiapkan. Di atas balon ini, besi bangunan ditanam dan dirangkai mengikuti kontur balon. Pada tahap ini pula, kusen pintu dan jendelanya dipasang. Selanjutnya, adonan semen diguyurkan hingga menutup seluruh kerangka besinya. Setelah semen kering, balon cetakan dikempiskan, lalu pekerjaan finishing terhadap dinding setebal 10cm itu dilakukan. Di atas tanah kapling seluas 100m persegi tersebut, jadilah sudah sebuah rumah domes yang unik.

manusia-gua-9dapur, mck yang terpisah

Meskipun terlihat kecil, tetapi rumah ini sebenarnya cukup luas. Tinggi rumah domes ini 4,6m. Desain rumah terbagi menjadi empat ruang, yaitu ruang depan, dua kamar tidur, dan dapur. Lalu di mana kamar mandinya? Kamar mandi dan WC dibuat terpisah di satu bangunan tersendiri, satu bangunan berisi 8 kamar yang dipakai bersama untuk setiap 12 rumah. Bersih dan sangat memadai.

manusia-gua-10balai pertemuan dan mushola

Karena keunikannya, kawasan hunian ini dijadikan sebagai objek wisata. Warga pun diberi penyuluhan agar welcome terhadap pengunjung. Saat kami datang, kami menemukan dua rumah yang membuka warung ala kadarnya. Wah, dasar perut sudah lapar, kami pun makan lotek dan minum wedang jahe panas di sana. Begitu suasana sudah akrab, ternyata kami diperkenankan masuk ke rumah dan bahkan memotretnya.

manusia-gua-11mas Angga, di tengah-tengah keluarga (yang terlalu) bahagia

Kolaborasi antara lotek dan jahe itu ternyata sukses membuat badan kami berkeringat. Apalagi matahari sudah mulai menyengat. Raut muka kami mulai dihinggapi kegelisahan. Tentu bukan disebabkan oleh kerinduan kepada gua lagi, melainkan kepada orang-orang tercinta di rumah. Maka, hanya ada satu kata sepakat: pulang.

manusia-gua-12mau tinggal, mau pulang, atau mau ditinggal pulang?

Beruntunglah kami, karena ‘kerinduan purba’ untuk melihat gua masih bisa kami lampiaskan. Apalagi pagi itu kami juga berkesempatan mengunjungi rumah warga New Nglepen yang berkonsep unik itu. Simpel, tanpa tiang, dan diharapkan lebih tahan terhadap goncangan gempa, kebakaran, serta badai topan. Wah, kalau dipikir-pikir, ini ada juga miripnya dengan konsep gua-gua leluhur kita dahulu, tempat berlindung dari ganasnya alam luar. Pantesan, meskipun baru sekali datang, kami merasa nyaman saja singgah di sana. Kami sampai lupa waktu, sehingga harus bergegas pulang dengan agak terburu. Tetapi semua senang mendapatkan banyak pengalaman baru. Yuhuuu…! :D

***
Terima kasih buat Mas Angga dkk mahasiswa KKN UGM di Sengir, Prambanan yang sudah berkenan berbagi data dan cerita serta menyambut kami dengan hangat. Sukses semuanya.

About these ads

64 responses to “Gua Jepang, Rumah Domes, dan Kerinduan Manusia Gua

  1. oooiiii…komplit coiii…..
    dari jaman purba, jaman perjuanagan, dan masakini…. wah…. perpaduan yang manis banget… siiip dech…. :roll:

    • Manusianya juga komplit kok. Silahkan diklasifikasikan sendiri-sendiri. Siapa yang merasa purba, siapa yang pejuang, dan siapa yang masa kini. Dalam hati aja, biar gak saling timpuk :D

  2. erwin erlangga

    indah banget bumi ini. I’am feel so lucky to be here. Sssttt…wkt plng dr domes sbnrnya beberapa dr kt melihat penampakan tentara jepang loh,tp ga ada yg brani mendekat,aplg ambil gambar-takut ditimpuk !!
    Ingin rasanya ngonthèl tanpa membawa hp….
    Ke pantai yuk…sekalè-kalè.

    • Iya, semua pada liat penampakan’tentara Jepang’ di gardu ya. Kok gak ngasih tau. Orang gila sih banyak. Tapi kenapa dia terobsesi dengan penampilan tentara Jepang? Itu kan menarik kalau ada yang mewawancarai. :-) Mana lokasi berkeliarannya pun di dekat gua Jepang.

  3. Wah hebat Opoto, setiap minggu selalu ada penemuan situs wisata yang barangkali mulai dilupakan orang. Mungkin karena kita terlalu banyak memiliki peninggalan sejarah, sehingga seakan-akan kesemuanya itu biasa saja.
    Padahal kalau kita bandingkan dengan apa yang dimiliki oleh negeri-negeri orang, Indonesia sungguh luar biasa kaya dalam hal artefak sejarah dan prasejarah.

