Puncak Kegilaan Ngonthel

Bersepeda sebenarnya merupakan sebuah aktivitas biasa. Menjadi luar biasa ketika kita lakukan rame-rame bersama teman-teman dengan lokasi tujuan yang menginspirasi. Dahulu, di lingkungan RT tempat kami tinggal, kami bersepeda sendiri-sendiri. Sepeda yang kami gunakan kebanyakan MTB, jengki, bahkan saya menggunakan sepeda balap peninggalan masa sekolah dulu. Lalu seorang teman, entah terinfeksi virus dari mana, malah membeli sepeda onthel Phoenix dames lama yang secara penampilan di mata kami saat itu tidak bagus, bahkan cenderung aneh :-P. Kami pun jadi lebih sering janjian tiga sampai enam orang bersepeda bareng pada hari Minggu.

Ada pengalaman gila yang tidak akan terlupakan, yaitu ketika kami bertiga sedang menyusuri kampung sekitar perbukitan, kami bermaksud memperpanjang route karena kami merasa belum berkeringat. Padahal kami sudah akan sampai ke Plered yang berarti sudah akan sampai ke kampung kami, Potorono. Di jalan yang seharusnya kami belok kanan, kami mencoba terus dan bermaksud membelok di pertigaan atau perempatan berikutnya.

Ternyata, di depan kami sudah tidak ada lagi pertigaan atau perempatan, kecuali nanti setelah melewati Kaligatuk, berarti melompati bukit di atas Piyungan sana. Dua teman saya mengendarai sepeda onthel dames dan Federal, sementara saya memakai sepeda balap. Orang-orang yang berpapasan dengan kami selalu memandang ngeri melihat “modal” sepeda kami yang sama sekali “nggak matching” dengan kondisi jalan di bukit: sebelah kanan berimpit dengan tebing, di sebelah kiri menganga jurang tanpa pengaman. Seperti di foto ini.

1


Di jalan menanjak kami terpaksa turun, sementara ketika jalanan turun, kami pun tak berani naik sepeda karena rem sepeda kami jelas tidak akan mampu mengatasi keadaan. Melanjutkan perjalanan rasanya seperti tidak mungkin, tetapi mundur pun sia-sia karena kami terlanjur jauh mendaki. Satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah terus berjalan dan jangan berpikir apa pun! Akhirnya sampailah kami di puncak bukit itu. Sejauh mata memandang, langit birulah yang kelihatan. Tak ada lagi bukit. Hanya ada beberapa menara pemancar, dan di kejauhan tampak mengintip puncak Merapi. Lihat saja di foto ini.

dua

adi-joni, joni-wongeres


tiga

wongeres-joni, wongeres

Pengalaman itu sekarang menjadi kenangan manis. Padahal saat itu kami semua menyebut diri kami tolol. Hehe… Beberapa foto ini kami ambil pakai kamera handphone kami yang belum canggih. Tapi lumayanlah sebagai saksi. Atas keberanian, ketabahan, atau ketololan kami. Haha….

About these ads

One response to “Puncak Kegilaan Ngonthel

  1. hebat!!!
    P ADi msh bisnis Gelombangcinta dan gelombang2 laennya? atau udh ditukar ama Ontel semua? salam juga buat ontelis OPOTO laennya..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s