    • Benar. Ibaratnya seperti kita menunggu-nunggu hari yang luar biasa, sampai setiap hari terasa biasa. Padahal banyak hal luar biasa yang kita temukan dalam keseharian kita, seandainya kita tidak hanya bisa menunggu saja…

      Pak Sahid, kemarin saya ketemu Mr Qly Spooor. Serius lho, permintaan Panjenengan diakomodasikan oleh PT KA. Hehe…

  4. wah… kenapa kemaren tidak dibelokkan ke daerah ini…? kapan pak… kita bisa jalan kesini ya…. meri aku…

    • onthelpotorono

      Wah, iya ya. Kalau Pak Wahyu sih saya yakin, sejak dari style-nya sangat meyakinkan sebagai “pemburu” apa saja, termasuk situs. Lha yang lain? Hehe… Nanti bisa diatur Pak.

  5. Jadi kearifan masa silam itu, masih tetap aktual. Kembali ke gua-gua, menyegarkan kembali jati diri dan perdaban luhur bangsa ini. Tetapi juga, di tengah hilangnya kearifan manusia-manusia gua yang terpupus jaman, kini manusia-manusia modern juga dilanda wabah baru “matinya akal sehat”. Hla apa nggak akal sehat mati, wong banyak peninggalan sejarah (ini bukan di Sleman loh) dihancurkan, misalnya dibuat mall.

    • onthelpotorono

      Kriteria untuk menakar kesehatan akal itu ternyata kan terus bergeser. Sedangkan logika pun banyak jenisnya, sebanyak kepentingan yang digendongnya. Maka lalu banyak logika yang saling berlaga. Logika ekonomi, logika kebangsaan, logika politik, dll. Logika mana dulu yang mau kita anggap benar? Film kartun yang konyol pun punya logika sendiri, kan? Hehe…

  6. @ Wongeres

    Sungguh luarbiasa kalau wisata kereta sepeda bisa terwujud. Saya pikir ide ini sangat positif, selain untuk memenuhi perkembangan selera pasar, bagi PT. KAI merupakan bagian dari corporate social responsibility untuk mendukung gerakan stop global warming.

    Pak kalau flu sudah sembuh, Jumat malam mendatang, kita kembali mengundang Opoto untuk ikut “Jurit Malam Kuliner” ke bakmi letheg Pleret. Kita akan ke Pleret melalui jalur off road yang gelap dan sunyi diarea persawahan yang baru saya temukan tadi sore. Dijamin seru dan menyegarkan. Semoga tidak hujan. Nuwun.

    • onthelpotorono

      Pak Sahid, selama ada koordinasi terlebih dahulu, mungkin saja bisa. Masalahnya, kan tidak setiap hari akan ada pengonthel yang membawa sepeda naik KA, padahal keretanya sendiri kan harus ‘ngejar setoran’.

      Tiada jinten hitam, godhogan daun meniran pun boleh juga. Meniran ini tidak hanya bisa mengobati ‘anyang-anyangen’ saja lho, tapi meningkatkan daya tahan juga. Nah, semoga urusan domestik para Opoters pun mendukung. Bagaimana teman-teman?

  7. @ Om Sahid

    Betul om sahid…. Sebenarnya Menengok masa lalu bukan cuma kerja para sejarawan. Banyak cara untuk belajar, mengenal dan menghargai sejarah. Sejarah mengajarkan kita banyak hal tentang pengalaman masa lalu. Mengingatkan akan kejayaan yang pernah ada, kejadian yang telah lampau dan kenangan tentangnya, juga belajar untuk mengambil sikap dimasa mendatang.

    Teman-2 “onthelis” pun bisa ikut menikmatinya lewat sisa dan situs sejarah yang tertinggal. Biasanya acara rekreatif ini makin ciamik bila informasi yang disampaikan pun akurat.
    Namun repotnya, di negeri ini tak semua peninggalan sejarah itu berada dalam kondisi prima.

    Tampaknya banyak tempat-2 bersejarah dalam perjalanan sejarahnya mengalami proses penurunan kualitas secara terus menerus akibat rusak dan berkurangnya tinggalan arkeologis yang ada. Faktor penyebab terjadinya tersebut bisa bermacam-macam. Secara garis besar dapat dibedakan akibat dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor tangan-tangan manusia. Faktor kedua ini tampaknya yang paling intensif merusakkannya.
    Selama ada kebanggaan atas cagar budaya bangsa sendiri, akan ada usaha untuk mempertahankan. Sebaliknya kalau tidak ada kebanggaan dan rasa memiliki kebudayaan maka tidak akan ada pembelaan atas kebudayaan. Jadi “Pemilik kebudayaan itu sendiri yang akan mempertahankan kekayaan budaya,”.

  8. Satu lagi yang bisa dipetik, biasanya ada wisata, kuliner sekarang ada pelajaran sejarah..komplet, campur campur semua ada di opoto….
    tapi itu kok ada wajah wajah merindu, kuwi maksude kangen ambek sopo? sing dikandakke pak Tjip? hehe…
    mestinya biar tidak kebingungan rute kayak minggu kemarin, malem minggu itu opoters nongkrong sebentar di mess mas tono ngerembug tujuan….aku mesti ikut kok hehhe

    • onthelpotorono

      Merindukan gua-gua leluhur. Pak Cip punya kerinduan tersendiri. Juga yang ngonthel sambil pada bawa hp :-)

      Iya, selama ini kita cuma spontan, tanpa target. Kalau routenya mau lebih di-manage juga boleh. Serahkan saja pada Mas Tono dan Pak Joni. Yang satu penguasa jalan tikus, satunya lagi pengepul kabar burung. Klop! Setuju?

      • haha apa kuwi pengepul kabar burung…aku setuju..iya sambil bawa hp trs telpon biar ga ketahuan haha…peka or pekok?
        minggu depan gmn kalo rutenya ke utara, ku pengen kesana, minomartani dan sekitarnya lumayan sejuk

      • onthelpotorono

        Pak Joni itu, berita sekecil apa pun, sudah ditulis media maupun baru “mak nyuut” terlintas di benak orang, sudah dapat ditangkap. Kemarin misalnya, ngajak liat ikan segede orang. Tapi saya belum tanya, orangnya segede apa. Se-Bung Max’s atau… :D

  9. tadinya hanya kesempatan berkumpul dengan keluarga, tanggal gajian dan jadwal ngonthel serta koran pagi yg selalu saya tunggu tunggu kedatangannya….. ternyata sekarang nambah satu lagi…yaitu reportase petualangan sahabat OPOTO yg selalu sarat informasi unik, sederhana dan sangat ” ndesani” yg indah…….
    tks sahabat….. krn selalu menemukan ,selalu ada cara utk menikmati hidup dengan sederhana dan bermakna…..
    salam dari Karawang

    • onthelpotorono

      Halah, satu lagi kan, Pak Rendra: telepon dari para pemburu Fongers! Hahaha…

      Salam hangat selalu dari Potorono.

  10. kali ini ngga pake soto ya ?

  11. Ngabehi Sak Loring Pasar

    @ Bang Max’s

    Betul bang Max’s, bangsa ini tak begitu pintar menghargai sejarah masa lalunya.

    Faktor kelakuan manusia ini yang paling memperparah kerusakan situs-situs sejarah di Indonesia. Berbagai alasan mengapa orang sering merusak peninggalan sejarah ini :
    * Salah satunya motif ekonomi. Motif inilah orang sering mengabaikan nilai, bahkan etika menghargai peninggalan sejarah. Misalnya, rusaknya situs Majapahit di Trowulan. Juga di beberapa kota ada bangunan atau gedung bersejarah yang dibongkar untuk kemudian didirikan gedung-gedung megah seperti hotel hingga pusat perbelanjaan.

    Yang jadi pertanyaan saya Bang Max’s, siapa sebenarnya yang merusak situs bersejarah ini, apakah masyarakat atau pemerintah ?

  12. Salut buat ” OPOTO” ternyata kecintaan terhadap Onthel bukan sekedar ngumpul,ngasih penilaian buat sepeda teman,biloa bperlu malah kasih vonis dll. OPOTO tampil beda dan berusaha menjadi sesuatu yang lain dari yang lain, rupanya club ini mampu menyuguhkan informasi wisata dan kasanah budaya yang hampir terlupakan keberadaanya bahkan aparat yang berwenang pun pura-pura gak tahu atau sengaja gak mau tahu, beruntung ada OPOTO, Selamat dan Lanjutkan !

  13. den bagus PODJOK

    Liputan dari OPOTO selalu beda & menarik. Bahkan saya selalu tdk sabar utk membaca liputan terbarunya. Selain fotonya bagus, tulisannya juga enak dibaca. Apalagi isinya tdk hanya masalah peronthelan semata, tapi kita jadi tahu mengenai banyak hal, seperti obyek wisata, peninggalan sejarah, kuliner dsb. Selama ini yg kita tahu hanya Borobudur, Prambanan & Mendut saja. Ternyata banyak sekali artefak yg belum sempat kita kunjungi, dan tdk kalah cantiknya. Selamat & salam buat rekan2x OPOTO… Kami tunggu liputan selanjutnya yg selalu bikin kangen & pasti menarik utk disimak…

  14. onthelpotorono

    @Mas Lasmany
    Orientasi para Opoters memang lebih ke potensi sepeda onthel yang nyatanya mampu membuat banyak hal menjadi lebih baik. Tapi, kalau liat sepeda cuantik-cuantik kok ya tetep pada mabuk ya? Hehehe…

    @Mas Bagus Podjok
    foto dan ceritanya ya hanya layak dibilang bagus untuk ‘kelas’ Opoto saja. Haha… Matur nuwun Mas.

  15. @ Wongeres
    Sekedar usul Kang Nur. Bila Opoto sedang wisata onthel sebenarnya kalau bisa mengenakan kostum tradisional tentu potret-potret di liputan pada Blog ini menjadi lebih seru he..he..he..

    @ Max’s
    Benar Pak. Saya juga memahami bahwa realitasnya ketika situs bersejarah sudah selesai dipugar dengan biaya mahal, kadang-kadang sangat jarang orang datang berkunjung. Sehingga barangkali ada pesimisme
    dari Pemerintah untuk mengalokasikan dana kesama, karena manfaatnya tidak seimbang.

    Untuk menarik wisatawan datang berkunjung mestinya harus sering diadakan “thematic event” sesuai konsep situs bersangkutan. Seperti misal Benteng Vredeburg, diadakan pertunjukkan pertempuran jadoel antara tentara kumpeni dan tentara Mataram pasti seru. Contoh lain, setiap tanggal 17 diadakan upacara bendera oleh Prajurit Kraton dengan segala pernak-perniknya.

    Kalau hanya jualan “bangunan atau benda bersejarah”, lama-lama orang pasti bosan.
    Jadi harus ada unsur “acara”. Tanggal 9 Agustus mendatang akan ada Karnaval Museum-Museum se-Jogja yang juga diikuti Kerabat Podjok, ini start awal yang bagus, agar museum bisa lebih interaktif, tidak hanya menunggu orang datang. Nuwun.

    • Pak Sahid, Opoters cuma punya kastub petani hitam-hitam dan kaos merah, orange, serta orange strip. Tradisi petani di Potorono dahulu sih pakai kastub, tapi sekarang banyak juga pada pakai kaos. Apalagi pada musim pemilu, karena banyak pembagian kaos gratis.

      Pemilihan warna itu mempertimbangkan agar di lingkungan hijau masih tetap kontras untuk difoto. Beda dengan baju doreng yang justru untuk menyamar. :-) Dari pertimbangan ini, sudah terlihat betapa narsisnya para Opoters. Haha…

    • Pak Sahid, kalau ada museum yang serius mau memasyarakatkan koleksi dan program mereka, saya siap bergabung dalam tim :-)

      Saat ini, museum Danarhadi di Solo menurut saya termasuk yang serius dalam menyiapkan dan menata koleksi serta informasi yang runtut dan kontekstual. Tiket masuknya pun murah. Hebatnya lagi, karena mereka memang menjual batik, jadi pengunjung bisa membawa pulang sebagai kenangan serta bentuk apresiasi mereka.

      Museum onthel kerabat Podjok bisa digarap seperti itu. Lengkap, detail, dan tetap ada korelasi dengan kekinian.

  16. waduh lokasi jalan-jalan teman2 opoto rute rute jalan jaman saya masih di yk dulu, thank bisa mengobati rasa kangen terhadap daerah2 tersebut.

  17. @den bei sak loring pasar

    Untuk mencari tahu siapa yang merusak situs sejarah / cagar budaya, apakah pemerintah atau masyarakat bukanlah hal yang mudah, karena antara pemerintah dan masyarakat perbedaannya sangat tipis sekali.
    Pemerintah dikendalikan dan dijalankan oleh sebagian warga masyarakat, demikian juga masyarakat tidak semuanya menjadi orang pemerintahan. Jadi menjawab pertanyaan itu saya menganggap keduanya mempunyai peran.

    Menurut saya pribadi yang namanya benda atau bangunan benda cagar budaya sesungguhnya bukan saja harus dilindungi, tetapi juga harus bisa dijamin kelestariannya..

    Di kota –kota besar, diakui atau tidak, keberadaan benda-benda cagar budaya sangat rawan berubah, bahkan rawan tergusur karena intervensi kekuatan komersial maupun karena kurangnya dukungan dana dan tidak konsistennya sikap pemerintah dalam melindungi benda cagar budaya yang dimiliki. Pelan namun pasti, benda-benda cagar budaya yang semestinya dilindungi mulai tergusur, dan kawasan yang seharusnya dipertahankan peruntukkannya sebagai kawasan budaya, itu pun tak lagi steril dari pengaruh kekuatan komersial.
    Ada beberapa contoh upaya konservasi semakin sulit dilakukan karena tidak adanya kompensasi dari pemerintah bagi pemilik rumah atau bangunan yang dikategorikan sebagai cagar budaya, misalnya Sebuah rumah yang termasuk kategori bangunan cagar budaya, konon kabarnya dikenai pajak bumi dan bangunan (PBB) sebesar Rp 9 juta per tahun sehingga tidak mengherankan jika pemilik bangunan yang termasuk dalam kategori cagar budaya berniat menjualnya agar tidak terbebani pajak yang sedemikian besar.
    Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, upaya pemerintah untuk menginventarisasi dan menetapkan bangunan dan kawasan-kawasan tertentu sebagai benda-benda cagar budaya, bagaimanapun adalah langkah yang positif. Cuma masalahnya sekarang, bagaimana menindaklanjuti upaya itu ke upaya perlindungan, pelestarian, dan pengembangannya yang bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat
    Di era otonomi daerah, upaya perlindungan dan pelestarian benda-benda cagar budaya dalam banyak hal sudah diserahkan kepada masing-masing daerah. Mau tidak mau Pemda seharusnya segera mengambil inisiatif untuk merumuskan langkah dan payung hukum bagi upaya perlindungan dan pelestarian benda-benda cagar budaya yang dimiliki, yakni dalam bentuk peraturan daerah (perda). Pengaturan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai landasan hukum, baik bagi pemerintah maupun masyarakat, dalam melakukan aktivitasnya masing-masing dalam kaitannya dengan benda-benda cagar budaya.
    Kehadiran perda dibutuhkan sebagai dasar untuk penguasaan, pemilikan, penemuan, pencarian, perlindungan, pemeliharaan, pengelolaan, pemanfaatan, dan pengawasan benda cagar budaya yang konsisten dan kontekstual. Kontekstual di sini berarti upaya perlindungan dan pelestarian benda cagar budaya tidak bisa hanya mengacu kepada UU, melainkan perlu diterjemahkan dan disesuaikan dengan konteks situasi lokal yang ada di daerah itu sendiri. Sedangkan konsisten adalah pengaturan dan pelestarian benda-benda cagar budaya yang tidak bersifat subyektif atas dasar kepentingan kekuasaan atau kelompok tertentu, melainkan upaya penataan yang mengacu pada hukum dan pertimbangan yang obyektif.
    Kalau pemerintah tujuannya sekadar mengejar pendapatan asli daerah (PAD) dan mengutamakan peran kekuatan komersial, maka bisa dipastikan eksistensi benda-benda cagar budaya lambat laun akan makin digerus perubahan. Tetapi, kalau pemerintah mau memahami dan mencoba secara serius untuk melestarikan bangunan dan benda cagar budaya, maka generasi dan warga masyarakat di masa mendatang niscaya akan bisa melacak akar historis dari kota yang mereka tempati dan tidak teralienasi dari lingkungan sosial yang melahirkan dirinya sendiri. Siapa lagi yang harus peduli terhadap hakikat bangunan dan benda cagar budaya jika bukan kita sendiri.
    Matur nuwun.

  18. Hi… hi ….. hi ……..
    Fotonya nomor 2 dari atas serem, ada sosok yang gak kelihatan. Waktu pada pulang, ada yang langsung diboncengi, sedikit terasa berat, untung cuma sebentar He …. he ….. he ……… Guyon dink.
    Waktu ke Candis Sambisari koq gak dilanjutkan ke utara / ke Petilasan Bathokbolu di dusun Alas Ketonggo, ± 5 km dari Candi Sambisari.

    • Yang serem itu di foto nomor 4 Mas. Lha sudah pakai blitz kok hasilnya hitam pekat. Mas Agung saja sampai termangu-mangu. Hehe… dasar lagi “mbungahi”. Namanya tamu kan mestinya uluk salam. Buktinya setelah itu hasilnya bisa terang benderang, padahal aslinya di dalam ya gelap bin gulita…

  19. Ngabehi Sak Loring Pasar

    @ Bang Max’s

    Nuwun jihh wejangane. Cetho welo-welo.

    @ Pak e Tole Wongers

    Jenengan angkat mawon Bang Max’s dadi Jubir Onthel Opoto, pasti ra nyesellll

    @ Pak Rendra

    Komentarnya dong Pak. Ojo mung ngoleksi pit onthel wae ?

    • Mengangkat ‘pria berbobot’ seperti Bung Max’s jelas bukan perkara mudah. :D

      Di Opoto semua bebas mengutarakan pendapat kok, Pak Dhe Bei…

  20. Pak Rendra memang tidak terlalu aktif belakangan ini, barangkali beliau sedang meditasi karena sedang lelaku mbangun Fongers DZ kesayangan Beliau he..he..he..

  21. @ Wongeres
    Kastub Opoto sebetulnya unik juga lho kalau sering dikenakan. Kadang-kadang kalau lihat Opoto saat ber-kastub, “imajinasi liar” saya muncul, ini kalau masing-masing Opoter dikalungi senapan serbu AK47 Kalashinov, jadi persis tentara VC (Vietcong) he..he..he..

  22. Iya, Pak Sahid. Kalau mengikuti event besar (sehingga pesertanya banyak), kami biasanya pakai kastub. Di tengah gebyar kreativitas kostum yang ada, bolehlah kami menjadi penyeimbang dengan kesederhanaan kostum petani Potorono.

    Sementara kalau hanya touring ngonthel dengan sedikit orang, tampil wajar dengan kaos Opoto terbukti lebih mudah diterima di kampung-kampung, tidak dipandang ‘aeng’ sehingga malah menciptakan jarak. Kami bertanya, ngobrol panjang, bukan dipandang ‘dalam rangka’ mencari sensasi tertentu, melainkan memang merupakan kebutuhan kami sebagai pribadi sebagaimana mereka. Itu yang saya rasakan. Entah nanti teman-teman punya pendapat apa lagi. Alasan lainnya ya, ‘padune’ memang hanya itu yang kami punya. Haha…

  23. SAYANG MENU MAKAN DI GANTI BUKAN SOTO LAGI. KAPAN KE MONUMEN PLATARAN ?

  24. Gua dan rumah kuwi…apik men. Kok terlewat dari lawatanku ya..

  25. Lho. Barusan melawat ke Jogja? Foto dan sedikit cerita (ber)sepeda di Jerman, sudah adakah?

    • Lawatan sebelum ke Jerman maksudku.
      Cerita sepeda di sini belum ditulis mas. Paling ora gayeng. Oiya kami barusan dari Belanda. Buanyak motret sepeda (memang tak niati untuk mas nur. Cuman tidak detail,s aking okehe). Viete Belanda unik2 tur modele ‘tua’, juga tradisi bersepedanya. Saya kira iki sangat beda dengan di Jerman (model sepeda, gaya bersepedanya, dsb).

  26. Mas Bei lan Pak Sahid, nuwun sewu dangu mboten sowan blog OPOTO…. kalersan nembe semedi wonten Magelang ( dinas 4 hari ), malah sempat mampir ke mas Margono hehehe…
    Mas Nur…salam kagem pemburu fongers lan konco wong Agung ingkang masih berkutat sekuat tenaga utk nyopot bel ari stang simplex…hehehe

  27. @wongeres, betul pak kayaknya harus mulai kita biasakan ngontel dengan cara yang “wajar” agar kita tidak seperti sekumpulan orang yang datang dari planet lain… Itu sebabnya kadang saya nikmati ngontel hanya berdua dengan istri…

    Dan kayaknya jauh lebih asyik, ketimbang berkompetisi secara narsis yang kadang hanya membuat “jarak” antar kita saja…

    • onthelpotorono

      Pak Kurdi, berlindung di dalam bauran kewajaran yang ada membuat komunitas kecil seperti kami merasa (ny)aman. Hehe… Tetapi kalau bersama banyak orang, misalnya dalam satu event tertentu, aneka kostum kreatif tentu akan sangat menarik sehingga memberi bobot lebih bagi event tersebut.

      Ngonthel berdua dengan istri? Alangkah romantisnya…!

      Salam kami dari kampung Potorono.

  28. memang sebetulnya ini hanya catatan perjalanan saja, kl bisa setiap cagar budaya /situs2 yang dikunjungi supaya diceritakan lebih detil lagi agar lebih menarik.
    saya sudah baca 2 artikel sebelumnya, kayaknya kl dibuat kliping bagus juga.
    saya yakin pasti sangat bermanfaat, karena selain bercerita tentang keindahan alam juga berisi tentang arkeolog.

    salut buat ontel Potorono

    salam : Jana BOC (Buitenzorg Onthel Club)

    • onthelpotorono

      Iya, Kang Jana. Semoga ke depan kami mampu memberikan yang lebih baik lagi. Ini soal keterbatasan ruang dan.. terutama kemampuan. Hehe…

      Terima kasih masukannya. Salam.

  29. sependapat dengan mas Kurdi, saya juga termasuk pengonthel yg senang dengan kewajaran, biasanya sesuatu yg wajar lebih bs diterima sejara wajar juga… namun terkait dgn aneka model kostum ” bocor” yg sering dikenakan oleh sahabat2 onthelist lain, mari kita maknai bukan sebagai sebuah kompetisi yg narsis…. krn sesungguhnya utk saat ini pilihan kostum aneka warna dan model yg dikenakan dlm suatu event tertentu disamping akan nampak lebih meriah juga ampuh utk ” menjual” dan menularkan ” virus” bersepeda khususnya onthel kepada khalayak ….
    Bahkan sepertinya sudah menjadi ciri khas para onthelis…( baju lurik dan blangkon, seragam pejuang, pakaian adat daerah, seragam militer dll…), saya memandangnya lebih sebagai perwujudan kebhinekaan yg dimilikin oleh bangsa kita………….. dan itu sesungguhnya sangat indah….

  30. Ngabehi Sak Loring Pasar

    Pokoke melu kalih Pak Rendra pendapatnya. Sing Prasojo dan hati-hati di jalan

  31. hahaha mas Bei kok tumben cekak aos….. setuju mas…. sing prasojo lan ngati ati…

  32. Ngabehi Sak Loring Pasar

    Pak Rendra, kita yang hidup di Jakarta saat ini saban hari harus bertempur mati-matian untuk pergi kantor maupun pulang. Butuh waktu 2 hingga 3 jam untuk pergi dan pulang. Biang keroknya tak lain yaa kemacetan.
    Lalu lintas di Jakarta makin hari makin semrawut. “Semrawut beda dengan “macet. Semrawut adalah bencana buatan manusia, macet ibarat bencana alam. Macet tak terjadi bila lalu lintas tak semrawut. Sebaliknya, tak ada jaminan macet dapat teratasi walau lalu lintas tak semrawut.
    Macet ditambah semrawut sama dengan sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bencana buatan manusia ditambah bencana alam sama dengan siapa yang menebar benih dialah yang menuai hasilnya.
    Ini mungkin sebab dan akibat tata ruang Jakarta yang baruk. Buruknya tata ruang ini berpengaruh pada kehidupan sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan. Sisi sosial akan menimbulkan ketidakadilan, konflik warga, karakter warga, lunturnya budaya, kehidupan marginal, dan kejahatan. Sisi ekonomi akan muncul PKL, alih fungsi seperti bangunan bersejarah menjadi mal/toko/restoran, pasar, ketimpangan antar daerah. Dari lingkungan akan timbul masalah banjir, polusi udara, longsor, ruang terbuka hijau (RTH), dan lainnya. Sisi prasarana menyebabkan kemacetan lalu lintas, sampah, air bersih dan seterusnya. Dari kelembagaan (pemerintah), pasti timbul beban pelayanan publik, citra pemerintah, konflik antar daerah atau lembaga, peluang KKN, dan seterusnya.

  33. sebuah analisis sebab akibat yg sangat tepat dan gamblang mas Bei……… jakarta memang sudah terlalu “ajaib” kondisinya……. entah dibutuhkan berapa ” generasi ” utk dpt membenahinya…baik generasi biologis, generasi politis, sosial, teknologi atau bahkan generasi budaya….. tingkat kesadaran sebagaian besar masyarakat jakarta akan sebuah impian kehidupan yg benar dan ” normal” mungkin masih jauh, ataukah keadaan yg carut marut seperti yg diuraikan den beilah yg justru telah melahirkan generasi manusia jakarta yg seperti sekarang kita lihat….. saya kadang miris melihat semua itu den Bei… entah sampai kapan ya mas ….. rutinitas kehidupan ” ajaib” itulah yg kadang membuat saya kadang iri dan dilanda kerinduan yg sangat kalau membaca ceritera indah yg disuguhkan saudara kita dr OPOTO pd saat touring onthel, meskipun tetap saja hrs bersyukur krn saudara2 opoto berkenan berbagi….
    mas Bei..bagaimana kalau kita rame rame transmigrasi ke ” negeri diawan” ….hehehe

  34. @Mas Farid
    Belanda merupakan salah satu kiblat untuk mendapatkan referensi tentang sepeda onthel tua, karena banyak sepeda favorit di Indonesia adalah buatan Belanda. Kalau saja ada waktu luang, mbok saya dikirimi catatan atas hasil pengamatan di dua negara (Belanda-Jerman) tentang tradisi bersepeda mereka…

  35. @Pak Dhe Bei dan Kyai Rendra

    Sebuah diskusi yang menarik dan menunjukkan kejernihan pikiran. Saya sebagai awam hanya bisa merasa, jangan-jangan sumber semua ini adalah tipisnya rasa cinta pada diri kita.

    Kita tahu, cinta itu sebuah rasa lebih, bukan rasa kurang. Cinta itu kebutuhan untuk memberi, bukan meminta. Kecintaan kepada sesama akan menumbuhkan kerelaan untuk mendahulukan kepentingan orang banyak.

    Jika kita miskin cinta, di jalanan kita enggan berbagi jalan. Di tempat antrean penginnya nyerobot melulu. Di kampung enggan meluangkan waktu untuk menolong atau memberi empati kepada tetangga yang kesusahan, karena itu berarti akan menyita waktu dan kesenangan pribadi. Di tempat kerja kita enggan mempromosikan teman atau staf sebelum kesempatan karir kita sendiri sudah jelas terbuka.

    Semua orang berjuang hanya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Makanya kita punya banyak politisi, tetapi kekurangan negarawan. Sebagai politisi kita berjuang untuk partai agar posisi kita aman. Beda dengan negarawan yang berjuang atas dasar kecintaannya terhadap bangsa dan negara. Sebagai seniman dan budayawan pun, yang semestinya memiliki kehalusan budi, kejernihan nalar dan pikir, serta bekerja beralaskan pada rasa kecintaan, nyatanya kadang juga membuat kelompok eksklusif dengan agenda tersembunyi demi kejayaan kelompoknya semata yang ditutupi dengan segunung alasan pembenar, seolah-olah demi kepentingan masyarakat serta bangsa.

    Kita terlalu cemas tidak akan kebagian sehingga tidak pernah sempat memikirkan kemaslahatan bersama di luar kepentingan pribadi kita. Sangat sedih membaca sinyalemen Pak Rendra bahwa agaknya kita membutuhkan berpuluh tahun lagi untuk regenerasi biologis, politis, sosial, teknologi atau bahkan budaya. Bahkan, kalau memikirkan hal ini saja kita enggan, maka yang mungkin terjadi adalah, kita membiarkan bangsa ini terpuruk ke titik terburuk sehingga tiada pilihan lagi selain berubah secara ekstrem. Kalau begitu, lalu kapan kita baru akan berubah ya? :-(

  36. @ Mas Opoto
    Semula saya kira bentuk sepeda dan tradisi naiknya di Jerman dan Belanda, sama. Jebul beda. Belanda lebih mirip di tempat kita, bahkan suasananya seolah pulang ke Sleman. Saya jadi mikir jangan2 di negara lain juga beda.
    Ini ada tulisan seadanya Mas. Di kirim kemana?

  37. Salut bt OPOTO yg selalu bkn, rasanya pengen ikut touring lg. Rencana wisata kuliner ke manding gmn mas?
    kadang sy berpikir kpn pengguna sepeda di beri kemerdekaan dijalan.Mngkn akan sgt berarti bl ada hari atau tgl tertentu di kota ini bebas dr asap kendaraan, jd kt bisa bebas bersepeda tanpa rasa takut dg kendaran ber mesin.

    • Mas Margi, ayo silahkan gabung lagi. Kuliner? Mungkin ke Jetis saja. Di sana ada mangut istimewa. Mas Agung yang sering ke sana, tolong dicheck ya, kalau Minggu bukanya jam berapa?

      Hari bebas emisi? Usulan menarik Mas. Mungkin bisa digilir saja ya, jalan-jalan yang bebas dari motor/mobil.

  38. begitu masuk kedalam gua…..hiiiiiiiiii…banyak “penampakan” berkaos merah…

  39. Mas Wongeres, tulisan sepeda di Jerman sudah saya kirim ke email. Sory kalau naif, saya belum faham soal sepeda.
    Mohon masukannya.
    Untuk pengalaman sepeda Belanda, menunggu masukan itu.
    Nuwun.

  40. Candi abang terlewatkan ya.. diatas bukit di mana goa sentono & jepang, sisi barat ada reruntuhan candi abang. Biasanya jika mancal ke domes, lanjutannya ke candi Banyunibo, Barong atau naik ke candi ijo. Jogja Timur banyak pesona.

  41. Salam kenal, Mas Is. Tq sudah mampir ke sini. Benar, kami nggak sampai ke Candi Abang. Sedangkan Candi Banyunibo dan Candi Barong sudah kami kunjungi di lain kesempatan, liputannya ada di sini. Sementara Candi Ijo masih menjadi PR, karena kalau pakai sepeda onthel takut dibilang sebagai ‘penyiksaan massal’ :-)

    Ngomong-ngomong, cheff Farah Quinn kemarin (Minggu, 29 November ’09) memasak di kompleks rumah domes. Saya sempat liat di Trans tv. Tapi saya juga nggak yakin dia mau pakai sepeda onthel untuk masak di Candi Ijo ya. Haha…

  42. “cheff Farah Quinn” saya nggak pernah bisa konsentrasi dalam menyimak masakannya. apalagi bumbu2nya. krn yg menjadi fokus pengelihatanku hanya …5sempurnanya.. :)

    • Ya, kalau gitu biarlah istri saja yang menyimaknya, lalu dipraktekin di rumah, dan simaklah apa yang dibikin istri itu. Fokus atau nggak, nggak masalah. Semua akan berakhir sempurna! Setuju? Haha…

  43. wah mantep itu ~ boleh gabung g hehehe

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s